Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 167708 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rachmat Bahagio
"ABSTRAK
Seperti investasi yang dilakukan pada jenis asset yang lain, tujuan dan investasi saham adalah untuk memperoleh keuntungan. Keuntungan yang diharapkan diperoleh dari investasi saham yaitu dalam bentak kenaikan harga saham yang sering disebut sebagai capital gain dan dalam bentuk pembayaran deviden yang diperoleh dari perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut. Dalam usahanya untuk memperoleh keuntungan dan investasi saham tersebut, seorang investor harus melakukan pemilihan pada saham-saham yang diperkirakan akan memberikan deviden dan capital gain yang besar selama periode investasi tertentu. Dalam proses pemilihan saham tersebut diperlukan adanya suatu alat yang dapat digunakan sebagai acuan dalam penilaian saham. Terdapat beberapa alat analisis yang dapat digunakan sebagal acuan dalam peniililian saham tersebut. Dalam karya tulis ini akan dilakukan pengujian terhadap penggunaan analisis Price Earning Ratio (FER) sebagai alat untuk melakukan pemilihan saham tersebut.
Strategi yang digunakan dalam investasi saham adalah dengan melakulcan pembelian pada saham-saham yang harga pasarnya lebih rendah dari harga wajar menurut persepsi investor. Saham-saham yang dikategorikan undervalued tersebut diperkirakan akan mengalami koreksi kenaikan harga dimasa mendatang sehingga dengan melakukan investasi pada saham-saham yang undervalued tersebut, diharapkan akan menghasilkan tingkat keuntungan (return) yang abnormal.
Model yang digunakan dalam analisis P/E ratio ini diderivasikan dan dividend discount model yang dinyatakan sebagai berikut:
P/Eratio = 1-b/ k-ROExb,
dimana:
b = Plow back ratio, yaitu besarnya bagian dan laba yang direinvestasikan untuk tambahan modal perusahaan
k = Tmgkat biaya modal (cost of equity),
ROE = Besarnya prosentase laba yang dihasilkan terhadap modal perusahaan.
Berdasarkan model tersebut dilakukan analisa regresi dengan menggunakan data historis tahunan untuk saham-saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta pada tahun 1993 dan 1994. Analisa regresi dilakukan dengan menjadikan variabel PER sebagai variabel terikat dan variabel plowback ratio, tingkat biaya modal dan ROE sebagai vaniabel bebas. Hasil dan analisa regresi yang diperoleh menunjukkan hasil yang tidak seperti yang diharapkan yaitu terdapat adanya korelasi negatif yang kuat antara variabel PER dengan ROE, sedangkan untuk variabel-variabel yang lain menunjukkan korelasi yang lemah.
Dari hasil persamaan regresi tersebut, dilakukan penilaian saham yaitu menentukan dari saham-saham yang diniai apakah termasuk kategori undervalued, fair atau overvalued. Untuk memastikan keakuratan hasil penilaian saham tersebut, dilakukan pengujian atas besarnya return yang dihasilkan pada periode 1 tahun berikutnya dan masing-masing kelompok yaitu kelompok saham undervalued dan overvalued. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan model tersebut dalani analisis P/E ratio yang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan strategi investasi saham di Bursa Efek Jakarta ternyata kurang akurat, karena ternyata besarnya return dan kelompok saham overvalued tidak lebih rendah dan return yang dihasilkan oleh kelompok undervalued.
Sebagai perbandingan dalam analisis ini juga digunakan alat analisis lain yaitu rasio PER/ROE yang ternyata memberikan hasil yang lebih akurat sebagai acuan dalam pelaksanaan strategi investasi saham. Kegagalan model regresi tersebut kemungkinan disebabkan oleh ketidaktepatan model dalam menjelaskan hubungan antara variabel PER dengan ROE. Dalam model tersebut ditunjukkan bahwa hubungan antara dua variabel tersebut adalah negatif padahal yang seharusnya adalah bersifat positif.
Bertolak dali basil pengiijian tersebut, maka disarankan bahwa dalam melakukan analisis P/E ratio perlu dipertimbangkan hal-hal berikut agar basil yang diperoleh lebih akurat, yaitu:
- Agar suatu model dapat menggambarkan kondisi fundamental yang sifatnya spesifik dimiliki oleh penrusahaan secara individual, maka disarankan untak melakukan analisa regresi berdasarkan data time series secara individual dañ masing-masing saham yang akan di observasi.
