Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 28070 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rustam
"Tujuan penelitian ini adalah menentukan konstrak keterampilan mengajar mahasiswa Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Survei. Sampel penelitian diambil melalui teknik proportionale random sampling sebesar 640 mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Terbuka
yang mengajar di kelas nyata di sekolah dasar. Pengumpulan data menggunakan metode observasi. Data dianalisis menggunakan aplikasi Analisis Faktor Konfirmatori (AFK). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konstrak keterampilan mengajar dibentuk oleh perencanaan pembelajaran, mengelola kegiatan pembelajaran, mengelola iklim kelas, mendemonstrasikan penguasaan materi pembelajaran, melakukan asesmen, dan melakukan refleksi. Kajian ini menyimpulkan bahwa keenam faktor tersebut secara empiris terbukti akurat, konsisten dan memiliki ketepatan dalam mengukur konstrak keterampilan
mengajar mahasiswa program PGSD."
Depok: Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas, 2015
370 JPK 21:3 (2015)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
M. Priyanto
"Kajian pemerataan guru sekolah dasar ini bertujuan untuk memetakan kondisi ketercukupan jumlah guru SD secara kuantitatif di berbagai wilayah provinsi di Indonesia, pasca peraturan bersama 5 meneteri pada tahun 2011. data dari kajian ini berasal dari 122 sekolah sampel dari 24 provinsi. survei dilaksanakan pada tahun 2012. hasilo kajian menunjukkan bahwa dari 122 sekolah sampel, sebanyak 15 sekolah (12,30-%) masih mengalami kekurangan (shortage) dalam ketersediaan guru SD, sedangkan 87,70% lainnya cukup memadai jumlah gurunya atau bahkan surplus. bahkan diwilayah pulau jawa, kondisi kekurangan jumlah guru juga ditemukan, yaitu pada beberapa sekolah sample di wilayah Provinsi Banten. SD sample yang mengalami kekurangan jumlah guru terbesar yekni SDN 1 Bukit Harapan, Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah denag kekurangan jumlah guru sebanyak 6 orang, dan SD sample dengan jumlah surplus guru terbesar yaitu SD Muhammadiyah, Tenggarong, Kalimantan Utara dengan surplus guru sebanyak 31 orang"
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014
507 JDSP 2:1 (2014)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Peran pendidik guru menjadi lebih dan lebih penting dalam memenuhi kebutuhan guru profesional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia #14/2005 tentang Guru dan Dosen. Agar dapat mendidik guru profesional dan calon guru, pendidik guru sendiri harus profesional, dan memiliki kemauan untuk terus mengembangkan profesionalisme. Mengembangkan profesionalisme adalah suatu keharusan bagi pendidik guru, karena empat alasan: (1) sifat profesionalisme, (2) perkembangan pesat ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, (3) paradigma pembelajaran seumur hidup, dan (4) permintaan Hukum #14/2005 tentang Guru dan Dosen. Namun data pada pendidik guru dari Lembaga Pendidikan Guru beberapa menunjukkan bahwa tidak semua pendidik guru menunjukkan kesediaan untuk mengembangkan profesionalisme. Oleh karena itu, pengembangan profesionalisme harus didorong oleh semua pihak yan terkait dengan guru dan pendidik guru. Ada banyak kegiatan yang dapat dialami oleh pendidik guru dalam rangka mengembangkan profesionalisme, beberapa diantaranya adalah: mengambil studi lebih lanjut, mengambil kursus yang relevan, refleksi diri secara teratur, bergabung dengan kegiatan akademik (seminar, lokakarya, pelatihan, dll), pengenalan sekolah, melakukan penelitian, dan penerbitan artikel ilmiah."
JPUT 13:1 (2012)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Abdul Kahar Yoes
"ABSTRAK
Upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah merupakan prioritas utama pembangunan nasional di sektor pendidikan, karenanya sangat dibutuhkan tenaga guru yang secara profesional ditugaskan secara penuh untuk melaksanakan pendidikan di sekolah. Dan untuk menjamin pembinaan karir guru yang berstatus PNS, sejak 2 Mei 1989 melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dikeluarkan dan diberlakukan Keputusan MENPAN nomor 26 1989 tentang Angka Kredit
Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dan disempumakan menjadi Keputusan MENPAN nomor 84/1993), sebagai suatu sistem penilaian prestasi kerja guru PNS, guna menentukan kenaikan pangkatl jabatan setingkat diatas pangkat/jabatan sebelumnya.
