Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 165314 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Muhammad Rizki Ramadhan
"ABSTRACT
Perubahan gaya hidup yang tidak sehat dapat menjadi faktor pemicu meningkatnya kadar kolesterol, hipertensi, dan obesitas hingga beresiko terbentuknya aterosklerosis. Aterosklerosis adalah pengerasan dan penyempitan arteri sehingga mengakibatkan peredaran darah menjadi terhambat. Salah satu herbal yang berpotensi untuk mengatasi penyakit tersebut adalah jamu anti-aterosklerosis yang terdiri dari daun tanjung, daun belimbing manis, dan temulawak. Hasil penelitian Tristantini et al. 2015 membuktikan bahwa daun tanjung mempunyai keaktifan sebagai antioksidan, anti kolesterol, dan anti platelet, serta daun belimbing sebagai antihiperglikemik. Bentuk sediaan jamu adalah serbuk simplisia yang diseduh dengan air panas. Sebelum dipasarkan, produk perlu melalui berbagai uji agar dapat dikatakan layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Pencantuman informasi umur simpan sangat penting terkait dengan keamanan produk pangan dan untuk memberikan jaminan mutu pada konsumen. Pendugaan umur simpan jamu anti-aterosklerosis dilakukan dengan metode Accelerated Shelf Life Test ASLT melalui pendekatan kadar air kritis dan permodelan sorpsi isotermis. Dalam penelitian, dilakukan pula uji organoleptik dan uji Angka Kapang Khamir AKK untuk menentukan kondisi kritis. Permeabilitas kemasan merupakan parameter yang terdapat dalam persamaan umur simpan Labuza, 1982 dan diukur dengan metode gravimetri. Berdasarkan hasil penelitian, umur simpan jamu anti-aterosklerosis adalah 233 hari pada kemasan kantong saring dan alumunium foil; 94 hari pada kemasan kantong saring dan plastik PE ; serta 65 hari pada kemasan plastik PE apabila disimpan pada suhu 30?C dan kelembaban relatif RH 75.

ABSTRACT
Unhealthy lifestyle could trigger increased levels of cholesterol, hypertension, and obesity, even atherosclerosis. Atherosclerosis is hardening and tightening of the arteries that cause blocking of blood circulation. One of the herbs that have the potential to overcome the disease is anti atherosclerosis herbs consisting of Tanjung leaf, starfruit leaf, and curcuma. The results of Tristantini et al. 2015 proved that Tanjung leaf has a antioxidant activity, anti cholesterol, and anti platelets, as well as starfruit leaf as anti hyperglycemia. The herbs appear in simplicia powder brewed with hot water. Before being marketed, products need to be tested in order to be considered feasible for public consumption. Inclusion of shelf life information is very important regarding to food product safety and to provide quality assurance to consumers. Shelf life of anti atherosclerosis herbs was estimated by Accelerated Shelf Life Test ASLT method based on critical water content approach and sorption isotherms model. In the study, organoleptic test and mold test were carried out as well to determine critical condition. Packaging permeability was a parameter in shelf life equation Labuza, 1982 and was measured by gravimetric method. The results of this study, shelf life of anti atherosclerosis herbs was predicted to be 233 days in filter bag alumunium foil packaging 94 days in filter bag plastic PE packaging and 65 days in plastic PE packaging when it stored at temperature of 30 C and relative humidity RH of 75."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tobing, Bambang S.L.
