Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 35 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Chairuna M. B.
"Akademi Keperawatan Depkes Palembang didirikan tanggal 3 Maret 1968 dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 73/Pend/1968 tanggal I Februari 1968, dan persetujuan Gubernur KDH Tingkat I Provinsi Sumatera Selatan Nomor Sekr 1612288 tanggal 15 Juli 1968 yang beralamat di jalan Merdeka No. 76-78 Palembang.
Dalam proses penyelenggaraan pendidikan Akademi Keperawatan Depkes Palembang, ditemukan masalah penelitian yaitu belum adanya perencanaan strategic Akademi Keperawatan Depkes Palembang periode tahun 2001- 2005.
Tujuan penelitian ini adalah dirumuskannya perencauaan strategic untuk penyelenggaraan pendidikan Akademi Keperawatan Depkes Palembang tahun 2001 - 2005. Penelitian ini adalah penelitian operasional dengan analisis data kuantitatif dan analisis data kualitatif dengan metode pengumpulan data wawancara dan observasi.
Proses penelitian meliputi pengumpulan data lingkungan eksternal dan lingkungan internal, lalu dilakukan analisis data, kemudian dilanjutkan dengan penetapan tujuan jangka panjang, penetapan strategi dan penetapan strategi yang menjadi prioritas utama.
Hasil penelitian pada analisis tahap I, didapatkan nilai pada external factor evaluation (EFE) matriks adalah 2,76. Sedangkan nilai pada Internal Factor Evaluation (LIE) matriks sebesar 2,61.
Selanjutnya pada analisis tahap II, berdasarkan TOWS matriks Akademi Keperawatan Depkes Palembang termasuk dalam strategi SO yaitu future quadrant dengan strategi related diversification, vertical integration, market development, product development, dan penetration..
Sedangkan pada lE matriks Akademi Keperawatan Depkes Palembang terletak pada set V. Strategi yang dianjurkan adalah hold and maintain dengan strategi market penetration dan product development.
Dari kedua hasil analisis di atas, maka strategi yang dipilih adalah product development dengan 8 strategi, dan market penetration dengan 6 trategi. Berdasarkan hasil analisis tahap III, dari perhitungan QSPM didapat nilai TAS untuk product development 5,61 dan market penetration 5,25, maka product development mendapat prioritas utama.
Berdasarkan perhitungan TAS, dari 8 strategi product development ditetapkan prioritas utama strategi adalah melengkapi sarana laboratorium dan perpustakaan (TAS = 5,31). Untuk meningkatkan proses pembelajaran pada Akademi Keperawatan Depkes Palembang. Sedangkan dari. 6 strategi market penetration ditetapkan prioritas utamanya adalah membuat Promosi SMU/ SPK (TAS = 5,52) dalam rangka upaya meningkatkan penyerapan pelanggan terhadap lulusan yang dihasilkan.
Saran yang dapat penulis kemukakan yang menyangkut kebijakan dan teknis adalah tingkatkan kuantitas dan kualitas sarana laboratorium dan perpustakaan, tingkatkan pemasaran, kemampuan organisasi, dan manajemen Akademi Keperawatan, serta tingkatkan kualitas tenaga pengajar, instruktur untuk mendukung peningkatan kualitas Akper Depkes Palembang.

Strategic Planning Academy of Nursing Health Department of Palembang Year 2001 to 2005.
Nursing Academy of Health Department of Palembang was established on 3rd of March 1968 by the decree of Health Minister number 73/ Pend /1968 dated 1st of February 1968, and the approval of Governor of South Sumatera Province number 16 l 2288 dated 5th of July 1968. This academy was on Merdeka street number 76 --78 Palembang.
The problem of this research was the strategic planning of this academy of the period 2001 to 2005 hasn't available yet.
The purpose of this research was to formularize the Strategic Planning for education fluency in nursing academy of Department of Health of Palembang, year 2001 to 2005. This is an operational research which used both qualitative and quantitative method. The data was collected by using interviews and observations.
The process of this research including data from external and internal environment. The data was analyzed then followed by formularization of long term objectives, chose strategy and the first priority of the chosen strategy.
The result showed that at the first stage of analysis, the value of external factor evaluation (EFE) on the matrix was 2,76 while the value of internal factor evaluation (IFE) was 2,61. At the second stage, according to tows matrix, this academy should include WO strategic of internal fix it quadrant which were consist of retrenchment, enhancement market development, product development, vertical integration and related diversification. Based on IE matrix, this academy was in set V. The suggested strategies was hold and maintain as well as market penetration and product development.
According to the two analysis, the chosen strategies were product development with strategies and market penetration with 6 strategies. Based on the result of third stage of analysis, from the calculation of QSPM, the value of TAS for product development was 5,6 and market penetration was 5,25 therefore- product development become the first priority.
Based on TAS calculation, from 8 strategies of product development, the first priority was completing laboratory facility and library (TAS = 5,31) in order to improve education process at nursing academy of Department of Health of Palembang.
Meanwhile, from 6 strategies of market -penetration, the first priority was making promotion to SMU/SPK (TAS = 4,94) in order to enhance the absorption of graduated.
Considering the result of this study, I suggest to improve quality and quantity of laboratory facilities, library, marketing, organization capability and management of this nursing academy as well as the quality of educators and instructors to increase the quality of nursing academy Health Department Palembang.
References : 25 (1998 - 2001)
"
Depok: Universitas Indonesia, 2001
T2044
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sitti Rachmi Misbah
"Penelitian ini didasari masih tingginya angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia dan khususnya di Kabupaten Buton, dan telah dilakukannya pelatihan APD bagi bidan di desa di Kabupaten Buton dan belum ada gambaran dampak pelatihan APD terhadap mutu proses persalinan. Penelitian dilakukan di Kabupaten Buton bagi bidan di desa yang telah mendapat pelatihan APD dan di Kabupaten Muna bagi bidan di desa yang tidak mendapatkan pelatihan APD. Dilaksanakan pada bulan Januari hingga Mei 2001. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan desain penelitian Cross Sectional. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen observasi untuk kepatuhan bidan terhadap proses persalinan dan kuesioner untuk karakteristik dan motivasi bidan di desa.
