Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 91217 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Arwin Saleh Mangkuanom
"Pendahuluan: Cidera ginjal akut akibat kontras radiografi yang sering disebut sebagai Contrast-induced nephropathy (CIN) telah menjadi sumber morbiditas dan mortalitas di rumah sakit dengan terus meningkatnya penggunaan media kontras iodinasi dalam pencitraan diagnostik dan prosedur intervensi seperti angiografi pada pasien berisiko tinggi (mencapai 50%) pada 10 sampai 15 tahun terakhir. Terjadi dapat dalam 2 sampai 5 hari setelah tindakan.
Metodologi: Sebanyak 101 pasien elektif untuk tindakan kateterisasi jantung diambil dalam studi eksperimental ini dengan metode consecutive sampling, mulai bulan Agustus hingga November 2013. Sampel penelitian dibagi menjadi dua kelompok metode hidrasi yaitu metode hidrasi LVEDP dan metode hidrasi standar. Diagnosis cidera ginjal akut akibat kontras ditegakkan berdasarkan kenaikan kadar serum kreatinin sebesar 0.5 mg/dL atau 25% dalam 3 hari setelah tindakan.
Hasil: Dalam studi kami, terdapat 5 orang mengalami cidera ginjal akut akibat kontras, 3 orang (5.7%) dari metode hidrasi LVEDP dan 2 orang (4.2%) dari metode hidrasi standar. Secara statistik angka kejadian cidera ginjal akut pada dua kelompok tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0.731. Setelah melalui uji regresi multivariat terhadap variabel-variabel yang dapat mempengaruhi didapatkan nilai odds rasio metode hidrasi LVEDP sebesar 3.6 (95% CI 0.4 - 31.3) terhadap metode hidrasi standar.
Kesimpulan: Angka kejadian cidera ginjal akut akibat kontras radiografi antara metode LVEDP dan metode standar tidak berbeda bermakna secara statistik tetapi tampaknya metode LVEDP memiliki kecenderungan meningkatkan risiko untuk terjadi cidera ginjal akut sebesar 3.6 kali dibandingkan dengan metode standar yang digunakan di Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita.

Background: Contrast Induced Nephropathy (CIN) remains a major problem because of the use of iodinated contrast media in heart catheterization is increasing. Incidence of CIN among high-risk patients is up to 50%. Intravenous hydration with normal saline before and after cardiac catheterization is the most effective methods to prevent this problem, but the hydration rate, duration and total hydration amount is still a question. By using Left Ventricular End Diastolic Pressure (LVEDP) data, we could adjust the hydration according to the needs of each patient.
Methods: A total of 101 high-risk patients (estimated Glomerular Filtration Rate by Cockroft-Gault <60mL/min/1.73m2) who undergoes elective heart catheterization were included in this study from August to November 2013 at the Cardiovascular Hospital Harapan Kita Jakarta. Samples were divided into two groups of hydration methods (standard and LVEDP based) by consecutive sampling methods. CIN is diagnosed by absolute rise of > 0.5% mg/dL or 25% increase of serum creatinine from baseline within 3 days after procedures.
Results: There were total of 5 patients who experienced CIN, 3 (5.7%) patients from LVEDP hydration method and 2 (4.2%) patients from standard hydration method. Statistically, the incidence of CIN between two groups was not significant with p=0.731. After a multivariate regression analysis, the odd ratio of LVEDP hydration method is 3.6 (95% confident interval of 0.4 - 31.3).
Conclusion: There is no statistically significant difference incidence of CIN between LVEDP hydration method and standard hydration methods, but LVEDP hydration method seems tend to increase the risk of CIN.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Donny Setyawan Syamsul
"Latar Belakang : Hipertensi merupakan kondisi yang banyak ditemui di pusatkesehatan primer dan menjadi suatu faktor risiko terjadinya disfungsi diastolik.Disfungsi diastolik ini terjadi sebelum gagal jantung pada pasien hipertensidengan fraksi ejeksi ventrikel kiri normal, sehingga diagnosa disfungsi diastolikpenting untuk dapat diketahui secara dini sebelum terjadi gagal jantung. Beberapafaktor telah diketahui dapat mempengaruhi terjadinya disfungsi diastolik ventrikelkiri. Faktor-faktor tersebut diharapkan dapat digunakan untuk dibuat suatu sistemskor disfungsi diastolik ventrikel kiri.
Tujuan : Mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kejadian disfungsidiastolik ventrikel kiri pada pasien hipertensi, dan membuat suatu sistem skor darifaktor-faktor tersebut.
Metode : Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang dilakukan di RumahSakit Umum Daerah Tarakan Kalimantan Utara pada subyek dengan hipertensi.Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2016. Dilakukan pencatatan karakteristikpasien, faktor-faktor yang diketahui mempengaruhi disfungsi diastolik, serta hasilpemeriksaan ekokardiografi, terutama parameter pemeriksaan penilaian fungsidiastolik ventrikel kiri.