"Suatu alat ukur yang baik, seharusnya memberikan basil pengukuran yang akurat (konsisten). Tes merupakan alat ukur. Keakuratan suatu tes ditunjukkan dengan reliabilitas tes tersebut Besamya reliabilitas antara 0-1, jika suatu tes mempunyai reliabilitas 1, berarti pengukuran tes sempurna. Nilai reliabilitas seperti itu, nyatanya tidak pernah dijumpai, berarti pengukuran selalu mempunyai kesalahan. Walaupun demikian tes yang baik dapat dicari. Tugas akhir ini akan membabas beberapa metode untuk menaksir reliabilitas suatu tes yaitu: metode reliabilitas tes retes, metode reliabilitas konsistensi internal dan metode reliabilitas bentuk paraleL Jika tes tidak memberikan hasil reliabilitas yang baik, dapat dilakukan analisa soal. Analisa soal diperlukan untuk memilih soal-soal yang baik dan membuang atau memperbaiki soal yang buruk, sebingga koelisien rehabilitas sebelumnya diperbesar."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1996
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Raden Roro Gabrielle Nesiasetti
"ABSTRAK
Aterosklerosis merupakan proses terjadinya penyempitan dan pengerasan pembuluh darah yang disebabkan oleh penimbunan lemak, terutama dalam pembuluh darah arteri. Pada tahun 2016, tercatat bahwa 35% kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit yang terjadi karena aterosklerosis. Beberapa alternatif penyembuhan aterosklerosis adalah dengan mengkonsumsi obat antiaterosklerosis. Namun, obat anti-aterosklerosis yang telah beredar di masyrakat luas saat ini memiliki efek samping yang cukup mengganggu saat dikonsumsi. Kombinasi herbal yang terdiri dari daun tanjung, daun belimbing manis dan temulawak dipercaya secara empirik berperan sebagai jamu antiaterosklerosis yang mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan, antihiperglikemik, dan antiinflamasi serta meningkatkan aktivitas imunomodulator dalam tubuh. Pengujian aktivitas antihiperglikemik, antiinflamasi dan aktivitas imunomodulator dilakukan masing-masing terhadap 5 kelompok perlakuan tikus putih jantan yaitu kelompok normal (tanpa perlakuan), kontrol positif (diberikan obat antihiperglikemik/antiinflamasi/imboost), dosis 1 ekstrak jamu (13,5 mg/g BB), dosis 2 ekstrak jamu (18 mg/g BB), dan dosis 3 esktrak jamu (22,5 mg/g BB). Melalui pengujian yang dilakukan, dosis jamu anti-aterosklerosis yang menghasilkan aktivitas imunomodulator yang optimum bervariasi antara dosis 2 dan 3. Dapat disimpulkan bahwa formulasi ekstrak jamu anti-aterosklerosis dapat digunakan sebagai imunomodulator yang mampu untuk meningkatkan dan meregulasi sistem kekebalan tubuh karena diketahui adanya aktivitas antihiperglikemik dan antiinflamasi dari jamu antiaterosklerosis.

ABSTRACT
Atherosclerosis is a process of narrowing and hardening of the arteries caused by accumulation of fat, especially in arteries. In 2016, it was recorded that 35% of deaths in Indonesia were caused by diseases that occur due to atherosclerosis. Some alternatives to cure atherosclerosis are by taking antiaterosclerosis drugs. However, anti-atherosclerosis drugs that have been circulating in the wider community now have side effects that are quite disturbing when consumed. The combination of herbs consisting of tanjung leaves, sweet starfruit leaves and ginger is empirically believed to act as an antiaterosclerosis herbal medicine containing phenolic and flavonoid compounds that have the potential to be antioxidants, antihyperglycemic, and anti-inflammatory and to increase immunomodulatory activity in the body. Testing of antihyperglycemic, anti-inflammatory and immunomodulatory activities was carried out on each of the 5 treatment groups of male white rats namely normal group (without treatment), positive control (given antihyperglycemic/anti-inflammatory / imboost drug), dose 1 of herbal extract (13.5 mg/g BW), dose 2 of herbal extract (18 mg/g BW), and dose 3 of herbal extracts (22.5 mg/g BW). Through testing, the dosage of anti-atherosclerosis herbs that produce optimum immunomodulatory activity varies between doses 2 and 3. It can be concluded that the formulation of anti-atherosclerosis herbal extract can be used as an immunomodulator that is able to enhance and regulate the immune system because of the known antihyperglycemic and anti-inflammatory activity of anti-atherosclerosis herbs."
2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Robby Pratama Putra
"Penelitian ini bertujuan untuk merancang ulang tampilan antar muka platform konsultansi edukasi dengan menggunakan pendekatan berpikir desain untuk meningkatkan pengalaman pengguna dan kegunaan platform. Metodologi penelitian ini melibatkan empat fase utama dari Design thinking, yaitu pemahaman masalah, definisi permasalahan, ideasi solusi, dan pengujian prototipe. Tahap pemahaman dan observasi awal mengungkapkan tantangan pengguna dalam navigasi yang kompleks, integrasi informasi yang tidak memadai, serta kurangnya fokus pada tugas-tugas krusial. Berdasarkan temuan ini, dilakukan penyederhanaan navigasi, pengelompokan informasi yang lebih baik, dan penonjolan informasi penting dengan jelas dalam perancangan ulang antarmuka. Implementasi prototipe dilakukan menggunakan Figma, dengan iterasi berkelanjutan yang melibatkan pengguna akhir dalam pengujian interaksi dan evaluasi alur kerja antarmuka. Evaluasi menggunakan berbagai metode, termasuk pengukuran System Usability Scale (SUS), menunjukkan peningkatan signifikan dari skor SUS awal 30 menjadi 78.5 setelah implementasi. Selain itu, uji coba keandalan (reliability testing) dilakukan untuk memastikan kinerja platform yang stabil dan responsif di berbagai kondisi penggunaan.