Sejak diberlakukan secara efektif pada periode kenaikan pangkat per-Oktober 1990 s.d. Juli 1992 (4 semester), terdapat 22,47 % dari 44.313 orang guru PNS di DKI Jakarta yang telah memanfaatkan angka kredit jabatan guru (AKJG) untuk kenaikan pangkatljabatan-nya. Keadaan ini menggelitik keingin-tahuan penulis untuk mengungkap dan meneliti lebih lanjut faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena tersebut diatas, yang secara khusus ingin memperoleh gambaran mengenai sikap guru PNS terhadap butir butir kegiatan profesional berdasarkan AKJG, dan sekaligus ingin melihat hubungannya dengan penilaian dirinya tentang prestasi kuantitatifnya.
Dengan mempelajari sikap guru PNS terhadap butir-butr kegiatan profesional bedasarkan AKJG, diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan prediksi derajat penilaian diri tentang prestasi kuantitatifnya, yang selanjutnya diharapkan akan diperoleh Iangkah-langkah positif yang dapat disumbangkan sebagai sumbangan pemikiran, guna mencapai tujuan yang lebih besar lagi, yakni peningkatan mutu pendidikan di sekolah.
Untuk mempermudah pelaksanaan analisis terhadap hasil penelitan, dipergunakan teknik multiple regression dengan bantuan program SPSS, yang dilakukan juga terhadap uji reliabilitas dan validitas konstruk alat ukur penelitian, setelah dianalisis dengan program SPS (serf program statistik ), modul analisis butir (item analysis).
Secara umum hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukan bahwa hipotesa yang mengatakan adanya hubungan yang signifikan antara sikap terhadap butir-butir kegiatan profesional berdasarkan AKJG dengan penilaian dirinya tentang prestasi kantitatifnya, belum terbukti kebenarannya.
Namun secara khusus penelitian ini berhasil mengungkapkan bahwa sikap guru terhadap butir-butir kegiatan profesional guru sebagaimana dimaksud sistem AKJG cukup positif , namun sikap yang positif tersebut tidak bisa dijadikan sebagai prediktor bagi penilaian dirinya tentang prestasi kuantitatifnya. Mengingat penelitian yang berkaitan dengan sistem AKJG ini praktis belum ada, karenanya penulis menganggap perlu ada penelitian lanjutan, yang mampu mengungkap pola nilai dan persepsi yang berkembang di lingkungan guru PNS terhadap sistem AKJG secara keseluruhan ini, karena nilai merupakan faktor dominan dalam pembentukan sikap dan motivasi individu. Disamping itu juga disarankan kepada instansi yang bertanggung jawab terhadap pembinaan karir guru dalam rangka peningkatan kemampuan profesional guru agar dapat mengembangkan model-model yang efektif dan efisien dalam mensosialisasikan sistem AKJG, misalnya dengan melibatkan secara aktif guru sebagai subyek penilaian didalam menentukan ukuran dan kriteria yang tepat.
"
1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ekawarna
"ABSTRAK
Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah, hubungan antara persepsi terhadap karakteristik pekerjaan dengan kepuasan kerja pada guru SMPN di Kotamadya Jambi. Landasan yang digunakan untuk menjelaskan variabel penelitian mengacu kepada teori Hackman & Oldha (1974). Menurutnya karakteristik pekerjaan adalah sifat-stfat khusus yang selalu ada dalam suatu pekerjaan, yang terdiri dart lima dimensi inti yaitu variasi ketrampilan, identitas tugas, keberartian tugas, otonomi dan umpan batik.
Sedangkan kepuasan kerja adalah perasaan umum (sebagai pernyataan sikap) dari individu apakah memuaskan dan membahagiakan dengan pekerjaannya itu sendiri. Berdasarkan unsurnya kepuasan kerja melingkupi kepuasan kerja dan kepuasan kerja khusus seperti kepuasan tarbadap kesabaran kerja, kepuasan terhadap penghasilan, kepuasan terhadap hubungan sosial, kepuasan terhadap atasan dan kepuasan terhadap kesempatan untuk tumbuh kembang.
