Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 189350 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Supriyanto
Depok: Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2006
S8150
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hari, Daoud
New York: Random House, 2008
962.404 HAR t
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Juan Sebastiansyah
"Penelitian ini membahas mengenai penyebab utama dari terjadinya kembali konflik di Sudan Selatan antara SPLM/A yang merupakan etnis Dinka dan SPLM-IO yang didominasi oleh etnis Nuer pada tahun 2013. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan studi literatur secara online. Penelitian ini menggunakan Theory of Protracted Social Conflict oleh Edward Azar untuk menganalisis keberlanjutan konflik di Sudan Selatan pasca kemerdekaan pada tahun 2013 hingga tahun 2019. Lebih lanjut, penelitian ini menganalisis penyebab dan kondisi yang membuat suatu konflik menjadi berkepanjangan yang dibagi menjadi dua, yaitu Genesis; Communal Context/Communal Identity, Government and State Role, International Linkage yang menjadi penyebab dari konflik berkepanjangan dan Process Dynamics; Communal Actions and Strategies, State Actions and Strategies, dan Built in Mechanism of Conflict yang merupakan proses terjadinya dinamika dalam konflik yang berkepanjangan. Penelitian ini menemukan bahwa terjadinya kembali konflik di Sudan Selatan pada tahun 2013 disebabkan oleh faktor hubungan antara Dinka dan Nuer yang historis buruk, dominasi SPLM/A dalam pemerintahan Sudan Selatan, pemerintahan Kiir yang represif, dan otoriter, kekecewaan terhadap pemerintahan Kiir, dan negara lain yang mendorong terjadinya konflik karena adanya kepentingan di Sudan Selatan. Selain itu, dimulainya konflik disebabkan oleh penurunan wakil Presiden Riek Machar oleh Salva Kiir dan penyerangan terhadap etnis Nuer oleh Dinka.

This study discusses the main causes of the recurrence of conflict in South Sudan between the SPLM/A who are ethnic Dinka and SPLM-IO which are dominated by Nuer ethnicity in 2013. This study uses qualitative research methods by conducting a literature study online. This study uses the Theory of Protracted Social Conflict by Edward Azar to analyze the continuation of conflict in South Sudan after independence in 2013 to 2019. Furthermore, this study analyzes the causes and conditions that make a conflict become prolonged divided into two, namely Genesis; Communal Context/Communal Identity, Government and State Role, International Linkage that are the cause of prolonged conflict and Process Dynamics; Communal Actions and Strategies, State Actions and Strategies, and Built in Mechanism of Conflict which is the process of dynamics in a prolonged conflict. The study find that the recurrence of the conflict in South Sudan in 2013 was caused by the historically poor relationship between Dinka and Nuer, SPLM/A dominance in the South Sudan government, the repressive, and authoritarian Kiir government, disappointment to the Kiir government, and other countries which led to conflict because of interests in South Sudan. In addition, the start of the conflict was caused by the decline of Vice President Riek Machar by Salva Kiir and the attack on the Nuer ethnic group by Dinka."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Bismantara
"Penelitian ini mencoba untuk menggambarkan upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintahan Habibie untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di wilayah, Aceh. Sebagai sebuah pemerintahan yang mempunyai karakteristik transisional adalah penting untuk melihat bahwa apapun upaya yang dilakukan oleh pemerintah pada titik itu akan sangat menentukan pola penyelesaian yang akan dikembangkan pada tahap dan waktu selanjutnya.
Penelitian ini memfokuskan dirinya faktor perbedaan tindakan antara militer dan nonmiliter, reaksi mahasiswa terhadap langkah penyelesaian yang dikeluarkan oleh Habibie dan situasi reformasi yang menjadi situasi yang dominan dalam pemerintahan Habibie. Ketiga faktor inilah yang diduga menjadi faktor yang menghambat penyelesaian konflik di Aceh dalam masa pemerintahan Habibie. Dengan menggunakan teori kelompok yang menganalisa kelompok elit yang memerintah (the governing elites), elit yang berada di luar (the non-governing elites) dan massa (non-elites), penelitian ini berupaya untuk melihat interaksi antar kelompok yang berbeda dalam penyelesaian konflik yang berada di Aceh.