This research aims to redesign of the user interface for an educational consultancy platform using a design thinking approach to enhance user experience and usability. The research methodology encompasses the four main phases of Design thinking: problem understanding, problem definition, solution ideation, and prototype testing. Initial understanding and observation phases revealed user challenges such as complex navigation, inadequate information integration, and insufficient focus on critical tasks. Based on these findings, the redesign focused on simplifying navigation, improving information grouping, and highlighting important information clearly. Prototype implementation was conducted using Figma, with continuous iterations involving end users in interaction testing and workflow evaluation. Evaluation methods included System Usability Scale (SUS) measurement, showing a significant improvement from an initial SUS score of 30 to 78.5 post-implementation. Additionally, reliability testing was performed to ensure stable and responsive platform performance under various usage conditions."
Jakarta: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fadel Putra Wicaksono
"Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi saat tekanan darah berada pada nilai 130/80 mmHg atau lebih dimana keadaan normal sekitar 120/80 mmHg. Hipertensi jika dibiarkan dapat mengakibatkan penyakit yang lebih berbahaya seperti stroke, serangan jantung, dan penyakit ginjal. Saat ini untuk mengurangi tekanan darah maka dapat digunakan obat seperti ACE inhibitor, Alpha-2 receptor agonist, dan Captoril. Reaksi terhadap obat-obat hipertensi beragam, namun jika dikonsumsi lebih dari yang dianjurkan dapat menimbulkan efek samping seperti mual, diare, sakit kepala, dan berat badan turun atau naik secara drastis. Oleh karena itu diperlupakan kajian tentang jamu anti aterosklerosis memiliki kemampuan menurunkan tekanan darah. Jamu antiaterosklerosis terdiri dari daun tanjung (Mimusops elengi L.), daun belimbing manis (Averrhoa carambola L.), dan temulawak (Curcuma xanthorrhiza L.). Daun tanjung mempunyai kemampuan antioksidan yang tinggi dengan nilai IC50 (inhibitory concentration 50) sebesar 10,6, dan memiliki keaktifan anti kolesterol dapat menurunkan kolesterol sebanyak 36%. Daun belimbing mempunyai kemampuan antioksidan yang sedang dengan nilai IC50 sebesar 75,43, dan sebagai antihiperglikemik dapat menurunkan gula darah sebesar 42 mg/dl. Temulawak mempunyai kemampuan antioksidan yang sedang dengan nilai IC50 sebesar 70,3, dan sebagai hepatoprotector dapat menurunkan kadar ALT (Alanine transaminase) sebanding dengan 80% kurkumin, dan kadar AST (Aspartate transaminase) sebanding dengan 85% kurkumin. Kombinasi dari ketiga jenis tumbuhan tersebut dijadikan formula jamu antiaterosklerosis yang memiliki efek anti hipertensi, dengan dosis 52,8 mg/200g dapat menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 22,03% dan menurunkan tekanan darah diastolik sebesar 25,14%.
