Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Natasya Krisnaldi Mahdi
"Latar Belakang: Dimensi vertikal adalah jarak antara 2 tanda anatomis (biasanya 1 titik pada ujung hidung dan titik lainnya pada dagu), dimana 1 titik pada daerah yang tidak bergerak dan titik lainnya pada daerah anatomis yang dapat bergerak. Penetapan dimensi vertikal sangat penting dalam pembuatan gigi tiruan lepas, tidak hanya untuk mendapatkan keadaan oklusi yang harmonis, tetapi juga untuk enyamanan dan estetika pasien. Pada kasus rahang tidak bergigi, hampir tidak mungkin untuk menentukan dimensi vertikal sebagaimana yang bisa dilakukan pada rahang yang bergigi. Oleh karena itu iperlukan metode lain untuk mengukur dimensi vertikal.
Tujuan: Untuk membandingkan dimensi vertikal fisiologis antara metode Physiologic Rest Position dan teori Leonardo da Vinci II.
Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi deskriptif, dengan pengambilan data secara Studi Potong Lintang. Pengukuran dilakukan menggunakan boley gauge, penggaris, jangka dan jangka sorong pada mahasiswa FKG UI yang berusia 18-23 tahun.
Hasil: Nilai rata-rata pengukuran dimensi vertikal fisiologis menggunakan metode Physiologic Rest Position adalah sebesar 62,82, dengan kisaran antara 57,87 sampai 67,78. Sedangkan nilai minimum sebesar 50,90 dan nilai maksimum sebesar 77,06. Nilai rata-rata pengukuran dimensi vertikal fisiologis berdasarkan teori Leonardo da Vinci II adalah 60,38, dengan kisaran antara 56,61 sampai 64,15. Sedangkan nilai minimum sebesar 49,69 dan nilai maksimum sebesar 72,38.
Kesimpulan: Terdapat erbandingan antara pengukuran dimensi vertikal fisiologis nggunakan metode physiologic rest position dan teori Leonardo da Vinci II, namun terdapat perbedaan hasil pengukuran dimensi vertikal fisiologis antara metode physiologic rest position dan teori Leonardo da Vinci II.

Background: Vertical dimension is the distance between 2 selected anatomy (usually one point at the tip of the nose and the other at the chin), one at the fixed and the other at movable member. Determining vertical dimension is important for removable prosthosontic, not only to harmonic occlusion but also for esthetic and to make patient feel comfortable with their denture. In edentulous cases, it is almost impossible to determine vertical dimension as in dentate cases. The other method is needed to determine vertical dimension.
Objective: To compare rest vertical dimension between physiologic rest position method and Leonardo da Vinci II Theory.
Method: This study was a descriptive study using cross sectional study method.This measure was taken from the student in Faculty of Dentistry with the aged between 18-23. The instrument to measure is boley gauge, ruler, and caliper.
Results: The mean of rest vertical dimension using physiologic rest position method is 62,82, with the range between 57,87 until 67,78. The minimum value is 50,90 and the maximum value is 77,06. Meanwhile the mean of rest vertical dimension using Leonardo da Vinci II method is 60,38, with the range between 56,61 until 64,15. The minimum value is 49,69 and the maximum value is 72,38.
Conclusion: There is a comparison between measuring rest vertical dimension using physiologic rest position method and Leonardo da Vinci theory, but there is a different of measurement result in rest vertical mension using physiologic rest position method and Leonardo da Vinci II theory."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Risdayu Agatha Aperira
"Latar Belakang: Dimensi vertikal adalah jarak antara dua titik atau tanda anatomis (biasanya satu pada ujung hidung dan yang lainnya pada dagu), satu pada bagian yang tidak bergerak dan yang lainnya pada bagian yang bergerak dan merupakan faktor vital yang penting dibahas oleh praktisi prostodontik dalam pembuatan gigi tiruan dan implan. Pada kasus rahang tidak bergigi, hampir tidak mungkin memperoleh dimensi vertikal seperti pada kondisi bergigi. Diperlukan metode lain dalam penentuan dimensi vertikal tersebut. Tujuan: Untuk membandingkan dimensi vertikal fisiologis antara metode physiologic rest position dan teori Leonardo da Vinci I.
Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi deskriptif, dengan pengambilan data secara Studi Potong Lintang (Cross Sectional Study) dan analisis statistik yang digunakan adalah uji-t berpasangan (SPSS 13). Pengukuran menggunakan Boley gauge, jangka sorong dan penggaris pada 170 orang mahasiswa/i FKG UI yang berusia 18-23 tahun.
Hasil: Dimensi vertikal fisiologis dengan menggunakan metode physiologic rest position pada titik Subnasion dan Gnathion memiliki rata-rata 62,82 mm, dengan kisaran 57,87 mm sampai 67,78 mm. Dengan nilai minimum 50,90 mm, dan nilai maksimum sebesar 77,06 mm. Sedangkan untuk dimensi vertikal fisiologis dengan menggunakan teori Leonardo da Vinci I yang diukur dari titik vertex dan Subnasion di kalikan angka 4/11 yang diperoleh dari hasil perhitungan matematik, memiliki nilai rata-rata 56,03 mm dengan kisaran 52,41 mm sampai 59,65 mm. Dengan nilai minimum sebesar 48,53 mm, dan nilai maksimum sebesar 65,03 mm. Diperoleh perbandingan selisih diantara kedua nilai ratarata tersebut yaitu 6,793 mm, dengan nilai minimum 5,871 mm dan nilai maksimum 7,714 mm.
Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan, namun diperoleh perbandingan antara kedua teori tersebut.

