Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 159077 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ramdani
"Penelitian ini mengkaji tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh mahasiswa anggota Menwa UI yang berasal dari luar Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dalam proses adaptasi yang mereka alami di lingkungan kampus UI. Dalam proses adaptasi tersebut Menwa UI berperan sebagai sarana yang memberikan coping option bagi mereka dalam menghadapi masalah-masalah yang ditemui. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode etnografi yang mencakup observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan pengumpulan data sekunder. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa anggota Menwa UI yang berasal dari luar Jabodetabek menemui masalah-masalah dalam proses adaptasi yang mereka alami di lingkungan kampus UI. Masalah-masalah tersebut mencakup kesulitan dalam berintegrasi, permasalahan ekonomi, dan terjadinya suatu pandemi. Dalam upaya menghadapi masalah-masalah tersebut mereka memanfaatkan coping option yang tersedia di lingkungan Menwa UI.

This research examines the problems faced by Menwa UI member students who come from outside Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) in the adaptation process they experience in the Kampus UI environment. In the adaptation process, Menwa UI acts as a means that provides coping options for them in dealing with the problems encountered. The method used in this study is an ethnographic method that includes participation observation, in-depth interviews, and secondary data collection. The findings of this study show that Menwa UI member students who come from outside Jabodetabek encounter problems in the adaptation process they experience in the Kampus UI environment. These problems include difficulties in integrating, economic problems, and the occurrence of a pandemic. In an effort to deal with these problems they take advantage of the coping options available in the Menwa UI environment."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Caitlyn Calista Tiarazeva Arianto
"Tindakan cyberbullying merupakan fenomena yang umum terjadi di kalangan mahasiswa. Untuk menghadapi situasi tersebut, fleksibilitas kognitif merupakan kemampuan yang perlu dimiliki. Salah satu faktor internal yang dapat mendukung fleksibilitas kognitif adalah penerapan strategi coping. Kedua hal tersebut penting untuk mencegah dampak negatif akibat tindakannya. Oleh karena itu, penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fleksibilitas kognitif dan coping pada mahasiswa pelaku cyberbullying. Penelitian dilakukan terhadap 188 mahasiswa pelaku cyberbullying di Indonesia. Alat ukur yang digunakan meliputi Cognitive Flexibility Inventory-Indonesia (α =0.824), Brief COPE (α = 0.820), dan Cyberbullying in Social Media Scale (α = 0,852). Analisis data dilakukan menggunakan uji asumsi klasik dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara fleksibilitas kognitif dengan coping adaptif (F (1, 186) = 25.708, p < 0.001, R² = 0.121) serta hubungan negatif dan signifikan antara fleksibilitas kognitif dan coping maladaptif (F (1, 186) = 19.335, p < 0.001, R² = 0.094). Penelitian ini membuka ruang eksplorasi lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang berperan dalam penggunaan fleksibilitas kognitif dan strategi coping pada mahasiswa pelaku cyberbullying. Implikasi lainnya dibahas dalam diskusi penelitian.

