Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sari Ariani
"Proses nominalisasi merupakan salah satu cara membentuk nomina yang terdapat di dalam bahasa Jerman dan bahasa Indonesia. bahasa Jerman membedakan pemakaian istilah nominalisasi, yaitu Nominalisierung untuk tatatran frase dan kalusa, dan substantivierung untuk tataran kata; bahasa Indonesia hanya memiliki satu istilah untuk tataran kata, frase dan klausa yaitu nominalisasi.
Berdasarkan penelitian, terdapat perbedaan penggunaan alat pembentuk, yaitu afiks. Dalam bahasa Jerman hanya sufiks yang dapat mengubah kelas kata, sedangkan bahasa Indonesia dapat dilakukan oleh prefiks, sufiks, konfiks dan kombinasi afiks.
Kedua proses nominalisasi tersebut masing-masing diuraikan dan dianalisis secara terpisah, baik dari segi bentuk maupun dari segi makna semantis. Hasil analisis yang didapat digambarkan dalam bentuk tabel.
Pada analisis kontrastif diperlihatkan perbedaan dan persamaan bentuk serta makna semantis dari hasil proses nominalisasi.
Dari analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa pada proses nominalisasi dalam bahasa Jerman dan bahasa Indonesia walaupun berbeda bila ditinjau dari segi bentuk tetapi memiliki persamaan dari segi makna."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1990
S14753
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Stephanus Erman Bala
"Numeralia merupakan suatu kategori kata yang mungkin dimiliki hampir semua bahasa di dunia. Bentuk dan cara mengungkapkannya juga bermacam-macam. Sistem Numeralia yang dikenal sekurang-kurangnya ada dua macam, yaitu sistem desimal dan kuinal. Numeralia Bahasa Indonesia mengikuti sistem desimal yang ditradisikan bangsa India dan Arab. Jika diamati lebih mendalam, Bahasa Indonesia mengenal tiga bentuk pengungkapan Numeralia, yaitu berupa morfem terikat, morfem babas, gabungan morfem/frasa. Numeralia juga memiliki makna semantis dan makna gramatikal. Dilihat dari cara pembentukannya, Numeralia Bahasa Indonesia ternyata terwujud dari pengulangan-pengulangan bilangan satu sampai sembilan yang bergabung dengan bilangan pengikat, secara bersama-sama penggabungan tersebut membentuk rumpun bilangan yang umumnya beranggotakan tiga bilangan. Dalam hubungannya dengan Nomina, Numeralia dapat menempati fungsi sintaktis utama maupun bawah. Pola urutan Num - N juga tidak dapat ditukar begitu saja."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1987
S11254
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Husin Sutanto
"Untuk apa meneliti kopula dalam bahasa Indonesia? Bukankah bahasa Indonesia tidak memiliki kopula seperti yang dimiliki oleh bahasa Inggris dan Belanda atau bahasa bahasa Eropa lainnys? Pertanyaan-pertanyaan itu diajukan oleh seorang penutur asli bahasa Belanda ketika didengarnya penulis akan membahas topik kopula dalam bahasa Indo_nesia. Ketika penulis menanyakan apa yang dimaksudkannya de_ngan kopula, segera, dijawabnya, bahwa kopula tidak lain verba to be dalam bahasa Inggris atau verba zijn dalam ba_hasa Belanda. Jawabannya tidaklah mengherankan penulis karena banyak orang berpendapat seperti itu Akan tetapi, ketika penulis menanyakan ada tidaknya kata-kata selain zijn dalam bahasa Belanda yang dapat berfungsi sebagai kopula, ia mengakui adanya kata-kata tersebut. Pengakuannya, penulis yakin, bukanlah sekedar peredam ketidakpuasan penulis, karena selain penutur asli, ia juga seorang pengajar di Jurusan Sastra Belanda Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Percakapan singkat antara penulis dengan penutur asli bahasa Belanda itu maki n membesarkan semangat penulis untuk membahas kopula dalam bahasa Indonesia. Sebab, sebelum per-cakapan itu, sudah ada keraguan dan ketidakpuasan dalam di_ri penulis terhadap pendapat yang menyamakan kopula dengan verba to be dalam bahasa Inggris atau dengan verba zijn dalam bahasa Belanda. Patut tidaknya kopula dalam bahasa Indonesia diperma_salahkan sebenarnya dapat kita ketahui dengan melihat se_jumlah tulisan tatabahasawan bahasa Melayu dan bahasa In_donesia.). Sejak hampir satu abad yang lalu sudah ada orang yang tertarik untuk menyatakan pendapatnya mengenai fungsi bebe-rapa kata dalam bahasa Melayu yang serupa dengan fungsi kopula dalam bahasa Belanda. Selanjutnya, sejalan dengan perkembangan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, semakin banyak pula tulisan yang mem_bahas kata-kata