Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 178879 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Durra Zaahira
"ABSTRAK
Dalam dua tahun terakhir, stasiun KRL Kereta Rel Listrik Jabodetabek mengalami perbaikan, baik dalam elemen fisik, struktur ruang, dengan maksud pengintegrasian dengan moda transportasi massal dalam kota. Tulisan ini akan membahas mengenai upaya pangkalan ojek sebagai moda transportasi informal dalam bertahan di antara pilihan moda transportasi yang tersedia di ruang publik kota, dalam hal ini, Stasiun Tebet. Dalam upayanya untuk berkeseharian di ruang publik kota, pangkalan ojek melakukan taktik untuk berkompromi dengan aturan yang sudah ditetapkan oleh pemilik kuasa/ruang. Upaya ini diwujudkan melalui manipulasi dan teritorialitas dalam pemanfaatan elemen fisik dan sosial ruang publik kota, terkait dengan kebutuhan dan kesehariannya sebagai pengemudi ojek.

ABSTRACT
Over the last two years, Commuter Line rsquo s Station across Jabodetabek have been improved in their physical element, space structure, or access in order to integrate the station with other mass transportation modes within the city. This paper will discuss how Ojek Stand mdash as an informal transportation mode mdash survive in the midst of other transportation mode options available in the urban public space, in this matter, Tebet Station. To survive among the other transportation modes, Ojek Stand does spatial tactics to negotiate the order set by the one who holds the power over the space. The efforts are shown in the way they manipulate the physical and social element found in the urban public space and territoriality, regarding their needs to make a living as an ojek driver.
"
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Meygie Licara
"Ojek merupakan sebuah society yang menempati ruang orang lain. Ruang ini bukanlah ruang yang seharusnya untuk kehadiran mereka. Dalam kesehariannya, ojek dengan aktivitas sehari-harinya menciptakan suatu produksi ruang pada ruang yang ditempatinya. Kejelian melihat suatu ruang eksisting, pemanfaatan tata ruang, dan pemilihan waktu yang tepat merupakan taktik arsitektur yang dilakukan ojek agar dapat melakukan aktivitas di ruang yang tak seharusnya itu. Akibat dari perlakuan taktik arsitektur ini, ojek mampu mengubah ruang eksisting tanpa harus menghancurkannya.

Motorcycle taxi is a society which is occupying someone else space. This space is should not the space for their presence. In everyday life, motorcycle taxi and their daily activities creates a production space at the space they occupied. The sharpness in understanding existing space condition, the ability to turn existing spatial arrangement into an advantage, and the ability to define the right time, are architectural tactics executed by motorcycle taxi in order to seize existence which is their should not have. The executions of those tactics change the existing space without having to destroy it."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S52349
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Padantya Ramadhani Devaputri
"Skripsi ini membahas pemaknaan masyarakat kota terhadap ruang kampung kota melalui penciptaan teritori dalam aktivitas sosial unit lokal. Penulisan menginvestigasi konstruksi sosial teritori yang terjadi pada lingkup sosial ekonomi dengan meninjau dari hubungan antara mediator teritorial yang terlibat serta aspek konstruksi teritori sosial didalamnya. Mekanisme dan hirarki masyarakat yang membentuk peristiwa sosial kampung kota teraplikasikan melalui satuan hubungan elemen penyusun dalam konteks yang mewadahinya. Pembahasan ini mengambil studi kasus aktivitas berjualan berskala kecil pada ruang jalan Cempaka Baru Timur dengan pengambilan data kualitatif dan meninjau teritorialitas secara makro terhadap ruang kot, dan terhadap lapak berjualan itu sendiri. Hasil pembahasan ini menyarankan bahwa ruang publik kampung rapat dirancang untuk kemungkinan fluiditas teritorialitas masyarakat kampung sebagai celah dari beragamnya pemaknaan ruang kota. Teritorialisasi juga perlu dilihat sebagai cara masyarakat kampung kota menghuni ruang kota dalam segala dinamikanya sebagai bukti kependudukan.

