Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 11614 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Suwardi
"Sintesis dibenzil tereftalat dilakukan melalui degradasi poli(etilena tereftalat) secara refluks dalam benzil alkohol pada temperatur 145-150 oC selama 20, 24, dan 28 jam menggunakan katalis zink asetat. Hasil degradasi dimurnikan dengan rekristalisasi dalam metanol dan kemudian titik leleh, spektra FTIR, RMN 1H, dan pemisahan secara TLC ditentukan. Titik leleh produk degradasi selama 28 jam adalah 98-99oC. Berdasarkan spektra FTIR diketahui senyawa hasil degradasi memiliki gugus OH dari benzil alkohol pengotor (3431,1 cm-1), C=O (1716,5 cm-1), C-O (1272,9 cm-1), CH alifatik (sekitar 2950 cm-1), dan aromatik (sekitar 3050 cm-1), benzen monosubstitusi (727,1 dan 696,3 cm-1), dan benzen disubstitusi (383,8 cm-1), sedangkan pada spektra RMN 1H menunjukkan pergeseran kimia pada 8,2 ppm (s, 10 H aromatik monosubstitusi), 7,5 ppm (s, 9 H yaitu 4 H aromatik disubstitusi dan 5 H aromatik benzil alkohol), 5,4 ppm (s, 1 H yang berikatan dengan O pada benzil alkohol), 4,8 ppm (s, 4 H metilen), dan 2,9 ppm (s, 7 H dari pengotor lain). Pada lempeng TLC terlihat noktah tunggal pada hasil degradasi selama 28 jam, yang dapat menunjukkan senyawa tunggal. Berdasarkan hasil karakterisasi ini dapat disimpulkan bahwa senyawa hasil degradasi adalah dibenzil tereftalat yang masih mengandung benzil alkohol dan pengotor lain.

Synthesis Dibenzyl Terephthalate Through Depolimerization of Poly(ethylene terephthalate) as Alternative of Waste Plastics Recycling. Synthesis dibenzyl terephathalate were done through PET degradation by refluxing in benzyl alcohol at 145oC temperature for 20, 24, and 28 hours in the presence of zinc acetate catalyst. The result of degradation was purified by recristalization in methanol and then melting point (mp), FTIR, 1H NMR spectra, and TLC spot were determined. The melting point of product degradation for 28 hours was 98-99 oC. Based FTIR spectra known that compunds of product degradation have OH, C=O, C-O, CH, monosubstituted benzene, disubstituted benzene groups, while on 1H NMR spectra showed chemical shift at 8.2 ppm (s, 10 H of monosubtituted benzene), 7.5 ppm (s, 9 H consist of 4 H disubstituted benzene and 5 H of aromatic benzyl alcohol), 5.4 ppm (s, 1 H from OH benzyl alcohol), 4.8 ppm (s, 4 H of methylene), and 2.9 ppm (s, 7 H of other traces). The single spot of TLC plate indicated that product degradation for 28 hours might be a single compund. Based these characterization concluded that compound of product degradation was dibenzyl terephthalate contains benzyl alcohol and other traces."
Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 2005
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Sampah masih menjadi masalah utama di negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Dari semua jenis sampah yang ada saat ini, sampah yang berasal dari plastik ternyata jumlahnya cukup besar. Penggunaan limbah plastik merupakan alternatif yang memungkinkan sebagai material penghasil energi. Proses cracking merupakan proses untuk mengubah limbah plastik dari rantai alkyl panjang polyolefins menjadi hydrocarbons. 8erbagai penelitian Ielah dilakukan untuk mengurangi limbah plastik tersebut menjadi material yang bermanfaat. Salah satunya adalah mengkonversi limbah plastik menjadi sumber energi. Pada kajian ini, dipaparkan beberapa metode yang leiah berhasil diteliti dalam mengkonversi limbah plastik, diantaranya adalah proses pirolisis (thermal cracking), hydro cracking dan hidroisomerisasi. Selain metode dan proses yang digunakan, jenis katalis yang digunakan dalam proses ternyata mempengaruhi tinggi rendahnya komposisi produk yang dihasilkan yaitu gas, cairan dan padatan yang terbentuk. Dengan dikembangkannya metode tersebut, diharapkan limbah plastik yang selama ini masih menjadi permasalahan serius di masyarakat dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan manusia dan lingkungan."
