Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 20 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yulia Suciati
"Keadaan hipoksia dapat membuat sel melakukan adaptasi melalui ekspresi berbagai macam gen. Banyak gen tersebut adalah gen yang diinduksi oleh suatu faktor transkripsi yang disebut HIF-I HlF-la adalah subunit yang diregulasi oleh kadar oksigen untuk aktifitas faktor transkripsi tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola mRNA HIF 1u dan ekspresi protein HIF-ln pada organ ginjal dari tikus yang mengalami kondisi hipoksia secara sistemik yang terbagi menjadi 5 kelompok berdasarkan lamanya perlakuan (kelompok kontrol, hipoksia 13, 7 dan 14 hari masing-masing 6 ekor tikus) menggunakan Hypoxic Chamber dengan kadar 02 8% dan Nitrogen 92%. Pola mRNA HIF-la dilihat berdasarkan basil RT-PCR dengan membandingksn rasio kelompok nonnoksia dan kelompok hipoksia. Ekspresi protein HIF-1a dilakukan dengan metode Western Blot dengan menggunakan anti HIF-la sebagai antibodi primer.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat penurunan ekspresi mRNA HIF-la dibandingkan kontrol pada kelompok hipoksia 1 hari dan diikuti peningkatan pada kelompok hipoksia 3 hari dan mulai mengalami penurunan kembali pada kelompok 7 hari. Sementara protein HIF-la. memperlihatkan terdapatnya peningkatan ekspresi protein HIF-la yang mulai mengalami penurunan pada kelompok hipoksia 14 hari. Dapat disimpulkan bahwa regulasi H1F-1a terjadi pada tahap transkripsi dan tahap pasca translasi.

Hypoxia could make cell to adapt trough gene expression. Many of these gene induced by the transcription factor called HIP-1. HIF-I tz is the subunit which regulated by oxygen level to activated the transcription factor.
The aim of this study is to know the pattern of Hypoxia Inducible Factor-Ia (HIP-la) mRNA and HIF-Ia protein Expression of Renal Rat in Systemic Chronic Hypoxia which divided to 5 groups based on the duration of hypoxia (control, I, 3, 7, and I4 days of hypoxia with 6 rats each group ) using hypoxia chamber with 8% oxigen and 92% Nitrogen. The pattern was measure with RT-PCR which combine the ratio of control group and the hypoxic group. The protein expression measure with Western Blot method using anti HIF-l a as 1? antibody.
The result shows that HIP-lo. mRNA expression decrease in 1" day of hypoxia, elevated and reach a peak at 3 days of hypoxia and start to decrease since then. While the HIP-lo. protein shows an increase expression until I4 days of hypoxia which start to decrease. It can be concluded that HIF-la regulation occurs in transcription level and post translation.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009
T32319
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
I Wayangede Sutadarma
"Tujuan penelitian adalah diketahuinya pengaruh pemberian jus bayam 100 gram per hari selama empat minggu berturut-turut terhadap kadar NOx serum dan tekanan darah pada laki-laki dewasa muda. Penelitian ini merupakan uji klinis paralel, membandingkan 17 orang kelompok yang mendapat jus bayam disertai penyuluhan gizi (P) dengan 17 orang kclompok yang hanya mendapat penyuluhan gizi saja (K). Sebanyak 34 mahasiswa taki-lakt semester dua Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang memenuhi kriteria dibagi dalam dua kelompok secara randomisasi blok. Data yang diambil meliputi usia. aktivitas fisik, indeks massa tubuh, asupan energi, natrium, dan nitrat anorganik dengan food recal/2 x 24 jam dan food recoNi, Pemeriksaan kadar nitrit, nitrat, dan NOx serum serta tekanan darah dilakukan pada awal dan akhir pcr!akuan. Anal isis data menggunakan uji t tidak berpasangan dan uji Mann Whitney dengan batas kemaknaan 5%. Sebanyak 17 orang kclompok P dan 16 orang kelompok K dengan median usia 18 (17~ 19) tahun yang mengikuti penelitian secara lengkap. Indeks aktivitas tisik subyek kedua kelompok termasuk rendah. Data awal tidak menunjukkan perbedaan bermakna (p>Q,05). Setelah empat minggu perlakuan, didapatkan persentase as11pan energi dibandingkan kebutuhan energi total termasuk kategori cukup pada kedua kelompok {8:4,93± 10,lebih rendah dibandingkan dengan angka kecukupan gizi 2004 (1083.00 {834,84-1797,50) mg/hari vs 923,95 (676,20-2494,05) mg/hari. Asupan nimH anorganik lebih tinggl pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol (130,33 (107,28-195,85) mglhari vs 30,79 (9,47- 118,38) mg/hari. Pada kedua kelompok didapatkan peningkatan kadar nitrit, nitrat dan NO,. serum yang tebih tinggi pada kelompok perlakuan, namun secara statistik tidak bermakna (p->0,05). Tidak didapatkan penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik yang bemakna pada kelompok perlakuan (p>O,OS). Pemberian 1 00 gram jus bayam selama empat minggu berturut-turut tidak didapatkan peningkatan kadar nitrat, nltrit, dan NO,. serum sejak penurunan tekanan darah sistolik dan diastolk pada kelompok perlakuan.