Hasil yang didapatkan adalah ada perbedaan mutu proses persalinan antara bidan di desa yang mendapat pelatihan dengan tidak mendapat pelatihan APD (p value = 0,049 a = 0,05). Ada perbedaan mutu proses persalinan antara kelompok umur lebih atau sama dengan 32 tahun dengan kurang dari 32 tahun (p value = 0,018 a = 0,05), serta ada perbedaan mutu proses persalinan antara bidan di desa dengan masa kerja lebih atau sama dengan 11 tahun dan kurang dari 11 tahun (p value = 0,012 ct = 0,05). Untuk motivasi bidan di desa antara yang pelatihan APD dan tidak pelatihan tidak ada perbedaan yang bermakna (p value = 0,388 a = 0,05).
Kesimpulan dari pelatihan ini ada perbedaan yang bermakna antara pelatihau APD dan mutu proses persalinan serta ada perbedaan mutu proses persalinan berdasarkan kelompok umur dan masa kerja. Sehingga bagi penyelenggara dan pelaksana program pelatihan APD tetap dilaksanakan dengan perbaikan pada metode, materi, waktu dan fasilitator pelatihan, juga diperlukan dukungan pelatihan lain yaitu pelatihan komunikasi.
Bagi Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tenggara perlu memikirkan untuk pemerataan pelatihan APD bagi bidan di desa di Kabupaten-kabupaten lain di Propinsi Sulawesi Tenggara.

Analysis Training Impact of Basic Upbringing Childbirth toward Childbirth Process Quality by Midwife in Town of Buton Regency in 2001This research was still based on the high rate of Mother Death and the Baby Death in Indonesia, especially in Buton regency. The research of Basic Upbringing childbirth for midwife which had been done in Buton regency of the impact for this research toward the child birth process quality had not give the description yet. This research was done in Buton Regency for midwife in town which got the training of Basic Upbringing Childbirth and in Muna regency for the midwife who didn't get the same training on January until May 2001. Type of this research was Descriptive analytic with construction Cross Sectional. Technique of data finding was by using instrument observation for discipline of the midwife to the childbirth Process Quality and questioner for characteristics and motivation.
The result that the writer got was the differences of childbirth process quality between the midwife in town which got the training as compared to the midwife which didn't got it (P value = 0,049 a = 0,05). There are the differences of the Childbirth process quality between group of ages more than or same as 32 years old with the group less than 32 years old (P value = 0,018 a = 0,05), and the differences of childbirth process quality between the midwife in town by the time of working same or more than 11 years (P.value 0,012 0 = 0,05 ). There is no urgent differences for the motivation of midwife which got the training with the midwife which didn't get it (P value = 0,388 a = 0,05 ). Conclusion of this research is the urgent differences between training of Basic Upbringing Childbirth and the childbirth process quality and also the differences of childbirth process quality which based on group of ages and based on the time of working. So, for the committee and the organizer of this program still rearrange the method, materials, time and training facilitator. Beside that, it is important to add another kinds of training, such as communication training, completed with own evaluation of training method, the mutual standard, which was decided and can be obeyed by the midwife in town.
For the health official of southeast Sulawesi have to consider the even distribution of Basic Upbringing Childbirth for midwife in town of regencies in southeast Sulawesi."
2001
T4643
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hambarita
"Prioritas pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas lcbih diarahkan ke bentuk
pelayanan kesehatan dasar dengan jumlah kunjungan terbanyak di Balai Pengobatan (BP)
umum yang memberikan pelayanan mencakup konsultasi, pengobatan, tindakan,
pemeriksaan kesehatan sederhana atau Kir, dan rujukan. Pelayanan diberikan oleh
Dokter Umum dan atau Perawat.
Melihat kondisi puskesmas di Kota Solok saat ini, selama tahun 1999 dan 2000
lelah terjadi penurunan kunjungan rawat jalan, ini sejalan dengan adanya keluhan
masyarakat tenlang lamanya waktu tunggu, petugaf kurang tanggap dan tidak ramah,
bagi pasien mutu yang baik adalah yang dapat memberi kepuasan, sedang bagi
penyelenggara pelayanan adalah yang sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi dan
otonomi profesi. Ditinjau dari pendanaan puskesmas untuk melaksanakan aktifitasnya
telah mengalami penurunan anggaran dari tahun 1999 ke tahun 2000, pada saat ini
pengembalian retribusi puskesmas oleh pemerintah kota sebagai penunjang biaya
operasinal baru mencapai 75 %.

Abstract
Service priority which given by Puskesmas is directing to basic health care
services with the most often visited is clinic (Balai Pengobatan/BP) which its services
including, consultation, medical treatment, action, medical check-up, and reference.
Sen/ices are giving by doctors and/or nurses.
Between 1999-2000 routine check-up visiting to the Puskesmas in Solok was
decreasing, along with a lot of public complaints to the services such as, queuing tin-ie,
low anticipation statis, for patients, good quality means things are satisfying, and for the
service provider is meet the science and technology and profession autonomy-
Puskesmas budgeting has decrease between 19998-2000, and currently retribution tram
Puskesmas to City government as operational budget is 75%."
2001
T2523
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
F.X. Hendroyono
"ABSTRAK
Dalam rangka meningkatkan daya saing rumah sakit di-era pasar global, perlu dilakukan reformasi manajemen perumahsakitan yang diharapkan dapat menyelesaikan berbagai masalah manajemen dalam efficiency, productivity, quality and patient responsiveness. Pengendalian infeksi nosokomial sangat bergantung pada kinerja sterilisasi rumah sakit, khususnya pada penatalaksanaan pembedahan dan kegiatan pelayanan medik lain yang menggunakan alat-alat steril.
Pelayanan sterilisasi Instalasi Bedah Sentral merupakan pusat pelayanan sterilisasi RSUD Kota Bekasi. Instalasi ini menerima, memproses, memproduksi, mensterilkan, menyimpan, mendistribusikan instrumen operasi ke kamar bedah dan alat medik ke ruangan-ruangan yang membutuhkan produk steril.
