Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ruswandiani
"Transposition of Great Arteries (TGA) adalah kelainan penyakit jantung bawaan sianotik kedua yang paling sering ditemukan. Tatalaksana definitif saat ini adalah Arterial Switch Operation (ASO). Angka mortalitas pasca ASO di negara maju cukup rendah, sementara di negara berkembang sekitar 15%. Pada TGA Intact Ventricular Septum (TGA IVS), sebaiknya ASO dilakukan ≤ 3 minggu. Sedangkan, di negara berkembang, karena berbagai hal multifaktorial, ASO sering dilakukan saat usia > 3 minggu. Pengaruh usia saat operasi > 3 minggu terhadap kelangsungan hidup jangka panjang sampai saat ini masih kontroversial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh usia saat operasi > 3 minggu terhadap kelangsungan hidup 10 tahun pasien TGA yang menjalani operasi ASO. Penelitian ini merupakan studi kohort retrospekstif yang dilakukan pada pasien TGA IVS yang keluar hidup setelah operasi ASO selama periode Januari 2008-Desember 2018. Pasien kemudian dilakukan follow up untuk mengetahui kondisi hidup dan meninggal. Analisis waktu terjadinya event ditentukan berdasarkan titik awal dan titik akhir penelitian. 71,9 % pasien menjalani operasi ASO > 3 minggu. Angka kelangsungan hidup 10 tahun keseluruhan pasien pasca operasi Arterial Switch Operation sebesar 90%. Walaupun mean survival time kelompok usia operasi ≤ 3 minggu lebih panjang dibandingkan dengan kelompok usia operasi > 3 minggu (113 bulan vs 107 bulan), tetapi secara statistik tidak berbeda bermakna. Usia saat operasi > 3 minggu mempunyai risiko meningkatkan risiko kematian sebesar HR 0,49 (IK95% 0,11-2,27; p=0.86).

Transposition of Great Arteries (TGA) is the second most common found cyanotic congenital heart disease. The current definitive management is Arterial Switch Operation (ASO). Early and long term mortality rates after ASO in developed countries are quite low, while in developing countries the number is around 15%. In TGA Intact Ventricular Septum (TGA IVS), ASO should be done in ≤ 3 weeks. However, in developing countries, due to various multifactorial causes, it is often being done at the age of > 3 weeks. The effect of age at surgery > 3 weeks on long-term survival is still controversial. This study aims to determine the effect of age at surgery and other factors on the 10-year survival of patients after ASO. A retrospective cohort study was done on TGA IVS patients that survived ASO surgery during the period of January 2008-December 2018. Patients were being followed up to find out if they are still alive. Analysis of the time to evaluate the event is determined based on the starting point and end point of the study. 71,9% patients underwent ASO surgery > 3 weeks. The overall 10-year survival rate of patients after Arterial Switch Operation is 90%. Even though the mean survival time of the operating age group ≤ 3 weeks is longer than the operation age group > 3 weeks (113 months vs 107 months), but it is not statistically significant. Age at surgery > 3 weeks had a risk of increasing the risk of death by HR 0,49 (IK95% 0,11-2,27; p=0.86).
