Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 107909 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Purwinda Herin Marliasih
"ABSTRAK
HPMCP HP-55 dan Eudragit L 100-55 adalah polimer sensitif pH yang dapat menahan pelepasan obat pada pH asam dan melepaskan obat pada pH diatas 5,5 serta digunakan sebagai bahan penyalut dalam sediaan lepas tunda. Natrium diklofenak merupakan golongan antiinflamasi AINS yang memiliki efek samping mengiritasi mukosa lambung dipilih sebagai model obat. Mikrokapsul HPMCP HP-55 dibuat dengan metode penguapan pelarut sedangkan mikrokapsul Eudragit L 100-55 dengan metode semprot kering. SEM, PSA, sieve analizer, dan uji pelepasan obat secara in vitro digunakan untuk mengkarakterisasi mikrokapsul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikrokapsul HPMCP HP-55 terdistribusi pada rentang 181-1180 μm dan mikrokapsul Eudragit L 100-55 pada rentang 0,4-20 μm. Uji pelepasan natrium diklofenak dari mikrokapsul HPMCP HP-55 dengan rasio 1:2 dan 1:3 menunjukkan pelepasan sebesar 7,31 dan 5,75% dalam medium HCl pH 1,2 serta 96,04% dan 93,27% dalam medium dapar fosfat pH 6,8. Sedangkan mikrokapsul Eudragit L 100-55 pada rasio 1:1 menunjukkan pelepasan sebesar 0,47% dalam medium HCl pH 1,2 dan 88,75% dalam medium dapar fosfat pH 6,8. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa mikrokapsul HPMCP HP-55 rasio 1:2 dan 1:3 serta mikrokapsul Eudragit L 100-55 rasio 1:1, memenuhi persyaratan sebagai sediaan lepas tunda.

ABSTRACT
HPMCP HP-55 and Eudragit L 100-55 are pH sensitive polymers which can retain drug release at acidic pH, releases drug at pH above 5.5 and used as coating material in the delayed release dosage form. Diclofenac sodium is an antiinflammatory NSAID which has side effect irritating gastric mucosa, was chosen as model drug. HPMCP HP-55 microcapsules prepared by solvent evaporation method, while Eudragit L 100-55 microcapsules by spray-dry method. SEM, PSA, sieve analyzer, and drug release test in vitro is used to characterize microcapsules. The results showed that HPMCP HP-55 microcapsules distributed in range 181-1180 μm and microcapsules Eudragit L 100-55 in range 0.4 to 20 μm. The release test of diclofenac sodium microcapsules HPMCP HP-55 with ratio 1:2 and 1:3 showed the release 7.31 and 5.75% in medium HCl pH 1.2, 96.04% and 93.27% in the medium buffer phosphate pH 6.8. Meanwhile, Eudragit L 100-55 microcapsules at ratio of 1:1 showed the release of 0.47% in acid medium pH 1.2 and 88.75% at phosphat medium pH 6.8. From the results it is concluded that the HPMCP HP-55 microcapsules ratio 1:2 and 1:3 and Eudragit L 100-55 microcapsules ratio 1:1, qualify as delayed release dosage form."
Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2011
S1471
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyuni Restu Putri
"Proses fluidized bed adalah suatu metode pengeringan, granulasi, dan penyalutan partikel kecil, dengan adanya aliran udara yang melewati partikel pada kecepatan yang cukup besar untuk mengatur gerakan partikel tersebut. Tujuan penelitian ini adalah membuat granul salut enterik natrium diklofenak dengan proses fluidized bed. Natrium diklofenak merupakan obat AINS yang dapat mengiritasi lambung sehingga dipilih sebagai model obat. Polimer penyalut yang digunakan yaitu Eudragit L 100-55 karena mampu menahan pelepasan obat di pH asam, dan melepaskan obat pada pH diatas 5,5.
Pembuatan granul dibuat dengan metode manual (GM) dan fluidized bed (GFBG), selanjutnya proses penyalutan granul (GMS) juga dilakukan dengan metode fluidized bed. Karakterisasi granul salut enterik yang dilakukan meliputi penampilan fisik, uji penyusutan dan rendemen, SEM, distribusi ukuran partikel, laju alir, sudut istirahat, bulk-tapped density, penetapan kadar, dan uji pelepasan obat secara in vitro.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa GFBG terdistribusi pada rentang ukuran 0,356-0,71 mm, sedangkan GM terdistribusi pada ukuran >1,18 mm. Rendemen yang dihasilkan dari proses granulasi yaitu 67,23±1,19%, sedangkan rendemen dari proses penyalutan yaitu 82,46%. Granul salut enterik natrium diklofenak memiliki sifat alir yang baik. Pelepasan obat GFBG, GM, dan GMS di medium asam sebesar 2,09±0,06%; 1,98±0,13%; dan 3,56±0,37%. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa proses pembuatan dan penyalutan granul natrium diklofenak dengan proses fluidized bed belum optimal.

