Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 18 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sungkar, Amru
"Latar belakang :Angka kekerapan rekonstruksi payudara pascamastektomi di Indonesia lebih kecil dibandingkan dengan angka kekerapan mastektomi, banyak faktor yang menyebabkan rendahnya angka kekerapan rekonstruksi antara lain faktor tingkat pengetahuan rekonstruksi payudara dan sikap terhadap rekonstruksi yang dimiliki oleh penderita kanker payudara.
Tujuan : Untuk mendapatkan hubungan antara faktor demografik dan jenis spesialis bedah dengan tingkat pengetahuan dan sikap subyek terhadap rekonstruksi payudara.
Metodologi : suatu studi potong lintang (cross sectional) yang melibatkan 96 subyek pasien kanker payudara yang sudah menjalani mastektomi (71 subyek) dan yang belum menjalani mastektomi (25 subyek) di divisi bedah onkologi RSCM,RS Dharma Nugraha dan RS Kanker Dharmais dalam kurun waktu Agustus sampai Desember 2005. Instrumen yang digunakan didalam penelitian adalah kuesioner yang dibuat sendiri untuk mengetahui tingkat pengetahuan rekonstruksi dan sikap terhadap rekonstruksi. Data yang terkumpul dilakukan analisa dan uji statistik bivariat dan multivariat dengan komputer menggunakan program SPSS 11,5 Windows.
Hasil : Hanya satu subyek yang memiliki tingkat pengetahuan baik, sebagian besar subyek (92%) memberikan sikap positif terhadap rekonstruksi payudaraVariabel yang memiliki hubungan dengan tingkat pengetahuar. adalah jenis spesialis bedah yang melakukan operasi (p = 0,016). Faktor demografik dan jenis spesialis bedah tidak memengaruhi sikap terhadap rekonstruksi.
Simpulan : Pasien yang mendapat pelayanan spesialis bedah tumor memiliki pengetahuan lebih baik bila dibandingkan dengan subyek yang mendapat pelayanan dari spesialis bedah atau fellow bedah tumor.
Kata kunci : Kanker payudara, rekonstruksi payudara, spesialis bedah tumor, pengetahuan , sikap.

Back ground: The prevalence of breast reconstruction post mastectomy in Indonesia is very rare (underreported) comparing with the prevalence of mastectomy alone, Many factors were reported had responsible for the low incidence breast reconstruction such as breast reconstruction knowledge level or attitude toward breast reconstruction.
Purpose: To search for correlation between demographic factors and type of surgeon who did the surgery with the patient's breast reconstruction knowledge level and patient's attitude toward breast reconstruction.
Methodology: A cross sectional study was done from October through December 2005, a total of 96 subjects who had breast cancer, 71 subjects underwent mastectomy and 25 subjects who did not. The research was done at RSCM, Dharma Nugraha hospital and Dharmais hospital.Self made questionnaire was used to establish the knowledge level and attitude toward breast reconstruction. Analysis of variables was done by bivariate analysis and multivariate analysis with logistic regression using SPSS 11, 5 Windows program. Result: There was the only one subject had a good knowledge level about breast reconstruction but most of the subjects had positive attitude toward breast reconstruction. The only significant variable for the patient's knowledge level is the type of surgeon who did the surgery (p = 0,016).
Conclusion: The subjects whom were taken care by oncology surgeon had breast reconstruction knowledge level better than the subjects whom were taken care by general surgeon or fellow oncology surgeon.
