Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 183608 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Titin Delia
"Hipertensi disebut sebagai "silent killer disease" atau "penyakit pembunuh diamdiam" karena menyerang seseorang tanpa gejala. Sekitar satu miliar penduduk dunia menderita hipertensi dan setiap tahun terjadi 7,1 juta kematian terkait hipertensi. Sementara itu di Indonesia, hipertensi menduduki peringkat ketiga penyebab kematian utama untuk semua usia dengan proporsi (6,8%). Data Riset Kesehatan Dasar (2013) menyebutkan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar 25,8%. Penelitian ini membahas tentang perbedaan faktor risiko hipertensi pada wilayah prevalensi hipertensi tinggi dan rendah di Indonesia Tahun 2013. Hipertensi pada penelitian ini diambil dari hasil pengukuran tekanan darah pertama dimana responden hipertensi adalah yang mempunyai tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau diastolik ≥ 90 mmHg. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional, jumlah sampel sebanyak 62.371 anggota rumah tangga, di Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Bali dan Papua. Analisa hubungan dengan menggunakan uji chi square dan regresi logistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel yang berbeda dengan kejadian hipertensi pada wilayah prevalensi tinggi dan rendah di Indonesia adalah tingkat pendidikan. Pada wilayah prevalensi hipertensi tinggi, kejadian hipertensi dengan proporsi terbesar ada pada responden yang tidak/belum pernah sekolah (53,5%) sedangkan pada wilayah prevalensi hipertensi rendah ada pada tingkat pendidikan tidak Tamat SD/MI (25,3%). Oleh karena itu perlu diadakan penyuluhan secara rutin dan menyeluruh mengenai hipertensi.

Hypertension is called the silent killer because most of patients are being attacked without any symptoms. Based on NHNES, in last two decades shows that there is increase of hypertension of adults around 29-31% in US. In Indonesia, hypertension is the third rank leading cause of death for all ages and its proportion around 6.8%. Riskesdas 2013 has found the ranges about 25.8% of prevalence of hypertension in Indonesia. This study discusses the difference of hypertension risk factor between high and low prevalence 2013 at four provinces in Indonesia. The hypertension study described the results of first blood pressure measurement of respondents who have hypertension about systolic blood pressure ≥ 140 mmHg and diaslostic ≥ 90 mmHg. This research is quantitative using cross sectional design which has taken sample size around 62 371 household in four provinces (Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Bali and Papua). This study analysis used the chi square test and logistic regression. The result has figured out that incidence of hypertension between high and low prevalence at four regions in Indonesia because of education. High prevalence occurred to the largest proportion of respondents who do not go to school (53.5%). Meanwhile the lower region of prevalence occurred to respondents who have not completed elementary school (level SD/MI around 25.3%). Thus, there should be regular and comprehensive counseling about hypertension. It means the lower education respondent has, the higher hypertension happened.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
S55422
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riri Dwi Mastuti
"Skripsi ini membahas mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi staf kependidikan FKM UI Depok tahun 2014. Hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya umur, jenis kelamin, riwayat hipertensi keluarga, Indeks Massa Tubuh (IMT), lingkar pinggang, aktivitas fisik, kondisi stress, kebiasaan minum kopi, kebiasaan merokok, asupan lemak dan asupan natrium. Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi faktor risiko penyakit kardiovaskuer. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional yang dilakukan pada bulan April 2014. Terdapat 122 responden yang telah menyelesaikan pengisian, pengukuran dan wawancara kuesioner. Terdapat hubungan antara jenis kelamin, IMT, lingkar pinggang dan asupan natrium terhadap kejadian pre hipertensi dan hipertensi. Responden disarankan untuk melakukan pengukuran tekanan darah secara rutin dan olahraga secara teratur serta menjaga pola makan hidup sehat.

