Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nasution, M. Arman
"Latar Belakang : Respon pengobatan limfoma non Hodgkin yang dilakukan kemoterapi CHOP ditentukan oleh berbagai bal. Pasien dengan gejala B mempunyai respon yang kurang baik terhadap kemoterapi. Gejala 13 didelinisikan sebagai demur' yang berulang, keringat malam serta penurunan berat badan lebih dari 10 % selama 6 bulan. Pada pasien keganasan terdapat penurunan berat badan yang beuduakna pada 50 % pasien. Penderita kanker mempunyai resiko tinggi mengalami masalah nutrisi yang akan mengakibatkan respon yang kurang baik terhadap kemoterapi.
Tujuan : Mendapatkan data hubungan antara indeks massa tubuh dengan respon terapi pada pasien Limfoma non Hodgkin sel B yang dilakukan kemoterapi CHOP.
Metodologi : Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif. Dilakukan pengambilan data pasien Limfoma non Hodgkin sel B yang mendapat kemoterapi CHOP, data diambil dari data sekunder rekam medis. Pasien penyakit hati kronis, penyakit ginjal kronis, penyakit diabetes melitus, riwayat kemoterapi dan radioterapi sebelumnya, penderita HIV, dieksklusi dari penelitian. Dinilai respon terapi terhadap kemoterapi setelah dua siklus kemoterapi. Dilakukan uji chi-square sesuai dengan tujuan penelitian.
Hasil : Selama periode I Januari 2003-31 Desember 2005 dikumpulkan 70 kasus dengan Indeks Massa Tubuh kurang dan tidak. kurang masing-masing 35 kasus. Didapatkan data usia kurang 60 tahun (82,9 %), Laki-laki (58.6%), 70 % pasien pendidikan yang rendah, 28,6% pasien tidak bekerja, 71,4% pasien status performans el, 82,9% pasien mempunyai kadar LDH yang tinggi, 62,9 % pasien 51 keterlibatan ekstranodal, 52,9% pasien di bawah stadium Il. Tidak ada hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan respon pengobatan (p = 0,673, RR = 1,065,1K 95% 0,92 -1,23).
Kesimpulan : Tidak didapatkan hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan respon terapi. Diperlukan data mengenai terdapatnya gejala B dengan jumlah pasien yang lebih banyak dan waktu yang lebih lama untuk melihat faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan terapi.