Fluidized bed process is a method of drying, granulation, and coating of small particles, with a stream of air passing through the particles at a rate great enough to set them in motion. The aim of this study was to formulate diclofenac sodium enteric-coated granules by fluidized bed process. Diclofenac sodium is an NSAID which can irritate the gastric, so chosen as a model drug. Coating polymer used is Eudragit L 100-55 because can retain drug release at acidic pH, and releases drug at pH above 5,5.
Formulation of granules were prepared by manual (GM) and fluidized bed (GFBG) methods, then coating process of granules (GMS) were also prepared by fluidized bed method. Characterization of enteric-coated granules includes physical appearance, shrinkage test and yield, SEM, particle size distribution, flow rate, angle of repose, bulk-tapped density, assay, and in vitro drug release test.
The results showed that GFBG distributed in size range 0,356-0,71 mm, while GM distributed on size > 1,18 mm. Yield of the granulation process was 67,23±1,19%, while yield of the coating process was 82,46%. Diclofenac sodium enteric-coated granules had good flow properties. Drug release of GFBG, GM, and GMS in acid medium were 2,09±0,06%; 1,98±0,13%; and 3,56±0,37%. Based on the study, it is concluded that the process of granulation and coating the granules of diclofenac sodium by fluidized bed process were not optimal.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2015
S60848
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hayatul Husna
"Pemanfaatan mikrosfer sebagai agen penghantar obat telah banyak dikembangkan. Polipaduan PLLA dan PCL digunakan sebagai bahan dasar pembuatan mikrosfer untuk meningkatkan kemampuan permeabilitas dan laju degradasi dari mikrosfer. Pada penelitian ini mikrosfer polipaduan dibuat dengan memvariasikan konsentrasi surfaktan, kecepatan pengadukan dispersi, dan waktu pengadukan dispersi untuk melihat pengaruhnya terhadap bentuk fisik mikrosfer, persen padatan mikrosfer yang diperoleh, serta ukuran dan keseragaman dari mikrosfer. Mikrosfer yang diperoleh dikarakterisasi dengan FT IR, PSA, dan Mikroskop Stereo.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi surfaktan yang digunakan menghasilkan ukuran mikrosfer yang semakin kecil. Pada variasi kecepatan pengadukan, jika kecepatan pengadukan ditingkatkan diperoleh ukuran mikrosfer yang semakin kecil, namun setelah melewati kondisi optimum kecepatan yang terlampau tinggi mengakibatkan ukuran kembali besar karena meningkatkan kemungkinan mikrosfer yang belum padat untuk bertemu dan menyatu kembali Untuk variasi waktu pengadukan dispersi diperoleh waktu pengadukan paling baik yaitu 1 jam karena menghasilkan mikrosfer dengan ukuran terkecil dan keseragaman yang baik.

The use of microspheres as drug delivery agents has been widely developed. Polyblend is used as the base material for making microspheres to increase permeability and degradation rates of the microspheres. In this study, the polyblend microspheres were made by varying the surfactant concentration, the dispersion stirring speed, and the time of dispersion stirring to see the effect on the physical shape of the microspheres, the percentage of solid microspheres obtained, the size and uniformity of the microspheres. The microspheres obtained were characterized by FT IR, PSA, and Stereo Microscope.
The results show that the smaller the concentration of surfactants used will result in smaller sizes of microspheres. At variations in stirring speed, if the stirring speed is increased, the smaller the size of the microspheres will be. But after passing the optimum speed, the size of the microspheres will be enlarged again because it increases the possibility of the microspheres that have not been solid to reunite. For variations in the time of dispersion, the best stirring time is obtained 1 hour because it produces microspheres with small size and good uniformity.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zilfia Mutia Ranny
"Furosemid merupakan obat diuretik kuat yang memiliki sifat hidrofobik. Formulasi dari obat hidrofobik untuk pemberian secara oral ini merupakan tantangan karena memiliki kelarutan dan disolusi yang buruk.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi dan mengetahui peningkatan kelarutan dari mikrokapsul furosemid menggunakan polimer hidrofilik maltodekstrin DE 10-15. Metode mikroenkapsulasi yang digunakan yaitu semprot kering. Pada penelitian ini perbandingan bobot yang digunakan antara furosemidmaltodekstrin adalah 1:1, 1:2, dan 1:4. Polimer hidrofilik seperti polivinilpirolidon (PVP) dan hidroksipropilmetilselulosa (HPMC) juga digunakan pada formula untuk membandingkan hasil mikrokapsul furosemid-maltodekstrin DE 10-15. Perbandingan bobot furosemid terhadap PVP dan HPMC masing-masing adalah 1:1. Mikrokapsul furosemid ini dikarakterisasi meliputi uji morfologi, distribusi ukuran partikel, uji perolehan kembali, efisiensi penjerapan, penentuan uji kelarutan, analisis termal menggunakan differential scanning calorimetry, dan difraksi sinar-X.
