Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 97725 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Datu Beru
"Sekilas, film The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch, and the Wardrobe (2005) sering kali terlihat sebagai sebuah cerita mengenai kebaikan melawan kejahatan di mata anak-anak, dengan binatang-binatang yang dapat berbicara dan pertempuran tanpa pertumpahan darah. Namun, ketika dipelajari pada tingkat yang lebih dalam, film tersebut menggambarkan peranan gender secara tradisional yang menyebabkan stereotip gender. Tulisan ini mencoba untuk menemukan bagaimana isu gender muncul dari peran dan karakterisasi karakter-karakter minor, bagimana mereka menyebarluaskan stereotip tradisional mengenai gender dengan membuat karakter-karakter utama menginternalisasi stereotip tersebut sebagai bagian permanen dari kepribadian mereka, dan penguatan nilai-nilai patriarki yang dilakukan oleh karakter-karakter minor melalui penyebaran stereotip tersebut. Teori gender Millett dan teori skema gender Bem adalah teori-teori yang digunakan untuk mejawab masalah penelitian yang diajukan. Pandangan Brannon mengenai stereotip gender juga menuntun kepada temuan adanya stereotip gender yang diseberluaskan oleh karakter-karakter minor di dalam film. Pada akhirnya, tulisan ini sampai pada kesimpulan bahwa penyebaran stereotip tradisional mengenai gender yang dilakukan oleh karakter-karakter minor menyebabkan karakter-karakter utama menginternalisasi stereotip tersebut yang memperkuat nilai-nilai patriarki.

In a glance, the film The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch, and the Wardrobe (2005) was often seen as tale of good versus evil through the eyes of children, with talking animals and non-bloody battles. However, when studied at a deeper level, the film depicted traditional gender roles that led to gender stereotyping. This paper attempted to find how the issue of gender emerged from the role and characterization of minor characters, how they disseminated the traditional gender stereotypes and made the major characters internalize the stereotypes as permanent parts of their personalities, and the reinforcement of patriarchal values through the dissemination of traditional gender stereotypes done by the minor characters. Millett’s gender theory and Bem’s gender-schema theory were theories used to answer the research issues proposed. Brannon’s view on gender stereotypes also led to the findings of minor characters’ gender stereotypes in the film. In the end, the paper came to a conclusion that the dissemination of traditional gender stereotypes done by minor characters made the major ones internalizing the traditional gender stereotypes that reinforced the patriarchal values.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Rezkita Rasyid
"Utopia hadir sebagai bagian dari ruang imajinasi yang mensimulasikan ruang ideal dengan latar belakang ketidaksempurnaan dalam realita.  Kehadiran utopia dilengkapi dengan heterotopia, sebuah bentuk aktualisasi tempat dengan karakter ideal.  Heterotopia digambarkan sebagai sebuah konsep ruang merujuk pada simulasi utopia dapat termanifestasi sebagai representasi sehingga kehadirannya terlihat nyata. Media film mampu menangkap konsep utopia dan heterotopia, lalu mentranslasikannya dalam bentuk gambar bergerak yang menggambarkan realitas yang beriringan dengan ruang dan waktu.  Kemampuan pada film tersebut kemudian memunculkan simulacra, sebuah situasi saat realitas yang dilihat di media adalah realitas semu.  Akibatnya, perbedaan antara bagian original (asli) dan copy (imitasi) menjadi samar dan batasnya memudar.  Implementasi yang hadir pada film adalah penonton dapat melihat ruang sebagai sebuah realita.  Tujuan studi ini adalah melihat konsep utopia dan heterotopia melalui melalui simulasi dan hubungan original dan copy dalam film The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch, and the Wardrobe.  Film tersebut menghadirkan pada penonton sebuah ruang untuk masuk dan melarikan diri ke dalamnya sebagai sebuah ruang bersifat utopia.  Sehingga dari potensi tersebut, dapat terlihat bahwa peran media sangat besar dalam mencerminkan ide ruang utopia dalam simulacara.

