Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 100 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rangi Faridha Asiz
"Gated community merupakan contoh penyegregasian yang terjadi dalam skala urban. Area perumahan yang memisahkan dan mengelompokan diri dari lingkungan sekitar ini menimbulkan permasalahan yang tak hanya berdampak bagi perkotaan namun juga juga turut memberi pengaruh ke lingkungan sosial. Penyegregasian ini berdampak terhadap terpecah-pecahnya ruang urban perkotaan yang seharusnya dapat dinikmati oleh publik. Selain itu pemisahan kelompok berdasarkan kelas-kelas sosial ini juga meningkatkan kesenjangan sosial serta meminimumkan interaksi sosial yang terjadi di dalam masyarakat.
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui apa itu Gated community dan bagaimana Gated Community dapat tumbuh kembang di perkotaan. Terdapat beberapa factor yang diduga menjadi penyebab tumbuhnya gated community, akan tetapi latar belakang penyebab tumbuhnya gated community di tiap negara ternyata berbeda-beda. Lalu bagaimana dengan gated community yang ada di Indonesia? Hal ini akan dibahas dengan mengambil beberapa perumahan yang setipe dengan gated community sebagai kajian studi Kasus.
Gated community tumbuh sebagai dampak dari perkembangan kota. Kota yang semakin tak bersahabat memaksa segelintir orang untuk pindah ke area suburban yang dianggap memiliki kualitas daerah yang lebih baik bagi hunian. Namun, ternyata ada faktor lain di luar hal itu yang juga turut mempengaruhi. Hal itu adalah gaya hidup manusia itu sendiri. Perkembangan peradaban membuat manusia kini tak lagi banyak berhubungan dengan lingkungan dan orang-orang disekitarnya. Kehidupannya lebih banyak dipenuhi oleh aktivitas dan pekerjaan. Hingga akhirnya kebutuhan akan hunian saat ini tak lagi dianggap hanya sebagai tempat bernaung atau mencari perlindungan, akan tetapi juga sebagai sarana untuk ?menyendiri dan menunjukan diri? terhadap sekitarnya.
Hal ini kini tercermin dalam bentuk penyegregasian pola permukiman. Golongan mampu lebih memilih untuk tinggal dalam ?kantung? pemukiman ketimbang tinggal di tengah permukiman penduduk. Oleh karenya hal ini memang tak terelakan mengingat gated community saat ini telah menjadi kebutuhan. Namun sebenarnya terdapat beberapa desain gated community yang lebih ?ramah? bagi lingkungan sekitar, oleh karenanya dibutuhkan pengajian dan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini.

Gated community is one of examples of urban scale segregation. Housing area which segregate them self from environment making any problems which are not causing cities only but also gives any problem to the social environment. This segregation impact the urban space which is devided it into many enclaves and make it secluded from public. In addition, the group based on social classes separation also increase social discrepancy and decrease social interaction between another in society.
The purpose of this writing is want to know what is gated community and how it can growcup in cities. There are several factors which is estimated as the cause of the gated community?s growing in cities. But, the background of gated community?s cause in each country is different. And then, how about the gated community in Indonesia? This question will be answeres by taking several housing which are typicalwith gated community as case studies.
Gated community?s growth is appear as an impact of city?s development. The city which is more and more unfriendly, forcing some people to move to suburban area which is known as a better place to live. But, there is another factor that also influence its growth. That is lifestyle of the human it self. The growing of human civilization make them having not relation anymore with their environment. Now, The city?s people life is much more loaded by jobs and activities. So then, the necessity of dwelling is not guessed as a place for shelter only, but also as tools for ?separated and show up? them self to their environments.
The attitude of ?separated and showing up? of human it self, now is seemed in a form of segregation in settlement pattern. Actually, remembering that gated community is now has changed as a necessity, this phenomenon is unavoidable. But actually, there are several design that can become more ?friendly? for the environment, so that the research and examination about the good design of gated community still needed.