The aims of this study were to investigate the effect of 100 gram per day spinach juice during four weeks on serum NO level and blood pressure in young adult male. The study was a parallel! randomized clinical trial Thirty four subjects of second semester male student Medical faculty of Udayana University were selected using certain criteria. The randomly (block randomization) thirty four subject were divided into two group. The treatment group {nc-·cJ7) received spinach juice and nutrition counseling; the control group (n"" 17) received nutrition counseling alone. Data collected included age, physical activity, body mass index, intake of energy, sodium, and inorganic nitrate using 2 x 24 hours food recall and food record. Laboratory findings {semm nitrite, nitrate, and NO.; levels) and blood pressure examination were done before and after intervention, For statistical analysis, unpaired Hest and Mann Whitney were used with the level of significance was 5%. Seventeen subjects in the treatment group and sixteen subjects in the control group completed the study and analyzed. Median of age were 18 (l7-19) years old. The physical activity index in both groups were low. The characteristic of the two groups were closely matched pH base line (p>0,05). After four weeks intervention, all subjects consumed energy achieved the recommended diet with an average of 84.93± 10,60 % in the treatment group and 88,19±5,47 % in the control group. The average intake of sodium in both groups were lower than Indonesian recommended dietary allowance 2004 (I 083,00 (834,84-1797,50) mg/day vs 923,95 (676,20-2494,05) mg/day). The average intake of inorganic nitrate in the treatment group increased significantly than in the control group (130,33 (107,28-195,85) mg/day vs. 30.79 (9,47-118,38) mg/day), 1n conclusion, there were increase in serum nitrite, nitrate and NOll levels which were higher in the treatment group, although not statistically significant (p>O,OS). There were also no significant decrease in systolic and diastolic blood pressure in the treatment group (p>0,05). In conclusions, the effects of lOO gram per day spinach juice during four weeks did not increase serum nitrite, nitrate and NOx level and also were not decrease systolic and diastolic blood pressure in the treatment group. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009
T32849
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nababan, Saut Horas H
"ABSTRAK
Pendahuluan
Studi sebelumnya menunjukkan tebal adiposa epikardial pasien sindrom koroner akut (SKA) berhubungan dengan cardiovascular adverse event dalam tiga puluh hari.
Tujuan
Mengetahui peran tebal adiposa epikardial dalam memprediksi cardiovascular adverse event pada pasien SKA di ICCU RS Cipto Mangunkusumo.
Metode
Dilakukan studi kohort prospektif berbasis studi prognostik pada seratus dua puluh satu pasien SKA. Tebal adiposa epikardial dinilai dengan ekokardiografi transtorakal pada fase sistolik akhir (end-systole) tampilan parasternal long axis dari tiga siklus jantung. Dilakukan follow-up dalam tiga puluh hari pada semua pasien.
Hasil
Nilai median tebal adiposa epikardial adalah 2,23 mm (kisaran 0,37 – 10,8 mm). Cardiovascular adverse event terjadi pada 23 pasien (19%) dalam 30 hari; 9 subjek mengalami syok kardiogenik, 3 subjek mengalami infark miokard berulang, 4 subjek mengalami stroke iskemik, dan 7 subjek meninggal. Titik potong terbaik tebal adiposa epikardial dalam memprediksi cardiovascular adverse event adalah 2,95 mm dengan sensitivitas 65%, spesifisitas 70%, nilai duga positif 34%, nilai duga negatif 90% dengan AUC sebesar 0,690 (IK 95% 0,564-0,816, p=0,005).
Simpulan
Tebal adiposa epikardial 2,95 mm dapat digunakan untuk memprediksi cardiovascular adverse event dalam tiga puluh hari pada pasien SKA dengan sensitivitas 65%, spesifisitas 70% dan AUC 0,690.

ABSTRACT
Background
Previous study showed that epicardial adipose thickness in acute coronary syndrome (ACS) patients was associated with cardiovascular adverse events during thirty days.
