Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 93844 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yulia Prihartini
"Makin bertambahnya dan meningkatnya pertambahan penduduk dan diikuti dengan kemajuan dibidang teknologi dan industri, secara tidak langsung polusi lingkunganpun meningkat. Gas dari asap kendaraan, polusi pabrik-pabrik industri dan terutama pola hidup yang tidak sehat, merokok di sembarang tempat semakin menambah tingkat polusi yang mengancam kesehatan, terutama penyakit-penyakit saluran napas, baik saluran npas atas ataupun saluran napas bawah, seperti TBC, pharingitis, pneumothorax, empisema, asma, bronchitis dan penyakil paru lainnya.
Penyakit paru sangat herbahaya dan mengancam kehidupan apabila tidak segera ditangani. Salah satu penyakil paru yang sering terjadi adalah pneumothorax , yaitu bila udara masuk ke area pleural antara pleural viseral dan parietal, bila terjadi tegangan pneumothorax, sobekan pada bronkhus paru alau dinding dada bekerja sebagai katup yang memungkinkan udara masuk ke area pleural pada inspirasi. Bila ini tidak diketahui dengan cepat dan diterapi, atelektasis dapat terjadi juga dapat menyebabkan kematian.
Pengaturan posisi pada pasien yang terpasang selang dada, membantu meningkatkan drainase dan juga mencegah deformitas dan komraktur.
Ketepatan posisi membantu pemapassan dan meningkatkan sirkulasi napas. Penanganan nyeri diperlukan untuk kenyamanan dan menarik napas dalam (Brunner & Suddart’s, 1996 hal.570). Posisi ideal untuk pasien yang terpasang selang dada (WSD) adalah posisi semi Fowler (Hudak’s & Gallo, 1997). Dari hasil penelitan ini memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan antara pengaturan posisi semi fowler terhadap penunman rasa nyeri pada klien yang terpasang selang dada (WSD). Hal ini sesuai dengan teori dari Brunner dan Suddarth yang mengatakan bahwa ketepatan pengaturan posisi diperlukan untuk kenyamanan, pengurangan rasa nyeri dan menarik napas dalam."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
TA5275
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dipdo Petrus Widjaya
"Latar Belakang : Pneumotoraks merupakan kasus kegawat daruratan yang harus ditatalaksana segera. Penilaian berbagai penyakit paru dan faktor-faktor penyebab secara tepat sangat penting diketahui sebagai panduan dalam kerjasama antardisiplin ilmu dan untuk meningkatkan penatalaksanaan pneumotoraks secara menyeluruh. Faktor risiko yang mempengaruhi kesintasan pasien pneumotoraks adalah usia dan infeksi HIV, namun data di Indonesia masih belum ada.
Tujuan : Untuk mengetahui karakteristik pasien pneumotoraks dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesintasannya selama perawatan di RSCM.
Metode : Penelitian desain kohort retrospektif, dilakukan terhadap pasien pneumotoraks yang dirawat inap di RSCM pada kurun waktu Januari 2000 sampai Desember 2011. Kesintasan kumulatif selama 8 hari perawatan dan faktor yang mempengaruhi dianalisis secara bivariat dengan metode Kaplan Meier dan uji Log-rank serta analisis multivariat dengan Cox proportional hazard regression model untuk menghitung hazard ratio (HR) dan interval kepercayaan 95%.
Hasil : Seratus empat pasien pneumotoraks yang memenuhi kriteria penelitian ditemukan lebih banyak pada laki-laki 78(73,1%) dengan rerata usia 39,7(simpang baku[SB],16,2) tahun. Keluhan respirasi terbanyak berupa sesak napas 103(99%) dan kelainan pada pemeriksaan fisik hipersonor 101(97,1%). Foto polos toraks menunjukkan hiperlusen avaskular 95(91,4%). Faktor penyebab kejadian yang didapatkan adalah merokok 43(41,3%), pneumonia 42(40,3%), tuberkulosis 37(35,5%), trauma dada 13(12,5%), kejadian iatrogenik 6(5,7%), keganasan paru 6(5,7%), PPOK 5(4,8%), asma bronkiale 5(4,8%) dan artritis reumatoid 1(1%). Jenis pneumotoraks terbanyak adalah pneumotoraks spontan sekunder 49(47,1%). Tatalaksana sebagian besar dengan pemasangan WSD 98(94,2%). Keluaran pasien pneumotoraks hidup 69(66,3%), meninggal 35(33,7%). Penyebab kematian terbanyak pada pasien pneumotoraks saat perawatan adalah gagal napas 16(45,8%). Faktor-faktor yang memperburuk kesintasan pasien pneumotoraks adalah trauma dada (HR=3,49 (IK 95% 1,52;8,04)) dan tuberkulosis paru (HR=3,33 (IK 95% 1,39;7,99)).