Penelitian ini menggunakan metode analisa data sekunder. Hasil dari penelitian ini adalah adanya situasi reforma.si yang menyebabkan perbedaan tindakan antara militer dan non-militer di Aceh. Perbedaan tindakan ini memperkuat reaksi oposisional mahasiswa yang juga turut mempengaruhi upaya penyelesaian konflik di Aceh di masa pemerintahan Habibie."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2002
T911
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Penelitian ini mengembangkan metode interpretasi terhadap latar belakang fenomena sosial konflik berupa kasus pertikaian antarkelompok di Sulawesi Selatan yang sealalu terjasi secara berulang dan sangat sulit untuk dicari solusinya secara sosiologis...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Dona Eka Putri
"Tujuan penulisan ini adalah untuk meningkatkan kinerja PT X, dengan mengusulkan tindakan penyelesaian konflik horizontal antara Serikat Pekerja X (SPX) yang menuntut spin-off dari induk perusahaan dengan Serikat Pekerja RX (SPRX) yang pro manajemen baru hasil RUPSLB. Konflik ini merupakan akibat dari konflik-konflik yang terjadi sebelumnya antara pemerintah pusatpemerintah daerah, induk perusahaan-anak perusahaan, dan manajemen puncak karyawan PT X (rincian permasalahan pada BAB I).
Analisis terhadap konflik di PT X dilakukan berdasarkan teori dari Robbins (2005) tentang proses terjadinya konflik (rincian teori pada BAB II). Ditemukan bahwa ada tiga kondisi anteseden yang menjadi sumber konflik di PT X yaitu:
(1) Struktur; (a) terdapat diskrepansi tujuan antara SPX-SPRX, (b) tidak adanya hukuman dari pihak manajemen terhadap pelanggaran yang dilakukan anggota SPRX sehingga SPX merasa diperlakukan tidak adil
(2) Variabel personal; perbedaan sistem nilai masing-masing anggota kelompok berkontribusi pada terjadinya konflik
(3) Hambatan dalam komunikasi; keengganan kelompok berkomunikasi menyebabkan konflik makin meningkat.
Konflik yang terjadi melibatkan faktor emosional dan personal, sehingga timbul ketegangan dan permusuhan pada kedua kelompok yang mengakibatkan suasana kerja tidak kondusif (rincian pada BAB I). Intensi penanganan konflik yang dilakukan kelompok, dalam hal ini SPX adalah: (1) avoiding; dengan cara menghindari interaksi dan komunikasi dengan SPRX, (2) accommodating; mengorbankan emosi dan rasa ketidakpuasan pada SPRX dengan tetap bekerja bersama SPRX.
Akibat konflik ini adalah: (1) timbul krisis kepercayaan pada pemimpin, (2) suasana kerja menjadi tidak kondusif."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T18067
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jessica Alexandra
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2006
S8163
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azman Ridha Zain
"Topik riset ini adalah mengenai perjalanan konflik antara Irak dan AS dengan segala dinamikanya. Terutama berkaitan dengan peristiwa yang terjadi pasta perang dingin, khususnya setelah berlangsungnya perang Teluk II yang menjadikan Irak sebagai pihak yang kalah dan menerima akibatnya sejak saat itu sampai sekarang. Penelitian tentang dinamika konflik tersebut diarahkan pada realitas dan hakikat dibalik konflik berkepanjangan antara Irak dan AS yang berujung pada invasi AS ke Irak serta untuk mengetahui sejauh mana dampak dan pengaruh invasi AS terhadap negara Irak dan proses perdamaian yang sedang terus diupayakan di kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Sejak Perang Teluk II Amerika sebenamya telah merancang berbagai cara untuk menaklukkan Saddam Hussein, balk dengan pemberian sanksilembargo ekonomi, dikeluarkannya berbagai resolusi PBB untuk melemahkan kekuatan persenjataan Irak sampai usaha pembunuhan terselubung maupun terang-terangan yang dilakukan oleh Amerika. Namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil, sementara Saddam Hussein tetap bertengger di singgasana kekuasaannya.
Invasi Amerika ke Irak bulan Maret tahun 2003 yang lalu adalah sebagai salah satu bagian dari kebijakan pemerintahan George Bush sekarang. Tapi menjadi prioritas utama untuk memuluskan agenda-agenda Iainnya yang tersembunyi. Alasan kepemilikan terhadap senjata pemusnah massal, upaya untuk menjadikan Irak sebagai negara demokratis dan lebih terbuka, dendam pribadi George Bush terhadap Saddam Hussein, dan ancaman terorisme maupun keterkaitan Saddam Hussein dengan al-Qaida, meskipun memang bisa dijadikan dalih oleh Amerika untuk memberangus Irak, tetapi fakta di lapangan dan mats hati maupun nurani jernih ummat manusia tidak bisa dikelabui, bahwa itu semua hanyalah sebagian dari alasan dibalik adanya agenda tertentu yang telah sejak lama dirancang oleh pengambil kebijakan di pemerintahan George Walker Bush.