This thesis discusses the factors associated with hypertension educational staff FKM UI Depok 2014. Hypertension is influenced by several factors, including age, gender, family history of hypertension, body mass index (BMI), waist circumference, physical activity, stress conditions, coffee drinking habits, smoking habits, intake of fat and sodium intake. Hypertension is one of the noncommunicable disease risk factor cardiovascular disease. This study used quantitative research methods to design cross-sectional study conducted in April 2014. There were 122 respondents who have completed filling, measurement and questionnaire interview. There is a relationship between gender, BMI, waist circumference and sodium intake on the incidence of pre hypertension and hypertension. Respondents are advised to perform regular blood pressure measurements and exercise regularly and maintain a healthy life diet.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
S55698
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anis Kurniawati
"Stroke menjadi salah satu penyebab kematian utama di dunia sebesar 17,9 juta kematian dan prevalensi stroke secara global mencapai 101 juta kasus. Stroke hemoragik sendiri menyumbang angka 13% dari stroke keseluruhan dan di Indonesia tahun 2001 mencapai 18,5% dan perdarahan subarachnoid sebesar 1,4%. Namun, pasien stroke hemoragik memiliki kondisi lebih parah dengan risiko kematian yang lebih tinggi hingga 4 kali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipertensi dengan stroke hemoragik pada pasien rawat inap di RS Pusat Otak Nasional tahun 2022 setelah dikontrol variabel confounding. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan sampel yang diperoleh sebesar 1010 sampel. Variabel confounding yang dipakai dalam penelitian ini adalah obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, status pernikahan, jenjang pendidikan, pekerjaan, usia, dan jenis kelamin. Hasil penelitian ini menunjukkan jika terdapat hubungan signifikan antara hipertensi dengan stroke hemoragik (p=0,044) hingga 2,37 kali lebih tinggi dibandingkan pasien stroke yang tidak hipertensi setelah dikontrol variabel confounding. Pentingnya peningkatan kesadaran dengan melibatkan anak muda mengenai hipertensi dan stroke hemoragik perlu dilakukan. Selain itu, masyarakat diharapkan tetap menerapkan pola hidup sehat dan cek kesehatan berkala di Posbindu setempat terutama masyarakat yang memiliki hipertensi.

Stroke is one of the main causes of death in the world with 17.9 million deaths and the prevalence of stroke globally reaches 101 million cases. Hemorrhagic stroke itself accounts for 13% of all strokes and in Indonesia in 2001 it reached 18.5% and subarachnoid hemorrhage was 1.4%. However, hemorrhagic stroke patients have a more severe condition with a higher risk of death up to 4 times. This study aims to determine the relationship between hypertension and hemorrhagic stroke in inpatients at the National Brain Center Hospital in 2022 after controlling for confounding variables. The research method used was cross sectional with a sample of 1010 samples. The confounding variables used in this study were obesity, smoking habits, alcohol consumption, marital status, level of education, occupation, age and gender. The results of this study indicate that there is a significant relationship between hypertension and hemorrhagic stroke (p=0.044) up to 2.37 times higher than stroke patients who are not hypertensive after controlling for confounding variables. The importance of raising awareness by involving young people regarding hypertension and hemorrhagic stroke needs to be done. In addition, the community is expected to continue to adopt a healthy lifestyle and periodic health checks at the local Posbindu, especially people who have hypertension."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Aji Muharrom
"Stroke merupakan penyebab kematian tertinggi kedua di dunia maupun di Indonesia. Terdapat berbagai faktor risiko stroke baik yang dapat dimodifikasi maupun yang tidak. Hipertensi merupakan faktor risiko stroke yang paling penting yang dapat dimodifikasi. Namun demikian, masih belum jelas karakteristik hipertensi seperti apa yang paling berisiko terkena stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hubungan antara lamanya hipertensi, tekanan darah sistolik tertinggi yang pernah dicapai, serta kategori hipertensi dengan terjadinya stroke. Penelitian dilakukan menggunakan desain studi kohort retrospektif pada pasien usia lanjut penderita hipertensi di Poliklinik Geriatri RSUPN-Ciptomangunkusumo tahun 2012-2016. Terdapat 207 subjek yang diikutsertakan dalam penelitian ini, dengan 40 di antaranya tercatat menderita stroke. Analisis bivariat menunjukkan hubungan antara lamanya hipertensi dengan stroke p=0.046 , sementara tidak ada hubungan p>0.05 antara tekanan darah sistolik tertinggi yang pernah dicapai maupun kategori hipertensi. Hasil uji multivariat dengan penyesuaian terhadap variabel perancu mendapatkan hubungan antara lamanya hipertensi dan stroke dengan OR 2.019 1.004 ndash; 4.063;IK 95 . Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling berhubungan dengan terjadinya stroke adalah lamanya hipertensi.

