Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 53 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Lathifah Novanti Putri
"Digitalisasi merupakan salah satu bentuk perubahan yang mendukung industri 4.0, dimana digitalisasi adalah bentuk proses perubahan dari media analog ke media digital. Digitalisasi akan sangat membantu proses perpindahan data, pengawasan data, serta mendapatkan berbagai informasi hanya melalui internet dengan suatu akses yang mudah. Oleh karena itu, Departemen Quality Control (QC) PT Bintang Toedjoe Cikarang mengembangkan suatu aplikasi berbasis komputer yaitu QC Cikarang Apps. Berdasarkan peraturan CPOB Tahun 2018 Aneks 7 Tentang Sistem Komputerisasi, dimana sistem komputerisasi menjadi suatu kewajiban untuk divalidasi. Validasi sistem komputer meliputi beberapa proses pengujian atau kualifikasi sistem komputerisasi yang harus dipenuhi oleh suatu industri farmasi. Kegiatan validasi sistem komputer sangat penting untuk dilakukan karena dapat membantu memastikan bahwa suatu sistem komputer berjalan akurat, aman, serta semua informasi dan data yang tersimpan memenuhi prinsip data integrity yaitu, Attributable (dapat mewakili), Legible (terbaca), Contemporaneous (secara bersamaan), Original (asli), dan Accurate (akurat) atau disingkat menjadi ALCOA. Penelitian ini dilakukan dengan pengujian langsung dan pembuatan Spesifikasi Kebutuhan Pengguna, protokol dan laporan Kualifikasi Instalasi (KI) dan Kualifikasi Operasional (KO). Hasil dari penelitian ini adalah aplikasi QC Cikarang Apps sudah sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan berdasarkan beberapa proses pengujian atau kualifikasi sistem komputerisasi. Aplikasi QC Cikarang Apps telah menerapkan prinsip CPOB dan CPOTB Tentang Sistem Komputerisasi dan Dokumentasi serta prinsip data integrity (ALCOA requirements).

Digitalization is a form of change that supports Industry 4.0, where digitalization represents the transition from analog to digital media. Digitalization greatly aids in data transfer, data monitoring, and obtaining various information easily via the internet. Therefore, the Quality Control (QC) Department of PT Bintang Toedjoe Cikarang developed a computer-based application called QC Cikarang Apps. According to the 2018 GMP regulation Annex 7 on Computerized Systems, computerized systems must be validated. Computer system validation includes several testing or qualification processes that must be met by a pharmaceutical industry. Validating computer systems is crucial as it ensures the system operates accurately and securely, and that all stored information and data meet the principles of data integrity, which are Attributable, Legible, Contemporaneous, Original, and Accurate (ALCOA). This research was conducted through direct testing and the creation of User Requirement Specifications, Installation Qualification (IQ) protocol and report, and Operational Qualification (OQ) protocol and report. The results of this research show that the QC Cikarang Apps application complies with the specified requirements based on various computer system qualification processes. The QC Cikarang Apps application adheres to the GMP and GMP guidelines on Computerized Systems and Documentation and the principles of data integrity (ALCOA requirements).
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Lathifah Novanti Putri
"Polifarmasi merupakan suatu kejadian penggunaan lima obat atau lebih oleh seorang pasien secara bersamaan. Kondisi polifarmasi umumnya ditemukan pada populasi lansia dengan penyakit kronis. Dari beberapa penyakit kronis, hipertensi merupakan penyakit kronis yang paling banyak ditemukan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Hipertensi adalah sindrom atau kumpulan gejala kardiovaskuler yang progresif dan ditandai dengan adanya peningkatan tekanan darah diatas 140/90 mmHg. Polifarmasi yang tepat membutuhkan peresepan obat secara tepat dan cermat, sehingga pasien dapat menunjukkan outcome klinis yang baik. Oleh karena itu, diperlukan sebuah proses identifikasi resep polifarmasi melalui kegiatan pengkajian resep di fasilitas pelayanan kesehatan. Pengkajian resep merupakan salah satu bentuk pelayanan kefarmasian di apotek. Kegiatan pengkajian resep meliputi kajian administratif, kesesuaian farmasetik dan pertimbangan klinis. Pengkajian atau skrining resep merupakan salah satu kegiatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mencegah, dan mengatasi kesalahan pengobatan (medication error) atau Drug Related Problem (DRP). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengkaji resep polifarmasi pada pasien dengan di Apotek Roxy Poltangan September 2023. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan observasi dan analisa resep polifarmasi yang didalamnya tercantum obat hipertensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara aspek pengkajian administratif, farmasetik, dan klinis pada resep sudah cukup baik akan tetapi ditemukan DRP pada aspek keamanan terapi dikarenakan terdapat kombinasi pengobatan yang kurang tepat yakni simvastatin dan amlodipin.