Objective
To determine the role of epicardial adipose thickness in predicting cardiovascular adverse events in ACS patients at ICCU of Cipto Mangunkusumo Hospital
Method
A prospective cohort prognostic study was conducted on one hundred twenty-one ACS patients. Epicardial adipose thickness was measured with transthoracic echocardiography at end-systole from parasternal long-axis view of three cardiac cycles. 30 days follow-up was obtained in all patients.
Results
Median value of epicardial adipose thickness was 2.23 mm (range 0.37-10.8 mm). Cardiovascular adverse events were developed in 23 patients (19%) during 30 days; 9 cases of cardiogenic shock, 3 of recurrent myocardial infarction, 4 of ischemic stroke, and 7 of death. Best cut-off point of epicardial adipose thickness in predicting cardiovascular adverse events was 2.95 mm with a sensitivity of 65%, specificity 70%, positive predictive value 34%, negative predictive value 90% and AUC of 0.690 (95% CI 0.564 - 0.816, p = 0.005).
Conclusion
Epicardial adipose thickness with cut-off point 2.95 mm could be used to predict cardiovascular adverse events during thirty days in ACS patients with a sensitivity of 65%, specificity 70% and AUC of 0.690."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T32758
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erni Juwita Nelwan
"Latar belakang: Obat kotrimoksazol dan rifampisin telah lama diketahui memiliki efek anti mikotik. Peran kedua antimikroba ini terhadap candida belum diteliti, sehingga dirasa perlu untuk diteliti sehingga dapat dimasukkan dalam pedoman tatalaksana medis berbasis bukti untuk pasien HIV dan tuberkulosis.
Metode: Studi prospektif pada pasien HIV dan tuberkulosis dengan metode quasi-experiment, dilakukan di poliklinik HIV dan Poliklinik Paru pada bulan Oktober 2009-Agustus 2011. Pada tiap pasien dilakukan pemeriksaan kumur rongga mulut sebanyak dua kali untuk melihat adanya kolonisasi Candida, yang diidentifikasi menggunakan Saboraud Dextrose Agar dan ChromAgar. Kumur dilakukan sebelum pasien diberikan obat kotrimoksazol untuk profilaksis PCP dan obat rifampisin untuk TB, kumur kedua dilakukan dua minggu setelah pengobatan. Proporsi, jenis dan jumlah kolonisasi kandida dirongga mulut pasien dibandingkan sebelum dan setelah pengobatan. Hasil: Didapatkan total 86 orang pasien terdiri dari 40 orang pasien HIV dan 46 orang pasien TB. Kolonisasi awal pada pasien HIV 57,5% dan 19,5% pada pasien
TB, sebagian besar adalah candida albicans baik pada pasien HIV maupun TB (82,6% vs. 77,8%). Dua minggu mendapat kotrimoksazol pada pasien HIV dan rifampisin pada pasien TB didapatkan penurunan kolonisasi menjadi 47,5% vs. 12,5%). Penurunan ini bermakna pada kedua kelompok pasien, kotrimoksazol OR 0,2 (0,05-0,93; p<0,04) dan rifampisin 0,21 (0,08-0,58; p<0,01). Didapatkan juga penurunan jumlah hitung koloni secara absolut.
Simpulan: Kotrimoksazol dan rifampisin menurunkan kolonisasi Candida rongga mulut pasien HIV dan TB pada pemakaian selama dua minggu

Background: Cotrimoxazole and rifampicin are known as a broadspectrum antibiotics that have also antimicotic effect. However, limited data is available. This study aimed to provide data on role of these antibiotics to Candida species. Methods: A quasi experimental prospective study among HIV and tuberculosis
patient in HIV and TB clinic, evaluated from Ocotber 2009 and August 2011. Each patient received two times oral rinse, before and within 2-weeks cotrimoxazole treatment for HIV and rifampicin treatment for TB. Proportion, species and number of colonization were compared. Hasil: Of 86 patients, 40 were HIV seropositive patients and 46 were TB patients. HIV-seropositive patients was 57.5% colonized with candida and 19.5% for TB patients; in majority was C.albicans (82.6% vs. 77.8%). During 2-weeks treatment, colonization was decreased to 47.5% among HIV patients received cotrimoxazole and 12.5% in TB patients received rifampicin. The proportion of colonization reduced significantly during cotrimoxazole 0.2 (95%CI 0.05-0.93; p<0.04) and rifampicin 0.21 (95%CI 0.08-0.58; p<0.01). Number of colonization was also reduced. Conclusions: Cotrimoxazole and rifampicin reduced Candida colonization in HIV and TB patients within two weeks exposure.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Resti Mulya Sari
"Latar Belakang : Kanker ovarium merupakan penyebab kematian tertinggi pada kelompok kanker ginekologik dengan angka kekambuhan dua tahun sebesar 50%.