Keywords: Breast cancer, breast reconstruction, oncology surgeon, knowledge, attitude.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Rezkini
"Studi deskriptif ini bertujuan untuk mengevaluasi tatalaksana pasien sindrom Apert di senter kami dan memperhitungkan pendapat orang tua pasien sindrom Apert untuk evaluasi luaran dan urutan pengobatan. Observasi dilakukan pada tiga pasien dengan sindrom Apert yang sudah menjalani pembedahan kraniofasial dan tangan pada periode Januari 2012-November 2018 saat mereka sedang bermain untuk dinilai fungsi tangan, tampilan kraniofasial dan juga penampilan secara umum. Video rekaman kemudian dipertontonkan terhadap kelompok subjek kedua yang merupakan 12 orang tua pasien Apert untuk dievaluasi dengan dipandu wawancara mendalam oleh peneliti. Kelompok subjek orang tua ini diwawancara terkait penentuan keputusan tatalaksana pada pasien Apert, dan 75 persen menyatakan lebih memrioritaskan pembedahan tangan dari pembedahan kraniofasial, sementara 25 persen mengutamakan pembedahan kraniofasial dilakukan sebelum pembedahan tangan. Sepuluh subjek (83.33 persen) tidak berencana melakukan operasi pembedahan sindaktili pada kaki anak mereka kecuali bila mengganggu proses berjalan. Hanya 2 subjek (16.67 persen) mempertimbangkan untuk pembedahan mid-face advancement. Sebagian besar orang tua (66.67 persen) berpendapat penampilan wajah pasien di video cukup memuaskan namun area sepertiga tengah wajah masih mungkin membutuhkan koreksi. Semua orang tua setuju bahwa tangan dengan lima jari tampak sangat baik dan fungsi tangan cukup baik. Rekonstruksi klinodaktili bukan merupakan hal yang diprioritaskan bagi sebagian besar orang tua.

This descriptive study aims to evaluate the treatment management for Apert syndrome patients in our center and take Apert syndrome patients parents  opinion  into account on the treatment outcome and treatment orders. Three Apert patients that have undergone craniofacial surgery(s) and hand surgery(s) during January 2012-November 2018 were observed and recorded during their play to observe the hand function, craniofacial appearance and general appearance. The video recordings was then showed to another group consisted of 12 parents of Apert children to be evaluated by a guided in-depth interviews. Parents were also interviewed regarding the treatment decision for their children born with Apert, and 75 percent of the parents prioritize the hand surgery over the craniofacial surgery while the 25 percent prioritize the craniofacial surgery to be performed first. Ten subjects (83.33 percent) do not plan to have feet syndactyly release for their children unless it interferes with the walking. Only 2 subjects (16.67 percent) consider to have mid-face advancement surgery. Most of the parents (66.67 percent) found the childrens facial appearance in the videos are satisfactory but the midface still have some place for reconstruction. All parents agree that five-digits hand looked very well and the hand functions are acceptable. The clinodactyly was not a priority to be reconstructed for most of the parents."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Sweety Pribadi
"Pendahuluan: Tujuan studi ini adalah untuk menemukan teknik penyuntikan larutan tumescent ONEPERMIL yang aman dengan menghindari cedera pembuluh darah perforator pada flap kulit berbasis perforator.
Metode: Studi eksperimental dengan kontrol dan randomisasi dilakukan pada 20 ekor Rattus novergicus strain Wistar yang sehat dengan berat 220-270 gram. Tiga mL larutan tumescent ONEPERMIL disuntikkan 10 menit sebelum dilakukan elevasi islanded groin flap. Teknik penyuntikan yang dirancang secara sistematis dibandingkan dengan teknik penyuntikan acak yang berperan sebagai kontrol. Kejernihan lapangan operasi beserta diameter pedikel pembuluh darah dicatat. Luas flap yang vital diolah dengan program AnalyzingDigitalImages® pada hari ke-7 pascaperlakuan. Analisis statistik dilakukan dengan tes Chi-square (p<0,05).
Hasil: Larutan tumescent ONEPERMIL menghasilkan lapangan operasi yang bersih tanpa perdarahan pada semua subyek. Ditemukan nekrosis sebanyak 3 dan 4 flap masing-masing pada grup acak dan sistematik. Tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik (p>0.05) antara kedua teknik penyuntikan larutan tumescent berdasarkan nekrosis flap.
Kesimpulan: Walaupun larutan tumescent ONEPERMIL menghasilkan lapangan operasi bersih tanpa perdarahan, namun teknik penyuntikan secara sistematis tidak menghasilkan perbedaan bermakna bila dibandingkan dengan teknik acak.

Background: We aimed to find a safe injection technique of ONEPERMIL tumescent solution to avoid injuring the vessels in perforator-based skin flap.
Methods: A randomized controlled experimental study was conducted on both groins of 20 healthy Wistar stained-Rattus novergicus weighing 220-270 grams. A systematic injection pattern was compared to the random injection pattern which serves as control. Three mL ONEPERMIL tumescent solution was injected subcutaneously before elevation of the islanded groin flap. Clarity of the operating field along with the size of the pedicle were recorded. The survival area of the skin flap was managed with AnalyzingDigitalImages® on post operative day-7. The data was analyzed with Chi-square test (p<0.05).
