Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 37 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Halimah Hasan
"ABSTRAK
Latar Belakang: Asimetri pada wajah dan lengkung gigi merupakan fenomena yang dapat ditemui hampir pada seluruh individu sehingga saat ini asimetri dengan batas-batas tertentu masih dianggap seimbang secara klinis dan dinilai normal. Asimetri mandibula merupakan asimetri yang paling sering terjadi dan mudah terlihat dikarenakan mandibula adalah bagian wajah yang paling mudah bergerak dibandingkan bagian wajah lainnya. Asimetri mandibula ditemukan paling tinggi dan dapat memengaruhi perawatan. Untuk mendiagnosis asimetri mandibula dapat dilakukan dengan pemeriksaan klinis ekstra oral yang meliputi pemeriksaan smile symmetry. Tujuan: Mengetahui frekuensi dan distribusi terjadinya asimetri mandibula pada mahasiswa angkatan tahun 2016 FKG UI dan mengetahui berapa persen mahasiswa yang mengalami asimetri mandibula. Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis gambaran klinis yang dilakukan untuk melihat adanya asimetri atau disporposi pada wajah tampak frontal khususnya pada mandibula. Analisis dilakukan dengan cara fotografi frontal dalam kondisi standar dan kondisi gigi tersenyum. Kesimpulan: Pada mahasiswa FKG UI angkatan 2016 terdapat 37 subjek (32,2%) dengan asimteri mandibula dan terdapat 57 subjek (49,6%) yang memiliki senyum tidak simetris.

ABSTRACT
Background: Facial asymmetry is a phenomenon found in almost every individual, thus asymmetry within certain boundaries is accepted as clinically balanced and normal. Mandibular asymmetry is the most common asymmetry that can occur and is easily seen because the mandibula is the part of the face that is most mobile compared to the rest of the face. Mandibular asymmetry are the most common asymmetry that can affect treatment for asymmetry. Mandibular asymmetry can be diagnosed by extra oral clinical examination which includes smile symmetry. Objective: Knowing the frequency and distribution of mandibular asymmetry in In Faculty Of Dentistry batch 2016 students and knowing what percentage of students experience mandibular asymmetry. Method: The method used in this research is clinical image analysis which is used to see whether asymmetry or facial disproportion on the frontal face image, especially on the mandibula, is present. The analysis is done via frontal photography in a standard setting. Conclusion : In Faculty Of Dentistry batch 2016, there were 42 subjects with mandibular asymmetry and 58 subjects with asymmetry smile."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fredy Budhi Dharmawan
"ABSTRAK
Latar Belakang: Ameloblastoma merupakan tumor odontogenik yang sering dijumpai.Tatalaksana dari Ameloblastoma dapat berupa terapi konservatif seperti enukleasi atau radikal kuretase maupun dengan terapi bedah radikal seperti reseksi mandibula.Defek yang ditimbulkan pasca reseksi akan berpengaruh pada sistem mastikasi dan penampilan pasien. Standar emas rekonstruksi defek dapat menggunakan vascularised bone graft serta rehabilitasi dental implat untuk mengembalikan fungsi mastikasi dan estetik.
Tujuan: Untuk mengetahui bagaimana keberhasilan rehabilitasi menggunakan dental implantpada rekonstruksi vascularisedbone graft sebagai tatalaksana ameloblastoma
Metode: Penelitian yang digunakan berjenis systematic review, sesuai dengan PRISMA-P, Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain PICO.Pencarian elektronik dilakukan tanpa batasan tanggal pada Bulan September 2019 melalui basis data online Cochrane, EBSCOhost, Pubmed, Scopus, Wiley Online Library, dan SpringerLink dengan kata kunci utama mandibular resection, ameloblastoma, vascularised bone graft, dental implant, Studi dengan desain penelitian berupa controlled trials, retrospektif,prospektif, case report dan case series. Artikel Studi dieksklusi dengan desain penelitianopinion articles, dan review articles, Studi pada selain pasien Ameloblastoma, Studi mengenai implan selain dental implant, Studi yang dilakukan pada hewan atau laboratoris.