Hasil karakterisasi menunjukkan mikrokapsul furosemid yang dihasilkan memiliki morfologi partikel yang berbentuk bulat sampai tidak beraturan dengan distribusi ukuran partikel berkisar 5,47 ? 17,09 μm. Persentase efisiensi furosemid yang terjerap dalam mikrokapsul berkisar 88,21 ? 111,91%. Pada hasil analisis DSC dan XRD menunjukkan mikrokapsul furosemid mengalami transformasi dari bentuk kristal ke bentuk amorf. Hasil uji kelarutan furosemid dalam mikrokapsul menunjukkan peningkatan daripada senyawa
furosemid murni.

Furosemid, a loop diuretic drug is a hydrophobic drug which is poorly soluble in water. The formulation of hydrophobic drug for oral drug delivery is challenging due to poor solubility and poor dissolution of this drug.
The primary goal of this study was to characterize and to improve solubility of furosemid by microencapsulation with certain maltodextrin DE 10-15 using spray drying technique. In current research, three weight ratio of furosemide to maltodextrin DE 10-15 being used are 1:1, 1:2, and 1:4. Hydrophillic polymer such as polyvinyl pyrrolidone (PVP) and hydroxypropyl methylcellulose (HPMC) also were used to compare microcapsules of furosemide with maltodextrin DE 10-15. Weight ratio both PVP and HPMC being used are 1:1. Furosemide microcapsules was characterized in terms of morphology, particle size distribution, recovery factor, entrapment efficiency, dissolution test, thermal analysis using differential scanning calorimetry, and X-ray diffraction.
The result of characterization showed that the morphology of spray dried microcapsules were in spherical to irregular shape and the particles size range was about 5,47 ? 17,09 μm. Furosemide was incorporated into the microcapsules with entrapment efficiency of range between 88,21 ? 111,91%. The results of thermal analysis using differential scanning calorimetry and X-Ray diffraction showed that furosemide transformed from the crystalline state to amorphous state. From the prepared microcapsules results have shown that solubility has been improved from its spray dried microcapsules in comparison to pure furosemide."
Depok: [Universitas Indonesia, ], 2011
S33206
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
"The research on exploration and study of garcinia L.varieties at Souith Sumatera based on source of macromorfology evidences had been done from June to November 2004 which was located on some areas at South Sumatra...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Syahrul Ramdoni
"Penelitian bertujuan untuk mengetahui identitas khamir yang hidup pada putik bunga Ceiba pentandra (L.) Gaertn dan saluran pencernaan Apis mellifera L., lebah pengumpul polen yang mengunjungi bunga Ceiba pentandra. Sebanyak 12 isolat khamir yang terdiri dari tiga isolat dari putik bunga Ceiba pentandra dan sembilan isolat dari saluran pencernaan Apis mellifera digunakan pada penelitian. Isolat-isolat khamir diidentifikasi berdasarkan hasil Basic Local Alignment Searching Tools (BLAST) data sequence daerah ITS rDNA, analisis filogenetik dengan metode Neighbor Joining, dan pengamatan alat reproduksi seksual dan aseksual. Primer forward ITS1 dan primer reverse ITS4 digunakan untuk mengamplifikasi daerah ITS rDNA. Hasil elektroforesis gel produk PCR menunjukkan ukuran daerah ITS rDNA isolat khamir tersebut bervariasi antara 400 hingga 800 pb.