Background: Vertical Dimension is the distance between two selected anatomic or marked points, (usually one on the tip of the nose and the other is on the chin), one on a fixed and one on a movable member. Vertical dimension is also one of the essential factors for rosthodontic professional to know in making artificial teeth and implant. In edentulous cases, as there are no teeth, it is almost impossible to reproduce vertical dimension as in patient dentate condition. Other methods are needed to measure the vertical dimension in edentulous patient.
Objective: To compare rest vertical dimension between physiologic rest position method and theory of Leonardo da Vinci I.
Method: This study was a descriptive study using cross sectional study method and the statistic analysis used was paired t-test (SPSS 13). The measure was taken from 170 collage student aged between 18-23 years in Faculty of Dentistry, University of Indonesia. Boley gauge, caliper, and rulers were used for the instruments.
Results: The mean of physiologic vertical dimension in physiologic rest position method using two landmark points, Subnasion and Gnathion, is 62.82 mm, with range between 57.87 mm to 67.78 mm. The minimum score is 50.90 mm, and the maximum score is 77.06 mm. Whereas the hysiologic vertical dimension in theory of Leonardo da Vinci I using two landmark point, vertex and Subnasion, multipled with 4/11 which was got in calculation between 2 theory, is 56.03 mm with range between 52.41 mm to 59.65 mm. The minimum score is 48.53 mm, and the maximum is 65.03 mm. The comparation between those two measurement is 6.793 mm, with minimum score 5.871 mm and maximum score 7.714 mm.
Conclusion: There is difference between those two measurements, but the comparation has been aqcuired."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Asha Yanuarini
"Latar Belakang: Dimensi vertikal, didefinisikan secara umum sebagai sepertiga panjang wajah bagian bawah, merupakan salah satu komponen penting dalam perawatan prostodontik sehingga harus ditentukan dengan tepat. Dimensi vertikal, sebagai salah satu tanda anatomis tubuh sangat dipengaruhi oleh proses pertumbuhan. Pertumbuhan adalah suatu proses kompleks yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah sistem hormonal. Sistem hormonal yang berperan besar dalam pertumbuhan adalah hormon pertumbuhan dan hormon seksual. Perbedaan mulai aktifnya hormon seksual pada laki-laki dan perempuan menyebabkan perbedaan kecepatan dan terminasi pertumbuhan.
Tujuan: Diperolehnya panjang dimensi vertikal fisiologis dengan Metode Physiologic Rest Position dan Teori Leonardo da Vinci I serta II pada laki-laki dan perempuan.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, menggunakan Studi Potong Lintang. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah boley gauge¸jangka sorong, jangka, dan penggaris pada 170 orang Mahasiswa FKG UI berusia 18 - 23 tahun.
Hasil: Rentang dan rerata panjang dimensi vertikal fisiologis pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan menggunakan Metode Physiologic Rest Position adalah 63,09 - 72,31 mm, 67,70 mm dan 57,32 - 65,52 mm, 61,42 mm; Teori Leonardo da Vinci I adalah 53,99 - 61,49 mm, 57,74 mm dan 52,10 - 58,98 mm, 55,54 mm; dan Teori Leonardo da Vinci II adalah 59,24 - 67,22 mm, 63,23 mm dan 56,27 - 62,83 mm, 59,56 mm.
Kesimpulan: Rerata panjang dimensi vertikal fisiologis pada laki-laki dan perempuan berdasarkan Metode Physiologic Rest Position adalah 67,70 mm dan 61,42 mm; Teori Leonardo da Vinci I adalah 57,74 mm dan 55,54 mm; dan Teori Leonardo da Vinci II adalah 63,23 mm dan 59,56 mm.