Hypertension or high blood pressure is a condition when a person blood pressure is higher than 130/80 mmHg, where normal blood pressure is around 120/80 mmHg. Hypertension if leave alone could cause further complication such as stroke, heart attack, and kidney failure. Today, the common medicine to decrease blood presure is ACE inhibitor, Alpha-2 receptor agonist, and Captoril. Reaction to these medicines is varied if these medicine is consumed over the recommended dosage could cause nausea, diarrhea, headache, and drastic fluctuation of weight. According to this there is a need for literature review for anti-atherosclerosis herbs has the ability to decrease blood pressure. Anti-atherosclerosis herbs consist of tanjung leaves (Mimusops elengi L.), starfruit leaves (Averrhoa carambola L.), and curcuma (Curcuma xanthorrhiza L.). Tanjung leaves have high antioxidant potential with IC50(inhibitory concentration 50) as high as 10.6, and the ability as an anti-cholesterol and could decrease 36% of cholesterol level. Starfuit leaves have moderate antioxidant potential with IC50 as high as 75.43, and act as anti-hyperglicemic agent and could decrease bloos sugar level as much as 42 mg/dl. Curcuma have moderate antioxidant potential with IC50 as high as 70.3, and act as hepatoprotector and could deacrease ALT (Alanine transaminase) level as much as 80% of curcumin, and decrease AST (Aspartate transaminase) level as much as 85 of curcumin. The combination of the three herbs is formulated as anti-atherosclerosis herbs which have hypotensive effect. With a dose of 52.8 mg/200 g the herbs could deacrease 22.03% of systolic blood pressure and deacrease 25.14% of diastolic blood pressure.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fabian
"ABSTRAK
Nama : FabianProgram Studi : Magister Kedokteran KerjaJudul : Uji Validitas Dan Uji Reliabilitas Kuesioner Work Family Conflict Scale Dalam Bahasa Indonesia Pendahuluan: Karyawan pada perusahaan jenis usaha besar maupun jenis usaha kecil di Indonesia, seringkali harus tinggal berjauhan dari keluarga. Kondisi demikian dikhawatirkan dapat menimbulkan konflik pekerjaan dan keluarga, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada produktivitas kerja. Kuesioner Skala Konflik Pekerjaan dan Keluarga telah tersedia untuk mendeteksi hal ini, diperlukan validasi dari kuesioner ini dalam Bahasa Indonesia yang sesuai dengan Budaya Indonesia.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai validitas dan nilai reliabilitas dari Kuesioner Konflik Pekerjaan dan Keluarga dalam Bahasa Indonesia yang dapat digunakan bagi karyawan pada perusahaan jenis usaha besar maupun kecil.Metode : Dilakukan penerjemahan Kuesioner Skala Konflik Pekerjaan dan Keluarga dalam Bahasa Inggris dengan menggunakan pendekatan Epidemiologi Transkultural. Kuesioner kemudian diujicobakan terhadap 66 responden penelitian dari perusahaan dengan jenis usaha besar dan kecil untuk mengetahui kekuatan korelasi antarbutir pernyataan kuesioner dan nilai validitasnya. Selanjutnya dilakukan uji reliabilitas dengan teknik ukur ulang untuk mendapatkan nilai Cronbach rsquo;s Alpha.Hasil : Penelitian menunjukkan responden memiliki latar belakang pendidikan minimal SMP/Sederajat. Hasil uji statistik terhadap 18 butir pernyataan dalam Kuesioner Skala Konflik Pekerjaan dan Keluarga dalam Bahasa Indonesia mendapatkan nilai rata-rata validitas kuesioner adalah kuat yaitu 0,60 dan nilai rata-rata reliabilitas kuesioner adalah sangat reliabel, yaitu 0,916.Kesimpulan : Kuesioner Skala Konflik Pekerjaan dan Keluarga dalam Bahasa Indonesia adalah valid dan reliabel sehingga dapat digunakan bagi karyawan baik pada perusahaan jenis usaha besar maupun jenis usaha kecil di Indonesia dengan tingkat pendidikan minimal SMP/Sederajat. Kata kunci : Kuesioner Skala Konflik Pekerjaan dan Keluarga, Uji Validitas, Uji Reliabilitas.

ABSTRACT
ABSTRACT Name FabianStudy Program Magister of Occupational MedicineTitle Validity and Reliability Test of Work Family Conflict Scale Questionnaire in Indonesian Language Introduction Employee who is working in large and small scale industry in Indonesia, would frequently required to live separately from his family. This condition may trigger work and familly conflict that in the end will affect the workers productivity. Work Family Conflict Scale Questionnaire is available to detect this problem among workers, hence a validation in Indonesian Language which is expected to meet the culture of Indonesia is needed.Objectives To validate and get reliability scores of The Work Family Conflict Scale Questionnaire in Indonesian Language for employees working in large and small scale industry. Methods Transcultural Epidemiology approach was used as the translation procedure of the original questionnaire. The validity is tested in 66 respondents from large and small scale industries using measured using inter items correlations and validity. The reliability is tested using repeated testings within 15 ndash 30 days and measured using Cronbach rsquo s Alpha.Results Most of our respondents were mostly junior high school graduates. Statistical tests of 18 items of Work Family Conflict Scale Questionnaire adopted in Indonesian Language revealed strong, the average of validity score 0.60 and very reliable, the average of reliability score 0.916. Conclusion The Work Family Conflict Scale Questionnaire in Indonesian Language is valid and reliable, and therefore can be used for employees working with large and small scale industry in Indonesia with minimal education level of junior high school. Key Words Work Family Conflict Scale Questionnaire, Validity Test, Reliability Test."
