Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 109363 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Maria Yustina Dwiyuana
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1975
S16361
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2001
S9295
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Miriam Widiati Muljana
"PT Matahari Putra Prima adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang usaha dagang eceran dengan sasaran anggota keluarga golongan ekonomi menengah, tinggal di daerah perkotaan, merupakan orang-orang yang praktis, tertarik pada mode namun tetap ingin menghemat. Struktur pasar yang dihadapi adalah struktur pasar monopolis (monopolistic competition), dimana Matahari merupakan usaha eceran lokal yang memimpin pasar. Dengan demikian Matahari sudah berada pada tingkat 'brand awareness' yang tinggi sehingga yang perlu dilakukan adalah melakukan kegiatan promosi yang bersifat mengingatkan dan meningkatkan image perusahaan. Kegiatan promosi menggunakan peralatan bauran pemasaran yang meliputi: Periklanan, yang digunakan adalah "informative advertising" dan "persuasive advertising"; Promosi penjualan, dengan special sales event dan store display; Penjualan pribadi, yang dimaksud adalah peran dari pramuniaga yang sangat mempengaruhi performa jangka pendek Matahari; Humas, ditujukan untuk meningkatkan citra perusahaan dan mengingatkan masyarakat akan keberadaan Matahari. Evaluasi efektivitas strategi promosi dilakukan dengan melihat tanggapan konsumen terhadap program promosi dan melihat pengaruh program promosi terhadap penjualan, yang keduanya dilakukan dengan menggunakan variabel media, sasaran kegiatan promosi dan jenis kegiatan promosi yang dilakukan. Dari hasil evaluasi dapat dilihat bahwa media yang paling berpengaruh positif terhadap penjualan adalah radio, kemudian diikuti oleh surat khabar, sedangkan untuk sasaran promosi yang paling berpengaruh positif adalah penjualan keperluan anak, lalu didikuti oleh keperluan wanita dan yang terakhir adalah keperluan keluarga/umum. Untuk jenis kegiatan promosi, yang pengaruhnya paling positif terhadap penjualan adalah demo, kemudian sale, diikuti oleh kontes, dan yang paling terakhir adalah pemberian hadiah. Karena metode penetapan anggaran promosi yang digunakan Matahari pada saat ini berdasarkan presentasi penjualan bersifat statis, ada baiknya jika dipertimbangkan penggunaan metode anggaran marginal (objective-task method) yang memperhitungkan bagaimana tanggapan dinamis terhadap berbagai tingkat dan bauran promosi yang berbeda."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1994
S18797
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2002
S10645
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sutanto D. Gunawan
"Industri pharmasi adalah industri obat yang memproduksi obat obatan melalui pengolah secara kimia. Pengertian ini penting disebutkan karena untuk membedakannya dari industri obat tradisional yang lebih dikenal dengan industri jamu. Kalau industri jamu telah dikenal hampir seabad lalu tetapi kalau industri pharmasi masih relatip baru untuk Indonesia. Sejak Pemerintah mengundanga uu No 1/67 tentang penanaman modal asing, mulailah industri pharmasi asing menanamkan modalnya dalam bidang ini. Sampai dengan tahun 1990 tercatat sejumlah 40 buah pabrik pharmasi asing/joint ventures (PMA) yang beroperasi di Indonesia. Peluang untuk berusaha dibidang pharmasi juga tidak disia siakan para pemilik modal dalam negeri, lebih lebih setelah adanya UU PMDN sehingga bermunculanlah pabrik pabrik pharmasi dalam negeri (PMDN). Jumlah pabrik PMA dan PMDN akhirnya mencapai 285 buah.
Dengan makin banyaknya pabrik pharmasi maka persairigan untuk mendapatkan pangsa pasar menjadi semakin sengit. Hal ini disebabkan pertumbuhan daya beli masyarakat tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah pabrik obat. PT Dumex Indonesia (PTDI) yang diamati dalam karya akhir ini adalah salah satu perusahaan pharmasi yang pertama kali menanamkan modalnya sejak UU No 1/67 diundangkan sehingga menjadi perusahaan pharmasi asing tertua di Indonesia. Perusahaan ini pernah mencapai rekor sebagai perusahaan nomor satu dalam jumlah penjualan di Indonesia ditahun 1974.
Departemen Kesehatan dalam hal ini diwakili oleh Direktorat jendral Pengawasan Obat dan Makanan (Dirjen POM) sejak akhir tahun 70an mulai melaksanakan kebijaksanaan dimana untuk PMA menjadi sulit untuk membuat obat baru. Karena obat baru yang formulasinya sederhana adalah untuk perusahaan PMDN. Hal ini menyebabkan tidak adanya produk baru yang dapat diperkenalkan untuk nienggantikan produk yang telah habis daur hidupnya. untuk menghadapi hal tersebut dìataslah perusahaan dituntut untuk dapat bertahan dengan menerapkan strategi yang tepat supaya perusahaan tidak sampai merugi karena tidak tercapainya jumlah penjualan yang diperlukan.
Dengan keadaan dimana pangsa pasar PTDI terus merosot dan kedudukan nomor satu pada tahun 1974 menjadi nomor dua puluh lima saat ini perlu diterangkan apa yang telah dilakukan PTDI selama ini. Sasaran yang dikejar adalah keuntungan jangka pendek. Dengan sasaran ini berarti bahwa apabila target penjualan tidak tercapai mengakibatkan target pendapatan yang telah direncanakanpun tidak akan tercapai, pimpinan memutuskan untuk mengurangi biaya promosi. Padahal dalam keadaan penjualan yang tidak menggembira kan justru promosi perlu lebih ditingkatkan, apabila perusahaan berpikiran untuk meraih pangsa pasar jangka panjang.
Kecenderungan untuk meraih keuntungan jangka pendek telah berjalan agak lama disebabkan tekanan dan kantor pusat, hal ini menyebabkan terbatasnya biaya promosi dan berakibat alat promosi yang berupa hadiah (gimmick) yang dibagikan kepada para dokter bermutu rendah. Dengan hadiah yang bermutu rendah dikhawatirkan para dokter menganggap mutu produk PTDI pun rendah. Sedangkan Strategi yang seharusnya diterapkan PTDI adalah differensiasi.
Telah pula dilakukan differerisiasi produk dengan memasuki bidang makanan untuk bayi (susu bayi) dan hal ini kembali terbentur pada sasaran keuntungan jangka pendek tersebut dimana produk baru ini tidak memperoleh persetujuan dalam mendapatkan jatah promosi yang layak. Akibatnya sulit melawan persaingan di pasar sehingga pangsa pasar produk ini juga terus menurun.
Dapat disimpulkan bahwa: (1) PTDI tidak menerapkan strategi generik sesuai teori Porter dengan differensiasi melalui mutu yang tinggi secara konsisten. (2) PTDI menghadapi kendala dalam mendapatkan ijin memasarkan obat baru. (3) Untuk menghindari kerugian PTDI terjebak dalam keadaan meraih keuntungan jangka pendek. Untuk mengatasi hal yang telah disimpulkan, disarankan agar PTDI perlu melaksanakan perencanaan strategi secara resmi agar semua bagian mengetahui strategi apa yang dianut. Merubah status PMA menjadi PMDN dengan menjual sahamnya kepada investor dalam negeri sehingga menghilangkan kendala untuk memasarkan produk baru. Secara sungguh sungguh menerapkan sasaran jangka panjang dengan tujuan merebut kembali pangsa pasar dibandingkan dengan sasaran keuntungan jangka pendek."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1992
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Ede Surya Damarwan
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2024
PGB-pdf
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1985
S17177
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>