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi dengan kapasitas 261 tempat tidur, BOR 67,1 - LOS 3,7 - TOI 1,83 - BTO 65,54 - jumlah operasi 350 pasien per bulan (OK IGD: 100, OK IBS: 250); mempunyai pelayanan sterilisasi yang masih bergabung dengan OK IBS dengan berbagai masalah dan mendapat banyak keluhan dari pengguna jasa pelayanannya terutama para ahli bedah dan petugas kamar bedah yang lainnya.
Banyaknya komplain dan masalah tersebut membuat OK IBS ingin memperbaiki diri, karena OK IBS merupakan bagian dari Rumah Sakit, dan merupakan penggalan jalur panjang dari "moment of truth" mulai dari pasien masuk ke halaman parkir hingga pasien pulang yang harus selalu diperbaiki dan disempumakan demi kepuasan dan keselamatan berobat pasien. Untuk mendapatkan gambaran pelayanan sterilisasi OK IBS menurut kacamata penyedia pelayanan (provider), perlu dilakukan suatu penelitian.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan pemecahan masalah (Problem Solving Approach) dengan tujuan menyusun plan of action perbaikan kualitas layanan sterilisasi dari OK IBS RSUD Kota Bekasi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara FGD (Focus Group Discussion), wawancara mendalam (indepth interview), expert panel dan observasi langsung, serta telaah data sekunder.
Penelitian ini menghasilkan suatu prioritas masalah dan prioritas penyelesaian masalah. Tiga masalah utama pada sterilisasi OK IBS adalah mesin sterilisator yang kurang dalam kualitas dan kuantitas, luas tempat bekerja yang terbatas dan kemampuan SDM sterilisasi di OK IBS yang masih belum cukup memadai.
Kurangnya kualitas mesin sterilisator bermula dari tidak adanya monitoring dan pengawasan berkala pada mesin sterilisator yang ada dan karena tuntutan volume pekerjaan yang meningkat dari tahun ketahun, sehingga petugas terbiasa bekerja dengan mesin sterilisator uap berkapasitas 500 liter pengadaan tahun 1980 yang dalam keadaan rusak; dengan produk linen operasi yang selalu basah dan rusaknya instrumen operasi serta linen operasi oleh sterilisator panas-kering yang merupakan andalan OK IBS selama ini. Masalah mesin sterilisator ini dapat dipecahkan dengan menetapkan bahwa mesin steam sterilisator yang lama sebagai mesin tidak layak pakai dan menggantikannya dengan mesin baru untuk sementara atau pembentukan instalasi CSSD dengan kelengkapan sarana dan prasarananya.
Perkembangan OK IBS yang terwujud dari beberapa kali renovasi tidak disertai dengan perkembangan dan renovasi atau perbaikan kinerja seksi sterilisasi; sehingga luas ruang bekerja dan sarana sterilisasi yang ada sejak tahun 1980 dengan 2 kamar operasi tidak disiapkan untuk keadaan sekarang dengan 5 kamar operasi dan frekuensi operasi 250 pasien per bulan. Masalah ruang kerja sterilisasi ini dapat dipecahkan dengan pembangunan gedung CSSD baru sebagai instalasi yang mandiri di-area belakang RSUD sebelah Unit Laundry.
Paradigma pembelajaran (learning paradigm) perlu dibangun di kalangan petugas OK IBS, khususnya petugas sterilisasi; kurangnya kualitas dan kuantitas SDM sterilisasi OK IBS dapat disebabkan oleh terbiasanya bekerja tanpa SOP, tanpa pengawasan, dan tanpa koreksi dimana keterbatasan pengetahuan tentang sterilisasi dari pimpinan dan pelaksana OK IBS dalam beaurocratic paradigm akan menjadi hambatan dari suatu usaha perbaikan dan pergembangan kinerja organisasi sterilisasi. Masalah kualitas dan kuantitas SDM ini dapat dipecahkan dengan menambah SDM baru yang siap untuk ditingkatkan kualitasnya melalui pendidikan berkala dan berlanjut bagi staf CSSD yang dilaksanakan oleh RS.Sardjito di Yogyakarta.
Kualitas pelayanan sterilisasi di OK IBS dipengaruhi juga oleh kinerja unit-unit lain di RSUD Kota Bekasi dan dipengaruhi oleh kebijakan manajemen, sehingga masalah-masalah yang muncul merupakan masalah yang terjadi juga di seluruh rumah sakit. Pemecahan masalah di OK IBS tidak dapat dilaksanakan hanya oleh OK IBS sendiri tetapi harus ada intervensi Manajemen Rumah Sakit.
Perlunya melakukan advokasi kepada DPR-D Kota Bekasi, agar masalah sterilisasi yang pada akhirnya menentukan kualitas pelayanan RSUD kota Bekasi dapat dimaklumi juga menjadi tanggung jawab pemerintah kota Bekasi sebagai stake-holder rumah sakit.

ABSTRAK
Reformation of the hospital management is necessary to improve the competitiveness of hospitals in global market era so that managerial problems in efficiency, productivity, quality and patient responsiveness could be solved. Control of nosocomial infection depends heavily on the performance of the sterilization unit in the hospital, especially in surgical treatment and other medical services which utilize sterile instruments.
Sterilization service of IBS Operating Theatre (OT) is the center for sterilization services at RSUD kota Bekasi which receives, processes, produces, sterilizes, stores and distributes surgical instruments to the operating theatre and medical instruments to units which needed them.
Bekasi City Regional Hospital (RSUD kota Bekasi) with the capacity of 261 beds, BOR 67,1 - LOS 3,7 - TOl 1,83 - BTO 65,54 - 350 monthly surgical procedure (Emergency OT: 100, Central OT: 250); has sterilization service combined within IBS OT with various problems and getting complaints from service users, especially the surgeons. Due to the high complaint rate, IBS OT strives to improve its service since it is an integral part of the hospital and part of the "moment of truth" for patient?s wellness and satisfaction. This study is conducted to obtain a picture of IBS OT's sterilization service from the provider's perspective.
This is a qualitative study with problem solving approach which aims to draft a plan of action to improve the quality of sterilization service at IBS OT RSUD kota Bekasi. Data collection was conducted through FGD (Focus Group Discussion), in-depth interview and direct observation and secondary data analysis.