Hasil: Sebanyak 5.996 artikel publikasi ilmiah ditemukan. Kemudian 82 artikel ilmiah dieksklusi setelah dilakukan skrining duplikasi. Sisa 5.914 artikel publikasi ilmiah kemudian dilakukan skrining elektronik berdasarkan criteria didapatkan 28 artikel yang tersisa. Kemudian dilakukan pencarian artikel dalam bentuk full text. Setelah semua artikel full text berhasil dikumpulkan, dilakukan eksklusi kembali dengan alasan tidak menampilkan record data pasien ameloblstoma yang jelas. Hasil eksklusi tersebut didapatkan sebanyak 13 artikel. Survival dental implant pada vascularised bonegraft mencapai 238/241 (99%) dengan metode delay placement lebih banyak digunakan. Jenis rekonstruksi pada tatalaksana pasien ameloblastoma dengan reseksi mandibula terbanyak menggunakan vascularised free fibula flap dengan tekhnik double barel fibula, yaitu sebanyak 24 (30,76%) pasien.
Kesimpulan: Delay dental implant placement pada vascularised bone graftdoubel barel fibulalebih banyak dilakukan karena dengan teknik rekonstruksi ini dapat memberikan dimensi vertikal yang baik dan dapat memberikan dukungan yang baik untuk rehabilitasi dental implant serta dapat memberikan kesempatan untuk memperoleh evaluasi kondisi yang baik tentang vaskularisasi flap, mengevaluasi kebutuhan prostetik dan motivasi pasien serta mengevaluasi kemungkinan titik penempatan regio dental implant .

ABSTRACT
Background: Ameloblastoma is an odontogenic tumor that is often found. The management of Ameloblastoma can be in the form of conservative therapy such as enucleation or radical curettage or with radical surgical therapy such as mandible resection. Defects caused after resection will affect the system of mastication and the appearance of the patient. The gold standard for reconstructive defects can use vascularised bone graft and dental implant rehabilitation to restore mastication and aesthetic function.
Objective: To find out how the success of rehabilitation using dental implants in vascularised bone graft reconstruction as an ameloblastoma treatment
Methods: The study used is a systematic review type, according to PRISMA-P, this research was conducted using the PICO design. Electronic searches were carried out indefinitely in September 2019 through online databases of Cochrane, EBSCOhost, Pubmed, Scopus, Wiley Online Library, and SpringerLink with the main keywords mandibular resection, ameloblastoma, vascularised bone graft, dental implants, studies with controlled research designs in the form of controlled trials, retrospectives, prospectives, case reports and case series. Study articles were excluded by opinion opinion research designs, and review articles, studies in addition to Ameloblastoma patients, studies of implants other than dental implants, studies conducted in animals or laboratories.
Results: A total of 5,996 scientific publication articles were found. Then 82 scientific articles were excluded after duplication screening. The remaining 5,914 scientific publications articles were then screened electronically based on the criteria for the remaining 28 articles. Then search for articles in full text. After all the full text articles have been collected, exclusion is done again with the reason that it does not display a clear ameloblstoma patient data record. The exclusion results obtained as many as 13 articles. Dental implant survival in vascularised bonegraft reached 238/241 (99%) with more delay placement methods used. Types of reconstruction in the management of ameloblastoma patients with the most mandibular resection using vascularised free fibula flap with double barrel fibula technique, which is as many as 24 (30.76%) patients.