"
2008
S48427
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Jamila Zuraida
"Sebuah kota pada umumnya memiliki nilai bersejarah, baik dari asal-usul kota tersebut atau sejarah perkembangannya. Sejarah ini tersimpan dalam suatu wadah arsitektur dimana wujud bangunannya juga sebagai saksi sejarah tersebut. Namun pada perkembangannya kini sebuah kota besar semarak dengan kemajuan pembangunannya, sehingga banyak bangunan tua bersejarah terancam punah atau bentuk dan fungsinya diganti hingga menjadi bangunan baru dengan pertimbangan kebutuhan ekonomis, sehingga nilai sejarahnya terancam hilang. Sedangkan pemerintahan kota telah tegas melarang perubahan ini dengan pertimbangan pemeliharaan nilai sejarah yang terkandung dalam bangunan tua tersebut, sehingga banyak terjadi pertentangan antara pertimbangan nilai sejarah & budaya dengan kepentingan ekonomi komersil. Pada masyarakat umum terdapat anggapan bangunan tua bersejarah tidak lagi berguna untuk ruang berkegiatan manusia terutama di era persaingan ekonomi sekarang ini, sehingga banyak yang tidak lagi memperdulikan cerita dibalik wujud arsitektur masa lalu tersebut. Permasalahan yang ada adalah saat ini hal tersebut menjadi suatu pertentangan yang akan terus terjadi, sebaiknya diciptakanlah sebuah keserasian antara nilai sejarah/budaya dengan nilai komersil ekonomis sehingga diantara keduanya dapat saling mendukung.
Dalam skripsi ini akan dibahas apakah dengan pemanfaatan kembali arsitektur dengan mengadakan perubahan fungsi yang lebih menekankan nilai komersilnya namun tetap mempertahankan wujud historis arsitekturnya dapat menjadi solusi dan bagaimana dampaknya terhadap bentuk arsitektur atau pada aspek non-arsitekturnya. Sebagai batasan skripsi ini akan membahas mengenai belanja sebagai salah satu bentuk kegiatan komersil menjadi pilihan dalam pemanfaatan kembali arsitektur masa lalu karena dipercaya dapat mendatangkan keuntungan besar bagi pemiliknya. Dengan adanya timbal balik dari segi ekonomi maka diharapkan pemilik atau masyarakat sekitar dapat ikut menjaga dan menyelamatkan wujud arsitektur masa lalu tersebut namun tetap dalam norma-norma yang telah ditetapkan dan kesesuaian bentuk dengan aturan arsitektur yang berlaku. Karena tentunya wadah untuk kegiatan belanja ini memiliki persyaratan desain yang telah menjadi tipologi bangunannya. Pertimbangan persyaratan ini penting untuk menilai kecocokkan bangunan masa lalu tersebut untuk menjadi sebuah wadah komersil kegiatan belanja. Sebuah wujud arsitektur masa lalu dapat tetap memberikan kontribusi keuntungan bagi masyarakat dengan tindakan pemanfaatan kembali yang mengikuti perkembangan zaman. Kedua kasus yang diangkat yaitu pada gedung museum Bank Indonesia dan gedung Ex-Imigrasi membuktikan bahwa BCB dapat menjadi tempat belanja tanpa mengurangi tujuan dari proses pelestarian.

In general, a city has a historical value that comes from its origin and/or its development record. The city?s historical values are preserved within an architectural means whereby the shape of the building could be the witness of a city?s historical period. However, these days a city?s growth means building development in which many old buildings are replaced by the new ones to fulfill the economics needs. As a result, their historical values are threatened. The government has forbid these changes to take place in order to maintain the historical values remain within those old buildings. Accordingly, a conflict happens between maintaining the historical and cultural values with commercial economic needs. In society, there is this idea that old buildings are not useful for human activities anymore especially in today?s economic competitive era. Therefore, many people do not care about the story behind those old buildings. This kind of problem would always happen and hence a harmonization should be created between a historical or cultural value with commercial economic needs so each of them could support the other.