Stroke is the second highest leading cause of death both in the world and in Indonesia. There are various modifiable and non modifiable risk factors of stroke. Among them, hypertension is a well established important stroke risk factor that is modifiable. However, it is unclear which characteristics of hypertension contributes most to the incidence of stroke. This study aimed to determine the association between duration of hypertension, highest systolic blood pressure, and hypertension stages with stroke incidence. A cohort retrospective study was done among elderly hypertensive patients in Geriatric Polyclinic of Ciptomangunkusumo National General Hospital between 2012 and 2016. From 207 subjects, there are 40 stroke incidences. Bivariate analysis showed association between duration of hypertension and incidence of stroke p 0.046 , while there is no association between stroke and either highest systolic blood pressure or hypertension stages. Multivariate analysis with adjustments for confounding variables showed association between duration of hypertension and stroke with OR 2.019 1.004 ndash 4.063 95 CI . From this result, it is concluded that duration of hypertension has the strongest association to stroke.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aan Syukrona
"Penyakit stroke merupakan penyebab kecacatan nomor satu dan penyebab kematian nomor tiga didunia. Pada saat ini stroke mulai menyerang kelompok usia dewasa muda. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor-faktor risiko stroke (hipertensi, diabetes mellitus, dislipidemia, dan merokok) terhadap kejadian stroke di RSUPN Cipto Mangunkusumo tahun 2013. Data penelitian menggunakan data sekunder rekam medis pasien stroke yang menjalani rawat inap di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo tahun 2013, dengan jumlah responden sebanyak 211 pasien. Pengolahan data menggunakan uji chisquare dan analisis regresi logistik. Jenis stroke terbanyak yaitu stroke iskemik sebesar 64,9%. Perbedaan proporsi faktor risiko yang bermakna (p value < 0,05) terhadap kejadian stroke iskemik didapatkan pada variabel hipertensi (p value = 0,000). Hasil analisis multivariat, didapatkan hipertensi sebagai faktor risiko utama, responden dengan hipertensi stage 1 memiliki risiko 2,64 kali lebih besar untuk mengalami stroke iskemik dibandingkan dengan responden yang tidak hipertensi (OR = 2,64; CI 95% = 1.073 ? 6,498). Tidak ada interaksi antara variabel independen dan umur didapatkan sebagai variabel konfounding.

Stroke disease is the leading cause of disability and the third cause of death in the world. Nowadays, stroke has started attacking young adults. The aim of this study is to analysis the relation of the risk factors of stroke (hypertension, diabetes mellitus, dislipidemia, and smoking) to stroke in RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo 2013. The research data use medical record of 211 hospitalized patients of stroke. The data analyzed by chi-square and logistic regression. The most incidence of stroke is ischemic stroke (64,9%). The proportional difference of risk factors to stroke which significant is hypertension variable. The result of multivariate analysis that the main risk factor of stroke is hypertension (p value = 0,000). Respondents with hypertension stage 1 has 2,64 times risk to get ischemic stroke. There is no interaction betwen independen variables and it has been found that age is a counfounding variable.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
T41740
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shela Rachmayanti
"ABSTRAK
Latar Belakang: Hipertensi dan diabetes melitus merupakan faktor risiko penyakit stroke yang paling dominan. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor risiko stroke, hipertensi dan diabetes melitus, dengan ketergantungan pasien stroke fase kronis di Departemen Rehabilitasi Medik RSCM. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode observasional analitik menggunakan studi potong lintang. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 44 yang dipilih berdasarkan sistem quota sampling. Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan uji bivariat Chi Square dan analisis multivariat uji Regresi Logistik. Hasil: Dari hasil uji Chi Square didapatkan faktor risiko hipertensi dan diabetes melitus terhadap nilai MSBI, bernilai p=0,122 dan p=0,002. Dari uji Regresi Logistik didapatkan faktor risiko hipertensi p=0,076 OR 4,076; IK95 0,861-19,297 dan faktor risiko diabetes melitus p=0,007 OR 22,690; IK95 2,332-220,722 terhadap nilai MSBI. Diskusi: Diabetes melitus merupakan faktor risiko utama yang menyebabkan ketergantungan berat pasien stroke fase kronis.

ABSTRACT
Background Hypertension and diabetes melitus are the most common risk factors of stroke. Objective The study aimed to determine the relationship between stroke risk factors, hypertension and diabetes melitus, with dependency of chronic stroke patients in Department of Medical Rehabilitation RSCM. Methods The study is conducted by using the analytical observational cross sectional study. The samples used in this study were 44 respondents selected by quota sampling method. The relationship between variabels was analyzed by bivariate test Chi Square and multivariate analysis Logistic Regretion. Results . Based on Chi Square test, relationship between MSBI scoring with hypertension and diabetes melitus as stroke risk factors, sequentiallly p 0,122 and p 0,002. Furthermore, Logistic Regression test suggested that hypertension and diabetes melitus as stroke risk factors related to MSBI scoring, respectively hypertension p 0,076 OR 4,076 IK95 0,861 19,297 and diabetes melitus p 0,007 OR 22,690 IK95 2,332 220,722 . Discussion Diabetes melitus is the most prominent risk factor in severe dependecy of chronic stroke patients."