Tujuan: mengetahui faktor yang berperan pada kekambuhan kanker ovarium.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan teknik analisis kesintasan untuk melihat peran faktor ekspresi Human Epidermal Receptor (HER-2), residu tumor post operasi, jenis subtipe sel kanker dan tingkat diferensiasi sel kanker terhadap kekambuhan kanker ovarium epitelial. Analisis bivariat menggunakan metode log rank test digunakan untuk menilai hubungan antara 2 variabel.
Hasil Penelitian : Sebanyak 65 pasien kanker ovarium epitelial (tahun 1998-2012) yang telah remisi diamati selama 24 bulan. Terlihat bahwa median usia 50 tahun dengan proporsi kekambuhan sebesar 36,9% pasien dan mean waktu kekambuhan pertama 19,15 bulan. Volume residu tumor post operasi berukuran lebih dari 1 cm meningkatkan Rasio Hazard kekambuhan dua tahun pasien kanker ovarium epitelial, nilai p: 0,02 dan HR 3,31 (IK95% 1,46-7,49) sementara jenis subtipe histologi dan tingkat diferensiasi sel kanker tidak berhubungan dengan terjadinya kekambuhan ini. Satu dari 38 pasien memperlihatkan adanya cytoplasmic staining pada pemeriksaan ekspresi HER-2 dengan metode imunohistokimia.
Simpulan : Volume residu tumor post operasi yang berukuran lebih dari 1 cm meningkatkan Rasio Hazard kekambuhan dua tahun pasien kanker ovarium epitelial, sementara jenis subtipe histologi dan tingkat diferensiasi sel kanker tidak berperan pada kekambuhan ini. Pada pemeriksaan ekspresi HER-2, menggunakan teknik imunohistokimia dilaporkan 1 sampel memperlihatkan cytoplasmic staining.

Background : Ovarian cancer was the leading cause of death in gynecologic cancer which had the two years recurrency rate of 50%.
Aim : to know factors that influenced on epithelial ovarian cancer recurrency.
Methods : We used retrospective cohort design with survival analysis technique for this study to examine the role of HER-2 expression, residual tumor post operation, cancer cell histological subtype and cancer cell grading on epithelial ovarian cancer recurrency. Bivariate analyze using log rank test methods were done to examine significance between two variables.
Results : Sixty-five epithelial ovarian cancer patient (1998-2012) who had achieved remission were observed for 24 months. We reported median age of 50 years with recurrency rate of 36.9% and mean time of recurrency was 19,15 months. Volume of post surgery residual tumor more than 1 cm increase Hazard Ratio of two years recurrency of epithelial ovarian cancer, p value 0.02 and HR of 3.31 (95% CI 1.46-7.49) but histology subtype and cancer cell grading did not influence the recurrency. One of 38 patients showed cytoplasmic staining in HER-2 expression examination by imunohistochemistry methods.
Conclusion : Volume of post surgery residual tumor more than 1 cm increase Hazard Ratio of two years recurrency of epithelial ovarian cancer while histology subtype and cancer cell grading did not influence the recurrency. One sample showed cytoplasmic staining on HER-2 examination by imunohistochemistry methods.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ngantung, Robert Noldy
"Latar Belakang: Jaringan adiposa epikardial (JAE) sebagai jaringan adiposa visera penting peranannya dalam proses aterosklerosis di arteri koroner. Studi sebelumnya menunjukkan ketebalan adiposa epikardial lebih besar pada pasien dengan penyakit jantung koroner (PJK) Tujuan Mengetahui korelasi antara ketebalan adiposa epikardial dengan derajat stenosis arteri koroner pada pasien PJK stabil.
Metode: Dilakukan studi potong lintang pada tujuh puluh pasien PJK stabil yang menjalani angiografi koroner. Derajat stenosis arteri koroner dinilai dengan skor Gensini > 40 (berat) dan ≤ 40 (ringan-sedang). Ketebalan adiposa epikardial dinilai dengan ekokardiografi transtorakal pada fase sistolik akhir tampilan parasternal long axis.
Hasil: Nilai rerata ketebalan adiposa epikardial adalah 5,96 mm (SB 1,76) dan nilai median skor Gensini adalah 35,0 (kisaran 2-126). Analisis bivariat menunjukkan korelasi positif kuat yang bermakna (r = 0,768, p < 0,001). Nilai titik potong terbaik dari ketebalan adiposa epikardial yang memiliki nilai klinis berkaitan dengan derajat stenosis arteri koroner berdasarkan skor Gensini adalah 6,15 mm dengan sensitivitas 85,29%, spesifisitas 83,33%, nilai duga positif 82%, nilai duga negatif 85% dengan AUC sebesar 0,893 (IK 95% 0,814-0,971, p < 0,001).
