Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 148718 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Tendean, Susiana
"Kejang adalah suatu gejala yang disebabkan oleh gangguan paroksismal involunter akibat lepasnya muatan listrik di neuron otak. Manifestasi klinis kejang dapat berupa gangguan kesadaran, tingkah laku, emosi, motorik, sensorik dan otonom. Penanganan kejang ditujukan untuk menghentikan kejang secepatnya dan mencari faktor penyebab yang melatarbelakangi timbulnya serangan. Penghentian kejang secepatnya diperlukan untuk mencegah terjadinya status epileptikus namun penatalaksanaan kejang sering kali tidak dilakukan secara adekuat. Pemakaian obat yang tidak tepat dapat mengakibatkan kejang sulk terkontrol.
Penggunaan obat golongan benzodiazepin masih menjadi pilihan utama dalam mengatasi kejang termasuk status epileptikus karena awitan kerja obat cepat dan mempunyai efek samping yang relatif kecil. Di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM digunakan diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk pasien dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk pasien dengan berat badan lebih dari 10 kg atau diazepam intravena dengan dosis 0,3 - 0,5 mg/kgBB.
Penggunaan diazepam rektal mempunyai beberapa kelemahan antara lain adalah obat sering keluar kembali bersamaan dengan feses, memerlukan teknik tertentu dalam pemberian obat tersebut dan rasa enggan orangtua jika memberikan obat melalui jalur ini terutama jika pasien sudah menginjak usia remaja. Hal ini membuat dipikirkannya pemberian obat melalul jalur lain yang lebih nyaman, efektif dan tidak melibatkan akses vena. Jalur pemberian obat tersebut adalah melalui mukosa bukal. Keunggulan pemberian obat melalui mukosa bukal disebabkan oleh karena pada daerah tersebut mengandung banyak vaskularisasi dan pemberian obat melalui mukosa bukal menyebabkan obat terhindar dari first-pass effect sehingga obat cepat memasuki sirkulasi sistemik. Pemberian obat melalui mukosa bukal/sublingual disebut juga dengan oral transmucosal administration.
Beberapa kepustakaan merekomendasikan lorazepam untuk mengatasi kejang karena awitannya cepat, mempunyai waktu paruh distribusi lebih panjang sehingga efek antikonvulsan lebih lama dan mempunyai efek samping depresi pernapasan lebih kecil dibandingkan diazepam.
Penggunaan lorazepam bukal dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengatasi kejang dan menurut penelitian dikatakan bahwa pemberian antikonvulsan secara bukal lebih dapat diterima dibandingkan pemberian secara rektal karena seringkali baik orangtua, perawat maupun dokter yang memberikan pertolongan enggan dalam melakukan pemberian secara rektal.
Berdasarkan alasan tersebut maka perlu dilakukan penelitian yang membandingkan pemberian lorazepam bukal dan diazepam rektal dalam tata laksana kejang pada anak. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka diajukan permasalahan dalam penelitian ini yaitu :
Apakah efekfivitas lorazepam bukal dalam mengatasi kejang lebih baik dibandingkan dengan diazepam rectal.
Hipotesis: pemberian lorazepam bukal lebih efektif dibandingkan diazepam rektal dalam mengatasi kejang. Tujuan umum untuk mendapatkan alternatif obat antikonvulsan yang bekerja efektif, aman dan pemberiannya mudah dilakukan. Tujuan khusus membandingkan proporsi kejang yang terkontrol dengan lorazepam bukal dan diazepam rectal, membandingkan waktu yang diperlukan oleh lorazepam bukal dan diazepam rektal dalam mengatasi kejang, menilai efek samping secara klinis yang terjadi pada subyek penelitian setelah pemberian masing-masing obat."