This thesis discusses how Kampung urban society seeks meaning towards the urban village space through the creation of territories in local social units’ activities. The writing investigates the social-territory construction that occurs in the socio-economic sphere by reviewing the relationship between the territorial mediators involved and the aspects of the social territorial construction. Mechanisms and hierarchy of society that make up greater urban kampung social events are applied through a relational unit of elemental relations in the context that accommodates them. This discussion takes cases of activities exhibited in Jalan Cempaka Baru Timur by collecting qualitative data and reviewing the territoriality at a macro level towards the city space, and to the sales stall itself. The results of this discussion suggest that the Kampung public space is designed for the possibility of territorial fluidity of the village community as a gap from different meanings of urban space. Territorialization also needs to be seen as a way for urban village communities to inhabit urban space in all its dynamics as living-proofs of civilization."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zulfan Fadilah
"Rasa aman merupakan hal yang dibutuhkan oleh setiap manusia ketika berada dimanapun dan kapanpun. Rasa aman didapatkan setelah manusia melakukan penyesuaian dengan lingkungannya. Salah satu cara yang dilakukan untuk melakukan penyesuaian tersebut adalah pertahanan diri. Pertahanan diri merupakan mekanisme yang dilakukan seseorang ketika ruang personalnya terganggu. Pada sebuah ruang urban, terdapat banyak jenis aktivitas berbeda yang dilakukan. . Setiap aktivitas memiliki cara yang berbeda dalam pelaksanaannya sehingga terdapat perbedaan cara dalam melakukan mekanisme pertahanan diri. Skripsi ini mengkaji bagaimana mekanisme pertahanan diri dapat membentuk rasa aman saat melakukan aktivitas di ruang terbuka publik. Pengamatan dilakukan pada acara Car Free Day di Jakarta tepatnya di area Bundaran HI dan Senayan. Ruang tempat dilakukannya Car Free Daymerupakan ruang-ruang jalan yang dialihkan fungsinya sementara menjadi ruang rekreasi. Hasil menunjukkan adanya perbedaan mekanisme pertahanan diri pada aktivitas statis dan dinamis. Ruang Car Free Day beserta elemen-elemen di dalamnya, digunakan untuk beraktivitas dan juga mengakomodasi kebutuhan pertahanan diri.

A sense of safety is a fundamental need for everyone, regardless of location or time. This sense of safety is achieved once people adjust to their environment. One way to facilitate this adjustment is through self-defense mechanisms. Self-defense is a process individuals employ when their personal space is disrupted. In an urban space, there are various types of activities taking place. Each activity has its unique way of being performed, which leads to different approaches to employing self-defense mechanisms. This thesis explores how self-defense mechanisms create a sense of safety while engaging in public open spaces. The observation was conducted during the Car Free Day event in Jakarta, specifically in the Bundaran HI and Senayan areas. During Car Free Day, roads are temporarily repurposed as recreational spaces. The findings show distinct self-defense mechanisms in static versus dynamic activities. The spaces used for Car Free Day and the elements within them serve not only for activities but also accommodate the needs for self-defense."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shafa Adenstia Rabbani
"Skripsi ini bertujuan untuk memahami taktik-taktik yang digunakan oleh muslimah berniqab atau bercadar dalam merespons crowding di ruang publik kota untuk mencapai kenyamanan subjektif. Ruang publik, dalam konteks ini, tidak hanya berfungsi sebagai wadah aktivitas keseharian, tetapi juga menjadi arena negosiasi. Muslimah berniqab Salafi dipilih sebagai subjek kajian karena komitmennya terhadap prinsip syariah yang ketat dalam menjaga interaksi sosial. Melalui observasi dan wawancara atas gestur, pola pergerakan, dan pemilihan rute, ditemukan bahwa muslimah berniqab mengembangkan berbagai taktik adaptif dalam merespon crowding yang disesuaikan dengan konteks aktivitas (dinamis maupun statis) dan kondisi spasial yang dihadapi. Taktik-taktik tersebut ditujukan untuk mencapai kenyamanan subjektif melalui pengaturan interaksi sosial dengan strategi spasial. Dengan demikian, penelusuran ini menunjukkan keterkaitan antara identitas dan perilaku, serta bagaimana keduanya dinegosiasikan secara spasial dalam konteks menghadapi crowding di ruang publik kota.

