Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 183704 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Titi Winarsih Utami
"Penelitian ini dilakukan dengan latar belakang adanya fungsi sastra sebagai pujasastra terhadap raja dalam cerita cerita tradisi Jawa yang selama ini belum banyak dibahas secara spesifik. Peneliti tertarik untuk menemukan fungsi pujasastra dalam Babad Tanah Jawi sebuah karya sastra yang sangat populer dalam tradisi penulisan Jawa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah dalam Babad Tanah Jawi terdapat unsur manfaat sebagai pujasastra. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif analitis. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori analisis struktur cerita fiksi menurut Panuti Sudjiman 1988 dan fungsi babad menurut Kartodirjo 1968. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam salah satu bagian cerita Babad Tanah Jawi dengan sub judul Senapati kaliyan Nyai Rara Kidul terdapat fungsi pujasastra yaitu adanya usaha untuk memuja seseorang dalam cerita yaitu Panembahan Senapati.

This research was conducted with a background of literary functions as a pujasastra against the King in the Javanese tradition of stories that have not been much discussed specifically . Researchers interested in finding the function pujasastra in the Babad Tanah Jawi a literary work that is very popular in the tradition of writing Java. The purpose of this research was to find out whether there is in the Babad Tanah Jawi items benefit as pujasastra. Research methods the research methods used are analytical deskripstif. The theory used in this study is the analysis of the structure of the theory of fiction according to the Sudjiman Panuti functions according to the Chronicle of Kartodiredjo. The results of this research suggest that based on the intrinsic elements of analysis and extrinsic in one part of the story of the Babad Tanah Jawi with sub title of Senapati Kaliyan Nyai Rara Kidul is the function pujasastra which is an attempt to adore someone in the story namely Panembahan Senapati
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Mire Laksmiari Priyonggo
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1987
S11369
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Haryo Sundaru
"Penelitian ini mengangkat cerita cekak Dongenge Pakdhe Bab Lendhut Lapindo karya Koes Indarto yang dimuat dalam majalah mingguan berbahasa Jawa Panjebar Semangat edisi 1-3 Januari 2009. Analisis dilakukan terhadap unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam cerita cekak tersebut. Unsur-unsur intrinsik meliputi tokoh, alur, latar, serta mencakup tema, dan amanat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dan pendekatan intrinsik yang dikemukakan oleh Teeuw dalam buku Membaca dan Menilai Sastra. Hasil akhir dari penelitian ini adalah menjelaskan unsur-unsur intrinsik dalam cerita cekak tersebut sehingga saling berkaitan untuk membangun cerita tersebut.

This research raised the short story Dongenge Pakdhe Bab Lendhut Lapindo by Koes Indarto that published in Javanese language weekly magazine Panjebar Semangat edition January 1st – 3rd 2009. The analysis conducted on the intrinsic elements contained in the short story. Intrinsic elements include characters, plot, setting and included a theme, and a mandate. This research used a descriptive method of analysis and the intrinsic approach proposed by Teew in his book Membaca dan Menilai Sastra. The end of result of this research is to explain the intrinsic elements in the short story so interrelated to build the story.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Rochimah Ispartini
"Setelah meneliti alur dan penokohan dalam buku Pranacitra hasil transliterasi Balai Pustaka dan Roro Mendut versi Y.B. Mangunwijaya penulis dapat menyimpulkan bahwa:
Kedua karya ini mempunyai persamaan-persamaan dan per_bedaan-perbedaan, baik alur maupun dalam tokoh-tokohnya. Perbedaan dan persamaan-persamaan tersebut disimpulkan diba-wah ini.
Perbedaan judul terlihat pada kedua karya ini. Yang be_rupa transliterasi menggunakan judul Pranacitra (Rara Men_dut), sedangkan versi Mangunwijaya menggunakan judul Roro Mendut. Perbedaan ini disebabkan pengarang dalam Pranacitra ingin lebih menonjolkan tokoh Pranacitra. Hal itu juga ter_lihat dalam pembagian bab-babnya, banyak judul bab yang menggunakan nama tokoh Pranacitra. Pranacitra ditampilkan sebagai pahlawan yang berjuang membebaskan Rara Mendut demi pengorbanan dan kesetiaan terhadap gadis yang dicintainya.