Simpulan: Ketebalan adiposa epikardial berkorelasi signifikan dengan derajat stenosis arteri koroner berdasarkan skor Gensini. Ketebalan adiposa epikardial 6,15 mm memiliki kemampuan yang cukup baik untuk membedakan pasien PJK stabil ringan-sedang dan berat berdasarkan skor gensini.

Background: Epicardial adipose tissue (EAT) as part of visceral adipose tissue, has an integral role in the atherosclerotic cardiovascular disease. Previous studies have shown that EAT is thicker in those with coronary heart disease.
Objective: To determine the correlation of epicardial adipose thickness with the severity of coronary artery stenosis in stable coronary heart disease (CHD) patient.
Method: A cross-sectional study was conducted on seventy stable CHD patient undergoing coronary angiography. Severity of coronary artery stenosis was evaluated using Gensini scoring system : > 40 (severe) and ≤ 40 (mild-moderate). Epicardial adipose tissue was measured using transthoracic echocardiography at end-systole from parasternal longaxis view.
Results: Mean value of epicardial adipose thickness was 5,96 mm (SD 1,76) and median value of Gensini score was 35,0 (range 2-126). The correlation test showed a significant strong-positive correlation (r = 0,768, p < 0,001). The best cut-off point of epicardial adipose thickness which has a clinical value correlating to severity of coronary artery stenosis based on Gensini scoring system was 6,15 mm with the sensitivity 85,29 %, specificity 83,33%, positive predictive value 82 %, negative predictive value 85 % and AUC of 0,893 (CI 0,814-0,971, p < 0,001).
Conclusion: Epicardial fat thickness is significantly correlated to the severity of coronary artery stenosis based on Gensini scoring system. The thickness cutoff point of 6,15 mm has a good capability in discriminating mild-moderate dan severe stable CHD patient based on Gensini scoring system.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Noto Dwimartutie
"ABSTRAK
Latar Belakang. Mortalitas usia lanjut yang dirawat cukup tinggi. Belum ada model prediksi mortalitas 30 hari pasien usia lanjut yang dirawat di ruang rawat akut geriatri menggunakan domain P3G. Tujuan. Mendapatkan dan menentukan performa model prediksi mortalitas 30 hari pasien usia lanjut di rawat di ruang rawat akut geriatri menggunakan domain P3G.
Metode. Penelitian dengan desain kohort retrospektif menggunakan status rekam medik pasien usia lanjut (> 60 tahun) yang dirawat di ruang rawat akut (RRA) geriatri RSCM dalam dalam kurun waktu Januari 2011 ? Desember 2013. Prediktor yang dianalisis yaitu usia, jenis kelamin, sindrom delirium akut, komorbiditas (CIRS-G), kadar albumin, status fungsional (ADL Barthel), status kognitif, status psikoafektif, dan status nutrisi (MNA). Analisis multivariat dengan cox regression untuk mendapatkan Hazzard Ratio (HR) dilakukan pada prediktor yang bermakna. Model prediksi didapatkan dari prediktor yang bermakna pada analisis multivariat. Kemampuan kalibrasi model prediksi ditentukan dengan uji Hosmer Lameshow dan kemampuan diskriminasinya ditentukan dengan menghitung AUC dari kurva ROC.
Hasil. Terdapat 530 subjek penelitian dengan rerata usia 70,27 (SB 6,9) tahun. Mortalitas 30 hari didapatkan sebesar 28,1%. Analisis multivariat mendapatkan sindrom delirium akut (HR 4,11 ; IK95% 1,83-9,11), kadar albumin < 3 g/dl (HR 2,18 ; IK95% 1,23-3,85), ADL Barthel < 9 (HR 2,21 ; IK95% 1,23-3,85), dan malnutrisi (MNA < 17) (HR 1,77 ; IK95% 1,19-2,63) sebagai prediktor dalam model prediksi. Model prediksi berdasarkan jumlah skor dari sindrom delirium akut (skor 2,5), kadar albumin < 3 g/dl (skor 1,5), ADL Barthel < 9 (skor 1), dan malnutrisi (skor 1). Stratifikasi mortalitas menjadi kelompok risiko rendah (skor < 2; 4,4%), risiko sedang (skor 2-4; 24,8%), dan risiko tinggi (skor > 4; 64,3%). Uji Hosmer-Lemeshow menunjukkan presisi yang baik (p=0,409) dan AUC menunjukkan kemampuan diskriminasi yang baik [0,84 (95%CI 0,81-0,88)].