Depok: Universitas Indonesia, 2006
T58465
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sutrisno Gunawan
"Menelaah efek dari premedikasi ketamin rektal dalam memfasilitasi pemisahan dari orang tua dan pemasangan kateter intravena pada anak-anak , 66 orang anak berumur 3,4 + 1,8 ( mean + SD ) tahun secara acak dibagi dalam 2 kelompok sama banyak. Grup pertama mendapat ketamin per rektal ( 8 mg/kg ) dikombinasi dengan atropin rektal ( 0,02 mg/kg ) dan sebagai kelompok kontrol menerima diazepam per oral dengan dosis 0,4 mg/kg. Lebih dari setengah dari anak-anak pada kelompok ketamin (57,6%) dapat dipisahkan dari orang tua dengan mudah tanpa gelisah, memberontak ataupun menangis, dibandingkan dengan kelompok kontrol diazepam (42,4%; P>0,05). Akan tetapi secara statistik perbedaan tersebut tidak berbeda secara signifikan. Ada sekitar 78,8% dari anak-anak pada kelompok ketarnin yang menangis pada saat pemasangan kateter intravena, yang secara bermakna lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok kontrol (97,0%). Efek samping dan komplikasi tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok. Tidak ada satupun anak pada kelompok ketamin yang mengalami desaturasi oksigen (SP02<90%) atau mengalami hipersalivasi. Ketamin 8mg/kg per rektal yang dikombinasikan dengan atropin 0,02 mg/kg per rektal tidak cukup efektif untuk premedikasi anak sebelum induksi meskipun dari segi keamanan tidak berbeda dengan diazepam oral.

Background: Good premedication in pediatric anesthesia have always been a problem in providing good anesthesia services. Many choices of-drugs prevail with their advantages and shortcomings.
Objective: To evaluate the effect of rectal ketamine preoperatively in facilitating parental separation and intravenous cannulation in young children.
Design: A randomized, double-blinded clinical trial.
Methods: 66 children 3.4 ± 1.8 ( mean ± SD) year of age were randomly assign to two equal groups. One group received rectal ketamine ( 8 mg/kg }combine with rectal atropine (0,02 mg/kg) and for control sedation group received oral diazepam 0.4 mg/kg.
Result : Many children in ketamine group (57,6%) are separated easily from their parents without struggling, crying or restlessness, however not significantly more than in diazepam control group (42,4%; P<0.05). However the effectiveness of ketamine to provide adequate analgesia during intravenous cannulation is poor, which is shown by the evidence about 78,8 % of children in ketamine group cried during intravenous catheter insertion. Nevertheless it is significantly less than control group (97,0%). Complication was not significantly different between groups. None of the children in ketamine group had SPO2 < 90% or hyper salivated.
Conclusion: Rectal ketamine 8 mg/kg combine with atropine 0.02 mg/kg rectally are unreliable as premedication and when intravenous catheter cannulation is desired before induction of anesthesia is desired."
Depok: Universitas Indonesia, 2004
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rivaldo
"Latar Belakang: Kejang demam adalah jenis kejang tersering pada anak-anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merumuskan Rekomendasi Tata Laksana Kejang Demam pada tahun 2016 demi tercapainya tata laksana yang adekuat.
Tujuan:Mengevaluasi implementasi Rekomendasi Tata Laksana Kejang Demam IDAI 2016 dan variabilitas tata laksana kejang demam oleh dokter spesialis anak di Indonesia serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan instrumen kuesioner secara daring selama September-Oktober 2020. Responden penelitian ini adalah dokter spesialis anak anggota IDAI. Jawaban terkait kejang demam sesuai dengan rekomendasi diberikan nilai 1 dan jawaban tidak sesuai diberikan nilai 0 dengan rentang nilai yang mungkin 0-34,00.
Hasil : Didapatkan 181 responden dengan rerata skor 22,6 ± 7,12 dengan median 21,00 dan rentang 7,00-34,00. Komparatif median skor kelompok usia <60 tahun adalah 22,00 dan >60 tahun adalah 17,50 (p=0,007), kelompok yang lulus ≤10 adalah 22,00 dan >10 tahun adalah 20,00 (p=0,078), lokasi praktik RS adalah 21,00 dan klinik/praktik pribadi adalah 19,00 (p=0,250), jumlah pasien kejang demam perbulan 0-5 (20,00), 6-10 (22,00), >10 (23,00) (p=0,187), pernah kuliah/sosialisasi rekomendasi adalah 22,00 dan tidak pernah adalah 20,00 (p=0,109), dan lokasi kerja kabupaten adalah 22,00 dan kotamadya 21,00 (p=0,853).