This thesis aims to understand the tactics employed by Niqabi women in responding to crowding in urban public spaces to achieve subjective comfort. Public space, in this context, is not merely a site for daily activities but also serves as an arena for negotiation. Salafi niqabi women were chosen as the subject of study due to their devotion to strict sharia principles in managing social interactions. Through observation and interviews focusing on gestures, movement patterns, and route selection, the study finds that niqabi women develop various adaptive tactics in response to crowding, tailored to both the type of activity (dynamic or static) and the spatial conditions encountered. These tactics aim to achieve a sense of subjective comfort by regulating social interations through spatial strategies. Thus, this study highlights the relationship between identity and behavior, and how both are spatially negotiated in the context of encountering crowding in urban public spaces.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Artikel ini meneleaah pengalaman orang-orang muda dalam moda transportasi yang belakangan dipergunakan, ojek)taksi sepeda motor), di sebuah kota pulau. Tulisan ini mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana dinamika sosial dan spasial pengojek, yang terkait dengan jenis-jenis berbeda pangkalan ojek..."
JSPA 1:2 (2012)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Melvin Dearny
"Fenomena public display of affection (PDA) atau ekspresi romantis di ruang publik memicu berbagai reaksi sosial, terutama di masyarakat urban Indonesia yang menjunjung tinggi norma sosial. Dalam konteks ini, ruang publik menjadi ruang penting bagi individu untuk mengekspresikan keromantisan yang bersifat intim dan privat secara terbuka di ruang publik. Tulisan ini melihat bagaimana arsitektur dapat berperan secara inklusif dalam mewadahi ekspresi romantis serta menghadapi ketabuan sosial terkait ekspresi romantis di ruang publik. Untuk memamahi hal tersebut, tulisan ini mengacu pada teori space of intimacy oleh Charton & Boudreau (2017), teori proxemics oleh Edward T. Hall (1990), teori affordance oleh James J. Gibson (1979), dan teori taktik visibility dan invisibility oleh Brighenti (2007), serta teori pendukung lainnya. Melalui metode kualitatif, data dikumpulkan di dua tempat studi kasus melalui observasi lapangan dan wawancara di sepanjang hari baik hari kerja maupun akhir pekan. Tulisan ini memperlihatkan bahwa pasangan romantis menggunakan taktik spasial dan mengatur gestur tubuh untuk menciptakan space of intimacy mereka. Sementara itu, pengelola ruang publik merespons melalui strategi desain yang meningkatkan keterpantauan guna membatasi aktivitas-aktivitas yang dinilai melanggar batas norma. Dengan demikian, ruang publik menjadi ruang inklusif yang mampu memfasilitasi semua pengalaman, termasuk memfasilitasi perasaan intim bagi pasangan romantis.

