Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 92560 dokumen yang sesuai dengan query
cover
John Gunawan Lusari
"Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab kematian utama pada
sepertiga penduduk dunia. Di Indonesia, terjadi peningkatan prevalensi penyakit
jantung dan pembuluh darah sebagai penyebab kematian peringkat ke-3. Pada
tahun 2007 prevalensi PJK nasional mencapai 7,2%. C-Reactive Protein (CRP)
dikenal sebagai penanda fase akut inflamasi dan berhubungan dengan peningkatan
kadar plasma karena kerusakan jaringan. Beberapa penelitian menunjukkan
adanya hubungan antara periodontitis kronis dengan peningkatan kadar CRP.
Peningkatan CRP sedang saja sudah meningkatkan risiko PJK. Pada sampel
penelitian ini terlihat penderita periodontitis menunjukkan risiko yang tinggi
terhadap PJK. Dugaan adanya kaitan efek patogen periodontal secara langsung
maupun tidak langsung memicu infeksi, mekanisme ini mengaktivasi faktor?
faktor inflamasi sehingga CRP sebagai marker respon fase akut dari infeksi juga
akan meningkat.

Abstract
Coronary heart disease (CHD) is the leading cause of death in one third of world
population. In Indonesia, there is increased prevalence of cardiovascular disease
as a cause of death to the rank-3. In 2007 the national prevalence of CHD reached
7.2%. C-Reactive Protein (CRP) is known as acute phase inflammatory marker
and is associated with elevated levels of plasma due to tissue damage. Several
studies have shown an association between chronic periodontitis with increased
levels of CRP. Increased CRP was alone increases the risk of CHD. This study
looks at a sample of periodontitis patients showed a high risk of CHD. Allegations
have linked the effects of periodontal pathogens directly or indirectly lead to
infection, this mechanism activates inflammatory factors that CRP as a marker of
acute-phase response to infection will also increase."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2012
T31423
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yusuf Huningkor
"Latar Belakang: Kadar hsCRP berhubungan dengan mayor adverse cardiac events. Pada PJK stabil, hubungan antara kadar hsCRP dengan skor SYNTAX sebagai gambaran derajat aterosklerosis koroner belum jelas.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara kadar hsCRP dengan skor SYNTAX pada penderita PJK stabil, dan mengetahui titik-potong kadar hsCRP yang dapat membedakan antara kelompok skor SYNTAX rendah dengan yang tinggi.
Metode: Observasional potong-lintang pada consecutive 93 subjek penderita PJK stabil dewasa yang menjalani angiografi koroner di RSUPNCM pada bulan Mei sampai September 2018, untuk memperoleh skor SYNTAX. Diambil darah dari arteri perifer sebelum tindakan angiografi untuk pemeriksaan hsCRP dan laboratorium dasar. Dieksklusi penderita infeksi berat, trauma, PGK, sirosis hati, keganasan, pengobatan steroid. Selanjutnya data dikumpulkan dan dianalisis. Skor SYNTAX dikelompokkan tinggi bila > 27, dan rendah bila nilai < 27. Untuk menilai titikpotong kadar hsCRP dipakai uji Sperman karena distribusi data tidak normal.
Hasil: Ditemukan rerata umur 60,23 tahun (SB 8,984), IMT 26,30 Kg/m2 (SB 3,903), kol-LDL 117,74 mg/dL (SB 36,31). Kadar hsCRP dan skor SYNTAX tidak dipengaruhi oleh IMT atau kol-LDL (hsCRP-IMT: r:0,032; p:0,772; skor SYNTAX-IMT: r:-0,021; p:0,849; hsCRP-kol LDL: r:-0,149; p:0,266; skor SYNTAX-kol LDL: r:0,159; p:0,234). Ditemukan korelasi positif lemah hsCRP dengan skorSYNTAX (r:0,270; p:0,009) dan Titik-potong pada kadar hsCRP 2,35 mg/L (sensitifitas 0,69; spesifisitas 0,53). Nilai AUC 0,554, IK 95%, p: 0,472, merupakan diskriminasi yang kurang baik.