Kesimpulan. Model prediksi mortalitas 30 hari menggunakan prediktor sindrom delirium akut, kadar albumin < 3 g/dl, status fungsional dengan ADL Barthel < 9, dan malnutrisi distratifikasi menjadi 3 kelas risiko (rendah, sedang, dan tinggi). Model ini memiliki presisi dan diskriminasi yang baik.

ABSTRACT
Background. Mortality of hospitalized elderly patients is still high. To our knowledge, no prediction model that predict 30-day mortality in elderly patients admitted to geriatric acute ward using Comprehensive Geriatric Assessment (CGA) domain Aim. To develop a prediction model of 30-day mortality in elderly patients hospitalized in geriatric acute ward using CGA domain.
Method. A retrospective cohort study was conducted using medical records of elderly patients (> 60 years) hospitalized in acute geriatric ward of Cipto Mangunkusumo General Hospital from January 2011 ? December 2013. Nine predictors [age, sex, delirium, comorbidity (CIRS-G), albumin level, psychoaffective status, cognitive status, and nutritional status (MNA)] were analyzed. Multivariate analysis using cog regression of significance predictors was conducted to determined hazard ratio (HR) for each predictor. Prediction model was developed from significance predictors in multivariate analysis. The model?s calibration performance was determined by Hosmer-Lameshow test and its discrimination ability was determined by calculating area under the receiver operating characteristic curve (AUC).
Result. Subjects consist of 530 patients, with mean of age 70,27 (SD 6,9) years old. The 30-day mortality was 28,1%. Delirium (HR 4,11 ; 95%CI 1,83-9,11), albumin < 3 g/dl (HR 2,18 ;95%CI 1,23-3,85), Barthel index < 9 (HR 2,21 ; 95%CI 1,23-3,85), and malnutrition (MNA < 17) (HR 1,77 ; 95%CI 1,19-2,63) were significance predictors in multivariate analysis. Prediction model based on total score of delirium (2,5 poin), albumin < 3 g/dl (1,5 poin), ADL Barthel < 9 (1 poin), and malnutrition (1 poin). Mortality was stratified into 3 groups; low risk (score < 2; 4,4%), intermediate risk (score 2-4; 24,8%), and high risk (score > 4; 64,3%). The Hosmer-Lemeshow showed a good precission (p=0,409) and the AUC revealed good discrimination ability [0,84 (95%CI 0,81-0,88)].
Conclusion. A prediction model of 30-day mortality using predictors : delirium, albumin < 3 g/dl, Barthel index < 9, and malnutrition was stratified into 3 groups (low risk, intermediate risk, and high risk). The model has good precision and discrimination.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Susie Setyowati
"ABSTRAK
Latar Belakang: Penyakit Graves merupakan penyebab terbanyak hipertiroidisme. Remodeling pada hipertiroidisme dilaporkan meningkat terutama resorpsi tulang. Peningkatan turnover tulang terus menerus bertanggung jawab terhadap percepatan keropos tulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat korelasi antara status tiroid dengan kadar ALP, OC sebagai penanda formasi tulang dan CTx sebagai penanda resorpsi tulang.
Metode: Metode yang digunakan adalah potong lintang dengan consecutive sampling pada wanita penyakit Graves usia reproduktif di Poliklinik Metabolik Endokrin RSCM pada periode Juli–September 2014. Analisis statistik dilakukan dengan Mann Whitney, korelasi Spearman dan analisis ROC.
Hasil: Pada 68 subyek penelitian, didapatkan 28 (41.2%) eutiroid, 23 (33.8%) hipertiroid subklinis dan 17 (25%) hipertiroid. Terdapat perbedaan median kadar penanda remodeling tulang antara kelompok eutiroid dan kelompok belum eutiroid (hipertiroid subklinis/hipertiroid) yaitu ALP (71 U/L [40-165] vs 91.5 U/L [39-256]), OC (19.48 ng/mL [10.95-92.70] vs 32.46 ng/mL [13.31-137.0]), dan CTx (0.36 ng/mL [0.11-1.24] vs 0.613 [0.11-1.93]).
Pada uji Spearman didapatkan tidak ada korelasi yang bermakna antara FT4 dengan ALP (r=0.106 p=0.389); terdapat korelasi positif yang bermakna FT4 dengan OC dan CTx (r=0.289 p=0.017 dan r=0.265 p=0.029); terdapat korelasi negatif yang bermakna antara TSH dengan ketiga penanda tulang yaitu ALP (r=- 0.240 p=0.049), OC (r=-0.450 p=<0.001) dan CTx (r=-0.420 p<0.001). Sensitivitas dan spesifisitas diskriminasi TSH dengan kadar serum CTx adalah baik dengan nilai 70.72% dan 70.96% dan titik potong TSH yang didapatkan adalah 0.015 μIU/mL.
