Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Thara Nadhifa Zakirah
"Perkembangan eksponensial gim video dalam budaya populer telah menarik perhatian cendekiawan selama bertahun-tahun. Dibanding media lain, gim video unik karena mereka memberikan pengalaman interaktif untuk para pemain dengan cara memberi pemain kekuasaan untuk memilih. Keberadaan mitologi dan sistem kepercayaan dalam gim video telah diperdebatkan sebagai peran yang penting, di mana mitologi dan sistem kepercayaan bertindak sebagai referensi yang menjadi dasar gim itu sendiri.Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana sistem kepercayaan utama di Dragon Age: Origins (2009) saling berhubungan dengan hirarki ras dalam game. Narasi dan mekanik dalam him dipelajari guna menunjukkan dengan tepat hubungan lembaga agama dengan rasisme. Hasil temuan menunjukkan bahwa ada hubungan yang kompleks antara rasisme dan lembaga agama. Dari waktu ke waktu, studi soal rasisme berlandaskan agama dan pemahaman kita akan religiusitas berkembang. Meskipun tidak ada korelasi eksplisit yang menyatakan bahwa lembaga agama dan rasisme itu berkaitan, bukan berarti keduanya sepenuhnya tidak terkait. Kita harus berhati-hati untuk tidak menentang agama itu sendiri, tetapi mengkritik dinamika lain yang ikut bermain seperti kekuasaan dan harta.

The exponential growth of video games in popular culture has been piquing scholars' attention for years. Video games are unique compared to other media as they provide interactive experience for the users by giving them the power to choose. It has been argued that mythologies and belief systems play an important role in video games, wherein they act as referents to which video games are based on. This study aims to research how the major belief system in Dragon Age: Origins (2009) is interconnected with the in-game racial hierarchy. Using textual analysis as the method, the game narrative and mechanics are studied in order to pinpoint the connection between institutionalized religion and racism. The findings show that there are complex relations between racism and institutionalized religion. Through time, the study of religious racism and our understanding of religosity evolved. Although there are no explicit positive corelation between the two, it is not entirely unrelated either. We must be careful to not to oppose religion itself, but to criticize the other dynamics that come into play such as power and money."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Zahrah Hisaanah Adhwa
"Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan produk perawatan pria tumbuh cukup signifikan. Fenomena ini menarik banyak investor yang mendorong industri periklanan untuk membuat iklan baru dan inovatif yang menarik perhatian publik dan menjual produk dengan lebih baik. Pantene sebagai merek besar yang berspesialisasi dalam produk perawatan rambut juga telah membuat beberapa iklan progresif terkait dengan isu gender terkini. Dalam penelitian ini, peneliti bertujuan untuk menyelidiki bagaimana gagasan tentang gender diekspresikan melalui aspek multimodal yang digunakan dalam iklan Pantene Australia dan Indonesia menggunakan teori Halliday Systemic Functional Linguistics (1994), Kress and van Leeuwen Visual Grammar (2006), dan Anstey and Bull's multimodal semiotic system (2010). Data yang digunakan adalah dari iklan Pantene Australia “DareToDoXtra” dan Pantene Indonesia “Miracles Hair Supplement Baru” yang dikumpulkan dari YouTube. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pantene Australia dan Indonesia sama-sama mengindikasikan upaya untuk mempromosikan ide fluiditas gender melalui iklan mereka. Namun, analisis lebih lanjut pada aspek multimodal mengungkapkan adanya beberapa pendekatan bahasa berbasis gender yang umumnya dikaitkan dengan ideologi feminitas. Karena sifatnya yang kontradiktif, kehadiran pendekatan bahasa berbasis gender dalam bentuk apapun akan mengurangi makna utama dari pesan fluiditas gender yang ingin disampaikan oleh kedua iklan tersebut.