Polypharmacy is the simultaneous use of five or more medications by a patient. This condition is commonly found in the elderly population with chronic diseases. Among various chronic diseases, hypertension is the most prevalent in all healthcare facilities. Hypertension is a syndrome or a progressive cardiovascular condition characterized by elevated blood pressure above 140/90 mmHg. Appropriate polypharmacy requires precise and careful medication prescription so that patients can achieve good clinical outcomes. Therefore, a process of identifying polypharmacy prescriptions through prescription assessment activities in healthcare facilities is necessary. Prescription assessment is a form of pharmaceutical service in pharmacies. The activities involved in prescription assessment include administrative review, pharmaceutical suitability, and clinical considerations. Prescription assessment or screening aims to identify, prevent, and address medication errors (medication errors) or Drug Related Problems (DRP). The purpose of this study is to identify and assess polypharmacy prescriptions in patients with hypertension at Roxy Poltangan Pharmacy in September 2023. The method used in this study involves observation and analysis of polypharmacy prescriptions that include hypertension medications. The results of this study indicate that in terms of administrative, pharmaceutical, and clinical aspects, the prescriptions were quite good; however, a DRP was found in the therapeutic safety aspect due to an inappropriate drug combination of simvastatin and amlodipine.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sarah Farsya Nurulnisa
"Beras merah diketahui memiliki senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan yang baik. Senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan tersebut juga berpotensi untuk menghambat aktivitas elastase dalam penuaan kulit. Fermentasi diketahui dapat memperkaya senyawa aktif dalam tumbuhan, sehingga aktivitas antioksidan dan anti kerutan tumbuhan dapat meningkat. Terdapat sebuah pengolahan makanan dengan proses fermentasi yang telah dilakukan oleh masyarakat Indonesia secara turun temurun, yaitu tapai. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan penghambatan aktivitas elastase beras merah yang difermentasi dengan ragi tapai. Fermentasi beras merah dilakukan dengan menggunakan 1%, 5%, dan 9% ragi tapai dan dilakukan pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH pada ekstrak hasil fermentasi tersebut. Kemudian dilakukan penghambatan aktivitas enzim elastase, penetapan kadar fenol total, dan penapisan fitokimia pada ekstrak dengan nilai IC50 terendah. Ekstrak yang memiliki aktivitas antioksidan DPPH yang paling tinggi adalah ekstrak fermentasi dengan ragi 5% (IC50 1550,39 µg/mL), lalu fermentasi dengan ragi 1% (2243,35 µg/mL), dan fermentasi dengan ragi 9% (2990,46 µg/mL). Kadar fenol total ekstrak fermentasi beras merah dengan ragi tapai 5% adalah 4,01±0,06 mg GAE/g sampel, senyawa yang teridentifikasi pada penapisan adalah terpenoid dan glikosida, dan nilai IC50 dari uji antielastase ekstrak adalah 8847,41 µg/mL. Oleh karena itu, ekstrak fermentasi beras merah tidak memiliki aktivitas antioksidan dan ekstrak fermentasi beras merah dengan ragi tapai 5% memiliki kadar fenol total yang rendah dan aktivitas antielastase yang tidak baik.