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nana Maya Suryana
"Latar Belakang: Reperfusi koroner sangat penting untuk menyelamatkan miokardium yang mengalami iskemia namun tindakan ini ternyata juga dapat mengakibatkan cedera miokardium yang dikenal sebagai jejas reperfusi Manifestasi klinisnya berupa komplikasi pasca BPAK diantaranya aritmia penurunan curah jantung dan perioperatif infark miokard Stres oksidatif merupakan salah satu inisiator utama kejadian jejas reperfusi Allopurinol sebagai inhibitor efektif enzim xantin oksidase dapat menurunkan stres oksidatif dengan menghambat pembentukan reactive oxygen species Sehingga diharapkan pemberian allopurinol pada pasien PJK dengan disfungsi ventrikel kiri yang akan menjalani BPAK dapat menurunkan kejadian komplikasi pasca operasi
Tujuan: Mengetahui efek allopurinol terhadap komplikasi pasca operasi BPAK low cardiac output syndrome yang dinilai dengan penggunaan inotropik dan IABP pasca operasi kematian dalam masa rawat perioperatif infark miokard dan aritmia pada pasien PJK dengan disfungsi ventrikel kiri
Metode: Penelitian ini adalah uji klinis tersamar ganda 34 subjek dipilih secara konsekutif pada September November 2015 Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu 16 orang mendapat allopurinol 600mg dan 18 orang mendapat plasebo Obat per oral diberikan 1 hari sebelum dan 6 jam sebelum operasi Pengamatan kejadian komplikasi pasca operasi dimulai sejak pelepasan klem silang aorta hingga pasien selesai perawatan
Hasil: Penggunaan inotropik dan IABP pasca operasi menunjukkan perbedaan yang bermakna pada kedua kelompok p 0 047 Ini berarti penggunaan allopurinol berpotensi mengurangi penggunaan inotropik dan IABP pasca operasi BPAK Proporsi kematian dalam masa rawat pasca operasi BPAK pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna yaitu 6 25 vs 5 6 p 1 000 Sedangkan untuk kejadian aritmia pada kedua kelompok terdapat perbedaan bermakna dengan total proporsi 31 vs 66 p 0 039 dengan jumlah aritmia terbanyak pada kedua kelompok adalah fibrilasi atrium Kejadian perioperatif infark miokard tidak didapatkan pada penelitian ini sehingga efek pemberian allopurinol terhadap kejadian tersebut tidak dapat dinilai
Kesimpulan: Pemberian allopurinol sebelum operasi pada pasien PJK dengan disfungsi ventrikel kiri berpotensi menurunkan kejadian low cardiac output syndrome LCOS yang terlihat dari rendahnya penggunaan obat inotropik dan IABP pasca operasi dan menurunkan kejadian aritmia pasca operasi BPAK

Background: Reperfusion of coronary blood flow is important to resuscitate the ischemic or hypoxic myocardium However the return of blood flow to the ischemic area can result paradoxical cardiomyocyte dysfunction this is referred to as ldquo reperfusion injury rdquo Clinical manifestations of reperfusion injury post CABG surgery are arrhythmias decrease cardiac output and perioperative myocardial infarct Oxidative stress has been confirmed as one of the main initiator in myocardial injury at ischemic and reperfusion state Allopurinol as an effective inhibitor of xanthine oxidase XO can reduce the oxidative stress by blocking the formation of reactive oxygen species ROS Pre operative allopurinol on CAD's patient with LV dysfunction is expected reduce the complications of post CABG surgery
Objective: To analyze effects of pre operative administration of allopurinol on complications of post CABG surgery low cardiac output syndrome which is measured by the use of post surgery inotropic and IABP hospital mortality perioperative myocardial infarction and arrhythmias in CAD's patient with LV dysfunction
Methods: This study is a double randomized clinical trial 34 CAD's patients with LV dysfunction were randomly selected by consecutive sampling methods from September November 2015 They were divided into two groups Sixteen patients were given 600 mg dose of allopurinol per oral one day before and 6 hours before surgery and the rest received placebo Complications of post CABG surgery were observed since the aortic cross clamp off until discharged
Results: The use of post surgery inotropic and IABP found significantly lower in allopurinol group p 0 047 There was no significant difference in proportion of death in post operative hospitalization period in both groups 6 25 vs 5 6 p 1 000 While for the incidence of arrhythmias was found significantly different in the two groups 31 vs 66 p 0 039 with atrial fibrillation as the most common arrhythmia No perioperative myocardial infarction was found in this study therefore effects of allopurinol to the event is unknown
Conclusions: Pre operative administration of allopurinol may reduce the complications of post CABG especially the use of inotropic and IABP and occurrence of arrhythmias
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmalia Gusdina
"ABSTRAK
Latar Belakang. Salah satu penyakit jantung bawaan (PJB) yang kompleks adalah terdapatnya satu ventrikel yang fungsional. Tatalaksana yang dilakukan untuk kelainan
ini adalah dengan operasi Fontan. Efusi pleura merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi setelah operasi Fontan. Peningkatan tekanan akhir diastolik ventrikel
sistemik (TADVS) sebelum operasi diduga turut berperan dalam terjadinya efusi pleura paska operasi Fontan.