Kesimpulan : Adanya tuberkulosis paru dan trauma dada memperburuk kesintasan pasien pneumotoraks selama perawatan di RSCM.

Background : Pneumothorax is an emergency case should be managed immediately. Assessment of lung diseases and the factors that cause pneumothorax is very important to know the proper guidelines in cooperation an interdisciplinary medical science and to improve the overall management of pneumothorax. Risk factors affecting the survival rate of pneumothorax patients are age and HIV infection, but there is no data in Indonesia.
Objective : The purpose of this study was to determine the characteristics of pneumothorax patients and factors affecting survival during hospitalization in RSCM.
Methods : Retrospective cohort study design conducted on pneumothorax patients who were admitted in RSCM in the period January 2000 to December 2011. Cumulative survival rate for 8 days of hospitalization and the factors affecting analyzed by bivariate with Kaplan Meier method and log-rank test and multivariate analysis by cox proportional hazard regression model to calculate hazard ratio (HR) and 95% confidence intervals.
Results : A total of 104 pneumothorax patients were reviewed. Their mean age was 39.7 years (SD ± 16.2 years) with a male to female ratio of 3:1. Commonest symtoms was shortness of breath 103(99%) and abnormalities on physical examination was hypersonor 101(97.1%). Plain chest X-ray showed hyperlucent avascular 95(91.4%).
Etiologic factors for the incidence of secondary pneumothorax were smoking 43(41.3%), pneumonia 42(40.3%), tuberculosis 37(35.5%), chest trauma 13(12.5%), iatrogenic 6(5.7%), lung malignancy 6(5.7%), COPD 5(4.8%), asthma 5(4.8%) and rheumatoid arthritis 1(1%). Commonest type of pneumothorax was secondary spontaneous pneumothorax 49(47.1%). Most of pneumothorax patients were successfully managed by chest thoracoscopy 98(94.2%). Outcome of pneumothorax patients were live 69(66.3%), died 35(33.7%). Causes of death in pneumothorax patients was respiratory failure 16(45.8%). Factors that worsen the survival rate of pneumothorax patients were chest trauma (HR = 3.49 (95% CI 1.52 to 8.04)) and pulmonary tuberculosis (HR = 3.33 (95% CI 1.39 to 7.99 )).
Conclusions : Factors that worsen the survival rate of pneumothorax patients were pulmonary tuberculosis and chest trauma that hospitalized in RSCM.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Pneumotoraks spontan sekunder dari karsinoma paru terjadi sangat jarang (0,05% dari seluruh pneumotoraks). Kami melaporkan sebuah kasus dari pria berusia 66 tahun dengan pneumotoraks spontan persisten sebelah kanan, yang pada mulanya dicurigai sekunder dari emfisema bulosa. Penemuan intraoperasi berupa bula di bagian apeks dengan karnifikasi non-spesifik pada bagian dasar dan sebuah bula pada lobus inferior. Secara mengejutkan, pemeriksaan histologi
menampakkan karsinoma bukan sel kecil yang tidak terdefinisi. Meskipun pneumotoraks spontan yang berhubungan dengan karsinoma paru jarang terjadi, kecurigaan keganasan perlu ditingkatkan pada pasien di atas 40 tahun dengan pneumotoraks spontan, khususnya pasien risiko tinggi seperti perokok atau pasien dengan bronkitis kronik atau emfisema.

Abstract
Spontaneous pneumothorax secondary to lung carcinoma is very rare (0.05% of all pneumothoraces). We report a case of a 66-year-old male with persistent right-sided spontaneous pneumothorax, initially suspected as secondary to bullous emphysema. Intraoperative findings consisted of an apical bulla with a nonspecific carnification at its base and a bulla at the lower lobe. Surprisingly, histological examination revealed an undefined non-small cell carcinoma. Although spontaneous pneumothorax associated with lung carcinoma is rare, suspicion for malignancy should be raised in patients over 40 presenting with spontaneous pneumothorax, especially in high risk patients such as smokers or patients with chronic bronchitis or emphysema."
[Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Vascular and Thoracic Surgery Department, Ernst von Bergmann Clinic, Potsdam, Germany], 2013
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Amri Husna
"ABSTRAK
Pengalaman nyeri saat dilakukan pelepasan selang dada banyak dikeluhkan oleh pasien yang terpasang Water Sealed Drinage WSD . Keefektifan terapi farmakologi dalam mengurangi nyeri saat pelepasan selang dada dapat menimbulkan perbaikan, namun penggunaan terapi non-farmokologi merupakan tanggung jawab perawat dan diperlukan untuk mengurangi penggunaan analgesik yang berlebihan pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh kompres dingin dan inhalasi minyak lavender dalam mengurangi nyeri saat pelepasan selang dada. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain quasi eksperimen menggunakan pendekatan post-test only non equivalent control group. Penelitian dilakukan di RSUP Persahabatan, RSUP Fatmawati, RS Paru Provinsi Jawa Barat, RSUD Gunung Jati dan RSUD Waled. Teknik pengambilan sampel menggunakan concecutive sampling dan didapatkan 26 responden. Pengukuran nyeri menggunakan skala nyeri Present Pain Intensity dari Short-Form McGill Pain Questionnaire SF-MPQ . Hasil uji Mann Whitney menunjukkan ada pengaruh yang signifikan terhadap penurunan nyeri saat pelepasan selang dada dengan p value yaitu 0,010 p

ABSTRACT
The experience of pain during chest tube removal was much complained by the patient who installed Water Sealed Drinage WSD . The effectiveness of pharmacological therapy in reducing pain during chest tube removal can lead to improvement, but the use of non pharmacological therapy is the responsibility of the nurse and is needed to reduce the excessive use of analgesic in the patient. This research aimed to identify the effect of the cold compression and the inhalation of lavender oil on the pain reduction. This research was performed quantitatively using the quasi experimental design with post test only non equivalent control group in RSUP Persahabatan, RSUP Fatmawati, RS Paru Provinsi Jawa Barat, RSUD Gunung Jati and RSUD Waled. The sampling technique used consecutive sampling from 26 respondents. Measurement of pain using pain scale Present Pain Intensity of Short Form McGill Pain Questionnaire SF MPQ . The results used Mann Whitney test showed that there are significant effects on the pain reduction during the removal of the chest tube with the p value of 0.010 p"
Depok: 2018
T49541
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Raditya Krishnamurti
"Penjejakan (tracking) terhadap lintasan satelit dapat dilakukan dengan mengamati lintasan satelit tersebut yang diproyeksikan ke permukaan bumi. Untuk itu diperlukan 5 parameter, yaitu eksentrisitas, ketinggian satelit/apogee, inklinasi, letak ascending node dan argument of perigee. Masing - masing parameter akan menentukan bentuk proyeksi lintasan satelit dan area cakupan maksimumnya. Bentuk orbit yang akan diamati adalah semua bentuk elips dalam berbagai posisi, termasuk orbit lingkaran sebagai kasus khusus dari orbit elips dengan eksentrisitas 0. Ketinggian yang diamati mulai dari satelit LEO, GEO, sampai yang lebih tinggi dari GEO. Dengan mengetahui proyeksi lintasan satelit dan penjejakannya maka dapat diperkirakan posisi satelit setiap saat di sepanjang orbitnya dan dapat diperhitungkan keuntungan dan kerugian yang dimiliki satelit jikaberada pada ketinggian dan posisi tertentu."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1997
S38887
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ambulagan
"Artikel ini akan mencoba membahas pemecahan masalah penjadwal kuliah dengan pendekatan ilmu Intelegensia Semu (Artificial Intelligence), yakni dengan menggunakan Constrain Satisfaction Problem. Penulis telah merancang dan menguji sebuah teknik baru pencarian solusi dengan intelligent search yang dikombinasikan dengan algoritma Smart Backtracking.
Algoritma yang kami kembangkan ini telah dicoba dengan sejumlah studi kasus berskala kecil (7 dosen 7 matakuliah 23 kelas 2 ruang 35 jam perkulaiahan tiap minggu dan lebih dari 1380 mahasiswa) dan menghasilkan output yang diinginkan dalam waktu yang sangat singkat.