Red rice is known to have high phenolic content and good antioxidant activity. Phenolic compounds and antioxidant activity also have the potential to inhibit elastase activity in skin aging. Fermentation is known to enrich active compounds in plants, and that may increase the antioxidant and anti-wrinkle activity of plants. There is a type of food that is made using fermentation that has been passed down by Indonesian people for generations, namely tapai. Therefore, this research was aimed to find out the antioxidant activity and elastase inhibition of red rice that was fermented with tapai yeast. Fermentation of red rice was made using tapai yeast in the concentration of 1%, 5%, and 9%. The result of the fermentation was extracted and the antioxidant activity of each extract was tested with DPPH method. Inhibition of elastase enzyme activity assay, determination of total phenolic content, and phytochemical screening is done to the extract with the lowest IC50 value. The extract that had the highest DPPH antioxidant activity was the extract of red rice fermented with 5% tapai yeast (IC50 1550.39 µg/mL), followed by 1% tapai yeast (IC50 2243,35 µg/mL) and 9% tapai yeast (IC50 2990,46 µg/mL). The total phenolic content of the extract was 4.01 ± 0.06 mg GAE/g sample, the compounds identified in the screening were terpenoids and glycosides, and the IC50 value of the extract’s antielastase assay was 8847.41 µg/mL. Therefore, the extract of red rice fermented with 1%, 5%, and 9% tapai yeast does not have antioxidant activity and the extract of red rice fermented with 5% tapai yeast has low phenolic content and the antielastase activity is not good."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anfa Adnia Fatma
"Industri farmasi melakukan pelatihan untuk memiliki personil yang terkualifikasi dan kompeten dalam bidangnya. Personil merupakan salah satu aspek dalam penerapan Good Laboratory Practice (GLP) yang perlu diperhatikan, hal ini dikarenakan dalam pengujian di laboratorium yang menerapkan GLP, data hasil pengujian harus valid dan dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun secara hukum, dimana data pengujian ini berikatan erat dengan personil laboratorium. salah satu cara untuk meningkatkan kualitas personil dengan diberikan pelatihan sebagai penunjang kegiatan yang dilakukan di dalam laboratorium, salah satunya dengan memberikan pelatihan peralatan (training instrument) sebagai bentuk refreshment yang tidak hanya difokuskan pada penekanan langkah/prosedur kerja suatu instrument, namun juga basic knowledge yang harus dipahami oleh personil laboratorium. Pelatihan dilakukan dengan pemberian materi berupa powerpoint dengan pengumpulan data dalam pembuatan training instrument berdasarkan dari penelusuran literatur (studi pustaka), Standar Operating Procedure (SOP), Analytical Procedure, dan wawancara dengan personil laboratorium. Materi training ini bertujuan agar personil laboratorium dapat memahami tujuan dan proses dari instrument yang digunakan serta mencegah terjadinya rework akibat error yang dihasilkan sehingga diharapkan mampu menganalisa bagaimana penyelesaiannya. Evaluasi yang dilakukan dalam menentukan keberhasilan dalam training ini adalah dengan mengukur kualifikasi personil menggunakan pre-test sebelum diberikan training serta post-test pada akhir dari training untuk mengetahui tingkat pemahaman personil terhadap materi yang diberikan oleh trainer. Indikator keberhasilan adalah adanya peningkatan nilai post-test dibandingkan dengan nilai pre-test. Personil yang nantinya dievaluasi dan mendapatkan nilai baik dapat dinyatakan bahwa aspek pelatihan peralatan menunjukkan hasil signifikan dalam peningkatan kompetensi dan kualitas dari personil sehingga dalam pengujian mutu produk akan meminimalisir terjadinya kesalahan.

