Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 117194 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rifalisanto
"ABSTRAK
LATAR BELAKANG. Kecepatan berjalan jarak pendek merupakan pengukuran yang reliabel untuk menilai risiko jatuh dirumah sakit pada pasien usia lanjut. Dengan adanya penurunan kecepatan berjalan pada usia lanjut yang dipengaruhi oleh berbagai risiko jatuh dan besarnya masalah yang ditimbulkan oleh jatuh maka, perlu dilakukan penelitian. Saat ini belum ada penelitian yang menghubungkan korelasi antara kecepatan berjalan dengan besarnya risiko jatuh pada usia lanjut di Indonesia.
METODE. Penelitian deskriptif analitik dengan periode sewaktu. Pada pasien usia lanjut dengan risiko jatuh ringan dan sedang secara consecutive sampling. Penilaian risiko jatuh dengan Berg Balance scale, kemudian dilakukan pemeriksaan kecepatan berjalan 10 meter. Penilaian korelasi Berg Balance scale dengan kecepatan berjalan. Menentukan hubungan antara kategori kecepatan berjalan dengan kategori risiko jatuh dilakukan uji Chi Square sehingga dapat menghitung Crude Odds Ratio dan adjusted Odds Ratio.
HASIL. Terdapat korelasi positif sedang yang bermakna secara statistik antara nilai Berg Balance Scale dengan kecepatan berjalan (r=0,492, p<0,001). Terdapat perubahan Odds Ratio ≥ 10 % untuk variabel usia (11,6 %), jenis kelamin (18,48%) dan status gizi (10,16%) menunjukkan semua variabel merupakan variabel perancu untuk variabel kecepatan berjalan.
KESIMPULAN. Terdapatnya korelasi sedang antara Berg Balance Scale dengan kecepatan berjalan pada usia lanjut. Terdapat hubungan antara kecepatan berjalan dengan risiko jatuh pada usia lanjut.

ABSTRACT
BACKGROUND. One in three elderly falls each year and cause many complication. The most common etiology of falls in elderly is balance disorder that will reduce their walking speed. Short walking distance is a reliable measurement for assessing the risk of falls in hospital for elderly patients. This study is purposed to assess the correlation between the walking speed and the magnitude of the risk of falls in elderly people.
METHOD. Descriptive analytic research with cross-sectional method and consecutive sampling in mild and moderate risk of fall elderly patients. Risk of falls was assessed using Berg Balance Scale and walking speed using 10 meters distance walking test. Spearman correlation analysis test between Berg Balance Scale compare and walking speed. Chi Square Test to determine the correlation between confounding variable with walking speed category and category risk of falls.
RESULTS. There is a statistically significant positive moderate correlation between the Berg Balance Scale and walking speed (r = 0.492, p <0.001). There is a change of more than 10% of the odds ratio for the age (11.6%), sex (18.48%) and nutritional status (10.16%) which showed that all the variables are the confounding variable for walking speed.
CONCLUSION. The presence of moderate correlation between the Berg Balance Scale and walking speed in the elderly. There is a relationship between walking speed and the risk of falls in the elderly."
2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
A Peni Kusumastuti
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1994
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nasir Djalili
"Pengertian hubungan Kecepatan - Arus - Kepadatan adalah sangat penting untuk perencanaan, perancangan dan operasi dari fasilitas pejalan kaki, disana banyak kesamaan antara phenomena arus dari kendaraan dan pejalan kaki. Tujuh model diterapkan untuk mencari model terbaik dalam hubungan Kecepatan - Arus - Kepadatan aliran pejalan kaki dengan mengunakan fasilitas pejalan kaki berupa trotoar, 7 model tersebut terdiri dari 3 model aliran tunggal (single-regime model) yaitu : Greenshields, Underwood dan Greenberg dan 2 model aliran berganda (multi-regime model) yaitu : Greenberg dan Edie, berdasarkan kondisi yang dihadapi dilakukan pengembangan model yang sesuai dengan kondisi (U . I Depok model) diterapkan baik untuk single regime model maupun multi regime model.
Lokasi pengamatan berada didepan stasiun kereta api di Kampus UI Depok, dengan mengunakan kamera video yang ditempatkan pada ketinggian ± 5,50 meter dari muka tanah. Dan 7 model tersebut didapat 5 model yang terbaik dan realitis. Kondisi single regime model diwakili oleh model : Greenshields dan Underwood, sedangkan multi regime model diwakili oleh ketiga model yaitu : Greenberg, Edie dan modifikasi UI Depok model. Kesesuaian model tersebut diuji berdasarkan kondisi hubungan antara Kecepatan - Kepadatan dan berdasarkan hasil pengujian t dan uji F satistis.