Metode. Studi potong lintang dilakukan terhadap populasi yang sudah dilakukan operasi Fontan dengan ekstrakardiak konduit dan fenestrasi di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK) periode April 2006 sampai dengan April 2016. Durasi efusi pleura berdasarkan pada lama terpasangnya selang (drain) intrapleura
setelah operasi Fontan. Lama rawat adalah lama rawat setelah operasi Fontan. Data studi diambil dari rekam medik.
Hasil. Populasi studi penelitian sebanyak 63 pasien dengan nilai rerata TADVS adalah 9,7 mmHg dengan standar deviasi ± 2,8 mmHg. Efusi pleura terjadi pada semua pasien dengan nilai tengah 9 hari (2-54 hari), dengan 43 pasien (68,3%) yang > 7 hari. Nilai tengah lama rawat adalah 20 hari (8-58 hari). Uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat korelasi bermakna antara TADVS dengan lama efusi pleura sesudah operasi (p = 0,548, r = -0,077) dan lama rawat (p = 0,843, r = -0,025). Analisis bivariat menunjukkan 2 variabel yang mempunyai korelasi bermakna terhadap lama efusi pleura yaitu dominan
ventrikel kanan (p = 0,014) dan waktu CPB (p = 0,003), kemudian terdapat 5 variabel berkorelasi bermakna terhadap lama rawat yaitu waktu CPB (p = 0,023), aritmia sesudah operasi (p = 0,021), lama aritmia sesudah operasi (p = 0,009), infeksi sesudah operasi (p = 0,000), kadar albumin sesudah operasi (p = 0,005) dan lama efusi pleura sesudah operasi (p = 0,000).
Kesimpulan. Tidak terdapat korelasi bermakna antara TADVS sebelum operasi Fontan dengan lama efusi pleura sesudah operasi dan lama rawat.

ABSTRACT
Background: Congenital Heart Disease (CHD) is a major congenital disease. One of the most common is a CHD that only have single functional ventricle. Management for this disease is Fontan operation. Pleural effusion is one of the most common complication after operation. Elevated systemic ventricle end diastolic pressure (SVEDP) will increase pulmonary vein pressure, pulmonary artery pressure, and pleural vein pressure consecutively that leads to pleural effusion.
Goals: To correlate between SVEDP before Fontan operation with post operative pleural effusion duration and length of stay.
Methods: Cross sectional study was performed to patients who underwent Fontan operation extra cardiac conduit and fenestration at National Cardiac Centre Harapan Kita
(NCCHK) from April 2006 to April 2016. Pleural effusion duration was based on chest tube indwelling time after operation. Length of stay was days the patient hospitalized after operation. Baseline characteristic of the patients were obtained from medical records.
Results: Subjects were 63 patients who fulfilled the criteria. Mean SVEDP was 9.7 mmHg with standard deviation of ± 2.8 mmHg. Pleural effusion occurred to all subjects
ranged 2-54 days (median 9 days), in which 43 patients (68.9%) more than 7 days. Length of stay after operation ranged 8-58 days (median 20 days). Spearman correlation
test showed no correlation between SVEDP with post operative pleural effusion duration (p = 0.548, r = -0.077) and length of stay (p = 0.843, r = -0.025). Bivariate analysis showed correlation between right ventricle domination and CPB time to pleural effusion
duration with p = 0.014 and p = 0.003 respectively, whereas factors that correlate to length of stay after operation were CPB time (p = 0.023), post operative arrhythmia (p = 0.021), post operative arrhythmia duration (p = 0.009), post operative infection (p =
0.000), post operative albumin level (p = 0.005) and post operative pleural effusion duration (p = 0.000).
Conclusions: There is no correlation between SVEDP before Fontan operation with post operative pleural effusion duration and length of stay.
"
2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Aditya
"Latar Belakang : Morbiditas pasca operasi bedah pintas koroner BPAK masih cukuptinggi. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan inflamasi 48 ndash; 72 jam pasca BPAK danpeningkatan pada sistem renin angiotensin dan aldosteron RAAS. Penyekat EKA diketahuidapat menghambat RAAS dan inflamasi. Namun belum ada penelitian yang membuktikanbahwa penyekat EKA dapat menurunkan inflamasi pada pasien pasca BPAK
Tujuan : Mengetahui efek captopril dalam menurunkan inflamasi yang diukur menggunakanhsCRP pada pasien yang menjalani BPAK elektif.