Hasil : Total sampel penelitian ini adalah 132 sampel, dimana disfungsi diastolikventrikel kiri didapatkan pada 40,2 pasien hipertensi. Faktor-faktor yang dapatdijadikan sebagai determinan untuk model akhir sistem skor dari hasil analisisregresi logistik adalah usia ge;55 tahun OR 4,97, IK95 1,60-15,42, p=0,006 ,tekanan darah tidak terkontrol OR 22,33, IK95 4,11-121,48, p.

Background: Hypertension is the most common condition seen in primary careand as a risk factor for diastolic dysfunction. Diastolic dysfunction occurredbefore heart failure in hypertensive patients with preserved ejection fraction, sothat early diagnosis of diastolic dysfunction diagnosis is very important. Severalfactors has been known related with left ventricular diastolic dysfunction. A newscoring system of left ventricular diastolic dysfunction could be formulated fromthose factors.
Objectives: To identify factors related to left ventricular diastolic dysfunction inhypertensive patients, and to create a scoring system from those related factors.
Methods: This is a cross sectional study that was conducted in Tarakan GeneralDistrict Hospital North Borneo with hypertensive subjects, on October 2016.Patients characteristics was noted, and all factors related to left ventricukardiastolic dysfunction, echocardiographic examination, especially for leftventricular diastolic function parameters.
Results: There are 132 total samples in this study, and left ventricular diastolicdysfunction was found in 40,2 samples. Determinant variables for the finalmodel of scoring system from logistic regression analysis were age ge 55 years old OR 4.97, 95 CI 1.60 15.42, p 0,006 , poor blood pressure control OR 22.33,95 CI 4.11 121.48, p
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T57639
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizky Aulia Fanani
"Latar Belakang: Hipertrofi ventrikel kiri VKi merupakan adaptasi kardiak pada hipertensi dan meningkatkan risiko gagal jantung diastolik. Hipertrofi VKi sering ditemui pada gagal jantung diastolik, namun hubungan hipertrofi VKi dengan kapasitas fungsional dan parameter disfungsi diastolik masih kontroversi.
Tujuan: Menilai korelasi IMVKi dengan kapasitas fungsional, perubahan parameter diastolik, dan global longitudinal strain GLS pada pasien hipertensi laki-laki asimptomatik dengan hipertrofi VKi.
Metode: Pasien hipertensi laki-laki asimptomatik dengan IMVKi>115 gr/m2 tanpa masalah koroner, aritmia, penyakit jantung bawaan, dan penyakit jantung katup masuk kriteria studi. Uji latih ergocycle menggunakan protokol ramp. Akuisisi IMVKi pada awal uji dan pengukuran parameter diastolik E/A, E/e rsquo;, IVRT dan GLS pre dan puncak uji.
Hasil: Terdapat 41 subjek dengan usia 55 32-64 tahun. Median nilai IMVKi subjek 129 116-319 gr/m2, dengan rerata kapasitas fungsional 5,7 1 METs. parameter diastolik pre dan puncak uji latih beban tidak berbeda bermakna. Rerata GLS pre uji rendah namun berbeda bermakna pada puncak uji latih pre vs puncak: -15,4 vs 18,5 ; p

Backgrounds: Left Ventricular Hypertrophy LVH is an adaptation on hypertension and increases diastolic heart failure risk. LVH are common in diastolic heart failure. Prior studies showed various results on correlation Left ventricular mass index LVMI, with functional capacity and diastolic parameters.
Objectives: To assess correlations of LVMI with functional capacity, diastolic parameters changes, and global longitudinal strain GLS in male asymptomatic hypertensive patients with LVH.
Methods: Male asymptomatic hypertensive patients with LVMI 115 gr m2 without history of CAD, arrhythmia, congenital, and valvular heart disease are recruited. Stress test use ramp protocol. Initial LVMI is acquired, and diastolic parameters E A, E e, IVRT and GLS are acquired at pre and peak stress test.