Dari hasil pengujian diperoleh Greenshields model adalah model terbaik untuk single regime model, dikarenakan Underwood mempunyai kelemahan dalam menentukan besarnya kepadatan macet atau maksimum (jam density) hasilnya kurang realitis dan hasil uji t menunjukan kurang memenuhi syarat. UI Depok model adalah model terbaik untuk multi regime model dengan memperhitungkan standard kesalahan yang paling minimal dan hasil uji t terbaik dari 2 multi regime model lainnya."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Desak Made Widyanthari
"ABSTRAK
Salah satu penatalaksanaan Diabetes Melitus (DM) tipe II adalah melakukan
latihan fisik jalan kaki karena latihan dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan
menurunkan resistensi insulin. Di Indonesia belum ada penelitian mengenai
pengaruh jalan kaki continue dan interval untuk menurunkan glukosa darah pasien
DM Tipe II. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jalan kaki
continue dan interval terhadap glukosa darah pasien DM tipe II. Desain penelitian
ini quasy eksperimen pre post test non equivalent control group, dengan jumlah
sampel 39 orang, terbagi 13 orang pada tiga kelompok. Hasil penelitian dengan
uji paired t test didapakan perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa
sebelum dan setelah intervensi pada kelompok jalan kaki continue dan interval (p
=0,0005), tidak terdapat perbedaan signifikan pada kelompok kontrol. Analisis
menggunakan uji Anova didapatkan perbedaan kadar glukosa darah setelah
intervensi antar kelompok. Terdapat perbedaan selisih kadar glukosa darah
sebelum dan setelah intervensi antar kelompok. Penelitian ini membuktikan
bahwa jalan kaki continue dan interval mampu menurunkan kadar glukosa darah
pada pasien DM tipe II, namun penurunan glukosa darah yang lebih signifikan
terjadi pada kelompok jalan kaki continue.

ABSTRACT
Walking exercise becomes one of treatments on type II diabetes mellitus
management, since it improves insulin sensitivity and decrease insulin resistance.
There are no studies in Indonesia investigate the effects of continue and interval
walking exercise on lowering blood glucose level in type II DM patients. This
study aimed to determine the effect of continue and interval walking on glucose
level in type II diabetic patients. This study design was quasy experiment pre post
test non-equivalent control group with 39 persons , divided into 13 persons in
three groups. The result showed that there were significant differences between
glucose levels before and after the intervention in continue and intervals groups (p
= 0.0005), but there was no significant difference in control group. Analysis using
ANOVA test revealed difference in blood glucose levels between groups after
intervention, thus there was difference in mean difference blood glucose levels
before and after the intervention between groups. Both exercise protocols resulted
in a decline blood glucose levels, however the decline was greater with continous
walking compare with interval walking."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T36735
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Daniel Hadimartana
"Tesis ini disusun untuk mengetahui efektifitas alat ukur Modified Mobility Interaction Fall Chart (Modified MIF Chart), sebagai alat ukur untuk menapis risiko jatuh, khususnya pada populasi lansia di panti wreda. Desain penelitian adalah cohort prospective dengan menilai komponen performa fisik menggunakan Stop walking when talking (SWWT) dan Difference Time Up and Go (DiffTUG), komponen fungsi visual yang menilai ketajaman penglihatan dengan Snellen chart, dan komponen kognisi yang dinilai menggunakan Montreal Cognitive Assesment versi Bahasa Indonesia (MoCA-INA) pada awal studi dan ditentukan tingkat risiko jatuh. Didapatkan subjek penelitian (n=111) yang menyelesaikan Modified MIF Chart kemudian dilakukan observasi kejadian jatuh selama tiga bulan. Terdapat 12 (10,8%) kejadian jatuh dari seluruh subjek. Terdapat perbedaan bermakna (p=0,038) antara kelompok risiko jatuh tinggi yang mengalami kejadian jatuh sebanyak 8 (18,6%) dibandingkan 4 kejadian jatuh (5,9%) pada kelompok risiko jatuh rendah dengan AUC 0,657 (95% CI: 0,49-0,82). Didapatkan sensitifitas dan spesifisitas Modified MIF chart secara berurutan adalah 64,6% dan 66,7%. Kesimpulan penelitian ini adalah Modified MIF Chart dapat digunakan sebagai alat penapis risiko jatuh pada lansia di panti wreda, tetapi tetap perlu memperhatikan faktor-faktor risiko jatuh internal dan eksternal lain yang belum dinilai oleh Modified MIF Chart.