Metode : Penelitian ini merupakan studi kohort prospektif. Dilakukan di Rumah SakitJantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita RSJPDHK pada subyek yang menjalani BPAKelektif. Durasi penelitian dilakukan pada bulan Mei hingga Oktober 2016. Subyek dibagidalam dua kelompok yaitu kelompok yang mendapatkan captorpil pasca BPAK dan tanpacaptopril. Dilakukan pemeriksaan hsCRP serial sebanyak tiga kali yaitu sebelum operasi,hari ketiga pasca operasi dan sebelum pulang rawat.
Hasil Penelitian : Terdapat total 85 subyek, 49 subyek pada kelompok mendapat captoprildan 36 subyek pada kelompok tanpa captopril. Pemeriksaan hsCRP sebelum operasi dan H 3pasca BPAK menunjukkan tidak ada perbedaan pada kedua kelompok. Pemeriksaan hsCRPH 6 pasca BPAK menunjukkan hsCRP pada kelompok yang mendapatkan captopril lebihrendah 31,4 mg/L 10,5 ndash; 154 vs 46,7 mg/L 10,3 ndash; 318 dengan nilai signifikansi P=0,018.
Kesimpulan : Subyek yang mendapatkan captopril mempunyai tingkat inflamasi yang lebihrendah pada H 6 pasca BPAK yang dinilai dengan hsCRP dibandingkan kelompok yangtidak mendapat captopril.

Background Postoperative morbidity of coronary artery bypass surgery CABG is fairlyhigh. This is due to increased of inflammatory response 48 ndash 72 hour after surgery andincreased of renin angiotensin aldosteron system RAAS. ACE inhibitors are known toinhibit inflammation and RAAS. However, no study has proved that ACE inhibitors canreduce inflammation in post operative CABG.
Objective To determine the effect of captopril in reducing hsCRP post CABG surgery.
Methods This is a cohort prospective study that was conducted in Harapan Kita Hospital, on post operative elective CABG subjects on May until October 2016. Subject divided intotwo groups, the group with captopril and the other is without captopril. High sensitive CRPwas measured 3 times day 0 before surgery, day 3 post CABG, day 6 post CABG.
Results There are total 85 subjects, 49 subjects with captopril and 36 subjects withoutcaptopril. There was no difference in hsCRP results before surgery and day 3 post CABG. Inday 6 post CABG, hsCRP examination in captopril group is lower than the group withoutcaptopril 31,4 mg L 10,5 ndash 154 vs 46,7 mg L 10,3 ndash 318 with P 0,018.
Conclusion Subjects with captopril has lower hsCRP at day 6 post CABG than the subjectswithout captopril.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T55620
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ina Nadia
"Studi mengenai pemberian klopidogrel sebelum angiografi koroner (pretreatment) pada pasien infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-EST) yang akan menjalani intervensi koroner perkutan primer (IKPP) terbatas, namun dapat disimpulkan bahwa aman dan dapat penurunan angka major adverse cardiovascular events (MACE). Pada studi yang dilakukan beberapa tahun terakhir, manfaat pemberian klopidogrel pretreatment dipertanyakan. Studi yang telah ada dilakukan di negara lain berbeda dengan kondisi di Indonesia; terdapat perbedaan karakteristik seperti waktu onset nyeri dada hingga pasien sampai ke fasilitas kesehatan primer, loading antiplatelet, serta dilakukan tindakan IKPP yang lebih panjang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian klopidogrel pretreatment  dengan TIMI-flow pasien IMA EST yang menjalani IKPP. Studi potong lintang retrospektif terhadap 220 pasien IMA EST dilakukan di rumah sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita sejak tanggal 1 Januari - 30 Oktober 2018 dengan membagi subjek dalam kelompok klopidogrel pretreatment (600 mg klopidogrel diberikan > 120 menit sebelum angiografi koroner) dan kelompok yang diberikan < 120 menit.
Analisis multivariat menunjukkan bahwa klopidogrel pretreatment merupakan prediktor utama yang mempengaruhi TIMI flow sebelum tindakan IKPP (OR 0.273, 95% CI 0.104-0.716; p=0.008). Pemberian klopidogrel pretreatment berhubungan dengan TIMI flow sebelum tindakan IKPP, namun tidak berpengaruh terhadap TIMI setelah dilakukan tindakan IKPP. 