Simpulan: Terdapat perbedaan tatalaksana yang signifikan antara responden kelompok usia <60 tahun dan >60 tahun, tetapi tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok lainnya.

Background: Febrile seizure is the most common type of seizure in children. The Indonesian Pediatric Association (IDAI) formulated Recommendations for Fever Seizure Management in 2016 in order to achieve adequate management.
Objective: To evaluate the implementation of the 2016 IDAI Fever Seizure Management Recommendations and the variability in the management of febrile seizures by pediatricians in Indonesia and the factors that influence it.
Methods: This study was a cross-sectional study using an online questionnaire instrument during September-October 2020. The respondents of this study were IDAI member pediatricians. Answers regarding management of febrile seizsures in accordance with the recommendations are given a value of 1 and inappropriate answers are given a value of 0 with a possible value range of 0-34.00.
Results: There were 181 respondents with a mean score of 22.6 ± 7.12 with a median of 21.00 and a range of 7.00-34.00. The comparative median score for the age group <60 years was 22.00 and> 60 years was 17.50 (p = 0.007), the group passing ≤10 was 22.00 and> 10 years was 20.00 (p = 0.078), location Hospital practice is 21.00 and clinic / private practice is 19.00 (p = 0.250), the number of patients with febrile seizures per month is 0-5 (20.00), 6-10 (22.00),> 10 (23.00). ) (p = 0.187), the time to study / socialization of recommendations was 22.00 and never was 20.00 (p = 0.109), and the regency work location was 22.00 and the municipality was 21.00 (p = 0.853).
Conclusion: There are significant differences in treatment between respondents in the age group <60 years and> 60 years, but there is no significant difference between other groups.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1989
616.845 PEN
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Syarifuddin Anshari
"ABSTRAK
Pendahuluan Intussusepsi merupakan kegawatdaruratan yang sering terjadi pada anak di bawah dua tahun dengan salah satu plihan tata laksananya adalah operasi Dalam terapi operatif dapat dilakukan dengan dua jenis operasi yaitu reseksi anastomosis langsung atau pembuatan stoma sementara Studi ini dilakukan untuk mengevaluasi keluaran kedua jenis operasi tersebut berupa lama rawat masa awal asupan oral infeksi daerah operasi dan re operasi Metode Studi retrospektif dengan desain potong lintang berdasarkan kelompok jenis operasi reseksi anastomosis langsung atau pembuatan stoma sementara dilakukan di RSCM melalui penelusuran rekam medis Pengambilan sampel secara consecutive sampling dengan kriteria inklusi usia 0 18 th menjalani operasi reseksi anastomosis langsung ditunda di RSCM sedangkan kriteria ekslusi adalah data tidak lengkap atau tidak dilakukan reseksi Data diolah secara statistik dengan analisis komparatif numerik dengan uji Chi square atau uji T tidak berpasangan bila sebaran data normal bila tidak normal dengan uji Mann Whitney Hasil Terdapat 106 subjek dilakukan operasi dengan 40 subjek menjalani operasi reseksi anastomosis langsung dan 46 subjek dengan pembuatan stoma sementara serta 20 subjek dieklusi karena tidak dilakukan reseksi Lama rawat inap dengan median 11 hari 4 36 hari dengan masa awal asupan oral dengan median tiga hari 1 7 hari durasi gejala dengan median tiga hari
ABSTRACT
