Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 28301 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dikha Ayu Kurnia
"This study aims at examining the historicity of petik laut (a maritime tradition) as part of the local genius of cultural hybridization between Islam and ancestral beliefs. Sense of belonging possessed by the Puger community has become the start of the foundation of a multicultural society in the community. This multicultural spirit eventually strengthens nationalism in the country. The methods used in this historical study are respectively (1) heuristics, namely the collection of data through observations, library research, in depth interviews with related parties, (2) criticism, namely internal criticism through the testimony of fishermen and the juru kunci (ritual leader) of the Larung Sesaji tradition in Puger, and external criticism through lecturers and cultural experts, (3) interpretation, explanation of verified data, (4) historiography, namely writing history. The results of the study revealed that a series of maritime ritual is a blend of Islam and animistic traditions. The purpose and objective of the various maritime rituals are usually the same, that is, to ask Gods blessings so that the fishermen will be provided with abundant fish and will be freed from any disaster when fishing. Most of fishing communities believe that the sea is guarded by supernatural beings. In a policentric society, every single maritime ritual is a solidarity making event."
D.I. Yogyakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2018
400 JANTRA 13:2 (2018)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Lubis, Mochtar, 1922-2004
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1992
959.8 LUB b
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Tatik Harpawati
"ABSTRACT
Ruwatan dengan lakon Sudharmala pada mulanya digunakan untuk meruwat sukerta, peristiwa bersih desa, khitanan, dan pernikahn. Namun demikian, pada era modern ruwatan dengan lakon itu juga difungsikan untuk kegiatan yang terkait dengan kehidupan masyarakat modern, misalnya ulang tahun, peresmian perusahaan, dan lain-lain. Permasalahan dalam penelitian ini, yaitu bagaimana pergeseran fungsi ritual ruwatan Sudhamala dan faktor-faktor apa yang menyebabkannya. Pendekatan fungsi digunakan untuk mencari jawaban atas permasalahan tersebut. Metode kualitatif digunakan untuk pengumpulan data yang didapat dari observasi langsung, uaitu melihat pertunjukan wayang lakon Sudhamala, merekam, dan mentranskripsikannya. Wawancara dan studi pustaka jua dilakukan guna melengkapi data. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil, bahwa fungsi ritual lakon Sudhamala bergeser karena sumber cerita berasal dari teks hasil karya masyarakat pinggiran dan menjadi seni ritual yang bersifat kerakyatan sehingga mudah mencair seiring dengan dinamika masyarakat. Pergeseran fungsi ritual disebabkan faktor internal (pendidikan, pengalaman, kepercayaan) dan eksternal (kekuasaan, teknologi, ekonomi)."
Yogyakarta: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, 2017
959 PATRA 18:2 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Lubis, Mochtar, 1922-2004
Jakarta : Yayasan Obor Indonesia , 1993
959.8 LUB b
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Oka A. Yoeti
Jakarta: Proyek penulisan dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum dan Profesi, 1995
709 OKA
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Oka A. Yoeti
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1985.
709 .5 OKA b
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Ernawati Purnaningsih
Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknolog, 2024
306 ERN m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Girimukti Pasaka, 1984
306.49 MAS
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Natasya Azari Satria
"Apa yang terjadi ketika tradisi leluhur dan Injil berjalan berdampingan di antara hutan dan gereja di tanah Papua? Tulisan etnografis ini membawa kita menyusuri kehidupan masyarakat Moi Kelim di Kampung Kuadas, yang hidup di persimpangan antara adat dan iman kristiani. Alih-alih melihat perubahan budaya sebagai perpecahan atau penghapusan total, tulisan ini menelusuri proses negosiasi yang lebih halus—di mana nilai-nilai tradisional tidak ditinggalkan, tetapi justru dijahit ulang, diselaraskan, bahkan dipeluk bersama ajaran gereja. Perempuan, yang selama ini tak banyak mendapat ruang dalam ranah adat yang eksklusif dan maskulin, menemukan tempat baru di dalam institusi gereja. Di sana, mereka membangun peran, suara, dan otoritas spiritual. Melalui perjumpaan sehari-hari, sejarah hidup, dan kisah-kisah warga, saya mengikuti bagaimana nilai seperti relasionalitas, sosialitas, dan keselamatan individu saling bertemu, berbenturan, lalu berdamai dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan sekadar kisah tentang masyarakat yang "berpindah" agama, tetapi tentang bagaimana mereka merespons secara aktif—dengan imajinasi, dengan keberanian, dan dengan cara mereka sendiri. Perubahan budaya, dalam hal ini, bukan soal memilih antara masa lalu dan masa depan, tapi tentang merangkul keduanya sekaligus—dan membiarkan ‘terang’ datang dari lebih dari satu arah.

What happens when ancestral traditions and the Gospel walk side by side through the forests and churches of Papua? This ethnographic work takes us into the heart of Kampung Kuadas, where the Moi Kelim people live at the crossroads of customary law and Christian belief. Rather than viewing cultural change as rupture or erasure, this thesis traces a quieter, more complex negotiation—where traditional values are not abandoned but reshaped, reinterpreted, and even harmonized with the teachings of the church. Women, often excluded from exclusive spaces of adat, find belonging and agency within the church, carving out new roles and spiritual authority. Through daily encounters, life histories, and shared stories, I follow how values like relationality, sociality, and individual salvation collide, overlap, and co-exist in unexpected ways. This is not a story of a community that simply converts, but one that responds—creatively and critically— to the arrival of Christian modernity. In doing so, they show that cultural transformation doesn’t always mean choosing between past and future. Sometimes, it means holding both in the same hand, and letting the ‘light’ fall from more than one direction."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993
R 306.06 KON
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>