Results: Totally bloodless operative field was observed in all subjects. Three and four flaps turned into total or partial necrosis in random and systematic pattern group subsequently. No significant difference (p>0.05) was found between the injection technique groups in terms of flap necrosis.
Conclusion: Although the ONEPERMIL tumescent technique is advantageous in a way that it provides a totally bloodless operative field, but systematic patterned-technique of injection did not provide a different result in comparison to the custom random patternedmulti-passing needle injection technique.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Puri Ambar Lestari
"ABSTRAK
Pendahuluan: Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui awitan dan durasi kerja lidocaine dalam larutan one-per-mil tumescent.
Metode: Studi eksperimental dengan kontrol dan desain buta acak ganda (triple blind study) dilakukan pada 12 subjek sehat yang diinjeksikan larutan one-per-mil tumescent mengandung lidocaine 0,2% pada satu tangan atau lidocaine 2% pada tangan kontralateral. Awitan dan durasi kerja lidocaine diukur berkala dengan uji sensoris Semmes-Weinstein dan diskriminasi dua titik. Tingkat nyeri diukur dengan visual analogue scale (VAS)
Hasil: Awitan tercepat pada grup lidocaine 2% tercatat pada menit ke 1 (rentang: menit ke 1 hingga 6). Awitan rata-rata pada grup larutan one-per-mil tumescent adalah 4.67 menit (± 2.53 menit). Durasi kerja lidocaine 2% adalah 95.58 menit (± 29.82 menit), sedangkan durasi kerja larutan one-per-mil tumescent adalah 168.5 menit (± 45.1 menit) dengan uji diskriminasi dua titik dan 186.83 menit (± 44.02 menit) dengan uji sensoris Semmes-Weinstein. Terdapat perbedaan awitan dan durasi kerja yang signifikan pada kedua grup. Tidak ditemukan perubahan sensibilitas ujung jari yang signifikan pada kedua grup pada saat sebelum dan sesudah intervensi.
Kesimpulan: Studi ini menunjukkan awitan dan durasi kerja lidocaine dalam larutan one-per-mil tumescent adalah rata-rata 4,67 dan 168,5 menit. Lidocaine 0,2% dalam larutan one-per-mil tumescent menghasilkan awitan yang lebih lambat dan durasi kerja yang lebih panjang dibandingkan dengan lidocaine 2%.

ABSTRACT
Background: We aimed to profile the onset and duration of action of the lidocaine in one-per-mil tumescent solution.
Methods: A controlled, prospective, and randomized triple blind study was conducted on both hand of 12 healthy volunteers who were injected in two consecutive days in his ring finger with either one-per-mil tumescent solution containing 0.2% lidocaine (experimental finger) in one hand or 2% lidocaine (control finger) in the contralateral hand. The onset and duration of action of lidocaine were measured over time by Semmes-Weinstein and two-point discrimination test. The level of pain was evaluated using visual analogue scale (VAS).
Results: The fastest onset of action in 2% lidocaine group was in the first minute (range, minute 1 to 6). Average onset of action of one-per-mil tumescent solution was 4.67 minutes (± 2.53 minutes). Duration of action of 2% lidocaine was 95.58 minutes (± 29.82 minutes), meanwhile the duration of one per-mil tumescent solution was 168.5 minutes (± 46.4 minutes) by 2PD test and 186.83 minutes (± 44.02 minutes) by SW test. There were significant difference of the onset and duration of action of both groups. Fingertip sensibility before and after the intervention did not change significantly in both group.
Conclusion: This study shows that the onset and duration of action of lidocaine in the one-per-mil solution injected in the finger using tumescent technique subsequently at 4.67 and 168.5 minutes in average. 0.2% lidocaine in one-per-mil tumescent solution produced slower onset and longer duration of action compared to 2% lidocaine."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Prasasta Adhistana
"LATAR BELAKANG : Manajemen cidera dan penyakit pada tangan membutuhkan intervensi bedah dan non-bedah yang baik dan teliti untuk mencapai restorasi anatomi dan fungsional yang optimal. Saat ini penggunaan tourniquet kimia dengan epinephrin mulai mengantikan touniquet udara untuk operasi tangan sadar penuh menggunakan infiltrasi lokal ke tempat pembedahan sebagai metode dari pembiusan lokal. Berbagai jenis spuit dan jarum dapat digunakan untuk infiltrasi bius lokal. Untuk mengeluarkan larutan dari spuit ke jaringan membutuhkan gaya yang spesisfik. Ada 2 jenis gaya yg digunakan untuk mengeluarkan larutan dari spuit: (1) untuk gerakan awal dari piston (PBF: plunger-stopper break loose force), (2) gaya untuk mempertahankan laju piston (DGF: dynamic gliding force). Kedua gaya tersebut dipengaruhi oleh diameter spuit dan jarum, dan juga viskositas larutan. Tujuan dari studi ini untuk memberikan kombinasi yang terbaik antara spuit dan jarum suntik yang membutuhkan tenaga yang minimal untuk mengeluarkan larutan dari spuit.