Therapeutic response of non Hodgkins lymphoma undergo chemotherapy CHOP regimen depends on many variable things. Patients with B symptom have poor response wi1.h chemotherapy B symptom define as repeatedly fever, night sweat, decreased body weight more than I0 % in six months. There is decreasing of body weight in more than 50 % malignancy patients. Patients with malignancy have a high risk of nutritional problem which can be consecuence to poor response to chemotherapy.
Objective : To lind association between body mass index and therapeutic response in B cell non Hodgkin?s Lymphoma patients who received CHOP regimen chemotherapy.
Methods : This is a cohort retrospective study. Data were collected hommedical record. Exclusion criteria included patients with hepatic chronic illness, renal chronic illness, diabetes mellitus, history of previous chemotherapy and radiotherapy, HIV patients. Therapeutics response assesment fiom chemotherapy taken after two cycles ofchemotheiapy. We perform Chi-Square test to obtain signilicant value on this study and evaluate if there is association between body mass index and therapeutic response.
Results : Since January 1? 2003-Desembcr 3l"? 2005 collected 35 cases with poor and 35 cases not poor body mas Index. We obtain data patients age under 60 years old (82,9 %), male (58,6%), 70% with poor educated level, 28,6% unemployment, 7l,4% pariens with performans status $1 , S2,9% patiens with high LDH, 62,9 %Patiens Sl exstranodal involvement, 52,9% patiens S stage II. 'Ihere was no association between body mass index and therapeutic response (p = 0,673, RR = L065, 95% CI 0,92- l,2.3)
Conclusions :There was no association between body mass index and therapeutic response _ Further study is needed with more patients and longer duration to study B symptom and other ihctors which can inliuence therapeutic response.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18190
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lusy Erawati
"Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi yang sering dijumpai dan salah satu penyebab disabititas serta nyeri. Osteoartritis banyak menyerang sendi penumpu berat badan seperti lutut, panggul dan tulang belakang. Prevalensi penyakit ini meningkat tajam pada usia lebih dan 55 tahun. Dan beberapa sendi penumpu berat badan, OA lutut paling sering dikeluhkan terutama pada wanita dan penderita obesitas. Pada suatu studi yang dilakukan oleh Mannoni dkk, prevalensi OA lutut di Italia diperkirakan 29,8%.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Cushnaghan dan Dieppe, dan seluruh gejala OA yang sirntomatik, 41,2% melibatkan sendi Iutut. Berdasarkan penelitian di Malang, diperkirakan masalah OA di Indonesia lebih besar jika dibandingkan negara barat. Lebih dari 85% penderita OA di Indonesia terganggu aktivitasnya terutama kesulit-in dalam jongkok, naik turun tangga dan berjalan. Pada suatu studi yang dilakukan oleh Bristol, menyatakan bahwa 15% subyek pada populasi yang berusia diatas 55 tahun terdapat keterbatasan aktivitas karena nyeri lutut yang terjadi hampir setiap hari dalam satu bulan selama satu tahun terakhir.
Konsep inflamasi sebagai salah satu patogenesis OA akhir-akhir ini banyak dibicarakan. Salah satu bukti yang mendukung konsep tersebut adalah ditemukannya peningkatan protein fase akut seperti C-Reactive Protein (CRP) serum penderita OA pada penelitian Spector dkk. Pada penelitian Kertia dkk ditemukan peningkatan jumiah lekosit, peningkatan ringan kadar protein, viskositas yang turun serta peningkatan berbagai mediator proinflamasi pada penderita OA. Ditemukannya ekspresi sitokin pada membran sinovial pasien OA lutut membuktikan peranan inflamasi pada patogenesis OA."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T21421
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rezky Aulia Nurleili
"Latar belakang: Laporan mengenai hubungan obesitas dan GERD semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Dengan meningkatnya pemahaman mengenai mekanisme GERD, diketahui terdapat peran sitokin proinflamasi dan adipositokin yang banyak terdapat di jaringan lemak viseral. Pada beberapa populasi di dunia, ketebalan lemak viseral diketahui berhubungan dengan meningkatnya insiden esofagitis erosif.
Tujuan: Mengetahui profil ketebalan lemak viseral pasien GERD di RSCM.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang pada 56 subyek GERD. Subyek direkrut secara konsekutif pada bulan April hingga Oktober 2018 di RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Pemilihan subyek GERD berdasarkan Gastroesophageal Reflux Disease Questionnaires(GERDQ) dan pengukuran tebal lemak viseral menggunakan ultrasonografi. Erosi esofagus ditegakkan berdasarkan hasil endoskopi saluran cerna bagian atas. Analisis bivariat digunakan untuk menentukan perbedaan ketebalan lemak viseral antara grup esofagitis dan non-esofagitis.
Hasil: Lebih dari separuh subyek penelitian ini menderita erosive reflux disease(ERD) (55,4%), didominasi oleh pasien dengan esofagitis kelas A berdasarkan klasifikasi Los Angeles sebanyak 64,5%. Rerata ketebalan lemak viseral grup NERD sedikit lebih rendah daripada grup ERD (47,9 mm untuk NERD dan 49,0 mm utk ERD). Terdapat kecenderungan peningkatan rerata ketebalan lemak viseral seiring dengan peningkatan derajat esofagitis (47,6 mm untuk esofagitis derajat A, 50,0 mm untuk esofagitis derajat B, dan 53,5 mm untuk esofagitis derajat C).
Kesimpulan: Subjek ERD lebih banyak daripada NERD pada populasi GERD di RSUPN Cipto Mangunkusumo. Rerata ketebalan lemak viseral subjek NERD lebih rendah daripada ERD. Terdapat kecenderungan peningkatan rerata ketebalan lemak viseral seiring dengan peningkatan derajat esofagitis.