The pharmaceutical industry carries out training to have personnel who are qualified and competent in their field. Personnel is one aspect of implementing Good Laboratory Practice (GLP) that needs to be considered, this is because in testing in laboratories that implement GLP, the test result data must be valid and can be accounted for both scientifically and legally, where this test data is closely related to laboratory personnel. One way to improve the quality of personnel is by providing training to support activities carried out in the laboratory, one of which is by providing equipment training (instrument training) as a form of refreshment which is not only focused on emphasizing the work steps/procedures of an instrument, but also the basic knowledge needed. must be understood by laboratory personnel. Training is carried out by providing material in the form of PowerPoint with data collection in making training instruments based on literature searches (library studies), Standard Operating Procedures (SOP), Analytical Procedures, and interviews with laboratory personnel. This training material aims to enable laboratory personnel to understand the purpose and process of the instruments used and to prevent rework due to errors produced so that they are expected to be able to analyze how to solve them. The evaluation carried out to determine success in this training is by measuring the qualifications of personnel using a pre-test before being given the training and a post-test at the end of the training to determine the level of personnel understanding of the material provided by the trainer. The indicator of success is an increase in the post-test score compared to the pre-test score. Personnel who will later be evaluated and get good grades can state that the equipment training aspect shows significant results in increasing the competency and quality of personnel so that in product quality testing the occurrence of errors will be minimized.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nariyah Azzahra
"Indonesia merupakan negara tropis sehingga memungkinkan tumbuhnya berbagai mikroorganisme, salah satunya jamur. Jamur dapat mengakibatkan berbagai penyakit infeksi. Oleh karena itu diperlukan suatu media yang dapat digunakan untuk studi mikrobiologi (Jiwintarum, 2017). Terdapat tiga jenis media yang digunakan untuk pertumbuhan jamur, yaitu media alami, media semi sintetik, dan media sintetik. Salah satu media sintetik untuk pertumbuhan jamur adalah Sabouraud Dextrose Agar (SDA). Pembuatan suatu media diperlukan analisis dari uji pengendalian mutu untuk menjamin bahwa suatu media dapat menjadi tempat pembenihan mikroba yang subur. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan cara mengumpulkan dan mengambil data dari batch record dan laporan validasi proses media SDA SA000-0323002, SA000-0423004, SA000-0523005. Kemudian dianalisis terkait uji pengendalian mutunya yang terdiri dari Uji In House Method, Uji GPT dan Uji Sterilitas. Berdasarkan analisis hasil uji pengendalian mutu yang terdiri dari uji visual, uji pengisian volume, uji pH, uji Growth Promotion Test (GPT) dan uji sterilitas memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan serta media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) tersebut bisa digunakan untuk menumbuhkan jamur.

Indonesia is a tropical country so it allows the growth of various microorganisms, one of which is fungi. Fungi can cause various infectious diseases. Therefore, a medium is needed that can be used for microbiology studies (Jiwintarum, 2017). There are three types of media used for fungal growth, namely natural media, semisynthetic media, and synthetic media. One synthetic medium for fungal growth is Sabouraud Dextrose Agar (SDA). Making a media requires analysis of quality control tests to ensure that a media can become a fertile breeding ground for microbes. This research was conducted retrospectively by collecting and retrieving data from batch records and SDA media process validation reports SA000-0323002, SA000-0423004, SA000-0523005. Then it is analyzed regarding the quality control test which consists of the In House Method Test, GPT Test and Sterility Test. Based on the analysis of the results of quality control tests consisting of visual tests, volume filling tests, pH tests, Growth Promotion Tests (GPT) and sterility tests that meet the specified specifications and the Sabouraud Dextrose Agar (SDA) media can be used to grow mushrooms.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nariyah Azzahra
"Distribusi obat harus memenuhi aspek yang tercantum pada Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) agat obat dapat ditangani dengan baik untuk menghindari kerusakan atau penyalahgunaan obat. Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Obat-obat Tertentu (OOT) merupakan produk obat yang dapat menyebabkan kecanduan sehingga berpotensi tinggi untuk disalahgunakan diluar tujuan medis. Diperlukan juga adanya dokumentasi, pencatatan dan pelaporan yang berfungsi untuk memonitor transaksi sediaan farmasi yang keluar dan masuk di PBF. Adanya dokumentasi, pencatatan, dan pelaporan dapat memudahkan dalam melakukan penelusuran bila terjadi adanya mutu sediaan dan harus ditarik dari peredaran. Berdasarkan penjelasan di atas, penulis akan membahas tentang Implentasi Standar Operasional Prosedur (SOP) dokumentasi, pencatatan, dan pelaporan obat narkotika, psikotropika, prekursor dan OOT di PT Kimia Farma Trading and Distribution Jakarta 2 dengan metode observasi dan wawancara kepada Apoteker Penanggung Jawab dan Petugas. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) dokumentasi, pencatatan, dan pelaporan narkotika, psikotropika, prekursor dan OOT di PT Kimia Farma Trading & Distribution (KFTD) Jakarta 2 telah memenuhi standar Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dan telah dilaksanakan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.