Cyberbullying is a common phenomenon among college students. Cognitive flexibility is an essential ability that enables them to respond effectively to the challenge. One internal factor that may support the implementation of cognitive flexibility is coping strategies. The importance of implementing both cognitive flexibility and coping also applies to college student cyberbullying perpetrators, given the potential consequences they may face as a result of their actions. This study aimed to explore the correlation between cognitive flexibility and coping in college student cyberbullying perpetrators. A total of 188 college students in Indonesia participated in this study. This study applied correlational and cross-sectional design, and used the convenience sampling technique. The instruments used were Cognitive Flexibility Scale-Indonesia (α = 0.824), Brief COPE (α = 0.820), and Cyberbullying in Social Media Scale (α = 0,852). Results revealed a significant positive correlation between cognitive flexibility and adaptive coping (F (1, 186) = 25.708, p < 0.001, R² = 0.121), along with significant negative correlation between cognitive flexibility and maladaptive coping (F (1, 186) = 19.335, p < 0.001, R² = 0.094). Further implications are discussed in this paper."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syafira Khansa Fidela
"Kesejahteraan individu menjadi sorotan, terutama terkait kesehatan mental pada mahasiswa yang mengalami masa transisi remaja-dewasa awal dan adanya tekanan akademik. Tingginya stress akademik pada mahasiswa secara global dan di Indonesia menunjukkan perlunya kemampuan dalam mengelola stress (coping stress). Dukungan sosial keluarga dan kelekatan teman sebaya (peer attachment) memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa menghadapi situasi atau tekanan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial keluarga dan peer attachment dengan mekanisme coping stress pada Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial UI 2021-2024. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI 2021-204, dengan total 309 mahasiswa. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 175 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner daring dengan menggunakan Google Form. Data sekunder didapatkan dari studi dokumen. Hasil uji univariat menunjukkan bahwa mayoritas responden (68,8%) memiliki mekanisme coping stress yang lemah atau maladaptif, dengan kelemahan pada problem-focused coping (72%) dan emotion-focused coping (70,3%). Namun, tingkat avoidant coping yang lemah (70,9%) yang diinterpretasikan sebagai adaptif. Dukungan sosial keluarga, 73,7% responden berada dalam kategori sedang, menunjukkan responden menerima dukungan yang cukup dari keluarga. Mayoritas responden juga menunjukkan tingkat peer attachment yang lemah (64,4%) dengan dominasi pada dimensi kepercayaan dan komunikasi. Sebaliknya, tingkat keterasingan yang cenderung lemah menunjukkan sebagian besar responden tidak merasa diasingkan. Analisis bivariat menggunakan uji Kendall’s tau-b menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dan mekanisme coping stress (r= 0,302; p<0,001) dengan kekuatan hubungan yang cukup. Maka, semakin tinggi dukungan sosial keluarga yang diterima, semakin adaptif mekanisme coping stress mahasiswa. Hubungan positif yang signifikan juga ditemui antara peer attachment dan mekanisme coping stress (r=0,168; p=0,027), meskipun dengan kekuatan hubungan yang sangat lemah. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara peer attachment dengan mekanisme coping stress, walaupun kecil kontribusinya.

Individual well-being, especially mental health, has become a prominent concern, particularly among university students undergoing the transition from adolescence to early adulthood, coupled with academic pressures. The high prevalence of academic stress among students globally (38-71%) and in Indonesia (36.7-71.6%) underscores the critical need for effective stress coping mechanisms. Family social support and peer attachment are believed to play significant roles in assisting students to navigate challenging situations and pressures. Previous research has indicated a relationship between parental attachment and coping stress, as well as peer support and coping stress abilities in adolescents. However, research gaps exist concerning direct studies on Social Welfare Science students at the University of Indonesia from the 2021-2024 cohorts, the in-depth role of peer attachment within the student population, and the limited range of student cohorts covered in prior studies. This study aims to analyze the relationship between family social support and peer attachment with stress-coping mechanisms among Social Welfare Science students at the University of Indonesia from the 2021-2024 cohorts. Employing a quantitative approach and a descriptive research design, this study investigates the relationship between two independent variables (family social support and peer attachment) and one dependent variable (stress-coping mechanism). The study's population comprises active undergraduate Social Welfare Science students at FISIP UI from the 2021-2024 cohorts, totaling 309 students. A sample of 175 respondents was selected using an accidental sampling technique. Primary data were collected through online questionnaires via Google Form. Secondary data were obtained from document