Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 25556 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dede Kusmana
"Mencegah proses aterosklerosis dengan membiasakan tidak merokok/stop merokok disertai olahraga teratur dan/atau pengaruh kerja fisik (trias SOK) adalah upaya preventif di masyarakat. Untuk mengetahui pengaruh trias SOK terhadap daya survival, dilakukan penelitian kohort historis pada sampel MONICA 1988 di tiga kecamatan Jakarta Selatan, serta diikuti sampai 31 Agustus 2001. Sampel dibagi menjadi kelompok trias SOK dan tanpa trias SOK. Dilakukan wawancara faktor risiko (merokok, hipertensi, hiperlipidemia, diabetes, obesitas), pemeriksaan fisik, laboratorium dan perekaman EKG. Otopsi verbal untuk mencari sebab kematian. Aktivitas fisik dikelompokkan pada: tidak ada, ringan hampir setiap hari, sedang dan berat minimal 20 menit dua kali atau lebih. Analisis statistik: regresi Cox, Kaplan Meier, Log rank, uji kappa, batas kemaknaan p<0,05. Terdapat 479 (23,4%) sampel dari 2073 orang, umur 25?64 tahun (1988), terdiri dari 209 (43,6%) lelaki, 270 (56,4%) perempuan. Insiden kardiovaskular 1,2% pertahun, proporsi kematian penyakit jantung 42,9%. Daya survival sampel trias SOK lebih baik (95,7%) dibanding tanpa trias SOK (81,1%), (HR 0,20, 95% IK 0,08?0,57, p=0,002]. Aktivitas fisik mempunyai rasio kematian rendah [ringan HR 0,45, IK 0,27?0,76, p=0,003), sedang (HR 0,32, IK 0,15?0,70, p=0,004) dan berat nol] dibanding tidak ada.Rasio kematian merokok tinggi (HR 4.99,KI 2.56?9.73, p=0,000), Dihasilkan Skor Kardiovaskular Jakarta, Skor ?7 sampai 1 risiko rendah (<10%), skor 2 sampai 4 sedang (10?20%), skor ³ 5 risiko tinggi (>20%). Upaya pencegahan penyakit kardiovaskular dengan cara tidak/stop merokok, dikombinasikan dengan olahraga teratur dan/atau kerja fisik merupakan cara tepat untuk meningkatkan daya survival. Dihasilkan Skor Kardiovaskular Jakarta untuk memprakirakan kematian kardiovaskular di masyarakat. (Med J Indones 2002; 11: 230-41)

Preventing atherosclerosis with smoking cessation, regular physical exercise and/or physical activity known as SOK (S-top/ no S-moking, sp-O-rt/ physical exercise, wor-K/ physical activity) is a simple preventive measure, which can be applied in the community. To determine the role of SOK on survival, to create cardiovascular risk score for Indonesian patients and to have a special formula to predict survival. A historical cohort study over thirteen years recruited from the subpopulation MONICA patients who resided at three districts of South Jakarta. Patients were divided into two groups, those with SOK and those without (non-SOK group). Assessment included complete history including cardiovascular risk factors (hypertension, diabetic, hyperlipidemia, obesity), physical examination, laboratory examination, twelve-lead ECG recording and level of physical activity/exercise. Outcomes included survival rate and all-cause of mortality. Statistical analysis included kappa statistic and various survival analyses. 479 participants were included in the SOK study. Mean age 46 years (range 25-64), 56% female. Cardiovascular mortality rate (including stroke) was 1.2% per year and 42.9% of mortality caused by heart disease. Survival rate was higher in SOK group compared with non-SOK (95.7% vs 81.1%) with Hazard Ratio (HR) 0.2 for SOK group (95% CI 0.08-0.57, p=0.002) In relation to the cardiovascular mortality rate: 1) any physical activity/exercise (OK) vs no-OK will lower the risk; low-OK (HR 0.4, p=0.003), medium-OK (HR 0.32, p=0.004), high-OK (HR 0.000, p=0.000) 2) Smoking will increase the risk vs non-smoking (HR 4.99, p=0,000). For predicting the cardiovascular events in ten-year time (CV10), we formulated the Jakarta Cardiovascular Score. The score was divided into low-risk (-7-1) with CV10 <10%, average-risk (2-4) with CV10 = 10-20%, high-risk (score > 5) with CV10 >20%. Smoking cessation, regular physical exercise and/or physical activity is an effective method to reduce cardiovascular death, thus enhances the survival. We formulated a simple method to predict cardiovascular events in our community known as the Jakarta Cardiovascular Score. (Med J Indones 2002; 11: 230-41)"
Medical Journal of Indonesia, 2002
MJIN-11-4-OctDec2002-230
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Rendi Asmara
"Latar Belakang. Proses aterosklerosis menjadi penyebab kematian dan morbiditas utama dan berkaitan dengan penyakit jantung koroner (PJK) yang merupakan implikasi klinis proses aterosklerosis. Hipertensi dan dislipidemia menjadi salah satu faktor risiko proses aterosklerosis. Pemeriksaan ketebalan intima-media karotis (KIMK) dapat menjadi prediktor gangguan kardiovaskuler di kemudian hari. Studi Framingham merupakan penelitian yang memprediksi PJK dengan menggunakan kategori faktor risiko dan telah digunakan secara luas pada populasi yang berbeda. Populasi yang berbeda belum tentu memberikan perbedaan hasil analisis terhadap faktor risiko aterosklerosis.