Conclusion: Delay of dental implant placement in vascularised bone graft doubel barrel fibula is mostly done because with this reconstruction technique can provide good vertical dimensions and can provide good support for dental implant rehabilitation and can provide an opportunity to obtain a good evaluation of the condition of flap vascularization, evaluating prosthetic needs and patient motivation and evaluating possible placement points for the dental implant region.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cut Safira Anindya
"Celah bibir dengan atau tanpa celah langit-langit merupakan salah satu kelainan kongenital yang memengaruhi regio orofasial. Kelainan ini merupakan cacat lahir orofasial yang paling sering terjadi dengan prevalensi 1:700. Pada beberapa pasien dengan celah bibir dan langit-langit komplit, dapat ditemukan suatu jembatan jaringan lunak yang dapat menghubungkan tepi medial dan lateral dari celah bibir atau nostril, bibir dengan prosesus alveolaris, ataupun menghubungkan prosesus alveolaris yang terpisah, yang biasa disebut dengan soft tissue band. Mekanisme terbentuknya band ini belum diketahui secara pasti. Terdapat tiga tipe soft tissue band, tipe 1 yaitu band yang menghubungkan bibir dengan bibir (band Simonart); tipe 2 band yang menghubungkan bibir dengan alveolar (band oblique); dan tipe 3 band yang menghubungkan antar prosesus alveolar (band alveolar). Penelitian mengenai soft tissue band pada kasus celah bibir dan langit-langit di Indonesia masih sangat sedikit, sehingga penelitian deskriptif retrospektif ini bertujuan untuk mengetahui distribusi frekuensi soft tissue band pada pasien celah bibir dan langit-langit berdasarkan tipe celah di RSAB Harapan Kita periode Januari 2010 Desember 2012. Analisis dilakukan pada 296 rekam medik. Dari 296 pasien celah bibir dan langit langit di RSAB Harapan Kita tahun 2010-2012, ditemukan 30 kasus soft tissue band (10,1%). Pada tahun 2010 terdapat 6 kasus, tahun 2011 terdapat 10 kasus, dan tahun 2012 terdapat 14 kasus. Soft tissue band lebih sering ditemukan pada pasien dengan celah unilateral (10,3%) dibanding pasien dengan celah bilateral (9,5%). Sebanyak 9 kasus soft tissue band ditemukan pada celah bibir dan langit langit unilateral sisi kiri. Berdasarkan tipenya, soft tissue band paling banyak ditemukan pada tipe Simonart (bibir ke-bibir) yaitu 18 kasus (60%), tipe oblique(bibir ke-alveolus ditemukan 10 kasus 33,3%, dan tipe band alveolar alveolus ke-alveolus) ditemukan 2 kasus 6,7%. Berdasarkan variasinya, sebanyak 21 kasus soft tissue band tertutup oleh kulit 70% dan 9 kasus hanya berupa jaringan mukosa atau yang disebut varian subklinis 30%."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Univeritas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kurnia Natalia Kusumo
"ABSTRAK
Latar Belakang :Maturasi skeletal sangat penting diperhatikan dalam Ilmu Bedah Mulut dan Maksilofasial karena pada beberapa kasus diperlukan maturitas skeletal yang telah selesai untuk penatalaksanaan tindakan bedah. Kasus tersebut antara lain dalam menangani Fibrous dysplasia, tindakan bedah orthognatik dan pemilihan pemakaian jenis plate pada masa pertumbuhan. Maturasi skeletal sangat penting diperhatikan karena apabila tindakan bedah dilakukan sebelum terjadinya maturasi skeletal akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tulang wajah. Maturasi skeletal ini merupakan usia biologis dari manusia dimana antara usia biologis dan usia kronologis belum tentu sama perkembangannya. Penentuan usia skeletal seringkali dilakukan dengan bantuan radiograf tangan dan sefalometri lateral yang menunjukkan adanya korelasi antara pertumbuhan tubuh dengan tulang-tulang wajah. Kedua analisis radiograf ini dapat membantu memberikan petunjuk mengenai usia skeletal seseorang yaitu melalui maturasi skeletal indeks (SMI) dan maturasi vertebra servikalis indeks. Tujuan :Menganalisis apakah ada perbedaan maturasi skeletal antara kelompok ras Proto-Melayu dan Deutro-Melayu melalui analisa maturasi skeletal indeks dan maturasi vertebra servikalis indeks. Bahan dan Cara : Dilakukan pengambilan rontgen foto karpal tangan kiri dan sefalometri lateral pada setiap sampel , hasil radiograf dilakukan tracing tanpa diketahui asal suku dan usia yang kemudian dilakukan analisa dengan maturasi skeletal indeks pada rontgen foto karpal tangan kiri dan maturasi vertebra servikalis indeks pada sefalometri lateral. Dari data yang didapat dilakukan uji statistik chi-square. Hasil : Hasil uji statistik memperlihatkan perbedaan maturasi skeletal yang bermakna antara kelompok ras Proto-Melayu dan Deutro-Melayu baik pada analisa maturasi skeletal indeks dan maturasi vertebra servikalis indeks. Kedua indeks tersebut dilakukan uji statistik Kappa untuk melihat kesesuaian diantara keduanya dan nilai ρ nya memnunjukka kesesuaian yang baik diantara kedua indeks tersebut. Kesimpulan : Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara maturasi skeletal kelompok ras Proto-Melayu dibandingkan dengan Deutro-Melayu .

