Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nani Iriyanti
"Biaya Kesehatan di Indonesia cenderung meningkat yang disebabkan oleh berbagai faktor. diantaranya adalah pola penyakit degeneratif. Orientasi pada pembiayaan kuratif, pembayaran out of pocket secara individual, service yang dilentukan oleh provider. teknologi canggih, perkembangan (sub) spesialisasi ilmu kedokteran, dan tidak lepas juga dari tingkat inflasi.
Jika dibandingkan dengan negara - negara tetangga di Asia Tenggara tingkat kesehatan penduduk Indonesia masih relatif rendah. Angka kernatian ibu masih sekitar 390 per 100,000 kelahiran hidup. sementara di Philipina 170, Vietnam 160, Thailand 44 dan Malaysia 39 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dcngan besarnya biaya yang dikeluarkan oleh pemerinlah ataupun masyarakat untuk kesehatan dan besarnya cakupan asuransi kesehatan.
Komplikasi persalinan sangat berpengaruh dengan kematian maternal/perinatal. Kebuluhan akan pelayanan kesehatan bagi seorang wanita akan meningkat dan mencapai puncaknya pada saat kehamilan dan menjelang persalinan. Kelerkaitan nasib ibu dan bayi nienggambarkan suatu kesatuan yang dimulai pada masa kehamilan. persalinan, sampai dengan awal kehidupan pertama bayi sandal mernbutuhkan perhatian yang cukup besar. kejadian komplikasi obstetric terdapat pada sekitar 20% dari seluruh kehainilan, namun yang lerlangani masih kurang dari 10%, yang nmempengaruhi kematian maternal/perinatal adalah: terlambat mengenali bahaya dan mengambil keputusan merujuk, terlambat mencapai fasilitas rujukan, dan terlambat memperoleh fasilitas rujukan yang adekuat. (Litbang Depkes, 2003)
Upaya yang perlu dilakukan untuk mengendalikan biaya pelayanan kesehatan adalah peralihan dari bentuk FFS ke bentuk Prospective Payment System (PPS). System pembayaran prospektif makin banyak diterapkan. balk pada pelayanan rawat jalan berupa system pra-upaya yang berbentuk paket maupun pelayanan rawat inap yang menggunakan system pengelompokan penyakit berdasarkan diagnosa terkait.
(Diacrpnosis Related group?sl DRG?s). Cost of DRGs alau cost of treatment merupakan keseluruhan biaya mulai dari pasien masuk mclakukan pendaftaran. penegakan diagnosa. pre partus. partus. post partus. puking dan berohal jalan semuanva terangkum dalam suatu alur perawatan atau Integrated Clinical Pathway, Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana clinical pathway dan cost of treatment Partus Pervaginam berdasarkan DRGs di RSIA Budiasih tahun 2007.

Health expense at Indonesia tending increase because of various factor, amongst those is degeneratif diseased pattern, orientation on kuratif's finances, payment out of pocket individual, service that prescribed by provider. sophisticated technology developing (sub) medical science specialization. and doesn't take down also of inflation rate.
In comparison with neighbouring states at healths level South-east Asia. Indonesia still low relative. Mother mortality is still around 390 about 100.000 natal live, while at Philipina 170. Vietnam 160, Thailand 44 and Malaysia 39 about 100.000 natal live. It gets straightforward bearing and also indirect with outgrows it cost that issued by government or society even for health and outgrows it health insurance range.