Percobaan dengan real data (1198 dosen, 1457 matakuliah, 2311 kelas, 122 ruang, 40 jam perkuliahan tiap minggu dan lebih dari 20000 mahasiswa) telah menghasilkan solusi yang baik meskipun tidak dapat mencapai solusi 100% lengkap. Sejumlah constraint terutama yang berkaitan dengan dosesn dan mahasiswa kelas paket seringkali sulit dipenuhi karena adanya sejumlah kelas yang merupakan gabungan beberapa paker (dapat mencapai 12)"
2002
JIKT-2-1-Mei2002-34
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Pradina Rachmadini
"Proyek ini bertujuan untuk menentukan peringkat tahan api dari dinding baja ringan di bawah kondisi api menggunakan aplikasi kecerdasan buatan. Dua bagian bagian saluran yang diberi lipatan (LCS) dan bagian saluran berongga flange (HFC) grade 500 dan kelas 250 disajikan dalam penelitian ini. LCS adalah jenis konvensional yang digunakan dalam bingkai baja ringan, sementara HFC memperkenalkan memiliki kinerja api yang unggul. Baru-baru ini pemodelan elemen hingga dan uji skala penuh telah digunakan untuk menentukan kinerja api dinding LSF. Meskipun demikian, pemodelan elemen hingga ditemukan memiliki prosedur yang rumit, dan uji skala penuh adalah eksperimen yang memakan waktu. Oleh karena itu, opsi alternatif sebagai pembelajaran mesin diperlukan untuk mengatasi situasi ini. Pendekatan jaringan saraf pembelajaran mesin akan diadopsi untuk melatih data. Masukan akan menjadi data aktual dari FEA dan proyek uji penuh skala sebelumnya. Temperatur dan suhu flensa dan flensa dingin seksi dari suatu bagian diperoleh sebagai input. Kapasitas pengurangan rasio bertindak sebagai output yang akan diprediksi dalam pembelajaran yang diawasi. Pelatihan dan uji coba dilakukan melalui jaringan saraf tiruan dengan menggabungkan parameter yang berbeda seperti fungsi kehilangan, menjaga faktor probabilitas, tingkat pembelajaran, jumlah lapisan, dan neuron. Rasio pengurangan kapasitas yang diperoleh dari pelatihan mesin dapat diplot dan dibandingkan keakuratannya dengan hasil FEA sebelumnya.

This project aims to determine fire resistance rating of Light Gauge Steel Frame (LSF) walls under fire condition using artificial intelligence application. Two section of lipped channel section (LCS) and hollow flange channel section (HFC) grade 500 and grade 250 is presented in this research. LCS is a conventional section used in LSF framing, while HFC introduced having superior fire performance. Recently finite element modelling and a full-scale test have been employed to determine fire performance of LSF walls. Nonetheless, finite element modelling was found to have a complicated procedure, and the full-scale test was a time-consuming experiment. Therefore, an alternative option as machine learning is necessary to overcome this situation. A neural network approach of machine learning will be adopted to train the data. The input would be the actual data from FEA and full-scale test previous project. Hot flange and cold flange temperature and dimension of a section are obtained as the input. Capacity reduction ratio act as an output that will be predicted in supervised learning. Training and testing trialare done through the artificial neural network by combining different parameters such as loss function, keep probability factor, learning rate, the number of layers, and neurons. Capacity reduction ratio attained from machine training can be plotted and compared its accuracy with previous FEA results."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tambunan, Nicholas
"ABSTRAK
Nama : Nicholas TambunanProgram Studi : UrologiJudul : Perbandingan Hasil Luaran antara Pneumoperitoneum TekananRendah dengan Tekanan Standar pada Laparoscopic Living Donor Nephrectomy Saat ini, transplantasi ginjal dilakukan melalui prosedur Laparoscopic Living Donor Nephrectomy LLDN dengan cara memasukkan gas CO2 ke dalam ruang intraperitoneum menggunakan tekanan standar 12-15 mmHg . Namun, dikatakan juga bahwa dengan tekanan rendah 8-10 mmHg dapat berkaitan dengan nyeri pasca operasi dan efek samping yang lebih rendah. Ini merupakan studi perbandingan prospektif yang dilakukan di Departemen Urologi, Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo mulai bulan November 2015 sampai Agustus 2016. Seluruh subjek menjalani prosedur LLDN. Pada periode ini, subjek menerima prosedur pneumoperitoneum tekanan rendah. Kelompok ini