Immediate antiplatelet administration is the standard therapy used in acute ST-segment elevation myocardial infarction (STEMI) undergoing primary percutaneous coronary intervention. Studi on clopidogrel pretreatment are limited, but it can be concluded that was safe, also reduced the number of major adverse cardiovascular events (MACE). Recently, pretreatment with P2Y12 are questioned. There are differences in the background and the conditions between the studies that have been conducted and the condition in Indonesia; such as duration of angina onset until arrive at primary health care, time of loading antiplatelet and longer ischemic time.
This study sought to evaluate the association between clopidogrel pretreatment and TIMI flow of patients with acute STEMI undergoing primary PCI. Single-center retrospective cross sectional study of 220 patients with acute STEMI were conducted in National Centre of Cardiovascular Harapan Kita, Indonesia from 1 January-30 October 2018. Subjects are devided into two groups: clopidogrel pretreatment (≥ 120 minute from coronary angiography conducted) and non pretreatment group (<120 minute). Multivariate analysis revealed that clopidogrel pretreatment is the main predictor of preprocedural TIMI grade flow (OR 0.273, 95% CI 0.104-0.716; p=0.008). Clopidogrel pretreatement was associated with TIMI flow grade pre intervention, but not with TIMI flow grade post intervention.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Asmoko Resta Permana
"Latar belakang: Korelasi antara indeks volume akhir diastolik ventrikel kiri IVADVKi preoperasi dengan luaran jangka pendek pasca operasi penutupan defek septum atrial sekundum DSAS belum pernah dieksplorasi. Bertujuan untuk mencari korelasi antara IVADVKi preoperasi dengan luaran jangka pendek pasca operasi penutupan DSAS.
Tujuan: Untuk mencari korelasi antara IVADVKi preoperasi dengan luaran jangka pendek pasca operasi penutupan DSAS.
Metode: Kami analisis semua pasien yang dilakukan operasi penutupan DSAS yang diperiksa dengan magnetic resonance imaging MRI kardiak preoperasi dengan Philips Medical System Scanner 1,5 T dengan 32-elements phase sense torso cardiac coil antara Januari 2013-Desember 2017.
Hasil: Terdapat 30 pasien yang memenuhi kriteria inklusi eksklusi dengan nilai IVADVKi yang berkorelasi negatif lemah signifikan r= -0,365, p=0,048 dengan lama rawat ruang intensif hari pasca operasi, korelasi negatif lemah atau sangat lemah nonsignifikan dengan beberapa luaran lainnya.
Kesimpulan: IVADVKi berkorelasi negatif lemah dengan lama rawat ICU pasca operasi penutupan DSAS dan berkorelasi negatif sangat lemah dengan luaran lainnya.

Background: Correlation between preoperative left ventricular end diastolic volume index LVEDVi with short term postoperative outcome after surgical secundum atrial septal defect ASD closure has never been explored. Our aim is to determine the correlation between preoperative LVEDVi and short term postoperative outcome after surgical ASD closure.
Objective: To determine the correlation between preoperative LVEDVi and short term postoperative outcome after ASD closure.
Methods: We analyzed all consecutive surgical ASD closure patients who underwent cardiac magnetic resonance imaging MRI previously with 1.5 T Philips Medical System Scanner with 32 elements phase sense torso cardiac coil between January 2013 December 2017.
Results: There were 30 patients who fulfilled inclusion and exclusion criteria who had weak negative correlation but significant r 0,365, p 0,048 between LVEDVi and with postoperative intensive care unit ICU length of stay LOS days , nonsignificant weak or very weak negative correlations with other outcomes.