Tujuan. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan rasio LDL-HDL dengan plak karotis pada populasi hipertensi di Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Metode. Ini adalah penelitian potong lintang. Data dianalisis menggunakan regresi logistik dengan melihat besar dari nilai rasio odds (odds ratio, OR) 95% interval kepercayaan (confidence interval, CI), dan nilai p.
Hasil. Subyek penelitian sebanyak 115 orang terdiri atas 56 (48,7%) laki-laki dan 59 (51,3%) perempuan dengan rerata usia 47,61±7,92 tahun. Jenis kelamin laki-laki yang memiliki KIMK ≥ 1,5 mm lebih banyak dengan proporsi 0,72±0,46 (95% CI 0,57-0,87 ; p=0,0003). Kemungkinan kejadian plak meningkat pada quartile rasio LDL-HDL kolesterol yang lebih besar. Analisis quartile >75% terhadap kejadian plak dibandingkan quartile lebih rendah memberikan OR 4,15 (95% CI 1,74-9,89; p=0,001) dan setelah disesuaikan tetap menunjukkan kemungkinan kejadian plak lebih besar (OR 3,95; 95% CI 1,39-11,22; p=0,01). Didapatkan area under curve 0,8262.

Background. Atherosclerosis had become main problem in mortality and morbidity and related with coronary heart disease as a clinical implication of atherosclerosis process. Hypertension and dyslipidemia had become risk factors for atherosclerosis process. Carotid intima-media thickness (CIMT) measurement could be a predictor for future cardiovascular disease. Framingham study was an experiment that predicted coronary heart disease using risk factor categories and had been used widely in many regions in the world with various population. A different population might not always give different result related with atherosclerosis process.
Aim of study. To see the relaionship of LDL-HDL ratio with carotid plaque among hypertensive population in Mlati, Sleman, DIY.
Method. This is a cross-sectional syudy. Data were analyzed with logistic regression by seeing odds ratio (OR), 95% confidence interval (CI), and p value.
Result. There were 115 subjects in this experiment with 56 (48,7%) male and 50 (51,3%) female with age rate was 47,61±7,92 years old. Male subjects with CIMT value ≥1,5 mm were higher than female with proportion of 0,72±0,46 (95% CI 0,57- 0,87; p=0,0003). The possibility of plaque increased in subjects with higher LDL- HDL ratio. Analyzis of >75% quartile compared with lower quartile gave OR 4,15 (95% CI 1,74-9,89; p=0,001) and after being adjusted still gave higher possibility of plaque (OR 3,95; 95% CI 1,39-11,22; p=0,01). Area under curve was 0,8262.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sinaga, Saria Diah Ayu Gufronika
"Bahaya asap rokok merupakan penyebab utama pencemaran udara di dalam ruangan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, menyadari perlunya adana kebijakan yang memberikan perlindungan terhadap para perokok pasif. Lahirnya PERDA Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara yang mengatur tentang KDM, menempatkan pemerintah Prpvinsi DKI Jakarta sebagai pemerintah provinsi pertama di Indonesia yang mengatur tentang KDM.
