Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 93 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rita Djunaidi
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1998
T40988
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fatimah Stevi Dianasari
"ABSTRAK
Alumunium mempunyai ketahanan korosi yang tinggi dan sifat konduktifitas yang baik. Tembaga juga merupakan logam yang mempunyai ketahanan korosi yang tinggi serta daya hantar yang baik, banyak digunakan pada komponen listrik. Karena sifat mekanik dari kedua logam tersebut baik maka digabungkanlah material tersebut dengan proses pengelesan friction stir welding, dimana FSW merupakan proses welding yang sangat ramah lingkungan, dan tidak memerlukan banyak energi panas. Untuk melihat hasil ketahan korosi pada kedua logam dilakukan pengujian polarisasi yang menghasilkan diagram tafel. Dan untuk melihat bagaimana struktur mikro pada hasil pengelasan dilakukan pengujian metalografi pada spesimen alumunium, tembaga, dan hasil lasan. Pada hasil laju korosi spesimen pengelasan didapatkan nilai laju korosi yang lebih tinggi daripada tembaga dan lebih rendah daripada nilai laju korosi alumunium.

ABSTRACT
Aluminum also has a high corrosion resistance and high conductivity. Copper is also a metal that has high corrosion resistance and good conductivity, cooper used in electrical components . Because of the mechanical properties of both metals are good then materials are joinning with friction stir welding methode, FSW is a welding process that eco-friendly and does not require a lot of heat energy . To view the resilience of corrosion in both metal testing Tafel polarization which generates diagrams . And to see how the microstructure at the weld Metallographic testing on specimens of aluminum , copper , and the welding part. On the results, corrosion rate on welding specimen has the corrosion rate values higher than the copper and lower than aluminum.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2015
S62547
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aisyah Nur Kumalasari
"ABSTRAK
Aluminium dan tembaga telah umum digunakan di industri, terutama industri elektronik. Namun biasanya penyambungan aluminium dan tembaga masih dilakukan dengan brazing ataupun cladding. Friction stir welding (FSW) menawarkan proses penyambungan dengan hasil yang lebih baik karena tidak terjadi perubahan mikrostruktur akibat panas dari pengelasan. Perbedaan geometri pin tool disinyalir akan memberikan perbedaan pada mikrostruktur dan sifat mekaniknya, maka Al 5052 dan pure wrought Cu disambung dengan FSW menggunakan geometri pin tool tapered cylindrical dan threaded cylindrical. Kemudian makro dan mikrostrukturnya diamati dengan mikroskop optik dan SEM, serta sifat mekaniknya diuji dengan pengujian tarik dan keras. Pada kedua hasil sambungan, di struktur mikronya terbentuk senyawa intermetalik Al-Cu dan struktur komposit. Berdasarkan sifat mekaniknya, secara umum dengan menggunakan pin tool tapered cylindrical akan menghasilkan sambungan yang lebih baik.

ABSTRACT
Aluminium and copper has been widely used in industry, especially in electronic industry. But mostly, the joining of Al-Cu is produced by brazing and cladding. Friction stir welding offer a newer and better joint because it doesn?t change the microstructure due to welding process heat. The difference of tool pin geometry will provide a differences in microstructure and mechanical properties of the joint, so 5052 series of Al and pure wrought Cu are joined by FSW process with tapered cylindrical and threaded cylindrical tool pin. Then its microstructure was observed with an optical microscope and SEM, as well as its mechanical properties are tested by tensile test and hardness test. The microstructure formed Al-Cu intermetallic compounds and composite structures. Based on its mechanical properties, generally the joint by using tapered cylindrical tool pin produces a better result.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S61918
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riyan Nuryanto
"Untuk mendapatkan kondisi regangan bidang pada uji tarik, modifikasi spesimen dilakukan. Modifikasi spesimen telah menunjukkan regangan minor yang bernilai nol untuk uji tarik yang dilakukan pada temperatur ruang sehingga kondisi regangan bidang dapat dicapai. Pengujian untuk kelayakan specimen dilanjutkan dengan melakukan uji tarik panas pada temperatur tinggi, untuk mengetahui apakah kondisi regangan bidang masih dapat dipertahankan pada temperatur tinggi. Material yang digunakan adalah baja HSLA ASTM A 572 grade 50. Selanjutnya, dilakukan pula pengamatan metalografi untuk mengamati perubahan mikrostruktur setelah uji tarik panas, yang dalam hal ini adalah ukuran butir ferrite. Hasilnya, untuk uji tarik panas yang dilakukan sampai 1,15 yield, kondisi regangan bidang dapat dipertahankan. Terkait dengan deformasi yang terjadi, didapat pula bahwa semakin besar reduksi ketebalan yang terjadi semakin halus butir ferrite.