This study results in problem and problem-solving priorities. The three main problems during IBS OT sterilization are: poor quality and quantity of sterilizatormachines, limited working area and human resources capability in IBS OT that not yet sufficient.
The poor quality of sterilizator machine started with the absence of regular monitoring and maintenance, and also due to the increasingly workload. The operator became used to work with the damaged 500-litre steam sterilization machine from 1980; with wet surgical lines and the damaged surgical instruments and linens by the hot-dry sterilizator which is the mainstay of IBS OT. The problem of sterilizator could be solved by discharging the damaged steam sterilizator and replacing it with a new machine; or the formation of CSSD unit complete with the necessary equipment.
The development of IBS OT from several renovations is not accompanied by the development and renovation or improvement of the sterilization unit; therefore the available working area and sterilization unit since 1980 with 2 operating theatres is not ready for the current condition with 5 operating theatre and 250 surgical procedures per month. This problem could be solved with the development of a new, contained CSSD building in the area at the back of RSUD, next to the Laundry Unit.
Learning paradigm needs to be socialized amongst IBS OT personnel, especially those handling the sterilization; the poor quantity and quality of sterilization personnel at IBS OT could be caused by the comfort of working without SOP, control and correction due to the limited knowledge about sterilization of the management of IBS OT. All of these and the bureaucratic paradigm will hinder the effort of performance improvement of the sterilization organization. The problem of human resources quantity and quality could be solved with the addition of new personnel who is ready to be developed through periodic continuing education for CSSD staff at Sardjito Hospital in Yogyakarta.
Sterilization service quality at IBS OT is also influenced by the performance of other units at RSUD kota Bekasi and management's decision, therefore the arising problems are also common problems at the hospital. Problem solving at IBS OT could not be conducted solely by IBS OT but need intervention from hospital management.
It is also important to approach Bekasi City Parliament (DPRD) to ensure that sterilization problem, which will ultimately determine the service quality of Bekasi City Regional Hospital, also falls under responsibility of Bekasi City government as one of the hospital's stake-holders.
"
2007
T19096
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fenty Aprina
"Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator pembangunan kesehatan di Indonesia. Pada tahun 1995 Angka Kematian Ibu di Indonesia masih tertinggi di Asia Tenggara yaitu sebesar 373 per 100.000 kelahiran hidup (Survey Kesehatan Rumah Tangga), Penyebab utama kematian ibu ini adalah karena perdarahan, infeksi, keracunan kehamilan. Hal ini disebabkan karena beberapa hal mulai dari latar belakang kondisi sosial ekonomi sampai ke faktor demografi. Tiga keterlambatan sebagai penyebab kematian ibu yaitu: keterlambatan dalam keputusan mencari pelayanan kesehatan, keterlambatan mencapai tempat pelayanan kesehatan, dan keterlambatan menerima pelayanan kesehatan. Banyak upaya telah dilakukan untuk menurunkan angka kematian ibu ini. Antara lain dengan program peningkatan pelayanan kesehatan yang dapat terjangkau masyarakat secara luas sampai ke tingkat desa terpencil. Untuk mempercepat maksud diatas, Departemen Kesehatan Republik Indonesia menempatkan bidan di desa untuk mempermudah pelayanan persalinan di desa sehingga cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dapat ditingkatkan.
Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan secara nasional pada tahun 1998 adalah 62,69%. Untuk Propinsi Sumatera Selatan adalah 62,5%. Proporsi persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan hanya 46,16%. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Musi Banyuasin tahun 1998 sebesar 63,6%. Tahun 1999 cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan 71,1% dan tahun 2000 cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 72,7%. Berdasarkan profil kesehatan Sumatera Selatan tahun 2000, cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Musi Banyuasin berada di urutan ke-6 dari 10 kabupaten yang ada di Propinsi Sumatera Selatan. Bila dilihat dari 418 desa yang ada di Kabupaten Musi Banyuasin, 349 desa telah mempunyai bidan di desa (82%) cakupan persalinan di Kabupaten Musi Banyuasin masih rendah.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cakupan persalinan di kabupaten Musi Banyuasin, untuk menggali informasi yang lebih dalam mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan cakupan persalinan bidan di desa digunakan pendekatan kualitatif Penelitian dilakukan dengan diskusi kelompok terarah pada 12 bidan di desa, 12 bidan subkoordinator, wawancara mendalam dengan 4 pimpinan puskesmas, 1 kepala seksi ibu, 1 kasubdin kesehatan keluarga dinas kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama tugas, sosialisasi bidan, supervisi, dan pelatihan berhubungan dengan cakupan persalinan bidan di desa. Bidan mengharapkan adanya supervisi dari pimpinan secara terjadwal dalam rangka bimbingan teknis untuk meningkatkan cakupan persalinannya. Dengan pelatihan yang bersifat teknis dan magang pengetahuan dan ketrampilan bidan akan meningkat.
Melihat hasil penelitian ini disarankan kepada dinas kesehatan untuk memberikan rekomendasi perpanjangan kontrak Pegawai Tidak Tetap (PTT) bidan di desa, kepada bidan yang ingin memperpanjang PTTnya tanpa menghambat pada proses perpanjangan tersebut. Penyelenggaraan pelatihan diharapkan lebih banyak yang bersifat magang dan studi kasus, disamping itu topik manajemen Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) masih diperlukan guna meningkatkan kemampuan manajerial bidan di desa. Perlu dibuat konsep yang jelas sebelum dinas mengadakan pelatihan sehingga pelatihan dapat terakreditasi dan akhirnya berguna untuk bidan. Untuk pimpinan puskesmas agar memasukkan jadawal supervisi ke dalam perencanaan puskesmas secara rinci dan terjadwal. Memanfaatkan minilokakarya scbagai forum belajar dan evaluasi bagi seluruh pengelola program puskesmas terutama bidan di desa.

Analize Coverage Child Birth Midwives in the Village in the Regency of Musi Banyuasin by year 2001Maternal Mortality Rate is an indicator health development in Indonesia. By year 1995 Maternal Mortality Rate in Indonesia is the highest in Southeast Asia is 373 per 100.000 alive birth (Dwelling Health Survey, 1997). The main cause of maternal mortality is because of bleeding, infection, eclampsi. This matter is caused of some things start social economic condition background until demography factor.
