Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Afrizal
"Di Indonesia kanker payudara adalah kanker yang paling banyak ditemukan pada wanita setelah kanker rahim. Perkembangan pengobatan kanker payudara semakin pesat setelah ditemukannya reseptor hormon pada sel kanker dan penggunaan terapi hormonal seperti tamoksifen sebagai terapi adjuvan kanker payudara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui protokol pengobatan kanker payudara pada pasien yang mendapatkan tamoksifen dan untuk mengetahui kerasionalan penggunaan tamoksifen. Penelitian ini dilakukan melalui metode survei yang bersifat deskriptif dan pengumpulan datanya dilakukan secara retrospektif terhadap data rekam medik pasien kanker payudara periode bulan Januari 1999 sampai dengan bulan Maret 2004. Kriteria pasien yang dipilih adalah pasien yang mendapatkan tamoksifen dan memiliki data rekam medik yang jelas tentang kanker payudara yang diderita, dosis yang diberikan, lama penggunaan dan status reseptor estrogen dan reseptor progesteron (er/pr). Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakrasionalan penggunaan tamoksifen jika dilihat dari dosis, lama penggunaan dan status er/pr. Ada 1,45% pasien yang mendapatkan dosis yang tidak rasional, 97,10% yang lama penggunaan tamoksifennya tidak rasional dan 98,55% pasien yang status er/prnya tidak rasional. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan tamoksifen di Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo selama periode bulan Januari 1999 sampai bulan Maret 2004, tidak rasional."
Depok: Universitas Indonesia, 2005
S32778
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chasanatul Latifah
"Lactobacillus tergolong suatu probiotik Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Lactobacillus terhadap frekuensi dan lama diare, serta lamanya rawat inap pada penderita diare akut. Desain penelitian yang dilakukan adalah cross sectional dengan metode random stratified. Penelitian ini telah dilakukan di Departemen IKA,RSCM, periode September-Oktober 2006. Data pasien dikumpulkan dari rekam medik dan dianalisis dengan dengan menggunakan uji statistik chi square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata tidak ada hubungan yang bermakna antara pemberian Lactobacillus dengan frekuensi dan lama diare, serta lamanya rawat inap.
Lactobacillus classified as a probiotics. The purpose of this research is to know the influences of Lactobacillus to frequency, period of diarrhoea and duration of hospital stay for acute diarrhoea patient. The design of this research was Cross Sectional with stratified random method. The research had done in IKA Departement, RSCM during September-Oktober 2006. The data patients were collected from medical records and analysed by chi square statistical with confidence level 95%. The result showed that there was no correlation between Lactobacillus to frequency, period of diarrhoea and duration of hospital stay."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2007
S32984
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Dina Sintia Pamela
"Penggunaan antibiotika yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan dan keamanan pasien. Upaya untuk memaksimalkan penggunaan antibiotika yang rasional merupakan salah satu tanggung jawab apoteker. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas penggunaan antibiotika di ruang kelas 3 infeksi Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) RSCM dengan metode Gyssens dan mengevaluasi pengaruh intervensi apoteker dalam meningkatkan kualitas penggunaan antibiotika dan outcome terapi. Penelitian dilakukan secara prospektif selama periode Januari ? April 2011 dengan pendekatan deskriptif-korelatif. Rekomendasi diberikan kepada penulis resep terhadap masalah ketidaktepatan penggunaan antibiotika yang ditemukan. Penggunaan antibiotika di ruang Kelas 3 infeksi sebesar 78,82% dari 170 pasien. Evaluasi kualitatif dengan metode Gyssens mendapatkan bahwa penggunaan antibiotika yang rasional sebesar 60,4% sedangkan yang tidak rasional sebesar 39,6%. Lama rawat, asal ruangan pasien, jumlah obat dan jumlah antibiotika yang digunakan pasien berpengaruh terhadap kualitas penggunaan antibiotika. Intervensi meningkatkan ketepatan penggunaan antibiotika (0% menjadi 67,1%), menurunkan masalah waktu pemberian (32,9% menjadi 0%), ketidaktepatan dosis (27,4% menjadi 19,2%), ketidaktepatan lama pemberian (5,5% menjadi 2,7%), masalah pemilihan obat (32,9% menjadi 11%) dan masalah indikasi (1,4% menjadi 0%). Kualitas antibiotika yang tidak rasional dengan intervensi tidak begitu berbeda pengaruhnya terhadap outcome terapi dibandingkan tanpa intervensi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui intervensi apoteker dapat meningkatkan kualitas penggunaan antibiotika. Disarankan untuk meningkatkan kerjasama antar profesi kesehatan termasuk apoteker dan merevisi panduan penggunaan antibiotika di rumah sakit untuk meningkatkan penggunaan antibiotika yang rasional.

Inappropriate use of antibiotics lead problems in health and patient safety. Pharmacist has responsibility to improve approppriate antibiotic usage. This study was proposed to evaluate quality of antibiotics usage in Class 3 Infection Ward, Department of Child Health, Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital and to evaluate whether intervention of pharmacy can improve quality of antibiotics usage and therapy outcome. This is prospective study using descriptive-correlative approach from January to April 2011. Recomendations were given to prescribers to solve the problems of inappropriate antibiotics usage. A high proportion (78,82%) of 170 patient received antibiotics. Qualitative evaluation using Gyssens methode had result that about 60,4% antibiotic prescriptions were appropriate; and 39,6% were inappropriate. Length of stay, origin room, total medicine and total antibiotics used by patient have effect on quality antibiotics usage. Intervention of pharmacist improve appropriateness of antibiotics (from 0% to 67,1%), decrease timing problems (from 32,9% to 0%), dosage problems (from 27,4% to 19,2%), duration problems (from 5,5% to 2,7%), drug choice problems (from 32,9% to 11%) and indication problems (1,4% to 0%). Inappropriate used of antibiotics with intervention had no significant difference effect to outcome therapy compared with inappropriate used of antibiotics without intervention. From the result of study, it could be concluded that intervention of pharmacy can improve quality of antibiotics usage. Researcher suggests to improve teamwork of healthcare provider include pharmacy and to revise antibiotic usage guideline in order to improve approppriate antibiotic usage."
Depok: Universitas Indonesia, 2011
T29348
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library