Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sabila Bahrain
"ABSTRAK
Pengalaman berbeda yang dialami oleh generasi X dan Y dapat memengaruhi pandangan mereka terkait perkawinan, termasuk terkait karakteristik perkawinan dan kepuasan perkawinan. Karakteristik perkawinan didefinisikan sebagai nilai-nilai yang dianggap penting bagi pasangan dalam hubungan perkawinannya, sedang kepuasan perkawinan didefinisikan sebagai evaluasi global seseorang terhadap kualitas perkawinan yang sedang dijalaninya.Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara karakteristik perkawinan dan kepuasan perkawinan serta perbedaannya antara generasi X dan Y. Pearson correlation serta independent sample t test dilakukan pada partisipan penelitian ini yang berjumlah710 (206 generasi X dan 504 generasi Y). Karakteristik perkawinan diukur dengan CHARISMA dan kepuasan perkawinan diukur dengan QMI yang sudah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Hasil pengujian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara faktor love (r = .227, p<.01, 2-tailed) dan loyalty (r = .241, p<.01, 2-tailed) dalam karakteristik perkawinan dengan kepuasan perkawinan, namun tidak pada faktor shared values.Kemudian, generasi X menganggap faktor shared valueslebih penting bagi hubungan perkawinan mereka dan memiliki tingkat kepuasan perkawinan yang lebih tinggi dibandingkan generasi Y.

ABSTRACT
Different experiences faced by generations X and Y can influence their views regarding marriage, including marital characteristics and marital satisfaction. Marital characteristics are defined as values that are considered important for couples in marital relationships, while marital satisfaction is defined as a person's global evaluation of the quality of their marriage. This study aims to see the relationship between marital characteristics and marital satisfaction and their differences between generations X and Y. Pearson correlation and independent sample t-test were performed on 710 participants (206 generation X and 504 generation Y). Marital characteristics are measured by CHARISMA and marital satisfaction is measured by QMI which has been adapted into Indonesian. The test results show that there is a significant positive relationship between love (r = .227, p<.01, 2-tailed) and loyalty (r = .241, p<.01, 2-tailed) in marital characteristics and marital satisfaction, but not in the shared values factor. Then, generation X considers shared values ​​to be more important for their marriage and also has a higher level of marital satisfaction than generation Y.
"
2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nirtafitri Trianisa
"Adanya pandangan bahwa etnis Tionghoa memiliki asosiasi yang sangat kuat dengan non Muslim menimbulkan pengaruh yang besar terhadap etnis Tionghoa yang ingin berkonversi ke Islam. Mereka harus siap mendapat pandangan sebagai golongan kedua dari etnisnya sendiri (Tanudjaja, 2000). Selain itu, proses konversi agama yang berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi individu (Rambo, 1993). Namun, ada sebagian dari mereka yang mampu untuk bangkit dan bertahan dari masalah tersebut serta berhasil menjadi individu yang lebih baik. Mereka adalah individu yang dapat mengembangkan kemampuan resiliensinya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran kemampuan resiliensi pada muallaf dewasa muda keturunan Tionghoa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi yang dilakukan terhadap tiga orang muallaf dewasa muda keturunan Tionghoa dengan karakteristik yang telah ditentukan.
Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa hampir semua kemampuan resiliensi ketiga subjek dapat dikatakan telah berkembang. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa berkembangnya kemampuan resiliensi pada muallaf dipengaruhi oleh faktor protektif yang dimiliki oleh subjek, yaitu komunitas agama Islam yang memberikan dukungan baik secara emosi, moral dan intelektual selama proses konversi.
Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk menggunakan dua pendekatan yaitu kuantitatif dan kualitatif. Hal ini dimaksudkan agar hasil penelitian yang didapatkan dapat saling mendukung, sehingga menghasilkan data yang lebih akurat mengenai gambaran resiliensi subjek.

The strong opinion about Tionghoa associate to the non-Muslim, have a large impact to the Tionghoa who will convert to Islam. They must prepare to the negative opinion that they would be placed into the second societies in their own ethnic (Tanudjaja, 2000). Besides that, the convertion process potentially effect their live to be worse (Rambo, 1993). However, some of them can bounce back and hold out from the setbacks in their live. They are the people who can increase their resiliency abilities.
The purpose of this research is to give the description about resiliency abilities among young adulthood Tionghoa who convert to Islam. It use qualitative approach with interview and observation techniques which is utilized to the three people of young adulthood Tionghoa who convert to Islam.
The results, almost the resiliency abilities of that three people have increased. It is also influenced by their protective factors which they have including Islamic community which provide them emotional, morality and intellectual support in convertion process.
For the next study, qualitative and quantitative approach are suggested. Each of them could be important to another to get more complete and accurate informations about resiliency of the people.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2007
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shinta Nawai
"Sifat dasar manusia merupakan topik pembahasan di semua aspek kehidupan yang tidak ada habisnya, dan keputusan mengenainya sangat berpengaruh terhadap peradaban. Salah satu sifat yang sering diperbincangkan adalah apakah manusia pada dasarnya altruistik atau egoistik.
Altruisme muncul sebagai akibat dari perasaan empati. Piliavin dan Charng (1990) menyimpulkan bahwa perilaku ?altruisme? adalah sifat dasar manusia. Kebahagiaan yang didapat adalah konsekuensi dari perilaku memberi dan bukan merupakan tujuan.(Batson, 2005). Tujuan penelitian adalah memperoleh gambaran mengenai altruisme yang ada di diri relawan yang membantu dalam satu Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP). dan manfaat dari penelitian ini baik teoritis dan praktis.
Penelitian dilakukan dengan mengunakan metode kualitatif, dengan wawancara dan observasi sebagai pengumpulan data dengan membahas aspek-aspek seperti latar belakang keluarga, empati, altruisme, kebahagiaan, motivasi intrinsik dan keutamaan dari tiga relawan P2KP yang telah bekerja lebih dari satu tahun dan tanpa diberi imbalan apapun. Kesimpulannya adalah gambaran tentang altruisme yang mengakibatkan adanya kebahagiaan dalam diri relawan.