Introduction Intussusception is an emergency that found mostly under two years old which one of the therapy is operative management There are two kinds of operation mostly done which are resection anastomosis and temporary stoma followed by stoma closure This study aims to explain outcome of each techniques operation including length of stay duration to start oral intake surgical site infection and re operation Methods Retrospective study using cross sectional design grouping as resection anastomosis group and temporary stoma group was done at RSCM by reviewing patients rsquo medical records Sample achieved by methods of consecutive sampling with inclusion criterias are ages 0 18 years old underwent surgical resection and anastomosis delayed anastomosis at RSCM hospital while the exclusion criterias are incomplete data or not have surgical resection The data were processed statistically Chi square test or unpaired T test used to analyze comparative numerical variables if data distribution is normal While it rsquo s not normal Mann Whitney test was used Results There were 106 subjects consisted of 40 patients belonged to resection anastomosis group and 46 subjects were temporary stoma group while 20 subjects were exluded Median of overall length of stay was 11 days 4 36 days the median of duration to the first oral intake was 3 days 1 7 days and median of clinical onset was three days"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muthia Farani
"Latar Belakang/Tujuan: Pasien ikterus obstruktif maligna stadium lanjut membutuhkan
drainase bilier. Sten metal memiliki efektivitas yang lebih baik, namun klinisi perlu
mempertimbangkan patensi sten dan keterbatasan sumber daya, mengingat kesintasan
pasien yang rendah. Oleh karena itu analisis efektivitas biaya pada kasus ini penting untuk
dilakukan.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif yang dilakukan di rumah
sakit tersier terhadap pasien ikterus obstruktif maligna yang menjalani pemasangan sten
bilier paliatif pada Januari 2015 sampai Desember 2018. Perbedaan kesintasan 180-hari
dianalisis dengan uji log-rank. Perbedaan durasi patensi dianalisis dengan uji Mann-
Whitney U. Efektivitas didefinisikan sebagai patensi sten, biaya dihitung dengan
perspektif rumah sakit menggunakan model decision tree dan dinyatakan dalam
incremental cost effectiveness ratio.
Hasil: Sebanyak 81 laki-laki dan 83 perempuan dengan rentang usia 24 -88 tahun ikut
dalam penelitian ini. Kesintasan 180-hari kelompok sten plastik 35,9% (median 76, 95%
IK 50-102 hari) dan sten metal 33,3% (median 55, 95% IK 32 -78 hari). Rerata (SB)
patensi sten plastik 123 (8) hari dan sten metal 149 (13) hari (p=0,489). Pemasangan sten
bilier metal dapat menghemat biaya sebesar Rp. 1.217.750 untuk setiap penambahan
durasi patensi 26 hari.
Simpulan: Tidak didapatkan perbedaan antara kesintasan dan patensi antara kedua
kelompok. Pemasangan sten bilier metal sebagai tata laksana paliatif pada pasien ikterus
obstruktif maligna lebih cost-effective dibandingkan sten plastik.

Background/Aim: Patients with advanced stage of malignant obstructive jaundice often
require biliary drainage. Metal stent is more effective than plastic stent, but we also ought
to consider of stent patency and resources restraint due to poor patient survival. Hence,
cost effectiveness analysis in this case was necessary.
Methods: We conducted a retrospective cohort of malignant biliary obstruction patients
who underwent palliative biliary stenting between January 2015 to December 2018 at a
tertiary hospital. We evaluated the difference of 180-day survival using log-rank test and
stent patency duration using Mann-Whitney U test. Effectiveness was defined as stent
patency, cost was calculated using hospital perspective following a decision tree model
and reported as incremental cost effectiveness ratio.
Results: A total of 81 men and 83 women aged 24-88 years old were enrolled in this
study. 180-day survival was 35.9% (median 76, 95% CI 50 -102 days) and 33.3%
(median 55, 95% CI 32 -78 days) for plastic and metal stent group respectively. Mean
(SD) of stent patency 123 (8) vs 149 (13) days for plastic and metal stent group
respectively (p=0.489). Metal stent insertion could save IDR 1,217,750 to get additional
26 days of stent patency.
Conclusion: There were no differences in survival and patency between the two groups.