Background: Reports about thecorrelation between obesity and GERD had been increasedin the past few years. Along with the increasing understanding of GERD, there are roles of proinflammatory cytokines and adipocytokines which are mostly contained in abdominal fat tissue. In several populations, visceral fat thicknessis associated with the increased incidence of erosive esophagitis.
Objective: To determine visceral fat thickness profile in GERD population in Cipto Mangunkusumo National General Hospital.
Methods: A cross-sectional study of 56 adult patients with GERD symptoms was conducted. The subjects were recruited consecutively between April and Oktober 2018 at Cipto Mangunkusumo National Hospital in Jakarta. Gastroesophageal Reflux Disease Questionnaires (GERDQ) were used to select research subjects and Ultrasonography examination was used to determine visceral fat thickness. Esophageal erosions were diagnosed using upper gastrointestinal endoscopy. Bivariate analysis was used to determine visceral fat thickness difference between esophagitis and non-esophagitis group.
Results: More than half of this research subject were patients who suffer erosive reflux disease(55,4%), which dominated by patient with esophagitis class A, regarding to Los Angeles (LA) classifications, there were 64,5% of all ERD patients. The mean visceral fat thickness in erosive reflux disease (ERD) group slightly higher than in non-erosive reflux disease (NERD) group (49,0 mm vs 47,9 mm respectively). There is an increasing trend in mean visceral fat thickness as the esophageal erosion progresses (47.6 mm for grade A, 50.0 mm for grade B, and 53,5 for grade C).
Conclusion: ERD is more common than NERD in Cipto Mangunkusumo General Hospital's GERD population. The mean visceral fat thickness in ERD group is higher than in NERD group. There is an increasing trend in mean visceral fat thickness as the esophageal erosion progresses.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Meilania Saraswati
"Latar Belakang: Program Pendidikan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (PPDS PA FKUI) menggunakan kurikulum berdasarkan kompetensi/outcome (competency-/outcome-based curriculum). Namun, PPDS PA FKUI selama ini belum pernah melaksanakan ujian formatif berdasarkan kerja (workplace-based Metode Penelitian: Penelitian ini bersifat kualitatif untuk mengekplorasi secara mendalam pemanfaatan ujian formatif Diskusi berdasarkan Kasus dalam proses pendidikan di PPDS Patologi Anatomik FKUI. Dilakukan wawancara dan focused group discussion terhadap pengelola program, staf pengajar dan peserta PPDS PA FKUI. Staf pengajar diminta melakukan intervensi berupa ujian formatif DbK terhadap PPDS PA FKUI sebanyak tiga kali menggunakan borang yang telah diterjemahkan. Setelah intervensi, kembali dilakukan wawancara dan focused group discussion terhadap staf pengajar dan peserta PPDS PA FKUI.

 

Hasil: Staf Pengajar dan peserta PPDS PA FKUI menunjukkan respons positif terhadap pelaksanaan ujian formatif DbK. Ujian formatif DbK dianggap memungkinkan proses diskusi mendalam antara staf pengajar dan peserta PPDS PA terkait proses penegakkan diagnosis dari suatu kasus. Staf pengajar dapat memantau kemajuan proses pembelajaran serta memberikan umpan balik yang spesifik terhadap peserta PPDS. Peserta PPDS dapat mempelajari suatu kasus dengan lebih komprehensif, memperoleh umpan balik yang spefisik, serta mendapatkan simulasi ujian sumatif.

Kesimpulan: Ujian DbK bermanfaat dalam proses pencapaian kompetensi dalam pendidikan yang menggunakan pendekatan competency- atau outcome-based curricula.