- Agar dapat dihasilkan suatu hasil regresi yang meimiliki nilai R2 yang lebih tinggi, disarankan untuk mempertimbangkan beberapa faktor faktor lain ke dalam model yang diperkirakan memiliki korelasi yang kuat terhadap besarnya nilai P/E ratio yaitu seperti: stabilitas (standar deviasi) dan earning yang diperoleh perusahaan, tingkat pertumbuhan dari earning selama beberapa tahun terakhir dan lain sebagainya.
- Perlu dilakukan penyesuaian terhadap besarnya current earning sebagai prediksi besarnya future earning, antara lain dengan mempertimbangkan tingkat persaingan usaha, prospek industrL kondisi ekonorni secara makro dimasa yang akan datang, siklus usaha untuk perusahaan yang bersifat musiman dan Iain lain. Dengan dilakukan penyesuaian, prediksi future earning diharapkan dapat meuggambarkan keadaan sebenarnya.
- Untuk menghindari kemungkinan kesalahan yang ditimbuikan dari penggunaan data harga saham per akhir tahun, sebaiknya digunakan data harga saham pada tanggal setelah diumumkannya laporan keuangan perusahaan emiten."
Depok: 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rochyadi
"ABSTRAK
Investasi adalah penanaman modal pada satu atau lebih aktiva selama beberapa
waktu dengan harapan akan memperoleh keuntungan di masa yang akan datang Di
antara berbagai jenis aktiva, sahain merupakan aktiva frnansial yang paling menarik
karena disamping sangat likuid saham juga dapat memberikan keuntungan yang sangat
besar.
Dalam melakukan investasi pada saham, investor harus menyadari bahwa di samping
akan memperoleh keuntungan yang besar juga dimungkinkan mengalami kerugian yang
besar. Keuntungan dan kerugian tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan investor
dalam memilih saham. Oleh karena itu pemilihan saham merupakan sesuatu hal yang
sangat penting dalam melakukan investasi di pasar modal. Karya tulis ini akan membahas
cara pemilihan saham yang didasari oleh analisis fundamental perusahaan, yaitu melalui
analisis Price Earning Ratio (PER) dengan Dunia Efek Jakarta sebagai objek penelitian.
Strategi yang digunakan adalah dengan membeli saham-saham yang berdasarkan
analisis PER dinyatakan undervalued atau oleh pasar clihargai lebih rendah dan yang
semestinya, saham yang dinyatakan undervalued tersebut diperkirakan akan mengalami
koreksi harga path masa yang alcan datang. Untuk menilai suahi saham termasuk
kelompok undervalued, fairvalued atau overvalued, dilakukan dua pendekatan analisis
PER sekaligus, yaitu pendekatan Persamaan Regresi dan pendekatan PER aktual.
Pendekatan Persamaan Regresi mengacu pada formula Dividend Discount Model dengan
PER sebagai variabel terikat dan tingkat biaya modal (k), tingkat pertumbuhan (g),
flowback ratio (b) sebagai ROE sebagai variabel bebasnya. Sedangkan pendekatan PER
aktual hanya melihat nilai PER aktual suatu saham relatif terhadap industrinya dan pasar.
Kedua metode tersebut diterapkan selama enam penode penelitian yaitu bulan Januari,
Februari, Maret, Apri, Mei dan Juni 1997 atas 148 saham terpilih, selanjutnya dilakukan
pengujian masing-masing untuk selama satu bulan, dua bulan dan tiga bukan masa
holding period.
Hasil pengujian atas Metode Regresi baik untuk setiap periode penelitian maupun
untuk setiap masa holding period, menunjukan bahwa kelompok saham yang dinyatakan
undervalued memperoleh return jauh lebih besar dan kelompok saham overvalued.
fairvalued dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sebaliknya kelompok saham yang
dinyatakan overvalued rnemperoleh return jauh lebih kecil dari kelompok saham
fairvalued dan undervalued.
Hasil pegujian atas Metode PER aktual baik untuk setiap periode penelitian maupun
untuk setiap masa holding period pada setiap kelompok saharn menunjukan adanya
kesamaan pola return dengan yang dihasilkan melalui mctode regresi.
