Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 61 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Henry Kodrat
"Pendahuluan: Pada penderita kanker selalu terjadi stres oksidatif yang ditandai dengan kadar MDA (malondialdehyde) yang tinggi dan aktivitas katalase yang rendah. Kanker terjadi karena ketidakseimbangan antara proses proliferasi sel dengan apoptosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara apoptosis dengan kadar MDA dan aktivitas antioksidan enzimatik katalase pada pasien kanker leher rahim stadium lokal lanjut.
Metode penelitian: Penelitian ini merupakan studi cross sectional terhadap 16 pasien kanker leher rahim stadium lokal lanjut yang memenuhi kriteria inklusi dari Juli sampai Agustus 2013. Pengambilan darah pasien dilakukan sebelum radiasi dimulai. Pemeriksaan kadar MDA dan aktivitas katalase dilakukan dengan metode spektrofotometri. Indeks apoptosis dilakukan dengan motode TUNEL.
Hasil: Didapatkan rerata indeks apoptosis sebesar 11,1 ± 0,59 sel; rerata kadar MDA serum sebesar 7,97 ± 0,26 nmol/mL dan rerata aktivitas katalase serum sebesar 0,98 ± 0,04 U/mL. Terdapat korelasi positif sedang yang bermakna (r=+0,51; p=0,043) antara indeks apoptosis dengan kadar MDA dan korelasi negatif lemah yang tidak bermakna (r=-0,02; p=0,94) dengan aktivitas katalase.
Kesimpulan: Pada penderita kanker leher rahim stadium lokal lanjut terjadi stres oksidatif yang ditandai dengan kadar MDA serum yang tinggi dan aktivitas katalase serum yang rendah dan terjadi peningkatan indeks apoptosis. Terdapat korelasi positif sedang yang bermakna antara indeks apoptosis dengan kadar MDA dan korelasi negatif lemah yang tidak bermakna dengan aktivitas katalase.

Introduction: Oxidative stress always occurs in cancer patient, which characterized with high level of Malondialdehyde (MDA) and low activity of catalase enzymatic antioxidant. Cancer occurs due to imbalance between cell proliferation and cell death due to apoptosis. The purpose of this study to determine the correlation between apoptosis with MDA level and catalase enzymatic antioxidant activity in patients with locally advanced cervical cancer.
Methods: This is a cross sectional study to 16 locally advanced cervical cancer patients who meet the inclusion criteria from July to August 2013. Blood sampling was done before patients began radiation. MDA level and catalase activity was measured by spectrophotometry. Apoptotic index was conducted by TUNEL method.
Results: The mean of apoptotic index is 11,1 ± 0,59 cell, the mean of serum MDA levels is 7.97 ± 0.26 2 nmol /mL, and the mean of serum catalase activity is 0.98 ± 0.04 U /mL. There was a significant moderate positive correlation (r = +0.51, p = 0.043) between the apoptotic index with serum MDA levels and a non-significant weak negative correlation (r = -0.02, p = 0.94) between the apoptotic index with serum catalase activity.
Conclusion: This study showed that oxidative stress occurs in patients with locally advanced cervical cancer, which characterized with high level of serum MDA and low activity of serum catalase. There is an increase in apoptotic index in patients with locally advanced cervical cancer. There was a significant moderate positive correlation between apoptotic index with MDA levels and a non-significant weak negative correlation with catalase activity.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T58551
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aida Lufti Huswatun
"Pendahuluan : Pada proses keganasan terjadi stres oksidatif, yang ditandai dengan peningkatan kadar serum malondialdehid (MDA) dan aktivitas antioksidan enzim katalase yang rendah. Rasio MDA katalase sebelum dan setelah radiasi fraksi ke 15 dapat menjadi prediktor persentase pengecilan volume tumor 4 minggu pasca radiasi komplit pada kanker serviks lanjut lokal.
Metode penelitian : Penelitian ini merupakan kohort prospektif pada 30 pasien kanker serviks lanjut lokal yang memenuhi kriteria inklusi di Departemen Radioterapi RS CiptoMangunkusumo periode Juli sampai September 2013. Pemeriksaan kadar MDA dan aktivitas enzim katalase dilakukan sebelum dan sesudah radiasi fraksi ke 15, menggunakan spektrofotometri. Respons terapi berdasarkan kriteria WHO dengan membandingkan persentase ukuran volume tumor sebelum radiasi dengan persentase volume tumor 4 minggu setelah radiasi komplit (radiasi eksterna 25 fraksi dan brakhiterapi 3 kali).
Hasil : Pada penelitian ini didapatkan rerata serum MDA sebesar 7,6+/- 1,2 nmol/ml dan aktivitas enzim katalase 0,95 (0,8 ? 1,36) U/mL. Setelah radiasi fraksi ke 15 ditemukan peningkatan serum MDA menjadi 9,5 +/-1,9 nmol/mL (p<0,001) dan penurunan aktivitas enzim katalase menjadi 0,82 (0,71 ? 0,96) U/ml. Terdapat hubungan yang bermakna antara rasio MDA katalase sebelum dan setelah radiasi fraksi ke 15 dengan persentase pengecilan volume tumor 4 minggu setelah radiasi komplit.
Kesimpulan : Hasil penelitian ini menunjukan terjadi stres oksidatif pada pasien kanker serviks lanjut lokal, yang ditandai dengan peningkatan kadar serum MDA dan penurunan aktivitas enzim katalase. Rasio MDA katalase sebelum dan sesudah radiasi fraksi ke 15 dapat menjadi prediktor persentase pengecilan tumor 4 minggu pasca radiasi komplit.