Results: Forty one patients were recruited aged 55 32 64 years old. The median of LVMI was 129 gr m2 and mean functional capacity was 5,7 METs. Pre and peak stress test diastolic parameter values were insignificant. Pre stress test GLS mean was low but increased at peak pre vs peak 15,4 vs 18,5 p
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Celly Anantaria Atmadikoesoemah
"Latar Belakang. Merokok merupakan faktor risiko yang paling mudah dimodifikasi dalam proses terjadinya gagal jantung. Di Indonesia, 88% konsumsi rokok adalah kretek. Sejauh ini belum ada studi mengenai hal ini terhadap fungsi ventrikel kiri. Penelitian ini akan melihat pengaruh akut rokok kretek pada partisipan usia muda dan membandingkan efek akut rokok kretek dengan rokok putih terhadap fungsi diastolik ventrikel kiri menggunakan ekokardiografi Metode. Uji eksperimental dilakukan di Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Pusat Jantung Nasional Harapan Kita pada Maret - April 2013. Lima puluh partisipan dikategorikan sebagai bukan perokok rutin dan perokok rutin. Kesemuanya diminta tidak merokok minimal 2 jam sebelum penelitian. Pemeriksaan ekokardiografi dilakukan sebelum mulai merokok, segera setelah, dan satu jam setelah merokok rokok putih dan rokok kretek. Partisipan datang kembali di hari berikutnya untuk merokok jenis rokok lain.
Hasil. Setelah merokok putih, nilai E/e' septal kelompok bukan perokok rutin meningkat segera setelah merokok dan terus meningkat satu jam kemudian dibandingkan nilai dasar pengukuran, dengan rerata berturut-turut 7.63 + 1.63 dan 7.81 + 1.59, p = 0.000. Kelompok perokok rutin juga mengalami peningkatan rasio E/e' septal segera setelah merokok hingga satu jam kemudian, rerata 7.76 + 1.31 dan 7.71 + 1.20, p = 0.000. Segera setelah merokok kretek, rasio E/e' septal kelompok bukan perokok rutin meningkat hingga satu jam kemudian, rerata 7.53 + 1.58 dan 7.74 + 1.45, p = 0.000. Kelompok perokok rutin juga mengalami peningkatan E/e' septal, rerata 7.74 + 1.45 dan 7.78 + 1.40, p = 0.000.
Kesimpulan. Rokok menyebabkan perubahan akut fungsi diastolik ventrikel kiri pada kelompok perokok rutin dan bukan perokok rutin. Perubahan fungsi diastolik yang disebabkan rokok kretek berlangsung lebih lama pada kelompok bukan perokok rutin.

Background. Smoking is one of the most modifiable risk factor in heart failure. In Indonesia, 88% of cigararette smoked is clove cigarette. To the best of our knowledge, there were no studies published regarding this issue on left ventricular diastolic function. This sudy is to describe the acute effects of clove cigarette smoking on diastolic function in young participants and comparing the effects caused by clove cigararette to regular cigarette. Methods. This is an experimental study carried out in Department of Cardiology and Vascular Medicine Universitas Indonesia/ National Cardiavascular Center Harapan Kita in March - April 2013. Fifty participants divided into two groups: non daily smoker and daily smoker. Both groups were asked not to smoke for at least 2 hours prior to study. Echocardiography study was performed to before, right after and 60 minutes after smoking. Participants were then asked to come back on the next day to perform the same procedure with another kind of cigarette.
Result. After regular cigarette smoking, there was an increased septal E/e' from baseline in the non daily smoker group right after and 60 minutes after smoking, mean value of 7.63 + 1.63, 7.81 + 1.59 respectively, p = 0.000. In the daily smoker group, there was also an increase septal E/e profile, mean value of 7.76 + 1.31, 7.71 + 1.20), p = 0.000. After consumption of clove cigarette, a higher septal E/e' was found in non daily smoker group, which lasting to 60 minutes after smoking, mean value of 7.53 + 1.58, 7.74 + 1.45), p = 0.000. Increased septal E/e' was also showed in daily smoker group, mean value of 7.74 + 1.45, 7.78 + 1.40, p = 0.000.
Conclusion. Clove and regular cigarette smoking have acute effects on left ventricular diastolic function in both non daily smokers and daily mokers. In comparison to regular cigarette, clove cigarette caused longer compromised diastolic function in non daily smokers."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simatupang, Lydia D.
"Latar belakang. Penyakit Ginjal Kronik (PGK) stadium 3 merupakan faktor risiko tinggi terjadi Nefropati Akibat Kontras (NAK) setelah Percutaneous Coronary Intervention (PCI). Hidrasi merupakan salah satu modalitas mencegah NAK, demikian juga N-Acetyl Cysteine (NAC) walaupun efek proteksinya terhadap NAK masih kontroversial.
Tujuan. Mengetahui apakah kombinasi hidrasi dan NAC dapat menurunkan risiko NAK pada pasien PGK stadium 3 setelah PCI pada pasien Pelayanan Jantung Terpadu (PJT) RSCM.
Methoda penelitian. Studi kohort prospektif mengukur kreatinin plasma sebelum dan 48 jam sesudah PCI, sambil mencatat ada atau tidaknya perlakuan pemberian kombinasi hidrasi dan NAC pada pasien PGK stadium 3 tersebut.