Postgraduate program for Anatomical Pathology Specialist in Faculty of Medicine Universitas Indonesia use competence-/outcome-based curriculum approach. However, until now, the program has not yet adopted formative workplace-based assessment, for example, case-based discussion.
This was a qualitative research to explore the use of formative assessment case-based discussion during educational process in postgraduate program for anatomical pathology specialist in FMUI. Interview and focused group discussion to the program manager, teaching staff and the residents were performed. Teaching staff was asked to perform three times case-based discussion (CbD) formative assessment toward the resident. Postintervention, interview and focused group discussion to the staf and resident were conducted.
The staffs and residents of Anatomical Pathology Specialist Program of FMUI showed positive response toward CbD formative assessment. CbD formative assessment enabled deeper discussion between the staffs and residents regarding establishing diagnosis. The staffs were able to monitor the residents learning process and giving specific feedback toward the residents. The residents were able to learn about a case in a more comprehensive way, acquiring specific feedback and summative assessment simulation.
Conclusion: CbD formative assessment is useful in the process of acquiring competence in diagnosis in a postgraduate education that uses competence- or outcome-based curricula."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andi Cahaya Tahir
"Pendahuluan: Sirosis hati merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas global, terutama melalui komplikasi hipertensi porta yang menyebabkan perdarahan varises esofagus (VE). Pasien yang pernah mengalami perdarahan pertama memiliki tingkat kejadian perdarahan berulang yang tinggi dengan angka survival yang rendah. Meskipun endoskopi dapat memprediksi perdarahan berulang, pendekatan ini mahal dan bersifat invasif. Oleh karena itu, pemeriksaan non invasif lain dengan tingkat akurasi yang tinggi perlu dipelajari.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prediktor non-invasif perdarahan berulang VE (kekakuan hati, kekakuan limpa, skor Child Pugh, dan jumlah trombosit) pada pasien sirosis hati.
Metode: Sebanyak 102 sampel pasien sirosis hati yang mengalami riwayat perdarahan VE. Variabel prediktor dalam memprediksi kejadian perdarahan berulang varises esofagus pada penelitian ini meliputi kekakuan hati, kekakuan limpa, skor Child Pugh, serta jumlah trombosit. Analisa multivariat dan uji skor dengan validasi internal untuk mendapatkan model performa terbaik sebagai prediktor perdarahan VE berulang.
Hasil: Hasil menunjukkan bahwa kekakuan hati, kekakuan limpa, skor Child Pugh, dan trombositopenia signifikan sebagai prediktor perdarahan berulang VE. Dengan menggabungkan variabel ini, model prediksi dihasilkan dengan AUC 0,870. Diperoleh uji skor dengan validasi bahwa keempat variabel tersebut signifikan sebagai faktor yang berhubungan dengan perdarahan berulang varises esofagus. Kesimpulan: kombinasi kekakuan hati, kekakuan limpa, skor Child Pugh, dan jumlah trombosit memiliki performa baik dalam memprediksi risiko perdarahan varises esofagus berulang pada pasien sirosis hati.

Background: Liver cirrhosis is a global cause of mortality and morbidity, especially through complications of portal hypertension which causes esophageal variceal (VE) bleeding. Patients who have experienced a first bleed have a high rate of recurrent bleeding with a low survival rate. Although endoscopy can predict recurrent bleeding, this approach is expensive and invasive. Therefore, other non- invasive examinations with a high accuracy need to be researched.
Objective: This study aims to identify non-invasive predictors of recurrent VE bleeding (liver stiffness, spleen stiffness, Child Pugh score, and platelet count) in liver cirrhosis patients.
Methods: A total of 102 samples of liver cirrhosis patients who had a history of VE bleeding were included in this study. Predictor variables in predicting the incidence of recurrent esophageal variceal bleeding in this study include liver stiffness, spleen stiffness, Child Pugh score, and platelet count. Multivariate analysis and internal validity test were used to obtain the best performance model as a predictor of recurrent VE bleeding.
Results: The results showed that liver stiffness, spleen stiffness, Child Pugh score, and thrombocytopenia were significant as predictors of recurrent VE bleeding. By combining these variables, a prediction model was generated with an AUC of 0.870. Validity test of these four variables were significant as factors associated with recurrent esophageal variceal bleeding.
Conclusion: The combination of liver stiffness, spleen stiffness, Child Pugh score, and platelet count has good performance in predicting the risk of recurrent esophageal variceal bleeding in patients with liver cirrhosis.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library