This thesis is designed to determine the effectiveness of the Modified Mobility Interaction Fall Chart (Modified MIF Chart) as a tool to screen the risk of falls, especially in the elderly population in nursing homes. The research design was a prospective cohort by assessing the physical performance components using Stop walking when talking (SWWT) and Difference Time Up and Go (DiffTUG), a visual function component that assessed visual acuity using a Snellen chart, and a cognitive component assessed using the Montreal Cognitive Assessment. Indonesian language version (MoCA-INA) at the start of the study and the level of risk of falling was determined. Obtained research subjects (n = 111) who completed the Modified MIF Chart then observed the fall for three months. There were 12 (10.8%) incidence of falls for all subjects. There was a significant difference (p = 0.038) between the high risk group who experienced falls as much as 8 (18.6%) compared to 4 falls (5.9%) in the low risk group with AUC 0.657 (95% CI: 0, 49- 0.82). The sensitivity and specificity of the Modified MIF chart are 64.6% and 66.7%, respectively. The conclusion of this study is that the Modified MIF Chart can be used as a means of screening for the risk of falls in the elderly in nursing homes, but still needs to consider other internal and external risk factors that have not been assessed by the Modified MIF Chart."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Astuti
"Penelitian fenomena kecepatan benda bergerak di dalam air sudah banyak dilakukan baik yang vertikal maupun yang horisontal dengan berbagai cara. Ada beberapa hal yang masih perlu diteliti untuk dapat menjelaskan studi ini.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur kecepatan jatuh pada bola dalam air dengan menggunakan 2 (dua) buah laser pointer dan 2 (dua) buah receiver. Tiga bola baja dengan diameter berbeda digunakan sebagai alat uji benda jatuh. Ketiga bola tersebut adalah S I (rn5 = 67 gr, ds= 25,4 mm), S2(ms = 80 gr, d5 27,0 mm) dan S3 (ms = 226 gr, ds= 38,1 mm), diukur pada 3 buah keadaan yang berbeda, yaitu jarak jatuh (Ls) 0,675 m ; 0,75 m dan 0,825 m. Dari hasil percobaan ini menunjukkan bahwa bola dengan diameter yang lebih besar mempunyai kecepatan jatuh yang besar.
Secara teoritis, kecepatan jatuh benda dapat dianalisa dengan persamaan Basset-Boussinesq-Oseen yang diselesaikan dengan cara metode numerik. Hasil percobaan tersebut akan diplot ke dalam grafik yang berasal dari persamaan Basset-Boussinesq-Oseen (MO).

The study about the phenomenon of velocity of a free-falling sphere in water has been investigated in vertically or horizontally. It is necessary to research the motion to elucidate this study.
The purpose of this study is to measure the fall velocity of a sphere in water by means of two laser pointers and two receivers. Three spheres in different diameter were tested. The three of sphere are S1 (m5= 67 gr., ds= 25,4 mm), S2 (m5= 80 gr., d5= 27,0 mm) and S3 (ms= 226 gr., ds= 38,1 mm. Which is measured in three different situation, fall distance (L5) 0.675 m; 0.75 m and 0.825 m. From the experimental results, it was shown that the sphere which higher diameter has higher fall velocity.
Theoritically, fall velocity of sphere can be analyzed using Basset-Boussinesq-Oseen equation that solved numerically. The experimental results will be plotted on a graph which from calculated results using Basset-Boussinesq-Oseen equation (BBO).
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2003
T529
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Uswatun Hasanah
"Jatuh merupakan masalah yang banyak terjadi pada lansia, terutama pada lansia di panti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan latihan fisik dengan risiko jatuh pada lansia di panti sosial tresna werdha (PSTW) wilayah DKI Jakarta. Penelitian menggunakan cross sectional dengan metode quota sampling pada 91 lansia di PSTW Budi Mulia 1, 2, dan 4 wilayah DKI Jakarta.
Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara dan observasi, risiko jatuh diukur menggunakan Morse Fall Scale (MFS). Uji statistik yang digunakan dalam penelitian adalah uji pearson product moment.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara latihan fisik dengan risiko jatuh (p < 0.05). Dapat disimpulkan bahwa latihan fisik yang dilakukan secara rutin dapat menurunkan risiko jatuh pada lansia di panti.

Fall is common problem in elderly especially institutional elderly. This research was aim to relation of physical exercise and fall risk in institutional elderly in PSTW DKI Jakarta. The research?s design was cross sectional with quota sampling method on 91 institutional elderly in PSTW Budi Mulia 1, 2, and 4.