Background: Vertical dimension, generally define as the height of the lower third of the face, is one of the most important components in prosthodontics treatment, therefore it must be determined precisely. Vertical dimension as one of body-s landmark is very influenced by growth. Growth is a complex process that depends on a number of factors, including hormonal system. Hormonal system that has a huge role in growth is growth hormone and sex hormone. The difference in the starting time of the sex hormone-s activ ation on male and female is causing a differentiation in the speed and the termination of growth.
Objective: To get the length of rest vertical dimension using Physiologic Rest Position Method and Theory of Leonardo da Vinci I and II on male and female subjects.
Method: This was a descriptive study using cross sectional study. The instruments that used at 170 student of Dentistry Faculty University of Indonesia aged 18-23 are boley gauge, caliper, and ruler.
Result: Range and mean of the length of rest vertical dimension on male and female subjects using Physiologic Rest Position Method are 63,09 - 72,31 mm, 67,70 mm and 57,32 - 65,52 mm, 61,42 mm; Theory of Leonardo da Vinci I are 53,99 - 61,49 mm, 57,74 mm and 52,10 - 58,98 mm, 55,54 mm; and Theory of Leonardo da Vinci II are 59,24 - 67,22 mm, 63,23 mm and 56,27 - 62,83 mm, 59,56 mm.
Conclusion: Mean of the length of rest vertical dimension on male and female subjects using Physiologic Rest Position Method are 67,70 mm and 61,42 mm; Theory of Leonardo da Vinci I are 57,74 mm and 55,54 mm; and Theory of Leonardo da Vinci II are 63,23 mm and 59,56 mm."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
R. A. Farradila Rizky Paramita Iskandar
"Latar Belakang: Ekspresi penuh dari preskripsi torque bracket dipengaruhi oleh faktor yang berkaitan dengan bracket, kawat, torque play, dan faktor klinis. Hingga saat ini belum ada penelitian yang membandingkan kemampuan ekspresi torque antara berbagai ukuran kawat pada penggunaan bracket passive self-ligating (PSL) dan konvensional melalui simulasi finite element, serta menganalisis interaksi dari faktor-faktor tersebut, sekaligus memberikan gambaran pergerakan gigi dan respon jaringan periodontal. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur besar torque play dan menganalisis pola perpindahan inisial gigi, serta distribusi stress antara berbagai ukuran kawat pada penggunaan bracket PSL dan konvensional melalui simulasi finite element.
Metode: Model 3D dikonstruksi dengan skenario kasus yang membutuhkan pencabutan premolar pertama dan retraksi masse gigi anterior maksila, menggunakan penjangkaran temporary anchorage device dan gaya retraksi 150 g. Simulasi finite element dilakukan untuk mengukur torque play antara penggunaan kawat stainless steel 0.016 x 0.022", 0.017 x 0.025" dan 0.019 x 0.025", serta mengukur perpindahan inisial pada tepi insisal dan apeks akar insisif sentral maksila, serta distribusi stress pada PDL dan tulang alveolar antara penggunaan ketiga ukuran kawat pada kedua jenis bracket.
Hasil: Pada penggunaan kawat 0.019 x 0.025", 0.017 x 0.025", dan 0.016 x 0.022" didapatkan torque play sebesar 7.6º, 11.6º, dan 18.7º untuk bracket PSL, dan 9.5º, 14º, dan 18º untuk bracket konvensional. Retraksi dan ekstrusi tepi insisal terbesar dihasilkan oleh kawat 0.016 x 0.022", sedangkan perpindahan palatal dari apeks terbesar dihasilkan oleh kawat 0.019 x 0.025". Konsentrasi stress terbesar terletak pada area 1/3 servikal pada sisi palatal dan 1/3 apikal pada sisi labial, yang menunjukkan pola perpindahan uprighting atau lingual crown tipping. Penggunaan kawat dengan diameter terbesar dan bracket konvensional menghasilkan stress terbesar pula.
Kesimpulan: Torque play antara kawat dan bracket berbanding terbalik dengan ukuran kawat. Besarnya lingual crown tipping berbanding lurus terhadap torque play antara kawat dan bracket, dan dikonfirmasi oleh pola distribusi stress di PDL dan tulang alveolar. Kendali torque yang paling baik didapatkan oleh penggunaan kawat stainless steel 0.019 x 0.025". Perbedaan metode ligasi dan geometri bracket konvensional dan PSL kemungkinan menyebabkan adanya perbedaan besar moment yang dihasilkan.