661 JRI 5:3 (2011)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Sekarayu Rahmadiani
"ABSTRAK
Penelitian ini berlatar belakang bahwa daur ulang merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan sampah plastik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor yang mendorong diperlukannya insentif pajak bagi industri daur ulang plastik serta menganalisis alternatif pemberian insentif bagi industri daur ulang plastik di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat beberapa faktor baik fiskal maupun non fiskal yang mendorong pemberian insentif bagi industri daur ulang plastik dari segi strength, weakness, opportunity, dan threat. Insentif fiskal yang dapat diberikan bagi industri daur ulang plastik adalah PPN tidak dipungut sedangkan insentif non fiskal yang dapat diberikan adalah Extended Producer Responsibility. Dengan demikian disajikan analisis berupa kajian insentif yang dapat diberikan bagi industri daur ulang plastik di Indonesia.

ABSTRACT
This research has a background that recycling is one of many ways that can be use to overcome the plastic waste problem. The purpose of this study is to analyze the factors that encourage the need for tax incentives for plastic recycling industry and analyzing the alternative of providing incentives for the plastic recycling industry in Indonesia. This study use a descriptive qualitative approach. Data collection techniques are done through in-depth interviews. The results of this study indicate there are several factors, both fiscal and non-fiscal, that encourage incentives for the plastic industry in terms of strength, weakness, opportunity, and threat. Fiscal incentive that can be given to the plastic recycling industry is non-collected VAT while non-fiscal incentive that can be given is Extended Producer Responsibilty. Thus presented an analysis in the form of incentive studies that can be given to the plastic recycling industry in Indonesia. "
Depok: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Aulia
"Bahan karton minuman aseptik ini sulit didaur ulang. Namun proses recyling untuk jenis bahan ini masih dapat dilakukan dengan menerapkan hydra proses pembuatan pulp (lapisan pemisahan), tetapi akan memakan biaya yang cukup mahal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan alternatif untuk mendaur ulang bahan-bahan dengan membuat papan dari cacahan karton aseptik yang akan dilaminasi menggunakan perekat polypropylene, dan untuk mengetahui perilaku lentur nya. Dalam membuat papan panel, pertama 32 mm x 4 mm karton aseptik diparut dicampur dengan 0%, 2,5%, 5% dan 7,5% fenol formaldehida dan, kemudian dikompresi dengan tekanan 25 kg/cm2 dan dipanaskan pada 170oC. Hal ini ditemukan bahwa panel dengan fenol formaldehida 0% memberikan kuat lentur terbaik. Panel-panel tersebut kemudian direkatkan dengan polypropylene (bijih plastik) dianggap sebagai perekat termal, untuk membuat papan dua lapisan dengan masing-masing ketebalan 10 mm dan tiga papan lapisan masing-masing dengan ketebalan 8,3 mm. Papan berlapis tersebut kemudian dibandingkan dengan yang dilem dengan epoxy sebagai perekat dingin dalam hal sifat mekanik yaitu modulus elastisitas (MOE) dan modulus pecah (MOR). Pengujian prosedur sifat fisik dan mekanik dilakukan dengan menggunakan standar JIS A 5908: 2003 dan ASTM C 580-02. Hasil dari penelitian nilai MOE dan MOR papan laminasi aseptik menggunakan bijih plastik lebih tinggi dari papan laminasi yang memiliki perekat dingin atau epoxy."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S1867
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Pretty
"Agregat ringan buatan HDPE adalah agregat ringan yang mempunyai berat jenis (specific gravity) ringan, dibuat dari hasil daur ulang plasik shampo HDPE. Agregat ini dapat digunakan sebagai pengisi beton ringan menggantikan fungsi agregat ringan alami.
Berdasarkan hasil pengujian diperoleh berat jenis agregat ringan sebesar 0,949, absorpsi sebesar 1,681%, nilai keausan agregat sebesar 5,16%. Dari Beton ringan yang dihasilkan dengan campuran agregat ringan hasil daur ulang botol shampo HDPE, diperoleh nilai kuat tekan rata-rata beton sebesar 10,162 kg/cm2, nilai kuat tarik 1,282, nilai modulus elastisitas 4684,48 dan nilai poisson - s ratio sebesar 0,151. Berdasarkan nilai diatas agregat ringan daur ulang plastik shampo HDPE dapat diaplikasikan sebagai pengisi untuk beton ringan struktural ringan."
