Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 183353 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ela Fitriani
"ABSTRAK
Penelitian ini membahas tingkat pencapaian pendidikan dan usia menikah pertama di kalangan wanita Jepang masa kini. Analisis dalam penelitian ini menggunakan konsep pilihan rasional yang berkaitan dengan pernikahan dari Hamplova 2003 , Becker 1996 , dan Tsuya dan Mason 1995 . Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa usia pernikahan pertama wanita Jepang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, hal ini berkaitan dengan semakin bertambahnya wanita Jepang yang melanjutkan penidikan tinggi, memasuki dunia kerja, serta pandangan terhadap pernikahan wanita Jepang masa kini.

ABSTRACT
This study focused on educational attainment and age of first marriage among Contemporary Japanese woman. The analysis of this study uses rational choice concept from Hamplova 2003 , Becker 1996 , and Tsuya and Mason 1995 . This study used qualitative descriptive method with literature review. The result of this research showed that age of first marriage among Japanese woman today is increasing from year to year, this is related to the increasing number of Japanese women who continue with higher education, entering the workforce, as well as the views of contemporary Japanese women towards marriage."
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2016
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Khalida
"Penelitian ini menganalisis pengaruh dari pernikahan anak pada wanita terhadap kemampuan negosiasi wanita tersebut dalam keluarga menggunakan data dari Indonesia Family Life Survey IFLS gelombang kelima. Proxi yang digunakan untuk kemampuan bernegosiasi adalah pengaruh wanita dalam pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan anak, transfer ke orangtua dan mertua, serta waktu sosialisasi suami dan diri sendiri.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa menikah pada usia dewasa akan meningkatkan kemungkinan wanita tersebut memiliki kemampuan negosiasi dalam keluarga pada aspek pendidikan anak, kesehatan anak dan waktu yang dihabiskan suami untuk bersosialisasi di luar. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan pentingnya mengurangi pernikahan di bawah umur karena fenomena tersebut secara negatif mempengaruhi pemberdayaan wanita dari sisi kemampuan negosiasi dalam keluarga.Kata Kunci: wanita, pernikahan anak, agensi keluarga, kemampuan negosiasi.

This study analyses the impact of child marriage on womens socio economic bargaining power in the family using the fifth wave of Indonesia Family Life Survey. The proxies used for socioeconomic bargaining power are spending for childrens education and health, transfer to parents and parents in law, husbands socialising time and respondent rsquo s socialising time.
The findings show that marrying after reaching adulthood will increase the womens probability for bargaining power in their childrens education, childrens health and husbands socialising time. The implication of this study would address the importance of reducing the number of child marriage in Indonesia as it would affect womens empowerment represented by family socio economic agency in negative way.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sisca Ellyanto
"Penelitian ini menganalisis mengenai tingkat partisipasi perempuan Jepang dalam dunia kerja dan kaitannya dengan bankonka di Jepang. Jumlah bankonka di Jepang terus mengalami peningkatan dan salah satu penyebabnya adalah meningkatnya jumlah perempuan yang memasuki dunia kerja. Pada masa sebelum perang, perempuan hanya bekerja sebagai kazoku roudousha (pekerja keluarga) dan tidak memperoleh penghasilan. Namun, hal tersebut berubah setelah masa Perang Dunia II, jumlah perempuan yang menjadi koyousha (pegawai) pun meningkat. Dengan meningkatnya koyousha, perempuan pun menjadi semakin mandiri secara finansial. Hal ini menyebabkan perempuan enggan untuk menikah karena mereka dapat menghidupi diri mereka sendiri dan mereka tidak ingin kehilangan kebebasan. Hasilnya, mereka lebih memilih karir daripada membangun sebuah keluarga dan jumlah bankonka pun meningkat.