Perpaduan antara kedua metode di atas terhadap kelompok saham undervalued
?yang diperoleh melalui Metode Regresi- dan kelompok saham PER aktual rendah ?yang
diperoleh melalui Metode PER Aktual- menunjukan konsistensi keterkaitan sebesar
64,86 % artinya 64,86% saham yang memiliki nilai PER aktual rendah adalah
undervalued. Perpaduan kedua metode ini di samping dapat memperkecil portofolio
jumlah saham juga ternyata dapat menghasilkan return yang Iebih besar dan kedua
metode asalnya.
Walaupun analisis PER telah memberikan hasil yang memuaskan, namun perlu
diketahui bahwa rnetode regresi memberikan analisa statistik yang mengecewakan di
mana pola hubungan variabel yang dihasilkan tìdak sesuai dengan teori dan nilai
coefficient of determination (R2) yang dihasilkan sangat kecil. Untuk itu dalam penelitian
selanjutnya perlu dipertimbangkan untuk menambah variabel-varaibel lain yang spesifik
terkait dengan masing-maSing perusahaan dan industri.
"
1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Farida Edhi Kusumaningtias
"ABSTRAK
Karya Akhir ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana penerapan dan P/E
ratio dalam menilai harga dari suatu saham di bursa dan untuk melihat seberapa besar
pengaruh dan signifikansi dari variabel-variabel pembentuk nilai P/E ratio yaitu :
dividend payout ratio, earnings growth, serta standar deviasi dan tingkat pertumbuhan
rata-rata. Jumlah sampel diambil dari populasi perusahaan manufaktur yang terdaftar
di Bursa Efek Jakarta terdiri dari 42 perusahaan dan dapat dikelompokkan berdasarkan
3 sub industri, yaitu : consumer goods industry, basic & chemical industry dan
miscellaneous industry. Periode pengambilan data dan tahun 1991 sampai tahun 1996
digunakan untuk membentuk persamaan regresi linier berganda P/E ratio tahun 1995.
Hasil penelitian dari ketiga kelompok industri secara umum menunjukkan
bahwa variabel bebas (dividend payout ratio, tingkat pertumbuhan EPS, dan standar
deviasi) dalam persamaan regresi berganda memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap nilai P/E ratio. Ditemukan pula bahwa dari hasil persamaan regresi tanda
minus maupun plus dari masing-masing variabel bebas yang menunjukkan hubungan
linier antara variabel tersebut dengan nilai P/E ratio tidak sesuai dengan dugaan awal,
kecuali untuk miscellaneous industry.
Dengan menggunakan persamaan P/E ratio basil regresi dapat diketahui apakah
suatu saham dalam kondisi undervalued ataupun overvalued. Kemudian dilakukan
pembuktian melalui analisis return yaitu dengan membandingkan return tahun 1995
dengan return tahun 1996. Hasil yang diperoleh dan analisis di atas secara
keseluruhan menunjukkan bahwa return saham undervalue lebih besar dibandingkan
dengan return saham yang overvalue.
"
Fakultas Eknonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2000
T3794
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sanusi
"Pasar modal merupakan salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk menggali potensi penerimaan pajak, karena di sana aterdapat beberapa sumber penerimaan pajak, antara lain dari Pajak Penghasilan atas transaksi saham. Besarnya Pajak Penghasilan ini dipengaruhi oleh besarnya transaksi saham yang terjadi di Bursa Efek, sedangkan besarnya transaksi saham dipengaruhi oleh beberapa faktor. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain dengan melakukan analisis fundamental, yaitu suatu analisis yang dilakukan berdasarkan faktor fundamental perusahaan seperti earning per share, pembagian deviden, price earning ratio, rasio likwiditas, rasio rentabilitas dan lain-lain.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh antara earning per share terhadap PPh Final atas transaksi saham di Bursa Efek Jakarta. Pengaruh price earning ratio terhadap PPh Final atas transaksi saham di Bursa Efek Jakarta. Pengaruh divident payout ratio terhadap Pajak Penghasilan Final atas transaksi saham di Bursa Efek Jakarta.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, kualitatif dan kuantitatif yang diperoleh melalui studi kepustakaan dan penelitian lapangan yang dilakukan di Pusat Referensi Pasar Modal Bursa Efek Jakarta. Data yang diambil dari Laporan Keuangan Perusahaan sebanyak 35 perusahaan yang dipilih dengan menggunakan metode purposive sample. Sedangkan untuk analisis data digunakan program SPSS Windows untuk mengetahui hubungan earning per share, price earning ratio dan deviden payout ratio terhadap PPh Final atas transaksi saham di Bursa Efek Jakarta.