2009
S50477
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Maulidia Putri Laksmi
"Penerapan sistem pengelolaan limbah plastik di Indonesia masih kurang efektif karena belum adanya standardisasi dalam peraturan sistem pengelolaan limbah plastik di masing-masing daerah serta lemahnya penegakan hukum dalam mengelola limbah plastik di Indonesia. Berdasarkan penelitian sebelumnya, daur ulang merupakan metode dalam ekonomi sirkular yang paling feasible dan efektif dalam mengurangi jumlah sampah plastik di Indonesia. Pengelolaan daur ulang limbah plastik di Indonesia merupakan sistem yang kompleks, dimana keterlibatan semua pemangku kepentingan yang relevan dapat memainkan peran penting dalam mendukung pembuat kebijakan dan strategi dalam menentukan rencana pengelolaan limbah plastik yang efektif dalam jangka pendek dan jangka panjang di tingkat lokal. Serious simulation game sebagai media pembelajaran bukan lagi bidang penelitian baru. Namun, masih sedikit penelitian serious simulation game yang mengambil topik pengelolaan limbah, dan belum ada yang berfokus pada pengajaran sistem pengelolaan limbah plastik bagi pemangku kepentingan (Stakeholder), khususnya bagi pemangku kepentingan (Stakeholder) di tingkat daerah. Recopoly Game merupakan permainan yang memberikan pengalaman kepada pemain dalam menemukan skenario terbaik yang menghasilkan volume sampah plastik terbanyak dan mendorong peningkatan profit sehingga dapat menghasilkan sistem pengelolaan limbah plastik yang berkelanjutan (sustainability). Infrastruktur permainan dengan multi-player diimplementasikan dalam Recopoly Game agar memungkinkan interaksi antar pemain sehingga diharapkan pemain dapat melakukan dalam kolaboratif dan kompetitif untuk memahami hasil yang berbeda pada setiap keputusan yang berbeda. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan rancangan serious simulation game yang dapat meningkatkan pemahaman dan memberikan gambaran tentang sistem pengelolaan daur ulang limbah plastik dalam konteks ekonomi sirkular untuk pemangku kepentingan (Stakeholder).

The implementation of plastic waste management systems in Indonesia is still ineffective because there is no standardization in the regulation of plastic waste management systems in each region and the weak law enforcement in managing plastic waste in Indonesia. Based on previous research, recycling is the most feasible and effective method in the circular economy in reducing the amount of plastic waste in Indonesia. The plastic waste recycling management in Indonesia is a complex system. The involvement of all relevant stakeholders can play an essential role in supporting policymakers and strategies in determining effective plastic waste management plans in the short term and long term at the local level. Serious simulation game as learning media is no longer new fields of research. However, there is severe little simulation game research that takes the topic of waste management, and no one has focused on teaching plastic waste management systems for stakeholders, especially for stakeholders at the local level. Recopoly Game is a game that offers players with experience in finding the best scenarios that produce the highest volume of plastic waste and encourage increased profits so that it can create a sustainable plastic waste management system. Multi-player game infrastructure is implemented in Recopoly Games to enable interaction between players. Thus, players expected to be able to perform collaboratively and competitively to understand different results for each different decision. Therefore, the purpose of this research is to develop a Serious Simulation Game design that can increase understanding and provide an overview of the management system of plastic waste recycling in the context of a circular economy for stakeholders."
Jakarta: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Limbah botol air mineral cukup banyak di sekitar kita. Botol air mineral ini terbuat dari PET yang memiliki daya tahan yang baik. Akibatnya, PET tidak bisa diuraikan oleh alam. Daur ulang PET merupakan salah satu cara untuk mengurangi limbah PET yang bisa mencemari lingkungan. Limbah botor air mineral yang terbuat dari PET ini diproses dengan cara dicacah agar bisa menjadi bahan baku produk lain. Industri pencacahan botol PET yang akan ditinjau terdapat di Kebun Raya Bogor dan Cidahu, Sukabumi. Bengkel pencacahan di Kebuh Raya Bogor dikelola oleh LSM Mitra Kebun Raya dengan tujuan utama untuk mengurangi limbah botol mineral di sekitar Kebun Raya dan juga untuk mendapat keuntungan. Sedangkan industri pencacahan botol PET di Cidahu murni untuk menghasilkan uang. Limbah PET yang sudah didaur ulang bisa menjadi bahan baku bagi produksi lain seperti keset, tali pengikat, isi boneka, polyester, penutup jok, dan lain sebagainya. Hal ini juga berarti limbah PET memiliki nilai jual yang cukup baik."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2002
S34731
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Trisilo Broto
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1990
S34319
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mega Kartikawati
"Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh data karakteristik agregat kasar ringan buatan limbah gelas plastik Poli Propilen (PP) terhadap kuat tekan, kuat tarik belah, dan modulus elastisitas. Pengujian sifat fisik agregat kasar ringan diperoleh berat jenis sebesar 0,9068 gr/cm3, absorpsi 0,6624, berat isi 483 kg/m3, kadar air 0,075 %, keausan agregat 7,68 %, modulus elastisitas agregat PP 1133,55 MPa dengan rasio Poisson 0,2498. Pengujian sifat mekanis beton ringan yaitu kuat tekan beton ringan sebesar 11,714 Mpa, kuat tarik belah sebesar 1,1495, modulus elastisitas sebesar 6413,9725 MPa, dan rasio Poisson sebesar 0,3241. Berdasarkan ACI 213R-87, beton ringan ini termasuk dalam klasifikasi beton ringan mutu sedang.