Introduction : Oxidative stress always occurs in cancer patient, which characterized with high level of serum Malondialdehyde (MDA) dan low activity of serum catalase enzymatic antioxidant. To determine the ratio of MDA and catalase activity before and after the 15th radiation fractions which can be a predictor of the tumor volume reduction percentage.
Method: This is a prospective cohort study of 30 locally advanced cervical cancer patients who meet the inclusion criteria in the Radiotherapy Department of Cipto Mangunkusumo Hospital from July 2013 to Sept 2013. MDA levels and catalase enzyme activities were examined before and after the 15th radiation fractions of external radiation using sphectrophotometry. The responds were assess according to WHO criteria, by comparing the size of the tumor volume before radiation and four weeks after completion of radiation ( 25 fraction of external and 3 fractions of brakhiterapi ).
Result: In this study, the mean of serum MDA level is 7.6 + / -1.2 nmol / mL and catalase enzyme activity median is 0.95 ( 0.8 to 1.36 ) U / mL . We found elevated of serum MDA levels to 9.5 + / - 1.9 nmol /mL (p<0,001) and the activity enzyme catalase significantly decrease to 0,82 (0,71 to 0,96) U/ml (p<0,001) on the 15th external radiation fraction. There is a significant relationship is found between the ratio of MDA catalase before radiation and after the fifteenth external radiation fractions with the percentage of tumor volume reduction four weeks after completion of radiation ( r = 0.689 , p = 0.001 ) ( r = 0.418 , p = 0.021 ).
Conclusion: This study showed that oxidative stress occurs in patients with locally advanced cervical cancer, which characteristized with high level of serum MDA and low activity of serum catalase. Ratio of mda catalase before radiation and after the fifteenth external radiation fractions can be a predictor of the percentage of tumor volume reduction four weeks after completion of radiation.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adji Kusumadjati
"Kanker serviks di Indonesia berdasarkan keganasan pada jenis kelamin wanita, menempati urutan ke 2 dengan prevalensi sebesar 14,4 dan angka mortalitas sebesar 10,3. Dari sisi pembiayaan, pengobatan kanker menempati urutan kedua besar anggaran yang di keluarkan oleh BPJS Kesehatan. Data registrasi kanker sangat dibutuhkan untuk evaluasi dan membuat kebijakan yang tepat guna di rumah sakit dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kanker. Hospital Based Cancer Registry HBCR merupakan suatu sistem registrasi kanker yang dilakukan di rumah sakit yang dapat menyediakan informasi mengenai informasi umum dari pasien kanker, pengobatan serta hasil dari pengobatan. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh profil kanker serviks di RSCM tahun 2013 berdasarkan data hospital based cancer registry. Penelitian dilakukan dengan mengekstraksi data epidemiologi dan data tumor serviks dari HBCR RSCM tahun 2013 yang kemudian dilakukan analisa deskriptif.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kanker serviks menempati urutan kedua terbanyak dari seluruh keganasan di RSCM 12 ,n= 678, dengan domisili sebagian besar berasal dari luar DKI Jakarta 52,8, n = 358. Usia rata-rata terjadinya kanker serviks adalah 49,48 tahun, tersering terjadi pada rentang usia 45-49 tahun. Dari sisi histopatologi, karsinoma sel skuamosa merupakan jenis histopatologi pada kanker serviks yang paling banyak dijumpai 74,2, n = 447. Tindakan operasi merupakan jenis tindakan yang paling banyak dilakukan pada kanker serviks stadium dini 83,3, n=25, sedangkan tindakan radiasi paling banyak dilakukan pada kanker serviks stadium lokal lanjut 79,9, n=273 .