 


Utopia exist as a part of imagination realm that simulated an ideal space with imperfect reality background.  The idea of utopia as an ideal space is also related to heterotopia, a space used to describe the idea of utopia.  Heterotopia can be seen as the physical form of utopia condition.  Utopia can be visualized through film as a media and can manifest the idea of utopia and heterotopia then translate it into a sequence of images that picture reality in different time and space.  The ability of film as a media to present utopia in a space is connected simulacra.  In media, simulacra often showed as a duplication of the reality and people believe what they see instead of the existing facts, or what it’s called as a fake reality.  As a result, the distinction between the original and the copy starts to blur.  The implementation that came with the result is, the viewer could see the space in film as a reality.  Because of the implementation, the purpose of this study is to capture the concept of utopia and heterotopia through the simulation and its relation to the original and the copy.  This study also shows how the media could reflect the idea of utopia in space and heterotopia inside simulacra.  This research leads to how The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch, and the Wardrobe could reflect the idea of utopia within it spaces and how it copies the reality in real world and turns it into a simulation.

 

"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mita Sofia Mochtar
"Maksud utama dari penulisan makalah ini adalaMaksud utama dari penulisan makalah ini adalah untuk menganalisis stereotip rasial yang tersembunyi antara orang kulit hitam dan orang kulit putih dalam film The Blind Side dengan mengidentifikasi karakter-karakter di film tersebut. Stereotip, yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap kelompok lain, terdapat tidak hanya di dalam kehidupan nyata namun juga di dalam karya-karya fiksi seperti film. Pada film The Blind Side, stereotip rasial berada dalam lapisan tersembunyi. Kemiskinan dan bentuk lain dari stereotip terhadap orang kulit hitam seperti penggambaran orang kulit hitam sebagai pihak yang inferior, dan gagasan mengenai orang kulit hitam sebagai ancaman dalam film tampaknya dapat diterima oleh kedua ras. Hal ini tidak diragukan lagi memperkuat gagasan mengenai stereotip terhadap orang kulit hitam. Makalah ini memberikan pemahaman bahwa stereotip rasial dalam film dapat disampaikan secara halus dan tidak kentara, dan oleh karena itu selalu ada kemungkinan bahwa ketidakkenrataan tersebut juga ada dan terjadi dalam masyarakat.

The main intention of this paper is to analyze the hidden racial stereotyping between blacks and whites in The Blind Side by identifying the characters. Stereotyping, which is done by a group of people about other groups, exists in both the real life and fictional works like films. In The Blind Side, the existence of racial stereotyping is in a hidden layer. Poverty and other forms of stereotype toward blacks such as black's portrayal as the inferior one, and the notion of blacks as a threat in the film seem acceptable to both races. This undoubtedly strengthens the idea of the stereotype toward blacks. The paper sheds light on understanding how racial stereotyping in the movie can be very subtly conveyed, and therefore there is always a possibility that such subtlety also exists in society.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Bella Amourizky Adjani
"ABSTRAK
Meski telah banyak studi mengkaji mengenai perpetuasi stereotip perempuan Latin dalam budaya populer Amerika, hanya ada sedikit riset yang membahas mengenai perlawanan terhadap stereotip-stereotip tersebut yang direpresentasikan oleh berapa karakter perempuan Latin. In The Heights 2008 adalah salah satu karya teater musikal Broadway populer yang mencoba untuk melawan gambaran stereotipikal orang-orang Latin. Melalui analisis karakter menggunakan konsep tiga kategori representasi perempuan Latin milik Keller 1994 , penelitian ini menganalisa representasi perempuan Latin dalam karakter Nina Rosario. Artikel ini menemukan bahwa representasi yang ada merupakan sebuah bentuk perlawanan terhadap stereotip perempuan Latin.