Medicine distribution must fulfill the aspects listed in Good Medicine Distribution Practices (CDOB) so that medicines can be handled properly to avoid damage or misuse of medicines. Narcotics, Psychotropics, Precursors and Certain Drugs (OOT) are medicinal products that can cause addiction so they have a high potential for abuse for other than medical purposes. There is also a need for documentation, recording and reporting which functions to monitor transactions of pharmaceutical preparations coming in and out of the PBF. The existence of documentation, recording and reporting can make it easier to carry out investigations if there is a problem with the quality of the preparation and it must be withdrawn from circulation. Based on the explanation above, the author will discuss the implementation of Standard Operating Procedures (SOP) for documentation, recording and reporting of narcotic drugs, psychotropics, precursors and OOT at PT Kimia Farma Trading and Distribution Jakarta 2 using observation and interview methods with Responsible Pharmacists and Officers. . Based on the results of observations and analysis of the implementation of Standard Operating Procedures (SOP), documentation, recording and reporting of narcotics, psychotropics, precursors and OOT at PT Kimia Farma Trading & Distribution (KFTD) Jakarta 2 has met the standards for Good Drug Distribution Methods (CDOB) and has carried out in accordance with applicable Standard Operating Procedures (SOP).
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Anfa Adnia Fatma
"Meningkatnya kejadian interaksi obat pada pola peresepan dapat disebabkan banyaknya obat yang sering digunakan / polifarmasi. Polifarmasi dapat menimbulkan risiko yaitu terjadinya interaksi obat. Interaksi obat dapat menyebabkan beberapa hal seperti penurunan efek terapi, peningkatan toksisitas atau efek farmakologis yang tidak diharapkan. Pengumpulan data didasarkan pada resep rawat jalan dengan skrining 50 resep polifarmasi yang kemudian dipilih resep polifarmasi pada pasien dengan diagnosa penyakit kardiovaskuler. Resep polifarmasi tersebut diidentifikasi melalui studi pustaka menggunakan pustaka drug interaction checker seperti Stockley’s Drug Interaction, Lexicomp Drug Interactions, Medscape, dan Drugs.com. Peresepan polifarmasi dari 3 resep menunjukkan pada R1 potensi interaksi obat pada kategori minor, pada R2 potensi interaksi obat yaitu kategori mayor dan R3 potensi interaksi obat yaitu kategori minor sebanyak 1 dan kategori moderate sebanyak 4, dengan setiap resep memiliki beberapa efek samping yang perlu diperhatikan. Langkah untuk meminimalkan interaksi obat dan efek samping yang mungkin terjadi yaitu dengan menghindari penggunaan obat secara bersamaan yang memiliki potensi menimbulkan interaksi, memberikan jeda penggunaan obat 2 jam, serta melakukan monitoring gejala klinis atau data laboratorium pasien terkait efek dari penggunaan obat.