Cervical cancer ranks at the second place based on the malignancy among female sex in Indonesia with a prevalence of 14.4 and a mortality rate of 10.3. From a financial perspective, the treatment of cancer ranks second big budget expended by the Indonesian national health insurance. Cancer registration data are needed to evaluate and make appropriate policy in hospitals in order to improve the quality of cancer services. Hospital Based Cancer Registry HBCR is a system of cancer registration in a hospital that can provide information about the general information of cancer patients, treatment, and outcome of treatment. This study was conducted to obtain the profile of cervical cancer in the RSCM in 2013 based on data from RSCM hospital based cancer registry. The study was conducted by extracting the epidemiological data and cervical tumor data from HBCR RSCM in 2013 which was then analyzed descriptively.
The result showed that cervical cancer ranks at the second place from all the malignancy at RSCM 12, n 678, with domicile mostly come from outside Jakarta 52.8, n 358. The average age of cervical cancer was 49.48 years, the most common occurs in the age range 45 49 years. In terms of histopathology, squamous cell carcinoma is the most prevalence type of histopathology of cervical cancer 74.2, n 447. The surgery is a type of action that done for early stage cervical cancer 83,3, n 25, whereas the action of radiation are mostly done in locally advanced cervical cancer 79,9, n 273.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Teja Kisnanto
"Pemanfaatan teknologi nuklir terutama radiasi gamma telah menjadi bagian penting di bidang kedokteran. Radiasi gamma dapat menghasilkan spesies oksigen reaktif (ROS) yang menyebabkan kerusakan biologis pada sel normal. Antioksidan adalah senyawa kimia yang dapat mencegah reaksi berantai radikal bebas. Pada penelitian ini dilakukan eksplorasi kemampuan dari bawang putih, petai, jengkol, tomat dan NAC dalam melindungi sel tehadap radiasi gamma. Kelompok perlakuan terdiri atas: A (kontrol), B (radiasi), C (bawang putih+radiasi), D (petai+radiasi), E (jengkol+radiasi), F (tomat+radiasi) dan G (NAC+radiasi). Tiap kelompok terdiri atas 4 ekor tikus jantan. Paparan radiasi gamma dilakukan setelah pemberian bahan alam selama 8 hari berturut-turut. Uji biokimia berupa pengukuran konsentrasi Malondialdehid (MDA), Glutation (GSH), 8-hidroksi-2-deoksiguanosin (8-OHdG), aktivitas spesifik Glutation Peroksidase (GPx), Katalase (CAT) serta uji immunofluoresensi foci γH2AX pada limfosit dan plasma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan radiasi gamma dapat menyebabkan peningkatan signifikan pada konsentrasi MDA, GSH, 8-OHdG dan jumlah foci γH2AX serta penurunan signifikan pada aktivitas spesifik GPx dan CAT (p<0.05). Sementara itu, pemberian ekstrak bawang putih, jengkol, tomat dan NAC mampu secara signifikan mengurangi radikal bebas akibat radiasi gamma. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bawang putih, jengkol, tomat dan NAC mampu melindungi tikus terhadap stres oksidatif akibat radiasi gamma.