Yang menjadi mediator hubungan antara karakteristik pekerjaan dengan kepuasan kerja adalah kondisi psikologis kritis, yaitu kondisi yang menunjukkan kesiapan individu untuk merespon secara positif terhadap tugas yang di.lakukannya, yang terdiri dari kondisi keberartian pekerjaan yang diakibatkan oleh persepsi terhadap variasi ketrampilan, identitas tugas dan keberartian tugas, kondisi tanggung jawab pekerjaan sebagai akibat dari dimensi otonomi dan kondisi pengetahuan hasil kerja sebagai akibat dari dimensi umpan batik.
Teori di atas memprediksi bahwa individu yang memiliki Growth Need Strength (GNS) tinggi akan merespon secara positif terhadap pekerjaan yang sudah didesain dengan lima dimensi inti, sedang individu yang memiliki GNS rendah akan bereaksi negatif bahkan pekerjaan yang telah didesain memenuhi karakteristik pekerjaan akan menjadi sumber kacemasan (anxiety).
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi berdasarkan data empiris mengenai besaran dan arah hubungan antara karakteristik pekerjaan dengan kondisi psikologis kritis dan dengan kepuasan kerja back dengan mengabaikan maupun memperhatikan GNS-Tinggi. Bila tujuan ini dapat dicapai, maka informasi ini Akan bermanfaat balk secara teoritis maupun secara praktis.
Data penelitian diambil dengan teknik kuesioner dengan adaptasi kuesioner Job Diagnostic Harvey {JDS) Hackman & Oldham yang.telah teruji baik kesahihannya maupun keterandalannya dari sampel penelitian sebanyak 382 orang berasal dart 21 SMP Negeri di Kotamadya Jambi. Pengolahan dan analisis data menggunakan jassa program komputer dari Paket SPS/PC+ (Statistical Package for Social sciences) dari Karija J. Aorusis, versa ISM PC/XT/AR'/1986, antara lain analisis varian, analisis korelasi, dan analisis regeresi."
1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suhairi As
"Penelitian ini berangkat dari pemikiran bahwa Sekolah Dasar merupakan dasar (fundamen) yang akan memberikan corak, warna, serta arah bagi pendidikan pada tingkat selanjutnya. Faktor utama yang berpengaruh terhadap mutu pendidikan di tingkat Sekolah Dasar ini adalah guru. Karena itu perhatian yang mendalam terhadap mutu guru sebagai "human faktor" merupakan keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Penelitian ini mengkaji hubungan antara kinerja mengajar dengan penguasaan psikologi pendidikan, indeks prestasi, dan mengajar mengingat secara teoritik ketiga aspek tersebut sangat erat kaitannya dengan mutu kinerja mengajar guru. Pentingnya penguasaan psikologi pendidikan karena keterkaitannya yang erat dengan kinerja mengajar sebagai landasan teoritik kepengajaran. Sementara indeks prestasi dan pengalaman merupakan faktor yang dapat lebih memantapkan kualitas kinerja mengajar khususnya pada guru-guru Sekolah Dasar.
Berdasarkan kajian teoritik diajukan empat hipotesis guna dibuktikan kebenarannya. Penelitian ini dilakukan pada guru-guru yang mengajar di Sekolah Dasar Negeri yang telah berpengalaman mengajar ± 5 tahun. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:
1. Dilihat dari sisi penguasaan psikologi pendidikan, ternyata terdapat hubungan yang positif dan signifikan dengan kinerja mengajar, namun tingkat penguasaan psikologi pendidikan pada guru-guru SD masih nisbih rendah.
2. Indeks prestasi juga mempunyai hubungan dengan kinerja mengajar. Seperti halnya penguasaan psikologi pendidikan, guru-guru SD lulusan SPG pada umumnya memiliki IP sedang.
3. Pengalaman mengajar tidak memiliki hubungan dengan kinerja mengajar. Artinya meskipun guru tersebut telah mengajar puluhan tahun tetapi tidak mengakibatkan meningkatnya kualitas kinerja mengajarnya.