This thesis would discuss whether adaptive use of heritage buildings by modifying its function to be more commercial but still maintain its historical values could solve the problem mentioned previously and how the impacts on the shape of the architecture or on the non-architectural aspects. This thesis would be limited to discuss shopping as one of commercial activities related to adaptive use of heritage buildings because it is believed that shopping could bring significant benefit for the owner. With this adjustment, it is expected that the society would preserve and maintain the shape of heritage buildings within norms that have been determined and the shape should be suitable with the architectural rules. This is because there are design requirements for shopping activities that have been the building?s typology. It is essential to consider those requirements in order to verify whether those heritage buildings are suitable for this type of commercial activities, which in this case is shopping. The heritage building still could bring benefits for society by adaptive use that appropriate with the era?s development. There are two cases discussed in this thesis. These are museum Bank Indonesia and old Immigration buildings. These cases demonstrated that heritage buildings could be the shopping area without reducing their conservation process.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S48411
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Lintang Kusumadelia
"Pasar adalah sebuah tempat manusia untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Kata pasar tidak akan terlepas dari kegiatan belanja. Manusia akan melakukan kegiatan belanja ketika datang ke pasar. Berbelanja adalah sebuah kegiatan konsumtif yang bertujuan untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Tidak hanya manusia yang berbelanja saja yang ada di dalam pasar. Dahulu, kegiatan belanja yang terjadi di dalam pasar melibatkan pihak pembeli dengan pihak penjual secara langsung. Selain itu, pada transaksinya juga terdapat proses tawar menawar. Dan, barang-barang yang dijual cenderung tidak tahan lama. Hal itulah yang membuat kegiatan belanja di dalam pasar cukup memakan waktu lama dan manusia harus lebih sering berbelanja. Sedangkan, manusia saat ini dapat dibilang tidak mempunyai banyak waktu untuk kegiatan tersebut.
Sesuai tuntutan zaman yang dilakukan oleh manusia-manusia modern, kegiatan berbelanja yang terjadi dalam sebuah pasar pun ikut berkembang. Kegiatan berbelanja kemudian berubah. Berbelanja saat ini dapat dilakukan secara cepat tanpa proses tawar menawar dengan pelayanan sendiri. Barang-barang yang ditawarkan juga berupa kemasan sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Pola perilaku manusia yang terus berkembang menuntut segala kegiatan yang lebih cepat dan praktis. Hal ini yang mempengaruhi sikap dan tingkah laku manusia di setiap kegiatannya. Akibatnya, banyak penyesuaian yang dilakukan dan akan terus mengalami perubahan, dari tata cara manusia berbelanja yang diterapkan di pasar hingga ruang-ruang kegiatan di dalam pasar.
Penulis ingin membahas lebih jauh lagi, seberapa besar pengaruh perubahan gaya hidup manusia terhadap arsitektur pasar, baik fisik maupun nonfisik, yang terwujud akibat kegiatan-kegiatan manusia yang terjadi di dalamnya.

The market is a place for human to get their needs. The word market will not separated to shop activity. People usually do this activity when they come in to the market-place. Shopping is a consumptive activity with purpose to get the daily needs. Formerly, shopping in the market directly involve a buyer and a seller. There is also a negotiation between them in their transaction. And, the commodities are not be able to keep in storage for a long time. As a consequence, shopping in the market always take a long time and people have to spent a lot of time to get their needs. Even though, people at this period could be said that they don?t have much time for shopping.
According to the time demand with modern people, shopping activity is also change. Now, shopping can be done in few moments without the negotiation process. The sellers are offered their commodities wrapped up so it?s possible to keep their commodities for a long time and the buyers also can keep their needs for the long period of time.
Human behaviors will always growing to follow the time and it is require everything faster and practical. It will influence the human acting in their activities. And, the results of it, many things inside the market, as a human place, are changed, from the shopping system until the space-activities in the marketplace.