Discourse about human nature has been a never ending topic in all aspects of human lifes, its conclusion is a determining factor shaping the civilization. One of the nature of human often discussed is are human beings altruistic or egoistic.
Altruism is a consequence of the feeling of empathy. Piliavin and Charng (1990) concluded that ?altruism? is human nature. The feeling of joy experienced is a consequence of altriusm and not the purpose (Batson, 2005). The objective of this research is to obtain deeper understanding about altruism within the volunteers in the Urban Poverty Project (P2KP), and its theoritical and practical benefits.
This resreach was conducted applying qualitative method, using interview and observation as means of data collecting on aspects such as family background, empathy, altruism, joy, intrinsict motivation and strengths of the three volunteers of Urban Poverty Project, who has been working for more then one year without any reward or payment. The conclusion is that altruism is an integral part of human nature and feeling of joy is a natural consequenses.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2007
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Andriani
"Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk melihat pengaruh self-compassion sebagai mediator dalam hubungan antara peer relatedness dan efikasi diri dalam keputusan karier. Peneliti menggunakan adaptasi Bahasa Indonesia dari alat ukur The Youth Relatedness Scale untuk mengukur peer relatedness, Self-Compassion Scale untuk mengukur self-compassion, dan Career Decision Self-Efficacy Scale-Short Form untuk mengukur efikasi diri dalam keputusan karier. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 650 orang siswa SMA kelas XI dan XII dari berbagai area di Jabodetabek. Hasil analisis menunjukkan bahwa self-compassion memiliki pengaruh yang signifikan dalam memediasi hubungan antara peer relatedness dan efikasi diri dalam keputusan karier siswa SMA (p < 0.05). Hasil dari penelitian ini dapat memberikan implikasi praktis bagi sekolah agar dapat menciptakan iklim kelas dan sekolah yang kompak dan suportif, serta lebih melatih keterampilan sosial siswa agar dapat membangun hubungan pertemanan yang positif yang dapat mendukung perkembangan kariernya.

This quantitative research aims to see the effect of self-compassion as a mediator in the relationship between peer relatedness and career decision self-efficacy. Researcher used Indonesian adaptation from The Youth Relatedness Scale to measure peer relatedness, Self-Compassion Scale to measure self-compassion, and Career Decision Self-Efficacy Scale-Short Form to measure self-efficacy in career decisions. The sample in this study are 650 high school students in 11th and 12th grade from various areas in Greater Jakarta. The results of the analysis showed that self-compassion had a significant influence in mediating the relationship between high school students peer relatedness and career decision self-efficacy (p <0.05). The results of this study can have practical implications for schools to create a unified and supportive classroom and school climate, and train students social skills better so they could build positive friendships with peers that can support their career development."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yaumil Fauzul Choirie
"ABSTRAK
Studi literatur menunjukkan bahwa perilaku agresi makin meningkat. Membiarkan agresi terjadi khususnya pada remaja dan dewasa muda, tidak hanya merugikan pelaku dan lingkungan sekitar, tetapi juga terutama masa depan yang bersangkutan. Penelitian ini ingin membuktikan apakah kedekatan dengan alam dapat menurunkan agresivitas melalui kebahagiaan hidup. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental yang melibatkan 74 Mahasiswa Universitas Indonesia yang berada pada usia 18-25 tahun. Hasil penelitian menunjukkan kedekatan dengan alam secara tidak langsung dapat menurunkan agresivitas melalui kebahagiaan hidup. Dengan perkataan lain, kebahagiaan hidup yang didapatkan melalui kedekatan alam berperan sebagai mediator dan akan menurunkan agresivitas.