Introduction: The full expression of torque prescription of a bracket is influenced by bracket-related factors, wire-related factors, torque play and clinical factors. Finite element analysis (FEA) could be utilized to deepen our understanding and study the interaction between these factors, as well as to produce a simulation of the predicted tooth movement and tissue response. This study aims to measure the amount of torque play, and to analyse the pattern of initial tooth displacement, among different wire sizes and between passive self-ligating and conventional brackets using FEA.
Methods: A 3D model was constructed simulating a case which required first premolar extractions and en masse anterior retraction using temporary anchorage device and 150 g of retraction force on each side. Finite element simulation was performed to measure torque play, to investigate the pattern of initial tooth displacement at the incisal tip and of apex of the central maxillary incisor, as well as to analyse the pattern of stress distribution at the periodontal ligament (PDL) and alveolar bone, among different stainless steel wire diameters (0.016 x 0.022", 0.017 x 0.025" and 0.019 x 0.025") and between PSL and conventional brackets.
Results: The use of 0.019 x 0.025", 0.017 x 0.025", and 0.016 x 0.022" wires on PSL brackets produced a torque play of 7.6º, 11.6º, and 18.7º, respectively. While the use of the same wire sizes on conventional brackets produced a play of 9.5º, 14º, dan 18º, respectively. The use of 0.016 x 0.022 produced the farthest retraction and extrusion of the incisal tip. However, the greatest apex retraction was produced when 0.019 x 0.025" was used. The largest stress concentration was observed at the 1/3 cervical area on the palatal side and at the 1/3 apical area on the labial side. This shows that there is a pattern of uprighting or lingual crown tipping of the teeth. The use of 0.019 x 0.025" and conventional brackets yielded the greatest amount of stress on the PDL and alveolar bone.
Conclusion: The degree of torque play between wire and bracket was inversely proportional to the wire size, and the amount of lingual crown tipping was directly proportional to the degree of play. This pattern of tooth movement was confirmed by the pattern of stress distribution on the PDL and alveolar bone. Torque expression was better achieved using the 0.019 x 0.025" wire. Differences in the geometry and method of ligation between PSL and conventional brackets possibly generated different force magnitudes.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irma Aryani
"Braket merupakan salah satu komponen perawatan ortodonti cekat yang paling lama berada di dalam mulut. Braket stainless steel merupakan salah satu jenis braket yang paling seringdigunakan, dikarenakan komponen mekanisnya yang baik, ekonomis dan relatif tahan terhadap korosi.Namun, tingkat ketahanan korosi brakets tainless steel bervariasi.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui danm embandingkan tingkat ketahanan korosi beberapa braket stainless steel yang beredar di Indonesia ditinjau dari lepasan ion Cr dan Ni di dalam saliva buatan.Sampel yang digunakan terdiri dari 5 kelompok merk braket stainless steel yang masing masing berjumlah 16 buah braket premolar rahang atas slot .022 sistem edgewise standar. Pada tiap kelompok jumlah sampel dibagi dua untuk diuji jumlah ion Ni dan Cr tanpa perendaman di dalam saliva buatan dan sebagian diuji lepasan ion Ni dan Cr setelah perendaman di dalam saliva buatan selama 30 hari. Tingkat ketahanan braket dihitung berdasarkan perbandingan jumlah ion Ni dan Cr yang terlepas di dalam saliva buatan terhadap jumlah awal pada braket yang tidak direndam menggunakan alat ICP-MS. Diperoleh hasil adanya perbedaan yang bermakna pada tingkatk etahanan korosi antar kelompok yang ditinjau dari lepasan ion Ni dan Cr.