I want to study this case further, so we will know how far the humanlifestyle influence market architecture, either physical or non-physical, that realized from human activities in the market.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S48406
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Mochamad Ardie
"Pusat kota-kota besar di Indonesia umumnya lebih barcirikan sub urban ketimbang urban. Hal tersebut tercermin dari barbagai unsur yang terdapat dl pusat kota-kota baser tersebut, seperti bangunan & jalan. Bangunan-bangunan yang terdapat di pusat kota-kota tersebut seakan-akan berdiri sendlri, tanpa mamliiki kaitan antara satu dengan lainnya. Hal tersebut turut mempengaruhi streetscape pada pusat kota-kota besar Indonesia. Salah satu aklbat yang muncul antara lain adalah jalan hanya dlpandang sebagai sebuah 'medium', bukan sebagai sebuah unsur yang juga dapat menyokong kahldupan sebuah pusat kota.Untuk memulai pembahasan penulis mengangkat isu urban dan sub urban.Struktur fislk dan sosial dari kawasan urban dan sub urban adalah pakok-pokok gagasan yang digali dalam permulaan tullsan ini. Pada baglan barlkutnya dibahas mengenai streatscape dan unsur-unsur apa saja yang mambentuknya. Unsur-unsur tersebut meliputi unsur-unsur fisik maupun non fisik. Bagaimana sebanamya streetscape kawasan pusat kota dan kawasan plnggiran kota (baik jalan utama maupun jalan residensial) adalah hal yang dibahas kemudian. Dalam bagian ini juga dibahas mengenai adanya paham arsilektur modern yang turut membarikan pengaruh yang signifikan terhadap steetscape, terutama pada pusat kegiatan kawasan perkotaan (dan tentunya dampak paham tersebut terhadap struktur
kawasan urban). Pembahasan mengenai strsetscape tersebut sangat penting sebelum tulisan...
.,
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2004
S48506
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Melissa
"Jumlah ruang ritel di Indonesia saat ini memang menabjubkanl Saat ini sedikitnya ada sekitar 70 lokasi pusat perbelanjaan di Jakarta dengan total luas ruang ritel lebih dari 1,5 juta meter persegi. Jumlah sebanyak itu masih ditambah lagi dengan proyek pusat-pusat perbelanjaan baru sebesar 1 juta meter persegi, yang sedang dan akan dibangun dan rencananya akan selesai tahun 2005. Daii total 1,5 juta persegi ruang ritel yang ada di Jakarta, diperkirakan sebanyak 134.000 meter persegi atau sekitar 9% masih belum tersewalterjual (vacant). Dalam kondisi ini, teknik-teknik apakah yang digunakan para developer untuk mempertahankan agar pusat perbelanjaannya bisa tetap sustain 1 survive? Dan faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan sebuah pusat perbelanjaan dapat tetap sustain? Apa pula hubungannya dengan pusat perbelanjaan yang bertajuk mal,plaza dan trade center? Skripsi ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan cam membahasnya melalui teen 8 tahapan perkembangan Real Estat yang dikeluarkan oleh Urban Land Institute."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S48553
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Meilanie Indriyana
"Pola perkembangan kota dipengaruhi oleh berbagai hat, salah satu yang sangat mempengaruhi perkembangan tersebut secara fisik yaitu perkembangan transportasi. Bagitu pula dengan kota-kota di Amerika. dengan adanya perkembangan transportasi maka kotakota di Amerika mengalami perkembangan yang sangat drastis. Radius kota menjadi dua kali lebih Iuas dengan menggunakan teknologl yaitu streetcar, sebuah kendaraan umum mssal. Muncullah pusat kota sebagai pusat dari kegiatan pemerintahan, perdagangan, perindustrian, perkantoran, dan budaya, sedangkan pinggiran kota sebagai daerah pemukiman. Pinggiran kota terus berkembang sehingga jarak antar daerah tersebut menjadi sangat berjauhan yang mangakibatkan timbulnya ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan. Teknologi terus berkembang, muncul mobil yaitu sebuah kendaraan pribadi. Pada awalnya kendaraan pribadi ini adalah sebuah hal yang Iangka, tetapi pada tahun 1915 Ford rnengeluarkan sebuah sari secara masal yang sangat murah_ Hal ini menyebabkan tingkat kepemilikan kendaraan pribadi yang terus meningkat secara cepat dikarenakan tingkat mobilitas masyarakat dari tempat kerjanya di pusat kota sampai tempat tinggalnya di pinggiran kota, selain dari suatu daerah ke daerah lain karena pada saat itu jarak antar daerah sudah semakin jauh dan tidak dapat di tempuh dengan berjalan kaki_ Dengan adanya kendaraan-kendaraan tersebut memungkinkan kota untuk berkembang dengan luasnya selain itu muncul jalan jalan baru untuk menghubungkan satu daerah ke daerah lain, tetapi tingkat pertumbuhan jaringan jalan tidak sejalan dengan tingkat kepemilikan kandaraan pribadi, hal ini menyebabkan kemacetan lalu lintas yang sangat parah bahkan menjadi sebuah ciri khas dari kota-kota besar. Melihat hal tersebut maka pemerintah menerapkan transportasi masal dan pembangunan yang terpadu sehingga dapat menekan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan. Pada saat ini kota jakarta juga mengalami hal yang sama yaitu kemacetan yang dikarenakan tingkat pengadaan jaringan jalan tidak dapat mengimbangi tingkat kepemilikan kendaraan pribadi yang sangat pesat. Melihat hal tersebut maka pemerintah juga mulai menerapkan konsep mass tranportation dengan moda bus yaitu Trans Jakarta Busway. Dalam penerapannya sistem ini mendapatkan kritikan dari berbagai pihak, selain itu telah terbukti sistem ini tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang ada karena di sepanjang jalan yang dilaluinya tetap terjadi kemacetan pada ""peak hours"". Dalam skripsi ini Penulis mencoba untuk menelaah Iebih dalam permasalahan transportasi Kota Jakarta dalam tinjauan perkotaan, sehingga dapat ditemukan solusi yang terbaik dan sistem transportasi yang sesuai dengan pola Kota Jakarta."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S48606
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Gamal
"Skripsi ini ditujukan untuk mengidentifikasi sebuah pertumbuhan kota Jakarta berdasarkan pengaruh faktor transportasi dan aksesibilitas yang ada di kota tersebut, bagaimana faktor ini mempengaruhi bentuk fisik kota dan pola guna lahannya. Transportasi akan dibahas dengan mempertentangkan karakter transportasi berdasarkan kriteria transit dan privat. Aspek-aspek terpenting dari transit yang dapat mempengaruhi wajah kota adalah kapasitas, jarak antar simpul, dan kepadatan yang bisa dilayani. Karakter ini kemudian akan memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap pertumbuhan daerah di sepanjang lini transportasi bersangkutan.
Pertumbuhan Jakarta berdasarkan moda transportasi dapat dibagi menjadi tujuh tahapan. Tahapan-tahapan ini adalah era kanal-kanal dan pedestrian, era kereta kuda, era kereta api, trem, masa jaya kendaraan bermotor pada level jalan raya, yaitu kemunculan mobil dan bus kota, jalan lingkar luar, dan urban sprawl pada kota, sebagai tahap terkontemporer dari perkembangan kota Jakarta.
Dampak dari setiap moda pada perkembangan setiap tahapan sangat spesifik. Pertumbuhan daerah ini bisa diamati dengan melihat pola guna lahannya (Jand use). Analisis skripsi ini mengutamakan teori Harvey dan Clark mengenai perubahan pola guna lahan yang menunjukkan kecenderungan menuju kenampakan kekolaan. Berbagai kecenderungan ini menunjukkan kecenderungan pola-pola tertentu, yaitu Concentric Development (konsentris), Ribbon Development (memita), dan Leap Frog (melompat).
Secara spesifik, sebaran pola guna lahan yang akan dibahas dengan kasus Jakarta adalah sebaran perkantoran dan perdagangan, industri, real estate, sebaran penduduk, dan kenaikan harga lahan yang mungkin terjadi.
