Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 26 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
cover
"Pemikiran Taufiq Kiemas, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia, nasionalisme Indonesia; opini publik"
Jakarta: Q-Communication, 2011
320.540 9598 EMP
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Gde Ngurah Irfan Bhaskara
"

Pendahuluan: Fibrilasi atrium (FA) adalah tipe aritmia yang paling sering ditemukan. Selama berjalannya waktu, FA telah menunjukan peningkatan dalam prevalensi dan insidens. Namun angka mortalitas tersebut lebih terkait dengan komplikasinya, yaitu gagal jantung dan stroke. Untuk itu, pencegahan komplikasi FA, terutama stroke, dalam bentuk terapi antikoagulan oral (TAK), adalah sama pentingnya dengan pengobatan FA lainnya seperti kendali laju dan kendali irama. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik klinik pasien FA dan pola penggunaan TAK di RSCM.

Metode: Data dari rekam medis dikumpulkan dan dianalisis menggunakan aplikasi SPSS. Karakteristik klinik pasien FA akan disediakan dalam bentuk frekuensi, dan rata-rata.

Hasil: Rata-rata umur pasien FA di RSCM adalah 56.37±14.69 tahun dan distribusi jenis kelamin hampir seimbang. Pasien FA yang overweight dan obese ada 23 (45.1%) secara total. Klasifikasi FA paling sering adalah FA persistent (37.3%). Tipe FA yang paling sering ditemukan adalah FA non-valvular (64.7%). Gejala tersering ditemukan adalah sesak nafas (56.9%). Penyakit jantung coroner (PJK) adaalah komorbiditas tersering (39.2%), sedikit lebih tinggi dari hipertensi (37.3%) di populasi pasien FA di RSCM. Komplikasi FA tersering adalah gagal jantung (60.8%). Strategi kendali laju paling sering digunakan (94.1%) untuk pasien FA di RSCM. Kebanyakan pasien FA di RSCM memiliki skor CHA2DS2VASc ≥2 (82.4%). Warfarin paling sering digunakan (84.3%) sebagai TAK untuk pasien FA di RSCM.

Kesimpulan: Hasil dari studi ini memiliki perbedaan dan kesamaan dengan negara Asia lainnya dalam distribusi variabel. Pola penggunaan TAK berada diluar ekpektasi, mungkin dikarenakan harga yang mahal dalam meresepkan NOAC

 


Introduction: Atrial fibrillation (AF) is the most common type of arrythmia which has shown increasing prevalence and incidence throughout the years. However, the mortality of AF cases is related to its complication which are stroke and heart failure. Therefore, in the attempt to prevent complication of AF, particularly stroke, anticoagulant treatment, which has developed by time, is considered when encountering AF cases just as importantly as the rate control and rhythm control management of AF. This study aims to provide the clinical characteristics of patients with AF and the pattern of anticoagulant therapy in RSCM.

Methods: Data from medical records from RSCM were collected and were analyzed using SPSS, where the frequency and mean or median of the variables were explored where appropriate.

Results: The average age of AF patients in RSCM was 56.37±14.69 years old with an almost equal distribution of gender. AF patients who were overweight and obese was 23 (45.1%) in total. The most common classification of AF was persistent AF (37.3%). Non-valvular AF was the most common type of AF (64.7%). The most common symptom in the population was dyspnea (56.9%). Coronary artery disease was the most frequent comorbidity (39.2%), slightly higher than hypertension (37.3%). The most frequent complication found was heart failure (60.8%). Rate control was mostly used (94.1%). Most AF patients in RSCM had CHA2DS2VASc score ≥2 (82.4%). Vitamin K Antagonists (VKA) was mostly used (84.3%) as oral anticoagulant of choice in RSCM.

Conclusion: This study had differences and similarities with studies from other Asian countries. The pattern of oral anticoagulant treatment was commonly VKA, which is unexpected, might be due to high cost in prescribing NOAC.

 