Collecting data used interview and observation, fall risk measured with Morse Fall Scale questionnaire. The statistic test that using in this research was pearson product moment.
The results research shown that there was relationship between physical exercise and fall risk (p value < 0,05). Consequently, physical exercise regularly can reduce fall risk for institutional elderly.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2015
S61171
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Masruroh
"Latar Belakang: Jumlah usia lanjut (Usila) makin meningkat dan tumbuh cepat, yang membawa konsekuensi meningkatnya gangguan terkait usia, termasuk penurunan fungsi kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian aktivitas berjalan kaki terstruktur, yaitu minimal 6000 langkah/hari, terintegrasi dalam aktivitas sehari-hari dengan kecepatan yang nyaman selama 12 minggu, dalam memelihara fungsi kognitif pada usia lanjut dengan fungsi kognitif normal di komunitas.
Metode: Desain penelitian ini adalah studi ekperimental, berupa uji klinis acak tersamar tunggal. Subyek terdiri dari 20 orang Usila pada kelompok perlakuan yang diberikan aktivitas berjalan kaki terstruktur, dan 19 orang Usila pada kelompok kontrol yang beraktivitas sebagaimana biasanya, selama 12 minggu. Subyek dinilai fungsi kognitifnya menggunakan MoCA Ina pada awal dan akhir perlakuan. Aktivitas berjalan kaki diukur menggunakan pedometer.
Hasil: Aktivitas berjalan kaki terstruktur yang mampu dilakukan oleh kelompok perlakuan adalah 7531 langkah/hari, dan kelompok kontrol adalah 3527 langkah/hari (p=0,000). Pada akhir penelitian, skor total MoCA pada kelompok perlakuan (median=29) adalah lebih tinggi (p=0,022) dibandingkan kelompok kontrol (median=27), dan begitu pula untuk selisih skor MoCA antara awal dan akhir penelitian (rerata selisih pada kelompok perlakuan adalah 3,35; kelompok kontrol adalah 1,47; p=0,003). Efek perlakuan pada domain fungsi kognitif menunjukkan skor Visuospasial/Fungsi Eksekusi secara siknifikan (p=0,08) lebih tinggi pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol. Selisih skor domain MoCA pada awal dan akhir penelitian ditemukan lebih besar pada kelompok perlakuan pada domain Visuospasial/Fungsi Eksekusi, Bahasa, dan Abstraksi.
Kesimpulan: Aktivitas berjalan kaki terstruktur 7500 langkah/hari memiliki efek positif dalam memelihara fungsi kognitif usia lanjut secara umum, dengan domain yang paling dipengaruhi adalah Visuospasial/Fungsi Eksekusi. Aktivitas ini juga memberikan peningkatan yang lebih besar pada fungsi kognitif secara umum dan pada domain Visuospasial/Fungsi Eksekusi, Bahasa, dan Abstraksi.

Background: Fast growing of elderly population increases disorders related to aging, including decreasing of cognitive function. The objective of this study is to evaluate the effect of structured walking activity, that characterized by minimally 6000 steps/day, integrated to daily activities, with comfortable pace, for 12 week, in maintaining cognitive function in elderly with normal cognitive function in community.
Method: This study design was experimental, single-blind randomized controlled trial. The subjects were 39 elderly, consist of 20 subjects in intervention group and 19 subject in control group. Intervention group were given structured walking activity, and control group did their usual activity, for 12 weeks. Cognitive function were assessed using MoCA Ina in the beginning and end of the study. Walking activity was measured using pedometer.
Results: Amount of walking activity that was able to do was 7531 steps/day in intervention group, and 3527 steps/day in control group (p=0,000). In the end of study, total MoCA score in intervention group (median=29) is significantly better (p=0,022) than control group (median=27), and so did the improvement of MoCA score in the end of study (mean of increasing score in intervention group was 3,35, and in control group was 1,47, p=0,003). Effect on domain of cognitive function showed Visuospatial/Executive function score in intervention group was signifantly better than control group. Improvement in Visuospatial/Excecutive function, Language, and Abstraction domains‟ score was also found larger in intervention group.