Dengan demikian tidaklah berlebihan bila mengatakan bahwa Dibalik invasi Amerika terdapat sejumlah agenda tersembunyi yang sedang dijalankan oleh negara adidaya itu. Agenda tersebut ada yang memiliki dampak yang langsung bagi Amerika berupa keuntungan-keuntungan materi maupun kepuasan batin setelah berhasiI mengalahkan musuh bebuyutan, ada pula yang berupa kemenangan atas nama hegemoni politik, ekonomi, militer dan ilmu pengetahuan maupun teknologi. Disamping itu terdapat banyak sekali dampak ikutan (side effect) maupun realitas yang terungkap dibalik konflik Amerika dan lrak yang telah berlangsung lebih dari dua dasawarsa tersebut.
Hipotesis:
"Semakin besar dan berani penentangan Irak terhadap AS semakin besar dan berat pula konsekuensi yang diterima Irak. Invasi yang dilancarkan AS terhadap Irak didasari oleh keinginan untuk menjadi satu-satunya negara super power yang paling berkuasa dan berpengaruh di dunia.."
Metode Penelitian:
Metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Teknik pengumpulan datanya antara lain dengan menggunakan kajian literature, bail( dengan eksplorasi bahan-bahan kepustakaan, bahan-bahan dari berbagai artikel? majalah, mass media/surat kabar, pendapat tokohlahli dan pengamat hubungan intemasional, utamanya pengamat masalah-masalah keislaman dan Timur Tengah. Disamping itu penelitian juga dilakukan dengan menelusuri situs-situs Internet yang relevan dengan penelitian.
Oleh karenanya bertitik tolak pada pendekatan deskriptif analisis yang digunakan dalam penelitian ini, maka dalam pembahasannya penel;itian ini banyak memaparkan berbagai peristiwa yang berhubungan dengan konflik antara Irak dan AS. Dengan menggunakan teori konflik dan berbagai teori lain yang ada dalam hubungan internasional, berbagai peristiwa konflik tersebut dianalisa secara kritis.
Hasil Penelitian :
Dengan mengumpulkan serta menganalisa data yang ada, penulis menyimpulkan bahwa invasi AS ke Irak didasari oleh keinginan AS untuk lebih mengukuhkan supremasi kekuasaannya sebagai satu-satunya super power yang tanpa tandingan di muka bumi ini. Dan kekuatan dunia lainnya yang potensial untuk menandingi serta mengalahkan kekuatannya terlebih dahulu akan dilemahkan atau dikalahkan sebelum benar-benar menjelma menjadi kekuatan yang besar. Kekuatan Islam dalam kacamata Barat adalah yang paling potensial untuk menyaingi bahkan mengalahkan supremasi AS tersebut. Maka dengan dalih memberantas terorisme, menjaga perdamaian dunia, serta mengalahkan realm Partai Baath di bawah Saddam Hussein yang tiran atau tidak demokratis, AS pun menginvasi Irak. Keberhasilan tentara AS untuk menaklukkan Saddam Hussein memberi keuntungan yang besar dari segi politic dan ekonomis bagi AS maupun Zionis Israel, karena akan memuluskan agenda besar mereka untuk menaklukkan dan menguasai dunia Arab maupun dunia.
Diantara realitas yang berhasil penulis ungkap dalam penelitian tesis ini adalah sebagai berikut: Bahwa dibalik segala alasan Amerika untuk menginvasi Irak terdapat agenda tersembunyi yang telah direncanakan dan diperhitungkan dengan sangat matang oleh pengambil kebijakan di Amerika. Disamping itu terdapat realitas yang tak sempat mereka pikirkan atau sengaja mereka abaikan dari dampak invasi mereka kepada Irak. Dalam bidang politik adalah terjadinya perubahan konstelasi politik internasional yang cukup signifikan. Yang implikasinya sangat luas, mengarah kepada terjadinya konflik-konflik susulan yang semakin memanaskan suhu politik dunia. Dampaknya tidak hanya mempengaruhi kawasan Timur Tengah tetapi juga dunia secara keseluruhan. Akan terjadi pergeseran kekuatan antara Timur dan Barat, peran PBB akan semakin terkecilkan, dan akan muncul kekuatan-kekuatan dunia baru yang potensial untuk menahan laju keserakahan Amerika untuk menguasai dunia. Kekuatan dunia akan semakin terkonsentrasikan ke arah kawasan Timur Tengah. Kondisi ini nantinya akan memunculkan terpolarisasikannya kekuatan dunia menjadi dua kekuatan utama, yaitu Islam dan Barat.