ABSTRACT
Background: Skeletal maturation is important to in Oral and Maxillofacial Surgery because in some cases required skeletal maturity has been completed for surgical management. The case is among others in dealing with fibrous dysplasia, and the selection of surgical orthognatik use types during the growth plate. Skeletal maturation is important because if the surgery is performed prior to skeletal maturation would greatly affect the growth and development of facial bones.Skeletal maturation is a biological age of humans in which the biological age and chronological age is not necessarily the same development. Determination of skeletal age is often assessed with hand wrist and sefalometri lateral radiographs showing a correlation between the growth of the body with the bones of the face. Both the analysis of radiographs may help provide a skeletal age is through skeletal maturation index (SMI) and the cervical vertebrae maturation index. Objective: To analyze whether there are any differences in skeletal maturation between Proto-Malay and Deutro-Malay assessed with skeletal maturation index (SMI) and Cervical Vertebrae Maturation Index. Material and Method: Carpal x-ray image of the left hand and sefalometri lateral on each sample, the results of tracing both radiograph performed analysis with Skeletal Maturation Index (SMI) on the left hand carpal x-ray images and the Cervical Vertebrae Maturation Index (CVM) on the lateral sefalometri. The data was performed statistical analysis chi-square test. Results: The test results showed statistically significant differences in skeletal maturation between Proto-Malay and Deutro-Malay on both index , the analysis of skeletal maturation index and the cervical vertebrae maturation index. The Kappa statistical test was perform to see compatibility between SMI and CVM, and the ρ value show the good compatibility between the two indexes. Conclusion: From this study it can be concluded that there were significant differences Protomalay Skeletal Maturation compared with Deutromelayu."
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2013
T32163
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wenny Yulvie
"Latar Belakang : Ameloblastoma merupakan tumor odontogenik yang dijumpai pada tulang rahang. Tumbuh lambat dan berpotensi agresif terlihat dari mekanisme ekspansi kedalam tulang rahang. Receptor activator of nuclear factor-ĸB ligand (RANKL) dan Osteoprotogerin (OPG) merupakan protein yang mengatur osteoklastogenesis dimana kedua agen diklasifikasikan kedalam superfamili TNF.
Tujuan : Menganalisis sifat invasif local ameloblastoma melalui ekspresi RANKL dan OPG pada berbagai tipe ameloblastoma.
Metode Penelitian : 40 sampel ameloblastoma terdiri dari 9 sampel ameloblastoma tipe pleksiform, 15 sampel tipe folikular, dan 16 sampel tipe campuran. Sampel dipulas secara imunohistokimia dengan antibody RANKL dan OPG poliklonal kelinci.
Hasil: Perbandingan RANKL dengan OPG pada ameloblastoma tipe pleksiform dan campuran memiliki nilai RANKL lebih besar OPG yang cukup besar, dibandingkan tipe folikular, sehingga kedua tipe tersebut dapat di katagorikan lebih dekstruktif dibandingkan tipe folikular. Perbandingan RANKL lebih kecil OPG pada tipe folikular sebesar 66,67 %. Hal ini mengambarkan pada tipe folikular lambat dalam perkembangannya, sedangkan perbandingan antara RANKL sama dengan OPG skor terbesar pada tipe campuran yakni sebesar 37,5 % hal ini berarti pada tipe campuran meskipun memilik kecendrungan dekstruktif namun dapat bersifat hemostasis.
Kesimpulan : Terdapat perbedaan ekspresi RANKL dan OPG pada ke tiga tipe ameloblastoma dimana pada tipe pleksiform memiliki rasio RANKL dan OPG yang lebih tinggi dibandingkan kedua tipe yang lainnya. Ketidak seimbangan tersebut dapat menyebabkan kerusakan tulang dapat berlangsung lebih cepat.

Background: Ameloblastoma is an odontogenic tumor is slow growing and aggressive of expansion into the jaw bone. Receptor activator of nuclear factor-ĸB ligand (RANKL) and Osteoprotogerin (OPG) protein that regulates osteoclastogenesis, both agents are TNF superfamily. Although benign, the ameloblastoma is destrutive tumor, locally invasive and presents a high rate of recurrence despite adequate surgical removal.
Objective: To analyze the nature of local invasive ameloblastoma through the expression of RANKL and OPG
Methods : 40 samples plexiform type ameloblastoma (n = 9), follicular type (n = 15), and mixed type (n = 16) by immunohistochemistry.