Hasil penelitian dari ansalisis regresi sederhana dan analisis regresi berganda menunjukan bahwa ketiga variabel indpenden yang digunakan mempunyai pengaruh yang positif terhadap Pajak Penghasilan Final atas transaksi saham. Berdasarkan uji t diketahui bahwa dari ketiga variabel independen yang digunakan hanya divident payout ratio saja yang berhubungan signifikan dengan PPh Final atas transaksi saham, sedangkan kedua variabel lainnya yakni earning per share dan price earning ratio tidak signifikan. Berdasarkan uji f diketahui bahwa secara bersama-sama ketiga variable independent tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap PPh Final atas transaksi saham.
Dari hasil penelitian ini, penulis memberi rekomendasi kepada perusahaan-perusahaan agar setiap tahunnya membagikan deviden kepada para pemegang sahamnya. Kepada pemerintah melalui Bapepam agar lebih mendorong perusahaan untuk membagi deviden setiap tahunnya, sehingga setiap tahunnya akan meningkatkan jumlah transaksi sahamnya di Bursa Efek dan penerimaan PPh Final akan meningkat.

Capital market is an employable alternative option to explore the potential incoming tax, since it is containing some tax incoming source, such as Income Tax on stock transactions. The sum of this tax was influenced by the stock transaction which took place at Jakarta Stock Exchange. To observe the influencing factors, we should perform a thorough analysis based on company?s fundamental factors such as earning per share, dividend share, price earning ratio, ratio of liquidity, and ratio of rentability. The purpose of this research is to find whether there is connection between earning per share and the Final Income Tax toward the stock transaction at Jakarta Stock Exchange. The connection between price earning ratio and the Final Income Tax toward the stock transaction at Jakarta Stock Exchange. The connection beween dividend payout ratio and the Final Income Tax toward the stock transactions at Jakarta Stock Exchange.
The data that were used in this study is secondary data, qualitatively and quantitatively which were obtained from literatures and field research at Capital Market Reference Center of Jakarta Stock Exchange. This study also included Company?s Financial Reports from 35 companies with purposive sampling method. SPSS Window was used to analyze the correlation of earning per share, price earning ratio and dividend payout ratio and the Final Income Tax toward the stock transactions at Jakarta Stock Exchange.
The result of simple analysis of regression and paired analysis of regression has shown that the variables have some positive effects on Final Tax Income or stock transactions.The t test suggest that from three independent variables, only dividend payout ratio which has a significant correlation with Final Income Tax toward stock transactions compared to earning per share and price earning ratio variables.The f test suggested that all the independent variables have no impact in Final Income Tax toward stock transactions.
From this study, the author recommended the companies to share their dividend to their share holders. The author also emphasized the government through the Bapepam to encourage the companies to share their dividend, so that subsequently will result in increasing stock transactions at Jakarta Stock Exchange and to increase the Final Income Tax."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2007.
T19500
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hari Sukarno
"Studi ini tentang penilaian harga saham berdasarkan analisa fundamental dengan pendekatan PER. Meskipun ada modifikasi, tapi model yang digunakan tetap mengacu pada multiple regression model yang dipergunakan para peneliti sebelumnya, baik dalam maupun luar negeri.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui relevansi penentuan PER dalam keputusan investasi di BEJ. Kemudian dirinci, untuk mengetahui : apakah growth rate, dividen payout ratio dan financial leverage mempengaruhi besarnya PER; variabel manakah (earning growth atau dividen growth) yang paling berpengaruh dan lebih mampu menjelaskan perubahan PER; apakah pengaruh masing-masing variabel eksplanatori terhadap PER tetap konsisten dari tahun ke tahun dan apakah model empiris yang diajukan dapat dipakai sebagai security selection serta mengkaji apakah kebijaksanaan BAPEPAM tentang PER maksimal 15 kali memadai.
Hasil analisa tahun 1989-1993 maupun keseluruhan menunjukkan bahwa semua persamaan regresi (kecuali 1989) memiliki F-test signifikan dan adjusted R2 minimal 75%. Berarti di samping secara serentak berpengaruh, perubahan variabel eksplanatori mampu menjelaskan perubahan variabel PER paling rendah 75%. Pengaruh secara parsial, berdasarkan t-test, umumnya variabel growth rate dan dividen payout ratio signifikan berpengaruh. Tapi variabel financial leverage tidak signifikan berpengaruh.