Hasil. Terdapat 38 pasien yang memenuhi kriteria penerimaan dan tidak mencakup kriteria penolakan serta menuntaskan penelitian dalam kurun waktu Agustus 2013 ? Januari 2014. Dua puluh tiga (43,4%) dari total 53 pasien PGK stadium 3 yang awalnya masuk studi ini diberikan perlakuan hidrasi dan NAC dan sisanya tidak mendapat perlakuan tersebut. Insidens kejadian NAK terdapat pada 2 dari 38 pasien yang menuntaskan studi (5.26%) yaitu pada kelompok yang tidak mendapat hidrasi dan NAC. Attributable Risk% sebesar 100%, kejadian NAK dapat dihilangkan 100% apabila diberikan hidrasi dan NAC.
Simpulan. Kombinasi hidrasi dan NAC cenderung memproteksi kejadian NAK
pada populasi PGK stadium 3 yang menjalani PCI

Background. Stage 3 Chronic Kidney Disease (CKD) is known as a high risk factor for Contrast Induced Nephropathy (CIN) after Percutaneous Coronary Intervention (PCI). Hydration is a modality which is widely used to prevent CIN, and so is N-Acetyl Cysteine (NAC) eventhough there are controversial issues regarding their effectiveness to prevent CIN.
Aim. To know whether hydration and NAC combined has an effect of lowering CIN incidence in stage 3 CKD patients after PCI in Integrated Cardiac Services (ICS) in Cipto Mangunkusumo Hospital.
Methods. A prospective cohort is conducted examining plasma creatinine before and 48 hours after PCI in stage 3 CKD patients, meanwhile recording which patients are given combined hydration and NAC and which are not.
Results. Total 38 patients were collected whom fulfill the inclusion criteria and not meet the exclusion criteria and finished the study, from August 2013 until January 2014. Twenty-three (43,4%) of total 53 patients with stage 3 CKD whom enter the study at first were given hydration and NAC, and the did not received the combination. Incidence of CIN occurred in 2 of 38 patients whom finished this study (5.26%), all belonging to the non-hydration and NAC group. Attributable Risk% is 100%, means CIN can be 100% prevented if hydration and NAC is given.
Conclusion. Combination of Hydration and NAC is indicated to be protective against the risk of CIN in stage 3 CKD patients undergoing PCI.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmalia Gusdina
"ABSTRAK
Latar Belakang. Salah satu penyakit jantung bawaan (PJB) yang kompleks adalah terdapatnya satu ventrikel yang fungsional. Tatalaksana yang dilakukan untuk kelainan
ini adalah dengan operasi Fontan. Efusi pleura merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi setelah operasi Fontan. Peningkatan tekanan akhir diastolik ventrikel
sistemik (TADVS) sebelum operasi diduga turut berperan dalam terjadinya efusi pleura paska operasi Fontan.
Metode. Studi potong lintang dilakukan terhadap populasi yang sudah dilakukan operasi Fontan dengan ekstrakardiak konduit dan fenestrasi di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK) periode April 2006 sampai dengan April 2016. Durasi efusi pleura berdasarkan pada lama terpasangnya selang (drain) intrapleura
setelah operasi Fontan. Lama rawat adalah lama rawat setelah operasi Fontan. Data studi diambil dari rekam medik.
Hasil. Populasi studi penelitian sebanyak 63 pasien dengan nilai rerata TADVS adalah 9,7 mmHg dengan standar deviasi ± 2,8 mmHg. Efusi pleura terjadi pada semua pasien dengan nilai tengah 9 hari (2-54 hari), dengan 43 pasien (68,3%) yang > 7 hari. Nilai tengah lama rawat adalah 20 hari (8-58 hari). Uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat korelasi bermakna antara TADVS dengan lama efusi pleura sesudah operasi (p = 0,548, r = -0,077) dan lama rawat (p = 0,843, r = -0,025). Analisis bivariat menunjukkan 2 variabel yang mempunyai korelasi bermakna terhadap lama efusi pleura yaitu dominan
ventrikel kanan (p = 0,014) dan waktu CPB (p = 0,003), kemudian terdapat 5 variabel berkorelasi bermakna terhadap lama rawat yaitu waktu CPB (p = 0,023), aritmia sesudah operasi (p = 0,021), lama aritmia sesudah operasi (p = 0,009), infeksi sesudah operasi (p = 0,000), kadar albumin sesudah operasi (p = 0,005) dan lama efusi pleura sesudah operasi (p = 0,000).
Kesimpulan. Tidak terdapat korelasi bermakna antara TADVS sebelum operasi Fontan dengan lama efusi pleura sesudah operasi dan lama rawat.

ABSTRACT
Background: Congenital Heart Disease (CHD) is a major congenital disease. One of the most common is a CHD that only have single functional ventricle. Management for this disease is Fontan operation. Pleural effusion is one of the most common complication after operation. Elevated systemic ventricle end diastolic pressure (SVEDP) will increase pulmonary vein pressure, pulmonary artery pressure, and pleural vein pressure consecutively that leads to pleural effusion.