The research is purpose to get the lightweight coarse aggregate characteristic from recycled Poly Propylene (PP) plastic cup waste and its effect to the modulus of elasticity, splitting-tensile and compressive strength of lightweight concrete. The results of physical properties of aggregates are: specific gravity is 0,9068 gr/cm3, water absoption is 0,6624, density is 483 kg/m3, water content is 0,075 % , the resistance of abrasion is 7,68 %, modulus of elasticity is 1133,55 MPa and Poisson's ratio of lightweight coarse aggregate is 0,2498. The results of mechanical properties of lightweight concrete such as compressive strength of lightweight concrete is 11,714 Mpa, splittting-tensile strength is 1,1495, modulus of elasticity is 6413,9725 MPa, and Poisson's ratio is 0,3241. Based on ACI 213R-87,this lightweight concrete is classified as moderate lightweight concrete."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
S50478
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Faat Y. Gama
"Telah banyak studi dan penelitian yang dilakukan untuk mempelajari mengenai sifat-sifat mekanis beton ringan yang memanfaatkan bahan-bahan daur ulang seperti plastik sebagai agregat kasar (Artificial Light-Weight Aggregate) dalam beton ringan. Namun bagaimana perilaku ketika beton ringan tersebut dimodelkan dalam elemen struktur kolom yang memikul beban tekan aksial eksentris. Sehubungan dengan hal tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mencoba mengkaji efek deformasi baik jangka panjang (permanen) maupun jangka pendek (elastis) terutama terhadap parameter rangkak yang mungkin terjadi pada sebuah model elemen kolom beton ringan beragregat plastik Polyethylen Terepthalate (PET) daur ulang yang dibebani beban aksial tekan eksentris.
Mutu beton yang didapatkan lewat uji kuat tekan dalam bentuk silinder (15x30) cm adalah 8,3 MPa. Benda uji yang digunakan terdiri atas : (a) 3 buah kolom langsing tipe A (KLA) dengan ukuran (420x70x70) mm, (b) 3 buah kolom langsing tipe B (KLB) berukuran (300x50x50) mm, (c) 3 buah kolom pendek tipe A berukuran (140x70x70) mm, dan (d) 3 buah kolom pendek tipe B berukuran (100x50x50) mm. Pengujian kolom tersebut dikategorikan menjadi 3 macam pembebanan yakni beban aksial tekan, beban lentur dan beban aksial tekan eksentris (kombinasi aksial tekan dan lentur) dengan durasi pembebanan sekitar 3 minggu. Setiap tipe kolom langsing baik tipe A dan B, masing-masing 1 buah sample akan diuji pembebanan aksial tekan, beban lentur dan beban kombinasi. Dan untuk semua kolom pendek hanya akan diuji beban aksial tekan.
Dari hasil penelitian terhadap 3 jenis pembebanan tersebut hanya tipe pembebanan lentur saja yang memperlihatkan terjadinya gejala regangan rangkak. Sedangkan pada 2 tipe pembebanan yang lain yakni aksial tekan dan kombinasi dari analisa hasil penelitian tidak mengindikasikan ada efek rangkak. Hasil eksperimen kolom langsing tipe KLA-1 dan KLB-1 dengan beban aksial tekan sebesar 4410 N untuk kolom KLA dan 2254 N untuk kolom KLB hanya memperlihatkan efek deformasi elastis sesaat dimana selang 24 hari setelah beban tekan di release melalui pengukuran manual dimensi panjang kolom tersebut kembali ke kondisi semula. Namun berdasarkan analisa yang dihasilkan tercatat bahwa kolom KLA-1 mengalami deformasi aksial maksimum sebesar 0,78 mm dan defleksi permanen di setengah bentang sebesar 0,2 mm. Sedangkan untuk kolom KLB-1 tercatat mengalami deformasi aksial sebesar 0,34 mm dan defleksi permanen di setengah bentang sebesar 0,32 mm.