Hasil menunjukkan bahwa 12 isolat khamir terdiri dari enam species. Lima species khamir termasuk ke dalam phylum Ascomycota, order Saccharomycetales, class Saccharomycetes dan satu species khamir termasuk ke dalam phylum Basidiomycota, order Tremellales,dan class Tremellomycetes. Tiga isolat khamir dari putik bunga C. pentandra diidentifikasi sebagai Bullera coprosmaensis (JZ137), Candida orthopsilosis (JZ053), dan Debaryomyces hansenii (JZ051). Sembilan isolat khamir dari saluran pencernaan A. mellifera diidentifikasi sebagai Candida fermentatii (JZ059 dan JZ060), Candida mesorugosa (JZ057, JZ058, dan JZ063), Candida orthopsilosis (JZ064 dan JZ065), Candida parapsilosis (JZ066), dan Debaryomyces hansenii (JZ061). Dua species khamir yaitu Candida orthopsilosis dan Debaryomces hansenii ditemukan pada putik C. pentandra dan saluran pencernaan A. mellifera.

The aim of this study was to identify yeasts from the pistils of Ceiba pentandra (L.) Gaertn and digestive tracts of pollen collecting bee, Apis mellifera L. Twelve yeast isolates were identified which were consisted of three isolates from the pistils of C. pentandra and nine isolates from digestive tracts of A. mellifera. Identification was based on homology sequences analysis using Basic Local Alignment Searching Tools (BLAST), phylogenetic analysis by Neighbor Joining method, and observation of sexual and asexual reproduction. The primer set of ITS1 (forward primer) and ITS4 (reverse primer) were used to amplify ITS region rDNA of the isolates. Gel electrophoresis results showed that the size of ITS region of the isolates were varied on the range of 400--800 bp.
The results showed that twelve yeast isolates were identified as six species. Taxonomically, five species belong to phylum Ascomycota, order Saccharomycetales, class Saccharomycetes and one species belong to phylum Basidiomycota order Tremellales, class Tremellomycetes. Three yeast isolates from the pistils of C. pentandra were identified as Bullera coprosmaensis (JZ137), Candida orthopsilosis (JZ053), and Debaryomyces hansenii (JZ051). Nine yeast isolates from digestive tracts of pollen collecting A. mellifera were identified as Candida fermentatii (JZ059 & JZ060), Candida mesorugosa (JZ057, JZ058, dan JZ063), Candida orthopsilosis (JZ064 & JZ065), Candida parapsilosis (JZ066), and Debaryomyces hansenii (JZ061). Debaryomyces hansenii and Candida orthopsilosis were found on the pistils of C. pentandra and digestive tracts of A. mellifera.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
S53186
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Minneapolis : Burgess Publishing Company, 1969
570 BIO
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Rio Nogo Akbar
"Penelitian terhadap tanaman pepaya Carica papaya L varietas IPB9 Callina dilakukan untuk menentukan stabilitas genetik F1 terkait ekspresi seks pada tanaman tersebut Penelitian dilakukan dengan mengamati organ generatif pada tanaman pepaya IPB9 yakni bunga betina dan bunga hermaprodit Stabilitas genetik F1 ditentukan berdasarkan Hukum Mendel II mengenai pasangan bebas dari setiap gen dan alel pada tanaman pepaya IPB9 Dari 100 tanaman pepaya IPB9 F1 yang ditanam di perkebunan pepaya komersial milik Bapak Petri di Parung Bogor didapatkan jumlah tanaman betina sebanyak 31 tanaman dan tanaman hermaprodit sebanyak 69 tanaman Hasil penghitungan jumlah bunga dari 31 tanaman pepaya betina didapatkan 55 bunga sedangkan dari 69 tanaman pepaya hermaprodit didapatkan 92 bunga Perbandingan jumlah tanaman pepaya betina dengan jumlah tanaman pepaya hermaprodit sebesar 1 banding 2 begitu pula dengan jumlah bunga pada tanaman pepaya betina dengan jumlah bunga pada tanaman pepaya hermaprodit sebesar 1 banding 2 Hasil pengamatan anatomi dari 92 bunga hermaprodit yang tumbuh semuanya adalah jenis elongata Stabilitas genetik F1 terkait variasi ekspresi seks pada tanaman pepaya varietas IPB9 sesuai dengan Hukum Mendel.