The increasing incidence of drug interactions in prescribing patterns can be caused by the large number of drugs frequently used / polypharmacy. Polypharmacy can pose a risk, namely drug interactions. Drug interactions can cause several things such as decreased therapeutic effect, increased toxicity or unexpected pharmacological effects. Data collection was based on outpatient prescriptions by screening 50 polypharmacy prescriptions which then selected polypharmacy prescriptions in patients diagnosed with cardiovascular disease. These polypharmacy prescriptions were identified through literature studies using drug interaction checker libraries such as Stockley's Drug Interaction, Lexicomp Drug Interactions, Medscape, and Drugs.com. Prescribing polypharmacy from 3 prescriptions shows that in R1 the potential for drug interactions is in the minor category, in R2 the potential for drug interactions is in the major category and in R3 the potential for drug interactions is in the minor category of 1 and the moderate category is 4, with each prescription having several side effects that need to be taken into account. Steps to minimize drug interactions and side effects that may occur are by avoiding simultaneous use of drugs that have the potential to cause interactions, giving a 2 hour break from drug use, and monitoring the patient's clinical symptoms or laboratory data regarding the effects of drug use.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Anfa Adnia Fatma
"Pedagang Besar Farmasi (PBF) dalam melaksanakan pengadaan, penerimaan, penyimpanan hingga pengiriman suatu produk farmasi diatur dalam CDOB. Sebuah PBF dalam menerapkan CDOB juga harus memiliki sistem manajemen yang baik yang ditunjang dengan adanya Standar Operasional Prosedur (SOP), sumber daya manusia yang kompeten dan sistem pendokumentasian yang baik. Data diambil berdasarkan dari SOP, observasi lapangan terkait proses pengadaan, penerimaan, penyimpanan hingga pengiriman dan melakukan wawancara pada pihak yanng bertanggung jawab pada area tersebut. Pada pelaksanaan proses pengadaan penerimaan, penyimpanan hingga pengiriman telah cukup sesuai dengan SOP yang diberlakukan oleh perusahaan, serta hal tersebut sesuai dengan pedoman Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). Pada proses penanganan produk vaksin, setiap personil telah memahami tanggung jawab dalam penanganannya serta memahami bagaimana cara menjaga mutu dari obat yang didistribusikan, salah satunya yaitu menjaga produk vaksin / CCP untuk disimpan pada suhu 2-8°C dengan disertakan termometer.

Pharmaceutical Wholesalers (PBF) in carrying out procurement, receipt, storage and delivery of pharmaceutical products are regulated in the CDOB. A PBF in implementing CDOB must also have a good management system which is supported by Standard Operating Procedures (SOP), competent human resources and a good documentation system. Data was taken based on SOPs, field observations related to the procurement, receiving, storage and delivery processes and conducting interviews with parties responsible for the area. The implementation of the procurement process for receiving, storing and shipping is in accordance with the SOPs implemented by the company, and this is in accordance with the guidelines for Good Medicine Distribution Methods (CDOB). In the process of handling vaccine products, each personnel understands the responsibilities in handling them and understands how to maintain the quality of the medicines distributed, one of which is keeping vaccine / CCP products stored at a temperature of 2-8°C with a thermometer included.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nurlaila Afriliah
"Pedagang besar farmasi (PBF) adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang mempunyai izin untuk melakukan pengadaan, penyimpanan, dan distribusi perbekalan farmasi ke fasilitas pelayanan kesehatan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Cold chain product (CCP) adalah sediaan farmasi yang sensitif terhadap kondisi lingkungan. Manajemen CCP di PT Kimia Farma Trading & Distribution Jakarta 2 diatur berdasarkan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Tujuan dari tugas khusus ini adalah untuk menganalisis implementasi standar operasional prosedur (SOP) pemetaan chiller; pemeliharaan chiller/cold room/freezer; kalibrasi tempat penyimpanan vaksin/cold chain product; dan penanganan vaksin/cold chain product apabila tempat penyimpanan mengalami gangguan atau kerusakan di PT Kimia Farma Trading & Distribution Jakarta 2. Hasil penelitian yaitu pemetaan chiller; pemeliharaan chiller/cold room/freezer; kalibrasi tempat penyimpanan vaksin/cold chain product; dan penanganan vaksin/cold chain product apabila tempat penyimpanan mengalami gangguan atau kerusakan telah dilakukan berdasarkan SOP yang berlaku di PT Kimia Farma Trading & Distribution Jakarta 2. Elemen SOP ini juga sesuai dengan poin-poin regulasi Cara Distribusi Obat yang Baik mengenai “Ketentuan Khusus Produk Rantai Dingin (Cold Chain Product/CCP)”. Kesimpulan penelitian yaitu implementasi keempat SOP telah dilaksanakan dengan sesuai.