Three of the latest of maternal mortality cause is the latest in deciding seek Health Service, the latest to achieve health service place and the latest of receiving Health Service. Some effort have been done to decrease this Maternal Mortality Rate with Health Service raising program, which can be reached by society at large until the small village.
To accelerate the meaning above, Health Department, Republic of Indonesia, place midwives in the villages to make Child Birth Service in the villages easily, so the coverage of child birth, which is helped by health skilled-person can be developed.
The coverage of child birth by National Health skilled-person by year 1998 is 62,69 %. For Province of South Sumatera is 62,5 %. Child birth proportion which is helped by health skilled-person only 46,16 %. The coverage of child birth by health skilled-person in the Regency of Musi Banyuasin by year 1998 amount 63,6 %. By year 1999 the coverage of child birth by health skilled-person is 71,1% and by year 2000 the coverage of child birth by health skilled-person is 72,2 %.
Based on the Health Profile South Sumatera by year 2000, the coverage of child birth by health skilled-person in the Regency of Musi Banyuasin is number 6 from 10 regencies in Province of South Sumatera. If we take a look at 418 villages in Regency of Musi Banyuasin, 349 villages have had midwives in the villages (82 %). The coverage of child birth in Regency of Musi Banyuasin is still low.
The research aims to analyze the coverage of child birth in Regency of Musi Banyuasin to dig some complete information about factors, which are correlated to coverage of child birth in the village is used qualitative approach. The research with focus group discussion method was done to 12 midwives in the villages, sub coordinator midwives, indepth interview with 4 Health Centre Leaders, 1 Chief of Mother Section, 1 Chief Sub District of Family Health in Musi Banyuasin.
The results of this research show that duty duration, midwives socialization, supervision and training, which are correlated to the coverage of child birth midwives in the villages. The midwives hope with supervision from the chief with schedule in the framework of technical guidance to raise the coverage of child birth. With this technical training and knowledge apprentice and midwives' skill in the villages will be raised.
Looking at this research, it is suggested to the chief of the Health District to give recommendation of freelance contract extension for midwives in the villages, and to the midwives, ,who want to extend the contract without obstacle on the extend process. Training organization is hoped apprentice more and case study, beside that the topic of Save Motherhood Management is used to raise the midwives' management abilities in the hospital.
It is necessary to make a clear concept before Health District to organize the training, so the training can be accredited and at least it is used for midwives. To the chief of Health Centre to fullfill supervision schedule into Health Centre Arrangement in detail and scheduled. Making use of mini workshop as a study forum and evaluation for all arrangement of the Health Centre Program especially midwives in the villages."
2001
T638
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Usin Effendi
"Masalah hasil kegiatan program Usaha Kesehatan Sekolah yang masih belum optimal yang dikelola oleh lintas program dan lintas sektoral terkait, dikarenakan masih lemahnya koordinasi mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Program UKS yang dibina oleh Tim Pembina UKS secara berjenjang TP UKS Pusat, TP UKS Propinsi, TP UKS Kabupaten dan Kota dan TP UKS Kecamatan, merupakan kegiatan lintas program dan lintas sektor yang harus dikoordinasikan secara baik.
Dalam melaksanakan kegiatan program UKS agar tercapai tujuannya secara optimal, perlu perencanaan yang matang dan terpadu baik dengan lintas program maupun dengan lintas sektoral terkait. Pada kenyataannya TP UKS Kota Bandung dalam pencapaian target cakupan masih rendah dan masih terdapat masalah dalam melaksanakan koordinasi.
Penelitian ini merupakan studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui penelusurarn data yang terdokurnentasi, observasi langsung dan wawancara mendalam terhadap 12 informan TP UKS Kota dan Sekretariat TP UKS Kota Bandung . Informan adalah orang-orang yang tertera dalam SK Walikota Bandung Nomor : 441.51SK 390-Bag.Sos/1996 tentang Tim Pembina UKS Kota dan memahami serta mengetahui TP UKS dan Sekretariat.
Hasil penetitian ini menunjukkan bahwa perencanaan kegiatan grogram UKS melalui peranan TP UKS Kota belum efektif, karena koordinasi lintas sektoral masih lemah. Maka untuk meningkatkan koordinasi perencanaan TP UKS secara maksimal, disarankan untuk melakukan penyempumaan SK TP UKS dan Sekretariatnya serta mengajak para ketua untuk selalu ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan program UKS Kota, karena ketua yang sekaligus pemimpin instansi terkait merupakan kunci keberhasilan baik koordinasi maupun kegiatan program UKS.
Melalui pelaksanaan otonomi daerah, kemungkinan mernudahkan pelaksannaan koordinasi karena satu komando dari gimpinan daerah. Dengan koordinasi yang baik, maka pengelolaan kegiatan program UKS mulai perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi akan berjalan lancar.

Analysis on School Health Program (SHP) Activities Planning Through the Role of School Health Program Developing Team in Bandung in 2000The low result of School Health Program activities managed by the related cross-programs and cross-sectors is due to weak coordination in the planning, implementation and evaluation. School Health Program which is developed by School Health Program Developing Team in the levels of Central School Health Program Developing Team, Provincial School Health Program Developing Team, City and Regency School Health Program Developing Team and Sub district School Health Program Developing Team is a cross-programs and cross-sectors activity which should be well coordinated.
In implementing School Health Program in order to achieve its goal optimally, an integrated and well prepared planning is necessary either by the related cross-programs and cross-sectors. As a matter of fact School Health Program Developing Team in Bandung still has low achievement of the target range and has problem in the coordination.
This research is a case study on qualitative approach. The Data are obtained through documented data exploration, direct observation and intense interviews with 12 informants from City School Health Program Developing Team and the Secretariat of School Health Program Developing Team of Bandung City. The informants are those who are listed in the Mayor Decree of Bandung Number: 441.51SK 390-Bag-Sos/1996 on Developing Team of City School Health Program and understand as well as get acquainted with the School Health Program Developing Team and Secretariat.