Namun hal ini justru diawali dengan semakin kuatnya cengkeraman Amerika untuk menguasai kawasan Timur Tengah. Realitas berikutnya adalah bahwa kemenangan Amerika pada hakikatnya adalah kemenangan Zionis Israel. Karena keingian mereka yang telah Iama dirancang, untuk memuluskan didirikannya negara Israel Raya semakin mudah untuk diwujudkan. Dan itu dilakukan melalui perpanjangan tangan Amerika, Dengan demikian Israel akan semakin dapat leluasa untuk menjalankan berbagai kebijakan politiknya untuk semakin memojokkan perjuangan Palestina dan melemahkan bargaining politik negara-negara Arab.
Dalam bidang ekonomi, realitas yang disepakati oleh banyak pengamat adalah bahwa motivasi utama Amerika menginvasi lrak adalah untuk meraih keuntungan yang besar dari minyak Irak. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa Amerika merupakan negara yang kebutuhan akan energi minyaknya terbesar di dunia. Realitas lainnya adalah adanya perseteruan antara mata uang Euro dan Dolar, faktor yang sangat krusial yang bisa sangat mempengaruhi hidup matinya perekonomian Amerika. Keberanian Saddam untuk menggunakan Euro disaat perekonomian Amerika sedang sekarat, membuat marah pihak Amerika karena hal itu bisa mendorong negara lain untuk juga menggunakan Euro, yang implikasinya bisa membuat US Dolar menjadi sekarat. Realitas lainnya adalah kehancuran Irak sebagai suatu bangsa. Kekalahan Irak menjadikan negara tersebut menjadi kehilangan jati diri kebangsaannya. Karena elemen-elemen kenegaran yang menjadi dasar berdirinya suatu negara telah tercabikcabik akibat perang.
Realiatas berikutnya adalah bahwa perang menimbulkan sentimen agama yang memberi jalan bagi diabsahkannya tesis Samuel P. Huntington yang mempertentangkan antara budaya Barat dan Islam. Meskipun tidak diakui, tetapi perang ini bisa juga dijadikan legitimasi bagi adanya benturan antar peradaban. Meskipun alasan ini masih kontroversial dan masih bisa diperdebatkan, namun dari perspektif agama sejarah membuktikan bahwa berbagai pertentangan yang selama ini terjadi antara berbagai kekuatan di dunia yang memiliki dampak bagi kemunduran dan kekalahan politik ummat Islam terhadap Barat sebenarnya dilandasi oleh adanya rivalitas laten, kebencian yang telah tertanam di hati ummat Yahudi maupun Nasrani terhadap ummat Islam. Baik itu diakibatkan oleh faktor kekuasaan dan hegemonitas, maupun karena faktor ideologi agama. Terlepas dari motif apapun yang ada dibalik alasan invasi AS ke Irak, tetapi konflik antar peradaban bisa mengemuka menjadi sesuatu yang akan berperan bagi terjadinya konflik antar kekuatan Barat dan Islam.
Terhadap kasus konflik AS- Irak, konflik antar peradaban bukanlah sesuatu yang menjadi alasan bagi terjadinya perang antar keduanya. Namun perang tersebut justru memicu semakin terbukanya gap dan perbedaan antar peradaban Barat dan Islam.
Realitas lain yang muncul sebagai dampak dari perang yang berlangsung di Irak adalah terjadinya penderitaan rakyat Irak yang sangat memilukan, dan berdampak sangat panjang terhadap nasib masa depan rakyat Irak. Terhadap masalah ini Amerika terbukti telah melanggar HAM di Irak, hal yang tak terelakkan sebagai akibat dari perang yang tak berperikemanusiaan.