Orthodontic Bracketis thelongestcomponent of fix appliance which stayed in oral cavity. Stainless steel bracket is one of the popular fix orthodontic appliance and have been used most frequently for fixed orthodontic treatment because of its favorable mechanical properties, economic value and relatively resistant to corrosion. However, the level of corrosion resistance of stainless steel bracket varied. The purpose of this study was to determine and compare level of corrosion resistance of different brands stainless steel brackets in Indonesia based on Ni and Cr release in artificial Saliva.This study used 80 samples of single maxillary premolar brackets slot .022 standard edgewise system, consisted of 5 groups of brands stainless steel brackets. In each group there are 16 samples divided in 2 subgroup, first sub-groupwithout immersion in artificial saliva, and second subgroup were maintained in artificial saliva immersion and stored at 37⁰ for 30 days. The release of Ni and Cr analyses was quantified by inductively coupled plasma mass spectrometry (ICP-MS). The corrosion resistance is calculated by comparing the number of ions Cr and Ni that release in artificial saliva on the initial number in brakets without immersion. The result shows a significant difference in the level of corrosion resistance between groups based on Ni and Cr release. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2012
T30894
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Anggia Tridianti
"Pendahuluan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jumlah bakteri pada molar band pasca fitting band setelah sterilisasi dry heat oven dan steam autoclave yang sebelumnya telah dilakukan pre-sterilisasi alkohol dan ultrasonic cleaning bath.
Material dan metode : Empat molar band yang telah melalui proses fitting band pada pasien, dua band yang sebelumnya telah dilakukan pre-sterilisasi alkohol, satu band disterilkan dengan dry heat oven dan satu band dengan steam autoclave. Dua band berikutnya dilakukan pre-sterilisasi ultrasonic cleaning bath, masing-masing dilanjutkan dengan sterilisasi dry heat oven dan steam autoclave. Molar band dimasukkan ke dalam phosphatebuffered saline, dengan micropipette cairan diambil dan dituangkan ke cawan petri yang berisi Brain Heart Infusion. Kemudian dimasukkan ke dalam inkubator selama 24 jam dan dihitung jumlah bakterinya.
Hasil : Terdapat perbedaan jumlah bakteri yang bermakna antara beberapa kelompok metode sterilisasi dan terdapat satu kelompok dengan perbedaan tidak bermakna, yaitu kelompok alkohol-steam autoclave dengan ultrasonic cleaning bath-steam autoclave.
Kesimpulan : Hasil penelitian menunjukkan bahwa steam autoclave merupakan metode sterilisasi yang terbaik karena memberikan hasil dengan jumlah bakteri yang paling minimal pada molar band yang telah melalui proses fitting band.

Introduction : This research objective is to determine the amount of bacteria in molar band post fitting band in patients, after undergone pre-sterilization by alcohol and ultrasonic cleaning bath followed with sterilization by dry heat oven and steam autoclave.
Material and methods : Four molar bands which already fitted to patients then divided into two groups. The first group of two bands were pre-sterilized by alcohol. One of the band was, then, sterilized by dry heat oven. And, the other band was sterilized by steam autoclave. The second group of two bands were pre-sterilized by ultrasonic cleaning bath. One of the band was then sterilized by dry heat oven and the other was sterilized by steam autoclave. The next step was to immerse all of the bands in phosphate-buffered saline solution. With micropipette, the solution was retrieved and dropped upon a petri dish containing brain heart infusion. The dish was then stored in an incubator for 24 hours prior to account the number of bacteria available.
Result : There is a profound difference in numbers of bacteria between methods of sterilization. And, there is a non significant difference between two groups which are alcoholsteam autoclave group and ultrasonic cleaning bath-steam autoclave.
Conclusion : The result pf research reveals that steam autoclave is the best method of sterilization which has the minimal amount of bacteria in post fitted molar band.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2012
T30896
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Vania Prima Amelinda
"ABSTRAK
Abstrak Berbahasa Indonesia/Berbahasa Lain (Selain Bahasa Inggris):
Pendahuluan: Kalsifikasi sella turcica (sella turcica bridge) dan kalsifikasi tulang atlas (ponticulus posticus) dapat digunakan untuk memprediksi terjadinya impaksi kaninus di palatal dan hipodonsia. Hal ini dapat terjadi karena sella turcica, tulang skeletal kepala dan leher, serta sel epitel dental memiliki keterlibatan gen dan berasal dari sel embriologi yang sama.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara sella turcica bridge dengan ponticulus posticus serta hubungan kedua struktur anatomi tersebut dengan impaksi kaninus di palatal dan hipodonsia.
Metode: Penelitian dilakukan secara potong lintang, dengan subjek sejumlah 51 foto sefalometri lateral pasien dari ras Deutro Malayid. Usia subjek diatas 14 tahun yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu 17 foto sefalometri pada kelompok impaksi kaninus, 17 foto sefalometri pada kelompok hipodonsia dibandingkan dengan 17 foto sefalometri pada kelompok kontrol. Setiap foto sefalometri lateral dilihat klasifikasi sella turcica bridge dan ponticulus posticus (tidak ada kalsifikasi, kalsifikasi parsial, dan kalsifikasi lengkap). Hubungan antara sella turcica bridge dan ponticulus posticus dengan kelompok impaksi dan hipodonsia, serta antara sella turcica bridge dengan ponticulus posticus dianalisis dengan menggunakan uji independent chi square dan uji korelasi Kendall.
Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara sella turcica bridge dengan impaksi kaninus dan hipodonsia, serta antara ponticulus posticus dengan impaksi dan hipodonsia masing-masing, dengan kekuatan korelasi sedang, namun tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sella turcica bridge dengan ponticulus posticus.
Kesimpulan: Sella turcica bridge dan ponticulus posticus banyak ditemukan pada pasien dengan impaksi kaninus di palatal dan hipodonsia, sehingga adanya sella turcica bridge dan ponticulus posticus yang sudah terbentuk sejak awal dapat menjadi penanda adanya kemungkinan impaksi dan hipodonsia.