The phenomenon of public display of affection (PDA) or romantic expression in public spaces provokes various social reactions, particularly in urban Indonesian communities that uphold strong social norms. In this context, public spaces serve as important arenas where individuals express intimate and private romantic gestures openly. This study examines how architecture can play an inclusive role in accommodating romantic expressions while also addressing the social taboos surrounding PDA in public. To explore this issue, the research draws on the theory of space of intimacy by Charton & Boudreau (2017), proxemics by Edward T. Hall (1990), affordance by James J. Gibson (1979), and Brighenti’s (2007) theory of visibility and invisibility tactics, along with other supporting theories. Using a qualitative method, data was collected from two case study locations through field observation and interviews conducted on both weekdays and weekends. The findings indicate that romantic couples employ spatial tactics and bodily gestures to create their own space of intimacy. Meanwhile, public space managers respond with design strategies that enhance surveillance in order to regulate activities perceived to violate social norms. Thus, public spaces become inclusive environments capable of accommodating diverse experiences, including the intimate emotional expression for romantic partners. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Sebagai sebuah kota, transportasi di Kota Depok memiliki tingkat
kerumitan yang lebih tinggi dibanding desa. Beragam angkutan darat di Kota
Depok yang telah diatur keberadaannya oleh pemerintah kota (angkutan
formal) tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan
transportasi. Dengan ketidakmampuan angkutan formal tersebut maka timbul
sistem transportasi informal, diantaranya adalah ojek. Tersedianya layanan
ojek motor di Kota Depok menunjukan adanya kebutuhan angkutan umum
selain angkutan formal. Penelitian ini bertujuan mengetahui kapasitas
layanan ojek motor di Kota Depok. Untuk menjawab masalah tersebut, perlu
diketahui bagaimana keberadaan ojek motor dalam sistem transportasi
angkutan umum di Kota Depok. Analisa yang digunakan adalah analisa
deskriptif dengan unit analisis titik pangkalan ojek berupa jumlah pengojek
dan rata-rata angkutan tiap pengojek perhari (trip) beserta variabel lain yaitu
jalur trayek angkutan kota, fungsi jalan dan karakteristik wilayah kota di Kota
Depok. Hasilnya menunjukkan bahwa kapasitas layanan ojek berbanding
lurus dengan jumlah armada angkutan kota dengan nilai kapasitas layanan
terbesar berdasarkan fungsi jalan kolektor primernya 86,64 % dari total
kapasitas layanan ojek di Kota Depok; dan nilai kapasitas layanan ojek
terbesar dengan karakteristik wilayah desa-kota yaitu 53,34 %."
[Universitas Indonesia, ], 2007
S33982
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nabila
"Skateboarding dan graffiti writing, sebagai wujud permainan di kota, melawan fungsi ruang kota sesungguhnya; anak muda mengubahnya berdasarkan logika dan interpretasinya. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menginvestigasi berbagai macam taktik aktor kota—khsususnya pemain skateboard dan penulis graffiti—dalam mengapropriasi ruang kota. Studi literatur, studi kasus, dan wawancara berbasis pengalaman diimplementasikan pada proses penelitian; pendekatan-pendekatan ini akan berfokus dalam memetakan interplay dari persepsi kreatif para aktor dan bagaimana sebuah ruang mengakomodasinya. Penelitian ini mengidentifikasi daerah-daerah di Jakarta dikarenakan dimensi peraturan strategis yang meregulasi kegiatan ruang kota yang bersifat spontan. Hasil menunjukkan bahwa respon taktis para aktor dapat merubah sebuah ruang sesuai dengan kebutuhan spasialnya. Tempat yang dipilih dan digunakan untuk aktivitas tersebut membutuhkan pertimbangan terhadap kondisi spasial dan tingkat pengawasan. Hasil mengilustrasikan paradigma spasial seputar keterkaitan antara affordances yang diciptakan oleh elemen kota dan respon para aktor. Penelitian ini menyarankan pendekatan dengan metode inisiatif yang mencerminkan kapasitas suatu kota untuk mendorong aktivitas playful dalam kota.

Skateboarding and graffiti, as a form of play in the city, are countering the intended use of urban space based on their logic and interpretations. In a follow up, this paper sits within a broad concern to investigate various tactics in which city actors-specifically skaters and writers-are continually reproduced to appropriate urban space. Literature review, site study, and experience-based user interview are applied when conducting the research process; these approaches will focus on mapping the interplay of users' creative perceptions and how a space caters to the act. This study identifies areas within Jakarta due to its strategic policy dimension regulating spontaneous urban practices. The findings show that the actors' tactical responses transform space according to their spatial needs. Accordingly, preferred spot for these activities requires the consideration of spatial condition and surveillance level. The result illustrates the spatial paradigm on the connectivity between affordances created by the urban elements and the actors' responses. The study suggested an initiative approach that reflects upon the capacity of a city to encourage playful activities in the city."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Firman Shantyabudi
"Beberapa faktor seperti meningkatnya tuntutan masyarakat akan angkutan, tidak mencukupinya lapangan pekerjaan bagi sebagian anggota masyarakat, kurang mencukupinya angkutan umum yang tersedia baik dari segi jumlah maupun pelayanan, dan masih banyaknya lokasi-lokasi yang tidak terjangkau angkutan umum yang resmi serta masih terdapatnya silih pendapat tentang keberadaan ojek; melatar belakangi penulis untuk ingin lebih memahami masalah sosial tersebut.