Adapun realitas sebagai dampak ikutan akibat perang diantaranya adalah bahwa perang kali ini dijadikan Amerika sebagai lahan ajang unjuk kekuatan teknologi militer. Hal yang semakin mengukuhkannya sebagai satu-satunya negara militer terkuat di dunia. Unjuk kekuatan ini bcrmanfaat dari segi uji kemampuan militer, maupun untuk pengembangan strategi perang di masa-masa yang akan datang. Disamping itu realitas ikutan lainnya adalah bahwa perang ini juga menimbulkan terjadinya perang media antar berbagai media massa internasional. Peran media terbukti sangat penting dan efektif untuk memanipulasi opini massa tentang kondisi dan realitas perang yang sedang berlangsung. Kaitannya dengan masalah ini, terdapat dua kutub media yang berperang dalam hal ini, yaitu media Arab (baca Islam) dengan media-media yang berasaI dari Barat. Kondisi ini tidak terjadi pada perang-perang sebelumnya. Dimana tradisi yang ada selama ini bahwa sumber berita dari media Baratlah yang dominan menjadi sumber berita dan mempengaruhi opini massa dunia. Demikianlah diantara realitas yang bisa diungkap dari konflik dan perang antara Amerika dan Irak. Konflik yang sangat besar pengaruhnya bagi perubahan konstelasi politik di Timur Tengah dan dunia.
Namun hal ini justru diawali dengan semakin kuatnya cengkeraman Amerika untuk menguasai kawasan Timur Tengah. Realitas berikutnya adalah bahwa kemenangan Amerika pada hakikatnya adalah kemenangan Zionis Israel. Karena keingian mereka yang telah Iama dirancang, untuk memuluskan didirikannya negara Israel Raya semakin mudah untuk diwujudkan. Dan itu dilakukan melalui perpanjangan tangan Amerika, Dengan demikian Israel akan semakin dapat leluasa untuk menjalankan berbagai kebijakan politiknya untuk semakin memojokkan perjuangan Palestina dan melemahkan bargaining politik negara-negara Arab.
Dalam bidang ekonomi, realitas yang disepakati oleh banyak pengamat adalah bahwa motivasi utama Amerika menginvasi lrak adalah untuk meraih keuntungan yang besar dari minyak Irak. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa Amerika merupakan negara yang kebutuhan akan energi minyaknya terbesar di dunia. Realitas lainnya adalah adanya perseteruan antara mata uang Euro dan Dolar, faktor yang sangat krusial yang bisa sangat mempengaruhi hidup matinya perekonomian Amerika. Keberanian Saddam untuk menggunakan Euro disaat perekonomian Amerika sedang sekarat, membuat marah pihak Amerika karena hal itu bisa mendorong negara lain untuk juga menggunakan Euro, yang implikasinya bisa membuat US Dolar menjadi sekarat. Realitas lainnya adalah kehancuran Irak sebagai suatu bangsa. Kekalahan Irak menjadikan negara tersebut menjadi kehilangan jati diri kebangsaannya. Karena elemen-elemen kenegaran yang menjadi dasar berdirinya suatu negara telah tercabikcabik akibat perang.
Realiatas berikutnya adalah bahwa perang menimbulkan sentimen agama yang memberi jalan bagi diabsahkannya tesis Samuel P. Huntington yang mempertentangkan antara budaya Barat dan Islam. Meskipun tidak diakui, tetapi perang ini bisa juga dijadikan legitimasi bagi adanya benturan antar peradaban. Meskipun alasan ini masih kontroversial dan masih bisa diperdebatkan, namun dari perspektif agama sejarah membuktikan bahwa berbagai pertentangan yang selama ini terjadi antara berbagai kekuatan di dunia yang memiliki dampak bagi kemunduran dan kekalahan politik ummat Islam terhadap Barat sebenarnya dilandasi oleh adanya rivalitas laten, kebencian yang telah tertanam di hati ummat Yahudi maupun Nasrani terhadap ummat Islam. Baik itu diakibatkan oleh faktor kekuasaan dan hegemonitas, maupun karena faktor ideologi agama. Terlepas dari motif apapun yang ada dibalik alasan invasi AS ke Irak, tetapi konflik antar peradaban bisa mengemuka menjadi sesuatu yang akan berperan bagi terjadinya konflik antar kekuatan Barat dan Islam.
Terhadap kasus konflik AS- Irak, konflik antar peradaban bukanlah sesuatu yang menjadi alasan bagi terjadinya perang antar keduanya. Namun perang tersebut justru memicu semakin terbukanya gap dan perbedaan antar peradaban Barat dan Islam.
Realitas lain yang muncul sebagai dampak dari perang yang berlangsung di Irak adalah terjadinya penderitaan rakyat Irak yang sangat memilukan, dan berdampak sangat panjang terhadap nasib masa depan rakyat Irak. Terhadap masalah ini Amerika terbukti telah melanggar HAM di Irak, hal yang tak terelakkan sebagai akibat dari perang yang tak berperikemanusiaan.