Conclusion: Structured walking activity, about 7500 steps/day had a positive effect in maintaining general cognitive function in elderly, and Visuospatial/Executive function was the most influenced domain. The effect of this activity also showed larger improvements in general cognitive function and Visuospatial/Excecutive function, Language, and Abstraction domains.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Toton Witono
"Kualitas pelayanan sosial untuk kesehatan mental lansia dipengaruhi interaksi antara praktisi kesejahteraan sosial dan klien. Interaksi melibatkan banyak aspek, termasuk spiritualitas, maka penelitian ini menggali pemahaman spiritualitas praktisi dan praktiknya dalam pelayanan, bagaimana spiritualitas dihayati lansia, dan bagaimana lansia menghadapi penderitaan. Kajian kualitatif ini melibatkan 20 informan praktisi dan klien dengan metode wawancara, observasi, dan kajian dokumen. Proses coding menggunakan NVivo untuk mempermudah analisis. Hasil penelitian menunjukkan spiritualitas praktisi dihayati dan diekspresikan dalam berbagai komponen dan dipraktikkan ketika berinteraksi dengan klien. Spiritualitas lansia juga tercermin dalam sejumlah kategori yang punya peran penting menjaga kesehatan mental ketika menghadapi penderitaan hidup.

Service quality for elderly mental health is influenced by interaction between practitioners and clients. The interaction involves spirituality, so this study explores practitioners? understanding of spirituality and its implementation in service, how the elders live spirituality, and how they cope with sufferings. This qualitative study recruited 20 informants explored through interview, observation, and document review. NVivo software was used to organize coding results for analysis process. This study finds that practitioners? spirituality is lived and expressed in various components that is used in interaction. The elders have also spiritual sides echoed through some categories having contributions to their mental health."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2015
D2083
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ni Luh Made Murniasih Jayanthi
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kekuatan genggam tangan dengan jarak tempuh enam menit pada remaja sehat. Penelitian ini merupakan studi potong lintang pada remaja sehat di lingkungan kelurahan Kenari dan Utan Kayu Selatan, Jakarta. Pengukuran kekuatan genggam tangan menggunakan Jamar hidrolik dinamometer sesuai protokol the American Society of Hand Therapist (ASHT). Pengukuran jarak tempuh enam menit berdasarkan uji jalan lintasan 15 meter sesuai dengan modifikasi protokol uji oleh Nusdwinuringtyas dkk. Penelitian ini melibatkan 61 orang subjek (30 subjek laki-laki dan 31 perempuan) berusia 14.87 ± 1.28 tahun pada subjek laki-laki dan 14.45 ± 1.73 tahun pada subjek perempuan, tingkat pendidikan subjek di dominasi oleh SMP (64%), dengan BB laki-laki 53.95±7.33 Kg, perempuan 49.40±5.86 Kg, TB laki-laki 163.47±8.4 cm, perempuan 155.61±5.66 cm, IMT 20.12±1.67 Kg/m2 pada remaja laki-laki dan 20.35±1.62 Kg/m2. Hasil uji Spearman menunjukkan bahwa terdapat korelasi sedang (r=0.418, P=0.001) pada tangan dominan saat inspirasi, korelasi lemah (r=0.383, P=0.002) pada tangan dominan saat ekspirasi, korelasi lemah (r=0.338, P=0.008) pada tangan non dominan saat inspirasi, korelasi lemah (r=0.312, P=0.014) pada tangan non dominan saat ekspirasi. Kesimpulan penelitian ini yaitu terdapat korelasi antara kekuatan genggam tanagn dengan jarak tempuh enam menit pada remaja sehat.

This study aims to determine the relationship between hand grip strength and six-minute walking distance (6MWD) in healthy adolescents. This research is a cross-sectional study on healthy adolescents in Kenari and Utan Kayu Selatan sub-districts, Jakarta. Hand grip strength was measured using a Jamar hydraulic dynamometer according to the protocol of the American Society of Hand Therapists (ASHT). The 6MWD was measurement based on the modified test protocol on 15-meter walk test by Nusdwinuringtyas et al. This study involved 61 subjects (30 boys and 31 girls subjects) aged 14.87 ± 1.28 years in boys subjects and 14.45 ± 1.73 years in girls subjects, the education level was dominated by junior high school (64%), with boys weight 53.95±7.33 Kg, girls 49.40±5.86 Kg; boys height 163.47±8.4 cm, girls 155.61±5.66 cm; BMI 20.12±1.67 Kg/m2 in boys and 20.35±1.62 Kg/m2. The results showed that there was a moderate correlation (r=0.418, P=0.001) in the dominant hand during inspiration, a weak correlation (r=0.383, P=0.002) in the dominant hand during expiration, in the non-dominant hand during inspiration (r=0.338, P=0.008), and in the non-dominant hand during expiration (r=0.312, P=0.014). This study concludes that there is a correlation between hand grip strength and 6MWD in healthy adolescents."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>