Tentunya, skripsi ini dibuat dengan mempertimbangkan adanya kemungkinan bahwa pola ini tidak terjadi secara linear. Tidak selalu hanya transportasi yang berpengaruh kepada pola guna lahan. Terkadang, berbagai kebijakan politik dan faktor-faktor lain mempengaruhi permintaan / kebutuhan akan moda transportasi dan pola ini terjadi terbalik. Karena itu, pembahasan mengenai berbagai kebijakan desentralisasi yang tidak disertai dengan kebijakan transit yang baik juga dimasukkan sebagai perkembangan terkontemporer dari Jakarta."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S48528
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andreas Novendi
"Pembangunan perkotaan tidak saja menuntut peningkatan kebutuhan atas ruang, tetapi juga meningkatkan kompleksitas ruang. Aktivitas ini sexing kali menempatkan pertimbangan atas kota dan entitas alam serta kehidupan liar pada posisi terpisah, bertentangan. 6ahkan akibat ketersediaan ruang-ruang kota yang terbatas dan sering tidak sejalan dengan tingkat kebutuhannya, Bering menimbulkan konflik-konflik peruntukan ruang yang dilematis antara kepentingan pembangunan dan pelestarian alam. Pada akhirnya keberadaan ruang terbuka hijau senantiasa menjadi korban dan sasaran penggusuran dengan berbagai alasan-alasan klasik. Padahal lingkungan hidup dengan seluruh komponennya yang saling bergantung satu sama lain haruslah selalu dalam keadaan seimbang. Ketidakseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan ini tentu mengakibatkan timbuinya masalah lingkungan, ketidaknyamanan termal, karena luas permukaan yang menimbulkan suhu tinggi (struktur dan perkerasan) semakln bertambah sementara luas permukaan yang menimbulkan suhu rendah (tumbuhan dan air) semakin berkurang. Melalui tulisan ini akan dipedihatkan bagalmana keberadaan ruang terbuka hijau dapat berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban, dua faktor penting dalam kenyamanan termal. Sampai sebesar apa pengaruh RTH tersebut clan faktor-faktor apa saja yang menentukan besamya pengaruh RTH. Sehingga bisa ditentukan bentuk RTH yang seperti apa yang paling ideal untuk menciptakan kenyamanan termal. Dengan mengambil studi kasus di kota Depok, sebuah kota yang sedang giat-giatnya membangun. Namun di sisi lain Depok jugs berperan penting sebagai daerah resapan. Yang terjadi adalah pembangunan giia-gilaan, yang menggusur RTH. Kota Depok justru mengarah menjadi kota jasa dan perdagangan. Perm ukiman-permukiman bare menjamur tanpa mengindahkan peruntukan lahan, membuka jalan-jalan bare. Pembangunan ma!-mal dikebut, dengan letak yang saling berdekatan. Lebih banyak lagi perkerasan sementara ruang terbuka hijau semakin sedikit."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S48574
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rachmat Amin
"Banyaknya tidak kejahatan (kriminalitas) dan vandalisme yang tedadi di kota merupakan akibat dari beberapa faktor, antara lain lingkungan fisik, sosial dan ekonomi masyarakat. Tindak kejahatan ini banyak terjadi pada tempat-tempat publik di kota, seperti pasar, terminal dan taman kota. Ternpat kejadian tindak kejahatan ini biasanya memiliki ciri-ciri dan karakter yang hampir sama. Hal inilah yang menarik untuk dikaji, yaitu bagaimana sebenarnya faktor-faktor pembentukan lingkungan tempat publik yang berpotensi terjadinya tindak kejahatan. Faktor-faktor tersebut akan dibahas secara fisik melalul pembentukan tempat public dan secara psikologi lingkungan melalui suasana yang terbentuk didalamnya. Kajian ini ditujukan untuk menyadarkan perancang agar desainnya tanggap dalam mencegah (preventif) dengan mengurangi potensi terjadinya tindak kejahatan."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S48576
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andhika Surya Putra
"Pertumbuhan pedagang sektor informal yang tidak terdukung oleh tempat untuk menampung kegiatan berdagangnya merupakan salah satu masalah perkotaan. Hal lni menyebabkan· pengunaan ruang publik dan sarana .pedestrian sebagai tempat usaha berdagang oleh para pedagang informal. Jembatan penyeberangan sebagal salah satu sarana pedestrian, tidak terlepas dari masalah penggunaan tempat untuk berdagang, sehingga melahirkan fungsi baru bagi jembatan penyeberangan selain sebagai sarana penyeberangan pedestrian dengan aman juga digunakan sebagai tempat berdagang kaki lima. Mengapa penggunaan ruang sebagai tempat berdagang pada jembatan penyeberangan dapat terjadi? Faktor faktor apa yang mendukung terjadinya fenomena ini "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S48594
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>