kopulatif dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Sebagian menyangkal keberadaannya, sebagian la_gi menganggaphya mungkin saja dimiliki oleh bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Sebagian membedakannya dari kopula ba_hasa Belanda atau bahasa Inggris, dengan memberi istilah lain kepada kata-kata kopulatif itu, sebagian lagi langsung menyebutnya kopula. Ada pula yang tidak mempersoalkan istilah untuk kata-kata kopulatif itu, melainkan membicara_kan perilaku sintaktisnya saja. Banyaknya tulisan yang membahas kata-kata kopulatif dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia itu memperlihatkan pentingnya topik tersebut. Namun, bukan berarti topik itu sudah jelas dan tuntas dibahas. Sebaliknya, akan kita lihat nanti, bahwa setiap tulisan yang membahas kata-kata kopula_tif dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia meninggalkan sejumlah topik bawah (subtopik) yang tidak sempat dibahas. ,Karena itu, penulis menyempatkan diri membahas topik bawah yang tertinggal itu."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1987
S10868
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ekawati
"Dalam skripsi ini yang menjadi pokok pembicaraan adalah makna dan fungi kata penghung khususnya dalam buku Bunga Rampai Melaju Kuno, Berdasarkan fungsinya kata penghubung dapat dibagi atas bemacam-macam. Kata penghubung yang dibicarakan di sini adalah kata penghubung yang yang berfungsi menghubungkan klausa dengan klausa atau kalimat dengan kalimat. Pembahasan kata penghubung dalam skripsi ini adalah selain yang tersebut di atas, juga adalah perbedaan an_tara kata penghubung dengan kata depan dan kata keterangan, nilai semantis hubungan semantisnya, dan hubungan yang bersifat koor_dinator dan subordinator. Dalam meneliti kata penghubung ini penulis mengadakan peneliti_an pustaka. Pertama-tama penulis mengumpulkan sumber rujukan pusta_ka yang berkaitan langsung atau tau langsung dengan masalah kata penghubung. Setelah itu bahasan dari sumber tadi dilengkapi dengan data-data yang dikumpulkan dari buku Bunga Rampai Melaju Kuno. Sari hasil penelitian tersebut penulis menyimpulkan bahwa kata penghubung dalam menghubungkan satuan-satuan yang dihubungkan mempunyai bermacam-macam makna."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1988
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yanuarita Puji Hastuti
"
ABSTRAK
Penelitian ini mencoba memaparkan pola-pola kesalahan membaca secara fonologis yang dilakukan oleh siswa sekolah dasar yang meskipun telah melampaui masa awal pembelajaran membaca tetapi masih juga mengalami kesulitan membaca sehingga siswa tersebut mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran lainnya. Tulisan yang dilatarbelakangi kenyataan masih banyaknya siswa yang mengalami kesulitan membaca ini mengambil responden yang duduk antara kelas satu (tahun kedua) sampai kelas tiga, cukup mendapat rangsangan, memiliki intelejensi cukup, dan secara umum tidak memiliki masalah kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang mengakibatkan hasil penelitian ini tidak bisa menjadi kesimpulan umum dari setiap kasus yang ditemukan pada waktu dan tempat yang berbeda.
Dalam bab mengenai kerangka pikir, penulis mencoba menguraikan teori-teori yang dikemukakan oleh ahli-ahli kesehatan, pendidikan, psikologi, dan linguistik sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa topik tulisan ini menyangkut berbagai bidang ilmu atau yang biasa disebut dengan ilmu interdisipliner.
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini ialah bahwa kesalahan membaca pada responden dapat dibagi menjadi enam bagian, yaitu penghilangan yang berupa penghilangan huruf dan suku kata dalam sebuah kata, penambahan yang berupa penam_bahan huruf dan suku kata, penggantian yang berupa penggantian huruf dan suku kata. pembalikan yang berupa pembalikan huruf-huruf dalam sebuah kata, gabungan yang berupa gabungan kesalahan penggantian dan penambahan, penghilangan dan penam_bahan, dan penghilangan dan penggantian, serta kesalahan berupa pengubahan yang dibagi menjadi dua yaitu kelompok kata-kata yang setelah berubah tetap memiliki makna dan kelompok kata-kata yang setelah berubah tidak lagi memiliki makna. Kemu_dian ditemukan juga adanya kekacauan antara bunyi-bunyi yang dihasilkan dari tempat yang sama ataupun yang dekat dan huruf-huruf yang terbalik bentuknya.