Pada kasus pembebanan lentur murni, tercatat pada kolom KLA-2 terjadi deformasi aksial sebesar 0,1 mm dan defleksi lateral permanen di setengah bentang sebesar 0,12 mm. Sedangkan untuk kolom KLB-2 mengalami deformasi aksial sebesar 0,12 mm dan defleksi lateral permanen di setengah bentang sebesar 0,14 mm. Pengaruh berbeda terhadap deformasi aksial dan lendutan lateral juga terlihat pada hasil pembebanan kombinasi aksial tekan dan lentur dimana kolom KLA-3 terjadi deformasi aksial sebesar 0,56 mm dan defleksi permanen di setengah bentang sebesar 0,11 mm. Sedangkan Sedangkan untuk kolom KLB-3 mengalami deformasi aksial sebesar 0,27 mm dan defleksi lateral permanen di setengah bentang sebesar 0,15 mm. Hasil yang ditunjukkan tersebut terbilang lebih kecil dari hasil pola pembebanan aksial tekan dimana dimungkinkan efek penerapan beban lentur mereduksi pengaruh gaya aksial tekan sehingga nilai deformasi aksial dan defleksi lateral menjadi berkurang. Umur beton yang terlalu tua juga turut memberikan kontribusi terhadap tidak terlihatnya efek rangkak yakni interval waktu antara waktu pengecoran sampel dengan waktu pengujian (pembebanan) terlampau jauh yaitu sekitar 1,2 tahun.

Have been many studies and researches conducted to learn about the mechanical properties of lightweight concrete that uses recycled materials such as plastic as coarse aggregate (Artificial Light-Weight Aggregate) in lightweight concrete. But how the behavior of lightweight concrete is modeled in the structural elements that hold the column eccentric axial compressive load. In this regard, this study aims to try to assess the effects of both long-term deformation (permanent) and short term (elastic), especially on the creep parameters that may occur in a lightweight concrete column element model used Polyethylen Terepthalate plastic (PET) recycled aggregates bears eccentric axial load.
Concrete strengths obtained through the Compression testing of a concrete cylinder (15x30) cm2 is 8.3 MPa. The samples used consisted of : (a) 3 units slender columns of type A (KLA) with size (420x70x70) mm3, (b) 3 units slender columns of type B (KLB), size (300x50x50) mm3, (c) 3 columns A type of shortsize (140x70x70) mm3, and (d) 3 short columns of type B fruit size (100x50x50) mm3. Column test is categorized into three kinds of loading the axial load, bending loads and axial loads eccentrically (combination of axial compressive and flexural) with loading duration of about three weeks. Each type of slender columns both type A and B, each sample will be tested axial loading, bending loads and load combinations. And for all the bulky columns will only be tested in axial load.
From the results of a study of three types of loading are bending types only just showing signs of strain creep. While on the other two types of loading the combination and axial compression, analysis of research results indicate no effect. The experimental results are slender columns with axial load of 4410 N for KLA-1 column and 2254 N for KLB-1 column shows the effect of elastic deformation 24 days after the load off the press, through manual measurement of the long of the column back to its original dimension. However, based on analysis of the resulting record that KLA-1 column axial deformation is 0.78 mm and the maximum permanent deflection at the half span is 0.2 mm. While for KLB-1 column carrying axial deformation of 0.34 mm and the permanent deflection at half-length is 0.32 mm.
In the case of pure bending, recorded on KLA-2 column axial deformation occurred at 0.1 mm and a permanent lateral deflection at half-length of 0.12 mm. While for KLB-2 column axial deformation of 0.12 mm and a permanent lateral deflection at half-length is 0.14 mm. Different Effect of axial deformation and lateral deflection is also seen on the results of the combination of axial loading and bending in which KLA-3 column axial deformation occurred at 0.56 mm and the permanent deflection at half-length of 0.11 mm. While for KLB-3 column axial deformation of 0.27 mm and a permanent lateral deflection at half-length is 0.15 mm. Results shown are spelled smaller than the axial loading pattern in which the possible effects of the application of bending loads is reducing the influence of axial force so that the value of axial deformation and lateral deflection is reduced. Concrete age is too old also contributed to the invisibility of the creep effect ie the time interval between the time of casting sample with the test of time (loading) too far which is about 1.2 years.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S50675
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>