"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sahira Hanifah
"Latar Belakang: Gagal jantung merupakan salah satu penyebab kematian utama di Indonesia. Jantung dan ginjal berhubungan dengan erat yang dapat dijelaskan oleh sindrom kardiorenal. Saat ini, ada kekurangan data di rumah sakit tersier di Indonesia mengenai hubungan Ejection Fraction (EF) dengan fungsi ginjal. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional yang mengikutsertakan pasien gagal jantung di RSUP Dr. Cipto Mangunkusomo tahun 2018 – 2020 sebagai populasi sasaran. Uji Chi-squared digunakan untuk menganalisis korelasi antar variabel. Izin etik diperoleh karena penelitian ini menggunakan manusia sebagai subjeknya. Hasil: Sebanyak 158 subjek diikutsertakan dalam penelitian ini setelah menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi. Terdapat 37 (36,6%) pasien HF pada kelompok HFrEF yang memiliki eGFR stadium 3, 4, atau 5. Sedangkan di kelompok HFmrEF atau HFpEF, terdapat 29 (50,9%) dengan eGFR stadium 3, 4 , atau 5 (p-value = 0,115, RR = 0,72). Pasien gagal jantung dengan eGFR stadium 3, 4, atau 5 (n = 8;12,1%) dan eGFR stadium 1 atau 2 (n = 4; 4,3%) termasuk dalam kelompok NYHA kelas III atau IV (p-value = 0,125, RR = 2,79). Kesimpulan: Tidak ada perbedaan proporsi pasien HFrEF dengan HFpEF untuk memiliki eGFR stadium 3, 4, atau 5 serta proporsi pasien HF yang eGFR stadium 3,4 atau 5 dengan eGFR stadium 1 atau 2 untuk dimasukkan pada kelompok NYHA kelas III atau IV.

Background: Heart failure is considered one of leading cause of death In Indonesia. The heart and kidneys are tightly related which can be explained by the cardiorenal syndrome. There is a paucity of current data in a tertiary hospital in Indonesia regarding the association of Ejection Fraction (EF) with kidney function. Method: This is a cross-sectional study that includes heart failure patients in Dr. Cipto Mangunkusomo Hospital year 2018 – 2020 as the target population. The Chi-squared test is used to analyse the association between the variables. Ethical permission was obtained since this research used humans as the subject. Results: A total of 158 subjects were included in this study after applying the inclusion and exclusion criteria. There were 37 (36,6%) HF patients in the HFrEF group had eGFR stage 3, 4, or 5. Meanwhile, among HFmreEF or HFpEF group, there were 29 (50,9%) with eGFR stage 3, 4, or 5 (p-value = 0,115, RR = 0,72). HF patients in both eGFR stage 3, 4, or 5 (n = 8;12,1%) and eGFR stage 1 or 2 (n = 4; 4,3%) were included in the NYHA class III or IV group (p-value = 0,125, RR = 2,79). Conclusion: There are no differences in the proportion of HFrEF patients with HFpEF to have eGFR stage 3, 4, or 5 as well as in the proportion of HF patients whose eGFR stages 3,4 or 5 with eGFR stages 1 or 2 to be included in the NYHA class III or IV group. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Dedi Wihanda
"Latar Belakang. Angka kejadian In-Stent Restenosis (ISR) pasca Intervensi Koroner Perkutan (IKP) baik pada penggunaan Bare-Metal Stent (BMS) maupun Drug-Eluting Stent (DES) masih tinggi.
Tujuan. Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan ISR pada pasien pasca IKP.
Metode. Desain penelitian potong lintang retrospektif ini dilakukan dengan menggunakan rekam medik pasien pasca IKP yang menjalani follow-up angiografi di Pelayanan Jantung Terpadu/Rumah Sakit Umum Pusat Negeri Dr. Cipto Mangunkusumo dalam kurun waktu bulan Januari 2009 sd. Maret 2014. Gambaran angiografi ISR bila diameter stenosis pada follow-up angiografi lebih dan sama dengan 50 persen baik di dalam stent maupun menjulur keluar lima mm baik dari ujung proksimal maupun distal stent. Analisis multivariat pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan regresi logistik ganda.
Hasil. 289 subyek penelitian terdiri dari 133 pasien dengan ISR dan 156 pasien tanpa ISR. Angka kejadian ISR pada penggunaan BMS dan DES masing-masing sebesar 61,3% dan 40,7%. Jenis stent (OR=4,83; 95% IK 2,51-9,30; p=0,001), panjang stent (OR=3,71; 95% IK 1,99- 6,90; p=0,001), lesi di bifurkasi (OR=2,43; 95% IK 1,16-5,10; p=0,019), merokok (OR=2,30; 95% IK 1,33-3,99; p=0,003), diameter pembuluh darah (OR=2,18; 95% IK 1,2-3,73; p=0,005), hipertensi (OR=2,16; 95% IK 1,16-4,04; p=0,016) dan Diabetes Melitus/DM (OR=2,14; 95% IK; p=0,007) sebagai faktor prediksi ISR.
Kesimpulan. Jenis stent, panjang stent, lesi di bifurkasi, merokok, diameter pembuluh darah, hipertensi dan DM merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan ISR pada pasien pasca IKP.