Complication about ascendant with maternal / perinatal's death. Requirement that take care of health for a woman will increase and peaks it upon pregnancy and drawing near about cope. Mothers fated relevance and baby figure an unity that started in by pregnancy term, about copy until with first life startup baby really need sizable attention. obstetric's complication instance exists on vicinity 20% of all pregnancies. but one most handles to be still less than 10%. one that regard death maternal 1 perinatal is: behind schedule recognize danger and taking a decision refers, behind schedule reach reference facility. and slowing to get reference facility that adekuat. ( Litbang Depkes. 2003 )
Effort that needs to be done to restrain health care cost is transition of Fee For Service form goes to to form Prospective Payment System (PPS), System is prospektifs payment gets a lot of be applied, well on roads nursed service as system pre effort which gets package form and also nurse service lodge that utilizes system disease agglomeration bases to diagnose relates( Related's diagnosis Group s / DRGs). Cost o/-DRGs or cost of treatment constitute entirely cost begins from input patient do registration. straightening of diagnosa, pre partus. partus. post partus, go home and get street drug every thing to hold in clinical pathway or Integrated Clinical Pathway . To the effect of observational it is subject to be know how clinical pathway and cost of treatment Vaginal delivery bases DRGs at RSIA Rudiasih year 2007."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
T21010
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Aan Anjarwati
"ABSTRAK
Prevalensi penyakit Gagal Ginjal Kronik cenderung makin tinggi sejak 3 tahun
terakhir ini (sejak tahun 2015). Sehingga mereka harus menjalani hemodialisis
(cuci darah). Adapun komplikasi saat hemodialisis yaitu demam, menggigil,
hipotensi, dan keram. Faktor-faktor yang mempengaruhi komplikasi saat
hemodialisis pada pelayanan mulai dari faktor pasien terdiri dari durasi HD, akses
HD, lama menjalani HD, komorbiditas pasien). Selain itu juga ada peran dari sisi
manajemen yaitu Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang pencucian dialiser
ulang dan kebijakan direktur. Faktor pasien dan manajemen penting dalam kualitas
pelayanan hemodialisis rawat jalan. Metode penelitian yang digunakan adalah mix
method. Tahapan yang dilakukan pertama adalah penelitian kuantitatif dengan
pendekatan cross-sectional dan melanjutkan dengan wawancara mendalam dari
hasil penelitian. Hasil analisis bivariat, didapatkan bahwa durasi hemodialisis
berhubungan signifikan secara statistik dengan komplikasi hemodialisis (p
0.005). Hasil analisis multivariat, diperoleh durasi hemodialisis 4 jam 30 menit
berisiko menyebabkan komplikasi sebesar 2.76 (IK 95% 0.9-8.47) kali dan akses
AVF-Shunt berpengaruh paling tingi menyebabkan komplikasi sebesar 3.32 (IK
95% 0.76-14.57) kali. Dari hasil wawancara mendalam dengan informan, bahwa
kurangnya implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) pencucian dialiser
ulang meningkatkan risiko komplikasi. Triangulasi sumber data didapatkan bahwa
RS. Anna belum menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan baik
dibandingkan RS. Anna Medika dalam pengukuran volume primming atau Total
Cell Volume (TCV) dan tidak dilakukan penandaan dialiser setelah dicuci ulang.
Adanya data pencantuman volume priming pada dialiser ulang merupakan bentuk
penjaminan mutu layanan unit hemodialisis RS. Dan hal ini bisa menjadi kebijakan
direktur terkait penggunaan dialiser ulang. Kejadian komplikasi saat hemodialisis
di Rumah Sakit dapat diatasi dengan memperhatikan aspek keselamatan pasien
yaitu melakukan Standar Operasional Prosedur dengan baik dan menjamin mutu
layanan hemodialisis dengan cara membuat kebijakan penggunaan dialiser ulang.

ABSTRACT
Prevalence of Chronic Kidney Failure tends to be higher since the last 3 years
(since 2015). So they have to undergo hemodialysis (dialysis). The complications
of hemodialysis are fever, chills, hypotension, and cramps. Factors that influence
complications during hemodialysis in services are from patient factors consist of
duration, access, length of time hemodialysis, patient comorbidity. In addition,
there is also a role from the management side, namely the Standard Operating
Procedure (SOP) reuse dialyzer and director policies. Patient and management
factors are important in the quality of outpatient hemodialysis services. The
research method used is the mix method. The first step is quantitative research
with a cross-sectional approach and continues with in-depth interviews from the
results of the study. The results of the bivariate analysis showed that the duration
of hemodialysis was statistically significant with complications of hemodialysis (p
0.005). The results of multivariate analysis, obtained the duration of 4 hours 30
minutes hemodialysis at risk of causing complications of 2.76 (95% CI 0.9-8.47)
times and the highest effect of AVF-Shunt access caused complications of 3.32
(95% CI 0.76-14.57) times. From the results of in-depth interviews with
informants, that the lack of implementation of the Standard Operational Procedure
(SOP) for repeated dialysis washing increases the risk of complications.
Triangulation of data sources was found that Anna hospital has not run the
Standard Operating Procedure (SOP) well compared to Anna Medika hospital in
measuring primming volume or Total Cell Volume (TCV) and dialysis marking is
not done after repeated washing. The data of inclusion priming volume on repeated
dialiser is a form of hemodialysis unit service quality assurance. And this could be
the director's policy regarding the use of repeated dialiser. The occurrence of
complications during hemodialysis at the hospital can be overcome by paying
attention to the aspects of patient safety, namely performing the Standard
Operating Procedure properly and ensuring the quality of hemodialysis services by
making a policy of using dialiser again.
"
2019
T53875
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library