Metal biliary stent is cost effective than plastic stent for palliation in malignant biliary
obstruction."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Amrina Rasyada
"Latar Belakang: Infeksi sitomegalovirus (CMV) telah menjadi masalah besar secara global dengan prevalens yang tinggi. Demam neutropenia merupakan kegawatdaruratan anak di bidang onkologi karena dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas, salah satu penyebabnya yaitu infeksi CMV. Mengingat tingginya seroprevalens CMV di Indonesia yang dapat meningkatkan angka kematian pasien keganasan, maka penting untuk memahami profil klinis, laboratoris, dan tata laksana infeksi CMV pada demam neutropenia. Tujuan: Untuk mengetahui prevalens, karakteristik klinis, laboratoris dan tata laksana infeksi CMV pada pasien anak dengan demam neutropenia karena keganasan. Metode: Penelitian ini merupakan uji observasional secara prospektif. Subyek yang diteliti adalah seluruh pasien demam neutropenia usia 1 bulan-18 tahun yang dirawat di bangsal anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta pada bulan Januari sampai dengan Mei 2024. Hasil: Terdapat 89 episode demam neutropenia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, yang terjadi pada 71 pasien anak dengan median usia 6 tahun (5 bulan-16 tahun), lelaki 56,3%, dan tumor padat 53,5%. Kultur steril terbanyak yaitu darah (78,3%) dan urin (65,2%), dengan kultur positif terbanyak yaitu feses (100%), darah (21,7%), urin (34,8%), dan sputum (100%). Dari kultur yang positif, proporsi kuman terbanyak adalah Klebsiella pneumoniae (29%) dengan sensitivitas antibiotik tertinggi yaitu lini 1 gentamisin (50%), lini 2 sefoperazon sulbaktam (55,5%), dan lini 3 imipenem (72,2%). Terdapat 2 subyek dengan infeksi CMV berdasarkan PCR CMV dan peningkatan IgG 4 kali lipat dalam 4 minggu. Karekteristik klinis yang ditemukan yaitu demam neutropenia episode kedua, durasi demam 1,5 hari, suhu puncak demam 39,45oC, diare, muntah, pucat, dan perdarahan. Kedua subyek dengan status gizi baik. Karakteristik laboratoris yang ditemukan yaitu pansitopenia, peningkatan CRP, dan kultur yang negatif. Karakteristik tata laksana yang ditemukan yaitu pemberian antibiotik empiris, antijamur, dan antivirus valgansiklovir selama 14 hari. Kesimpulan: Prevalens infeksi CMV pada anak dengan demam neutropenia karena keganasan di RSCM sebesar 2,2%, dengan karakteristik klinis demam neutropenia episode kedua, durasi demam 1,5 hari, suhu puncak 39,45oC, gejala diare, muntah, pucat, dan perdarahan. Tidak terdapat karakteristik laboratoris dan tata laksana, tetapi ditemukan pansitopenia, peningkatan CRP, kultur negatif, dan pemberian valgansiklovir selama 14 hari. Hasil tambahan berupa proporsi kuman tertinggi pada pasien demam neutropenia yaitu Klebsiella pneumoniae dengan sensitivitas antibiotik tertinggi yaitu sefoperazon sulbaktam.

Background: Cytomegalovirus (CMV) infection has become a major problem globally with high prevalence. Neutropenic fever is a pediatric oncology emergency, increasing morbidity and mortality. CMV infection should be considered as a cause of neutropenic fever. Given the high CMV seroprevalence in Indonesia, which can increase cancer patient mortality, it is crucial to understand the clinical profile, laboratory findings, and management of CMV infection in neutropenic fever. Objective: To determine the prevalence, clinical, laboratory, and management characteristics of cytomegalovirus infection in pediatric patients with neutropenic fever due to malignancy. Methods: This research was an observational study prospectively. The subjects were all neutropenic fever patients aged 1 month-18 years who were hospitalized in the Cipto Mangunkusumo Hospital (CMH) pediatric wards from January to Mei 2024. Results: There were 89 episodes of neutropenic fever that met the inclusion and exclusion criteria, found in 71 pediatric patients, with median age was 6 years old (5 months-16 years old), male 56.3%, and solid tumor 53.5%. Sterile results were found in blood (78.3%) and urine (65.2%) cultures. Positive cultures were found in feces (100%), blood (21.7%), urine (34.8%), and sputum (100%). Klebsiella pneumoniae (29%) was the highest proportion of positive cultures with the highest sensitivity antibiotic in