Research has been conducted for papaya Carica papaya L var IPB9 Callina to find out about the genetic stability on F1 linked to sex expression in that plant Research conducted by observing female flowers and hermaprodhite flowers which are generative organs of papaya IPB9 The genetic stability of F1 based on Mendel's second law about independent assortment on every genes and alleles in that papaya IPB9 plant About 100 F1 IPB9 papaya tree were planted in a commercial papaya plantation owned by Mr Petri in Parung Bogor have been founded female tree number as many as 31 trees and hermaphrodite tree as many as 69 trees The total number flower from 31 female trees are 55 flowers while from 69 hermaphrodite trees obtained 92 papaya flowers Thus the ratio number of female and hermaphrodite is 1 to 2 Anatomical observations of 92 hermaphroditic flowers in hermaphrodite trees are totally elongata Based on the amount of female trees and hermphrodite trees the amount of female flowers and hermaphodrite flowers and also the kind of all hermaphrodite flowers are elongata genetic stability of F1 linked to sex expression of papaya var IPB9 is corresponding to Mendelian's Law."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
S52748
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ayuningtyas Tina Paramitha
"Uji aktivitas antivirus ekstrak etanol daun angsana (Pterocarpus indicus Willd.) menyatakan bahwa daun angsana berpotensi sebagai media pengobatan demam berdarah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol daun angsana dengan tingkatan dosis 0,5 , 5, 50, dan 500 mg/kg bb terhadap morfologi fetus mencit galur DDY. Bahan uji diberikan secara oral sejak hari ke-6 hingga hari ke-15 kebuntingan. Induk mencit dikorbankan dan dibedah caesar pada hari ke-18 kebuntingan. Pengamatan meliputi jumlah corpus luteum, jumlah kematian dan resorpsi, jenis kelamin fetus, penimbangan berat badan fetus, pengukuran panjang fetus, serta pengamatan visual terhadap kelengkapan morfologi fetus.
Hasil uji anava (P>0,05) menyatakan bahwa pemberian ekstrak etanol daun angsana tidak memengaruhi jumlah implantasi, berat dan panjang badan fetus, serta jenis kelamin fetus. Hasil uji Kruskal-Wallis (P>0,05) menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh nyata terhadap jumlah fetus hidup, mati, resorpsi dan kelainan morfologi, sedangkan hasil uji Mann-Whitney (P>0,05) terhadap berat plasenta menunjukkan ada pengaruh nyata akibat pemberian ekstrak etanol daun angsana.

Antiviral activity of ethanol extract of angsana leaves (Pterocarpus indicus Willd.) showed that angsana potentially as dengue fever treatment. This study was performed to examine the influence of ethanol extract of angsana leaves at dose level 0,5 , 5, 50, and 500 mg/kg bw to mice fetus DDY strain. Substance test given by oral at 6th until 15th gestation period. At the 18th gestation, mice were euthanased by caesarian sectioned. Observation include the number of corpus luteum, number of death and resorption, weight body and crown-rump of fetus, and observation to completeness of morphological visually.
Anava test (P>0,05) showed that ethanol extract of angsana leaves did not influence the implantation number, fetus weight and crown-rump, and fetus sex. Kruskal-Wallis test (P>0,05) showed that there is no significant difference on alive, dead, and resorption fetus; and morphological abnormality, whereas Mann-Whitney test (P>0,05) on placenta weight showed there is significant difference due to administration of ethanol extract of angsana leaves.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2015
S59691
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Subhan Haikal Ehsan
"Teripang telah diketahui banyak memiliki manfaat biologis, seperti antikanker, antifungal, antivirus, dan antioksidan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan mendeteksi keberadaan senyawa saponin pada ekstrak kasar Holothuria atra (Echinodermata) dan fraksi-fraksinya. Senyawa radikal bebas DPPH digunakan untuk pengujian aktivitas antioksidan sedangkan uji busa digunakan untuk mendeteksi keberadaan senyawa saponin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kasar H. atra mengandung saponin dan memiliki aktivitas antioksidan yang lebih rendah dari pembandingnya, Acanthaster sp. (Echinodermata) dengan nilai IC50 masing-masing sebesar 739,194 μg/ml dan 102,946 μg/ml. Fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi air memiliki aktivitas antioksidan yang kurang kuat dengan nilai IC50 secara berurutan 511,35 μg/ml, 373,776 μg/ml, dan 491,8 μg/ml. Uji saponin terdeteksi positif pada semua fraksi kecuali fraksi etil asetat.

Sea cucumber had been known for having many biological uses, such as anticancer, antifungal, antivirus, and antioxidant. This study was conducted to test the antioxidant activity and to detect the presence of saponin compounds in Holorhuria atra (Echinodermata) crude extract and its fractions. Free radical compound, DPPH, was used to test the antioxidant activity and foam test was used to detect the presence of saponin compounds. The result showed that crude extract of H. atra contains saponins and has weaker antioxidant activity than Acanthaster sp. (echinoderm). The IC50 values are 739,194 μg/ml and 102,946 μg/ml, respectively. N-hexane fraction, ethyl acetate fraction, and water fraction have weak antioxidant activities with IC50 values 511,35 μg/ml, 373,776 μg/ml, and 491,8 μg/ml, respectively. Saponin test showed that all of the crude extract fractions showed positive results, except in ethyl acetate fraction."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
S46095
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>