Goals: To correlate between SVEDP before Fontan operation with post operative pleural effusion duration and length of stay.
Methods: Cross sectional study was performed to patients who underwent Fontan operation extra cardiac conduit and fenestration at National Cardiac Centre Harapan Kita
(NCCHK) from April 2006 to April 2016. Pleural effusion duration was based on chest tube indwelling time after operation. Length of stay was days the patient hospitalized after operation. Baseline characteristic of the patients were obtained from medical records.
Results: Subjects were 63 patients who fulfilled the criteria. Mean SVEDP was 9.7 mmHg with standard deviation of ± 2.8 mmHg. Pleural effusion occurred to all subjects
ranged 2-54 days (median 9 days), in which 43 patients (68.9%) more than 7 days. Length of stay after operation ranged 8-58 days (median 20 days). Spearman correlation
test showed no correlation between SVEDP with post operative pleural effusion duration (p = 0.548, r = -0.077) and length of stay (p = 0.843, r = -0.025). Bivariate analysis showed correlation between right ventricle domination and CPB time to pleural effusion
duration with p = 0.014 and p = 0.003 respectively, whereas factors that correlate to length of stay after operation were CPB time (p = 0.023), post operative arrhythmia (p = 0.021), post operative arrhythmia duration (p = 0.009), post operative infection (p =
0.000), post operative albumin level (p = 0.005) and post operative pleural effusion duration (p = 0.000).
Conclusions: There is no correlation between SVEDP before Fontan operation with post operative pleural effusion duration and length of stay.
"
2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Syafiq
"Latar belakang. Gagal jantung dan aritmia merupakan penyebab kematian tersering pada penderita thalassemia R. Gangguan fungsi jantung, khususnya disfungsi diastolik merupakan komplikasi dini pada jantung akibat muatan besi berlebih (iron overload). Kadar feritin serum sampai saat ini masih secara luas digunakan sebagai parameter muatan besi berlebih (iron overload).
Tujuan. Mengetahui perbedaan kadar feritin serum antara penderita thalassemia j3 dewasa yang mengalami dan tidak mengalami disfungsi diastolik ventrikel kiri, dan mengetahui besar proporsi disfungsi diastolik pada penderita thalassemia 13 dewasa.
Metodologi. Penelitian ini merupakan studi potong lintang untuk melihat perbedaan kadar feritin serum (sebagai parameter iron overload) pada penderita thalassemia 13 dewasa yang mengalami disfungsi diastolik dibandingkan dengan yang tanpa disfungsi diastolik, serta untuk mendapatkan proporsi disfungsi diastolik pada penderita thalassemia 3 dewasa. Analisis terhadap variabel-variabel yang diteliti menggunakan uji-1 independen untuk mendapatkan perbedaan rerata kadar feritin serum antara kedua kelompok.
Hasil. Dari penelitian ini 30 orang penderita thalassemia 13 dewasa, laki-laki 13 orang, perempuan 17 orang, didapatkan rerata usia 25,9 tahun dengan rentang usia antara 18-38 tahun. Rerata Hb sebesar (7,5g%, SB I,4g%) dengan rentang kadar Hb antara 5,2 - 9,9 g%. Rerata kadar feritin serum sebesar (5590ng1m1, SB 4614,7 nglml) dengan rentang kadar, feritin antara 296,4 - 15900 nglml. Tidak terdapat perbedaan rerata kadar feritin antara penderita yang mengalami disfungsi diastolik dibandingkan dengan yang tidak mengalami disfungsi diastolik. Proporsi disfungsi diastolik pada thalassemia 13 dewasa pada penelitian ini sebesar 70%.
Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan rerata kadar feritin antara penderita yang mengalami disfungsi diastolik dibandingkan dengan yang tidak mengalami disfungsi diastolik. Proporsi disfungsi diastolik pada thalassemia 13 dewasa pada penelitian ini sebesar 70%.

Background. Heart failure and aritmia is the major cause of death in 3 thalassemia major. Heart dysfunction, especially diastolic dysfunction in ji thalassemia seems to be an early involvement of the heart due to iron overload. Serum ferritin level as a parameter of iron overload still widely use for evaluation in 13 thalassemia.
Objectives. To know the mean difference of serum ferritin level between adult 13 thalassemia patients who have left ventricular diastolic dysfunction and who do not have Ieft ventricular diastolic dysfunction, and to obtain the proportion of diastolic dysfunction in adult 13 thalassemia patients.