Tesis inimembahas tentang implementasi kebijakan KDM di Provinsi DKI Jakarta khususnya di pusat perbelanjaan Senayan City, Plaza Semanggi dan Blok M Mall. Penelitian ini bermaksud melihat bagaiman implementasi kebijakan KDM di pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Pertanyaan penelitian pada tesis ini adalah bagaimana implementasi kebijakan KDM di pusat perbelanjaan dan apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan ini.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data gabungan. Hasil penelitian ini menyarankan perlunya pengawasan secara rutin dengan keterlibatan berbagai pihak terkait. Selain itu, perlu peningkatan kerjasama yang baik antara stakeholder terkait sehingga implementasi kebijakan ini dapat mencapai hasil yang optimal.

The dangers of cigarette smoke is a major cause of indoor air pollution. The Jakarta Provincial government was really sure that they need a policy to provides protection for passive smoker. Local Regulation Policy (PERDA) of Jakarta Provincial Government Number 2/2005 about air pollution control, include No Smoking Area Policy, put they as the first provincial government that regulated the No Smoking Area Policy.
This thesis discusses about implementation of No Smoking Area Policy in Jakarta, especially in shopping center in jakarta selatan: Senayan City, Plaza Semanggi and Blok M Mall.
This research is a quantitative study using mixed data collection techniques between quantitative and qualitative. The result of the study suggests the need for regular monitoring of the provincial government of the Jakarta, consistent law enforcement for violators policy and the need to involve the community in monitoring this implementation policy."
Depok: Universitas Indonesia, 2013
T32930
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Nurmanah
"ABSTRAK
Remaja usia 15-17 tahun merupakan masa kritis dari tahap tumbuh kembang
remaja yang rentan terhadap perilaku merokok. Pola asuh orang tua merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku remaja. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku merokok siswa
SMA. Penelitan ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain survey analitik
melalui pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan
ialah simple random sampling dengan responden penelitian sebanyak 276 orang di
SMA Negeri 38 Jakarta. Hasil riset menjelaskan 58.3% perempuan, 59.4% berusia
16 tahun, 56 responden perokok aktif kebanyakan laki-laki, merokok 1-10
batang/hari. Pada uji chi square didapatkan hubungan antara pola asuh orang tua
dengan perilaku merokok siswa SMA (p= 0.000) dan didapatkan hubungan antara
jenis kelamin dengan perilaku merokok siswa SMA (p=0.000, OR= 8.766).
Peneliti merekomendasikan agar dilakukan penelitian lanjutan mengenai korelasi
pola asuh orang tua dengan perilaku merokok siswa SMA.

ABSTRACT
Adolescents aged 15-17 years is a critical period of adolescent growth and
development stages that are susceptible to smoking behavior. Parenting style is
one of the factors that influence adolescent behavior. This study aims to determine
the relationship of parenting style with high school students' smoking behavior.
This research is a quantitative research survey design with cross sectional analytic
approach. The sampling technique used is simple random sampling with survey
respondents as much as 276 people in SMA Negeri 38 Jakarta. The results of
research to explain 58.3% female, 59.4% aged 16 years, 56 respondents active
smokers mostly male, smoking 1-10 cigarettes / day. In the chi square test found
the relationship between parenting parents with high school students smoking
behavior (p = 0.000) and obtained relationships between the sex with a high
school student smoking behavior (p = 0.000, OR = 8766). The researcher
recommends further research on the correlation parenting style with high school
student smoking behavior."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2012
S43417
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dede Kusmana
"Objektif : Penyakit Kardiovaskular berawal dari fungsi endotel pembuluh darah yang terganggu, berlanjut menjadi proses aterosklerosis. Mencegah proses aterosklerosis dengan membiasakan tidak merokok/stop merokok disertai olahraga teratur dan/atau pengaruh kerja fisik (trias SOK) adalah upaya preventif pada tingkat endotel. Untuk mengetahui pengaruh trias SOK terhadap daya survival,dilakukan penelitian kohort.