studies. Univariate analysis results indicate that the majority of respondents (68.6%) exhibit weak or maladaptive stress-coping mechanisms, with particular weaknesses observed in problem-focused coping (72%) and emotion-focused coping (70.3%). However, a weak level of avoidant coping (70.9%) is interpreted as adaptive, suggesting a proportionate ability to temporarily distance themselves from stressors. Regarding family social support, 73.7% of respondents fall into the moderate category, indicating they receive adequate support from their families. The majority of respondents also demonstrate weak peer attachment (64.6%), predominantly in the dimensions of trust (59.4%) and communication (74.9%). Conversely, a generally weak level of alienation suggests that most respondents do not feel isolated. Bivariate analysis using Kendall's tau-b test reveals a significant positive relationship between family social support and stress-coping mechanisms (r=0.302; p<0.001), indicating a moderate strength of association. This implies that a higher level of family social support received by students is associated with more adaptive stress-coping mechanisms. A significant positive relationship is also found between peer attachment and stress-coping mechanisms (r=0.168; p=0.027), though with a very weak strength of association. This shows that there is a relationship between peer attachment and stress-coping mechanisms, although the contribution is small."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eva Lathifah Tyas Utami
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara strategi koping dan distres psikologis pada mahasiswa FKUI. Penelitian terkait dengan strategi koping serta distres psikologis masih sedikit dibahas pada mahasiswa kedokteran di Indonesia. Hal ini penting untuk diteliti mengingingat banyaknya kompetensi yang harus dipenuhi oleh mahasiswa kedokteran dan dapat menimbulkan stres pada diri mereka. Jika tidak ditangani dengan baik, maka hal tersebut mampu memunculkan distres pada diri individu yang kemudian dapat menghambat pendidikannya. Sebanyak 187 partisipan yang merupakan mahasiswa FKUI mengisi alat ukur Kuesioner Kesehatan Umum untuk mengukur tingkat distres psikologis, dan The Brief COPE untuk mengukur strategi koping. Pengolahan data dilakukan menggunakan teknik statistik pearson correlation menunjukkan tidak terdapat korelasi positif yang signifikan antara strategi coping dengan distres psikologis dengan nilai korelasi yaitu r = 0,035 dan p = 0,637 two tailed. Tidak terdapat korelasi negatif yang signifikan antara jenis koping problem-focused coping dengan distres psikologis, kemudian distres psikologis dan emotion-focused coping juga ditemukan tidak berkorelasi positif secara signifikan. Artinya, semakin tinggi tingkat penggunaan problem-focused coping individu maka semakin tinggi pula tingkat distres psikologis individu tersebut. Terdapat korelasi negatif yang signifikan antara distres psikologis dengan adaptive coping, dan begitu pula pada distres psikologis dan maladaptive coping. Semakin tinggi tingkat penggunaan maladaptive coping maupun adaptive coping maka akan semakin rendah tingkat distres psikologis yang dialami. Namun jika dilihat dari korelasinya maka individu yang menggunakan strategi maladaptive coping memiliki distres psikologis yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang menggunakan strategi adaptive coping.

Indonesian medical students are very prone to stress because of the high standards of competencies that they must fulfill in order to become future doctors. This puts the individuals at risk of further distress that might eventually become a barrier for their education. A lot of research under the topic of psychological distress have not yet focused on Indonesian medical students particular condition. Therefore, it is urgent to dig deeper upon the problem in this current research.This research aims to unravel the relationship between coping strategy and psychological distress in medical students in University of Indonesia. As much as 187 medical students from University of Indonesia participated in the study. They completed a questionnaire on general health Kuesioner Kesehatan Umum in order to measure their level of psychological distress and the Brief COPE to measure their coping strategy.The final data were produced by using Pearson correlation statistics, which showed that there was no significant positive correlation between coping strategy and psychological distress, with r 0,035 and p 0,637 two tailed. There was no signicificant negative correlation between problem focused coping and psychological distress. Furthermore, the positive correlation between psychological distress and emotion focused coping was also found to be insignificant. This means that the more a person uses problem focused coping strategy, the higher the psychological distress level that the person has. There were, however, a significant negative correlation between psychological distress and adaptive coping, and also between psychological distress and maladaptive coping. Both the users of adaptive coping and maladaptive coping seem to have lower levels of psychological distress. However, judging from the correlation, individuals who use maladaptive coping strategy actually have higher levels of psychological distress compared to their counterparts who use adaptive coping.