Methods. This cross-sectional study was conducted to see the mean difference of Serum ferritin. IeVel'(as a parameter of iron overload) in adult P'thalassemia who have left ventricular diastolic dysfunction and who do not have left ventricular diastolic dysfunction and to know the proportion of diastolic dysfunction among adult 13 thalassemia. The independent t-test was used to analyze the variables to obtain the mean difference of serum ferritin level between the two groups.
Results. Thirty adult P thalassemia patients, 13 were male and 17 were female had been enrolled into this study. The age of the patients ranged from 18 to 38 years old, and the average-age was 25,9 years. The Hb level ranged from 5,2 to 9,9 g% and the mean was (7,5g%, SD 1,4g°/o). The serum ferritin level ranged from 296,4 to 15900 nglml, and the mean was (5590ng/ml, SD 4614,7 nglml). There was no significance mean difference serum ferritin level in patients who had diastolic dysfunction and those who do not have diastolic dysfunction. The proportion of diastolic dysfunction in adult 13 thalassemia patients in this study was 70%.
Conclusions. There was no significannce mean difference serum ferritin level in patients who had. diastolic dysfunction and those. who. did, not have diastolic dysfunction . The proportion of diastolic dysfunction in adult thalassemia 3 patients in this study was 70%.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T58467
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Andi Yassiin
"ABSTRAK
Latar Belakang. Media kontras dapat memberikan efek toksik pada sel tubulus ginjal, menyebabkan suatu kondisi dinamakan contrast induced nephropathy (CIN), yang berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas, dan memiliki efek yang sama pada pasien dengan gagal ginjal kronik maupun pasien risiko rendah (Laju Filtrasi Glomerolus (LFG) ≥ 60, skor Mehran sebelum tindakan ≤ 5). Dari beberapa penelitian mengenai rasio volume kontras dengan laju filtrasi glomerulus (V/LFG) untuk memprediksi CIN belum ada yang dikhususkan untuk pasien risiko rendah.
Metodologi. Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang dilakukan di Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI/Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK) dengan mengambil data dari rekam medis dan ruang kateterisasi. Durasi data yang diambil adalah Agustus 2015 - April 2016. Hasil penelitian dianalisis dengan prosedur Receiver Operating Characteristic (ROC) dari rasio V/LFG. Akan dianalisis nilai Area Under Curve dan mencari titik potong yang direkomendasikan sebagai nilai prediktor optimal dengan sensitivitas dan spesifisitas yang terukur.
Hasil. Dari 223 data yang terkumpul lengkap dan sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan jumlah pasien yang mengalami CIN adalah sebesar 11 pasien (4,9%). Didapatkan perbedaan bermakna pada kedua jenis kelompok yaitu pada variabel jenis tindakan (P = 0,04), volume kontras (P = 0,02), dan rasio V/LFG (P = 0,032). Dari kurva ROC didapatkan bahwa rasio V/LFG mempunyai nilai AUC 0,69 (IK 95% 0,53 - 0,86). Dari kurva ROC ditentukan nilai potong yang bermakna dari rasio V/LFG ≥ 1,0 (Sensitifitas 55%, Spesifisitas 78%, Akurasi 77%, Nilai Prediksi Positif 12%, Nilai Prediksi Negatif 97%, P = 0,022). Dengan menggunakan rasio V/LFG ≥ 1 didapatkan insidensi CIN adalah 12% dibandingkan 3% pada pasien dengan V/LFG < 1 (OR 4,33; IK 95% 1,27 - 14, 83); P = 0,022).
Kesimpulan. Rasio V/LFG ≥ 1,0 dapat memprediksi kejadian CIN pada pasien risiko rendah yang menjalani tindakan angiografi atau intervensi koroner perkutan elektif

ABSTRACT
Background: Contrast media could give toxic effect to renal tubulus, creatining a condition named contrast induced nephropathy (CIN) and is associated with increased morbidity and mortality, and has the same effect in patient with chronic kidney disease or in low risk patients (estimated Glomerolus Filtration Rate (eGFR) ≥ 60, Mehran Score before procedure ≤ 5). From several studies concerning ratio of contrast volume to creatinine clearance (V/CrCl) to predict CIN, there were not any study yet focusing in low risk patients.
Methods: This is a cross-sectional study conducted in Cardiology and Vascular Medicine Faculty of Medicine Universitas Indonesia/National Cardiovascular Center Harapan Kita (NCCHK). The data were retrieved from medical records and catheterization room, since August 2015 -- April 2016. Receiver Operating Characteristic (ROC) is used to analyze the data, and by using Area Under Curve will gives the optimal cut-off for contrast volume to creatinine clearance ratio with measured sensitivity and specificity.