2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riska Amalia
"ABSTRAK
Aterosklerosis merupakan kondisi pembentukan plak atau ateroma di dalam arteri yang mengandung darah kaya oksigen sehingga mempersempit dan menyebabkan kejang pada arteri. Pembentukan plak berkelanjutan mampu mengarah pada inflamasi akut, inflamasi kronis, dan aterosklerosis. Kombinasi herbal yang terdiri atas daun tanjung Mimusops elengi L., daun belimbing manis Averrhoa carambola L., dan temulawak Curcuma xanthorrhiza R. dipercaya secara empirik berperan sebagai jamu anti-aterosklerosis yang mengandung quercetin sebagai flavonoid dengan potensi anti-inflamasi. Pengujian aktivitas anti-inflamasi dilakukan secara in vivo pada tikus putih jantan galur Sprague-Dawley yang diinduksi oleh karagenan 1 dan terbagi dalam 5 kelompok pengujian, yaitu kontrol negatif diinduksi dan diberikan Na CMC 0,5, kontrol positif diinduksi dan diberikan Natrium diklofenak 2, dosis I diinduksi dan diberikan ekstrak jamu 2,7 mL/200 g BB, dosis II diinduksi dan diberikan ekstrak jamu 3,6 mL/200 g BB, dan dosis III diinduksi dan diberikan ekstrak jamu 4,5 mL/200 g BB. Aktivitas anti-inflamasi dari hasil ekstraksi 24 gram jamu berukuran serbuk 60.

ABSTRACT
Atherosclerosis is plaque or atheroma formation inside rich oxygen artery which leads to narrowing and shocking the artery itself. Plaque continuous formation may lead into acute and chronic inflammation that will responsible for atherosclerosis formation. Herbs combination consists of tanjung leaves Mimusops elengi L., starfruit leaves Averrhoa carambola L., and curcuma Curcuma xanthorrhiza R. are empirically believed to contribute as anti atherosclerosis herbs which contains quercetin as potential flavonoid with anti inflammatory activity. Anti inflammatory activity test is done using in vivo method in Sprague Dawley strains of white male rats that carrageenan 1 induced and divided in 5 groups, which are negative control induced and given Na CMC 0.5, positive control induced and given Sodium diclofenac 2, dose I induced and given 2.7 mL 200 g BB of herbs extract, dose II induced and given 3.6 mL 200 g BB of herbs extract, and dose III induced and given 4.5 mL 200 g BB of herbs extract. 24 gram of herbs in 60."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Priska Anastasia Cecilia
"Aterosklerosis merupakan penyakit yang mematikan berupa penebalan dinding dan penyempitan lumen arteri yang disebabkan karena tingginya kolesterol dalam darah. Penanganan aterosklerosis secara modern menggunakan obat–obatan sintetik sering menyebabkan beberapa resiko efek samping. Oleh karena itu, diformulasikan jamu anti–aterosklerosis berbahan baku daun tanjung, daun belimbing manis, dan temulawak. Jamu anti–aterosklerosis dibuat dengan mengekstraksi ketiga bahan tersebut menggunakan metode refluks pada suhu 70°C dalam waktu 90 menit menggunakan variasi pelarut etanol–air dan pengeringan menggunakan oven pada suhu 55°C dalam waktu 24 jam. Rendemen ekstraksi yang diperoleh adalah jamu anti–aterosklerosis sebesar 26,385%, daun tanjung sebesar 19,579%, daun belimbing manis sebesar 19,461%, dan temulawak sebesar 23,347%. Pengujian kandungan total flavonoid menggunakan spektrofotometri UV–Vis pada panjang gelombang 415 nm menghasilkan nilai terbaik pada variasi volume pelarut 50% etanol (125 mL) dan 50% air (125 mL), yakni sebesar 39,91% pada jamu anti–aterosklerosis, 36,57% pada daun tanjung, 23,35% pada daun belimbing manis, dan 38,44% pada temulawak. Pengujian kandungan total fenolik menggunakan spektrofotometri UV–Vis pada panjang gelombang 765 nm menghasilkan nilai terbaik pada variasi volume pelarut 50% etanol (125 mL) dan 50% air (125 mL), yakni sebesar 41,70% pada jamu anti–aterosklerosis, 40,84% pada daun tanjung, 31,57% pada daun belimbing manis, dan 41,46% pada temulawak. Dari penelitian ini didapati hasil dengan pola yang sama, yakni meningkatnya volume etanol hingga 50% pada pelarut turut meningkatkan hasil rendemen ekstrak, kandungan total flavonoid, dan kandungan total fenolik; kemudian mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena etanol memiliki daya kelarutan yang lebih baik dari air sehingga etanol dapat mengekstrak lebih banyak senyawa flavonoid dan senyawa fenolik, serta mampu menghasilkan hasil rendemen ekstrak yang lebih banyak pula.