ABSTRACT
While recent studies have analysed the perpetuation of Latina stereotypes in American popular culture, few research have discussed about the defiance against the stereotypes represented by certain Latina characters. The popular Broadway musical In The Heights 2008 is one of the works that tries to challenge the stereotypical portrayal of Latinos. By doing character analysis using Keller rsquo s three types of Latina representations 1994 , this paper attempts to analyse the Latina representation in the character Nina Rosario. It found that the representation manifests an act of defiance against the perpetuation of Latina stereotypes."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2018
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Nadia Salsabila Azzahwa, Author
"Stereotip-stereotip terhadap beberapa komintas masih ada hingga saat ini. Salah satu stereotip yang ada ditujukan kepada Black Women Community dengan istilah populer "Angry Black Woman." Tak hanya komunitas perempuan berkulit hitam, terdapat juga stereotip yang ditujukan kepada perempuan secara umum. Hal tersebut ditunjukan oleh keberadaan teori Women's Language dari Lakoff (1973) dan Zhu (2019). Teori-teori tersebut diciptakan untuk mencakup seluruh fitur bahasa perempuan berdasarkan stereotip-stereotip yang ada. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk mengevaluasi yang ditujukan kepada perempuan berkulit hitam dan perempuan secara umum dengan mengaplikasikan kedua teori bahasa perempuan yang dipilih sebagai instrumen analisis. Tulisan ini akan menggunakan dua corpora, yaitu dialog Rose di Fences (2016) dan dialog Lupita Nyong'o di sebuah interview dengan Jimmy Fallon (2022). Baik Rose maupun Nyong'o memiliki keunikannya tersendiri dalam gaya berbicara mereka yang menampilkan karakter masing-masing yang menunjukan beberapa fitur dalam tiap teori di mana latar belakang sosial-ekonomi juga memengaruhi hal tersebut. Akan tetapi, tulisan ini memiliki batasannya tersendiri, dan studi lainnya butuh untuk dilakukan guna mengikuti variasi dari identitas para wanita dan juga modernisasi.

Stereotypes towards certain communities still exist in this present time. One of the stereotypes comes towards Black Women community with the popular title “Angry Black Women.” Moreover, women in general also get stereotyped. This is shown by the existence of women’s language theories by Lakoff (1973) and Zhu (2019). The theories are made to include all women’s language features in conversations based on stereotyping. Therefore, this paper aims to evaluate the two stereotypes towards the African American women community and women in general by applying the women’s language theories chosen as the analyzing tools. This paper will use two corpora, which are Rose’s dialogues in Fences (2016) and Lupita Nyong’o’s dialogues in an interview with Jimmy Fallon (2022). Both Rose and Nyong’o have unique speaking styles that display their characters as they possess some features in each theory chosen in which their socioeconomic backgrounds also play significant roles to form their language features. Since this paper has its limitations, further study needs to be conducted, following the variations of women’s identity and modernity."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Fakhira Maryam Putri Adhyaksa
"Pada makalah ini penulis tertarik untuk menganalisis film Mulan yang dibuat pada tahun 2020. Mulan 2020 “Loyal, Brave and True” adalah film drama fantasi Amerika Serikat yang diproduksi Walt Disney Pictures, salah satu industri produsen film yang sangat populer di dunia. Film ini digarap oleh Niki Caro, skenarionya dibuat oleh Elizabeth Martin, Lauren Hynek, Rick Jaffa dan Amanda Silver. Film ini merupakan remake film (“film yang dibuat kembali”) dari versi kartun tahun 1998 yang mengangkat kisah ksatria wanita yang dibesarkan oleh kultur masyarakat Tionghoa. Makalah ini ditulis dengan menggunakan analisa deskriptif kualitatif. Data yang diambil dari hasil amatan melalui film tersebut kemudian dimasukkan dalam katagorisasi berdasarkan aspek-aspek semiotika untuk kemudian dianalisa dengan menggunakan teori Television Codes Fiske yang membagi atas tiga level amatan yakni level realitas, level representasi dan level ideologis.Ketidakadilan gender secara subordinatif tampak pada saat adegan Mulan bersama Ibu, adik dan Ibu pencari jodoh (Matchmaker). Matchmaker adalah sosok yang disegani dan berkuasa dalam memberikan penilaian secara tradisi tentang baik atau buruknya kualitas seorang anak perempuan. Termasuk juga dalam menilai kualitas pendidikan keluarga, dan hal tersebut sangat mempengaruhi sikap orang tua Mulan. . Kode- kode semiotika tampak hadir dalam film Mulan sesuai dengan level representatif, level realita dan level ideologi. Film Mulan 2020 menunjukkan bahwa realita masyarakat masih menempatkan perempuan sebagai sosok yang berada di kelas kedua setelah laki-laki.