Di dalam versi Y.B. Mangunwijaya, pengarang ingin me_nonjolkan tokoh Roro Mendut. Karena perjuangannya melawan kekuasaan dan pembelaannya terhadap rakyat kecil, ia diang-gap sebagai pahlawan oleh pengarang. Buku Pranacitra yang diterbitkan oleh Balai Pustaka ini tidak mencantumkan nama penulis atau pengarangnya. Pada waktu."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1984
S11164
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Turita Indah Setyani
"ABSTRAK
Siapa yang tak kenal tokoh Rara Jonggrang. Sebagai suatu tokoh cerita namanya diabadikan melalui satu bagian area yang terdapat dalam candi Prambanan. Rara Jonggrang adalah nama untuk satu tokoh perempuan. Melalui deskripsi fisik yang terdapat dalam teks cerita sudah dapat dipastikan bahwa Rara Jonggrang adalah tokoh cerita yang cantik. Pertanyaannya sekarang siapa sebenarnya tokoh tersebut citranya sebagai satu tokoh dalam teks naskah Babad Prambanan? Untuk menjawab pertanyaan ini secara lengkap bukanlah hal yang mudah diperlukan suatu penelitian yang besar dan lengkap. Untuk itu dalam penelitian yang agak terbatas ini akan diungkapkan bagaimanakah citra tokoh Rara Jonggrang berdasarkan satu sumber yaitu teks naskah Babad Prambanan tertentu pula.
Penelitian ini tidak dilakukan berdasarkan kerja filologi tetapi di sini justru memanfaatkan hasil kerja filologi dalam kepentingan selanjutnya yaitu penelitian sastra. Oleh karena itu yang dipentingkan disini adalah hasil penelitian terhadap isi teks naskah tersebut sebagai data penelitian sastra.
Rara Jonggrang adalah tokoh cerita yang sudah melegenda. Sebagai tokoh cerita yang sudah melegenda, keberadaannya di masyarakat sebagai individu yang nyata sangat dipercayai. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan apakah keberadaannya ini hanya merupakan simbol atau tanda atau lambang dari suatu peristiwa yang pernah terjadi di masyarakat ataukah ini merupakan sudut pandang masyarakat yang diserap oleh juru cerita dalam menghadapi situasi masyarakat. Yang jelas jawaban pertama diperoleh setelah membaca dan mengamati teks naskah Prambanan, Rara Jonggrang bukan tokoh utama cerita.
Ketika pengamatan terhadap tokoh Roro Jonggrang di dalam cerita yang muncul dari kemelut pergolakan perebutan kekuasaan antar kelompok-kelompok elit kesatrya yang memiliki kekuasaan pada jamannya.
Ketika tokoh Rara Jonggrang mulai muncul dalam cerita, tokoh ini sudah dibebani untuk membawa suatu misi yaitu pandangan tentang kedudukan perempuan dan peran perempuan dalam suatu kemelut kekuasaan. Citra yang diberikan pada tokoh Rara Jonggrang adalah sebagai tokoh yang tragis. Rara Jonggrang diibaratkan sebagai tokoh perempuan yang harus ditampilkan untuk mengakhiri suatu periode kekuasaan dari negri tertentu. Sebagai tokoh perempuan Rara Jonggrang memiliki deskripsi fisik yang lengkap, yaitu cantik, pandai dan sakti.
Tetapi gambaran pandai dan sakti ini diluluhkan oleh gambaran watak seorang perempuan yang diberikan kepada tokoh tersebut. Digambarkan dalam cerita untuk menghadapi kemelut situasi pada saat itu tokoh Rara Jonggrang digambarkan hanya mengandalkan kecantikannya saja, bukan kepandaian dan kesaktian. Dari sudut ini saja sudah dapat dipastikan betapa tragisnya tokoh Rara Jonggrang ini digambarkan dalam teks naskah Babad Prambanan tersebut.
Memang terlepas dari hasil pengamatan dan interpretasi setiap orang, tetapi inilah yang dapat ditemukan dari hasil pengamatan dan pembahasan terhadap cerita Rara Jonggrang yang ada dalam teks naskah Babad Prambanan.
"
Fakultas Ilmu Pengatahuan Budaya Universitas Indonesia, 1996
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Fadhila
"Penelitian ini membahas tentang analisis struktur yang terdapat di dalam cerita Rara Mendut Pasar Minggu karya Soeharsini Wisnoe. Cerita Rara Mendut Pasar Minggu merupakan cerita mengenai asmara segitaga antara Prastowo, Nuraini, dan Karsih. Dalam menganalisis cerita Rara Mendut Pasar Minggu menggunakan struktur pada alur, tokoh, dan latar kemudian menentukan tema. Penelitian ini menggunakan teori yang terdapat di dalam buku Panuti Sudjiman (Memahami Cerita Rekaan). Hasil analisis menyatakan bahwa tema utama yang terdapat di dalam cerita Rara Mendut Pasar Minggu mengenai cinta sejati.