Atherosclerosis is a deadly disease in the form of thickening of the walls and narrowing of the arterial lumen caused by high cholesterol in the blood. Modern management of atherosclerosis using synthetic drugs often causes several risks of side effects. Therefore, anti–atherosclerosis herbal medicine made from tanjung leaves, sweet starfruit leaves, and temulawak is formulated. Anti–atherosclerotic herbs are prepared by extracting the three ingredients using the reflux method at 70°C within 90 minutes using variations of the ethanol–water solvent and drying using an oven at 55°C within 24 hours. The extraction yield obtained was anti–atherosclerosis herbs at 26.338%, tanjung leaves at 19.579%, starfruit leaves at 19.461%, and curcuma at 23.334%. Testing the total flavonoid content using UV–Vis spectrophotometry at a wavelength of 415 nm produces the best value on the variation of 50% ethanol (125 mL) and 50% water (125 mL) solvent volume, which is 39.91% in anti–atherosclerotic herbs, 36.57% in tanjung leaves, 23.35% in starfruit leaves, and 38.44% in curcuma. Testing the total phenolic content using UV–Vis spectrophotometry at a wavelength of 765 nm produces the best value in the variation of the solvent volume of 50% ethanol (125 mL) and 50% water (125 mL), which is equal to 41.70% in anti–atherosclerotic herbs, 40.84% in tanjung leaves, 31.57% in starfruit leaves, and 41.46% in curcuma. From this study the results were found with the same pattern, namely increasing the volume of ethanol up to 50% in solvents also increased the yield of extract yield, total flavonoid content, and total phenolic content; then decreased. This happens because ethanol has better solubility than water so that ethanol can extract more flavonoid compounds and phenolic compounds, and is able to produce more extract yield."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shamira Ausvy Maliha
"Jamu Turun Tegang Saraf merupakan produk jamu cair siap minum berbahan dasar cengkih, jahe merah, dan pala yang berkhasiat menurunkan ketegangan saraf. Jamu ini merupakan jamu baru yang masih memerlukan pengembangan produk salah satunya dengan menduga umur simpannya untuk memberikan jaminan keamanan mutu serta informasi keamanan konsumsi bagi konsumen. Dalam penelitian ini, mutu dan keamanan produk diamati berdasarkan variasi jumlah penambahan pengawet natrium benzoat (0; 1000; dan 2000 mg/kg) serta suhu penyimpanan (30℃; 40℃; dan 50℃). Penelitian dilakukan untuk memperoleh jumlah penambahan pengawet yang memberikan umur simpan jamu paling lama dengan mengamati parameter penurunan kandungan senyawa fenolik dan nilai organoleptik (warna, bentuk, aroma, dan rasa) jamu selama penyimpanan. Pendugaaan umur simpan dilakukan menggunakan metode Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) dengan pendekatan model persamaan Arrhenius. Diamati pertumbuhan mikroba selama penyimpanan menggunakan metode Angka Lempeng Total (ALT) guna memberikan jaminan keamanan konsumsi bagi konsumen. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa pendugaan umur simpan dilakukan berdasarkan parameter kritis kandungan senyawa fenolik dimana umur simpan Jamu Turun Tegang Saraf tanpa penambahan pengawet dengan suhu penyimpanan 30℃; 40℃; dan 50 adalah 3; 4; dan 5 hari; Jamu Turun Tegang Saraf dengan penambahan pengawet 1000 mg/kg suhu penyimpanan 30; 40ƒ; dan 50 adalah 5; 6; dan 8 hari; dan umur simpan Jamu Turun Tegang Saraf dengan penambahan pengawet 2000 mg/kg suhu penyimpanan 30; 40;  dan 50℃ adalah 6; 7; dan 9 hari. Jamu Turun Tegang Saraf dengan penambahan pengawet 2000 mg/kg suhu penyimpanan 30℃; 40℃; dan 50℃ aman dikonsumsi hingga hari ke-16 penyimpanan. Jamu Turun Tegang Saraf dengan pengawet 1000 mg/kg suhu penyimpanan 40℃; dan 50℃ aman dikonsumsi hingga hari ke-16 penyimpanan, sedangkan Jamu Turun Tegang Saraf tanpa pengawet suhu penyimpanan suhu 40oC dan 50oC aman dikonsumsi hingga hari ke-13 dan hari hari ke-16 penyimpanan. 