the first line was gentamicin (50%), second line cefoperazone sulbactam (55.5%), and third line imipenem (72.2%). Two subjects were CMV infection based on PCR CMV and IgG increasing 4 times in 4 weeks. Clinical characteristics were second episode of neutropenic fever, duration of fever 1.5 days, peak temperature 39.45oC, diarrhea, vomiting, pale, bleeding, and both had good nutritional status. Laboratory characteristics showed pancytopenia, increasing CRP, and negative culture. Management characteristics included empirical antibiotic, antifungal, and antiviral valganciclovir for 14 days. Conclusion: The prevalence of CMV infection in neutropenic fever at CMH was 2.2%. Clinical characteristics were second episode of neutropenic fever, duration of fever 1.5 days, peak temperature 39.45oC, diarrhea, vomiting, pale, and bleeding. There is no laboratory and management characteristics, but found pancytopenia, increased CRP, negative culture, and administering valganciclovir for 14 days. The additional result was Klebsiella pneumoniae as the highest microbe with the highest antibiotic sensitivity was cefoperazone sulbactam."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
R. Yuliana Kusaeri
"Keempat kasus serial yang dipaparkan ini bertujuan untuk menganalisis dukungan nutrisi yang optimal dalam komposisi dan cara pemberian yang tepat. Pengambilan keempat kasus serial ini dilakukan berdasarkan karakteristik pasien gagal jantung anak yang berusia 5?17 tahun di rawat salah satu RS. Dukungan nutrisi menggunakan perhitungan rumus Schoefield (BB?TB) dikalikan faktor stress, dengan komposisi protein 2?2,5 gr/kg BB/hari, lipid 25?30%, karbohidrat 55?65%.
Hasil analisis dari keempat kasus didapatkan rerata pencapaian asupan lebih dari 90% kebutuhan energi basal pada hari perawatan ke-3, dan saat pulang (hari ke-7) dengan rerata asupan dapat mencapai > 80% kebutuhan energi total, meskipun dua pasien terdapat penurunan asupan akibat syok. Keempat kasus tidak mendapatkan suplementasi berupa mikronutrien dan nutrien spesifik yang seharusnya. Monitoring dan evaluasi yang diberikan meliputi klinis, balans cairan, toleransi asupan, dan analisis asupan. Dukungan nutrisi yang optimal disertai cara pemberian yang tepat memberikan toleransi asupan yang baik disertai perbaikan klinis pasien gagal jantung anak.

The four cases serial presented is aimed to analyze support optimal nutrients in composition and the way of administering proper. Retrieval the four cases serial was made based on characteristic patient heart failure children ages 5?17 years treated one of the hospital. Nutrition support using the calculation formula of the Schoefield (WH) multiplied factor stress, with the composition of protein 2? 2,5 gr / kg BW/d, lipid 25?30 %, carbohydrates 55?65 %.
The results of the analysis of the four cases it brings average achievement of intake of more than 90% basal energy needs on the day of treatment, and at home (7th day) with average intake can reach > 80% of the total energy needs, although two patients there is a decrease in intake due to shock. The four cases did not get the nutrients and micronutrients supplementation in the form of specific that should. Monitoring and evaluation provided include clinical, fluid balance, tolerance intake, analysis of intake. The optimal nutritional support with the right way of giving tolerance a good intake is accompanied by clinical heart failure patient improvement.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Tutik Ernawati
"Tata laksana nutrisi pada sindroma nefrotik idiopatik anak meliputi penilaian status gizi, kebutuhan nutrisi baik makronutrien, mikronutrien, maupun managemen cairan. Penyakit sindroma nefrotik anak dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang mengganggu pertumbuhan, memperberat kerja ginjal hingga berakhir pada keadaan gagal ginjal. Untuk itu peran nutrisi menjadi sangat penting dalam menekan progresifitas penyakit dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Keempat pasien serial kasus ini memiliki karakteristik penyakit sindroma nefrotik idiopatik, dengan rentang usia 1–8 tahun, semua kasus merupakan serangan pertama dan sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit. Penghitungan kebutuhan energi menggunakan rumus