Application of nuclear technology, especially gamma radiation, has become an important part of the medical field. Gamma radiation exposure can produce reactive oxygen species (ROS) which cause biological damage to normal cells. Antioxidants are chemical compounds that can prevent free radical chain reaction. This study has been focused to explore the capability some materials of garlic, petai, jengkol, tomatoes and N-acetylcystein (NAC) in counteracting free radicals caused by gamma radiation. This research was divided into 7 treatment groups, namely A (control), B (radiation), C(garlic+radiation), D(petai+radiation), E(jengkol+radiation), F(tomato+radiation) and G(NAC+radiation). Each group consists of 4 male rats. The irradiation were given after 8 days the suplement had been given. Detection of  malondialdehyde (MDA), glutathione (GSH), glutathione peroxidase (GPx), catalase (CAT), 8-hydroxy-2-deoxyguanosine (8-OHdG) by biochemical, and γ-H2AX foci by immunoflouresence assay were made from lymphocytes and plasma. The results showed that gamma radiation cause a significant increase in MDA, GSH, 8-OHdG concentration and the number of foci γH2AX and a significant decrease in GPx and CAT specific activity (p <0.05). Giving garlic extract, jengkol bean, tomato and NAC can significantly reduce free radicals due to gamma radiation. The conclusion is garlic, jengkol bean, tomato and NAC can protect mice against oxidative stress due to gamma radiation."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T59172
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sesanthi Winda Savitri
"

Latar Belakang: Kanker menjadi salah satu penyebab kematian utama dan dapat menghalangi upaya  peningkatan harapan hidup seseorang. Terdapat 20 juta kasus baru di seluruh dunia dan 9,7 juta kematian akibat kanker pada tahun 2022. Terdapat hambatan non medis yang dialami pasien dalam proses perawatan kanker, dan menyebabkan penundaan perawatan yang sedang dijalani, yang akan mempengaruhi kualitas pengobatan dan kualitas hidup pasien. Keberadaan Patient Navigator (PN) diharapkan dapat memberikan solusi. Terdapat  beberapa literatur yang mengaitkan dengan penundaan terapi pada beberapa jenis kanker, namun belum ada yang membahas perannya pada pasien yang menjalani radioterapi secara menyeluruh. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan peran navigasi pasien dengan tingkat interupsi terapi pasien radioterapi. Metode: Merupakan penelitian kohort restrospektif dengan analisis chi square. Data pasien diambil secara total sampling untuk melihat pola kepatuhan pasien sebelum dan sesudah adanya program PN (Februari 2021-Mei 2024). Dan dilakukan random sampling pada sejumlah 50 responden dari total 235 pasien populasi, untuk mengetahui hubungan peran PN terhadap interupsi terapi. Pasien dilakukan wawancara dan pengisian kuisioner serta pengambilan data sekunder dari data tunda sinar pasien. Hasil: Dari hasil penelitian, domisili merupakan karakteristik yang dapat mempengaruhi tingkat interupsi terapi pasien (p-Value 0,044). Dan gambaran kepatuhan pasien dalam menjalani terapi radiasi,  menunjukkan penurunan semenjak kehadiran program PN. Hambatan atau kendala yang dialami pasien radioterapi paling banyak adalah hambatan fisik (56%). Upaya yang dilakukan tim PN dalam menavigasi pasien terbanyak adalah memberikan dukungan emosional kepada pasien (90%). Sejumlah 73% responden menilai program tersebut sangat baik. Terdapat hubungan yang bermakna antara peran navigasi pasien dengan interupsi terapi pasien radioterapi (p-Value <0,001). Kesimpulan: Navigasi pasien berperan dalam membantu mengatasi kendala-kendala non medis yang dialami pasien dalam proses pengobatan kanker. Pemberian navigasi pasien yang berkesinambungan, berperan dalam meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi radiasi di RSCM.