The research shows that the planning of School Health Program through the role of City School Health Program Developing Team is not effective yet, it is due to weak coordination of the cross-sectors. Thus in order to improve the planning coordination of School Health Program Developing Team maximally, it is suggested to make perfecting action of the Decree of School Health Program Developing Team and its Secretariat and ask the heads to actively participate in the City School Health Program, as the heads who are also directing the related institutions are the success key of the coordination as well as the School Health Programs.
By the implementation of local autonomy, it will enable the easier coordination of implementation as it will have one command from the local leader. By good coordination, the School Health Program management including planning, implementation and evaluation will run well.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2001
T1680
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yumidiansi Fachrurrozie
"Di dalarn GBHN tahun 1999 - 2004 ditetapkan arah kebijakan pembangunan dibidang kesehatan antara lain meningkatkan dan memelihara mutu lembaga dan pelayanan kesehatan melalui pemberdayaan Sumber Daya Manusia, sarana , prasarana medik dan sarana penunjang secara berkelanjutan. Sarana penunjang dibidang kesehatan salah satunya adalah laboratorium kesehatan yang terdiri dari pelayanan laboratorium klinik dan pelayanan laboratorium kesehatan masyarakat dalam upaya mendukung, penyembuhan, pemulihan juga peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.
Sejak berdiri tahun 1998 sampai saat ini Laboratorium Kesehatan Daerah (LKD) belum beroperasi secara reguler. Pemeriksaan hanya dijalankan pada kegiatan - kegiatan insidentil seperti pelayanan kesehatan haji, pemeriksaan rujukan spesimen dari Puskesmas atau bila terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) suatu penyakit yang memerlukan pelayanan penunjang laboratorium. Belum optimalnya operasional LKD karena masih kurangnya sumber daya, sarana dan prasarana sehingga belum dapat memberikan pelayanan prima. LKD juga belum mempunyai visi dan rnisi serta struktur organisasi LKD menjadi Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) awal tahun 2001.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang organisasi LKD Kabupaten Musi Rawas, merumuskan visi dan mini , mengetahui faktor eksternal dan internal yang berpengaruh dalam pengembangan LKD Kabupaten Musi Rawas dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dilaksanakan di Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Kabupaten Musi Rawas dan LKD Kabupaten Musi Rawas pada bulan Mei - Juni 2001 Penelitian ini dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap Kepala Subdin Kesmas , Kadinkes, Kasi Rujukan, dokter klinik (Puskesmas).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor eksternal mempunyai peluang antara lain : Peningkatan pengeluaran rata - rata perbulan, peningkatan pendidikan dan adanya dukungan Pemda sedangkan ancamannya adanya pemasok, pesaing lebih unggul dan keadaan sosial, politik yang kurang stabil, belum berorientasi pelanggan dan lain - lain. Faktor internal mempunyai kekuatan : gedung sendiri, adanya pola tarif pelayanan dan kelemahannya adalah SDM secara kuantitas maupun kualitas masih kurang, manajemen mutu belum dilaksanakan. Gambaran LKD Kabupaten Musi Rawas memiliki karakteristik ekstemal dan internal yang hampir berimbang dimana LKD terletak pada sel V Strategi yang dianjurkan adalah Hold and Maintenance dengan strategi intensif yaitu market penetration dan product development.
Melihat hasil ini LKD disarankan untuk melaksanakan strategi Market Penetration yaitu meningkatkan mutu pelayanan, pemasaran aktif dan menerapkan konsep mutu sedangkan untuk Product development adalah meningkatkan Sumber Daya Manusia, menambah produk pelayanan, meningkatkan sarana dan prasarana. Kemudian ditindak lanjuti dengan membuat rencana kegiatan pertahun dari tahun 2002 - 2006.

Strategic Planning for Development of Regional Health Laboratory of Musi Rawas Regency, year 2002 - 2006It is stipulated within the State Guidelines 1999 - 2004 the development policy in health sector such as improving and maintaining the institution and health service through empowerment of human resources, medical facilities, infrastructure and supporting facilities in a sustainable manner. One of the supporting facilities in health sector is health laboratory that consists of clinic laboratory service and public health laboratory service and disease prevention.
Since its establishment in 1998 until now the Regional Health Laboratory (RGL) has not operated regularly. The test is only conducted incidentally such as service for hajj or pilgrimage health, specimen referral test from Community Health center or if there is Extraordinary Event of a disease that needs the laboratory supporting service_ The below optimum operation of the RGL is due to lack of human resources, facilities and infrastructure that it cannot provide excellent service. The RGL also has the vision and mission and organization structure to become Official Technical Implementation Unit (OTIU) at the beginning of 2001.
This research is intended to obtain description regarding the RGL organization of Musi Rawas Regency, formulate to vision and mission, to identify external and internal factors that affect the development of RGL of Musi Rawas Regency with qualitative approach. The research is performed in Health and Welfare Office of Musi Rawas Regency and RGL of Musi Rawas in May - June 2001. This research is performed within-depth interview towards the Head of Sub Office of Public Health, Head of Health Office, Section Head of Referral; clinic doctors (Community Health Center).
The result of research indicates that the external factor that have the opportunity among others: increase of monthly per capita income rate, improvement of education and support of the local Government, while the threat is the lack of supplier, more competitive competitor and the lack of stability in the social and political life, the lack of customer oriented attitude etc. The internal factors which are strength factors are the own building, the existence of rate standard and the weaknesses are the lack of quantity and quality of human resources, quality management has not implemented. From the description of Musi Rawas Regency RGL, we know that it has more or less balanced internal and external characteristics in which the RGL is located in V cell. The strategy suggested is Hold and Maintenance with intensive strategy namely market penetration and product development.
Having considered this RGL it is suggested to be implemented market penetration namely improvement of service quality, active marketing and application of quality concept and product development strategy namely to improve human resource quality, to add service product, improve facilities and infrastructure stipulated in annual planning activities."