Modification of spesimen have done to get plane strain condition in tensile test. Modification of the specimens has shown zero minor strain on tensile test conducted at room temperature. Feasibility study of specimens followed by hot tensile testing at high temperatures, to determine whether plane strain condition can be maintained at high temperatures. The material used is a HSLA steel ASTM A 572 grade 50. Furthermore, metallographic observation has been conducted to get microstructure after hot tensile test, which the scope is ferrite grain size. Results, on hot tensile test is carried out until 1,15 yield point, plane strain condition can be maintained. Related to the deformation, it has found that the greater thickness reduction the finer ferrite grains that formed."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S743
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Iswanto
"Material yang digunakan sebagai bahan struktural haruslah memiliki kekuatan luluh yang tinggi, kemampuan las yang baik dan kekuatan yang tinggi. Sehingga selama pemakaian dan perlakuan lainnya mampu berjalan maksimal. penelitian ini dilakukan agar kita dapat mengetahui sifat-sifat baja HSLA setelah perlakuan panas, seperti perubahan sifat mekanik dari material baja dan perubahan mikrostrukturnya. Baja HSLA direheating pada temperatur, waktu tahan dan media pendingin yang berbeda, yaitu 9000C dan 10000C, dengan tanpa waktu tahan dan waktu tahan 5, 20 dan 40 menit dengan menggunakan media pendingin air dan udara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu tahan maka austenit prior yang terbentuk akan semakin besar, dimana presentase bertambahnya ukuran butir austenit berada pada kisaran 9 sampai 11%. Sedangkan temperatur dan waktu tahan yang berbeda tidaklah berpengaruh terhadap ukuran butir ferit. Namun terjadi perbedaan atau perubahan pada baja sebelum dan sesudah reheating, namun hanya pada reheating 10000C saja, dimana ukuran butir ferit mengalami perbesaran sampai 25-35%. Sedangkan untuk kekerasan, proses reheating yang dilakukan tidaklah berpengaruh terhadap perubahan kekerasannya.

Material used in structural application should exhibit high yield strength, good weld ability and high strength, thus it can shows good performance during its applications. The aim of this research is to understand the properties of HSLA steels after heat treatment, such as changes in mechanical properties and microstructure. HSLA steel was reheated on different temperature, holding time and cooling medium, which were at 900oC and 1000oC, with no holding time and holding time 5, 20 and 40 minutes, and with water cooled and air cooled condition.
The results showed that the longer the holding time, the bigger the size of prior austenite formed where the percentage of increasing of austenite grain size is in range 9 to 11%. While different on temperature and holding time showed less effect in change of ferrite grain size. But there is such a difference or change in the HSLA steel before and after reheating, particularly when reheated at 1000oC, where the grain size of ferrite having a magnification up to 25-35%. Further, reheating process applied did not affect hardness of HSLA materials
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S906
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Candra Budi Kartika
"ABSTRAK
Emas merupakan salah satu logam berharga yang didapatkan melalui suatu proses ekstraksi dari bijih emas ataupun bahan lainnya. Zinc Precipitation atau pengendapan seng adalah salah satu metoda yang digunakan dalam ekstraksi khususnya ekstraksi emas, yaitu dengan menggunakan serbuk seng sebagai bahan pereduksi untuk mengendapakan ion emas dalam larutan sianida. Penggunaan serbuk seng sebagai bahan pereduksi karena memiliki nilai potensial yang lebih rendah dari emas dan juga kualitas pengembalian emas yang cukup baik. Tujuan pada penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan kemurnian serbuk seng yang pada ekstraksi
emas dengan menggunakan metoda pengendapan seng pada larutan emas sintetis 50 ppm. Proses zinc precipitation dilakukan dalam waktu 36 jam dalam kondisi terhomogenasi dan dalam sistem aerasi dan non aerasi.
