Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yeninda Harumsari
"ABSTRACT
Kuesioner penjaringan kesehatan peserta didik sekolah lanjutan sempat mengundang kontroversi karena terdapat gambar organ reproduksi yang mengacu pada teori tanner. SMP YAPIS Bogor merupakan salah satu sekolah yang belum memakai kuesioner ini dalam penjaringan kesehatan remaja. Kuesioner ini dikhawartirkan akan mengundang kontroversi bagi remaja. Persepsi remaja terhadap kuesioner ini belum diketahui. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi remaja terhadap kuesioner penjaringan kesehatan peserta didik sekolah lanjutan di SMP YAPIS BOGOR tahun 2014. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – Mei 2014. Rancangan penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan cara wawancara mendalam.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi seseorang dipengaruhi beberapa faktor antara lain pandangan sosial, pengalaman pemersepsi serta desain kuesioner. Remaja mengganggap kuesioner ini dibutuhkan dan bermanfaat. Manfaat yang dirasakan yaitu remaja akan mengetahui status kesehatannya dan perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatannya. Gambar organ reproduksi pada kuesioner ini dianggap bukan suatu masalah ataupun unsur pornografi. Kuesioner ini dianggap layak untuk disebarkan dan diberikan pada remaja. Dengan demikian, upaya sosialisasi kuesioner pada masyarakat perlu ditingkatkan supaya pemanfaatan kuesioner lebih optimal.

ABSTRACT
Health questionnaire netting school students had invited controversy because there is a picture that refers to the reproductive organs tanner theory. SMP Yapis Bogor is one of the schools that have not been put on this questionnaire in adolescent health crawl. This questionnaire will feared controversy for teens. Adolescent perceptions of the questionnaire is not yet known. The purpose of this study was to determine the perceptions of adolescent health questionnaires networking learners in junior high school Yapis Bogor in 2014. Research was conducted in March-May 2014. Study design was used qualitative methods by in-depth interviews.
The results of this study indicate that a person's perception is influenced by several factors such as social views, experiences and questionnaire design. Teens assume this questionnaire needed and useful. The benefits of this questionnaire were teens will know their health status and their behaviors that can affect their health. Picture of reproductive organs in this questionnaire is not considered a problem or pornographic. The questionnaire was deemed worthy to be distributed and administered in adolescents. Thus, a questionnaire on public dissemination efforts need to be increased so that more optimal utilization of the questionnaire."
2014
S55740
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ichayuen Avianty
"Persentase konsumsi rokok pada remaja usia 10 ? 15 tahun di Kota Depok masih cukup tinggi sampai sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh teman sebaya terhadap perilaku merokok pada siswa sekolah Menengah Pertam (SMP) di Kota Depok Tahun 2016 dengan menggunakan kuesioner penelitian yang diadopsi dari kuesioner Global Adults Tobacco Survey (GATS) tahun 2011. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan jumlah sampel sebesar 300 siswa - siswi SMP kelas VII dan VIII Kota Depok yang memiliki akreditas A, B dan C.
Penelitian ini menemukan nilai OR sebesar 77,5 (95% CI: 10,29 - 548,3) yang artinya: remaja yang memiliki teman sebaya yang merokok akan berisiko sebesar 77,5 kali lebih besar untuk merokok dibandingkan dengan remaja yang tidak memiliki teman sebaya yang tidak merokok. Selain itu diperoleh juga nilai p value sebesar 0,001 yang artinya terdapat hubungan antara pengaruh teman sebaya dengan perilaku merokok pada anak SMP tanpa dikontrol oleh variabel konfonding.
Penelitian ini merekomendasikan untuk melakukan promosi kesehatan yang lebih intensif kepada siswa - siswi tentang dampak serta akibat dari bahaya merokokbagi perokok aktif serta bahaya dan akibat asap rokok bagi perokok pasif.