2001
T1870
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kamelia Faisal
"Dalam menjalankan misinya sebagai pemberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat luas, RS.MH.Thamrin selalu berusaha meningkatkan pelayanannya. Dengan tujuan dan rencana pemilik yang ingin menjadikan RS.MH.Thamrin menjadi rumah sakit berstandar internasional, maka harus dibuat perumusan visi dan misi yang dapat menjembatani antara keadaan di masa sekarang dengan keadaan atau keinginan di masa datang. Proses perumusan ini merupakan hal yang menarik karena diikuti oleh berbagai pihak dari rumah sakit.
Masalahnya adalah selama ini visi dan misi yang digunakan adalah visi dan misi organisasi MH.Thamrin Health Care, sehingga rumah sakit belum memiliki visi dan misi sendiri yang dapat mewakili tujuan rumah sakit di masa depan.
Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh input dan mengetahui proses pelaksanaan perumusan visi dan misi rumah sakit, siapa saja yang terlibat dan bagaimana tahapannya.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan studi kasus, karena hanya melakukan pengkajian terhadap proses yang telah berjalan. Analisa data dilakukan dengan menelaah data yang tersedia dari sumber data sekunder, pengamatan dan wawancara. Dilakukan reduksi data, kemudian disusun dalam satuan-satuan dan dikatagorikan, lalu dilakukan pengolahan data. Data disajikan dengan cara tekstular dan tabulasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di RS.MH Thamrin pengambilan keputusan dilakukan dalam pertemuan-pertemuan baik formal maupun informal. Dalam hal ini terlihat keinginan yang kuat dari seluruh pihak di rumah sakit untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan. Beberapa proses perubahan telah terjadi antara tahun 1980 sampai dengan tahun 2001, yang merubah pandangan terhadap rumah sakit ini dari rumah sakit yang tidak dikenal menjadi rumah sakit yang cukup dikenal di Jakarta.
Setelah memiliki tujuan baru untuk menjadi rumah sakit berstandar internasional, rumah sakit memerlukan arah baru dalam menjalankan misinya. Untuk itu pemilik dan pimpinan rumah sakit melakukan pembicaraan mengenai arah rumah sakit ini lima tahun mendatang.
Proses perumusan visi ini terbagi dalam empat tahapan, yang diikuti oleh sebagian besar karyawan (dokter, perawat dan staf alinnya) untuk merumuskan visi dan misi rumah sakit untuk tahun 2001 - 2005.
Hasil perumusan ini adalah RS.MH Thamrin akan mengedepankan kepentingan customer dalam memberikan pelayanan sesuai standar pelayanan internasional dan perkembangan ilmu teknologi kedokteran. Setelah itu dijabarkan dalam bentuk misi yang akan membantu dalam pencapaian ke arah tujuan. Proses ini adalah proses berharga karena merupakan proses yang dihasilkan oleh karyawan dengan pemilik dan pimpinan rumah sakit secara bersama.

The Process Of Vision And Mission Development At M.H. Thamrin Hospital, IndonesiaThe mission of M.H. Thamrin hospital is to provide health services for community. M.H.Thamrin hospital always trying to increase the quality service for customer. With owner goals and plan to make M.H. Thamrin hospital become an international hospital, they have to formulate the vision and mission which will connect the present situation with the future situation or the goals in the future. The formulation process interesting because all personnels in the hospital involved.
The study objective is to analyze the vision development at M.H.Thamrin Hospital, how the process is evolving and who are involved in that process. Design of this study is a case study using qualitative research methodology. Data is collected using in depth interview and secondary data.
The study found that M.H. Thamrin hospital has been used to make routine decisions using informal meeting. The strong internal culture of the hospital bind all the hospital staff ( manager, doctors, nurses, and other staff) to work together toward their common goal.
Several hospital transformation process during the period of 1979 to 2001, has been'transformed the hospital image from the bottom one into one of the known private hospital in Jakarta. After having the new goal to be an International standardized hospital, the hospital need a new direction to reach their mission objective. Therefore, the routine informal meeting was initiated to find out what will be the future of M.H.Thamrin hospital five years from now. This process comprised of four meeting, and involving all the hospital personnels ( doctors, nurses, and staff) to develop the hospital vision and mission for 2005. They decided that M.H. Thamrin hospital will be the leading hospital in customer service with an International standard services and medical technology development.
After the vision completed, the hospital formulate the mission statement which will help the hospital in achieving their common goals."
Depok: Universitas Indonesia, 2001
T1838
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suyadi Joyoatmojo
"Praktek Klinik Keperawatan (1) merupakan salah satu bentuk pembelajaran aktif dan praktek bagi Mahasiswa AKPER Tk.I Semester Genap memperoleh pengalaman belajar dan mengujicoba semua kemampuan kognitif, komunikasi dan ketrampilan psikomotorik yang telah dipelajari di laboratorium dan di kelas kepada klien disemua lahan praktikum melalui belajar langsung ( Learning by doing) pada pekerjaan yang sesungguhnya. Karenanya Praktek Klinik Keperawatan adalah juga merupakan inti dari semua proses pembelajaran di institusi tersebut serta sebagai tolok ukur tingkat keberhasilan dari pengelolaan pendidikan.
Dengan proses pembelajaran tersebut diharapkan nantinya dapat menghasilkan tenaga perawat professional pemula yang memiliki tingkat ketrampilan yang tinggi (bermutu) dan siap didayagunakan disemua unit pelayanan kesehatan khususnya yang berhubungan dengan asuhan keperawatan.
Tetapi kenyataan yang ada sekarang bahwa lulusan dari banyak tempat pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan di Indonesia termasuk pendidikan keperawatan hasilnya masih memprihatinkan , mutunya masih rendah terutama dalam hal kemandirian , akuntabilitas dan daya saingnya lemah, terkait dengan itu maka perlu dilihat bagaimana yang sesungguhnya ?.
Agar mendapatkan gambaran nyata maka pada kajian ini bertujuan unutuk mengetahui pengelolaan Praktek Klinik Keperawatan I pada penyelenggaraan pendidikan AKPER Kotabumi Kabupaten Lampung Utara, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya. Metode yang digunakan dalam kajian ini metode kualitatif, data primer atau sekunder di peroleh dari Diskusi Kelompok Terfokus, Wawancara Mendalam dengan Direktur Akper Kotabumi, Kasubbag Tata usaha dan staf kearsipan, Koordinator praktikum dan tim pembimbing serta kelompok mahasiswa terpilih. Selanjutnya data diolah menjadi informasi dan kemudian dianalisis secara 'content assessment' yaitu menganalisa hasil kajian dan membandingkan dengan tolok ukur atau teori-teori pada tinjauan pustaka dan untuk keabsahan data ditempuh cara triangulasi data.
