Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Intan Mariska
"Latar belakang: kecenderungan depresi yang berkaitan dengan dukungan purser, rekan kerja, beban kerja mental dan masa kerja pada pramugari akan mempengaruhi kinerja dan absen kerja. Tujuan penelitian ini membuktikan pengaruh dukungan purser dan faktor lainnya terhadap kecenderungan depresi pada pramugari penerbangan sipil di Indonesia.
Metode: Studi potong lintang dengan sampling purposif pada tanggal 12-28 Mei 2014 terhadap pramugari yang sedang melakukan pengujian kesehatan rutin di Balai Kesehatan Penerbangan, Jakarta. Pengambilan data dengan kuesioner Beck inventory dan NIOSH generic job stress. Kecenderungan depresi dianalisis dengan menggunakan regresi linear.
Hasil: Jumlah total pramugari yang melakukan pengujian kesehatan rutin di Balai Kesehatan Penerbangan 242 orang, tetapi yang memenuhi kriteria inklusi adalah 145 orang, kecenderungan depresi dipengaruhi oleh dukungan purser, dukungan di luar pekerjaan dan beban kerja mental. Beban kerja mental terbukti meningkatkan kecenderungan depresi [koefisien regresi (β) = 0,549; p = 0,045] sedangkan dukungan purser [(β) = 0,552; p = 0,033] dan dukungan di luar pekerjaan [(β) = -1,191; p = 0,000] terbukti menurunkan kecenderungan depresi.
Kesimpulan: Dukungan purser dan dukungan di luar pekerjaan menurunkan kecenderungan depresi, sedangkan beban kerja mental meningkatkan kecenderungan depresi.

Background: Depression is associated with a tendency purser support, co-workers support, and mental workload on the flight attendants working lives will affect the performance and absence from work. The purpose of this study demonstrate the influence of other factors support the purser and the tendency of depression in civil aviation flight attendants in Indonesia.
Methods: A cross-sectional study with purposive sampling on 12-28 May 2014 at flight attendant who was doing a routine health examination in Aviation Medical Center, Jakarta. Questionnaire data retrieval Beck inventory and NIOSH generic job stress. The tendency of depression were analyzed using linear regression.
Results: The total number of flight attendants who perform routine health examination in aviation medical Center hall 242 flight attendent, but the inclusion and exclusion criteria in this study was 145 flight attendent, depression tendencies influenced by the purser support, support outside work and mental workload. Mental workload proved increase of depression (p = 0.045, β = 0.549). wheareas purser support (p = 0.033, β = 0.552) and support outside work (p = 0.000, β = -1.191) shown to reduce the tendency of depression.
Conclusion: Purser support and support outside work reduces the tendency of depression, whereas mental workload increases of depression.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amilya Agustina
"Latar belakang: Kesejahteraan psikologis penerbang dapat mempengaruhi fungsi kognitif penerbang sehingga membahayakan keselamatan penerbangan. Tingkat kesejahteraan penerbang berhubungan dengan iklim keselamatan yang dimiliki penerbang tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara iklim keselamatan dengan kesejahteraan psikologis penerbang sipil di Indonesia.
Metode : Penelitian ini merupakan studi analitik dengan menggunakan metode potong lintang. Sampel ditentukan dengan teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan dengan pengisian kuesioner oleh subjek mengenai variabel iklim keselamatan dan kesejahteraan psikologis. Analisis data yang digunakan yaitu regresi linear berganda.
Hasil: Iklim keselamatan berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan psikologis [ =0,921; p=0,000]. Dimensi iklim keselamatan yang berpengaruh signifikan yaitu manajemen [ =0,135; p=0,049] , sistem keselamatan [ =0,143; p=0,040], prosedur [ =0,176; p=0,018], pelatihan [ =0,153; p=0,035], komunikasi [ =0,232; p=0,000] dan personil operasi [ =0,185; p=0,012].
Kesimpulan: Manajemen, sistem keselamatan, prosedur, pelatihan, komunikasi, dan personil operasi terbukti berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis penerbang sipil Indonesia.