Background. The incidence of In-Stent Restenosis (ISR) after Percutaneous Coronary Intervention (PCI) both in the use of Bare-Metal Stent (BMS) and Drug-Eluting Stents (DES) are still high.
Purpose. To determine factors related to ISR in patients after PCI.
Method. A retrospektif cross-sectional study was conducted using medical records of patients after PCI who underwent follow-up of angiography in in the period between January 2009 to March 2014 in The Integrated Cardiac Service/Public Hospital Center Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Angiographic ISR was defined as diameter stenosis ≥ 50% at follow-up angiography in the within of the stent, and within its five mm proximal and distal edges. Multivariate analysis performed in this study using regression multiple logistic.
Results. 289 study subjects consisted of 133 patients with and 156 patients without ISR. The incidence of ISR in the use of BMS and DES, respectively 61,3% and 40,7%. Using multivariate analysis, type of stent (OR=4,83; 95% CI 2,51-9,30; p=0,001), stent length (OR=3,71; 95% CI 1,99- 6,90; p=0,001), bifurcation lesions (OR=2,43; 95% CI 1,16-5,10; p=0,019), smoking (OR=2,30; 95% CI 1,33-3,99; p=0,003), blood vessel diameter (OR=2,18; 95% CI 1,2-3,73; p=0,005), hypertension (OR=2,16; 95% CI 1,16-4,04; p=0,016) and Diabetes Mellitus/DM (OR=2,14; 95% CI; p=0,007) were identified as predictors of ISR.
Conclusion. Type of stent, stent length, bifurcation lesions, smoking, blood vessel diameter, hypertension and DM were factors related to ISR in patients after PCI.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Heru Dento
"Latar belakang: Penyakit kardiovaskular adalah salah satu masalah kesehatan di seluruh dunia, khususnya di negara berkembang. Dengan tingginya kejadian penyakit jantung koroner akan berakibat makin meningkatnya tindakan intervensi di bidang kardiovaskuler untuk mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas pada pasien. Pada akhir dekade ini intervensi koroner perkutan IKP digunakan secara luas untuk menangani penyakit arteri koroner dimana timbulnya restenosis masih menjadi hambatan utama. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa inflamasi lokal dan sistemis mempunyai peranan penting pada terjadinya patogenesis in-stent restenosis ISR. Sejumlah penanda inflamasi telah diajukan untuk memprediksi angka mortalitas baik jangka pendek maupun jangka panjang terhadap sindroma koroner akut SKA, ISR dan trombosis stent, termasuk disini adalah eosinophil cationic protein ECP. Laporan mengenai korelasi antara kadar ECP dengan ISR belum pernah dilaporkan di Indonesia. Metode: Dilakukan studi potong lintang pada pasien jantung koroner yang mengalami ISR pasca dilakukan tindakan IKP yang berobat di unit Pelayanan Jantung Terpadu PJT Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada bulan April-Mei 2018. Pasien yang diketahui mengalami ISR dimasukkan sebagai subyek penelitian dan dilakukan pemeriksaan kadar ECP dengan metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assay Human Eosinophil Cationic Protein ELISA. Analisa data menggunakan Analisa Bivariat dan uji korelasi Spearman. Hasil: Penelitian mendapatkan 32 subyek yang terdiri dari 27 subyek laki-laki 84,4 dan 5 subyek perempuan 15,6. Rerata usia pasien adalah 60,69 tahun dengan simpang baku 10,17. Tidak terdapat korelasi antara kadar ECP dan ISR r=0,099 ; p=0,589. Simpulan: Tidak terdapat korelasi antara kadar ECP dan ISR pada pasien PJK pasca dilakukannya IKP.