Hasil kajian menunjukkan bahwa pelaksanaan Praktek Klinik Keperawatan pada penyelengaraan pendidikan Akademi Keperawatan Kotabumi Lampung Utara belum berfungsi secara optimal, bila dilihat dari aspek perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Berdasarkan hasil temuan yang didapat maka disarankan agar jajaran Akper Kotabumi, dapat menyusun 'Job Description' , perincian pekerjaan , rencana kerja , meningkatkan biaya , pembinaan pembimbing, peningkatan pendidikan berkelanjutan bagi pembimbing, melengkapi alat bahan pendukung praktek, monitoring dan mengevaluasi hasil kegiatan Praktek Klinik Keperawatan secara periodik serta meningkatkan peran serta berbagai pihak yang terkait agar mutu lulusan pendidikan tersebut dapat tercapai dan dipertahankan.

The Study of nursing clinical Practice Performance (I) on Nursing Academy Education Implementation of Kotabumi, Northern Lampung, 1999/2000 (Case Study)Nursing Clinical Practice (I) is one of active learning and practice for First Year students of Nursing Academy on Even Semester to have learning and testing of all cognitive abilities, communication and learned psychomotor skill an Laboratory and classrooms for all experiment fields from learning by doing ( direct learning ) to actual employment. Therefore, Nursing Clinical Practice is also an essence of all learning process in this institution and as measurement of educational management and successful level.
With this learning process, it is hope that later it will provide novice professional nurses that have higher skill level (qualified) and ready to employ in all medical service units in particular that related with nursing care.
However, the result of current existing reality that graduates of many health worker training and educational fields in Indonesia include nursing educational is quite worrying, its quality is still low especially for independency , accountability and competitive power, relation with that that, it is necessary to understand how does it really happens ?
In order to provide an actual description, objective of this study is to find out about Nursing Clinical Practice I management on Nursing Academy Educational implementation of Kotabumi, Northern Lampung, included performance planning and its evaluation Method that being used in this study is qualitative method, primary and secondary data that provided from Focused - Group Discussion, Deepening Interview with Director of Nursing Academy of Kotabumi, Head Department of Administration and File of Staff, Experiment Coordinator and counselor Team and chosen student groups. Moreover, these data are arranged into information and then to analyzed its assessment content, its objective is to analyze study result and to compare measurement or theories on reference review and for data validity used with data triangulation.
This study showed that performance of Nursing Clinical Practice on Nursing Academy Educational implementation of Kotabumi, Northern Lampung has not been functioned optimally, if it seen from planning , performance and evolution aspects. Based on these findings, it suggest that for of staff of Nursing Academy of Kotabumi can arrange job descriptions, working details, working plan, increasing cost, counseling management, continuing educational leveling for counselors to equip with tools and/or materials of experiment supporting, monitoring and evaluating of nursing clinical practice activities periodically and to increase role of related institutions and / or parties to reach and depend educational quality for graduates."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2001
T3365
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Naipospos, Nila
"Penyakit Tuberculosis (TB Paru), masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Tuberculosis merupakan penyebab kematian nomor 2 setelah penyakit cardiovasculer dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi. Di Kota Bogor telah dilaksanakan upaya-upaya untuk menunjang tercapainya Kebijakan operasional baru Pelita VI yang dimulai tahun 1995, tetapi masih ditemukan permasalahan-permasalahan dalam pencapaian target program pemberantasan TB Paru.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kinerja Puskesmas dalam program pemberantasan TB Paru di Kota Bogor tahun 2000. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan Cross- Sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian ini adalah 23 Puskesmas untuk mengukur faktor masukan, sedangkan untuk mengamati faktor proses dilakukan dengan Diskusi Kelompok Terarah pada 6 Puskesmas yang mempunyai kinerja baik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya fasilitas laboratorium dan dukungan dana amat diperlukan untuk menunjang keberhasilan Puskesmas dalam melaksanakan program pemberantasan TB Paru. Juga ditemukan bahwa proses pelaksanaan yang baik sesuai dengan protap program dapat diamati pada Puskesmas yang mempunyai kinerja baik mempunyai kegiatan yang innovatif dan pengendalian yang kuat pada setiap penderita TB Paru.
Melihat hasil penelitian maka disarankan untuk meningkatkan keberhasilan cakupan program, setiap Puskesmas dapat dilengkapi fasilitas laboratorium yang memadai, alokasi dan pemanfaatan dana yang optimal untuk program TB Paru serta pelaksanaan proses diharapkan sesuai dengan protap program.

Factors Related With Community Health Center Performance In National Lung TB Control In Bogor City 2001Tuberculosis disease (lung TB), still becomes public health problem. Tuberculosis stands as the second death cause after cardiovascular disease and as the first death cause in the group of infectious disease. In the city of Bogor there had some efforts to support the new operational policy of Pelita VI that had been applied since 1995. However, there are still some problems to achieve target of National lung TB control.
The goal of this research is to analyze the influence of factors that are related to the performance of community Heath Centre in National lung TB control in the city of Bogor. This research is a cross-sectional study design, which applies a Quantitative approach. To measure the incoming factors, twenty-three Community Health Centers has been taken as the samples of this research: and to analyze the process factors, Focus Group Discussion have been applied in six Community Health Centers which have good performance.
The result of this research shows that the existence of adequate laboratories facilities and provision financial support are needed to realize the success of National lung TB control. Furthermore, it could be analyzed that the good operational process happens in the Community Health Centers which have good performance; in those centers, they have innovative program and strong control towards every lung patient.
Analyzing the result of the research, it is suggested that to improve the scope of the successful program, every Community Health Centre need to be supported by adequate laboratory facilities, adequate financial budget allocation, optimum budget operation and appropriate performance of personal in applying the process of national lung TB control.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2001
T5222
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>