ABSTRACT
Introduction: Calcification of sella turcica known as sella turcica bridge and calcification of atlas vertebra known as ponticulus posticus might predict the occurance of palatally impacted canine and hypodontia. This might occur due to sella turcica, neck and shoulder skeletal development and dental epithelial cells share a common gene and embryologic origin. The purpose of this study was to investigate the association of sella turcica bridge and ponticulus posticus with palatally impacted canine and hypodontia and the association between sella turcica bridge and ponticulus posticus.
Methods: This cross sectional study was performed using lateral cephalogram of 51 Deutro malayid patients, age above 14, and devided into 3 groups. First group consist of 17 cephalograms palatally impacted canine patient, second group consist of 17 cephalograms hypodontia patient, compared with 17 cephalograms control patient. The type of sella turcica bridge and ponticulus posticus (no calcification, partial calcification and complete calcification) were evaluated on every lateral cephalogram. The association between sella turcica bridge with palatally impacted canine and hypodontia, ponticulus posticus with palatally impacted canine and hypodontia and the association between sella turcica bridge with ponticulus posticus was analyzed using independent Chi-Square and Kendall correlation.
Results: The calcification of sella turcica bridge and ponticulus posticus in palatally impacted canine and hypodontia patient is increased when compared to control patient. There is a significant association between sella turcica bridge with palatally impacted canine and hypodontia, ponticulus posticus with palatally impacted canine and hypodontia but there is no significant association between sella turcica bridge with ponticulus posticus.
Conclusion: Calcification of sella turcica bridge and ponticulus posticus is frequently found in patients with palatally impacted canine and hypodontia. The very early appearance during development of sella turcica bridge and ponticulus posticus should alert clinicians to possible impacted canine and hypodontia in life later.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
William Suryajaya
"Perkembangan teknologi memungkinkan untuk pembuatan model studi secara digital menggunakan intraoral scanner. Data dari model studi ini kemudian bisa dicetak menggunakan mesin cetak 3 Dimensi. Tesis ini membahas akurasi ukuran linier gigi khususnya lebar mesio-distal, interkaninus, intermolar serta Analisis Bolton model studi digital hasil pindaian intraoral scanner Trios, dan model studi resin hasil cetakan printer 3D Formlabs 2 dengan model studi plaster hasil pengecoran bahan cetak alginat dengan dental stone tipe II sebagai pembanding. Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan desain potong lintang. Data pengukuran antar model studi dianalisa secara statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar komponen pengukuran linier dan analisa Bolton model studi digital dan model studi resin tidak berbeda secara signifikan secara statistik. Jika terdapat perbedaan secara statistik, perbedaan ini tidak signifikan secara klinis karena perbedaannya tidak lebih dari 1,1 mm. Model studi digital hasil pindaian intraoral scanner Trios dan resin hasil cetakan printer 3D Formlabs 2 cukup akurat untuk keperluan diagnosa dan penentuan rencana perawatan jika dibandingkan dengan model studi plaster hasil pengecoran bahan cetak alginat dengan dental stone tipe 2.