2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Afifa Fahriyani
"Pendahuluan: Hipertensi dan diabetes adalah faktor risiko termodifikasi dari stroke, yang merupakan penyakit degeneratif penyebab disabilitas. Salah satu disabilitas tersebut adalah kelainan fungsi kognitif, yang dapat diidentifikasi oleh Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk meneliti ada/tidaknya hubungan antara hipertensi dan diabetes dengan skor MoCA-Ina. Metode: Subjek penelitian yang merupakan pasien Departemen Rehabilitas Medik RSCM. Studi dilaksanakan menggunakan metode observasi cross-sectional. Penilaian skor MoCA-Ina dilakukan oleh petugas kesehatan, sedangkan riwayat hipertensi dan diabetes mellitus diperoleh dari status rekam medik. Hasil: Didapati 28 subjek penelitian. Terdapat perbedaan median nilai MoCA-Ina antara kelompok hipertensi dan tidak 24,5 12-30 vs 20 29-21 p=0,226 , antara kelompok diabetes dan tidak 20,5 17-23 vs 25 12-30 p=0,037 , serta antara kelompok hipertensi disertai diabetes, dibandingkan dengan yang hanya memiliki salah satu atau tidak keduanya 20 17-23 vs 25 12-30 p=0,049 . Kesimpulan: Diabetes memiliki hubungan yang signifikan secara klinis maupun statistik terhadap skor MoCA-Ina, sedangkan hipertensi tidak. Terdapat hubungan yang juga berbeda bermakna antara kelompok pasien hipertensi disertai diabetes, dibandingkan dengan yang hanya memiliki salah satu atau tidak sama sekali.

Introduction Hypertension and diabetes are modifiable risk factors of stroke, a degenerative disease that cause disabilities. One of the disabilities is cognitive function impairment, which could be identified by using Montreal Cognitive Assessment Indonesia version. Aim This research aims to study whether there is any association between hypertension and diabetes with MoCA Ina score. Method The subjects in the study are patients of Physical Medicine and Rehabilitation Department of RSCM. This study was conducted using observational cross sectional study design. MoCA Ina assessment was done by the health workers, the hypertension and diabetes status information was derived from medical status. Result There was difference in MoCA Ina score median between group with and without hypertension 24,5 12 30 vs 20 19 20 p 0,226 , between group with and without diabetes 20,5 17 23 vs 25 12 30 p 0,037 , and also between groups that have both hypertension and diabetes, compared to the group that only have one or none of them 20 17 23 vs 25 12 30 p 0,049 . Conclusion Diabetes have significant association with MoCA Ina score, both statistically and clinically, while hypertension does not. There was also significant association between group that has both hypertension and diabetes, compared to group that has only one or none of them.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Stroke merupakan penyebab utama disabilitas kronis dan penyebab kematian urutan ke tiga terbanyak pada orang dewasa (Satyanegara, 1998). Menurut Lumbantobing (2001) stroke dapat terjadi pada setiap usia, dari bayi sejak lahir sampai pada usia lanjut. Makin tinggi usia seseorang makin banyak kemungkinan untuk terserang stroke. Sedangkan menurut Misbach (1999) usia terkena stroke antara 18 sampai 95 tahun, wanita lebih banyak dibandingkan pria, yaitu 53,8 : 46,2. faktor yang menimbulkan percepatan serangan stroke diantaranya usia dan jenis kelamin, sehingga sering digunakan sebagai referensi dalam pendidikan kesehatan pada pasien risiko stroke. Novianti (2000) yang meneliti hubungan faktor resiko usia dan jenis kelamin terhadap terjadinya serangan stroke didapatkan nilai koefisien korelasi ( r ) = 0,49 yang bermakna mempunyai hubungan yang rendah antara usia dan jenis kelamin pria. Hasil penelitian ini, peneliti menggunakan desain deskriptif perbandingan antara kelompok usia 20 sampai 89 tahun, dengan jumlah kelas = 7, kelompok wanita ( Y ) 39,61 dengan SDy 18,8. Uji statistik yang digunakan adalah uji independen didapatkan t hitung 4,14. Setelah ditunjuk pada tabel distribusi t pada nilai kemaknaan 0,05 dan df = 37, nilai kritisnya adalah 2,042, maka t hitung lebih besar dari t tabel (nilai kritis) atau p=a, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara faktor risiko usia dan jenis kelamin terhadapt serangan stroke."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2001
TA5047
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ruhaya Fitrina
"Latar Belakang: Ankle Brachial Index (ABI) merupakan pemeriksaan noninvasif sederhana dan akurat untuk penyaring dan diagnostik Penyakit Arteri Perifer (PAP). Nilai ABI abnormal merupakan prediktor penting terjadi aterosklerosis sistemik yang menjadi penyebab stroke dan penyakit kardiovaskuler. Nilai ABI rendah berhubungan dengan telah tezjadi aterosklerosis sistemik atau PAP. Setelah lima tahun kemudian 25-35% penderita PAP akan mendenita stroke atau infark miokard. Faktor risiko stroke iskemik yang berhubungan dengan proses aterosklerosis adalah hipertensi, dislipidemia, homosisteinemia, merokok, infeksi dan hiperglikemia.