Pharmaceutical distributors are companies with legal entities that have permits to procure, store, and distribute pharmaceutical supplies to health service facilities by applicable regulations. Cold chain product (CCP) is a pharmaceutical preparation that is sensitive to environmental conditions. CCP management at PT Kimia Farma Trading & Distribution Jakarta 2 is regulated based on applicable standard operating procedures (SOP). This study aims to analyze the implementation of standard operating procedures (SOP) for chiller mapping; chiller/cold room/freezer maintenance; calibration of vaccine/cold chain product storage areas; and handling vaccines/cold chain products if the storage area is disturbed or damaged at PT Kimia Farma Trading & Distribution Jakarta 2. The result of this study is chiller mapping; chiller/cold room/freezer maintenance; calibration of vaccine/cold chain product storage areas; and handling of vaccines/cold chain products if the storage area is disturbed or damaged has been carried out based on the applicable SOP at PT Kimia Farma Trading & Distribution Jakarta 2. This SOP element is also in accordance with the regulatory points for Good Medicine Distribution Methods regarding "Special Provisions for Cold Chain Products Chain Product/CCP)”. This study concludes that the implementation of the four SOPs has been implemented appropriately."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Lathifah Novanti Putri
"Distribusi merupakan kegiatan paling penting dalam supply-chain management dari produk farmasetik yang terintegrasi. Pedagang Besar Farmasi (PBF) dan proses distribusi produk farmasi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. PBF merupakan perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan, penyaluran obat dan/atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Setiap PBF harus memastikan bahwa mutu suatu produk farmasi dan integritas rantai distribusi dipertahankan selama proses distribusi sesuai dengan pedoman Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dan Standar Operasional Prosedur (SOP). Salah satu produk farmasi yang dapat didistribusikan oleh PBF adalah prekursor farmasi dan Obat-Obat Tertentu (OOT). Kedua produk farmasi ini sering kali disalahgunakan dan dapat menjadi ancaman serius di bidang kesehatan, sosial, maupun ekonomi. Oleh karena itu, prekursor dan OOT perlu diawasi secara ketat penyalurannya agar dapat digunakan semestinya sesuai dengan kebutuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan meninjau kualitas SOP yang mengacu pada CDOB terkait proses pengadaan, penerimaan, penyimpanan, dan penyaluran prekursor dan OOT di PT Kimia Farma Trading & Distribution Jakarta 2. Metode yang digunakan adalah metode observasional dengan mengamati dan meninjau kualitas implementasi SOP dalam proses pengadaan, penerimaan, penyimpanan, dan penyaluran prekursor dan OOT. Berdasarkan hasil observasi, PT Kimia Farma Trading & Distribution Jakarta 2 telah mengimplementasikan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang mengacu pada CDOB dengan baik dan dilengkapi dengan personil – personil kompeten dalam jumlah yang memadai di tiap kegiatan pada rantai distribusi.

Distribution is the most important activity in the supply chain management of integrated pharmaceutical products. Pharmaceutical Wholesalers (PBF) and the distribution process of pharmaceutical products are inseparable. PBF is a legally incorporated company authorized for the procurement, storage, and distribution of drugs and/or drug ingredients in large quantities in accordance with regulatory provisions. Every PBF must ensure that the quality of a pharmaceutical product and the integrity of the distribution chain are maintained during the distribution process according to the Good Distribution Practice (GDP) guidelines and Standard Operating Procedures (SOP). One of the pharmaceutical products that can be distributed by PBF is pharmaceutical precursors and Certain Drugs (OOT). These two pharmaceutical products are often misused and can pose serious threats in the health, social, and economic sectors. Therefore, the distribution of precursors and OOT needs to be strictly monitored to ensure they are used appropriately according to needs. This study aims to observe and review the quality of SOPs based on GDP regarding the procurement, receipt, storage, and distribution processes of precursors and OOT at PT Kimia Farma Trading & Distribution Jakarta 2. The method used is observational, by observing and reviewing the quality of SOP implementation in the procurement, receipt, storage, and distribution processes of precursors and OOT. Based on the observations, PT Kimia Farma Trading & Distribution Jakarta 2 has well implemented SOPs based on GDP and is equipped with competent personnel in sufficient numbers for each activity in the distribution chain.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6   >>