Simpulan: Median ALP, OC dan CTx pada kelompok belum eutiroid lebih tinggi daripada kelompok eutiroid. Terdapat korelasi positif yang bermakna antara FT4 dengan OC dan CTx. Terdapat korelasi negatif yang bermakna antara TSH dengan ALP, OC dan CTx. Titik potong TSH 0.015μIU/mL merupakan penanda yang sensitif dan spesifik untuk kadar serum CTx.

ABSTRACT
Background: Grave's disease (GD) is one of the main causes of hyperthyroidism. Bone remodelling has been reported to increase in hyperthyroidisme, especially bone resorption. Continuous increase in bone remodelling has been held responsible for accelerated bone loss. The aim of this study is to find correlation between thyroid status and serum ALP and OC levels as bone formation marker as well as serum CTx as bone resorption marker.
Methods: This is a cross-sectional study involving reproductive-age women with GD who attended endocrine metabolic outpatient clinic Cipto Mangunkusumo General Hospital from July to September 2014. Sampling was conducted by mean of consecutive sampling. Statistical analysis was performed using Mann-Whitney, Spearman correlation and ROC analysis.
Results: From 68 subjects, 28 (41.2%) were euthyroidism, 23 (33.8%) were subclinical hyperthyroidism and 17 (25%) were hyperthyroidism. We found the difference in median concentration of bone markers between euthyroidism group and non euthyroidism group (subclinical hyperthyroidism/hyperthyroidism) i.e. ALP (71 U/L [40-165] vs 91.5 U/L [39-256]), OC (19.48 ng/mL [10.95-92.70] vs 32.46 ng/mL [13.31-137.0]), and CTx (0.36 ng/mL [0.11-1.24] vs 0.613 [0.11- 1.93]). Spearman test used to find correlation between FT4 and bone markers showed no significant correlation between FT4 and ALP (r=0.106, p=0.389). Nevertheless, FT4 was significantly correlated with OC and CTx in a positive manner (r=0.017 and r=0.265, p=0.029). Correlation between TSH and bone markers was found to be significantly negative (ALP [r=-0.240, p=0.049], OC [r=-0.450, p=<0.001] and CTx [r=-0.420, p=<0.001]). Sensitivity and specificity of TSH discrimination with serum concentration of CTx was 70.72% and 70.96% respectively with obtained cut off for TSH was 0.015 μIU/mL.
Conclusion: Median value of the three bone markers are higher in non euthyroidism group compared to that of euthyroid group. The correlation between FT4 and OC or CTx is positive and significant. Cut-off point of 0.015 μIU/mL for TSH is a sensitive and specific marker for serum concentration of CTx."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fendi
"ABSTRAK
Latar Belakang : Polusi udara diperkirakan menyebabkan 1,2 juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2004. Pengemudi mikrolet merupakan salah satu pekerjaan yang terpapar dengan polusi akibat gas buang kendaraan bermotor sehingga berisiko mengalami penurunan fungsi paru.
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat seberapa besar masalah penurunan fungsi paru tersebut dan untuk menentukan tindakan pencegahan baik primer maupun sekunder pada populasi tersebut.
Metode : Studi potong lintang pada pengemudi mikrolet dikerjakan di terminal Kampung Melayu 2014. Data didapatkan berdasarkan wawancara, pemeriksaaan tinggi badan dan berat badan, pemeriksaan spirometri, dan gula darah kapiler sewaktu. Studi deskriptif dilakukan dengan melihat proporsi variabel dan penentuan nilai rerata atau median.
Hasil : Terdapat 101 orang subjek penelitian yang diambil secara purposive sampling. Proporsi pengemudi mikrolet yang telah bekerja selama lebih dari 10 tahun sebanyak 69,3%, perokok 76,2%, riwayat tuberkulosis 8,9%, sebanyak 44,6% mempunyai glukosa darah kapiler sewaktu > 140 mg/dl dan 34,7% mengalami obesitas. Proporsi pengemudi mikrolet yang mengalami penurunan fungsi paru sebesar 30,7% yang terdiri atas restriksi 90,3% dan obstruksi 9,7%. Penurunan fungsi paru tersebut lebih banyak terlihat pada subjek yang telah bekerja lebih dari 10 tahun dan mempunyai riwayat tuberkulosis paru.
Simpulan : Proporsi penurunan fungsi paru didapatkan sebanyak 30,7% yang terdiri atas restriksi 90,3% dan obstruksi 9,7%. Penurunan fungsi paru lebih banyak pada subjek yang bekerja lebih dari 10 tahun dan subjek yang mempunyai riwayat tuberkulosis paru.