Results: From 223 patients the incidence of CIN is 11 patients (4,9%). There is a significant difference from both groups in types of procedure (P = 0,04), contrast volume (P = 0,02), and V/CrCl ratio (P = 0,032). From ROC curve we found that V/CrCl ratio have an AUC 0,69 (CI 95% 0,53 - 0,86). From ROC curve the significant cut-off ratio of V/CrCl is ≥ 1,0 (Sensitifity 55%, Specificity 78%, Accuracy 77%, Positive Predictive Value 12%, Negative Predictive Value 97%, P = 0,022). Using V/CrCl ratio ≥ 1,0 the incidence of CIN is 12%, compared to 3% in patients with V/LFG < 1,0 (odds ratio 4,33; CI 95% 1,27 - 14, 83); P = 0,022).
Conclusions: V/CrCl ratio ≥ 1,0 could predict CIN in low risk patients undergoing angiography or percutaneous coronary intervention.
"
2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
"[Latar Belakang: Komplikasi sirosis hati pada jantung masih sedikit diketahui. Mekanisme patofisiologi sirosis hati yang melibatkan hipertensi portal memungkinkan terjadinya disfungsi diastolik ventrikel kiri.
Tujuan: Mengetahui proporsi disfungsi diastolik ventrikel kiri pada pasien sirosis hati dengan kriteria ASE-EAE 2009 dan konvensional, korelasi positif antara beratnya derajat disfungsi diastolik ventrikel kiri dengan beratnya derajat disfungsi hati melalui skor Child Turcotte Pugh ( CTP ) dan menilai hubungan parameter beratnya derajat disfungsi diastolik menurut kriteria ASE-EAE 2009 dengan skor CTP numerik.
Metode: Potong lintang pada pasien yang berobat secara konsekutif di Unit Rawat Jalan Hepatologi dan Rawat Inap Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM. Penelitian dimulai di bulan November 2013 hingga tercapai 96 subjek sirosis hati berusia 18-60 tahun. Anamnesis, pemeriksaan fisik, rekam medik dan pemeriksaan penunjang dilakukan. Pemeriksaan dengan ekokardiografi dilakukan oleh dua pemeriksa. Uji kesesuaian Kappa dan uji beda rerata dilakukan antar pemeriksa. Data kemudian diolah untuk diperoleh nilai proporsi, uji normalitas sebaran data, analisis uji korelasi Spearman dan analisis multivariat regresi linier.
Hasil: Sebanyak 54,17% pasien mengalami hipertrofi konsentrik ventrikel kiri. Proporsi disfungsi diastolik ventrikel kiri dengan kriteria ASE-EAE 2009 sebesar 34,3% namun 21,9% ditemukan fungsi diastolik normal dengan indeks volume atrium kiri meningkat, dengan kriteria disfungsi diastolik konvensional proporsi menjadi 68,8%. Seluruh parameter fungsi diastolik menunjukkan perubahan abnormal pada CTP B 8-10. Korelasi beratnya derajat disfungsi diastolik ventrikel kiri kriteria ASE-EAE 2009 dengan beratnya derajat disfungsi hati melalui skor CTP skala numerik adalah 0,42 ( p = 0,000 ). Bila penderita diabetes dan pengguna spironolakton dieksklusi, r menjadi 0,51 ( p = 0,000; ASE-EAE 2009 ). Parameter beratnya derajat disfungsi diastolik yang berhubungan dengan beratnya derajat disfungsi hati skor numerik CTP adalah selisih Ar-A, volume atrium kiri dan nilai lateral e’ ( p < 0,005 ).
Kesimpulan: Semakin berat disfungsi diastolik ventrikel kiri maka semakin berat sirosis hati. Parameter disfungsi diastolik ventrikel kiri yang berhubungan dengan beratnya sirosis hati adalah tekanan pengisian diastol intraventrikel beserta kekakuan miokard, remodelling atrium kiri dan kecepatan alir balik vena pulmonalis dalam menghadapi tekanan pengisian. Deteksi dini disfungsi diastolik pada sirosis hati dapat dimulai pada CTP B 8., Background: Cardiovascular complication of liver cirrhosis is relatively obscure. Liver cirrhosis pathophysiology involving portal hypertension made the possibility of cirrhosis complication manifested as left ventricular diastolic dysfunction.
Objective: To determine proportion of left ventricular diastolic dysfunction among liver cirrhotic patients according to American Society of Echocardiography-European Association of Echocardiography ( ASE-EAE ) 2009 and conventional approach, to determine any correlation between left ventricular diastolic dysfunction severity stages with severity stages of liver dysfunction in cirrhotic patients represented by Child Turcotte Pugh ( CTP ) score, also to asses relationship between severity stages of parameters of diastolic function according to ASE-EAE 2009 with liver cirrhosis severity evaluated by numerical CTP score.