Background: Cancer is one of the leading causes of death and inhibit the efforts to increase patient's life expectancy. There were 20 million new cases worldwide and 9.7 million deaths from cancer in 2022. There are non-medical barrier experienced by patients in the cancer treatment process, and cause delays in ongoing treatment, which will affect the quality of treatment and the patient's quality of life. The existence of Patient Navigator (PN) is expected to provide a solution. Some study of PN has found the relation with interuption’s therapy in some types of cancer, but no one has discussed its role in all types cancer patients undergoing radiotherapy. This study aims to determine the relationship between the role of patient navigation and the therapy interruption of radiotherapy patients. Methods: This study used retrospective cohort with chi square analysis. Patient data was taken on a total sampling basis to see patient compliance patterns before and after the PN program (February 2021-May 2024). And random sampling was carried out on a total of 50 respondents from 235 population patients, to find out the relationship between the role of PN and therapy interruptions. Patients were interviewed and filled out questionnaires as well as taking secondary data from the radiotherapy patient's delay data. Results: Domicile is a characteristic that can affect the level of patient therapy interruption (p-Value 0.044). The pattern of undergoing radiation therapy patient’s compliance indicate decreasing number since the presence of the PN program. The most common barrier or obstacle experienced by radiotherapy patients is physical barriers (56%). The effort made by the PN team in navigating the most patients was to provide emotional support (90%). Total 73% of respondents considered the program very good. There was a significant relationship between the role of patient navigation and the interruption therapy of radiotherapy patient (p-Value <0.001). Conclusion: Patient navigation plays a role in helping to overcome non-medical patients barrier in the cancer treatment process. Providing continuous patient navigation have role in improving patient compliance in undergoing radiation therapy at RSCM.

 

"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fathiyyatul Khaira
"

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan titik potong lingkar lengan atas pada posisi berbaring. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Data diambil dari rekam medis pasien poliklinik radioterapi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (n=207) dan dilakukan pengukuran antropometri pada pasien. Titik potong lingkar lengan atas diperoleh dari kurva ROC dan indeks Youden tertinggi. Dari penelitian ini didapatkan perbedaan rata-rata antara lingkar lengan atas pada posisi berdiri dan terlentang adalah 0,13 ± 0,33 cm (p<0,001). Lingkar lengan atas dari keseluruhan subjek memiliki korelasi yang kuat dan signifikan dengan indeks massa tubuh (r=0,932; p<0,001). Nilai AUC lingkar lengan atas untuk mendeteksi malnutrisi adalah 0,97 (95% CI 0,947-0,992; p<0,001). Lingkar lengan atas <23,4 cm menunjukkan sensitivitas 94,7% dan spesifisitas 95,6% untuk pria, dan sensitivitas 95% dan spesifisitas 89% untuk wanita. Sebagai kesimpulan, lingkar lengan atas <23,4 cm dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pengukuran untuk mendeteksi malnutrisi, terutama bila indeks massa tubuh tidak dapat diukur.


This study aims to establish a cut-off point for mid-upper arm circumference in the supine position. This is a cross-sectional study. Data were taken from patients at the radiotherapy clinic of Dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital (n=207) by medical records, and anthropometric measurements were performed. The cut-off point of the mid-upper arm circumference was obtained from the ROC curve and the highest Youden’s index. This study found that the mean difference between mid-upper arm circumference in the standing and supine positions is 0.13±0.33 cm (p<0.001). The mid-upper arm circumference from all subjects strongly and significantly correlates to body mass index (r=0.932; p<0.001). The area under the curve of the mid-upper arm circumference for detecting malnutrition was 0.97 (95% CI 0.947–0.992; p<0.001). The mid-upper arm circumference of <23.4 cm presents a sensitivity of 94.7% and a specificity of 95.6% for men, and a sensitivity of 95% and a specificity of 89% for women. In conclusion, the mid-upper arm circumference of <23.4 cm can be used as an alternative measurement to detect malnutrition, particularly when body mass index cannot be measured.
 