ABSTRACT
Background : Mortality due to air pollution was estimated 1, 2 million deaths world wide in 2004. Microbus drivers are one of job that constantly exposed to air pollution and make them in high risk of lung function deterioration.
Purpose: The aim of this study are to know the magnitude of problem of lung function deterioration and to determine actions both primary and secondary prevention in this population.
Methods : This is a cross sectional study among microbus drivers that was conducted in Kampung Melayu station in 2014. Data are obtained from interview, measurement of body height and weight, spirometry and random capillary blood glucose. Descriptive analysis was calculated to obtain proportion of each variable and determining the mean or median value.
Results : There were 101 subjects that meet the inclusion criteria from purposive sampling. Proportion of micro bus drivers who have worked more for than 10 years are 69,3%; smokers are 76,2%; having history of tuberculosis are 8,9%, around 44,6% have random capillary blood glucose > 140 mg/dl and 34,7% have obesity. There were 30,7% subjects with lung function deterioration (90,3% restriction and 9,7% obstruction). Lung function deterioration was found in those who have worked for more than 10 years, and have history of tuberculoses.
Conclusion: The proportion of Lung function deterioration is 30,7% consisting of 90,3% restriction and 9,7% obstruction. Lung function deterioration was found mostly in those who have worked for more than 10 years, and those who have history of tuberculoses."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Ayu Vernawati
"ABSTRAK
Latar Belakang : Para pekerja yang melakukan aktivitas fisik di lingkungan panas tinggi dapat mengalami gangguan pada ginjal. Selain glomerulus, bagian tubulointerstium yang memiliki fungsi penting reabsorsi dan sekresi, diduga juga mengalami gangguan. Ingin diketahui lebih lanjut ada tidaknya gangguan pada sel tubulus ginjal para pekerja setelah 4 jam pajanan panas tinggi melalui pemeriksaan NGAL urin yang lebih spesifik.
Metode : Desain penelitian ini adalah baseline study dan pre-post study.Dilakukan di bagian hotpress outsole pabrik sepatu di Tangerang bulan April 2015. Data primer didapat melalui wawancara, pemeriksaan langsung tinggi dan berat badan serta pengambilan sampel NGAL urin dilakukan 2 kali, sebelum dan sesudah 4 jam kerja terpajan tekanan panas tinggi (29,0 oC - 31,05 oC ISBB). Untuk pemeriksaan kadar NGAL menggunakan kit komersial (Quantikine kit Human Lipocalin-2/NGAL Immunoassay).
Hasil : 68 pekerja memenuhi kriteria inklusi penelitian dan 100 % adalah laki-laki berusia 20-40 tahun yang sehat. Didapatkan nilai NGAL urin awal sebelum terpajan panas antara 0.03 ng/ mL ? 12,82 ng/mL dengan median 1.52 ng/mL. Dari pemeriksaan setelah 4 jam kerja terpajan panas terdapat 25 responden (36,8% ) mengalami kenaikan nilai NGAL dalam urin dengan median kenaikan sebesar 0,35 mg/dL sedangkan 43 responden (63,2%) tidak mengalami kenaikan nilai NGAL dalam urin .
Simpulan: Tidak terdapat peningkatan yang dianggap bermakna pada rerata nilai NGAL dalam urin para pekerja pabrik yang tepajan tekanan panas tinggi selama 4 jam kerja.

ABSTRACT
Background : Workers performing physical activities in heat-stress environment could have kidney disorder. Beside glomerulus, tubulointerstitium which has important function of reabsorption and secretion, is suspected to also have injury. Further exploration on the impact on kidney tubules cells on the workers after 4 hours exposed to heat-stress through more specific examination of urine NGAL (uNGAL).
Method : Design of this research are baseline study and pre-post study, conducted at the hotpress outsole department at a shoe factory in Tangerang in April 2015. Primary data obtained through interview, direct examination on height and weight and taking sample of uNGAL twice time, before and after 4 hours of moderate working activities in the area of high heat-stress (29,0 oC - 31,05 oC WGBT) . Examining NGAL level by using commercial kit (Quantikine kit Human Lipocalin-2/NGAL Immunoassay).
Result : 68 workers fit with criteria inclusion study and 100% are healthy men aged between 20-40 years. The result of uNGAL initial scores are between 0.03 ng/ mL ? 12,82 ng/mL with median of 1.52 ng/mL. After 4 hours of moderate working activities in the area of high heat-stress there are 25 workers ( 36,8% ) have increase uNGAL level with median of 0,35 mg/dL, while the other 43 workers (63,2%) have not.
Summary : There is no significant changes of urine NGAL score after 4 hours of working within worker population in the area of high heat-stress.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>