METODE : Untuk menjelaskan aspek fisik dan mekanik mengenai gaya yang dibutuhkan untuk infiltrasi bius lokal pada kombinasi spuit dan jarum, kami mengunakan spuit 1cc, 3cc, 5cc, 10cc dan 20cc serta jarum suntik asli dari kemasan, jarum 27-Gauge, jarum spinal 27-Gauge, dan jarum 30-Gauge. Setiap kombinasi spuit dan jarum dilakukan sebanyak 3 kali. Kami telah melakukan total 60 tes pada kombinasi spuit dan jarum. Tes dilakukan dengan menggunakan mesin Instron 5940 dengan kecepatan 100mm/menit.
HASIL : Nilai PBF terdendah didapatkan pada kombinasi spuit 1cc dengan jarum 27-Gauge; nilai PBF tertinggi didapatkan pada kombinasi spuit 10cc dengan jarum 30-Gauge. Nilai DGF terendah didapatkan pada kombinbasi spuit 1cc dengan jarum pada kemasannya; nilai DGF tertinggi didapatkan pada kombinasi spuit 20cc dengan jarum 27-Gauge needle. Kombinasi spuit 20cc dengan jarum 27-Gauge membutukan gaya sebesar 25,33 N untuk PBF dan 113,367 N buat DGF. Gaya ini 33x lebih tinggi untuk PBF dan 324x lebih tinggi untuk DGF pada spuit 1cc. Ketika kita menggunakan spuit 3cc dengan jarum27-Gauge, makan akan membutuhkan gaya 5,8x lebih inggi pada PBF dan 24,8x lebih tinggi pada DGF. Pada spuit 5ccdenga kombinasi jarum 27-Gauge, perlu gaya 2,4 kali lebih tinggi pada PBF dan 5,8 kali lebih tinggi pada DGF. Untuk jarum suntik 10cc, maka akan membutuhkan gaya 5,8 lebih tinggi di PBF dan 2,6 lebih tinggi pada DGF.
SIMPULAN : Kombinasi terbaik dari spuit dan jarum suntik untuk memasukan larutan bius lokal adalah yang membutuhkan PBF dan DGF yang rendah yang terdapat pada spuit 1cc dan jarum yang berada pada kemasannya. Hal lain yang harus dipertimbangkan adalah kekuatan individual tangan dokter bedah untuk memenuhi beban fisiologis dan ergonomis bersama dengan gaya yang rendah untuk menjalankan operasi.

BACKGROUNDS : Management of hand injury or disease needs meticulous surgical intervention as well as tender loving non-surgical intervention to reach optimal goals which are anatomical restoration and good functional outcome. The application of chemical tourniquet using epinephrine has begun to replace the use of pneumatic tourniquet. Wide-awake hand surgery uses local infiltration to the surgical site as the method of anesthesia. Different types of syringe can be used to administer the tumescent solution. Injection of the tumescent solution in the syringe requires a specific force to eject the solution into the tissue. There are two types of power used in syringe: (1) for initial movement of the syringe?s piston which is known as plunger-stopper break loose force (PBF) and (2) the power to maintain the sustaining or the forward motion of the piston which is known as dynamic gliding force (DGF). Both of these forces are affected by the diameter of the needle and syringe, and also the viscosity of the tumescent solution as well. The purpose of this studyis to data for describing the best combination of syringe and needle which requires the least force.
METHODS : To elaborate the physical and mechanical aspect regarding the power and force in the combination of needle and syringe used for local anesthesia injection, we use 1cc, 3cc, 5cc, 10cc and 20cc syringe with original needle from packaging, 27-Gauge needle, 27-Gauge spinal needle, and 30-Gauge needle. We have performed 60 test of syringe and needle combination. Each combination was tested in triplet data using Instron 5940 Series testing systems, in 100mm/minute velocity.