Pengujian AAS dilakukan untuk mengetahui kualitas pengembalian emas (recovery). Pengujian XRD dilakukan untuk mengetahui komposisi senyawaan yang terkandung dalam serbuk seng yang terendapkan selama proses recovery, sedangkan uji SEM dilakukan untuk mengetahui struktur mikro pada serbuk seng dan juga sebarannya.
Hasil pengujian tersebut dihadirkan dalam bentuk diagram
Hasil pengujian AAS menunjukan bahwa recovery emas pada serbuk seng dengan kemurnian yang cukup tinggi tidak terlalu berpengaruh terhadap proses zinc precipitation. Kondisi optimal untuk proses recovery terdapat pada konsentrasi 500 ppm serbuk seng atau 10 kali dari konsentrasi emas. Pengujian dengan menggunakan metoda XRD menunjukan bahwa terdapat ion emas dan emas namun tidak memiliki
titik puncak yang tinggi, sedangkan hasil pengujian SEM menunjukan bahwa diperkirakan terdapat emas dalam serbuk seng.

ABSTRACT
Zinc precipitation is one of many method using in gold extraction, that is using zinc powder as reduction substance to precipitate gold ion in cyanide solution. The using of zinc powder as reduction is because it has a lower potential value than gold, and having quite good returning quality of gold. The purpose of this research is to find out the influence of concentration and purity of zinc powder in 50ppm synthetic gold solution. Zinc precipitation process conducted in 36 hours in homogenized condition and in aeration and non-aeration system.
AAS testing is conducted to tell the returning quality of gold (recovery). XRD testing conducted to tell the composition of compounds that be contained in zinc powder that precipitated throughout recovery process, whereas SEM testing conducted to tell
micro structure in zinc powder and its distributions. Testing result presented in diagram shape.
AAS testing result shows that gold recovery in quite high purity of zinc powder is not influential towards zinc precipitation process. Optimal condition in recovery process occurred at concentration 500ppm zinc powder or 10 times compared gold concentration. Testing using XRD method shows that gold is identified but didn't had stiff peak, whilst SEM testing result that gold be found in zinc powder."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S1454
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Hendra Oktawira
"ABSTRAK
Penerapan inspeksi berbasis resiko pada unit cracking heater merupakan
suatu langkah jitu dalam mencegah terjadinya kegagalan secara tiba-tiba akibat
korosi yang dapat menyebabkan kerugian. Hal ini dikarenakan unit cracking
heater merupakan unit yang sangat vital di dalam kegiatan operasional pada
industri petrokimia sehingga perlu dibuat skala resikonya.
Penelitian bertujuan untuk membuat suatu analisa probabilitas kegagalan
dan konsekuensi kegagalan dengan menggunakan sistem inspeksi berbasis resiko
(Risk-Based Inspection) dengan bantuan perangkat lunak pada unit cracking
heater, khususnya pada circuit piping yang menuju cracking heater pada pabrik
etilena yang telah beroperasi bertahun-tahun, sehingga dapat diperoleh peringkat
resikonya dan untuk dapat memberikan jadwal inspeksi dan metode inspeksi di
masa yang akan datang.
Risk-Based Inspection merupakan metode inspeksi yang menggunakan
resiko sebagai dasar untuk memprioritaskan dan mengatur kegiatan di dalam
program inspeksi. Resiko dapat didefinisikan sebagai kombinasi probabilitas dan
konsekuensi. Probabilitas adalah kemungkinan kegagalan untuk terjadi, dan
konsekuensi adalah ukuran kerusakan yang dapat terjadi sebagai hasil dari
kegagalan.