Conclusion: LVEDVi had a weak negative correlation with ICU LOS post surgical closure of secundum ASD and a very weak negative correlation with other outcomes.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sianipar, Maruli Tua
"Latar Belakang: Hipertensi arterial paru (HAP) memiliki mortalitas yang tinggi. HAP dapat disebabkan oleh defek septum atrium sekundum (DSAS). DSAS dengan HAP perlu diperiksa dengan kateterisasi jantung kanan (KJK) untuk menilai resistensi vaskular paru (RVP). Pengukuran pulmonary artery compliance (Cp) dengan cara invasif merupakan prediktor miliki nilai prognostik untuk meramalkan penyakit vaskular paru (PVP) dan mortalitas dibanding RVP. Fasilitas KJK belum tersedia merata di Indonesia. Gambaran notch pada kurva PW Doppler alur keluar ventrikel kanan (AKVKa) ditemukan pada pasien dengan Cp rendah. Karena itu, kami mencoba mencari korelasi antara time-tonotch dengan Cp yang didapat secara invasif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara time-to-notch dengan Cp pada pasien DSAS. Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan consecutive sampling pada pasien DSA sekundum dewasa (≥ 18 tahun) yang menjalani kateterisasi jantung kanan (KJK) di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita sejak Maret 2019 sampai Juni 2022. Parameter time-tonotch dari ekokardiografi akan diuji korelasinya dengan Cp yang didapat dari KJK. Hasil: Terdapat 84 pasien DSAS yang dilakukan analisis. Dari korelasi bivariat didapatkan bahwa time-to-notch memiliki korelasi positif sedang dengan Cp (r = 0,575, p < 0.0001). Variabel lain yang bermakna dalam uji bivariat adalah TRVmax, AKVKa VTI, PVAccT, TAPSE dan hemoglobin. Melalui regresi linier didapatkan bahwa variabel time-to-notch, TRVmax dan TAPSE dapat memprediksi Cp (R2 =0,49). Kesimpulan: Terdapat korelasi positif dengan kekuatan sedang antara time-to-notch dan Cp pada pasien DSAS. Kombinasi time-to-notch, TRVmax dan TAPSE dapat memprediksi Cp.

.Background: Pulmonary arterial hypertension (PAH) is a devastating condition with a high mortality rate. Secundum atrial septal defect (ASD) may cause PAH. It needs right heart catheterization (RHC) to assess pulmonary vascular resistance (PVR) in such patients. Pulmonary artery compliance (Cp) is another parameter gained from RHC that has better diagnostic and prognostic value to assess PAH compared to RVP. RHC facility is still not widely available in Indonesia. Low Cp is one of the factors influencing the notching in the right ventricular outflow tract (RVOT) PW Doppler curve. Therefor we try to find the correlation between time-to-notch and Cp. Objective: The study aims to evaluate correlation between time-to-notch and Cp in patients with secundum ASD. Methods: This is a cross sectional study with consecutive sampling in grown-up secundum ASD patients (≥ 18 years old) undergoing right heart catheterization (RHC) in National Cardiac Centre Harapan Kita from March 2019 to June 2022. The correlation between time-to-notch gained from echocardiography and Cp gained from RHC are then assessed. Results: There are 84 patients with secundum ASD included for analysis. From bivariat correlation time-to-notch and Cp have positive moderate correlation (r = 0.575, p < 0.0001). Other variables that also have significant correlation with Cp include TRVmax, RVOT VTI, PVAccT, TAPSE, and haemoglobin. However, multivariate analysis shows that only time-to-notch, TRVmax and TAPSE can predict Cp (R2= 0.49). Conclusions: There is moderate positive correlation between time-to-notch and Cp in secundum ASD. Combination time-to-notch, TRVmax and TAPSE can predict Cp."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ruth Grace Aurora
"Latar belakang: Usia operasi Fontan terbaik masih kontroversial. Pusat jantung di negara maju menggunakan batasan usia 2-4 tahun. Kebanyakan operasi Fontan di Indonesia dikerjakan pada usia tua. Dengan kemajuan teknik operasi, bagaimana dampak usia tua saat operasi Fontan terhadap kesintasan belum ada datanya.
Tujuan: Mengetahui pengaruh usia tua saat operasi Fontan terhadap kesintasan jangka panjang.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif dengan analisis kesintasan terhadap pasien pascaoperasi Fontan (1 Januari 2008-31 Desember 2019) di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita. Pengumpulan data dilakukan dari rekam medis, konferensi bedah, serta follow-up melalui telepon atau surat hingga 1 April 2020. Usia dibagi menjadi usia ≤ 6 tahun dan > 6 tahun.