Simpulan: Pada penderita PJK stabil, kadar hsCRP berkorelasi positif lemah dengan skor SYNTAX sebagai gambaran derajat aterosklerosis. Kadar hsCRP dengan titik-potong > 2,35 mg/L dapat membedakan kelompok yang mempunyai skor SYNTAX rendah dengan kelompok skor SYNTAX tinggi, namun nilai prediksinya relatif rendah.

Background: High sensitivity C-reactive protein levels are associated with mayor adverse cardiac events. In stable CAD, the association of baseline hcCRP level with coronary atherosclerosis severity assessed by SYNTAX score were not clear.
Objective: To investigate the association between hsCRP level and SYNTAX score in patients with stable CAD, and to know cut-off point of hsCRP level which can differentiated between the group of low SYNTAX score and of high SYNTAX score.
Methods: Cross-sectional observation to the consecutive 93 subject adult patients of stable CAD, undergoing coronary angiography in Cipto Mangunkusumo General Hospital on May to September 2018 to obtain SYNTAX score. The blood tests were taking from pheripheral artery prior to carrying out of coronary angiography to obtain level of hsCRP and laboratory data base. The exclusion were severe infection, trauma, CKD, cirrhosis hepatis, malignancy, and steroid therapy. The SYNTAX score will be differentiated between the group of high if the value > 27, and the group of low if the value < 27. Sperman analysis will be used to evaluate hsCRP cut-off point.
Results: Average age was 60,23 year (SD 8,984), BMI 26,30 Kg/m2 (SD 3,903), and LDL-chol 117,74 (SD 36,31). The Level of hsCRP and SYNTAX score were not influenced by BMI or LDL-chol (hsCRP - BMI: r:0,032; p:0,772; SYNTAX score - BMI: r:-0,021; p:0,849; hsCRP- LDL-chol: r:-0,149; p:0,266; SYNTAX score - LDL-chol: r:0,159; p:0,234). We found positif corelation (weak) between hsCRP and SYNTAX Score (r:0,270; p:0,009). Cut-off point was found in the hsCRP level 2,35 mg/L (sensitivity 0,69; spesivisity 0,53). AUC 0,554, CI 95%, p: 0,472, were the poor discrimination.
Conclusions: There were positif (weak) correlation between hsCRP level and SYNTAX score in stable CAD patients. Cut-off point in the hsCRP level > 2,35 mg/L can differentiated between the group of low SYNTAX score and of high SYNTAX score, but the prediction value is low-grade.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Jeffrey Wirianta
"Penyakit jantung koroner (PIK) merupakan suatu proses inflamasi, beberapa petanda inflamasi dievaluasi sebagai prediktor risiko kejadian koroner. Salah satu petanda inflamasi sistemik yang diproduksi di hati yakni high sensitivity C-reactive protein (hsCRP).
Beberapa tahun terakhir ini banyak dilakukan penelitian tentang pengaruh radikal bebas dan peran antioksidan pada aterosklerosis dengan hasil yang bermakna walaupun masih diperdebatkan. Salah satu antioksidan yang memberikan harapan untuk mencegah aterosklerosis adalah teh hijau.
Tujuan Penelitian
Untuk membuktikan penurunan proses inflamasi sistemik pada pemberian teh hijau pada kelinci yang diberi diet aterogenik.