Adapun realitas sebagai dampak ikutan akibat perang diantaranya adalah bahwa perang kali ini dijadikan Amerika sebagai lahan ajang unjuk kekuatan teknologi militer. Hal yang semakin mengukuhkannya sebagai satu-satunya negara militer terkuat di dunia. Unjuk kekuatan ini bcrmanfaat dari segi uji kemampuan militer, maupun untuk pengembangan strategi perang di masa-masa yang akan datang. Disamping itu realitas ikutan lainnya adalah bahwa perang ini juga menimbulkan terjadinya perang media antar berbagai media massa internasional. Peran media terbukti sangat penting dan efektif untuk memanipulasi opini massa tentang kondisi dan realitas perang yang sedang berlangsung. Kaitannya dengan masalah ini, terdapat dua kutub media yang berperang dalam hal ini, yaitu media Arab (baca Islam) dengan media-media yang berasaI dari Barat. Kondisi ini tidak terjadi pada perang-perang sebelumnya. Dimana tradisi yang ada selama ini bahwa sumber berita dari media Baratlah yang dominan menjadi sumber berita dan mempengaruhi opini massa dunia. Demikianlah diantara realitas yang bisa diungkap dari konflik dan perang antara Amerika dan Irak. Konflik yang sangat besar pengaruhnya bagi perubahan konstelasi politik di Timur Tengah dan dunia.

There are many dimensions to the US-Iraq conflict. They can be looked at from varying perspectives to highlight American concerns, Iraqi objections to US behaviour and the wider consequences of a war between the two protagonists for regional stability and world order. The objective of this research is to focus on those dimensions for which ample evidence exists in the public arena. Is is also to underline one major contention: that the US is partly responsible for the current crisis and a war with Iraq for the purpose of destroying Saddam Hussein's regime and transforming Iraq into a subordinate US ally, free of Weapons of Mass Destruction (WMD), changing Iraqi government to be a democratic country, and weakening Saddam Hussen's potention to threat US interests in the area, since it suspected to have a relation with group of terrorist al-Qaida, is unlikely to make the Middle East any less volative and American interests any more secure in the region in the long run.
The ruination of Saddam Hussein' regime was expected by most American government. As it can smooth the American ambition to become a real super power of the world. US superiority will facilitate realizing of occult agenda from Israel Zionism to build 'the Great Israel Nation' unfolding from Israel to Afghanistan. Neglectfully react to ossify international world protesting unilateral action of its country, US remain to be determined groan, conquering even colonizing Iraq. Notwithstanding this action neglect the aspects of human right and regional perfection of Iraq sovereignity. The American invasion to Iraq, however carries a very high risk of inflicting greater suffering upon the Iraqi people and subjecting the region to geostrategic shifts that may be beyond the US's power to control. The invasion also Ieft the other impacts and realities caused by a brutal war launched by US armies: the national identity ruination of Iraq, the mass media war between media of Arab and the West, a new phenomenon which not yet been happened in the previous Gulf War, And not to mention was the foray and crushing to various heritage and valuable old cultures of the past Iraqi history.
hypothesis :
"The greater Iraq confrontation towards US the greater and harder consequense faced by Irak as US launched the war and invation against Irak, a hidden and desired agenda to beat any potential opponent power and to prove that US is the only one unbeatable and influense super power in the Middle East and of the world."
Research Method :
This research uses a qualitative methode with analytical descriptive approach. The technique of data collecting is by using literature study, exsploration of bibliography substances from various articles, magazines, mass medial newspapers, the opinions of the international relation experts and observers about Middle East issues, and not to mention also the searching or tracing relevant intemet sites.
Along with using of a theorical framework utilize to comprehend social reality, hence the way of thinking used in this research by the character of deductive. Here the concepts mustered in theorical framework weared to explain, non to be tested. Starting at analytical descriptive approach used in this research, hence under consideration, this research analize a lot of various events dealing with conflict between Iraq And US_ By using conflict theory and various existing other similar theories in international relations, the various conflict events analysed critically.
Research Method :
This research uses a qualitative methode with analytical descriptive approach. The technique of data collecting is by using Iiterature study, exsploration of bibliography substances from various articles, magazines, mass medial newspapers, the opinions of the international relation experts and observers about Middle East issues, and not to mention also the searching or tracing relevant internet sites.
Along with using of a theorical framework utilize to comprehend social reality, hence the way of thinking used in this research by the character of deductive. Here the concepts mustered in theorical framework weared to explain, non to be tested. Starting at analytical descriptive approach used in this research, hence under consideration, this research analize a lot of various events dealing with conflict between Iraq And US. By using conflict theory and various existing other similar theories in international relations, the various conflict events analysed critically.