RESULT : The lowest PBF value was performed by the combination of 1cc syringe and 27-Gauge Needle; and the highest PBF value was achieved by the combination of 10cc syringe and 30-Gauge Needle.The lowest DGF value was measured in the combination of 1cc syringe and original needle. And the highest DGF value was performed by the combination of 20cc syringe and 27-Gauge needle. The 20cc syringe needs 25.33 Newton for PBF and 113.367 Newton for DGF. These forces are 33 times higher for PBF and 324 times higher for DGF, if we use the 1 cc syringe. When we choose 3cc syringe and 27-Gauge needle, it will need 5,8 times higher in PBF and 24,8 times higher in DGF. Another option of syringe is 5cc syringe, that will need 2,4 times higher in PBF and 5.8 times higher in DGF. For 10cc syringe, it will need 5.8 higher in PBF and 2.6 higher in DGF.
CONCLUSIONS : The best combination of syringe and needle that required the least force (PBF and DGF) for hand and digit surgery are 1 cc syringe and original needle. Another thing to be considered is the individual power of the Surgeon?s hand to meet the physiologic and ergonomic burden along with the initial and maintenance force needed through the operations.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Johannes Albert Biben
"Penelitian ini bertujuan untuk memelajari efek anestesia lokal yang ditimbulkan lingkungan tumesen melalui teknik tumesen one-per-mil. Empat komposisi dan volume larutan tumesen yang berbeda disuntikan pada 50 ekot mencit Swiss Webster. Kelompok intervensi dibagi berdasarkan jenis dan volume larutan tumesen yang disuntikan (A, larutan tumesen dengan lidokain 0.2%; B, larutan tumesen dengan lidokain 0.04%; C, larutan tumesen tanpa lidokain; D, larutan tumesen tanpa lidokain dengan volume dua kali lipat; E, kontrol). Efek anestesi lokal pada telapak kaki dan ekor mencit dites menggunakan uji formalin (n = 25) dan uji pencelupan ekor (n=25). Respon perilaku nyeri dalam bentuk menjilat telapak kaki dan waktu latensi penarikan ekor diobservasi. Uji ANOVA dan Kruskal-Wallis digunakan sebagai uji statistik dengan nilai p<0.05 dianggap bermakna. Keempat kelompok intervensi menunjukan respon perilaku nyeri yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Semua kelompok intervensi menunjukan waktu latensi penarikan ekor yang lebih panjang dibandingkan kelompok kontrol (p<0.05). Kelompok intervensi menunjukan durasi menjilat telapak kaki yang lebih singkat dibandingkan kelompok kontrol, tetapi tidak bermakna secara statistik (p>0.05). Kelompok A memiliki awitan kerja yang paling cepat. Lingkungan tumesen yang diciptakan teknik injeksi tumesen dapat memberikan efek anestesi lokal walaupun tidak mengandung zat anestesi lokal. Hal ini dibuktikan secara bermakna pada uji pencelupan ekor.