Background Cardiovascular disease is one of the major health problems worldwide, especially in developing countries. With the high incidence of coronary heart disease will result in increased interventions in the field of cardiovascular to reduce the level of morbidity and mortality in patients. By the end of this decade percutaneous coronary intervention PCI is widely used to treat coronary artery disease where the onset of restenosis remains a major obstacle. Several studies have shown that local and systemic inflammation plays an important role in the development of in stent restenosis ISR pathogenesis. A number of inflammatory markers have been proposed to predict both short and long term mortality rates for acute coronary syndrome ACS, ISR and stent thrombosis, including here is eosinophil cationic protein ECP. Reports on the correlation between ECP and ISR levels have not been reported in Indonesia. Metods Cross sectional study was performed on coronary heart patients who had ISR after PCI performed treatment at Integrated Heart Service Unit of Cipto Mangunkusumo Hospital in April May 2018. Patients who were known to have ISR were included as research subjects and examined ECP levels by method of Enzyme Linked Immunosorbent Assay Human Eosinophil Cationic Protein ELISA. Data analysis using Bivariate Analysis and Spearman correlation test Result The study obtained 32 subjects consisting of 27 male subjects 84,4 and 5 female subjects 15,6. The average age of the patient is 60,69 years with standar deviation 10,17. There is no correlation between ECP and ISR levels r 0,09 p 0,589. Conclusion There was no correlation between ECP and ISR levels in CHD patients after PCI."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Zulmiyusrini
"Latar Belakang. Fibrilasi atrium (FA) merupakan aritmia yang paling sering terjadi pada orang dewasa dan menyebabkan mortalitas dan morbiditas yang besar di dunia. Terdapat >60% pasien FA memiliki gangguan kualitas hidup yang signifikan. Kualitas hidup merupakan luaran baru yang penting dalam pelayanan kesehatan. Salah satu alat ukur kualitas hidup spesifik untuk pasien FA yang memiliki nilai psikometrik yang baik adalah The Atrial Fibrillation Effect on Quality-of-Life (AFEQT). Kuesioner ini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan digunakan secara luas di negara lain. Karena kuesioner ini belum pernah diterjemahkan dan divalidasi ke dalam bahasa Indonesia, maka penelitian ini bertujuan untuk menguji validasi kuesioner AFEQT ke dalam bahasa Indonesia.
Metode. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan pengambilan subjek penelitian yang memenuhi kriteria, bertempat di poliklinik Pelayanan Jantung Terpadu RSCM dari Desember 2021 hingga Maret 2022. Penelitian diawali dengan proses adaptasi budaya dan bahasa sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan oleh Guillemin dan Beaton. Sebanyak 30 subjek diikutsertakan pada proses adaptasi budaya dan bahasa dan 102 subjek diikutsertakan dalam proses validasi. Proses validasi meliputi uji validitas (validitas konstruk) dan uji reliabilitas (konsistensi internal dan test-retest).
Hasil. Penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh item pertanyaan dalam kuesioner AFEQT bahasa Indonesia memiliki korelasi negatif yang kuat (r >0,6) terhadap domainnya masing-masing (r -0,639–-0,960) dan memiliki korelasi positif dengan seluruh domain SF-36 dengan rentang korelasi lemah hingga kuat (r 0,325–0,740). Pada uji reliabilitas didapatkan konsistensi internal yang baik (Cronbach’s ± untuk skor keseluruhan 0,947, masing-masing domain: Gejala 0,818, Aktivitas Sehari-hari 0,943, Kekhawatiran terhadap Terapi 0,894, dan Kepuasan terhadap Terapi 0,865) dan reliabilitas test-retest yang sedang hingga baik (0,521–0,828).
Kesimpulan. Kuesioner AFEQT bahasa Indonesia memiliki validitas dan reliabilitas yang baik untuk menilai kualitas hidup pasien fibrilasi atrium di Indonesia.