In the advent of digital technology, it is possible to create digital dental model using intraoral scanner. The stereolithographic data collected from the scanner, subsequently, can be printed into 3-Dimensional dental model in resin material. This study aims to evaluate the accuracy of digital model scanned by Trios intraoral scanner and 3-Dimensional dental model printed from Formlabs 2 printer in linear measurements and Bolton analysis compared to plaster dental model obtained by pouring alginate impression with type II dental stone. This is a cross-sectional observational analytical study. The data were collected by measuring each type of the dental models. The result of this study shows that most of the linear measurements and Bolton analysis components analyzed in this study were not significantly different. Significant difference on some components are rendered clinically insignificant. Hence, the results of this study suggests that digital dental model and 3-Dimensional printed dental model may be used interchangeably in comparison to plaster dental model for diagnostic and treatment planning purpose."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Arief Johanes Halim
"Latar Belakang: Dalam perawatan ortodonti, rasa nyeri merupakan salah satu hal yang mengurangi kenyamanan pasien. Rasa nyeri disebabkan karena gaya ortodonti yang diaplikasikan pada gigi oleh alat ortodonti cekat. Persepsi nyeri pasien dapat diketahui menggunakan pain assessment analysis yaitu visual analog scale (VAS), numerical rating scale (NRS) dan verbal rating scale (VRS). Diketahui bahwa VAS merupakan metode analisis rasa nyeri yang paling terpercaya. Perawatan ortodonti pada pasien menggunakan beberapa jenis bracket yaitu pre-adjusted bracket yang metode ligasinya menggunakan modul elastomer dan self-ligating bracket yang metode ligasinya menggunakan pintu pada braces. Self-ligating ini dibagi menjadi dua jenis yaitu active self-ligating dan passive self-ligating. Perkembangan Passive Self-Ligating bracket memberikan gaya dan friksi yang lebih ringan sehingga diperkirakan bahwa perawatan dengan dengan menggunakan bracket jenis ini dapat mengurangi rasa nyeri. Salah satu biomarker rasa nyeri pada perawatan gigi ortodonti adalah neuropeptida calcitonin gene-related peptide. Konsentrasi neuropeptida CGRP akan meningkat pada daerah inflamasi yang disebabkan oeh gaya ortodonti.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara persepsi nyeri pasien dengan konsentrasi neuropeptida CGRP pada fase aligning awal perawatan ortodonti menggunakan pre-adjusted edgewise (PE) bracket dan sistem passive self-ligating (PSL) bracket.
Metode: Total sampel 15 orang dibagi menjadi 3 kelompok (kelompok kontrol, kelompok percobaan braket passive self-ligating dan kelompok braket pre-adjusted. Untuk sampel CGRP diambil dari GCF pada interdental 6 gigi anterior bawah dengan waktu pengambilan sampel: sebelum pemasangan braket kemudian 2 jam, 24 jam dan 1 minggu setelah pemasangan archwire. Konsentrasi CGRP diukur menggunakan ELISa. Nilai persepsi nyeri dinilai dari hasil pengisian VAS.
Hasil: Hasil dari penelitian ini menunjukan pada kelompok braket PE terdapat perbedaan signifikan nilai rerata skor VAS antara T0-T1, T0-T2, T1-T2 dan T2-T3. Sedangkan pada kelompok braket PSL terdapat perbedaan signifikan nilai rerata skor VAS antara T0-T2 dan T2-T3. Terdapat perbedaan bermakna rerata skor VAS di T2 antara kelompok braket PE dan PSL. Tidak terdapat perbedaan konsentrasi CGRP antara kelompok pasien yang menggunakan braket PE dan PSL pada tiap waktu pengamatan. Tidak terdapat perbedaan konsentrasi CGRP antara kelompok pasien yang menggunakan braket PE, PSL dan kontrol sebelum pemasangan archwire pada tiap kelompok waktu pengamatan. Terdapat korelasi positif antara persepsi nyeri dan konsentrasi CGRP namun tidak berbeda bermakna.

Background: Orthodontic tooth movement takes place after applied force on the tooth stimulates inflammation and remodeling of the alveolar bone. Friction in Passive Self-Ligating (PSL) bracket is lower than Preadjusted Edgewise (PE) bracket, therefore it is assumed that pain resulted from PSL is lower than PE bracket. One of the neuropeptides that can be used as pain biomarkers in orthodontic tooth movement is calcitonin gene-related peptide (CGRP). Pain perception can be subjectively evaluated using Visual Analog Scale (VAS).
Objective: This study aims to analyze pain perception by using VAS, CGRP level in patients isolated from GCF, and the correlation between VAS score, and CGRP level.
Method: 15 patients were included in the study (passive self-ligating group, pre-adjusted group and control group). The GCF was collected from six lower anterior teeth interproximal sites before bracket insertion, 2 hours after lower archwire engagement, 24 hours after lower archwire engagement, and 1 week after lower archwire engagement. Pain perception is recorded using VAS. CGRP concentration was analyzed using enzyme-linked immunosorbent assay.
Result: VAS score on PE and PSL group increased from 2 hours, peaked on 24 hours and returned to baseline on 168 hours with PE group were higher compared with PSL and the highest score was on 24 hour time point. CGRP concentration was highest on 24 hours compared with other time point.
Conclusion: These result show that VAS score and CGRP concentration increased during initial orthodontic tooth aligment using a self-ligating and preadjusted bracket system. Pain perception and CGRP concentration have positive weak correlation.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dinda Laras Chitadianti
"