Neuropathic Pain Reducer Herbal is a ready-to-drink liquid herbal medicine made from cloves, red ginger, and nutmeg which has the effect of reducing nervous tension. This product is a new herbal medicine that still that still needs some product developments, including product shelf life to provide quality assurance and consumption safety information for consumers. In this study, product quality and safety were observed based on variations in the amount of added sodium benzoate (0; 1000; and 2000 mg/kg) and storage temperature (30℃; 40℃; and 50℃). The study was conducted to obtain the amount of added preservatives that provide the longest shelf life of herbal medicine by observe the decrease in quality parameters of the phenolic compounds content and organoleptic values ​​(color, shape, aroma, and taste) of herbal medicine during storage. Shelf life estimation was carried out using the Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) method with the Arrhenius equation model approach. Microbial growth was observed during storage using the Total Plate Count (TPC) method in order to guarantee consumption safety for consumers. The content of eugenol compounds which act as natural preservatives in herbal medicine were identified and their decrease was observed. The results of this study showed that the estimation of shelf life was carried out based on critical parameters of the content of phenolic compounds where the shelf life of Neuropathic Pain Reducer Herbal without the addition of preservatives with a storage temperature of 30; 40; and 50 is 3; 4; and 5 days; Neuropathic Pain Reducer Herbal with added sodium benzoate 1000 mg/kg storage temperature 30℃; 40℃; and 50 is 5; 6; and 8 days; and the shelf life of Neuropathic Pain Reducer Herbal with added sodium benzoate 2000 mg/kg storage temperature 30℃; 40; and 50℃ is 6; 7; and 9 days. Neuropathic Pain Reducer Herbal with added sodium benzoate 2000 mg/kg and storage temperature 30℃; 40℃; and 50℃ safe for consumption until the 16th day of storage. Neuropathic Pain Reducer Herbal with added sodium benzoate 1000 mg/kg storage temperature 40; and 50℃ are safe for consumption up to the 16th day of storage, while Neuropathic Pain Reducer Herbal without added sodium benzoate at storage temperatures of 40℃ and 50℃ are safe for consumption until the 13th day and 16th day of storage. Eugenol compounds were proven to exist by HPLC testing and it was found that the greater the amount of addition of sodium benzoate affects the degradation of eugenol compounds."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adeline Jessica
"ABSTRACT
Imunomodulator merupakan agen yang dapat meningkatkan fungsi sistem imun tubuhmanusia. Imunomodulator mempunyai fungsi untuk mengembalikan keseimbanganimun. Tumbuhan mengandung berbagai senyawa kimia dengan khasiat yang sebagiantelah diketahui. Penelitian Tristantini dkk. pada tahun 2015 telah membuktikan bahwadaun tanjung Mimusops elengi L. , daun belimbing Averrhoa carambola L. , danrimpang temulawak Curcuma xanthorrhiza L. dapat digabungkan dan diramusebagai jamu anti-aterosklerosis. Ekstrak jamu tersebut diketahui mengandungberbagai senyawa golongan flavonoid dengan aktivitas anti-inflamasi. Dengandemikian, kelompok senyawa tersebut memiliki prospek untuk berfungsi sebagaiimunomodulator dalam tubuh manusia. Formula jamu dapat diolah dalam berbagaiukuran partikel ekstrak yang berbeda, yakni simplisia utuh dan bubuk simplisia yangdiduga dapat mempengaruhi kualitas jamu tersebut. Pengujian aktivitasimunomodulator dilakukan terhadap 5 kelompok perlakuan tikus putih jantan yaitukelompok normal tanpa perlakuan , kontrol positif diberikan obat imunomodulator,Imboost , dosis 1 ekstrak jamu 13,5 mg/g BB , dosis 2 ekstrak jamu 18 mg/g BB ,dan dosis 3 esktrak jamu 22,5 mg/g BB . Data bobot badan diambil setiap mingguselama 28 hari, sedangkan data bobot organ limfoid, total serum protein, albumin, sertahasil histopatologi diambil setelah hari