Hasil assessment terhadap circuit piping CL01A menunjukkan bahwa
mekanisme degradasi yang terjadi adalah aerated-water corrosion dan flowinduced
corrosion. Pipa tersebut memiliki tingkat probabilitas kegagalan medium.
Penilaian terhadap konsekuensi kegagalan yang mencakup beberapa tinjauan,
seperti kerugian ekonomi, efek terhadap kesehatan dan keselamatan dan dampak
terhadap lingkungan memberikan peringkat resiko medium. Peringkat resiko total
pada circuit piping CL01A adalah medium-high dan dengan tingkat kepercayaan
high, maka akan menghasilkan interval faktor sebesar 0,4. Interval inspeksi
maksimum atau maximum inspection interval (MII) yang merupakan hasil
perkalian antara sisa umur pakai (remnant life) dan interval faktor memberikan
nilai 5,16 tahun, sehingga jadwa inspeksi berikutnya adalah pada tahun 2016. Inspeksi dilakukan secara non instrusive dengan uji tidak merusak dengan
menggunakan teknik ultrasonic thickness (UT) dan visual pada titik eksternal
pipa. Selain itu, teknik inspeksi yang cukup aplikatif untuk memantau proses
penipisan adalah dengan radiografi (RT). Resiko dapat direduksi dengan
menggunakan sistem yang dapat menghilangkan atau mengurangi kandungan air,
yang bertujuan untuk mengurangi probabilitas kegagalan, sehingga nafta yang
masuk ke dalam aliran proses dapat diminimalisasi.

Abstract
Application of risk-based inspection in unit of cracking heater is a
recommended method to avoid sudden failure which may cause losses as the
result of corrosion process. Unit of cracking heater is a vital unit in petrochemical
industry so that it is required to determine its risk-rank.
The purpose of this study is to make probability of failure and
consequence of failure assessment by using risk-based inspection system
supported by software which is applied to the unit of cracking heater that focuses
on circuit piping located before entering the cracking heater in the ethylene plant
which has been operating for years so that risk-rank can be determined properly.
Furthermore, inspection schedule and inspection method can be fixed based on the
risk-rank. Evaluation to reduce risk is also established by applying system which
may be able to remove or reduce water content in the process flow.
Risk-based inspection is an inspection method which is applying risk as a
base to obtain priority scale in inspection activity. Risk can be defined as the
combination of probability failure and consequence of failure. Probability is a
measure of failure to occur, and consequence is desribed as the measure of
damage which may occur as the result of failure.
Assessment result of circuit piping CL01A shows that degradation
mechanism which may occur in CL01A piping is aerated-water corrosion and
flow-induced corrosion. Probability of failure assessment gives result medium.
Assessment of consequence of failure which is considering some aspect including
economic cost, health and safety effect and environment impact shows medium
risk-rank. Total risk-rank of circuit piping CL01A is medium-high and its
confidence rating is high so that the obtained interval factor is 0,4. Maximum
inspection interval (MII) as the result of multiplication of remnant life with
interval factor gives value 5,16 years. Based on the result, then, next inspection
date will be performed in 2016. Inspection is carried out intrusively by non
destructive test method using ultrasonic thickness test (UT) and visual test on the
eksternal location of the pipe. Radiography as the additional method is also be able to be applied to monitor thinning mechanism. Risk can be minimized by
applying system which may eliminate or reduce water content in the process
stream so that probability of failure can be reduced."