This research study discuss about structure analyzis on the Rara Mendut Pasar Minggu story, created by Soeharsini Wisnoe. Rara Mendut Pasar Minggu story telling about the triangle romance in between Prastowo, Nuraini, and Karsih. To analyze Rara Mendut Pasar Minggu story, researcher used on plot structure, character, setting theory. So the theme will be known by Rara Mendut Pasar Minggu story. This research used theory of structure, that Panuti Sudjiman book_s (Memahami Cerita Rekaan). Researcher conclude that true love is the main themes of this story."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2010
S11483
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
"Naskah SJ. 184 ini diberi judul Serat Panji Wulung tot Pangeran Senapati, berisi teks sejarah bercampur legenda tentang kerajaan Majapait, Demak, Pajang (kisah Jaka Tingkir dan peperangannya dengan Arya Penangsang), hingga kerajaan Mataram pada masa Panembahan Senapati. Terselip pula di dalamnya kisah Ki Pandan Arang dan kisah Kalinyamat. Pupuh 24-72 dari teks naskah ini hampir sama dengan pupuh 72-121 naskah Babad Tanah Jawi FSUI/SJ.8, tetapi sangat berbeda dengan teks naskah Panji Wulung yang terdapat dalam Pratelan I: 495. Oleh karena itu dirasakan lebih tepat kalau judulnya diralat menjadi Babad Tanah Jawi dumugi Senapati. Data tentang penulisan maupun penyalinan tidak terdapat dalam naskah, mungkin sebenarnya tercantum pada bagian depan dan belakang yang kini telah hilang. Menurut keterangan di h.i, naskah ini diterima Th. Pigeaud dari Ir. Moens di Yogyakarta bulan Oktober 1927, dan dibuat ringkasannya oleh Suwandi pada bulan Mei 1929, tetapi keberadaan ringkasan tersebut kini tidak diketahui lagi. Daftar pupuh: (1) dhandhanggula; (2) megatruh; (3) kinanthi; (4) sinom; (5) pangkur; (6) maskumambang; (7) dhandhanggula; (8) mijil; (9) pangkur; (10) asmarandana; (11) sinom; (12) dhandhanggula; (13) asmarandana; (14) durma; (15) sinom; (16) asmarandana; (17) sinom; (18) dhandhanggula; (19) asmarandana; (20) pangkur; (21) dhandhanggula; (22) asmarandana; (23) pangkur; (24) sinom; (25) dhandhanggula; (26) asmarandana; (27) sinom; (28) pangkur; (29) dhandhanggula; (30) asmarandana; (31) kinanthi; (32) dhandhanggula; (33) durma; (34) asmarandana; (35) megatruh; (36) dhandhanggula; (37) sinom; (38) pangkur; (39) durma; (40) asmarandana; (41) pangkur; (42) dhandhanggula; (43) sinom; (44) asmarandana; (45) pangkur; (46) dhandhanggula; (47) asmarandana; (48) pangkur; (49) sinom; (50) asmarandana; (51) sinom; (52) asmarandana; (53) megatruh; (54) dhandhanggula; (55) sinom; (56) kinanthi; (57) mijil; (58) asmarandana; (59) pangkur; (60) megatruh; (61) durma; (62) dhandhanggula; (63) pangkur; (64) sinom; (65) asmarandana; (66) pangkur; (67) durma; (68) asmarandana; (69) sinom; (70) asmarandana; (71) durma; (72) dhandhanggula; (73) asmarandana; (74) dhandhanggula; (75) asmarandana; (76) dhandhanggula; (77) durma; (78) girisa; (79) asmarandana; (80) pangkur; (81) dhandhanggula; (82) pucung; (83) durma; (84) dhandhanggula ; (85) durma"
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
SJ.184-NR 3
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
Fiqih Zakiyah
"Bangsa Arab merupakan yang pandai membuat karya sastra terutana puisi. Puisi sudah dikenal oleh masyarakat Arab sejak zaman jahiliah hingga modern. Salah satu penyair terkenal zaman jahiliah adalah Maimun Aʻsya bin Qaisi (ميمون أعشى بن قيس) dikenal dengan sebutan Aʻsya Qaisi dengan puisi yang bertemakanMadaḥ (pujian). Puisi ini dibuat ketika Aʻsya memuji kedermawanan Muhallik kepada tamunya.Tujuan dari penelitian ini adalah menunjukan unsur instrinsik dan ekstrinsik puisi pada puisi madaḥ karya Aʻsya Qaisi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis struktur dan pendekatan secara objektif. Puisi mahdah karya Aʻsya Qaisi memiliki kelebihan yaitu keindahan kata-kata yang digunakan dengan mengguanakan majas simile atau pengulangan kata-kata. Puisi tersebut merupakan puisi zaman jahiliah sehingga masih terikat dengan aturan puisi seperti wazan atau Bahr.