ABSTRACT
Literature studies show that aggression behavior is increasing. Allowing aggression to occur especially in adolescents and young adults, not only harms the perpetrators and the environment but also especially the future concerned. This research wants to prove whether nature relatedness can reduce aggressiveness through the happiness of life. This research is a non experimental study involving 74 University of Indonesia students aged 18-25 years. The results showed that nature relatedness can indirectly reduce aggressiveness through the happiness of life. In other words, the happiness of life obtained through the nature relatedness acts as a mediator and will reduce aggressiveness.
"
2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Galuh Pratiwi
"Mayoritas dewasa madya di Indonesia memiliki tanggung jawab mengasuh dan memberikan dukungan kepada orang tuanya yang sudah lansia. Di sisi lain, dewasa madya juga memiliki peran dan tanggung jawab lain. Dengan demikian, menurut beberapa penelitian, konflik peran yang dialami oleh dewasa madya dapat berdampak pada kondisi psychological well-being anak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dukungan yang diberikan oleh anak dewasa madya kepada orang tuanya yang sudah lansia dengan psychological well-being anak. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan alat ukur Ryff’s Psychological Well-being (RPWB) yang disusun oleh Ryff (1995) dan alat ukur dukungan anak yang disusun oleh Silverstein dan koleganya (2006). Partisipan pada penelitian ini merupakan dewasa madya berusia 40-60 tahun. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 116 partisipan terdiri dari 66 perempuan dan 50 laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang negatif antara dukungan yang diberikan anak kepada orang tua lansia dengan psychological well-being anak dewasa madya.

The majority of middle adulthoods in Indonesia have the responsibility to care for and provide support to their elderly parents. On the other hand, middle adulthood has other roles and responsibilities. According to several studies, role conflict carried out by middle adulthood can have an impact on the psychological well-being of adults. This research was conducted to see the correlation between children support for elderly parents and psychological well-being of children. This research used quantitative approach using Ryff’s Psychological Well-being (RPWB) by Ryff (1995) and child support instrument by Silverstein and colleagues (2006). The partisipants on this research is middle adult aged 40-60 years old. The partisipants on this research were 116 which 66 females and 50 males. The result shows that there is no negative significant correlation between children support for elderly parents and psychological well-being of children."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wirza Feny Rahayu
"Menjadi orang tua dengan anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan suatu tantangan karena mereka cenderung memiliki perasaan yang dimanifestasikan dalam bentuk kehilangan keberhargaan diri, merasa sedih dan bersalah, sulit menerima dan berduka bahkan berisiko lebih besar untuk mengalami stres dalam pengasuhan atau pendampingan anak. Keadaan ini dapat memengaruhi kondisi psikologis anak yang berdampak negatif pada kemampuan sosial emosional mereka. Padahal, hubungan antara orang tua dengan anak merupakan pengaruh utama yang membentuk kemampuan sosial emosional anak. Oleh sebab itu, sangat diperlukan peranan dan dukungan dari kedua orang tua dalam meminimalkan dampak tersebut dengan penerimaan dari orang tua. Dalam proses penerimaan orangtua, terdapat beberapa aspek yang berkontribusi pada kesehatan mental orang tua, diantaranya parenting self-efficacy yang merupakan keyakinan orang tua bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas mereka sebagai orang tua. Oleh sebab itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk meninjau lebih jauh mengenai pengaruh penerimaan orang tua terhadap kemampuan sosial emosional anak berkebutuhan khusus melalui parenting self-efficacy. Penelitian ini melibatkan 291 partisipan dari berbagai daerah di Indonesia. Analisis dilakukan dengan analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan parenting self-efficacy terbukti memediasi pengaruh penerimaan orang tua terhadap kemampuan sosial emosional anak dengan kebutuhan khusus (B = 0.205) signifikan pada Los 0.05. Begitu pula dengan pengaruh penerimaan orang tua terhadap parenting self-efficacy (B = 0.589) dan pengaruh parenting self-efficacy terhadap kemampuan sosial emosional anak dengan kebutuhan khusus (B = 0.431) serta pengaruh penerimaan orang tua terhadap kemampuan sosial emosional anak dengan kebutuhan khusus (B = 0.338) signifikan pada Los 0.05.

Being the parent of children with special needs is a challenge because they tend to have feelings that are manifested in the form of losing self-worth, feeling sad and guilty, difficult to accept and grieving even at greater risk to experience stress in caring for the children. This situation can affect the childrens psychological condition which negatively impacts their social-emotional abilities. In fact, the relationship between children and parents is the main influence that shapes childrens social-emotional abilities. Therefore, it is very necessary the role and support of both parents in minimizing these impacts with parental acceptance. In the process of parental acceptance, there are several factors that contribute to the mental health of parents, including parenting self-efficacy which is the belief of parents, the ability to carry out their duties as parents. Therefore, the purpose of this study is to further review the influence of parental acceptance on the social-emotional abilities of children with special needs through parenting self-efficacy. This study involved 291 participants from various regions in Indonesia. The analysis was carried out with path analysis. The results of this study found that parenting self-efficacy succeeded in mediating the influence of parental acceptance on the social-emotional abilities of special needs children (B=0.205), significant at Los 0.05. Similarly, the influence of parental acceptance on parenting self-efficacy (B=0.589) and parenting self-efficacy on the social-emotional abilities of children with special needs (B=0.431) and also the influence of parental acceptance on the social-emotional abilities of children with special needs (B=0.338) was significant at Los 0.05.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
T55208
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library