The percentage cigarette consumption in adolescents the ages of 10-15 years in depok was still quite high until now .This study attempts to identify the effects their peers to behavior smoked on high school students pertam ( smp ) in depok 2016 using a questionnaire research adopted from the questionnaire global adults tobacco survey ( gats ) in 2011. This research using design research cross sectional with the total sample of 300 students of junior high school class vii and viii depok having akreditas a , b and c.
This study found value of 77,5 or ( 95 % ci: 10,29-548,3 ) which means: teenager having their peers that smoking risky of 77,5 times more likely to smoke compared with a teenager who do not have their peers who does not smoke .Besides acquired also value p value of 0,001 which means there are the relationship between the influence of their peers with the behavior smoked on in junior high without controlled by variable konfonding.
This research recommended to do promotion of health a more intensive to the students about the students of the impact on and a result of danger of smoking for active smokers as well as the dangers and as a result of cigarette smoke for passive smokers.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2016
T46067
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rike Triana
"Gangguan jiwa mulai terjadi pada usia 10-29 tahun sebanyak 10-20%. Faktor protektif untuk mencegah terjadinya gangguan jiwa pada remaja adalah harga diri (self-esteem), hubungan keluarga dan dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor protektif: self-esteem, hubungan keluarga dan dukungan sosial dengan kesehatan jiwa remaja. Desain penelitian menggunakan deskriptif korelatif dengan teknik purposive sampling dan jumlah responden sebanyak 452 orang. Data diambil menggunakan lima kuesioner yaitu data demografi, Rossenberg Self-Esteem Scale, Index Family Relation, Child and Adolescent Sosial Support Scale, Mental Health Continuum Short Form.
Hasil penelitian menunjukkan mayoritas remaja SMP memiliki kesehatan jiwa tingkat sedang (moderate). Faktor protektif yang dimiliki remaja diantaranya harga diri tingkat sedang, hubungan baik dalam keluarga serta memperoleh dukungan sosial yang tinggi dari orang tua, guru, teman sekelas dan teman dekat. Remaja kurang mendapatkan dukungan sosial dari sekolah. Faktor protektif: self-esteem, hubungan keluarga dan dukungan sosial (orang tua, guru, teman sekelas, teman dekat dan sekolah) memiliki hubungan bermakna dengan kesehatan jiwa remaja. Penelitian ini diharapkan menjadi dasar dalam pengembangan program promosi kesehatan jiwa remaja dengan meningkatkan faktor protektif: harga diri, hubungan keluarga dan dukungan sosial.

Mental disorders begin to occur at the age of 10-29 years about 10-20 %. Protective factors to prevent mental disorders in adolescents were self-esteem, family relationships and social support. This study aims to determine the relationship of protective factors: self-esteem, family relationships and social support to adolescent mental health. The desain study was descriptive correlative and sample using purposive sampling technique with 452 people. Data were collected by five questionnaires: demographic data, Rossenberg Self-Esteem Scale, Family Relation Index, Child and Adolescent Social Support Scale, Mental Health Continuum Short Form.
The results showed that the majority of junior high school adolescents have moderate mental health. Protective factors of adolescents include moderate self-esteem, good relationships in the family and high social support from parents, teachers, classmates and close friends. Adolescents got less social support from school. Protective factors: self-esteem, family relationships and social support (parents, teachers, classmates, close friends and school) have a meaningful relationship with adolescent mental health. This research is expected for basic the development of youth mental health promotion program by increasing the protective factors: self esteem, family relationship and social support.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Septy Zahrawi Kirana
"Posyandu merupakan sebuah upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) yang didirikan sebagai bagian dari strategi pelayanan kesehatan primer yang bertujuan untuk memajukan kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan keaktifan Posyandu aktif di Jakarta Barat tahun 2022, yaitu faktor kader (pendidikan dan insentif), faktor Puskesmas (pendampingan tenaga kesehatan dan pembinaan), faktor masyarakat (pekerjaan ibu dan partisipasi masyarakat) dan faktor pemangku kepentingan (aparat kelurahan dan kelompok sosial). Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan purposive case study di Kecamatan terpilih dan menggunakan data kualitatif yang diperoleh dari focus group discussion (FGD) dan wawancara mendalam serta telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara faktor kader, faktor pekerjaan ibu, pembinaan aparat kelurahan dengan keaktifan Posyandu dan terdapat hubungan antara faktor Puskesmas, faktor partisipasi masyarakat, dukungan kelompok sosial dengan keaktifan Posyandu. Keaktifan Posyandu berdasarkan data Komdat Kemenkes belum  menggambarkan kondisi riil di lapangan, terutama terkait jumlah kader. Pelaksanaan Posyandu di Jakarta Barat mendapat dukungan dari Bidan Praktek Mandiri dan kerjasama dengan kader kesehatan lain seperti kader Dasawisma dan kader Jumantik.