"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nastiti Rahajeng
"Tujuan: Mengetahui kesintasan hidup, respon pengobatan dan faktor yang mungkin mempengaruhi dalam penanganan karsinoma nasofaring stadium lokal lanjut.
Metode: Dilakukan penelitian retrospektif deskriptif analitik terhadap 391 pasien karsinoma nasofaring stadium lokal lanjut yang berobat di Departemen Radioterapi RSCM periode Januari 2007-Desember 2011, dilihat karakteristik pasien maupun tumor. Analisis kesintasan dihitung dengan kurva Kaplan Meier dan respon radiasi dianalisa menggunakan uji korelasi Spearman pada pasien yang memenuhi kriteria inklusi.
Hasil: Didapatkan 70.6% pasien adalah laki laki, median usia 45 (9-86) tahun. Sebagian besar stadium IVB (32,7%) dengan tipe histopatologis WHO III paling dominan (82,4%) Kesintasan hidup 3 dan 5 tahun untuk masing-masing stadium IIB, III, IVA, IVB berturut-turut adalah 64,9%, 57,6%, 47,4%, 48,0% dan 64,9%, 43,2%, 34,3%, 26,6%. Sedangkan respon komplit untuk masing-masing stadium IIB, III, IVA, IVB berturut-turut 83,3%, 73,3%, 52,6%, 45,8%. Terdapat korelasi bermakna antara respon radiasi dengan stadium (r=0,242;p=0,038) dan antara respon radiasi dan kesintasan hidup (r=-0,251;p=0,031).

Purpose: To show the overall survival rate, radiation response and factors influenced on locally advanced nasopahryngeal cancer.
Method: Retrospective analytic descriptive study of 391 newly diagnosed locally advanced nasopharyngeal cancer patients from January 2007 till December 2011, to show their characteristics. Overall survival rate were analyzed by Kaplan Meier Survival curve and the radiation response correlation with other factors were analyzed by Spearman correlation test.
Result: Most of the subjects are male (70.6%), with median age 45 (9-86) years old. Mainly on stage IVB (32,79%) with the most hystopalogic was type III WHO (82,4%). All of the subjects were analyzed for 3 and 5 years overall survival, resulted for stage IIB, III, IVA, IVB were 64,9%, 57,6%, 47,4%, 48,0% dan 64,9%, 43,2%, 34,3%, 26,6% respectively. Complete respons for stage IIB, III, IVA, IVB were 83,3%, 73,3%, 52,6%, 45,8%, respectively. There were significant correlation between radiation response and cancer stadium (r=0,242;p=0,038) and between radiation response with overall survival rate (r=-0,251;p=0,031).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Novianti Qurnia Putri
"Latar belakang: Kanker serviks adalah salah satu keganasan ginekologi yang paling umum di dunia, termasuk Indonesia. Kanker serviks menyebabkan 18,279  kematian per tahun di Indonesia dan menyebabkan beban fisik, mental, dan sosial ekonomi bagi pasien dan keluarga. National Comprehensive Cancer Network (NCCN) telah menerbitkan pedoman pengobatan pasien kanker serviks yang  selalu diperbarui (up-to-date) dengan tujuan agar pengobatan lebih terkoordinasi  dan efisien. Pedoman ini telah diadaptasi oleh Indonesia, namun keefektifannya belum dipertanyakan.
Metode: Kami melakukan peninjauan sistematis sesuai dengan PRISMA  statement untuk menilai efektivitas kesesuaian pedoman. Pencarian dengan  strategi pada database PubMed, ProQuest, Scopus, dan Wiley menghasilkan tiga studi yang memenuhi semua kriteria, selanjutnya dinilai dengan skala NewcastleOttawa dan secara kualitatif.
Hasil: Kami menemukan bahwa proporsi kesesuaian pedoman mulai dari 42% hingga 47% dengan faktor-faktor yang mendasarinya seperti jarak ke fasilitas  kesehatan, stadium kanker serviks, penggunaan asuransi, ras, dan faktor sosial  ekonomi lainnya. Kami juga menemukan bahwa terdapat kesintasan hidup lima tahun yang lebih baik dari pasien kanker serviks pada kelompok yang sesuai dibandingkan kelompok yang tidak sesuai. Selain itu, ditemukan lokalisasi dan  kualitas hidup yang lebih baik dari pasien kanker serviks pada kelompok yang sesuai terhadap pedoman. Ketiga studi menggunakan pedoman NCCN sebagai kontrol, sehingga studi-studi tersebut dapat digunakan.
Kesimpulan: Tindakan harus diambil dengan tindakan multidisiplin untuk memastikan bahwa setiap pasien kanker serviks memiliki akses pengobatan yang sesuai terhadap pedoman.