In this paper, the author is interested in analyzing the film Mulan which was made in 2020. Mulan 2020 “Loyal, Brave and True” is an American fantasy drama film produced by Walt Disney Pictures, one of the most popular film producing industries in the world. The film is directed by Niki Caro, with a screenplay by Elizabeth Martin, Lauren Hynek, Rick Jaffa and Amanda Silver. This film is a remake of the 1998 cartoon version of the film, which tells the story of female knights who were raised by Chinese culture. This paper was written using a qualitative descriptive analysis. The data taken from the observations through the film are then included in the categorization based on the semiotic aspects for later analysis using the Television Codes Fiske theory which divides it into three levels of observation, namely the level of reality, the level of representation and the level of ideological. the scene of Mulan with her mother, sister and matchmaker mother (Matchmaker). The matchmaker is a respected and powerful figure in traditional judgments about the good or bad qualities of a girl. This includes assessing the quality of family education, and this greatly affects the attitude of Mulan's parents. Semiotic codes appear to be present in the film Mulan according to the representative level, the level of reality and the level of ideology."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2022
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Kevy Dondy Arighy
"Stereotip adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Bentuk stereotip pun bermacam-macam, ada yang positif dan juga negatif. Dalam artikel jurnal ini akan ditunjukkan stereotip beberapa negara besar seperti Perancis, Spanyol, Jerman, Italia, dan Amerika Serikat yang ditampilkan pada film L 'Auberge Espagnole' karya C dric Klapisch. Penelitian ini menggunakan teori Stereotip Craig Mcgarty dan teori pengkajian film Joseph M. Boggs dan Dennis W. Petrie. Hasil dari penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa stereotip yang muncul, baik positif ataupun negatif, memberikan dampak yang signifikan terhadap kelangsungan hidup manusia, karena disukai atau tidak, stereotip merupakan salah satu alat bagi manusia untuk saling mengenal satu sama lain.

Abstract Stereotyping is an assessment of a person based only on perceptions of a group where people can be categorized. There are variety of stereotypes, the positive one and the negative one. This journal article shows stereotype of some big countries such as France, Spain, Germany, Italy, and the United States that are shown in the movie L 39 Auberge Espagnole by C dric Klapisch. This study use the stereotype theory of Craig Mcgarty and film analysis theory of Joseph M. Boggs and Dennis W. Petrie. The results obtained in this study shows that the stereotypes that arise, either positive or negative, have a significant impact on the survival of human beings, because like it or not, the stereotype is one of the tools for people to get to know each other.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2016
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Amalia Nur Syahputri
"Salah satu periode sinema yang mengutamakan isu sosial di Prancis adalah sinema Prancis kontemporer. Dalam periode ini, segala aspek yang mendukung perfilman di negara tersebut sudah berkembang ke arah yang lebih modern dan menarik perhatian banyak masyarakat. Salah satu filmnya adalah Entre Les Murs, sebuah film karya Laurent Cantet yang menceritakan kehidupan sehari-hari sebuah sekolah di banlieue Prancis. Dalam film ini, diperlihatkan bahwa muridnya terdiri dari berbagai macam ras yang memiliki permasalahannya masing-masing. Melalui permasalahan antarras di sekolah banlieue, film ini menunjukkan konflik sosial yang terjadi di Prancis. Penelitian ini membahas tentang kehadiran citra dan prasangka tokoh Souleymane yang memunculkan stereotip rasnya, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah menunjukkan bagaimana citra dan prasangka terhadap suatu individu atau kelompok dapat melahirkan sebuah konflik pada praktiknya. Penelitian ini menggunakan dua teori, yakni teori sinema (2008) oleh Dennis W. Petrie dan Joseph M. Boggs dan teori prasangka (2018) oleh Alo Liliweri untuk membantu analisis strategi naratif film Entre Les Murs dan pembentukan stereotip ras kulit hitam melalui citra dan prasangka terhadap tokoh Souleymane. Hasil dari penelitian ini adalah sikap dan citra negatif tokoh Souleymane memunculkan berbagai perspektif dan prasangka yang berujung pada pembentukan stereotip terhadap kelompok rasnya.