Akan tetapi bila ditinjau koefisien regresi masing-masing variabel eksplanatori menunjukkan bahwa umumnya terdapat arah dan hubungan positif antara variabel growth rate dan dividen payout ratio terhadap PER. Sebaliknya terdapat arah dan hubungan negatif antara variabel financial leverage dengan PER . Jadi meskipun pengaruhnya kurang signifikan, dengan semakin meningkatnya financial leverage akan mendorong risiko financial makin tinggi dan PER menjadi makin menurun.
Sementara itu variabel earning growth diketahui lebih berpengaruh dan lebih mampu menjelaskan perubahan PER daripada variabel dividen growth. Hanya pada 1990 saja variabel dividen growth memiliki adjusted R2 dan t-test lebih signifikan. Diketahui pula bahwa variabel growth rate dari tahun ke tahun tetap dominan berpengaruh terhadap besarnya PER. Namun demikian besar dan arah pengaruhnya berubah-ubah. Dan model empiris yang diajukan ternyata kurang cocok untuk security selection.
Akhirnya, bertolak dari hasil penelitian ini dapat dinyatakan bahwa anjuran BAPEPAM tentang batas PER tidak lebih dari 15 kali untuk perusahaan yang akan go public semua sektor industri adalah kurang tepat. Memang rata-rata PER empiris dibawah 15 kali bila variabel eksplanatori konstan (=0). Yaitu 6,1271 kali (1989); -0,0027 kali (1990); -35,6735 kali (1991); 0,1289 kali (1992); 12,2483 kali (1993) dan 0,099 kali(1989-93).
Tapi jika salah satu variabel, misalnya growth rate, bernilai positif maka hasil P/NE menjadi diatas 15 kali. Tentunya setiap perusahaan memiliki prospek untuk tumbuh. Karenanya BAPEPAM disarankan meninjau kembali himbauan tentang batas PER."
1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Feber Suhendra
"Penelitian ini akan melakukan analisis pengaruh perbedaan kebijakan. makro yang terdiri atas kebijakan moneter, inflasi dan pertumbuhan ekonomi dengan aspek-aspek fundamental antara lain Deviden Payout (DPO), Debt to Equity Ratio (DER) dan Deviden Per Share (DPS) pada Price Earning Ratio (PER). Periode Penelitian yang digunakan adalah 1993 - 1996 sebagai periode sebelum krisis sedangkan 1998 - 200i sebagai periode selama krisis. Sampel yang digunakan adalah perusahaan manufaktur sebesar 88 emiten, Pada tahap awal pengujian dilakukan secara regresi dengan metode cross section untuk setiap tahun pengamatan, selanjutnya untuk melihat konsistensi nilai variabel tersebut dilakukan pengujian secara pooled section dengan metode data panel untuk periode sebelum dan selama krisis. Sebelum melakukan pengujian diatas terlebih dahulu melakukan pengujian casewisediagnostic, multikolinearitas, while heteroskedastis dan autokorelasi.
Untuk menguji pengaruh perbedaan efek kebijakan makro menggunakan uji Mann-Whitney U dan regresi linear secara dummy variabel. Adapun asumsi dummy yang diajukan Kebijakan Moneter (KM) sama dengan 1 jika Bank Indonesia menurunkan tingkat diskon mulai sebelum awal tahun hingga sesudah akhir tahun pendapatan. KM sama dengan 0 jika BI menaikkan tingkat diskon mulai sebelum awal tahun hingga sesudah akhir tahun pendapatan; Inflasi tinggi sama dengan 1 jika tingkat inflasi dalam satu tahun lebih dari 10 %, dan rendah jika kurang dari 10 %; Pertuinbuhan ekonomi yang meningkat diberi kode 1 dan menurun sama dengan 0.
Pada pengujian regresi yang konsisten signifikan mempengaruhi PER adalah DPO, sedangkan DER tidak signifikan pada tahun 1995, 1999, 2000 dan 2001 karena adanya pengaruh stock split. Pengujian secara pooled section baik sebelum maupun selama krisis menghasilkan DPO, DER, dan LnDPS secara bersama-sama signifikan berpengaruh terhadap PER. Hasil penelitian ini menunjukkan pengaruh DPO dan DER terhadap PER adalah positif, sebaliknya pengaruh DPS terhadap PER adalah negatif.