2011
T 29885
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Brian Hermawan
"ABSTRAK
Dalam beberapa kondisi lingkungan kerja atau fabrikasi, pengelasan harus
dilakukan dengan posisi yang berbeda-beda. Posisi pengelasan yang dimaksud
adalah pengelasan dengan posisi datar (flat welding, 1G), horizontal (horizontal
welding, 2G), dan vertikal (vertical up, 3G). Tiap posisi pengelasan memiliki
tingkat kesulitan tertentu khususnya karena pengaruh gravitasi pada kolam cairan
las maupun saat transfer material pengisi las dapat mempengaruhi masukan panas
yang dihasilkan. Demikian juga dengan ketebalan material yang di las dapat
bervariasi sesuai dengan kebutuhan desain, yang juga mempengaruhi kecepatan
pendinginan hasil las-lasan. Pada penelitian ini material yang disambung adalah
carbon steel A36 dan stainless steel 304 dengan menggunakan metode pengelasan
GTAW dengan filler ER 309L, kemudian dilakukan pengujian mekanis berupa uji
kekerasan, tarik, dan tekuk untuk mengetahui kualitas dari hasil sambungan las
logam yang berbeda tesebut. Dari hasil pengujian mekanis tersebut didapatkan
kualitas kekuatan tarik dan tekuk dari sambungan las yang dihasilkan cukup baik.
Sementara pada pengujian kekerasan didapatkan hasil kekerasan tertinggi pada
daerah HAZ stainless steel, hal ini akibat adanya endapan karbida khrom di batas
butir HAZ stainless steel. Sementara pada sisi logam carbon steel juga didapat
nilai kekerasan yang meningkat pada bagian HAZ nya, dikarenakan adanya
penghalusan butir dimana ukuran butir yang lebih kecil dan halus memilki nilai
kekerasan yang lebih tinggi. Banyaknya endapan karbida khrom dan kehalusan
butir yang terbentuk dipengaruhi oleh kecepatan pendinginan dan masukan panas
yang dihasilkan. Pada pengamatan struktur mikro hasil sambungan las ternyata
dihasilkan struktur mikro pada kolam las nya berupa struktur ferrite pearlite dan
austenite.

Abstract
In some work environments or conditions of fabrication, welding should
be done in different positions. The meaning of position welding in this study is the
welding of a flat position (flat welding, 1G), horizontal (horizontal welding, 2G)
and vertical (vertical up, 3G). Each position has a certain degree of difficulty of
welding, especially because of the influence of gravity on the liquid weld pool and
weld filler material transfer can affect the heat input. Likewise, the thickness of
material welded can be varied in accordance with design requirements, which
also affects the cooling rate of weld metal. In this study the material that have
joined is carbon steel A36 and stainless steel 304 using GTAW welding method
and ER 309L filler, then performed the mechanical testing of hardness, tensile,
and bending to know the quality of the welded joints of different metals. From the
mechanical test results obtained tensile strength and bending quality of welded
joints produced good enough. While the hardness testing results obtained was the
highest hardness in the HAZ stainless steel area, this is due to chromium carbide
precipitation at grain boundaries in stainless steel HAZ. While on the carbon steel
side also increased hardness values obtained in the HAZ, due to the refinement of
grain where the grain size is smaller and smoother have the higher hardness
values. The amount of chromium carbide precipitate and grain refinement formed
influenced by the cooling rate and heat input was generated. Observation of the
microstructure on the welded joints were generated structure of ferrite pearlite
and austenite in the microstructure of weld pool."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43560
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Hanna Zakiyya
"ABSTRAK
Penggunaan baja tahan korosi cuaca pada aplikasi struktural tidak lepas dari proses penyambungan terutama pengelasan. Tesis ini membahas perubahan sifat ketahanan korosi cuaca akibat aplikasi pengelasan. Penelitian dilakukan menggunakan pengujian sembur garam dan polarisasi terhadap material yang telah dilas dengan metode GTAW. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah lebur memiliki laju korosi paling tinggi. Daerah ini juga memiliki potensial korosi yang paling negatif diikuti oleh daerah terpengaruh panas dan logam induk. Hal ini memungkinkan terjadinya efek galvanis pada saat material terekspos lingkungan. Peningkatan masukan panas memperlihatkan ferit Widmastatten yang lebih dominan. Ferit Widmanstatten dapat mempercepat terjadinya reaksi katodik. Pada percobaan peningkatan laju reaksi katodik diperlihatkan oleh pergeseran kurva polarisasi menjadi lebih negatif. Namun demikian, pengamatan visual pada pengujian sembur garam tidak memperlihatkan perbedaan produk korosi pada material yang dilas. Peningkatan masukan panas menyebabkan pergeseran potensial korosi kearah yang lebih negatif. Sebaliknya, rapat arus korosi mengalami penurunan akibat peningkatan masukan panas.