kemudian dibandingkan secara acak dengan kelompok prosedur pneumoperitoneum tekanan standar yang menjalani prosedur LLDN sebelumnya. Dari 85 subjek yang menjalani LLDN dengan tekanan rendah dan standar masing-masing adalah 41 dan 44. Meskipun tidak ada perbedaan signifikan dari nyeri pasca operasi, efek samping pada tekanan rendah lebih rendah daripada tekanan standar p = 0,033 untuk nyeri epigastrik, p = 0,024 untuk mual, dan p = 0,018 untuk muntah . Namun, durante operasi, 22 subjek dengan tekanan rendah perlu mendapatkan konversi gas menjadi tekanan standar. Berdasarkan analisis, penyebab konversi adalah Indeks Massa Tubuh IMT pasien donor yang tinggi p

ABSTRACT
Name Nicholas TambunanStudy Program UrologyTitle Comparison of Outcome between Low Pressure and StandardPressure Pneumoperitoneum in Laparoscopic Living DonorNephrectomy Nowadays, kidney transplantation is done through laparoscopic living donor nephrectomy performed by insufflating CO2 gas into intraperitoneum space using standard pressure 12 15mmHg . However, it is also hypothesized that with lower pressure 8 10 mmHg could be used for laparoscopic living donor nephrectomy related with lower postoperative pain and side effects. This was a prospective comparative study done in Department of Urology, Cipto Mangunkusumo General Hospital from November 2015 to August 2016. All subjects underwent laparoscopic living donor nephrectomy LLDN . In this period, the subjects received a low pressure pneumoperitoneum procedure. This group was later compared randomly to a standard pressure pneumoperitoneum procedure group who underwent previous LLDN procedure. Out of 85, subjects underwent LLDN with low and standard pressure were 41 and 44, respectively. Despite nonsignificant difference of post op pain and duration of operation, the side effect in low pressure was lower than standard p 0.033 for epigastric pain, p 0.024 for nausea, and p 0.018 for vomiting . However, 22 subjects with low pressure need to be converted to standard pressure. Based on stratified analysis, the cause of conversion was higher BMI p"
2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Astrid Paramita
"Cahaya adalah sumber kehidupan manusia. Tanpa cahaya, manusia tidak dapat melakukan aktivitas kehidupannya. Dalam hubungannya dengan arsitektur, cahaya memainkan peranan penting sebagai unsur kehidupan dalam karya arsitektur. Sejauh ini cahaya hanya dipahami dari segi fungsi fisiknya yaitu sebagai sumber penerangan, Namun, jauh di balik itu semua, cahaya mampu menimbu1kan emosi tertentu yang secara tidak langsung klta rasakan atau dengan kata lain cahaya memiliki nilai psikologis. Bahkan pada akhirnya suatu disain sistem pencahayaan tertentu dapat mempengaruhi perhatian manusia pada sesuatu hal.
Pada kesempatan ini, penulis akan memaparkan secara spesifik sistem pencabayaan huatan pada butik yang dapat mempengaruhi perhatian pengunjung. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana dan sejauh mana cahaya memainkan peranan penting dalam suatu butik di mana butik merupakan ternpat jual beli, dalamnya terkandung unsur bisnis dan persaingan usaha. Untuk membahas aplikasi pengaruh cahaya terhadap perhatian pengtmjung, pooulis memberlkan dua contoh studi kasus.
Studi kasus yang dipilih memiiJki sistem pencahayaan berbeda dan menjual barang yang berbeda yaitu pakaian dan tas, namun keduanya sama-sama berhasil dalam sistem pencahayaannya. Faktor yang paling penting dalam sebuah perancangan sistem pencahayaan yang mampu mempengaruhi perhatina pengunjung adalah attention. Attention dapat diperoleh dengan beberapa cara misalnya dengan ukuran perulangan kontras, warna, dan lain-lain. Kedua butik menggunakan metode kontras dalam rangka menarik perhatian pengunjung. Kontras disini adalah menampilkan sesuatu yang berbeda dengan sekelilingnya, yaitu melalui permainan cahaya yang lebih terang atau lebih gelap daripada pencahayaan mall secara umum. Hal ini terbukti dari studi kasus pertama yaitu pada butik yang menjual pakain. Saat dilakukan pemadaman lampu etalase terjadi penurunan jumlah pengunjung sebesar 8.7 % selain itu juga terjadi penurunan sebesar masing-masing 26 % dan 56 % pada display area pakaian pria dan wanita saat beberapa lampu pada display area ada. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2004
S48523
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>