Posyandu (integrated health post) is one of community based primary health care with its goal to improve maternal dan child health in Indonesia. The purpose of this reasearch is to examine factors related to Posyandu’s activity in Jakarta Barat in 2022 including cadre (education dan incentive), Puskesmas (health workers assistance and coaching), community (targeted mother’s employment and community participation), and stakeholder (local government and group’s support). This research is a non experimental research with purposive case study design using qualitative data collected by focus group discussion, in-depth interview and document review. This study showed that cadre’s factor, mother’s employment and local goverments are not related to Posyandu’s  activity, whereas Puskesmas, community participation and group’s support are related to Posyandu’s activity in Jakarta Barat in 2022. Posyandu’s activity data based on Komdat Ministry of Health is not representing the actual condition of Posyandu’s activity mainly in cadre’s criteria. Posyandu in Jakarta Barat has been supported by independent midwives and other health cadres."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dhito Pemi Aprianto
"Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan regulasi terkait kebijakan manajemen buku KIA diantaranya, Kepmenkes No.284/Menkes/SK/III/2004, Permenkes No.4 tahun 2019, Pedoman Manajemen Umum Penerapan Buku KIA, dan Juknis Penggunaan Buku KIA. Kebijakan manajemen buku KIA tersebut, mengatur dari proses perencanaan hingga buku KIA dapat dimanfaatkan. Namun, buku KIA belum optimal digunakan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana implementasi dari kebijakan tersebut, mengombinasikan desain penelitian kualitatif studi kasus dan kuantitatif deskriptif dengan pendekatan Edward III dan David Easton. Implementasi kebijakan diukur berdasarkan variabel input, proses, dan output. Hasil penelitian menunjukan, di Kementerian Kesehatan masih perlu ditingkatkan terkait fasilitas, dukungan dari Pemda, analisis dalam perencanaan, dan kejelasan serta konsistensi dari penyampaian kebijakan. Di Sleman, adanya regulasi yang diterbitkan dalam mendukung implementasi manajemen buku KIA berupa SE Kepala Dinas Kesehatan di tahun 2020, yang kemudian diperkuat menjadi Perbup di tahun 2021 menjadi bagian penting dalam implementasi kebijakan manajemen buku KIA, komponen yang perlu ditingkatkan yaitu tuntutan dan dukungan dari masyarakat. Sedangkan, di Bandung Barat, diketahui belum ada regulasi manajemen buku KIA ditingkat kabupaten, komponen yang perlu ditingkatkan terkait fasilitas; dukungan dari RS, Faskes Swasta, lintas sektor, dan Masyarakat; transmisi dan kejelasan informasi; pelayanan UKM puskesmas; dan monitoring serta evaluasi. Output dari implementasi kebijakan manajemen buku KIA antara lain, di nasional sebanyak 75,20% ibu hamil memiliki buku KIA, di Kabupaten Sleman sebanyak 95% memiliki/pernah menggunakan buku KIA, dan di Kabupaten Bandung Barat, sebanyak 70,7% memiliki/pernah menggunakan buku KIA. Sehingga dapat disimpulkan, kebijakan manajemen buku KIA masih belum terimplementasi dengan baik karena beberbagai kendala dalam input, proses serta beragamnya capaian pemanfaatan buku KIA di daerah. Penelitian ini, merekomendasikan agar Kementerian Kesehatan dapat meningkatkan kejelasan, konsistensi dan menghindari tumpang tindih regulasi terkait manajemen buku KIA; analisis penggunaan buku sejenis buku KIA sehingga dapat menjadi dasar perencanaan sharing-cost; serta penyediaan fasilitas yang mendukung; Dinas Kesehatan Kab. Sleman agar mendorong SIM KIA untuk diadaptasi atau diintegrasikan di tingkat nasional dan menyiapkan regenerasi SDM penanggung jawab KIA; Dinas Kesehatan Kab. Bandung Barat untuk menyiapkan regulasi manajemen buku KIA di tingkat kabupaten, meningkatkan upaya transmisi dan kejelasan informasi, meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan UKM di puskemas, dan meningkatkan serta mengembangkan mekanisme monitoring dan evaluasi.

The Ministry of Health has published regulations related to MCH book management including, Kepmenkes No. 284/Menkes/SK/III/2004, Permenkes No. 4 of 2019, General Management Guidelines for the Application of MCH Handbooks, and Technical Guidelines for the Use of MCH Handbooks. The management policy of the MCH book, regulates from the planning until the MCH book being utilized. This study aims to see how the implementation of the MCH book management policies, combines qualitative case study and quantitative descriptive research designs with the approaches of Edward III and David Easton. Policy implementation is measured based on input, process, and output variables. The results show that the Ministry of Health still needs to improve facilities, support from the local government, analysis in planning process, and clarity and consistency of policy delivery. In Sleman, the regulation issued to support the implementation of MCH book management by Circular Letter form Head of the Health Service in 2020, which was strengthened to become regent reguation in 2021 became an important part in the implementation of MCH book management policies, components that need to be improved are demands and support from the community. In West Bandung, there is no MCH book management regulation at the district level, the components that need to be improved are related to facilities; support from hospitals, private, cross-sectoral, and community health facilities; transmission and clarity of information; health center UKM services; and monitoring and evaluation. Outputs from the implementation of MCH book management policies showed that at national level, 75.20% of pregnant women have MCH books, 95% in Sleman District have/have used MCH books, and in West Bandung Regency, 70.7% have/ever using the MCH handbook. From this reaserceh, can concluded that the implementation of MCH book management policies are still not optimal because there are various obstacles in the input and implementation process as well as various achievements in the use of MCH books in the regions. This study recommends that the Ministry of Health can improve clarity, consistency and avoid overlapping regulations related to MCH book management; analysis of the use of the MCH handbook so that it can be used as the basis for cost-sharing planning; and the provision of supporting facilities; District Health Office of Sleman to encourage MCH SIM to be adapted or integrated at the national level and prepare the regeneration of human resources in charge of MCH; District Health Office of West Bandung to prepare MCH book management regulations at the district level, increase efforts to transmit and clarify information, increase the quantity and quality of SME services in health centers, and improve and develop monitoring and evaluation mechanisms."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library