Selain kesimpulan di atas, penulis juga mencoba menyimpulkan keadaan umum dari responden melalui grafik yang diselipkan dalam bab mengenai analisis, yaitu grafik hubungan antara jumlah responden dengan jumlah kesalahan di tempat yang sama serta grafik perbandingan kesalahan. Grafik yang pertama menunjukkan adanya kenyataan bahwa semakin banyak jumlah responden, semakin sedikit kesalahan yang dibuat di tempat yang sama dan semakin sedikit jumlah responden, jumlah kesalahan di tempat yang sama semakin besar. Grafik yang kedua menunjukkan adanya kenyataan bahwa kesalahan terbanyak yang dibuat responden berturut-turut adalah pengubahan, penggan_tian, dan penghilangan.
"
1998
S11303
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bahtiar Heraudie
"ABSTRAK
Berdasarkan analisis alur cerita diketahui bahwa novel Durga Umayi merupakan cerita tentang tokoh utama Iin Sulinda Pertiwi Nusamusbida. Cerita berawal dengan paparan keadaan Iin yang telah menjadi wanita karier kaya raya, beralih kepada flash back tentang perjalanan hidup tokoh utama dari masa kecil, remaja, dewasa sampai menjadi wanita karier usia setengah baya...

"
1996
S10765
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Munadiyah
"Dalam tulisan ini dikemukakan masalah struktur Hikayat Raja Fakir Madi.. Dalam hal ini struktur tersebut adalah tokoh, alur, dan tema Hikayat Raja Fakir Madi. Tokoh-tokoh dalam naskah tersebut hanya dibagi menjadi dua yaitu tokoh utama dan tokoh bawahan. Di dalam tokoh bawahan terdapat tokoh andalan dari tokoh tambahan. Berdasarkan Bagan Hubungan Antar Tokoh disimpulkan bahwa tokoh utama adalah Raja Fakir Madi yang paling banyak jumlahnya berhubungan dengan tokoh lain dalam setiap peristiwa. Alur dalam Hikayat Raja Fakir Madi terdiri dari awal, tengah, dan akhir. Sedangkan tema dalam naskah tersebut adalah kebesaran Raja Fakir Madi."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1997
S11216
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nelwaty
"Yang menjadi topik dalam skripsi ini adalah koordinasi dalam Bahasa Belanda. Tipe koordinasi yang ada adalah tiga jenis, yakni asindeton, sindeton dan polisindeton. Tipe konjungsi yang dibahas ada dua belas. Pembahasan tipe koordinasi dengan konjungsi-konjungsinya menyangkut masalah 1) Bentuk, ciri serta fungsi konjungsi koordinasi dan 2) Ciri-ciri, khusus konjungta konjungtanya. Kedua masalah ini diterapkan pada kedua belas konjungsi yang ada. Empat dari dua belas konjungsi ini (en, maar, want dan dus) dibahas dari sudut sintaksis dan semantis. Dalam penelitian ini penulis mengadakan penelitian pustaka dan korpus. Pertama-tama penulis mengumpulkan sumber-sumber rujukan pustaka yang berkaitan langsung maupun tak langsung dengan pokok bahasan, kemudian bahasan yang berasal dari sumber pustaka tadi dibuktikan atau dilengkapi dengan penelitian korpus dari berbagai teks. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa syarat utama konjungta haruslah sama fungsi gramatikanya atau sama nilainya. Janis konjungta dapat berupa morfem, kata (kata majemuk), frase, klausa atasan ataupun klausa bawahan. Tipe konstruksi koordinasi yang ada bukan saja tiga tipe di atas namun ada dua tipe lain yang dapat ditambahkan, yakni tipe kalimat elips yang terdiri dari satu konjungsi saja dan tipe yang terdiri dari satu konjungsi dengan satu konjungta. Hal lain yang sering terjadi dalam konstruksi koordinasi adalah 1) proses pelesapan, yakni penghilangan anggota-anggota konjungta yang identik dan tidak bertekanan, 2) proses permutasi, yakni pemindahan urutan konjungta dengan tidak merubah makna kalimat atau dengan kata lain makna kalimat hasil permutasi harus logis dan 3) proses pemecahan atau pemisahan satu konstituen yang berstruktur koordinatif yang disebut solitsina. Akhirnya bentuk lain yang berbeda dengan bentuk koordinasi biasa adalah reeksvormers yang dapat membentuk suatu deret dengan konjungsi dan konjungta yang tidak terbatas."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1988
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library