Result of Research:
By collecting and analysing the relevance data to this research, the writer conclude that the US invasion towards Iraq was constituted by US desire to maintain and increase its power supremacy as a single major super power of the world. Any other potential power that might have a capability and opportunity beforehand to compete with US power or even to threat and beat its supremacy must be defeated and destroyed before it really transform to become a big strength and the real threat for US hegemony. As the Islamic Strength is now awakening and is the biggest power that might defeat US power,- for the US and West perspective- The Islamic power is the most potential power to be a real threat for its supremacy. Eventhough Iraq ought not to be claimed as a representative of Islamic power or movement but in the fact that for decades the other enemies or the rival potential of US never be beated as to Iraq and Afghanistan.
Hence under the cloak of fighting against terrorism, taking care of world peace, and also defeating Baath Party Regime under Saddam Hussein, which is tyran leader or undemocratic, US decided to invade Iraq. Military efficacy of US to conquer Saddam Hussein gave big advantages from economic and political facet for US and also Israel Zionism, since this conquering smooths their 'hidden agenda' to conquer and to have control over the Middle East and the World.
There are many realities noted in this research : Behind the reasons of attacking Iraq, America had planned to launch the war long before it happened. The invasion however can not be avoided from any negative impact or side effect caused by the war. And the war had been affecting many implications in politics, economic, humanity, civilization, etc. In politics side is the changing of world politics constalation. It has a wide effect that can be inflicting the upcoming of conflict in the area between the international actors around the middle east, there would be a changing between the west and east power, the role of United Nation would be reduced as it failed to hinder the US war against Iraq.
The US winning the war against Iraq is indeed the winning of Zionism against Iraq and Islam power_ Indirectly involved in the war Israel will take an advantage from US superiority that facilitate realizing of occult agenda from Israel Zionism to build 'the Great Israel Nation' unfolding from Israel to Afghanistan. It can be the smart way to weaken the Palestine's struggle for freedom and to reduce the bargaining position from the Arab nations.
In economic field, almost the middle east experts and observer aggred that the main motivation from US to attack Iraq is to get a lot of benefit and advantage from Iraq oil. Not to mention is the rivalries between US Dollar vs Euro currencies, as the crucial factor that has a vital impact for US future economic.
Other reality is Iraq ruination as a nation. US invasion towards Iraq has made it state lost of its national spirit and exixtence. However the war caused the loss of Iraq identity and the basic elements as a nation.
Next Reality is that war generate religion sentiment between Islam and the west (read: Christian and Jews) as stated by Samuel P. Huntington thesis opposing to Western civilization and Islam. Though this reason still be controversy and still can be debated, but from religion perpective, the history proved that various oposition which during the time be happened among various strength in the world indeed be based on the existence of rivalries coming from the hatret and dislike from the Jew and Christian towards Islam and its communities. In the ease of conflict between US and Iraq, the war of civilization between the west and Islam was not a direct cause of the war launched by US towards Iraq, and was not also the significance reason for US to attack Iraq. But, however the Saddam and Iraq factors which are coming from the power that represented Islam as their religion opened the big gap and religious sentiment from George Bush and his governmental desicive maker. And the war had been escalating the sencitive issues about the beginning war of civilization between the west and Islam, eventhough it sencitive issues always be hidden by US policy maker or the middle east observers or experts worried of it dangerous and wide effect for the peace of the world.
The invasion also left the other impacts and realities caused by a brutal war launched by US armies : greater suffering upon the Iraqi people and the uncertainty living of Iraqi people, unpredictable fate of future Iraq. The war had also caused the national identity ruination of Iraq, the killing of thousand unsin people, and not to mention was the foray and crushing to various heritage and valuable old cultures of the past Iraqi history.
The other impact of US light against Iraq is that the war used by US army to show up the force of its war machine technology. US wanted to show to the world that he was the biggest military power in the world, and for those who dared to challenge, claimed as the US enemy or to fight against him must be defeated before it become the real potential power that threat US power.
The last reality found in this research is the mass media war between media of Arab and the West, a new phenomenon which not yet been happened in the previous Gulf War.