Schoefield (W–H) dikalikan faktor stres, kebutuhan protein sesuai RDA dikalikan faktor stres, dan lemak tidak lebih dari 28% total kalori, dengan komposisi SAFA 8 %, PUFA 8% dan MUFA 12 %. Berdasarkan hasil analisis keempat kasus tersebut, pencapaian asupan sesuai kebutuhan energi total sudah mencapai 100 % pada kisaran hari perawatan ke–3 sampai ke–6, dengan rata–rata kepulangan pasien setelah perawatan hari ke–7. Terjadinya peningkatan tekanan darah di atas persentil rata–rata mengalami perbaikan seiring perbaikan klinis yang terjadi. Pemberian nutrisi pada pasien sindroma nefrotik anak dilakukan secara individual, menyangkut status gizi, analisis asupan, serta berbagai komplikasi yang terjadi. Monitoring dan evaluasi meliputi keadaan klinis, tanda vital, analisis asupan dan toleransi, keseimbangan cairan dan elektrolit, keadaan hipoalbuminemia, proteinuria, hematuria dan gambaran darah lengkap. Tata laksana nutrisi yang optimal harus disertai konseling dan motivasi kepada orang tua pasien ataupun pengasuh, dengan harapan dapat menekan progresifitas penyakit, meminimalisir kekambuhan, menekan komplikasi lebih lanjut, tercukupinya kebutuhan nutrisi, perbaikan status nutrisi, dan tercapainya tumbuh kembang yang optimal

Nutritional management therapy for idiopathic nephrotic syndrome in children includes nutritional status assessment, nutritional requirement including macronutrient, micronutrient, and fluid management. Nephrotic syndrome in children could cause several complications which disrupt growth and worsening kidney function which ends to kidney failure. According to that condition, nutritional therapy has become more important to alleviate disease progression and increase quality of life of the patient. On this case series, four patients had the characteristics of idiopathic nephrotic syndrome. All of them was on the age group of 1–8 years, on the first attack, and admitted in certain hospital. Energy requirement calculation was done using Schoefield (W-H) formula multiplied by stress factor, protein requirement based on RDA multiplied by stress factor, and fat requirement was no more than 28% of total calories, with the composition of SAFA 8%, PUFA 8%, and MUFA 12%. Based on the analysis of those patients, energy intake of the patients which met 100% of total energy requirement had accomplished on day 3 to day 6 of hospitalization, and they were discharged from hospital after 7 days hospitalization. An increase in blood pressure above the median percentile improved as clinical improvement occurs. Nutritional management therapy for nephrotic syndrom in children was done individually, includes nutritional status, dietary assesment, and the possible complications. Monitoring and evaluations included clinical condition, vital signs, dietary assesment and tolerance, fluid and electrolyte balance, hypoalbuminemia condition, proteinuria, hematuria, and full blood count. Optimal nutritional management therapy should be completed with counseling and encouragment to parents or caregiver to alleviate the disease progression, prevent relaps, and avoid further complications, nutritional requirement completion, nutritional status improvement, and optimal growth and development.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Adityawarman
"Penyakit moluskum kontagiosum dapat menimbulkan masalah yang meliputi bidang-bidang epidemiologi, derma-venereologi dan pengobatan. Keadaan ini tampak pada berbagai laporan mengenai penyakit tersebut, misalnya insidens pada anak-anak di New Guinea dikemukakan oleh STUART yaitu sekitar 10 %.
Cara lain yang dapat digunakan dalam usaha memberantas penyakit moluskum kontagiosum, adalah aplikasi topikal bahan-bahan kimia yang bersifat keratolitik kuat, cirusidal ataupun sebagai pembangkit reaksi inflamasi. bahan kimia topikal
misalnya tingtur yodium 10% dan plester asam salisilat 50 % digunakan untuk mengobati penyakit tersebut. Kekuatan larutan yodium povidon 10% setara dengan kadar aktif 1%. Tujuan penelitian ini adalah ingin membuktikan apakah ada perbedaan
efektivitas tingtur yodiu 10% denga larutan yodium povidon 10% dalam pengobatan moluskum kontagiosum pada anak."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1987
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>