Arab is a nation blessed with citizens talented in literature, especially poem. Poem has been known by Arabian people since the Jahiliah era up until this modern era. One of the most famous poets in Jahiliah era is Maimun Asya bin Qaisi (ميمون أعشى بن قيس). Also known as Aʻsya Qaisi, he made poems with Madaḥ (praise to God) theme. His poems are made when Aʻsya praised the generosity of Muhallik (Allah the Almighty) in front of his guests. The goal of this research is to show the intrinsic and extrinsic elements of Madaḥ poem in Aʻsya Qaisi’s works. The method used in this research is qualitative method with a structural analysis and an objective approach. Aʻsya Qaisi’s Mahdah poems have distinguishing feature. The words are chosen and arranged beautifully by using simile or repetition. Since they are made in Jahiliah era, the poems were using the era’s rule of how poems should be like, for instance like Wazan or Baḥr.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Kusuma Sari
"ABSTRAK
Galeri seni merupakan tempat dipamerkannya karya seni dan menjadi sarana bagi seniman dalam menyampaikan idenya kepada masyarakat publik. Karya seni memiliki makna yang merupakan representasi dari ide sang seniman. Dengan begitu, kontemplasi terhadap objek karya seni menjadi aktifitas utama yang ditemui dalam galeri seni. Skripsi ini membahas unsur intrinsik dan ekstrinsik yang mempengaruhi kegiatan kontemplasi terhadap karya seni. Kemudian, tulisan ini juga memperhatikan peran galeri saat ini dalam memperlakukan karya seni, serta aspek apa saja yang dipertimbangkan dalam merencanakan pameran seni sehingga atmosfer pameran yang sesuai dengan ide karya seni dapat dirasakan dan dipersepsikan oleh pengunjung.

ABSTRACT
Art gallery is a place to display artworks and as a vehicle for artists to convey their idea to public. An artwork has a meaning as the representation of the artist?s idea. Therefore, contemplation towards the object of an artwork becomes the main activity encountered in art gallery. This study explains the intrinsic and extrinsic elements in affecting contemplation activity towards artwork. Furthermore, this study also focuses on the role of gallery in treating artwork nowadays and what aspects might be considered in planning an art exhibition, in order that the atmospheric exhibition which is appropriate with the idea of artwork could be perceived by visitors."
2015
S59494
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Oscar Mulyadhi Nurfalah
"ABSTRAK
Jurnal ini membahas novel Bunga Roos Dari Cikembang karya Kwee Tek Hoay yang mengisahkan jalan hidup seorang keturunan Tionghoa, Ay Tjeng. Kehidupan Ay Tjeng selalu bersinggungan dengan para perempuan yang memiliki keterkaitan dengan budaya pernyaian; Martini, Gwat Nio, dan Roosminah. Para perempuan ini tidak digambarkan sebagai objek yang memiliki derajat lebih rendah, melainkan digambarkan bersifat baik, berbudi pekerti dan pandai. Penulis ingin mengungkap adanya pergeseran citra perempuan sebagai nyai melalui ketiga tokoh perempuan tersebut serta memperlihatkan gambaran budaya pernyaian pada zaman kolonial, khususnya di Jawa Barat, yang terlukis dalam cerpen Bunga Roos Dari Cikembang. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif analitis serta pendekatan sosiologi sastra. Pendekatan sosiologi sastra digunakan untuk mengetahui hubungan novel Bunga Roos Dari Cikembang dengan konteks dunia nyata. Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat pergeseran citraan perempuan sebagai nyai dan juga keturunannya dalam novel ini, berbeda dengan novel-novel Melayu Tionghoa sejenis yang mengandung unsur pernyaian.

ABSTRACT
This study discusses the novel Bunga Roos Dari Cikembang by Kwee Tek Hoay which tells the life of Chinese descent, Ay Tjeng. Ay Tjeng rsquo s life are always in contact with women who have cultural links with a nyai Martini, Gwat Nio, and Roosminah. These women are not portrayed as objects that have a lesser degree, but portrayed as a decent woman, well mannered and also smart. The author would like to reveal a shift in the image of women as a nyai and their offspring through the three female figures and showed a picture of a concubinage in colonial times, especially in West Java, which is illustrated in this story. This research was conducted with descriptive analytical method and approach of sociology of literature. Literary sociological approach is used to determine the relationship of the novel Bunga Roos Dari Cikembang with real world context. The research proves that there is a shift of images of women as a nyai and their offspring in this novel, in contrast to the other Malay Chinese novels with a similar content."
Fakultas Ilmu Pengatahuan Budaya Universitas Indonesia, 2016
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>