ABSTRACT
The used of Weathering steel on structural demand has increased by its superior weathering performance. Join method, especially welding is often used for maintaining structural application. So that, this research take a focus on examining the corrosion performance change of weathering steel (BTKC A) by welding (GTAW) application. Salt spray test and polarization has been used for performance examination. The result showed slightly corrosion potential different of weathering material by heat input change. However, welding pool had more negative corrosion potential than heat affected zone and base metal. So do its current density. The more negative corrosion potential means the more anodic surface. It may be galvanic effect take place on this bulk surface, due to large cathode and narrow anode on material surface. The review on the microstructure, showed that the higher heat input the more dominant Widmanstatten ferrite on the structure. Widmanstatten was known as the cathodic reaction speed trigger. It was proofed by the change of the polarization curve to be more negative by the increasing of heat input. There was no visual different on corrosion product of weld area, but the variation of exposure showed the different product. It must be conclude that the higher heat input, the more negative corrosion potential of the metal."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
T35318
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syarief Hasan Lutfie
"ABSTRAK
Teknik penyambungan material pada logam terus dikembangkan untuk
meningkatkan kualitas dan ketahanannya pada penggunaan di beberapa
lingkungan. Penyambungan material dengan metode GTAW arus konstan telah
digunakan secara luas pada banyak industri. GTAW arus berpulsa kemudian hadir
dengan kelebihannya menghasilkan kualitas daerah sambungan yang lebih baik
daripada GTAW konvensional. Pada pengelasan GTAW arus berpulsa
menghasilkan struktur mikro dengan ukuran butir yang lebih halus dengan heat
input yang lebih rendah. Bentuk, distribusi dan ukuran butir yang dihasilkan
mempengaruhi sifat mekanis dan ketahanan korosi dari suatu material. Pada
penelitian yang dilakukan, diamati pengaruh parameter pada GTAW arus berpulsa
daerah lasan commercially pure titanium grade 2 terhadap laju korosi pada
lingkungan H2SO4 1M. Variabel parameter yang digunakan yaitu arus puncak
sebesar 60 A, 70 A, dan 80 A dengan pulse on time 40%, 50%, dan 60%. Hasil
pengelasan dilakukan karakterisasi sifat mekanis, kimia, dan ketahanan korosi.
Fasa yang terbentuk adalah fasa α, β dan partikel TiH. Kekerasan tertinggi
mencapai 329 HV pada daerah fusion zone dengan arus puncak 80 A dan pulse on
time 60%. Laju korosi meningkat seiring dengan meningkatnya arus puncak dan
pulse on time.

ABSTRACT
Metal welding technique continue to be developed for better quality and
recistance for any environment. Constant current GTAW method was used widely
in many industry. Advantage of pulsed current welding reported produce better
weld zone than constant current GTAW. Pulsed current GTAW produced finer
grain size and lower heat input. Grain shape, distribution dan size on material can
effected in mechanical properties and corrosion resistance. An attempt of
investigation has been made to study the effect of pulsed current GTAW
parameters on corrosion resistance of commercially pure titanium grade 2 weld
zone in H2SO4 1M solution. Variable welding parameter used in the experiment
was the number of peak current 60 A, 70 A, and 80 A with pulse on time 40%,
50%, and 60%. Several characterization was performed such as hardness,
chemical composition and corrosion resistance. Phase and microstructure formed
α, β phase and TiH particle. Highest hardness achieved is 329 HV on fusion zone
at 80 A peak current and 60% pulse on time. Corrosion rate increased with the
increase of peak current and pulse on time."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S57570
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>