One of the periods of cinema that prioritized social issues in France is contemporary French cinema. In this period, all aspects that support film in this country have developed in a more modern way and attracted the attention of many people. One of the films is Entre Les Murs, a film by Laurent Cantet that tells about the daily life of a school in banlieue France. In this film, it is shown that the students consist of various races who have their own problems. Through interracial problems at the banlieue school, this film shows the social conflicts that occur in France. This study discusses the presence of images and prejudices of the Souleymane character which give rise to his racial stereotypes, so the purpose of this research is to show how images and prejudices against an individual or group can create a conflict in practice. This study uses two theories, namely the theory of cinema (2008) by Dennis W. Petrie and Joseph M. Boggs and the theory of prejudice (2018) by Alo Liliweri to help analyze the narrative strategy of the film Entre Les Murs and the formation of stereotypes of the black race through imagery and prejudice against the character of Souleymane. The result of this study is that a character of Souleymane’s negative attitude and image can create various prejudices and lead to the formation of stereotypes against his racial group."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Erlina Ekawati
"Pada masa Disney Renaissance, Disney telah mencoba untuk mendobrak stereotip gender yang telah melekat dengan mereka selama ini. Walaupun begitu, tidak dapat dipungkiri stereotip gender masih terpatri karena masyarakat telah diajarkan mengenai stereotip gender dari media sejak kecil. Hal ini juga terlihat pada dua film animasi adaptasi Disney The Little Mermaid (1989) dan Tangled (2010). Tulisan ini menganalisa berbagai streotip gender yang tersembunyi dalam kedua film tersebut dan bagaimana stereotip-stereotip tersebut tetap terlihat walaupun telah berusaha disembunyikan. Ada dua hal yang akan dianalisa dalam tulisan ini. Yang pertama penggambaran good woman dan bad woman menyimbolkan konsep beauty klasik. Yang kedua, penggambaran laki-laki, kejadian-kejadian di film serta lagu tetap memiliki kebiasan yang sama seperti dahulu. Hasil analisa film ini adalah film-film Disney tetap mengandung stereotip gender walaupun telah berusaha disembunyikan.

During the era of Disney Renaissance, Disney has been trying to break the gender stereotypes that have been closely related to them. However, it is undeniable that gender stereotypes are still imprinted because people have been fed by gender stereotypes from the show since they are young. It is also shown in two Disney adaptation animation movies titled The Little Mermaid (1989) and Tangled (2010). This writing examines various evidences of gender stereotypes that are hidden in both movies and how they are still seen although the creators have kept them hidden. There are two major points that will be examined in this paper. First, the depiction of good woman and bad woman is symbolizing the classical beauty concept. Second is the depiction of man, the act, and the song is still containing the same ‘rule’ as previous time. This paper is concluded by a statement that Disney’s movies are still containing gender stereotypes although they have been tried to be hidden.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S47303
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Raissa Rizkia
"Artikel ini membahas mengenai stereotip yang dilekatkan pada perempuan dalam lagu Victime de La Mode karya Mc. Solaar. Stereotip perempuan akan ditunjukkan melalui analisis isi menggunakan pendekatan struktural. Berdasarkan pendekatan struktural, teks lagu dianalisis dari segi makna. Analisis makna dilakukan dengan meneliti segi pragmatik dan segi semantik. Metode yang digunakan untuk analisis data adalah kualitatif. Makna didapat dari hasil analisis data dengan pemaknaan lirik lagu berdasarkan diksi. Hasil analisis data berdasarkan pemaknaan lirik lagu dikaitkan dengan konsep stereotip menurut David J. Schneider. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa stereotip yang melekat pada wanita adalah yang berkaitan dengan keindahan fisik dan mengabaikan logika dan kecerdasan intelektual. Perempuan terkungkung dalam sistem partriarkal yang membentuk nilai sosial. Nilai tersebut lantas disebarkan melalui beragam media sosial.

This article discusses about the stereotypes attached to women in Victime de La Mode song by Mc. Solaar. Stereotypes of women will be demonstrated through content analysis using a structural approach. Based on structural approach, the text is analyzed in terms of the meaning of the song. The analysis is done by examining the meaning of terms of pragmatic and semantic aspects. The method used for data analysis is qualitative. Meaning derived from the analysis of data with lyrics’ meaning by diction. The results of the data analysis are based on the meaning of the lyrics of the songs associated with the concept of stereotypes according to David J. Schneider. The results of this study indicate that the stereotypes attached to women are associated with physical beauty and ignore logic and intelligence. Woman trapped in patriarchal systems that shape social values and pass it through a variety of social media.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>