Pada pengujian Mann Whitney U, variabel PER secara konsisten selalu signifikan. Untuk pengujian regresi secara dummy variabel diperoleh apabila bank sentral menurunkan tingkat suku bunga pada periode sebelum dan selama krisis maka diperkirakan PER akan bertambah; dan apabila terjadi efek inflasi yang tinggi periode sebelum dan selama krisis maka diperkirakan PER akan turun; serta apabila terjadi efek pertumbuhan ekonomi yang meningkat pada periode sebelum dan selama krisis maka diperkirakan PER akan meningkat."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2004
T18812
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Evy Susanti
"Karya akhir ini membahas mengenai pengaruh caming per share (EPS), price camning ratio (PER), price to book value (PBV) dan debt to total equity ratio (DER) terhadap harga saham pada industri farmasi periode 2003 - 2007. EPS, PER, dan PBV dipilih sebagai variabel bebas (independen) karena ketiga rasio keuangan tersebut memang selalu digunakan untuk memproyeksikan harga saham perusahaan dan sekaligus mewakili capital market ratio sedangkan DER dipilih sebagai bagian dari variable bebas lainnya karena mewakili kinerja leverage rario. Model analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda merupakan bentuk persamasn regresi yang memiliki variabel bebas lebih dari satu (independen; variables) yang akan digunakan membentuk variabel terikat (dependent variables) dengan tingkat signifikansi lima persen (a-5%). Dari hasil pengujian didapat babwa rasio EPS signifikan terhadap harga saham scbanyak 100% membuktikan bahwa bisa digunakan sebagai prediksi. Kemudian DER, PER, dan PBY tidak signifikan. Ini berarti, tidak bisa digunakan sebagai prediksi terutama untuk pengambilan keputusan dan strategi investasi.

This final paper discusses the effect of earnings per share (EPS), price earnings ratio (PER), price to book value (PBV) and debt to total equity ratio (DER) on stock prices in the pharmaceutical industry for the period 2003 - 2007. EPS, PER , and PBV was chosen as the independent variable because the three financial ratios are always used to project the company's stock price and at the same time represent the capital market ratio, while DER was chosen as part of the other independent variables because it represents the performance of the leverage ratio. The analytical model used is multiple linear regression which is a form of regression equation that has more than one independent variable (independent; variables) which will be used to form the dependent variable with a significance level of five percent (a-5%). From the test results, it is found that the EPS ratio is significant to the stock price of 100%, proving that it can be used as a prediction. Then DER, PER, and PBY are not significant. This means, it cannot be used as a prediction, especially for decision making and investment strategies."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2008
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nazwirman
"Investasi pasar modal memberikan earning yang lebih tinggi dibandingkan dengan menyimpan uang di bank misalnya dalam bentuk deposito yang rata-rata hanya 6 persen pertahun. Namun demikian investor harus juga jeli dalam menganalisis dalam pembelian sahamnya. Dengan menggunakan salah satu teknik analisis saham metode Price Earning Ratio (PER), maka investor akan mudah mendapatkan mengenai saham mana yang harus mereka beli. Metode Price Earning Ratio dalam menganalisis saham perusahaan industri makanan dan minuman di Bursa Efek Indonesia
menggunakan tiga alternatif (k*= 11%, k*=16%, dan k*=21%). Dari 15 perusahaan yang listing hanya ada 6 perusahaan yang konsisten memberikan deviden kepada investornya setiap tahun. Saham perusahaan yang layak dibeli hanya saham satu perusahaan karena pada tiga alternatif tersebut PER < PER* yang berarti tingkat earning dari saham tersebut lebih tinggi dari 11%, 16% atau 21 % dan harga dari saham tersebut murah. Saham perusahaan yang lain tidak layak dibeli ada 5 perusahaan, tetapi layak untuk dijual oleh investor, karena pada tiga alternatif tersebut PER > PER* yang berarti tingkat keuntungan dari saham tersebut lebih kecil dari 11%, 16% atau 21%.

Abstract
Stock exchange investment gives return more than saving money in bank. For instance, in form of a deposit with average of 6 % per annum. But investor must be analyze carefully in buying shares.