This research analyzed the rate of participation of Japanese women in the labor force and its relation to bankonka in Japan. The number of bankonka in Japan is increasing and one of the reasons is the increasing of the number of working women. In the period before the war, women worked just as kazoku roudousha (family workers) and they have no income. However, this condition changed after World War II, the number of women who become koyousha (wage employee) increases. By the increasing of koyousha, women became more financially independent. This causes women are reluctant to marry because they can sustain themselves and they do not want to lose their freedom. Thus, they prefer career instead to build a family and the number of bankonka increases."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2012
S43646
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nadhilla Sekar Pramesty
"Rata-rata Usia Kawin Pertama di Indonesia adalah 20,25 tahun. Rendahnya usia menikah biasanya tidak dibarengi dengan tingginya tingkat pendidikan yang berkaitan dengan siklus tidak setaraan dan kemiskinan yang tiada akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan terhadap usia kawin pertama di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data BPS tahun 2015-2020 dengan unit analisis 34 provinsi di Indonesia. Penelitian in menggunakan instrumen variabel untuk menangani permasalahan endogenitas dalam penelitian ini sehingga diperlukan variabel instrumen untuk mengatasinya. Instrument Variable Two Stage Least Square (IV2SLS) adalah metode yang digunakan dalam penelitian ini, dan rasio jumlah guru terhadap populasi murid sebagai variabel instrumen. Hasil first stage menunjukkan bahwa rasio jumlah guru terhadap populasi murid merupakan instrumen yang baik dan memenuhi asumsi relevance. Hasil estimasi IV2SLS menunjukkan bahwa pendidikan berpengaruh positif terhadap penundaan usia kawin pertama. Adanya peningkatan akses internet juga berkontribusi positif pada penundaan usia kawin pertama di Indonesia. Untuk meningkatkan usia kawin pertama dari 20,25 tahun (usia kawin pertama 2020) menjadi 21 tahun diperlukan peningkatan pendidikan sebesar 1,5 tahun dari 10,8 di tahun 2020.

The average age at first marriage in Indonesia is 20.25 years. The low age at marriage is usually not accompanied by a high level of education which is associated with an endless cycle of inequality and poverty. This research aims to determine the effect of education on the age at first marriage in Indonesia. This research uses BPS data for 2015-2020 with analysis units from 34 provinces in Indonesia. This research uses variable instruments to deal with endogeneity problems in this research so that instrument variables are needed to overcome them. Instumental Variable Two Stage Least Square (IV2SLS) is the method used in this research, and the ratio of the number of teachers to the student population is the instrument variable. The first stage results show that the ratio of the number of teachers to the student population is a good instrument and meets the relevance assumptions. The IV2SLS estimation results show that the education has a positive effect on delaying the age at first marriage. The increase in internet access has also contributed positively to delaying the age at first marriage in Indonesia. To increase the age at first marriage from 20.25 years (age at first marriage in 2020) to 21 years requires an increase in the education by 1.5 from 10.8 in 2020."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rihlah Romdoniah
"Dalam lingkup ekonomi, pernikahan memberikan dampak positif dengan adanya efisiensi biaya (Becker, 1976). Akan tetapi, dampak tersebut sepertinya tidak berlaku secara universal. Faktanya, pernikahan di usia dini seringkali diasosiasikan dengan dampak yang negatif, seperti kemiskinan. Dengan menggunakan data Susenas Kor 2013, penelitian ini menganalisis pengaruh usia menikah pertama terhadap status sosial ekonomi. Penelitian ini menemukan terdapat pengaruh positif dari usia menikah pertama terhadap status sosial ekonomi.

In the economic scope, marriage had a positive impact with cost efficiency (Becker, 1976). However, these effects do not seem to apply universally. In fact, early marriage is associated with negative effects, such as poverty. Using data Susenas Kor in 2013, this study analyzed the effect of the age at first marriage for socioeconomic status. This research found there is a positive effects on the age of first marriage for socioeconomic status."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2016
S61845
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anita Putri Wulandari
"Studi ini berusaha untuk mencari tahu bagaimana kebijakan pembangunan fasilitas pendidikan terbesar di Indonesia, kebijakan SD INPRES program, yang diikuti oleh generasi pertama dapat memberikan manfaat kepada anaknya atau generasi keduanya dalam bentuk usia menikah pertama sebagai proksi dari manfaat non-tunai dari pengembalian pendidikan. Dengan menggunakan IFLS 4 dan 5 dan juga data dari Duflo, studi ini mengaplikasikan different in different model untuk menganalisis manfaat orang tua dari SD INPRES program dapat mempengaruhi preferensi anaknya dalam bentuk tambahan rata-rata usia menikah. Interaksi antara kelompok grup berdasarkan tahun lahir dan jumlah sekolah yang dibangun berdasarkan lokasi lahir orang tua digunakan untuk menentukan apakah masing-masing orang tua menerima manfaat dari adanya program. Hasil estimasi menemukan bahwa tidak ada cukup bukti bahwa orang tua yang mendapat manfaat dari SD INPRES program mempunyai dampak kepada anaknya dalam bentuk tambahan usia menikah. Lebih lanjut lagi, lokasi spesifik dari pelaksanaan program dapat mempengaruhi hasil tingkat signifikansi dari model regresi.