Metologi
Penelitian dilakukan pada 20 ekor kelinci New Zealand White jantan usia 4-5 bulan. Adaptasi dilakukan selama 4 minggu dan mendapat pakan standar (normal) yang mengandung 20.31% protein, 5,8% lemak, 40.03% karbohidrat dan 13.63%, selanjutnya dibagi menjadi 4 kelompok secara acak berdasarkan rasio kadar kolesterol total/HDL, yang masing-masing berjumlah 5 ekor yaitu: kelompok A diberi diet normal, kelompok B diberi diet normal ditambah teh hijau, kelompok C diberi diet aterogenik dan kelompok D diberi diet aterogenik ditambah teh hijau. Kadar hsCRP sebagai petanda inflamasi sistemik diperiksa pada minggu ke-12 dengan metode immunoturbidimetri. Analisa statistik dengan anova dan pengujian menggunakan uji pembandingan berpasangan (uji t).
Hasil
Kadar rerata hsCRP kelompok A 0.174+0.0948 mg/liter, rerata kelompok B 0.136+0.416 mg/liter, rerata kelompok C 0.350+0.1044 mg/liter dan rerata kelompok D 0.202+0.046 mg/liter. Pemberian teh hijau pada kelompok B tidak menurunkan kadar hsCRP secara bermakna dibanding kelompok A (0.038+0.084 mg/liter, p=0.185). Diet aterogenik pada kelompok C meningkatkan kadar hsCRP kelinci sebesar 0.176+0.1534 mg/liter, yang secara statistik berbeda bermakna dibanding kelompok A (p=4.0311). Penambahan teh hijau pada diet aterogenik pada kelompok D menurunkan kadar hsCRP sebesar 0.148+0.0608 mg/liter dan berbeda bermakna secara statistik dibanding kelompok C (p=0.03).
Kesimpulan
Teh hijau menurunkan kadar hsCRP sebagai petanda inflamasi-sistemik pada kelinci yang diberi diet aterogenik.

Background
Coronary artery disease is an inflammation disease and some inflammation markers have been evaluated as risk predictors for coronary events. One of the inflammation markers which are produced in liver is high sensitivity C-reactive protein (hsCRP). Recently, there are studies about free radicals and anti-oxidant effect in preventing atherosclerosis.
Methods
Twenty New Zealand White Rabbits, male, were given normal feeding for 4 weeks as an adaptation period. They were divided randomly into 4 groups, group A were given normal diet, group B were given normal diet and 6% green tea, group C were given atherogenic diet and group D were given atherogenic diet and 6% green tea. The hsCRP level and lipid profile were evaluated at the 12 week
Result
The mean of hsCRP level in group A is 0.174+0.0948 mg/liter, in group B is 0.136+0.416 mg/liter, in group C is 0.350± 0.1044 mg/liter and the mean of hsCRP level in group D is 0.202 + 0.046 mg/liter. Green tea in group B did not decrease the hsCRP level significantly compare to group A (0.038+0.084 mg/liter, p=4.185). Atherogenie diet in group C increased the hsCRP level 0.176±0.1534 mg/liter, which is significant compare to group A (p=0.0311). Six percent of green tea decreased the hsCRP level in group D 0.1480.0608 mg/liter and is significant compare to group C (1=0.03).
Conclusion
Green tea decreased the hsCRP level as inflammation marker in rabbits that were given atherogenic diet.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Effendi Rustan
"ABSTRAK
Tujuan:
Untuk mengetahui hubungan antara kadar kromium serum dengan kadar insulin, gula darah, HbAlc, profit lipid dan tingkat oklusi koroner pada penderita baru penyakit jantung koroner.
Tempat : Bagian Cath-Lab RS Jantung Harapan Kita.
Bahan dan Cara:
Penelitian dilakukan pada laki-laki di atas usia 35 tahun yang memenuhi kriteria dikumpulkan data mengenai sosio-ekonomi, keadaan kesehatan, gaya-hidup, aktivitas, IMT, asupan makanan, proporsi zat dan pemeriksaan tekanan darah, kadar kromium serum, insulin, gula darah, HbAlc, profil lipid dan tingkat oklusi koroner.
Karakteristik subyek disajikan secara deskriptif, sedangkan analisis dilakukan dengan uji statistik chi kuadrat, t, Mann Whitney, dan uji korelasi Spearman.