Using one analytical share techniques, the price earning ratio (PER) method. Investor will easily know which share they should buy. Price earning ratio method in analyzing the share of food and beverage company in Indonesian stock exchange use three alternative
(k*= 11%, k*=16% and k*=21%). From 15 company on listing, only 6 companies give dividend to investor every year.
Company share to buy only one share company, because for three alternative PER < PER* so the return from the share
to more than 11%, 6% or 21% and price from the share is cheap. There are share 5 companies that are not good to buy,
but good to sell to investor, because three alternative PER>PER* meaning advantage from share smaller than 11%, 6% or 21%."
Bina Sarana Informatika, 2008
J-pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Melinda Adhiwana
"Tujuan utama manajemen perusahaan adalah memaksimalkan nilai saham perusahaan sehingga nilai kekayaan pemegang saham pun akan naik. Untuk itu perlu dilakukan analisis terhadap return saham terhadap berhagal parameter diantaranya Eonomic Value Added, Market Value Added dan rasio-rasio profitabilitas dalam kinerja keuangan Dalam penelitian ini terdapat dua puluh delapan perusahaan yang bergerak pada industri barang konsumsi (consumer good industry) yang dijadikan sampel. Faktor yang dianalisis adalah return saham sebagai variabel dependen dan Economic Value Added (EVA), Market Value Added (MVA), Earning per Share (EPS), ROE(Return an Equity), ROA (Return an Asset), PER (Price Earning Ratio), PBV (Price Book Value) dan BVPS (Book Value per share) sebagal variabel-variabel independen.

The main goal of management is to maximize the value of company shares so that the value of shareholder wealth will increase. It needs to be done for the analysis of stock returns on various parameters including Eonomic Value Added, Market Value Added and profitability ratios in financial performance. In this study there were twenty-eight companies in consumer good industry which is used as the sample. Factors that are analyzed is the stock return as the dependent variable and Economic Value Added (EVA), Market Value Added (MVA), Earning per Share (EPS), ROE (Return on Equity), ROA {Return on Assets), PER (Price Earning Ratio), PBV (Price Book Value) and BVPS (Book Value per share) as independent variables."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2009
T31994
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Kusno Ajidarmo
"Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor penentu Price to Book Value Ratio (PBV) perusahaan yang go public di BEJ. Variabel-variabel yang digunakan untuk menguji adalah Return on Equity (ROE), Dividend Payout Ratio (DPR), Beta dan pertumbuhan g.
Bila harga saham lebih besar dari book value, hal ini mengisyaratkan bahwa saham tersebut merupakan saham overvalued. Sebaliknya bila harga saham lebih kecil dari book value, maka hal ini menandakan saham tersebut merupakan saham undervalued.
Data sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah saham perusahaan yang go public di Bursa Efek Jakarta (BET), dan yang membayarkan deviden setiap tahun selama periode observasi yaitu tahun 1994, 1995 dan 1996. Pengolah data yang digunakan dalam penelitian ini adalah software Exel for Windows untuk memasukkan data saham dan SPSS for Windows untuk pengolahan data statistik.
Metode penelitian yang dipakai adalah metode regresi berganda, metode ini digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan variabel tidak bebas, dan uji hipotesanya menggunakan uji t yaitu untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan variabel tidak bebas secara individu. Model persamaan regresi yang akan di analisa terdiri dari 3 model, yaitu model I perusahaan yang mengeluarkan atau membayarkan deviden selama periode observasi penelitian atau perusahaan yang membayarkan deviden setiap tahun selama periode observasi dari tahun 1994 sampai 1996, model II perusahaan yang mengeluarkan atau membayarkan deviden setiap tahun selama periode observasi penelitian serta perusahaan yang mempunyai nilai pertumbuhan g yang positif, dan model III perusahaan yang mengeluarkan atau membayarkan deviden setiap tahun selama periode observasi penelitian serta perusahaan yang mempunyai nilai pertumbuhan dan beta yang positif.
Hasil analisa yang diperoleh adalah PBV secara konsisten dari tahun ke tahun dipengaruhi oleh ROE, hubungan antara keduanya adalah hubungan linier positif, artinya bila nilai ROE semakin besar maka nilai PBV otomatis juga akan menjadi lebih besar. Sedangkan variabel lainnya hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan."
1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>