This study aimed to delineate whether the tumescence environment created by one-per-mil tumescent technique has local anesthesia effect. Four different composition and volume of tumescent solution were injected to 50 Swiss Webster mice. Intervention groups were divided by the type and volume of injected tumescent solution (A, tumescent solution with 0.2% lidocaine; B, tumescent solution with 0.04% lidocaine; C, tumescent solution without lidocaine; D, doubled volume of tumescent solution without lidocaine; E, control). Local anesthesia effect at the paw and the tail of the mice were tested by using formalin test (n = 25) and tail immersion test (n=25). Pain response behavior in the form of paw licking duration and tail withdrawal latency were observed. ANOVA was used to test the statistical difference with p<0.05. The 4 interventional groups showed less pain response behavior compared to the control group. All interventional groups showed significant longer tail withdrawal latency (p<0.05) than control group. However, the groups showed non-significant shorter paw licking duration than control (p>0.05). Group A had the fastest onset of local anesthesia effect. The tumescence environment as a result of tumescent injection technique was able to provide local anesthesia effect even though the solution did not contain local anesthetic agent as proved by the tail immersion test."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Krista Ekaputri
"Praktik injeksi silikon atau parafin cair untuk memperbaiki penampilan pada hidung masih marak. Di lain pihak, rekonstruksi hidung parafinoma untuk mengembalikan ke bentuk normal sulit dicapai. Data objektif mengenai karakter distorsi pada hidung parafinoma dapat berguna untuk menjadi data awal sebagai pembanding untuk evaluasi hasil rekonstruksi hidung parafinoma. Studi ini memanfaatkan Mirror Stand MirS untuk mengambil foto wajah 30 subjek dengan parafinoma hidung. Ukuran fotogrametrik dikonversi menjadi ukuran morfometrik. Hasil pengukuran kemudian dianalisis untuk mendapatkan ciri distorsi dari hidung parafinoma. Ukuran meliputi intercanthal width, nasal root width, alar width, two tip defining points distance, nasofrontal angle, length of the nose radix to pronasion, nasofacial angle, nasion projection, pronasion projection, tip angle, nasolabial angle, columella length, the extend of extended columella danbase of the nose width. Hidung parafinoma memiliki ciri sebagai berikut; nasal root yang lebar (2.70 ± 0.30 cm); jarak two-tip defining pointsyang lebar (2.09 ± 0.22 cm), nasion projectionyang lebar (0.64 ± 0.36 cm), nasolabial angleyang sempit (78.81 ± 15.93), kolumela yang menggantung (0.47 ± 0.31 cm) dan porsi lobular dari tip hidung yang panjang (1.12 ± 0.20 cm).

The practice of injecting liquid silicone or paraffin at the nose for aesthetic purposes still continues today. On the other hand, normal apearance after reconstruction in nose paraffinoma is very difficult to achieve. The objective data regarding distortion characteristic in nose paraffinoma could be use as basic data to assess outcome of reconstruction in paraffinoma nose.Portable Mirror Stand MirS device is used to take standardized facial photographs of 30 patients with paraffinoma of the nose. Photogrammetrics measurements were then converted to morphometric measurement. The result was then analyzed to formulate the distortion characteristic of nose paraffinoma. Basic measurements included intercanthal width, nasal root width, alar width, two tip defining points distance, nasofrontal angle, length of the nose radix to pronasion, nasofacial angle, nasion projection, pronasion projection, tip angle, nasolabial angle, columella length, the extend of extended columella and base of the nose width. Paraffinoma nose has the following characteristics; wide nasal root base (2.70 ± 0.30 cm); wide two-tip defining point rsquo;s distance (2.09 ± 0.22 cm); wide nasion projection (0.64 ± 0.36 cm), acute nasolabial angle (78.81 ± 15.93 cm) hanging columella (0.47 ± 0.31 cm) and long lobular portion of the tip (1.12 ± 0.20 cm). "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Steven Narmada
"Latar Belakang: Dibutuhkan waktu 14 hari donor kulit STSG sembuh. Kolagen berperan penting untuk menginduksi penyembuhan luka dan proses epitelisasi lebih cepat. Sementara gliserin menjaga kulit tetap lembab dan mendorong migrasi sel epitel. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui fungsi gel kolagen dan gliserin dalam mempercepat penyembuhan luka pada daerah donor STSG. Bahan dan Metode: Uji coba klinis non-acak dilakukan pada 18 pasien dewasa untuk membandingkan tingkat epitelisasi pada donor STSG antara kombinasi gel kolagen dan gliserin dibandingkan tulle yang dikombinasikan dengan kasa lembab. Luka dinilai pada hari ke 7, 10, dan 14 pascaoperasi. Persentase epitelisasi dievaluasi dan difoto. Setiap foto dianalisis dengan menggunakan program analisis warna Adobe Photoshop. Data dianalisis dengan menggunakan SPSS 20.0 dan diuji dengan independent t-test. Hasil: Delapan belas pasien yang membutuhkan pencangkokan kulit dimasukkan dalam penelitian ini. Terdapat 13 pria dan 5 wanita dengan usia rata-rata 33,34 tahun berkisar 15-50 tahun . Area donor rata-rata adalah 140,89 cm2 berkisar 100-240 cm2 . Persentase tingkat epitelisasi lebih besar dengan menggunakan kombinasi gel kolagen dan gliserin pada hari ke-7 pasca operasi 88,05 , 95 CI 85,75-90,63 vs 77,18 , 95 CI 73,39-81,02 ; p