Metode: Pada tanggal I Juli 200 dilakukan penelitian kohort historis terhadap sampel MONICA 1988 di tiga kecamatan Jakarta Selatan, serta diikuti sampai 31 Agustus 2001. Sampel dibagi menjadi kelompok trias SOK dan tanpa trias SOK. Dilakukan wawancara, pemeriksaan fisik, gula darah dan kolesterol total serta perekaman EKG pada sampel yang hidup, otopsi verbal pada yang menyaksikan untuk mencari sebab kematian. Aktivitas fisik (kerja fisik dan olahraga perminggu) dikelompokan pada: tidak ada, ringan hampir setiap hari, sedang dan berat minimal 20 menit dua kali atau lebih. Merokok bila tetap merokok, mantan perokok bila telah berhenti 2 tahun atau lebih, tidak merokok bila tetap tidak merokok atau telah berhenti 10 tahun atau lebih. Kriteria hipertensi (JNC-VI), diabetes (gula darah puasa 140 mg/di atau sewaktu 200 mg/di), obesitas (IMT z 29,99 kglm2), EKG memakai kode Minnesota. Analisis statistik memakai suain (adjusted) regesi Cox, 95% interval kepercayaan, Kaplan Meier (daya survival), Log rank (rasio hazard/HR), uji kappa (degree of aggreement), Batas kemaknaan p
Hasil: Terdapat 479 (23,4%) sampel dari 2073 orang, umur 25-64 tahun (1988), terdiri dari 209 (43,6%) lelaki, 270 (56.4%) perempuan. Insiden kardiovaskular 1,2% pertahun, dengan proporsi kematian tertinggi penyakit jantung 42,9%. Sampel yang mengikuti this SOK mempunyai daya survival lebih baik (95,7%) dibanding tanpa trias SOK (81,1%), dan rasio kematian seperlima kali [rasio hazard (HR.) suaian = 0,20, 95% interval kepercayaan (III) = 0,08-0,57, p=0,002]. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan rasio kematian tinggi adalah: merokok (HR=4,99, IK 2,56-9,73, p=0,000) dibanding tidak merokok; hipertensi tingkat-3 (HR 5,96, 1K 2,69-13,21, p=0,000) dibanding tensi normal; diabetes (HR 2,74, 1K 1,37-5,47, p=0,004) dibanding normal. Sedangkan yang tidak dapat dimodifikasi: umur 60 tahun (HR 10,13, 1K 4,79-21,43, p=0,000) dibanding umur 25-49 tahun. Sedangkan aktivitas fisik mingguan mempunyai rasio kematian rendah/ringan HR=0,45, (1K 0,27-0,76, p=0,003), sedang HR--0,32, (1K 0,15-0,70, p=0,004) dan berat nol dibanding yang tidak ada aktivitas. Dihasilkan Skor Kardiovaskular Jakarta, Skor -7 sampai 1 risiko rendah (<10%), skor 2 sampai 4 sedang (10-20%), skor z 5 risiko tinggi (>20%), sensitivitas 77,9%, spesifitas 90,0%, kappa 0,652, DOA 82,67%, p=0,000.
Kesimpulan: Salah satu upaya pencegahan penyakit kardiovaskular melalui upaya tidak/stop merokok, dikombinasikan dengan olahraga teratur dan/atau kerja fisik merupakan cara tepat untuk meningkatkan daya survival. Dihasilkan Skor Kardiovaskular Jakarta untuk memperkirakan kematian kardiovaskular di masyarakat.
The Influence of Stop/Quit Smoking, Combine with Sport and or Physical Activity on Survival of the Population at Jakarta: a Cohort Study in 13 YearsObjective: Endothelial dysfunction as the beginning of atherosclerotic process in arterial vessel due to various risk factors. Prevention of atherosclerotic process in the endothelial level through quit or stop smoking, combine with regular physical activity and or sport (Trias SOK-Stop/no Smoking, Olahraga teratur/sport or Kerja fisik/physical activity) as a simple method in the community. To know the influence of trias SOK on survival of the population, a community survey was done in three districts of Jakarta.
Methods: A historical cohort study was done on the subpopulation of MONICA Jakarta 1988 using population survey since July 1, 2000 in three districts of South Jakarta until 31 of August 2001. Multistage stratified cluster sampling was done on 523.000 people, and 2073 total samples were included in 1988 study and 479 samples perform second survey. Sample was divided into exposed group (without trims SOK) and non-exposed (trios SOK). A complete history on daily habit, cardiovascular risk factors, laboratory examination and 12 leads ECG was carried. Physical activity as well as sport in one week also divided into: no physical activity, light physical activity almost every day, moderate physical activity and heavy physical activity at least 20 minutes or more. ECG criteria using Minnesota code, hypertension (INC-VI), diabetic (fasting blood sugar 140 mg/di or occasional > 200 mg/dl), obesity (BMI > 29,99 kglm2). Verbal autopsy was carried out to diagnose the cause of mortality. Statistical analysis using SPSS for Window 10 and Stata 6. Kaplan Meier to compare survival rate between trias SOK and non-trios SOK, log rank to measure hazard ratio, kappa test for degree of agreement and p<0,05 as statistical significance.