Hasil: Dari total 261 subjek, median usia operasi yaitu 5 tahun (2-24 tahun). Kesintasan usia operasi ≤ 6 tahun dan > 6 tahun yaitu 95,7% dan 89,3%. Hasil subanalisis kesintasan usia operasi < 4 tahun, 4-6 tahun (referensi), 6-8 tahun, 8-10 tahun, 10-18 tahun, dan > 18 tahun yaitu 90,5%, 97,9%, 93,8%, 84,8%, 91,4%, dan 66,7%. Usia 8-10 tahun (HR 6,79; p = 0,022), 10-18 tahun (HR 3,76; p = 0,147), dan >18 tahun (HR 15,30; p = 0,006) memiliki kesintasan terendah. Usia operasi > 6 tahun (HR 3,84; p = 0,020) dan kebutuhan furosemid jangka panjang (HR 3,90; p = 0,036) signifikan meningkatkan risiko kematian pada analisis multivariat.
Kesimpulan: Usia operasi Fontan > 6 tahun signifikan menurunkan kesintasan jangka panjang. Usia operasi 8-10 tahun dan > 18 tahun memiliki risiko kematian 6,7 kali dan 15,3 kali dibandingkan usia 4-6 tahun.

Background: The optimal age to perform the Fontan procedure is still unknown. Currently, the majority of centres worldwide are performing the procedure between 2 and 4 years old. Most of Fontan procedures in Indonesia are performed at older age. With the advancement in surgical techniques, there is no data regarding the impact of older age at completion of Fontan procedure on long term survival.
Objective: To evaluate the impact of older age at Fontan procedure on long term survival.
Methods: We conducted a retrospective cohort study with survival analysis, of patients underwent Fontan completion (Januari 1, 2008, to December 31, 2019), at National Cardiovascular Center Harapan Kita. The data was collected from medical records, surgical conference, and follow up by phone or mail to the end of the study (April 1, 2020). The age of operation was categorized into ≤ 6 years old and > 6 years old.
Results: Of 261 subjects, the median age was 5 years (2-24 years). The survival rate of operation age ≤ 6 years old and > 6 years old were 95.7% and 89.3%. The survival rate in subgroup analysis of operation age < 4 years, 4-6 years (reference age), 6-8 years, 8-10 years, 10-18 years, and > 18 years were 90.5%, 97.9%, 93.8%, 84.8%, 91.4%, and 66.7% respectively. The age of operation 8-10 years (HR 6.79; p = 0.022), 10-18 years (HR 3.76; p = 0.147), and > 18 years (HR 15.30; p = 0.006) had worse survival rate than the others. In multivariate analysis, age of Fontan completion > 6 years old (HR 3.84; p = 0.020) and need for furosemide use (HR 3.90; p = 0.036) significantly increased long term mortality.
Conclusion: The age of operation > 6 years old was significantly reduced long term survival rate. The age of 8-10 years old and > 18 years old had higher risk of death (6.7 times and 15.3 times) than age of 4-6 years old.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zulkarnaini
"Latar Belakang Kombinasi penggunaan antikoagulan dan antiplatelet mengurangi kejadian kardiovaskular mayor pada pasien dengan sindroma konorer akut. Oleh karena itu kami membandingkan dua anti koagulan enoxaparin atau fondaparinux dalam menurunkan KKM pada pasien NSTEMI pengamatan 1 tahun. Metode Kami, meneliti secara konsekutif pada pasien NSTEMI, dari registri sindroma konorer akut januari 2008 hingga desember 2009. Sebanyak 450 pasien NSTEMI yang mendapat enoxaparin ( 60 mg, 2x sehari) atau fondaparinux (2,5 mg 1 x sehari ), dimana sebanyak 388 masuk kriteria inklusi dan dilakukan pengamatan dilakukan pengamatan sampai dengan 1 tahun. Hasil 388 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, pasien yang mendapat enoxaparin sebanyak 168 dan yang mendapat fondaparinux 220 pasien yang mengalami kejadian kardiovaskular mayor setara kedua kelompok ( 40 dengan enoxaparin (23.1%) vs 42 dengan fondaparinux (19.1%); HR 0.76 (0.49-1.19; P=0.222 ). Kesimpulan Tidak ada perbedaan dalam kejadian kardiovaskular mayor pada pasien NSTEMI yang mendapat enoxaparin atau fondaparinux pada pengamatan 1 tahun.