Tujuan: (1) Untuk menganalisis persepsi nyeri, (2) untuk mengevaluasi konsentrasi substance P, dan (3) untuk mengetahui hubungan antara persepsi nyeri dan konsentrasi substance P selama fase aligning awal perawatan ortodonti cekat yang menggunakan sistem preadjusted edgewise (PE) bracket dan sistem passive self-ligating (PSL) bracket. Metode penelitian: Lima belas pasien (6 laki-laki, 9 perempuan; rerata usia 24,47 ± 4,26 tahun) yang menjadi subjek penelitian dibagi ke dalam tiga kelompok: pasien yang dirawat dengan sistem preadjusted edgewise, pasien yang dirawat dengan sistem passive self-ligating (PSL), dan pasien yang tidak menerima perawatan atau kelompok kontrol. Penilaian persepsi nyeri dan pengambilan cairan sulkus gingiva dilakukan pada empat waktu: sebelum pemasangan bracket dan archwire, serta 2, 24, dan 168 jam setelah pemasangan archwire. Cairan sulkus gingiva diambil dari sulkus gingiva bagian interproksimal dari gigi-geligi anterior bawah. Persepsi nyeri diukur dengan menggunakan skala analog visual. Konsentrasi substance P ditentukan dengan menggunakan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil: Skor VAS tertinggi pada masing-masing kelompok didapati pada waktu 24 jam pasca pemasangan bracket dan archwire. Rerata skor VAS pada kelompok preadjusted edgewise ebih seringgi dibandingkan kelompok PSL pada masing-masing waktu, tetapi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Konsentrasi substance P tertinggi diamati pada 2 jam dan 24 jam pasca pemberian gaya pada kedua kelompok sistem bracket, tetapi perbedaan tersebut tidak signifikan bila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Konsentrasi substance P pada kelompok kontrol relatif stabil, kecuali pada waktu 2 jam. Tidak terdapat hubungan antara persepsi nyeri dan konsentrasi substance P. Kesimpulan: Persepsi nyeri dan konsentrasi substance P tidak dipengaruhi oleh sistem bracket. Tidak terdapat hubungan antara persepsi nyeri dan konsentrasi substance P antara kelompok preadjusted edgewise dan PSL.

Kata kunci: Fase aligning; perawatan ortodonti; persepsi nyeri, substance P

 


Objectives: (1) To study patient pain perception, (2) to evaluate substance P concentrations, and (3) to find a possible correlation between pain perception and substance P concentrations during initial orthodontic tooth alignment using preadjusted edgewise and self-ligating bracket (SLBs) systems. Methods: Fifteen patients (6 males, 9 females; mean age of 24.47 ± 4.26 years) were enrolled in the study and were divided into three groups: those given preadjusted edgewise brackets, those given passive SLBs, and those given no orthodontic treatment to serve as a control group. Pain assessment and gingival crevicular fluid (GCF) sampling were performed at four time points: before bracket placement and arch-wire engagement and then 2, 24, and 168 hours (h) after arch-wire engagement. GCF was collected from the interproximal gingival sulcus of each lower anterior tooth. Pain perception was recorded with the use of a visual analog scale (VAS). Substance P concentrations were determined by using enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Results: The highest VAS score for each group was found at 24 h following bracket placement and arch-wire engagement. The mean VAS in the preadjusted edgewise group was higher than the VAS score in the SLB group at each time point, but were not significantly different at any time point. The highest substance P concentrations were found at 2 h and 24 h after force application in both the preadjusted edgewise and SLB group, but none of these time points showed statistically significant differences between the experimental and control groups. The substance P concentration in the control group was relatively stable, except at 2 h. No correlation was found between pain perception and substance P concentrations. Conclusions: Pain perception and substance P concentrations were not significantly different between the different bracket systems. No correlation was found between pain perception and substance P concentrations in the use preadjusted edgewise and SLB systems.

Keywords: Orthodontic tooth alignment; pain perception; substance P

 

 

"
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>