"
Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2004
T14905
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Iskandar Zulkarnain
Jakarta: Proyek Penelitian Pengembangan Riset, 2003
303.6 ISK p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Aliardo
"ABSTRAK
Sahara Barat merupakan sebuah wilayah di Afrika Utara yang pernah menjadi koloni Spanyol. Selama berabad-abad sejak abad ke ll sampai abad ke I9 Masehi Sahara Barat merupakan penghubung antara Sub Sahara dengan Wilayah Sahara Barat. Sekitar pertengahan abad ke ll maschi, Konfederasi Sanhaja beraliansi dengan suku Lamtuna untuk mendirikan dinasti Almoravid yang kckuasaannya saat ini meliputi Maroko, Tlemcen, semenanjung Iberia hingga ke utara meliputi Mauritania, Senegal dan Mali kemudian ke selatan meliputi kerajaan Ghana. Pada Abad ke 16 masehi, Dinasti Saadi Arab menaklukan Kerajaan Songhai yang berada di sekitar Sungai Niger. Perdagangan Trans Sahara menjadikan Sahara Barat sebagai jalur straregis antara Timbuktu yang bcrada di Mali dcngan Marakesh.
Tahun i884 dalam konferensi Berlin, Spanyol mendapatkan Sahara Barat sehingga selanjutnya Sahara Barat dikenai juga dengan Sahara Spanyol. 10 Mei tahun 1973, sebuah organisasi pembcbasan kawasan Sahara Barat di utara Afrika bernama Polisario dibentuk. Organisasi yang bertujuan tmtuk mempeijuangkan kemerdekaan kawasan Sahara Barat dari koloni Spanyol itu mendapatkan sambutan meluas dari masyarakat setempat. Sepuluh hari setelah dideklarasikan Front Polisario melancarkan serangan untuk pertama kalinya terhadap angkatan darat Spanyol.
Sebuah kesepakatan antara Spanyol, Mauritania, dan Maroko secara diam-diam dibuat oleh Spanyol yang pada saat itu mengalami permasalahan politik dan ekonomi dalam negeri serta mendapat tekanan dari komunitas internasional terutama PBB yang mcngeluarkan resolusi tahun 1960 tentang dekolonisasi negara-negara non seMgovernmerzl. Selain itu, Spanyol juga baru mengalami keguncangan politik dalam negeri yang mengakibatkan terjadinya perubahan rezim di Spanyol.
Kesepakatan yang dibangun antara Spanyol, Mauritania, dan Maroko adalah pcmbagian kawasan Sahara Barat kcpada Mauritania dan Marcko oieh Spanyol. Hal inilah kemudian yang membuat Polisario sebagai kelompok perlawanan masyarakat Sahara Barat yang bertujuan untuk kemerdekaan Sahara Barat dan mendapat dukungan Al Jazair, melakukan perlawanan dan menimbulkan konflik yang berkepanjangan Scjak tahun 1975 hingga saat ini.

ABSTRACT
Western Sahara is a region in North African which has ever become colony of Spanyol. During for centuries since century ll until century I9 Masehi Western Sahara was link between Sub Sahara with Regions Western Sahara. About mid of century I I masehi, Confederacy Sanhaja alliance with tribe Lamtuna for building dynasty Almoravid the power is in this time cover Marocco, Tlemcen, peninsula Iberia is finite to north cover Mauritania, Senegal and Mali then to south cover empire of Ghana. At Century I6 masehi, Dynasty Saadi Arab conquered Empire of Songhai residing in about Niger river. Commerce of Trans Sahara makes Western Sahara as strategic line between Timbuktu residing in Mali with Marakesh.
Year |884 in Line conference, Spanyol get Western Sahara so that hereinafter Sahara Barat recognized also with Sahara Spanyol. I0 May year 1973, an organization liberation of area of Westem Sahara in north of African so called Polisario is formed. organization with aim to fight for independence of area of Western Sahara from Spanyol colony get greeting extend from local public. Ten day after declaration Front Polisario launch attack forthe first time his (it?s to ground forces Spanyol.
A agreement between Spanyol, Mauritania, and Marocco on the quiet made by Spanyol which at that moment experience problems of domestic economics and politics and also getting pressure from intemational community especially PBB spending resolution year 1960 conceming nations decolonization non self-government. Besides, Spanyol also newly experience disputes home affairs politics resulting the happening of change of regime in Spanyol.
Agreement which woke up between Spanyol, Mauritania, and Marocco is area by territory of Western Sahara to Maroceo and Mauritania by Spanyol. The this is then making Polisario as a group resistance of public Western Sahara with aim to independence of Western Sahara and getting support A1 Jazair, make against and generate endless conflict since year 1975 was finite in this time."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2009
T34470
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>