Results : Comparison of RANKL and OPG in ameloblastoma plexiform type, follicular type, and mixed type values had greater expression of ​​RANKL than OPG substantial plexiform type and mixed type, 66.67% of cases showed a greater expressin of OPG than RANKL type of follicular. RANKL same OPG biggest score of 37.5% on a mixed type.
Conclusion : There are differences in the expression of RANKL than OPG in plexiform type and mixed type has a higher ratio than the follicular type. Imbalances can cause locally invasive will go faster to resorption in jaw.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2012
T32517
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmi Syaflida
"Magnesiummerupakan suatu material yang berpotensi digunakan sebagai biomaterial logam yang dapat terdegradasi. Syarat magnesium dapat digunakan sebagai material implan biodegradable adalah laju degradasimagnesiumharus sesuaidenganlaju penyembuhandarijaringan yang terlibat.Umumnya magnesium memiliki laju degradasi yang cepat, hal ini merupakan kekurangan magnesium yang tidak diinginkan.Aplikasimagnesiumsebagai implanyang terdegradasiterhambatkarena tingkattinggidegradasilingkungan fisiologisdan kerugiankonsekuen dalamsifat mekanik. Oleh karena itu, proses Equal Channel Angular Pressing (ECAP) yang dilakukan padamagnesium diharapkan akanmengurangiukuran butir yang dapat menurunkanlaju degradasidan meningkatkansifat mekanis magnesium.
Tujuan: Menganalisasifat mekanismagnesium ECAP dalam cairan fisiologis.
Metode:Sifat mekanis magnesium ECAP dianalisis setelah dilakukan perendaman dalam larutan DMEM dengan menggunakan masing-masing sepuluh sampel magnesium ECAP dan lima sampel magnesium untuk uji tarik dan uji kekekrasan. Sifat mekanis di analisis menggunakan nilai ultimate tensile strength (UTS) pada uji tarik dan vickers hardness number (VHN) pada uji kekerasan.
Hasil: Kekuatan dan kekerasan magnesium meningkat setelah proses ECAP.

Magnesium has thepotential to be used asdegradable metallic biomaterial. For magnesium to be used as biodegradable implant materials, their degradation rates should be consistent with the rate of healing of the affected tissue, the release of the degradation products should be within the body?s acceptable absorption levels. Conventional magnesium degrades rapidly, which is undesirable. The successful applications of magnesium as degradable implants are mainly inhibited due to their high degradation rates in physiological environment and consequent loss in the mechanical properties. Equal channel angular pressing (ECAP) was applied to a pure magnesium. This processes will be decreasing grain size, decreasing degradation rates and increasing mechanical properties.
Purpose: To analyze the mechanical properties of magnesium ECAP in physiological fluid.
Method:The mechanical properties were obtained from immersion test in a DMEM solution, within ten magnesium ECAP specimens and five specimens of pure magnesium as a control. Mechanical properties were analyzed using the value of ultimate tensile strength (UTS) with tensile testing and vickers hardness number (VHN) with hardness testing.
Results:The ultimate tensile strength and hardness magnesium increased after ECAP, and the mechanical properties of the magnesium ECAP decreased in physiological fluid.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2012
T33041
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Semi Riawan
"ABSTRAK
Latar Belakang: Operasi orthognatik merupakan tahapan akhir dari perawatan fungsional dan rehabilitasi pada penderita celah bibir dan langit-langit, disebabkan karena tingginya prevalensi dari rahang atas yang mengalami hipoplasi, sehingga banyak penderita yang memerlukan osteotomi maksila. Tujuan: Mengetahui kebutuhan operasi orthognatik pada penderita celah bibir dan langit - langit usia pasca perawatan orthodontik konvensional usia 18–25 tahun pada RSAB Harapan Kita Unit Celah Bibir dan Langit-langit. Metode: Analisis antropometri dengan mengukur besar sudut nasolabial dan facial contour, analisis sefalometri dengan mengukur besar sudut ANB dan jarak Wits Appraisal, analisis model studi dengan mengukur jarak inter insisal dan inter molar. Hasil perbandingan antar kelompok dianalisa menggunakan uji T – Test tidak berpasangan .Hasil: Kebutuhan bedah orthognatik usia 18–25 tahun cukup tinggi dibandingkan yang dapat dirawat dengan perawatan orthodontik konvensional. Kesimpulan: Untuk meningkatkan pelayanan di unit CLP RSAB Harapan Kita pasien celah bibir dan langit-langit harus diedukasi ke arah bedah orthognatik untuk mendapat hasil akhir yang lebih baik.