Background: Cervical cancer is the one of the most common gynecology malignancy in the world, including Indonesia. It has accounted for 18,279 deaths per year in Indonesia and caused physical, mental, and socioeconomic burden for patients and caregivers. National Comprehensive Cancer Network (NCCN) has published up-to-date guideline in-order to make more coordinated and efficient treatment for cervical cancer patients. This guideline has been adapted by Indonesia, however its effectivity is yet to be questioned,
Methods: we conducted systematic review according to PRISMA statement to assess effectivity of guideline adherence. Searching with strategy on PubMed, ProQuest, Scopus, and Wiley databases resulted in three studies that met all criteria, thus assessed further with Newcastle-Ottawa scale and assessed qualitatively.
Results: We found that proportion of guideline adherence ranging from 42% to 47% with factors underlying such as distance to health facility, cervical cancer stage, subscription to insurance, race, and other socioeconomic traits. We also found that there is better five-year survival of cervical cancer patients on guideline-adherent group versus non-guideline-adherent group. In addition, there is better cancer localization and life quality of patient in guideline-adherent group. All three studies were using NCCN guideline as control, thus applicable.
Conclusion: Actions should be taken by multidisciplinary action to ensure that every cervical cancer patient has access to guideline-adherent therapy.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Endang Nuryadi
"Studi retrospektif ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan respon terapi radiasi antara teknik konvensional 2D dengan pengecilan lapangan radiasi teknik 2D, 3DCRT atau brakiterapi pada pasien kanker nasofaring stadium dini (stadium I – IIa). Dari 20 sampel didapatkan respon komplit pada 17 pasien (85%) dan respon parsial pada 3 pasien (15%) (p=0.219). Efek samping akut yaitu dermatitis radiasi grade 3-4 adalah 5% (p=0.435), mukositis grade 3-4 adalah 15% (p=0.510) dan xerostomia grade 3-4 adalah 0% (p=0.517). Secara statistik tidak didapatkan perbedaan bermakna tetapi secara klinis mempunyai kesan ada kecenderungan bahwa dengan pengecilan lapangan radiasi teknik brakiterapi dan 3DCRT lebih baik dalam hal efek samping akut mukositis dibanding teknik 2D.