This study aims to examine how the largest Indonesian schools construction program in 1974, the SD INPRES program, experienced by first generation can give benefits to their children or their second generation in forms of age of first marriage as a proxy of non-cash benefit of return of education. Using IFLS 4 and 5 data and Duflo’s data, this study applies the different in different model to analyze if first generation benefited from the SD INPRES program can affect their children preference with an increasing average age of first marriage. Interaction of young cohort based on parent year of birth and number of schools constructed based on parent location of birth are used to decide if each of the parents can benefited from the program or not. The main finding suggests that there is no significance evidence that parent benefits from the SD INPRES program has an effect to a higher preference on children age of marriage. Furthermore, any specific location can leads to a significance findings in the regression model."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Feby J. Hadayani
"Berbagai literatur mengusulkan bahwa kenaikan partisipasi pendidikan formal secara signifikan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan trend umur pernikahan pertama menaik di Indonesia. Oleh karena itu, segala insentif yang ditujukan untuk meningkatkan partisipasi sekolah dikatakan efektif dalam menunda waktu pernikahan. Pada tahun 1978, tahun akademik diubah menjadi Bulan Juli hingga Juni. Akibatnya, anak yang masuk sekolah di tahun 1978 atau sebelumnya (lahir di tahun 1971 atau sebelumnya) mengalami perpanjangan lama bersekolah selama 6.5 bulan. Penelitian ini menggunakan variasi eksogenus pendidikan yang sesuai dengan metode Fuzzy Regression Discontinuity Design untuk mengatasi potensi endogeneitas pada estimasi pendidikan dan pernikahan dini. Dengan menggunakan data IFLS 2000 & 2007, reformasi ini menyebabkan umur pernikahan anak yang lebih tua sekitar setahun atau dua kali lipat (5% relatif terhadap rata-rata). Saluran yang menghubungkan refomasi terhadap pernikahan anak adalah efek aspirasi pendidikan. Reformasi pendidikan di tahun 1978 menyebabkan perpanjangan lama bersekolah sekitar dua kali lipat atau setahun. Hasil penelitian tetap konsisten di antara berbagai robustness checks.

Various literatures suggest the significant increase in formal schooling participation is one of the contributor in increasing trend of age at first marriage in Indonesia. Therefore, all incentives aimed at increasing school participation is said effective to delay the marriage timing. In 1978, Indonesia’s academic year was changed into July until June. Consequently, children who attended school in 1978 or earlier (born in 1971 or before) experienced longer schooling period for 6.5 months. The study exploit exogenous variation in education that fits Fuzzy Regression Discontinuity Design to overcome the potential endogeneity in the education and child marriage estimation. Using IFLS 2000 & 2007 data, the reform results in older age at first marriage by nearly one year or doubled (5% relative to the mean). The channel that connects the reform to child marriage is education aspiration effect. Education reform in 1978 is linked to the increase years of schooling by doubled or one year. The results are consistent across various robustness checks.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rian Sabrina Rahmani
"Men are found to benefit more from marriage in the form of healthy lifestyle, emotional support and physical comfort. This is because women are more caring and sensitive due to the nurturance characteristics that are usually inherited within them. With that differing them from men, this paper aims to see if education for women brings more benefits to her surroundings, starting from the health status of the husbands. The influence of womens education to husbands rsquo health transpires through the practice of bargaining and discussion between the two partners Highly educated women have the higher tendency to bargain since they are more aware of their self worth. Using data from Indonesian Family Life Survey wave 5, the study found that womens education have positive association on husbands health status, even more substantial affect than his own education level. As women traditionally are the care provider in Indonesian households, her education is more likely to influence the familys lifestyle and have effect on the husbands well being.
Pria seringkali ditemukan lebih banyak mendapatkan manfaat dari menikah dalam bentuk gaya hidup yang lebih sehat, dukungan emosional dan kenyamanan fisik. Hal ini terjadi karena wanita pada umumnya lebih peduli dan sensitif karena memiliki karakteristik pengasuhan dalam diri mereka. Dengan karakteristik yang membedakannya dengan laki-laki, studi ini ingin melihat apakah pendidikan bagi perempuan membawa manfaat lebih banyak untuk sekitarnya, mulai dari kesehatan suami. Pengaruh pendidikan wanita terhadap kesehatan suami terjadi melalui praktik diskusi dan "tawar-menawar" antara pasangan. Wanita berpendidikan tinggi cenderung memiliki keberanian untuk melakukan hal tersebut karena mereka mengetahui nilai dan manfaat diri mereka. Dengan menggunakan data dari Indonesian Family Life Survey 5, studi ini menemukan bahwa pendidikan perempuan memiliki hubungan positif terhadap kesehatan suami, lebih penting dari pendidikan suaminya sendiri. Ide yang mendasari penemuan ini adalah karena wanita secara tradisional adalah penyokong perhatian dan kasih saying dalam rumah tangga, sehingga pendidikannya akan lebih cenderung memengaruhi gaya hidup keluarga yang nantinya memengaruhi kesejateraan suami."
Depok: Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ajiraga Amrantara
"Latar Belakang: Saat ini telah diketahui di beberapa negara bahwa puncak insidensi lesi prakanker serviks terjadi pada kelompok usia pertama kali menikah 12-17 tahun. Namun belum ada data yang menggambarkan tentang sebaran dan hubungan antara usia pertama kali menikah dengan terjadinya lesi prakanker serviks di Indonesia, khususnya di Jakarta. Tujuan: Untuk mengidentifikasi target kelompok usia pertama kali menikah pada wanita peserta program skrining “see and treat” dan mengetahui hubungan antara usia pertama kali menikah, kesadaran dan hasil Tes Inspeksi Visual Asam asetat (IVA). Metodologi: Desain yang digunakan adalah uji potong lintang pada wanita peserta program di 4 puskesmas Jatinegara April – Mei 2009, untuk mengevaluasi frekuensi usia pertama kali menikah peserta, dan kesadaran. Hasil: Partisipasi skrining tertinggi adalah pada usia pertama kali menikah pada umur 20 tahun (14,5% dari n=612). Terdapat hubungan yang bermakna antara usia pertama kali menikah dan kesadaran dengan Uji Chi-Square (p=0,002) dengan OR=5,83, IK 95%=3,68 ; 50,22. Tidak terdapat hubungan bermakna antara usia pertama kali menikah dan temuan hasil Tes IVA dengan Uji Chi-Square (p=0,267) dengan OR4,59, CI 95%=0,53;39,52. Terdapat hubungan bermakna antara usia, jumlah melahirkan dan usia pertama menikah dengan temuan hasil Tes IVA (0,05 < p < 0,10). Kesimpulan: Pada penelitian ini tidak terdapat korelasi antara usia pertama kali menikah, kesadaran dan hasil Tes IVA.