Menulis tentang tukang ojek juga didorong oleh ketertarikan penulis, dimana keberadaan ojek tetap dibutuhkan walaupun di beberapa jalan tertentu telah tersedia angkutan yang resmi; sehingga menjadikan ojek secara normatif melanggar. Sesungguhnya keberadaan ojek menjadi pesaing bagi angkutan yang resmi maupun antar tukang ojek itu sendiri, karena ojek tidak diatur dalam ketentuan perundang-undangan.
Mereka sehari-hari begitu aktif mengantar penumpang pada rute-rute angkutan resmi dengan memungut ongkos. Tidak seperti angkutan resmi pada umumnya, tidak terdapat kewajiban membayar pajak bagi ojek karena memungut biaya dari masyarakat. Adanya ketimpangan ini tidak mendorong terjadinya konflik antara tukang ojek dengan angkutan resmi lainnya. Hanya saja ojek tampak seringkali lebih menonjol dilapangan, karena mereka justru banyak menempati lokasi-lokasi yang dilarang untuk parkir. Apakah menjadi tukang ojek merupakan suatu pilihan profesi, atau karena kondisi tertentu orang memilih ojek sebagai salah satu alternatif yang sifatnya kontemporer?.
Dengan demikian, maka penulisan ini ingin mengkaji melalui konsep-konsep interaksi sosial dan teori pertukaran (yang juga melandasi terjadinya hubungan-hubungan sosial), bagaimana tukang ojek melakukan interaksi dengan pihak-pihak tertentu selama melakukan pekerjaannya. Penulisan ini ingin mengetahui dan memahami sekaligus menggambarkan adanya aturan-aturan yang dijadikan pedoman untuk memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapai serta adakah solidaritas yang tumbuh diantara mereka bila menghadapi ancaman.
Untuk menambah bobot dalam menganalisa gejala sosial yang diamati pada tukang ojek, maka juga dilakukan pandangan dari berbagai sudut pandang; khususnya yang menyangkut kerawanan-kerawanan yang menjadi potensi konflik dimana konflik-konflik yang muncul seringkali berkaitan erat dengan masalah keamanan dan ketertiban. Mengupayakan terpeliharanya keamanan dan ketertiban merupakan peran dari organisasi kepolisian.
Penulisan ini didasari atas hasil penelitian yang dilakukan melalui pendekatan kualitatif, dengan metode pengumpulan data; metode pengamatan dan wawancara; dimana hasilnya menunjukkan adanya pedoman berupa aturan-aturan tidak tertulis yang diyakini dan dipedomani dapat menjamin tercapainya tujuan para tukang ojek. Wujud solidaritas yang ada berupa tolong menolong antar sesama tukang ojek, maupun tindakan anarkis/pengeroyokan terhadap mereka yang melakukan kejahatan. Rasa solider tersebut terpelihara, karena beberapa alasan/latar belakang yang relatif sama diantaranya : warga Pekayon (Betawi), menghadapi ancaman yang sama dan pendidikan rendah.
Dengan memperoleh gambaran tentang tukang ojek ini, diharapkan akan dapat diperoleh pemikiran-pemikiran lain yang berkembang, baik bagi bidang akademis maupun teknis dilapangan; karena tidak dapat dipungkiri bahwa selama masih ada anggota masyarakat yang membutuhkan, maka ojek akan tetap ada."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2000
T7077
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>