Hasil:
Dari 65 subyek penelitian yang diteliti, umur rata-rata 51.17 + 7.44 tahun, terbanyak (60 %) antara 40 - 55 tahun, 73.9% golongan ekonomi menengah atas, prevalensi DM 13.8%, Hipertensi 16.9%, Merokok 69.2%, olahraga 28%, Obese dan gemuk 52.3%, aktivitas ringan 100%. Asupan nutrisi secara kualitatif sesuai dengan anjuran diit Konsensus Nasional Pengelolaan Dislipidemia di Indonesia, secara kuantitatif subyek dengan tingkat oklusi > 50%, mempunyai asupan protein hewani dan kolesterol yang lebih besar secara bermakna (p<0,05) dibandingkan dengan subyek dengan tingkat oklusi < 50%, dan telah jauh di atas AKG. Nilai rata-rata kromium serum 8.08 ug/L. Nilai ini 431 lebih rendah dari nilai normal. Nilai insulin, gula darah puasa dan trigliserida masih berada dalam batas normal. Nilai HbAlc, LDL, HDL dan Total kolesterol berada dalam batas yang diwaspadai. Berdasarkan Triad Lipid 98.5% menderita Dislipidemia.
Berdasarkan tingkat oklusi koroner, didapatkan 44 orang subyek dengan tingkat oklusi >50%, dan 21 orang dengan tingkat oklusi <50% . Subyek dengan tingkat oklusi >50% mempunyai kadar LDL dan total kolesterol yang lebih besar secara bermakna. Kadar kroaium, insulin, gula puasa, HbAlc, trigliserida dan HDL kolesterol tidak berbeda secara bermakna. Pada tingkat oklusi koroner <50%, tidak ada korelasi yang bermakna antara kromium serum dengan faktor-faktor resiko. Pada tingkat oklusi koroner >50% ada korelasi yang bermakna kromium serum dengan gula puasa, trigliserida dan HDL kolesterol.
Kesimpulan:
Tidak ada hubungan antara kromium serum dengan kadar gula puasa, profil lipid dan tingkat oklusi koroner. Pada tingkat oklusi > 50% ada korelasi yang bermakna antara kroaium serum dengan gula puasa, trigliserida dan HDL kolesterol."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Lenggogeny
"Latar Belakang: Periodontitis merupakan faktor risiko terjadinya Penyakit Jantung Koroner (PJK). Interleukin-1β merupakan sitokin pro-inflamasi utama yang dapat ditemukan pada kedua penyakit ini.
Tujuan: Menganalisis hubungan kadar interleukin-1β dalam cairan sulkus gingiva (CSG) penderita PJK dan non PJK dengan status periodontal.
Metode: Pemeriksaan klinis 40 subjek PJK dan 40 subjek non PJK, pemeriksaan laboratorium kadar Interleukin-1β dengan ELISA.
Hasil : Tidak terdapat perbedaan bermakna Interleukin-1β antara penderita PJK dan non PJK (p>0,05); tidak terdapat perbedaan bermakna antara kadar Interleukin-1β dengan status periodontal penderita PJK dan non- PJK (p>0,05).
Kesimpulan: Kadar Interleukin-1β penderita PJK tidak memiliki hubungan dengan status periodontal.

Background: Periodontitis is a risk factor for coronary heart disease. Interleukin-1β as a pro-inflammatory main cytokine, can be found in this both diseases.
Objective: To analyze the relationship of interleukin-1β levels in CSG CHD and non-CHD patients with periodontal status.
Methods: Clinical Examination for 40 Subject CHD and 40 controls was checked, laboratory test for measured the levels of Interleukin-1β with ELISA.
Results: There were no significant differences between patients Interleukin-1β CHD and non-CHD (p>0.05); there is no significant difference between the levels of Interleukin-1β with periodontal status CHD and control patients (p>0.05).