Results: They were 479 (23.4%) samples out of 2073, 209 (43.6%) males and 270 (56.4%) females, aged 25-64 years in 1988 and 37-77 years in 2000. Cardiovascular incidence 1.2% per year, and case fatality rate of 42.9% due to heart disease. Trios SOK survival rate was higher (95.7%) compared with non-trias SOK (81.1%), and hazard ratio 1/5 [HR= 0.20, 95% CI 0.008-0.57, p-0.002]. Multivariate analysis using Cox regression revealed the significant modifiable risk factors were: smoking HR 4.99 (CI 2.56-9.73, p=0,000) compare with non-smoking, grade 3 hypertension HR 5,96 (CI 2.69-13.21, p=0,000) compare with normal blood pressure, diabetic HR 2.74 (CI 1.37-5.47, p=0.004) compare with non-diabetic, obesity BMI 30 kg/m2 HR 2.18 (CI 0.94-5.10, p=0.071) compare with normal weight. Unmodifiable risk factor were: age ? 60 years HR 10.13 (CI 4.79-21.43) compare with 25-49 years. Physical activity as well as sport in one week has low risk for cardiovascular death, either: light physical activity HR 0.4 (CI 027-0.76, p=0.003), moderate HR 0.32 (CI 0.15-0.70, p-'0.004) or heavy almost zero compare with no physical activity. Jakarta Cardiovascular Score was found. Low risk (score -7 to 1) <10%, average (score 2 to 4) 10 to 20%, high (score ? 5) >20% for cardiovascular event in 10 years (sensitivity 77.9%, specificity 90.0%, kappa 0,652, degree of agreement 82.67% and p=0,000).
Conclusions: Cardiovascular prevention through quit or stops smoking combine with regular sports and or physical activities enhances a better survival. Jakarta Cardiovascular Score was found as a simple method to estimate the cardiovascular event in the community.
"
2002
D183
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Singh, K.
"Kecepatan gelombang nadi (Pulse wave velocity, PWV) diukur pada 25 subyek laki-laki bukan perokok dan dibandingkan dengan subyek perokok sebelum dan segera sesudah merokok. Tekanan darah, frekuensi nadi dan PWV tidak berbeda pada kedua kelompok sebelum merokok. Setelah merokok terjadi peningkatan tekanan darah, frekuensi nadi dan PWV pada segmen Aorta-Radialis (Ao-Rad) dan Femoral-Dorsalis pedis (Fem-Dp), tapi pada segmen Aorta-Femoralis (Ao-Fem) terjadi penurunan PWV. Hal ini menunjukkan segmen arteri sentral dan perifer memberi respons yang berbeda terhadap merokok. (Med J Indones 2002; 11: 207-10)

Pulse wave velocity (PWV) was recorded in different arterial segments in 25 male nonsmokers and compared with age and sex matched smokers before and after smoking. Blood pressure (BP), Heart rate (HR) and PWV were comparable between nonsmokers and smokers before smoking. Just after cigarette smoking there was rise in HR, BP and PWV in Aorta to Radial (Ao-Rad), and femoral to Dorsalis Pedis (Fem-Dp) arterial segments, but the PWV was reduced in Aorta to Femoral (Ao-Fem) arterial segment, indicating that both peripheral and central arterial segments show different response to smoking. (Med J Indones 2002; 11: 207-10)"
Medical Journal of Indonesia, 2002
MJIN-11-4-OctDec2002-208
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Pratiwi Widowaty
"Penelitian ini membahas mengenai perilaku merokok pada siswa SMP. Hal ini dilatarbelakangi meningkatnya jumlah perokok muda di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh stereotipi perokok dan konformitas terhadap perilaku merokok sebagai upaya untuk memahami faktor-faktor yang dapat menjadi prediktor perilaku merokok pada siswa SMP. Pada stereotipi perokok, peneliti menggunakan hasil penelitian terdahulu dan hasil elisitasi. Sedangkan aspek konformitas disusun berdasarkan alasan untuk melakukan dan tidak melakukan konformitas (Baron & Byrne, 2003). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain ex post facto field study. Partisipan penelitian ini adalah 120 siswa SMP di Jakarta.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa stereotipi perokok dan konformitas memberikan sumbangan yang signifikan terhadap perilaku merokok. Sehingga dapat disimpulkan bahwa stereotipi perokok dan konformitas dapat dijadikan sebagai prediktor pada perilaku merokok siswa SMP. Hasil analisis multiple regression, R =0, 631, R2 = .398, menunjukan bahwa stereotipi perokok dan konformitas secara bersama-sama menyumbang sebesar 39,8 % terhadap perilaku merokok pada siswa SMP. Di antara stereotipi perokok dan konformitas, ditemukan bahwa stereotipi perokok memberikan sumbangan yang lebih besar terhadap perilaku merokok siswa SMP. Selain itu, melalui hasil analisis t-test ditemukan adanya perbedaan stereotipi perokok dan konformitas yang signifikan antara partisipan yang merokok dan yang tidak merokok.