In recent years, the demand for male grooming products have been growing quite significantly. This phenomenon attracts a large number of investors prompting the advertising industry to create fresh and innovative advertisements that draw public attention and sell products better. Pantene as a global brand that specializes in hair care products has also made several progressive ads in association with current gender issues. In this research, the researcher aims to investigate how ideas about gender are expressed through the multimodal aspects being employed in Pantene Australia and Indonesia ads by means of Halliday Systemic Functional Linguistics (1994), Kress and van Leeuwen's Visual Grammar (2006), and Anstey and Bull's multimodal semiotic system theory (2010). The data used are from Pantene Australia “DareToDoXtra” ad and Pantene Indonesia “Miracles Hair Supplement Baru” collected from YouTube. The results suggest that Pantene Australia and Indonesia both indicate an attempt to promote the idea of gender fluidity through their ads. However, further analysis on its multimodal aspects reveals the presence of numerous gender-based approaches typically linked with the prevalent ideologies of femininity. Due to its contradictory nature, the presence of a gendered language in any form, negates/diminishes the focal message of gender fluidity that both ads try to convey."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, 2023
S-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
David Kusuma Wijaya
"Dengan menggunakan model komunikasi encoding/decoding Stuart Hall (1980), artikel ini mengkaji penggambaran moralitas dalam cerita video game Fate/Grand Order dan interpretasi moralitas tersebut oleh para pemainnya. Video game telah lama melewati periode di mana tujuan utamanya adalah untuk hiburan. Saat ini, banyak video game yang menawarkan pengalaman dan keterlibatan tingkat tinggi yang dipoles untuk para pemainnya, yang berkontribusi besar sebagai media yang memberikan kesempatan untuk merefleksikan banyak topik penting seperti agama atau moralitas. Artikel ini mengakui keterlibatan budaya dan sosial dalam bermain video game dan membantu mengeksplorasi batas-batas yang difasilitasi oleh struktur naratif dari game itu sendiri. Dengan menganalisis dan mengkritik cara narasi dalam game ini dibuat dan pemahaman para pemainnya, penulis berpendapat bahwa narasi game ini memunculkan sesuatu yang sering diabaikan dalam game-game lain dengan cerita yang serupa.

Using Stuart Hall’s (1980) encoding/decoding model of communication, this article examines the portrayal of morality in the story of the video game Fate/Grand Order and the interpretation of said morality by its players. Video games have long since passed the period where their sole purpose is for entertainment. Nowadays, many video games offer a polished, high-level experience and engagement to the players, considerably contributing as a medium that provides a chance for reflection on many important topics such as religion or morality. This article acknowledges the cultural and social involvement of playing video games and helps to explore the bounds that are facilitated by the narrative structure of the game itself. By analyzing and criticizing the way the narrative in this game is crafted and its players’ understanding of it, The writer argues that the game’s narrative brings forth something that is often neglected in other games with stories that are similar in nature."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Indira Faisa Afgani
"Dewasa ini, platform musik banyak digunakan oleh para penyanyi dan penulis lagu untuk menyampaikan kritik mereka terhadap isu-isu sosial di masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, dua musisi wanita Dove Cameron dan Taylor Swift menggunakan lagu mereka yang berjudul Breakfast and The Man untuk mengekspresikan kritik dan menantang toxic masculinity. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan strategi yang digunakan kedua lagu dan bagaimana kedua penyanyi mempersepsikan isu toxic masculinity. Untuk melakukan penelitian, makalah ini menggunakan pendekatan Multimodal Discourse Analysis (MDA) untuk menganalisis semiotika sosial dalam lirik dan video musik kedua lagu. Penelitian ini menggunakan lyrics analysis oleh David Machin dan Grammar of Image Analysis oleh Gunther Kress Theo van Leeuwen. Penelitian ini menemukan bahwa kedua lagu ini memang menantang isu toxic masculinity di masyarakat. Namun, kedua musisi menggunakan strategi berbeda untuk menantang isu tersebut. Temuan menunjukkan bahwa Breakfast (2022) karya Cameron menantang toxic masculinity dengan menentangnya. Sementara itu, The Man (2020) karya Swift menantang toxic masculinity dengan cara mendukung ide tersebut. Hal ini menyebabkan perbedaan dalam cara kedua penyanyi tersebut dalam memandang toxic masculinity.

Nowadays, music platforms are widely used by singers and songwriters to convey their criticism of social issues in society. In recent years, the two female musicians Dove Cameron and Taylor Swift used their songs entitled Breakfast and The Man to express their criticism and challenge toxic masculinity. Therefore, this paper aims to analyze the different strategies used in the two songs and how the two singers perceive the issue of toxic masculinity. To conduct the research, this paper uses the Multimodal Discourse Analysis (MDA) approach to analyze the social semiotics in the lyrics and music videos of the two songs. The study used David Machin's Lyric Analysis and Gunther Kress and Theo van Leeuwen's Grammar of Image Analysis. This research has found that the two songs indeed challenge the issue of toxic masculinity in society. However, the two musicians used different strategies to challenge the issue. The findings show that Cameron’s Breakfast (2022) challenges toxic masculinity by defying it. Meanwhile, Swift’s The Man (2020) challenges toxic masculinity by submitting to it. This leads to a disparity in the way the two singers perceive toxic masculinity.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library