Dari temuan-temuan tersebut diajukan saran agar pengajaran psikolog pendidikan di lembaga pendidikan guru lebih ditingkatkan, mengingat pentingnya pelajaran tersebut sebagai dasar untuk melakukan tugas-tugas kepengajaran. Sedangkan untuk indeks prestasi, disarankan agar kehadiran PGSD dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajarnya, hingga kelak lulusan PGSD memiliki IP yang tinggi yang sekaligus memproyeksikan kualitas profesional guru SD.
Sementara yang berkaitan dengan pengalaman mengajar, disarankan agar pembinaan karier guru SD mengacu pada upaya menjadikan guru SD sebagai profesi yang bermutu tinggi dengan segala aspek keprofesionalannya. Upaya-upaya yang harus dilakukan adalah memantapkan sistem supervise yang objektif. Penataran-penataran yang dilakukan harus melalui analisis yang cermat terhadap kebutuhan nyata di lapangan, sehingga penataran akan mempunyai nilai implikasi yang tinggi.Selain itu perlu diadakan penelitian pengembangan, dengan memperluas jangkauan sampel, penggunaan metode yang lebih cermat dan terpadu, alat ukur yang Baku, dan memanfaatkan penelitian ini sebagai bahan masukan dalam upaya meningkatkan kualitas guru Sekolah Dasar."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1992
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mira Maulia
"Pendidikan inklusif menuntut guru untuk berinteraksi tidak hanya dengan siswa reguler namun juga siswa berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara sikap guru terhadap pendidikan inklusif dan manajemen kelas, serta mendapatkan gambaran manajemen kelas seperti apa yang dilakukan guru di kelas inklusif. Sejumlah 40 guru kelas dari delapan Sekolah Dasar Negeri Inklusif di Depok terlibat dalam penelitian ini. Sikap guru terhadap pendidikan inklusif diukur menggunakan MATIES-VI dan manajemen kelas diukur melalui alat ukur manajemen kelas. Untuk melihat perilaku manajemen kelas guru, dilakukan observasi melalui video rekaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara sikap guru terhadap pendidikan inklusif dan manajemen kelas dengan nilai korelasi r sebesar 0,475 ? < 0,01 . Sementara hasil observasi memperlihatkan bahwa perilaku manajemen kelas guru lebih sering muncul pada dimensi format pembelajaran.

Inclusive education requires teachers to interact not only with regular students but also special educational need SEN student. This study aims to determine whether there is a relationship between the teachers rsquo attitudes towards inclusive education and classroom management, and also get an overview about classroom management that teachers actually do in inclusive classroom. 40 teachers from eight Inclusive Public Primary School in Depok has been willing to engage in this research. The attitude of teachers towards inclusive education is measured using the MATIES VI and classroom management is measured by classroom management instrument. To view the teachers rsquo classroom management, observations was done through the video footage.
The results showed that there is a significant relationship between the teachers rsquo attitude towards inclusive education and classroom management with a value of correlation r of 0,475 at 0,002 significance 0,01 . While the results of observations show that teachers rsquo classroom management behavior occurred more frequently in learning format dimension.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2016
T47342
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"This research was aimed to access the quality of non printed learning materials especially video as a suplement for learning modules offered by undergraduate study program of early childhood education (PGPAUD). Data were collected by using questionnaire with 86 closed-ended questions and one open-ended question. Students in their third, forth, and fifth semester from Jakarta, Serang, and Bandung were taken as samples. Among 90 questionnaires distributed, about 69 (76.67%) were returned. Descriptive analysis was employed in this researched. It was conclude that the technical quality of the Video Program including sounds, colors, packaging, duration, captions, utilizations, and documentation, were good. The quality of instruction in that video was good as well. In addition, the Video Program was useful for them as kindergarten teachers. However it was stated that the video Program was only a little helps in doing their course examination. Meanwhile, the average students' score for this subjects is B and C."
JPUT 12:2 (2011)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Teacher has an important role in teaching and learning process. We can appreciate that a teacher will success in playing their role when their students get knowledge and have good character. Related to the problem, a teacher should improve herself both knowledge about teaching skill and character. One of the way is group descussion. The effectivity of teacher's group discussion can implied in teaching and learning process. And it influences student's characters."
Padang Panjang: Dinas Pendidikan Kota Padang Panjang,
370 JGR
Majalah, Jurnal, Buletin  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>