This retrospective study aimed to compare the response of radiation therapy between 2D conventional technique with the booster of 2D, 3DCRT or brachytherapy techniques in patients with early-stage nasopharyngeal cancer (stage I - IIa). From 20 sample, obtained complete response in 17 patients (85%) and partial response in 3 patients (15%) (p = 0.219). Side effects of acute radiation dermatitis grade 3-4 is 5% (p=0.435) , mucositis grade 3-4 is 15% (p=0.510) and xerostomia grade 3-4 is 0% (p=0.517). The result showed no satistically significant but clinically there is a tendency that with the booster of brachytherapy and 3DCRT techniques, are better compared with 2D technique in terms of acute mucositis side effects."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arie Munandar
"Latar Belakang: Kanker leher rahim dapat ‘disembuhkan’ pada stadium awal, namun pada stadium lanjut memilik prognosis yang buruk. Efektifitas dari pemberian kemoradiasi konkuren berbasis platinum sebagai modalitas standar pada kanker leher rahim stadium lanjut lokal masih suboptimal dan memiliki efek samping yang relatif besar. Oleh karena itu dibutuhkan terapi yang lebih efektif. Terapi dengan anti EGFR sebagai target biomolekuler telah memberikan gambaran efektifitas yang baik pada berbagai kanker yang memiliki ekspresi EGFR berlebih. Kanker leher rahim diketahui sebagai salah satu kanker yang memiliki ekpresi EGFR berlebih yang berhubungan dengan prognosis yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektifitas dari Nimotuzumab, suatu antibodi monoklonal anti EGFR, yang dikombinasikan dengan radioterapi pada kanker leher rahim stadium lanjut.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian fase II dengan satu kelompok perlakuan. Sebagai kriteria inklusi adalah pasien dengan kanker leher rahim stadium III. Sebagai fase induksi dilakukan pemberian Nimotuzumab 200 mg intravena setiap minggu selama 9 minggu, dikombinasikan dengan radiasi eksternal daerah pelvis 2 Gy/hari, 5 kali seminggu selama 5 minggu dilanjutkan dengan radiasi brakhiterapi intrakaviter 7 Gy setiap minggu selama 3 minggu. Penelitian ini menilai tingkat respon, waktu hingga terjadinya progresi, dan aspek keamanan dari pengobatan yang dinilai dari efek samping.
Hasil: Dari 44 pasien, 31 pasien telah menjalani evaluasi dari repon terapi menggunakan CT Scan pada minggu 18-22 sejak dimulainya pengobatan (CT Scan konfirmasi pada fase pasca induksi). Tingkat respon objektif atau Objective Response Rate (ORR) adalah 71% (CR 32.3%, PR 38.7%) dan tingkat kontrol penyakit atau Disease Control Rate (DCR) adalah 77.4%. Nilai ORR tampak lebih tinggi pada pasien dengan ekpresi EGFR tinggi dibandingkan dengan pasien yang memiliki ekpresi EGFR rendah atau sedang. Dari 44 pasien, 12 pasien mengalami progresifitas dari penyakit dengan waktu rata-rata hingga terjadinya progresifitas adalah 6.9 bulan. Efek samping derajat 3 terdapat pada 2 orang pasien, dan tidak terdapat pasien dengan efek samping derajat 4.
Kesimpulan: Terapi kombinasi Nimotuzumab dan radiasi menujukkan efek yang menguntungkan dan dapat ditoleransi untuk mengobati kanker leher rahim stadium lanjut.

Background: Cervical cancer is curable for early stages, but advanced stage diseases has poor prognosis. The efficacy of concurrent cisplatin-based chemo radiotherapy as the standard therapeutic modality for locally advanced cervical cancer remains suboptimal and is frequently cause severe adverse event. Therefore more effective therapeutic strategies are required. EGFR targeted therapy have demonstrated efficacy in many cancers overexpressing EGFR. Cervical cancer has been known to over expressing EGFR which correlates with poor prognosis. This study is aimed to assess the efficacy of Nimotuzumab, a monoclonal antibody anti EGFR, combined with radiation in advanced stage cervical cancer.
Methods: This is a phase II single arm study. Patients with stage III cervical cancer were included. Nimotuzumab intravenously 200 mg weekly for 9 weeks combined with external pelvic radiation 2 Gy/day, 5 times a week for 5 weeks and pelvic intracavitary radiation 7 Gy a week for 3 weeks for induction phase. Response rate, time to progression, and safety were assessed in this study.
Result: This is the first phase result. Out of 44 ITT patients, 31 patients were evaluable for response by CT-scan at week 18-22 (confirmatory CT-scan at post induction phase). Objective response rate (ORR) was 71% (CR 32.3%, PR 38.7%) and disease control rate was 77,4%. The ORR tend to be higher in patient with high EGFR expression compared to those with negative or mild to moderate EGFR expression. Out of 44 ITT patients, 12 patients had progressive disease with mean time to progression of 6.9 months. Grade III adverse event were observed in 2 patients, while no grade IV adverse events occurred during the study.
Conclusion: Combination of Nimotuzumab and radiation showed a beneficial effect and well-tolerated for treating advanced cervical cancer.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7   >>