Methods: In this cross sectional design, we targeted 96 liver cirrhotic patients within age of 18-60 year old consecutively due to any cause who admitted to ambulatory unit of Hepatology and Internal Medicine Cipto Mangunkusumo General Hospital wards into intended sample. The study started in November 2013 until proper sample size wasobtained. Echocardiography examination was performed by 2 operators. Interobserver validity was assesed with level of Kappa aggrement and mean difference. Data was extracted to find prevalence, normality test, Spearman correlation test and multivariate linear regression test.
Results: Left ventricular concentric hypertrophy was found in 54,2% of source population. Left ventricular diastolic dysfunction proportion among liver cirrhotic patients according to ASE-EAE 2009 is 34,3% and 21,9% of normal diastolic function subgroup has left atrial volume index ≥ 34 mL/m2. Conventional approach resulted in 68,8% of diastolic dysfuncation. All diastolic parameter showed abnormalities on CTP B 8-10. Spearman’s r values of stage of diastolic dysfunction severity according to ASE-EAE 2009 with severity of numerical CTP score is 0,42 ( p = 0,000 ). Exclusion of diabetic patients and spironolactone treated patients resulted in r 0,51 ( p = 0,000; ASE-EAE 2009 ). Parameters of diastolic function that have relation with liver dysfunction severity in cirrhosis measured by numerical CTP are Ar-A ( p = 0,004 ), left atrial volume index ( p = 0,005 ) and laterale e’ ( p = 0,026).
Conclusion: Severity of left ventricular diastolic dysfunction with severity of liver cirrhosis is correlated positively. Diastolic parameters relate with severity of liver cirrhosis are diastolic ventricular filling pressure with left ventricular chamber stiffness, left atrial remodelling and regurgitant of pulmonary venous flow velocity to oppose filling pressure. Early detection for diastolic dysfunction can be started on CTP B 8.]"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Puteri Wahyuni
"Latar Belakang: Hipertensi merupakan kasus terbanyak pada pasien hemodialisis HD . Tekanan nadi sentral merupakan prediktor yang kuat terhadap mortalitas dengan penyebab apa pun, banyak faktor yang mempengaruhi tekanan nadi sentral, baik secara langsung maupun tidak langsung, di antaranya adalah interdialytic weight gain IDWG . IDWG dikatakan berhubungan dengan mortalitas akibat penyebab apa pun, namun belum jelas mekanismenya.
Tujuan: Mengetahui tekanan nadi sentral dan korelasinya dengan IDWG pada pasien penyakit ginjal tahap akhir PGTA yang menjalani HD di RSCM.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang pada pasien PGTA yang menjalani HD di RSCM. Dilakukan pemeriksaan tekanan nadi sentral dengan alat sfigmokor, dan dihitung IDWG dalam satu bulan terakhir, selanjutnya dikorelasikan.
Hasil: Didapatkan 67 subyek yang memenuhi kriteria inklusi. Median usia 53.0 rentang inter-kuartil [RIK] 44.0-62.0 tahun, subyek dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak ditemukan. Lamanya menjalani HD median 51,3 RIK 23,8-88,8 bulan. Median tekanan nadi sentral 45 RIK 32,67-56,67 mmHg. Rerata IDWG adalah 2,71 simpang baku [SB] 1,08 kg atau 5,04 SB 1,88 . Tekanan nadi sentral tidak berkorelasi dengan IDWG dengan r = 0,088 p=0,478.
Simpulan: Tekanan nadi sentral pada pasien PGTA yang menjalani HD di RSCM mediannya sebesar 45 RIK 32,67-56,67 mmHg. Tekanan nadi sentral tidak berkorelasi dengan IDWG.

Background: Hypertension is the most prevalent case in patients undergoing hemodialysis HD . Central pulse pressure is a strong predictor of mortality of any cause. Many factors are related to central pulse pressure, either directly or indirectly, including interdialytic weight gain IDWG. IDWG are said to be associated with mortality of any cause in HD patients, but the mechanism underlying that association remained unclear.
Objective: To find central pulse pressure and its correlation with IDWG in end stage renal disease ESRD patients undergoing HD in Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Indonesia.
Methods: Cross sectional study on all ESRD patients undergoing HD in Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Central pulse pressure was measured using Sphygmocor. IDWG of patients within the last month were obtained, and then a correlation analysis was conducted on both variables.
Results: This study included 67 subjects that met inclusion criteria. The median range age of participants was 53.0 44.0 62.0 years old, with more female subjects present. The median range of duration of HD was 51.3 23.8 88.8 months. Median range of central pulse pressure was 45 32,67 56,67 mmHg. The mean of IDWG was 2.71 standard deviation SD 1.08 kg or 5.04 SD 1.88. This study found that there were no correlation between central pulse pressure and IDWG, r 0.088 p 0.478.
Conclusions: Median range of central pulse pressure in ESRD patients undergoing HD in CMGH was 45 32,67 56,67 mmHg. Central pulse pressure had no correlation with IDWG.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T58955
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>