Tujuan: Mengetahui gambaran nilai ankle brachial index pada penderita stroke iskemik di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Metode: Penelitian ini dilakukan menggunakan disain potong lintang deskriptif analitik pada 73 penderita stroke iskemik. Kemudian dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik umum, pemeriksaan neurologi rutin, pemeriksaan kadar total kolesterol darah, trigliserida, LDL, HDL, GDS, dan dilakukan pemeriksaan ABI. Pasien yang tidak memiliki CT scan / MRI kepala tidak masuk dalam penelitian.
Hasil: Dari 73 subyek penelitian didapatkan sebaran umur terbanyak pada kelompok umur 55-64 tahun (42,5%) dan sebagian besar subyek (78.1%) memiliki hipertensi. Proporsi nilai ABI abnormal pada penderita stroke iskemik adalah 26,0 %. Faktor risiko yang bermakna Secara Statistik dengan analisis bivariat adalah kadar total kolesterol darah p=0,039 dan umur p=0,034. Seclangkan hasil analisis multivariate menunjukkan bahwa kelompok umur merupakan faktor risiko independen yang bermakna terhadap nilai ABI abnormal dengan p-value 0,023 (OR 2,556; IK 95% 1,136-5,752).
Kesimpulan: Penderita stroke iskemik berumur lebih dari 55 tahun merupakan faktor risiko yang berhubungan terhadap kejadian nilai ABI abnormal. Sedangkan hiperkolesterolemia merupakan faktor risiko yang mempunyai hubungan yang bermakna dengan nilai ABI abnormal."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007
T21316
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Al Rasyid
"Unit Stroke (US) telah terbukti sangat baik dalam peawatan pasien stroke.Penelitian US pada tahitn 1990 menunjukkan hasil dengan peningkatan rata-rata kehidupan dan perbaikan status fungsionai pendetita dun menurunkan hari perawatan pasien, Di Indonesia US masih bum sehingga penelitian tentang tatalaksana perawatan dl US sangat diperlukan.
Penelitian ini dilakukan untuk evaluasi manfaat US sebagai perawatan pasien stroke khususnya perbaikan status fungsional pasien dibandingkan perawatan pasien di Sudut Stroke Bangsal Umum Neurologi. Hasil penelitian menunjukan perbaikan status fungsionai stroke (Skor NIHSS) baik di US maupiin di Sudut Stroke Bangsal Neurologi Umum.Data memperlihatkan penumnan nilai NIHSS yaitu 17,35 tnenjadi 5,31 sedangkan di Sudut stroke 13,83 menjadi 8,87. Dengan menggunakan Independent t-test,penurunan NIHSS di US signifikan dibandingkan sudut stroke di bangsal neurologi umum. (MedJ Indones 2006; 15:30-3).

Stroke unit has been believed us the best institutional care for stroke patients. Recent researches in 1990s indicated thai stroke units can produce increasing survival rate and improving the functional state of the patients which can reduce the need for institutional care after stroke. In Indonesia, stroke unit is still new. Because stroke unit has educational role beside its clinical importance, the research about stroke unit especially in its value in managing stroke patients in Indonesia is needed.
This study was evaluated the effectiveness of stroke unit care in managing stroke patients especially in improving the functional state of the patients in compared with conventional care of stroke corner in general neurology ward. This study indicated that both stroke unit (SU) and stroke corner in general neurology ward (SC) shows reduction in NIHSS score. In Stoke Unit, the reduction of NIHSS was 17.35 to 5.31 while in Neurology ward from 13.83 to 8.87. Using independent t-test, the reduction of NIHSS in stroke unit is more significance compared with stroke corner in general neurology ward (p=0,000). (Med J Indones 2006; 15:30-3).
"
[place of publication not identified]: Medical Journal of Indonesia, 15 (1) Januari-March 2006: 30-33, 2006
MJIN-15-1-JanMarch2006-30
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>