Background Combination use of anticoagulant and antiplatelet reduce major cardiovascular events in patients with acute coronary syndrome. Therefore, we compared two anti-coagulant enoxaparin or fondaparinux in reducing MACE in NSTEMI patients for 1 year of observation. Method We, examining consecutive NSTEMI patients from acute coronary Syndrome Registry in january 2008- December 2009. A total of 450 patients with NSTEMI who received enoxaparin (60 mg, twice daily) or fondaparinux (2.5 mg daily), where the total of 388 entered the inclusion criteria and were examined conducted observations up to 1 year. Results From 388 patients that matched the inclucion criteria, 168 patiens were given enoxaparin while 220 patients were given fondaparinux. The number of patients undergoing major cardiovascular events equivalent to-2 groups ( 40 with enoxaparin (23 .1 %) vs 42 with fondaparinux (19.1 %) ; Hazard Ratio 0.76 ( 0.49-1.19 ; P=0.222 ). Conclusion There was no difference in major cardiovascular events in patients with NSTEMI who received enoxaparin or fondaparinux on the observation of 1 year.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2011
T58344
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Kornadi
"Intervensi Koroner Perkutan Primer (IKPP) merupakan pilihan utama untuk mengembalikan aliran darah dan perfusi pasien yang mengalami Infark Miokard Akut dengan Elevasi Segmen ST (IMA-EST). Tapi tidak selalu mengembalikan aliran yang cukup pada tingkat mikrosirkulasi, hal ini disebabkan oleh obstruksi mikrovaskular (OMV). Banyak penelitian telah membuktikan pengaruh inflamasi terhadap kejadian OMV, tingginya rasio neutrofil limfosit pasca IKPP menggambarkan respon inflamasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai hubungan rasio neutrofil limfosit (RNL) terhadap kejadian obstruksi mikrovaskular yang dinilai dengan pemeriksaan myocardial blush kuantitatif (QuBE).
Metode: Sebanyak 33 subjek IMA–EST yang menjalani IKPP dipilih secara konsekutif sejak 1 September 2013 sampai 30 Oktober 2013. RNL diambil saat masuk UGD, penilaian myocardial blush (MB) diambil segera pasca IKPP, angiografi untuk RCA (RAO 30˚) dan LCA (LAO 60˚-90˚). Kemudian RNL dikirim ke laboratorium untuk diperiksa dengan dengan Sysmex 2000i, blush dinilai dengan program komputer QuBE. Perhitungan statistik dinilai dengan SPSS 17.
Hasil: Dari 33 pasien didapatkan proporsi terbanyak berjenis kelamin laki-laki sebesar 75,7%, rerata usia pasien 56±9.8 tahun. Analisa statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan antara RNL dan QuBE (β=-0,180;p=0,664) namun terdapat kecenderungan setiap kenaikan 1 unit RNL akan menurunkan QuBE sebesar 0,180 unit arbiter. Setelah dilakukan adjusted terhadap faktor perancu didapatkan kecenderungan penurunan yang lebih besar meskipun tetap tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. (koef β=-0,331 ; p=0,527).

Primary percutaneus coronary intervention (PPCI) is a first of choice to return patient’s blood flow and perfusion with ST elevation myocardial infarction (STEMI). However, it is not always sufficiently reflow of microcirculation due to Microvascular Obstruction (MVO). Many studies had proved that neutrophil to lymphocyte ratio (NLR) has emerged as a potent composite inflammatory marker. The aim of this study is to evaluate association between NLR and MVO by Quantitative Blush Evaluator (QuBE).
Methode: 33 STEMI patients undergoing primary PCI were consecutivly recruited from September to October 2013. The NLR was withdraw at patient admission. We evaluate the myocardial blush immediately after PCI done. Angiography views were RAO 30˚ for RCA, and LAO 60˚-90˚for LCA. Then the NLR was sent to laboratory for examination. QuBE was done to evaluate myocardial blush. Statistical analysis was done by SPSS 17.
Results: From thirty three patients included in the study, there were 75,75% men, with mean age 56±9.8 years old. Statistical analysis showed no correlation between NLR and QuBE (β=-0,180;p=0,664) but there was decrease of 0,180 unit arbiter QuBE for each 1 unit of peripheral NLR. After adjustment of confounding factor, there was more decreasing value although there is no significant correlation. (coef β=-0,331;p=0,527).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>