Background: Psychological wellbeing of the pilot can affect the flight cognition function of the pilot, thus endangering the safety of the flight. The level of wellbeing of the pilots is related to the safety climate of the pilot. The purpose of this study is to determine the relationship between the safety climate and psychological wellbeing of civilian pilot in Indonesia.
Method: This was an analytic study using cross sectional method. The sample is determined by consecutive sampling technique. Data were collected by filling out questionnaires by subjects regarding the variables of the safety climate and psychological wellbeing. The data analysis used is multiple linear regression.
Results The safety climate has a significant effect on psychological wellbeing 0.921 p 0.000. The dimensions of the safety climate which have a significant effect are management 0.135 p 0.049, safety systems 0.143 p 0.040 , procedures 0.176 p 0.018, training 0.153 p 0.035, communication 0.232 p 0.000 and operations personnel 0.185 p 0.012.
Conclusion Management, safety systems, procedures, training, communication and operations personnel have significant effect on psychological wellbeing of civilian pilot in Indonesia.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Albert Fernandes
"Latar belakang: Perilaku keselamatan sangat penting untuk mengurangi terjadinya kecelakaan dalam penerbangan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dan kesejahteraan psikologis dengan perilaku keselamatan penerbang komersil di Indonesia.
Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik dengan menggunakan metode potong lintang dengan teknik pengambilan sampel yaitu consecutive sampling. Data dikumpulkan dengan pengisian kuesioner oleh subjek mengenai variabel iklim keselamatan, kesejahteraan psikologis dan perilaku keselamatan. Analisis data yang digunakan yaitu regresi linear berganda.
Hasil: Iklim keselamatan berhubungan positif dan signifikan terhadap perilaku keselamatan =0,646; p=0,000 , kesejahteraan psikologis berhubungan positif dan signifikan terhadap perilaku keselamatan =0,231; p=0,044.
Kesimpulan: Iklim keselamatan dan kesejahteraan psikologis berhubungan positif dan signifikan terhadap perilaku keselamatan penerbang sipil di Indonesia. Iklim keselamatan dan kesejahteraan psikologis secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku keselamatan penerbang sipil di Indonesia dengan nilai R2 = 0,742 dan p value

Background Safety behavior is very important to reduce the occurrence of accidents in flight. The purpose of this study is to analyze the relationship between the safety climate and psychological wellbeing with the commercial aviator safety behavior in Indonesia.
Method This research is an analytic study using cross sectional method with sampling technique that is consecutive sampling. Data were collected by filling out questionnaires by subjects regarding safety climate variables, psychological wellbeing and safety behaviors. The data analysis used is multiple linear regression.
Results The safety climate was positively and significantly related to safety behavior 0.646 p 0,000 , psychological well being was positively and significantly related to safety behavior 0.231 p 0.044.
Conclusion The psychological safety and well being climate is positively and significantly related to the safety behavior of civil aviators in Indonesia. The psychological safety and well being climate simultaneously has a positive and significant impact on the safety behavior of civil aviators in Indonesia with R2 0.742 and p value.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nanda Mardas Saputra
"Latar Belakang: Salah satu aspek dalam fungsi fisiologis manusia yang berperan penting dalam penerbangan adalah fungsi visuospasial. Fungsi visuospasial merupakan kemampuan persepsi visual tingkat tinggi yang dibutuhkan untuk identifikasi, integrasi informasi, menganalisa bentuk visual dan spasial, detail, struktur, dan hubungan spasial antara bentuk dua dengan tiga dimensi. Paparan hipoksia merupakan hazard spesifik yang terdapat dalam dunia penerbangan dan dampaknya terhadap fungsi visuospasial dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan dalam penerbangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan fungsi visuospasial terhadap paparan hipoksia di zona ketinggian yang berbeda.
Metode: Penelitian ini menggunakan uji eksprimen one-group pretest-postest. Subjek penelitian adalah awak terbang militer yang mengikuti Indoktrinasi Latihan Aerofisiologi (ILA) di Lakespra Saryanto, Jakarta. Subjek mengerjakan tes Clock Drawing Test (CDT) pada ground level, physiological efficient zone (10.000 ft) dan physiological deficient zone (25.000 ft.) di dalam hypobaric chamber.
Hasil: Terdapat peningkatan angka kejadian gangguan fungsi visuospasial di 10.000 kaki dibandingkan dengan ground level (McNmear = 0.031), 10.000 kaki dengan 25.000 kaki (McNemar = 0.0001) dan ground level dengan 25.000 kaki (McNemar = 0.0001).
Kesimpulan: terdapat peningkatan angka kejadian gangguan fungsi visuospasial yang signifikan antara ketinggian ground level, 10.000 kaki dan 25.000 kaki.

Background: One of many aspects of human physiological function that has an important role in aviation is visuospatial function. Visuospatial function is a high-level visual perception that is required for identification, information integration, analyzing visual and spatial form, detail, structure and spatial relation between two-dimensional and three-dimensional form. Hypoxia exposure is considered to be a specific hazard in the aviation environment and its impact against visuospatial function can potentially increase the risk of aviation-related accident. The purpose of this study was to investigate changes in visuospatial function on hypoxia exposure in different altitude zones.
Metode: This study used an experimental one-group pretest-posttest design. The subjects were 42 military aircrews who participated in Indoctrination and Aerophysiology Training. Subjects completed The Clock Drawing Test (CDT) at ground level, physiological efficient zone (10.000 ft) and physiological deficient zone (25.000 ft) in a hypobaric chamber.
Hasil: There was an increase of the number of impaired visuospatial function at 10.000 ft compared to ground level (McNemar = 0.031), 10.000 to 25.000 ft (McNemar = 0.0001) and ground level to 25.000 ft (McNemar = 0.0001).
Kesimpulan: There was a significant change in the number of impaired visuospatial function between ground level, 10.000 ft, and 25.000 ft.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T58912
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library