Background: There are some medical research from other country that identified the peak incidence of premalignant cervical cancer was in the age of first marriage 12- 17 age group. But report for distribution and relation between age and premalignant cervical cancer in Indonesia, especially in Jakarta, are poorly understood. Purpose: To identify the target age of first marriage amongst women participant of “see and treat” screening program and to analyze relation of age of first marriage, awareness and IVA test result. Methodology: We used a cross-sectional test to analyze data from Jatinegara female participants in 4 clinics in Jatinegara during April – May 2009, to evaluate frequency of participant age of first marriage, awareness. Result: The highest screening participation was amongst age of first marriage women at 20 year (14,5% in n=612). There was significance relation between age of first marriage and awareness with Chi-Square Test (p =0,002) with OR=5,83, CI 95%=3,68 ; 50,22. There was no significance relation between age of first marriage and VIA test result with Chi-Square Test (p =0,276) with OR=4,59, CI 95%=0,53;39,52. Conclusions: There was no correlation between age of first marriage, awareness and IVA test result. The increasing age of fisrs marriage the participant, more frequencies awareness, will also have more positif pre-cancer detected by VIA."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009
S-pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Okta Veronika
"ABSTRAK
Penelitian ini memfokuskan tentang konsep motherhood pada wanita karier Jepang masa kini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem patriarkal menempatkan wanita sebagai subordinat pria. Subordinasi tersebut dapat dilihat dalam diskriminasi seksual kepada wanita. Di Jepang, diskriminasi seksual telah sampai pada tahap maternity harrassement. Maternity harrasement terjadi kepada wanita yang melawan ekspektasi sosial tersebut dengan tetap melanjutkan karier meskipun hamil. Penelitian ini menggunakan teori feminis radikal serta metode penulisan deskriptif-analisis dengan menggunakan bahan-bahan kepustakaan. Hasil analisis menunjukkan kontrol terhadap motherhood wanita karier masih dipegang pria.

ABSTRACT
The focus of this research was on the concept of motherhood among career women in Japan. The research showed that patriarchy puts women as subordinate to men. This subordinate can be found in sexually discrimination toward women. In Japan, sexual discrimination was reached to the maternity harrassement level. Maternity harrasement happened toward women who againts those social expectation and continue working even though they are pregnant. This research used radical feminism theory, then write down in descriptive analisys methodology which used literature sources. The result of this research showed that man still have a controlled toward career women rsquo s motherhood in Japan."
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2016
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>