ABSTRACT
Background: Orthognathic surgery is the final stage of treatment and functional rehabilitation in patients with cleft lip and palate, due to the high prevalence of maxillary hipoplasia that require osteotomy. Purpose: Measure the need for orthognathic surgery in 18-25 years old patients with cleft lip and palate after orthodontic treatment at Harapan Kita Hospital. Method: Anthropometric analysis with a large measure the nasolabial angle and facial contour, cephalometric analysis with a large measure ANB angle and Wits appraisal distance, analytical study of the model by measuring the inter-incisal distance and inter molar. The results of comparisons between groups were analyzed using T test - Test. Result: Surgical needs orthognatik age 18-25 years is quite high compared to that can be treated with conventional orthodontic treatment. Conclusion: To improve services in the CLP unit RSAB Harapan Kita patients cleft lip and sky - the sky should be educated towards orthognatik surgery to get a better end result."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rindang Yuasari
"[ABSTRAK
Penyembuhan defek tulang akibat trauma, antara lain dapat berupa trauma fisik; mekanik; kimia maupun biologik dapat dilakukan melalui terapi transplantasi tulang autogenik; allogenik; alloplastik dan xenogenik. Penggunaan material xenogenik yang paling sering digunakan dalam mempercepat penyembuhan adalah material dari bovine yang mempunyai potensi osteokonduktif sangat baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perilaku sel osteoblas manusia terhadap paparan bovine periosteal membrane dibandingkan dengan kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Bovine periosteal menbrane produksi BATAN yang diujikan tidak menstimulasi proliferasi sel osteoblas setelah 24 jam pemaparan. Disamping itu, tidak terdapat perbedaan bermakna terhadap ekspresi fosfatase alkali dan konsentrasi osteokalsin pada sel osteoblas yang dipapar dengan bovine periosteal membrane dibandingkan dengan kontrol

ABSTRACT
Healing of bone defects due to trauma, including physical; mechanical; chemical and biological trauma can be done through autogenic; allogenic; alloplastic and xenogenic bone transplantation therapy. The most common xenogenic material that is used for bone healing acceleration is bovine material which has excellent osteoconductive potention. The aim of this study is to determine the differences in the behavior of human osteoblast cells on exposure to bovine periosteal membrane compared with controls. The results of this study indicate that bovine periosteal membrane from BATAN is not stimulate the proliferation of osteoblast after 24 hours of exposure. In addition, there is no significant difference on the expression of alkaline phosphatase and osteocalcin concentration in osteoblast cells exposed to bovine periosteal membrane compared with controls. , Healing of bone defects due to trauma, including physical; mechanical; chemical and biological trauma can be done through autogenic; allogenic; alloplastic and xenogenic bone transplantation therapy. The most common xenogenic material that is used for bone healing acceleration is bovine material which has excellent osteoconductive potention. The aim of this study is to determine the differences in the behavior of human osteoblast cells on exposure to bovine periosteal membrane compared with controls. The results of this study indicate that bovine periosteal membrane from BATAN is not stimulate the proliferation of osteoblast after 24 hours of exposure. In addition, there is no significant difference on the expression of alkaline phosphatase and osteocalcin concentration in osteoblast cells exposed to bovine periosteal membrane compared with controls. ]"
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Made Widya Utami
"Latar Belakang: Keseimbangan dan harmoni gambaran wajah merupakan tujuan utama dari penatalaksanaan bedah pada pasien dengan celah bibir. Berbagai metode operasi untuk celah bibir unilateral telah tersedia. Labioplasti metode Cronin pada pasien celah bibir dan langit-langit unilateral menghasilkan bibir yang simetris dengan jaringan parut seminimal mungkin.
Tujuan: Evaluasi kesimetrisan bibir pada pasien celah bibir dan langit-langit unilateral pasca labioplasti metode Cronin sesuai protap yang berlaku di Unit Celah Bibir dan Langit-langit Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta.
Metode: Pasien celah bibir dan langit-langit unilateral 2 minggu, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 1 tahun pasca labioplasti dengan metode Cronin sebanyak 36 orang dinilai kesimetrisan bibir secara antropometri dengan fotograf yang telah terstandarisasi dari 2 aspek, yaitu anterior dan lateral. Bibir pada sisi celah diukur dan dibandingkan dengan sisi non celah.
Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna pada jarak ac ke komisura ipsilateral (p = 0.387) dan jarak puncak cupid?s bow ke komisura ipsilateral (p = 0.933) pada sisi celah dan non celah. Terdapat perbedaan bermakna jarak sbal ke puncak cupid?s bow (p = 0.007) antara sisi celah dan non celah pada 2 minggu, 1 bulan, 3 bulan, dan 6 bulan pasca labioplasti.
Kesimpulan: Kesimetrisan bibir pada sisi celah dan non celah pasca labioplasti dengan metode Cronin berdasarkan rasio pengukuran antropometri dengan fotograf yang telah terstandarisasi dapat dicapai sempurna pada 1 tahun pasca labioplasti.

Background: Balance and harmony of facial features are the goal of surgical treatment for patients with cleft lip. Various methods of surgery for unilateral cleft lip had been provided. Labioplasty Cronin method in patients with unilateral cleft lip and palate produce symmetrical lips with minimal scarring.
Objective: Evaluation lip symmetry post labioplasty Cronin method in patients with unilateral cleft lip and palate based on standard operating procedure in Cleft Center Harapan Kita General Hospital.
Material and Methods: Thirty-six patients with unilateral cleft lip and palate after performing labioplasty Cronin method were photographed on anterior and lateral side by a standardized method 2 weeks, 1 month, 3 months, 6 months, and 1 year after surgery. Lips on the cleft side were measured and compared with the opposite side.
Results: There were no significant differences the length of ac to ipsilateral commissure (p = 0.387) and the distance of the peak cupid's bow to the ipsilateral commissure (p = 0.933) on cleft and norm side. There are significant differences the length of sbal to the Cupid's bow peak (p = 0.007) between cleft and norm side at 2 weeks, 1 month, 3 months, and 6 months post labioplasty.
Conclusion: Symmetrical lip post labioplasty with Cronin method at cleft and non cleft side based on the ratio of anthropometric measurements with standardized photographs can be accomplished perfectly in 1 year after labioplasty.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Hafif A. S.
"Peningkatan insidensi fraktur maksilofasial berdampak pada peningkatan beban kerja rumah sakit serta diprediksi mempengaruhi sistem kesehatan masa mendatang. Karakteristik fraktur maksilofasial dipengaruhi budaya, sosioekonomi, serta sosiodemografi suatu negara. Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi dan frekuensi fraktur maksilofasial di RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo periode 2009-2013. Analisis dilakukan pada 407 rekam medik dengan 659 kasus fraktur maksilofasial. Distribusi dan frekuensi dilihat berdasarkan usia, jenis kelamin, etiologi fraktur, regio fraktur, derajat keparahan cedera fasial, dan lama rawat inap. Mayoritas pasien berusia 20-26 tahun (29,2%) dan berjenis kelamin laki-laki (82,3%) dengan perbandingan 4,7:1 terhadap perempuan. Etiologi fraktur tersering adalah kecelakaan motor (75,5%). Fraktur maksilofasial ditemukan terbanyak pada regio simfisis dan parasimfisis mandibula (16,4%). Derajat keparahan cedera fasial berkisar antara ringan hingga sedang dengan rata-rata skor 2,50 + 1,2. Rata-rata lama perawatan inap pasien adalah 10,28 + 6,9 hari.

Increased number of maxillofacial fracture incidency affecting hospital workload and predicted have impact on future health system. Maxillofacial fracture characteristics were depends on culture, socioeconomy, and sociodemography. The aim of this study was determine distribution and frequency of maxillofacial fracture in Dr. Ciptomangunkusumo General Hospital from 2009-2013. 407 medical records with 659 cases was analyzed. Distribution and frequency analyzed concerning age, gender, etiology, fracture region, facial injury severity, and patient length of stay. Most of the patients were 20-26 years old in age (29,2%) and men were more involved than women (82,3%) with ratio 4,7:1. Motorcycle accident were most frequent cause (75,5%). Mandibular symphisis and parasymphisis found as the most fractured anatomical site (16,4%). Facial injury severity of patients found between mild to moderate with FISS score average 2,50 + 1,2. Mean of patient length of stay were 10,28 + 6,9 days."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2014
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>