Conclusions: Levels of Interleukin-1β of CHD patients do not have a relationships with periodontal status.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Kurniawan Iskandarsyah
"Latar Belakang
Proses inflamasi memegang peranan terhadap patofisiologis sindroma koroner akut (SKA). High sensitivity C-reactive protein (hs-CRP) sebagai salah satu petanda inflamasi sistemik yang diproduksi hati merupakan prediktor kuat kejadian kardiovaskuler pada pasien-pasien SKA. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa setengah dart pasien SKA yang dipulangkan mempunyai kadar hs-CRP dalam katagori resiko tinggi. Aktifitas fisik yang teratur dan terukur terbukti menurunkan kadar hs-CRP pada pasien-pasien pasca SKA.
Tujuan Penelitian
Membuktikan bahwa latihan fisik jangka pendek secara teratur dan terukur yang dijalani oleh pasien-pasien pasca infark miokard akut menurunkan kadar hs-CRP yang berbeda dibandingkan dengan yang tidak latihan .
Metodolagi
Penelitian prospektif berupa randomized controlled trial terhadap 32 pasien IMA yang dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Dilakukan latihan teratur dan terukur dengan intensitas rendah selama 5 had pada kelompok perlakuan dengan mengukur dan membandingkan kadar hs-CRP sebelum dan sesudah latihan pada kedua kelompok.
Hasil
Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan kadar median hs-CRP sebelum latihan antara kelompok perlakuan dan kontrol (p=0.13). Terjadi penurunan kadar median hs-CRP yang bermakna antara sebelum dan sesudah latihan pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol (p 3.0004 vs peJ.038).Tidak terdapat perbedaan kadar median hs-CRP sesudah latihan antara kelompok perlakuan dan kontrol (-0.09).Tidak terdapat perbedaan selisih penurunan kadar median hs-CRP antara kelompok perlakuan dan kontrol (p=0.38).
Kesimpulan
Tidak terdapat perbedaan besar penurunan kadar hs-CRP pada pasien - pasien pasca infark miokard akut yang menjalani latihan fisik jangka pendek secara teratur dan terukur dibandingkan dengan yang tidak latihan."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T58456
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Resti Dwi Hasriani
"Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyebab utama kematian pada kelompok kardiovaskular. Obesitas dapat meningkatkan risiko seseorang terhadap progresivitas dari prediabetes menjadi DM tipe 2 dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Kondisi prediabetes dengan obesitas meningkatkan risiko kejadian PJK berdasarkan Cardiometabolic Disease Staging (CMDS). Penelitian ini menggunakan desain studi kohor retrospektif dengan data sekunder studi kohor faktor risiko PTM tahun 2011-2018. Sampel adalah 493 penduduk penduduk dewasa yang obesitas yang menjadi responden Studi Kohor Faktor Risiko PTM, serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil analisis multivariat menggunakan cox regression setelah dikontrol dengan usia dan durasi obesitas menemukan bahwa prediabetes memiliki nilai HR=0,80 (95%CI:0,462-1,387), p=0,429, yang berarti hubungan prediabetes dengan kejadian PJK pada penduduk dewasa yang obesitas tidak bermakna secara statistik.