Background It usually takes 14 days for the split thickness skin donor site to heal. Collagen plays an important role to induce faster wound healing and epithelialization. Meanwhile, glycerin keeps skin moisturized and promotes epithelial cells migration. This study was conducted to identify the role of combined collagen and glycerin based gel in promoting faster wound healing on split thickness skin graft donor sites.Materials and Methods A non randomized clinical trial was performed on 18 adult patients to compare the dressing for split thickness skin graft donor site epithelialization rate between combination of collagen and glycerin based gel versus tulle grass combined with moist gauze. The wound was assessed on postoperative day 7, 10, and 14. The epithelialization percentage was evaluated and photographed. Each photo was analyzed using Adobe Photoshop color match program. Data was analyzed using SPSS 20.0 and tested with independent t test.Result Eighteen patients requiring skin grafting were included in this study. There were 13 men and 5 women with mean age 33.34 year old ranged 15 50 year old . The average donor area was 140.89 cm2 ranged 100 240 cm2 . Epithelialization rate was greater using combination of collagen and glycerin based gel on postoperative day 7 88.05 , 95 CI 85.75 90.63 vs 77.18 , 95 CI 73.39 81.02 p 0.05 and day 10 96.92 , 95 CI 96.02 97.82 vs 89.22 , 95 CI 87.6 90.85 p 0.05 . Meanwhile, there is no epithelialization rate difference on postoperative day 14 between both dressing types 100 vs 99.72 0.55 , p 0.05Conclusion Although showing better epithelialization rate at day 7 and 10, combination of collagen and glycerin based gel covered gauze showed no difference in the healing of split thickness skin graft donor sites in comparison with tulle grass combined with moist gauze at day 14. Keywords Donor site, STSG, collagen and glycerin based gel, epithelialization. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
T57652
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Krista Ekaputri
"ABSTRAK
Praktik injeksi silikon atau parafin cair untuk memperbaiki penampilan pada hidung masih marak. Di lain pihak, rekonstruksi hidung parafinoma untuk mengembalikan ke bentuk normal sulit dicapai. Data objektif mengenai karakter distorsi pada hidung parafinoma dapat berguna untuk menjadi data awal sebagai pembanding untuk evaluasi hasil rekonstruksi hidung parafinoma. Studi ini memanfaatkan Mirror Stand MirS untuk mengambil foto wajah 30 subjek dengan parafinoma hidung. Ukuran fotogrametrik dikonversi menjadi ukuran morfometrik. Hasil pengukuran kemudian dianalisis untuk mendapatkan ciri distorsi dari hidung parafinoma. Ukuran meliputi intercanthal width, nasal root width,alar width,two tip defining points distance,nasofrontal angle,length of the nose radix to pronasion ,nasofacial angle,nasion projection,pronasion projection,tip angle,nasolabial angle,columella length,the extend of extended columella danbase of the nose width.Hidung parafinoma memiliki ciri sebagai berikut; nasal root yang lebar 2.70 0.30 cm ;jarak two-tip defining pointsyang lebar 2.09 0.22 cm , nasion projectionyang lebar 0.64 0.36 cm , nasolabial angleyang sempit 78.81 15.93 , kolumela yang menggantung 0.47 0.31 cm dan porsi lobular dari tip hidung yang panjang 1.12 0.20 cm .

ABSTRACT
The practice of injecting liquid silicone or paraffin at the nose for aesthetic purposes still continues today. On the other hand, normal apearance after reconstruction in nose paraffinoma is very difficult to achieve. The objective data regarding distortion characteristic in nose paraffinoma could be use as basic data to assess outcome of reconstruction in paraffinoma nose.Portable Mirror Stand MirS device is used to take standardized facial photographs of 30 patients with paraffinoma of the nose. Photogrammetrics measurements were then converted to morphometric measurement. The result was then analyzed to formulate the distortion characteristic of nose paraffinoma. Basic measurements included intercanthal width, nasal root width, alar width, two tip defining points distance, nasofrontal angle, length of the nose radix to pronasion , nasofacial angle, nasion projection, pronasion projection, tip angle, nasolabial angle, columella length, the extend of extended columella and base of the nose width. Paraffinoma nose has the following characteristics wide nasal root base 2.70 0.30 cm wide two tip defining point rsquo s distance 2.09 0.22 cm wide nasion projection 0.64 0.36 cm , acute nasolabial angle 78.81 15.93 hanging columella 0.47 0.31 cm and long lobular portion of the tip 1.12 0.20 cm . "
2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>