ke-28. Hasil penelitian ini menunjukkan rataratatotal serum protein untuk kelompok normal, kontrol positif, dosis 1, dosis 2, dandosis 3 berturut-turut adalah 8,56; 9,26; 9,71; 9,74;9,74 g/dL. Didapatkan pula jumlahpulpa putih pada organ limpa untuk kelompok normal, kontrol positif, dosis 1, dosis2, dan dosis 3 berturut-turut adalah 29, 27, 26, 27, dan 20. Peningkatan pada totalserum protein dapat mengindikasikan bahwa dihasilkan semakin banyak proteinkekebalan seperti imunoglobulin, dan protein humoral lainnya dengan pemberianekstrak jamu maupun obat imunomodulator. Penurunan jumlah pulpa putih dapatmengindikasikan bahwa terjadi regulasi pada reaksi inflamasi yang terjadi sehinggatidak terjadi secara berlebihan dengan adanya flavonoid, yaitu kuersetin. Pengujianstatistik yang dilakukan juga membuktikan bahwa terdapat perbedaan bermakna padatotal serum protein antara kelompok hewan uji yang diberikan jamu ataupun Imboostdengan yang tidak diberikan perlakuan. Melalui pengujian yang dilakukan, dosis jamuanti-aterosklerosis yang menghasilkan aktivitas imunomodulator yang optimumbervariasi antara dosis 2 dan 3. Dapat disimpulkan bahwa jamu anti-aterosklerosisdapat digunakan sebagai imunomodulator yang mampu untuk meningkatkan danmeregulasi sistem kekebalan tubuh.

ABSTRACT
Immunomodulators are substances which help increase the immune system in thehuman body. Immmunomodulator has a function to restore balance to the immunesystem. Plants contain various chemical substances, where some have been known fortheir function. A research done by Tristantini in 2015 has proven that Tanjung leaf Mimusops elengi L. , starfruit leaf Averrhoa carambola L. , dan Curcuma Curcumaxanthorrhiza L. can be combined and be used as a treatment for atherosclerosis. Theseherbs extract are known to contain various various flavonoids that are proven to haveanti inflammatory activity. Thus, these herbs have a prospect to be used asimmunomodulators. This formulation of herbs can be processed into different particlesizes, which are raw simplisia and powder, that are expected to have some effect toit rsquo s quality. Therefore, a testing is done in this research to see if this formulation ofherbs can be used as immunomodulators, and the particle size of the herbs will affectit rsquo s quality. The study was performed on 5 groups of male white rats which consist ofnormal without treatment , positive control immunomodulatory drug, Imboost , dose1 of herbal extract 13.5 mg g BW , dose 2 of herbal extract 18 mg g BW , and adose of 3 extracts of herbal medicine 22.5 mg g BW . The rats were weighed everyweek for 28 days, while the lymphoid organ weight, total serum protein, albumin, andhistopathology results were taken after the 28th day. The results of this study showedthe mean total serum protein for the normal group, positive control, dose 1, dose 2,and dose 3 were 8.56 9.26 9.71 9.74 9.74 g dL. The number of white pulp in thespleen were also obtained for the normal group, positive control, dose 1, dose 2, anddose 3 were 29, 27, 26, 27, and 20 respectively. The increase in total serum proteinmay indicate that more immune proteins such as immunoglobulins, and other humoralproteins with the provision of herbal extracts and immunomodulatory drugs. Adecrease in the number of white pulp may indicate that there was regulation in theinflammatory reaction that occured so that it did not occur excessively in the presenceof flavonoids, namely quercetin. Statistical testing has also proven a significantdifference of the total protein serum amongst the group given either the herb extractor Imboost and the normal group. Through the study performed, the dosage of an antiatheroscleroticherb that produces the optimum immunomodulatory activity variesbetween doses 2 and 3. It can be concluded that anti atherosclerosis herbs can be usedas immunomodulator, capable of enhancing and regulating the immune system."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>