Coronary Heart Disease (CHD) is a leading cause of death in the cardiovascular group. Obesity could increase a person's risk of progression from prediabetes to type 2 DM and increase the risk of cardiovascular disease. Prediabetes with obesity increases the risk of CHD events based on Cardiometabolic Disease Staging (CMDS). This study was used a retrospective cohort study design using secondary data on NCD Risk Factor Cohort Study in 2011-2018. The sample was 493 obese adult respondents in population of NCD Risk Factor Cohort Study whom met this study inclusion and exclusion criteria. The results of multivariate analysis using cox regression after being controlled by age and duration of obesity found that prediabetes had HR = 0.80 (95% CI: 0.462-1.387), p = 0.429 which means the relationship between prediabetes with CHD events in obese adult respondents was not statistically significant."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Verawati
"Latar belakang : CT jantung merupakan modalitas screening pada pasien resiko tinggi penyakit kardiovaskular. Fungsi diastolik ventrikel kiri kurang umum dinilai dibandingkan fungsi kontraksi sistolik ventrikel kiri (ejection fraction, EF). Pasien gagal jantung menunjukkan nilai EF yang baik meskipun pada kondisi stenosis arteri koronaria berat. Mortalitas gagal jantung sama besarnya pada pasien dengan nilai EF normal dan EF menurun, sehingga penilaian dini disfungsi diastolik menjadi hal penting untuk strategi pengobatan yang tepat. Lemak perikardial merupakan faktor prediktor bebas disfungsi diastolik. Penilaian volume lemak perikardial mudah dilakukan, tidak memberikan radiasi dan biaya tambahan, namun tidak rutin dilakukan pada pemeriksaan CT toraks. Penelitian ini melihat hubungan volume lemak perikardial dengan derajat disfungsi diastolik melalui pemeriksaan CT jantung.
Tujuan : Meningkatkan manfaat CT toraks dalam menilai volume lemak perikardial sebagai faktor prediktor disfungsi diastolik.
Metode : Comparative cross-sectional dengan menggunakan data sekunder dari 82 pasien penyakit jantung koroner yang menjalani pemeriksaan DSCT jantung.
Hasil : Terdapat hubungan positif antara volume lemak perikardial dengan disfungsi diastolik derajat sedang pada pasien penyakit jantung koroner yang menjalani DSCT jantung. Titik potong volume lemak perikardial pada disfungsi diastolik derajat berat adalah 220.26cm3, dengan nilai sensitivitas 81.8% dan spesifisitas 74,1%.
Kesimpulan: Volume lemak perikardial dapat digunakan untuk menentukan disfungsi diastolik derajat sedang, dan dapat dipakai sebagai suatu acuan deteksi dini.

Background: Cardiac CT is a modality used for screening patients with high risk of cardiovascular disease by assessing left ventricular systolic contraction function (ejection fraction, EF). It’s still uncommon to assess left ventricular diastolic function. Patients with heart failure showed good EF value despite the severity of coronary artery stenosis. Early assessment of diastolic dysfunction become essential for treatment strategies since there’s equal mortality rate in heart failure patients with normal or decrease EF. Pericardial fat is an independent predictor factor of diastolic dysfunction. Eventhough pericardial fat volume easily assessed and there’s no additional radiation and cost, it still not routinely done in thoracic CT examination. This study looked at the relationship of pericardial fat volume with a degree of diastolic dysfunction through cardiac CT examination.
Purpose: Increase the benefits of thoracic CT to assess pericardial fat volume as a predictor factor of diastolic dysfunction.
Method : Comparativecross-sectional study using secondary data from 82 patients with coronary artery disease who underwent cardiac DSCT.
Result : There is a positive relationship between pericardial fat volume with moderate degree of diastolic dysfunction in patients with coronary artery disease who underwent cardiac DSCT. A cut off value of220.26cm3, determined a sensitivity 81.8% and specivicity 74,1% to detect moderate diastolic dysfunction.