Background. Atrial fibrillation (AF) is the most common arrhythmia in adults and causes great mortality and morbidity worldwide. There are >60% of patients with AF have a significant health related quality of life (HRQoL) impairment. Quality of life is an important new outcome in health services. AFEQT is one of the specific HRQoL questionnaires for AF patients which have good psychometric properties. This questionnaire has been translated into various languages ​​and is widely used in other countries. Since this questionnaire has never been translated and validated into Indonesian, this study aims to test the validity and reliability of the Indonesian version of AFEQT questionnaire.
Method. This cross-sectional study was conducted in Poliklinik Pelayanan Jantung Terpadu RSCM from December 2021 to March 2022. The study began with the translation and adaptation process according to the guidelines by Guillemin and Beaton. A total of 30 subjects were included in pre-testing process and 102 subjects were included in the validation process. The validation process includes validity tests (construct validity) and reliability tests (internal consistency and test-retest).
Results. This study shows that all question items in the Indonesian AFEQT questionnaire have a strong negative correlation (r > 0.6) towards their respective domains (r -0.639–-0.960) and have a positive correlation with all SF-36 domains with a weak to strong correlation (r 0.325–0.740). In the reliability test, there was good internal consistency (Cronbach's for overall score: 0.947, Domains: Symptoms: 0.818, Daily Activities: 0.943, Treatment Concern: 0.894, and Treatment Satisfaction: 0.865) and moderate to good test-retest reliability. (0.521–0.828).
Conclusion. The Indonesian version of AFEQT questionnaire has good validity and reliability to assess the quality of life of atrial fibrillation patients in Indonesia.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Angga Pramudita
"Latar Belakang: Disfungsi diastolik signifikan (derajat 2 dan 3) merupakan komplikasi yang relatif sering ditemukan dan prediktor mortalitas independen pada sindrom koroner akut (SKA). Pemeriksaan ekokardiografi untuk evaluasi disfungsi diastolik tidak selalu dapat dilakukan dan tidak tersedia luas di berbagai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan. Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) lebih luas tersedia dan telah ditunjukkan pada penelitian sebelumnya memiliki nilai diagnostik sebagai skrining disfungsi diastolik pada pasien hipertensi dan penyakit ginjal kronik
Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk menilai apakah parameter EKG waktu puncak gelombang P (PWPT) dan waktu dari puncak hingga akhir gelombang T (Tp-e) dapat digunakan sebagai skrining disfungsi diastolik signifikan pada pasien sindrom koroner akut.
Metode: Data sekunder (ekokardiogram dan EKG yang diperiksakan pada hari yang sama) dari 93 pasien SKA yang dirawat di ruang rawat intensif koroner dari Januari 2020 hingga Januari 2021 dianalisis dalam studi cross-sectional ini. PWPTV1 didefinisikan sebagai waktu dari awal gelombang P hingga mencapai puncaknya (diukur di sandapan V1). Tp-e didefinisikan sebagai waktu dari puncak gelombang T hingga akhir gelombang T (diukur di V5). Peneliti yang menilai EKG tidak mengetahui hasil ekokardiogram (blinding). Parameter EKG dan variabel lain dibandingkan di antara grup SKA dengan dan tanpa disfungsi diastolik signifikan.
Hasil: Terdapat 32,3% pasien SKA dengan disfungsi diastolik signifikan. Durasi PWPTV1 memanjang pada kelompok SKA dengan disfungsi diastolik signifikan (65 vs. 59 miliseconds, p<0.01). PWPTV1 memiliki korelasi dengan indeks volume atrium kiri (LAVI) (r=0,283, p=0,019) and merupakan prediktor independen terhadap disfungsi diastolik signifikan (OR=1,062, p=0,035). Sebaliknya Tp-e tidak didapatkan memilki perbedaan signifikan diantara kedua kelompok dan tidak berkorelasi dengan parameter disfungsi diastolik pada ekokardiografi. Analisis receiver operating characteristics (ROC) PWPTV1 menunjukkan AUC=0,677 (IK 95% 0.557-0,798), p=0,006 dengan titik potong optimal di 63,5 milidetik yang menunjukkan sensitivitas 60% dan spesifisitas 77,8 persen.
Simpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan pemanjangan PWPTV1 memiliki nilai diagnostik yang rendah untuk skrining disfungsi diastolik signifikan pada pasien sindrom koroner akut.

Background: Significant diastolic dysfunction (grade 2 and 3) is a relatively common complication and an independent predictor of mortality in acute coronary syndrome (ACS). Evaluation of diastolic function by echocardiography is not always feasible and accessible throughout all levels of healthcare facilities. Electrocardiogram (ECG) test is more readily available and has been shown in previous studies to have a diagnostic value to screen for diastolic dysfunction in hypertensive and chronic kidney disease (CKD) patients.
Objective: The purpose of this study is to examine whether ECG indices P wave peak time (PWPT) and T wave peak to T wave end (Tp-e) can be used as an aid to screen for significant diastolic dysfunction in patients with acute coronary syndrome.
Methods: Secondary data (echocardiogram and ECG on the same day) of 93 ACS patients admitted to the intensive coronary care unit (ICCU) from January 2020 to January 2021 were analyzed in this cross-sectional study. PWPTV1 was defined as the time from begining of P wave to its peak (meassured in lead V1). Tp-e was defined as the time from begining of T wave peak to its end (meassured preferably in lead V5). ECG evaluator was blinded to the echocardiogram results. ECG indices and other variables were compared between groups of ACS patients with and without significant diastolic dysfunction.
Results: Significant diastolic dysfunction was present in 32,3% of ACS patients. PWPTV1 was significantly prolonged in the significant diastolic dysfunction group (65 vs. 59 miliseconds, p<0.01). PWPTV1 has significant correlation with left atrial volume index (LAVI) (r=0,283, p=0,019) and was found to be an independent predictor of significant diastolic dysfunction (OR=1,062, p=0,035). Tp-e on the other hand showed no difference between the two groups and was not correlated with echocardiography diastolic dysfunction indices. Receiver operating characteristics (ROC) analysis of PWPTV1 showed AUC=0,677 (IK 95% 0.557-0,798), p=0,006 with optimal cut off point of 63,5 miliseconds which showed 60% sensitivity and 77,8% specificity.
Conclusion: In this study prolonged PWPTV1 was shown to have low diagnostic value to screen for significant diastolic dysfunction in ACS patients
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>