The research studies smoking behavior among middle school students. This research's aim is to examine how much smoker stereotype and conformity influence smoking behavior on middle school students. To measure smoker stereotype the research uses the previous research and elicitation. While aspects of conformity arranged by reasons to conform and not to conform (Baron & Byrne, 2003). The design of this research is ex post facto field study. Participants of this research are 120 middle school students in Jakarta.
This research's results that smoker stereotype and conformity influence smoking behavior in middle school student. This meant that smoker stereotype and conformity was predictors toward smoking behavior on middle school students. The multiple regression analysis showed R =0, 631, R2 = .398. This meant that smoker stereotype and conformity were effectively contribution 39,4 %. Smoker stereotype had greater contribution than conformity. Beside that, this research also finds that there is a significant difference in smoker stereotype and conformity between smokers and non smokers.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Kemal Adhi Pradana
"Penelitian ini mencoba menggambarkan dinamika motivasi dalam usaha mengakhiri perilaku merokok. Konteks motivasi ditinjau mulai dari pembentukan niat berhenti merokok, usaha awal berhenti merokok, kembali merokok secara teratur, dan usaha berhenti merokok hingga menjadi mantan perokok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan gambaran motivasi secara deskriptif dan subyektif pada mantan perokok dalam usaha berhenti merokok setelah mengalami fase relapse. Jumlah partisipan yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah dua orang mantan perokok.
Berdasarkan hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa usaha awal berhenti merokok terorientasi secara terkontrol, atau termotivasi secara ekstrinsik. Penelitian ini pun menemukan bahwa terdapat sebuah proses internalisasi motivasi ekstrinsik yang mengubah motivasi yang awalnya terkontrol menjadi berkedaulatan tekad seperti pada motivasi intrinsik.
Sebagai kesimpulan, untuk mengakhiri perilaku merokok dibutuhkan motivasi yang berkedaulatan tekad dan berintegrasi penuh pada diri individu. Selain itu proses internalisasi motivasi ekstrinsik dapat muncul secara alami dalam diri individu dan memiliki peranan penting dalam mengakhiri perilaku merokok. Terlebih lagi, fase relapse pun menjadi salah satu faktor yang mendorong internalisasi dari motivasi ekstrinsik.
Recent study tried to reveal young adulthood's motivation on their smoking cessation attempts after having relapsed and ended as having ex-smokers statuses. The concept of motivation analyzed within the context of making the commitment, first attempt of smoking cessation, having relapsed, and next attempts of quit smoking that make young adult successfully ended their smoking behavior. The study used qualitative approach to understand the process of motivation on young adulthood participants with descriptive and subjectively manner. The analysis focused on two young adult ex-smokers who have different characteristics on their smoking cessation attempts.
Hence, the results of study found that the first attempts of young adult?s smoking cessations were motivated by extrinsic factors, which involved control from others. Recent study was also able to establish the process of internalization of extrinsic motivation, and associated with specific regulation within the smoking cessation attempts.
As conclusion, smoking cessation needs sense of determined and integrated on individual perception as agency of the action. Nevertheless, the internalization on extrinsic motivation occurs naturally within the participants and being an important factor for smoking cessation. Furthermore, having relapse on the first attempt to quit smoking indicated as one important aspect to internalized the extrinsic motivation.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>