Conclusion: Pericardial fat volume can be used to determine moderate diastolic dysfunction and can be used as a reference for the early detection.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Purwo Setiyo Nugroho
"ABSTRAK
Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi yang berakibat munculnya penyakit lainnya. Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit terbesar pada penderita diabetes mellitus. Penyakit jantung koroner merupakan penyakit kardiovaskuler terbanyak dibandingkan penyakit kardiovaskuler lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan diabetes mellitus dengan penyakit jantung koroner pada studi data Baseline Kohor PTM Kementrian Kesehatan. Analisis yang digunakan adalah Cox Regression yang mengestimasi nilai Prevalens Ratio. Hasil analisis multivariat dengan menggunakan analisis cox regression mengungkapkan bahwa orang yang menderita diabetes melitus memiliki prevalens rasio sebesar 1,094 kali p value 0,929 CI 95 0,149 ndash; 8,026 dibanding responden yang tidak menderita diabetes melitus. Namun, hasil analisis ini menunjukkan bahwa hubungan diabetes melitus terhadap penyakit jantung koroner tidak signifikan dengan mempertimbangkan nilai p value > 0,05 dan 95 Confidence Interval yang rentangnya melewati angka 1. Dalam peneltian ini minim terjadinya bias seleksi karena tidak missing data pada sampel eligible sebanyak 1937 responden. Begitu pula minim terjadinya bias informasi karena pengukuran variabel penelitian menggunakan alat ukur yang baku. Namun penelitian ini memiliki kelemahan dalam temporality sehingga hasil penelitian tidak dapat di justifikasi bahwa diabetes mellitus merupakan penyebab penyakit jantung koroner. Serta nilai asosiasi prevalence ratio bukan merupakan nilai risiko yang sebenarnya.

ABSTRACT
Diabetes mellitus is a disease that can cause complications that lead to the emergence of other diseases. Cardiovascular disease is the biggest disease in patients with diabetes mellitus. This study aims to determine the relationship of diabetes mellitus and coronary heart disease in the Baseline Data Non Communicable Disease Cohort Study. The analysis is the Cox Regression estimate the Prevalence Ratio. Multivariate analysis using Cox regression analysis revealed that people suffering from diabetes mellitus have a prevalence ratio of 1.094 times p value 0.929 95 CI 0.149 to 8.026 than respondents who do not have diabetes mellitus. However, the results of this analysis showed that the association of diabetes mellitus against coronary heart disease is not significant considering p value "
2017
T48901
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nainggolan, Regine Martauli
"Penyakit jantung koroner merupakan penyakit degeneratif yang masih menjadi permasalahan kesehatan di dunia. Salah satu faktor penyakit jantung koroner ini adalah obesitas sentral. Persentase status obesitas sentral ini mengalami kenaikan dari tahun 2007 sampai 2013. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan obesitas sentral terhadap penyakit jantung koroner.
Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dan menggunakan data Riskesdas 2013. Sampel penelitian ini adalah semua penduduk yang berusia 45 tahun ke atas yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi penyakit jantung koroner adalah 1,2 dan terdapat hubungan antara status obesitas sentral terhadap penyakit jantung koroner pada usia 45 tahun ke atas di Indonesia tahun 2013 setelah dikontrol oleh variabel konfounding. Faktor yang menjadi konfounding adalah penyakit diabetes, hipertensi, dan perilaku merokok. Selain itu, terdapat interaksi oleh variabel konfounding terhadap obesitas sentral yaitu diabetes dan merokok. Oleh karena itu,diperlukan promosi kesehatan mulai dari promosi kesehatan penyakit jantung koroner baik pencegahan primer maupun pencegahan sekunder.

Coronary heart disease is a degenerative disease that remains a health problem in the world. One of the factors of coronary heart disease are central obesity. The percentage of central obesity status is increased from 2007 to 2013. This study was conducted to examine the relationship of central obesity to coronary heart disease.
The study design used is cross sectional and use data Riskesdas 2013. Samples were all residents aged 45 years and over who meet the inclusion and exclusion criteria.
The results of this study indicate that the prevalence of coronary heart disease was 1.2 and there is corelation between central obesity status of coronary heart disease at the age of 45 years and over in Indonesia in 2013 after being controlled by confounding variables. Confounding factors that are diabetes, hypertension, and smoking behavior. In addition, there is an interaction by confounding variables to central obesity, namely diabetes and smoking. Therefore, required health promotion ranging from coronary heart disease health promotion both primary prevention and secondary prevention."
Depok: Universitas Indonesia, 2016
S64508
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>