"
Depok: Fakultas Psikologi Unversitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmadini
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat proactive coping pada mahasiswa tahun pertama dan mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Partisipan penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia yang berada pada tahun pertama dan tahun terakhir perkuliahan sebanyak 150 orang. Tingkat proactive coping diukur dengan menggunakan alat ukur hail adaptasi dari alat ukur Proactive Coping Inventory (PCI) yang dikembangkan oleh Esther Greenglass.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkatan proactive coping pada mahasiswa tahun pertama dan tahun terakhir Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI). Selain itu, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkatan proactive coping pada mahasiswa tahun pertama dan tahun terakhir FIK UI jika dilihat dari perbedaan jenis kelamin. Namun terdapat hubungan yang signifikan antara mahasiswa tahun pertama dan tahun terakhir FIK UI jika dilihat dari perbedaan kepemilikan dukungan sosial. Kepemilikan dukungan sosial diukur dari ada atau tidaknya teman dekat/ teman curhat.

This study aimed to determine whether there are differences in the level of proactive coping in the first year and last year student in the Faculty of Nursing, University of Indonesia. Participants of this study were the first year and last year students of the Faculty of Nursing, University of Indonesia. Level of proactive coping was measured using an adaptation instrument developed by Greenglass.
The results of this study indicate that there is no significant difference between the levels of proactive coping in the first-year and last year student Faculty of Nursing, University of Indonesia (FIK UI). In addition, there is no significant difference between the levels of proactive coping in the first-year and last year students of FIK UI when viewed from the difference between the sex. But there is a significant relationship between the first-year and last year students of FIK UI when viewed from a difference of social support ownership.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
S45465
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Amirul Anwar
"Pasca pandemi COVID-19 membawa perubahan bagi mahasiswa dalam proses pendidikannya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan burnout akademik. Penerapan mekanisme koping positif dapat menghindari terjadinya burnout akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan mekanisme koping dengan burnout akademik pada mahasiswa pasca pandemi COVID-19. Metode Penelitian dilakukan dengan pendekatan Cross Sectional dengan teknik proportionate stratified random sampling Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Demografi, Coping Strategies Inventory Short Form (CSI-SF), dan Maslach Burnout Inventory Student Survey (MBI-SS). Responden penelitian 241 mahasiswa, 89,2% perempuan dan 10,2% laki-laki, rata-rata usia responden 20 tahun. Hasil penelitian menunjukkan mekanisme koping paling banyak digunakan adalah Problem-focused engagement (PFE). Hasil MBI-SS menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa mengalami burnout akademik tingkat sedang 68,9%. Analisis uji statistik menggunakan uji Spearman’s Rho didapati hasil hubungan yang bermakna antara mekanisme koping (PFE, EFE, PFD, EFD) dengan burnout akademik (p=0,001, p=0,042, p=0,019, p=0,001). Hasil ini menunjukkan bahwa koping yang digunakan oleh mahasiswa berpengaruh terhadap burnout akademik. Sehingga diharapkan pada kondisi pasca pandemi COVID-19 ini mahasiswa menerapkan mekanisme koping efektif untuk mengelola stres dan tekanan akademik sehingga tidak menimbulkan bunrout akademik.

Post-COVID-19 pandemic brought changes to college student in their education process. This condition has the potential to cause academic burnout. Applying positive coping mechanisms can prevent academic burnout. This study aims to determine the relationship between coping mechanisms and academic burnout in college students post-COVID-19 pandemic. The research method was carried out using a cross-sectional approach with a proportionate stratified random sampling technique. The instruments used were Demographic questionnaires, Coping Strategies Inventory Short Form (CSI-SF), and the Maslach Burnout Inventory Student Survey (MBI-SS). The research respondents were 241 college students, 89.2% female and 10.2% male, the average age of the respondents is 20 years. The results showed that the most widely used coping mechanism was problem-focused engagement (PFE). The MBI-SS results show that most college students experience moderate academic burnout of 68.9%. Statistical test analysis using the Spearman's Rho test showed a significant relationship between coping mechanisms (PFE, EFE, PFD, EFD) and academic burnout (p=0.001, p=0.042, p=0.019, p=0.001). These results indicate that the coping used by college students influences academic burnout. So, it is hoped that in post-COVID-19 pandemic conditions, students will apply effective coping mechanisms to manage academic stress and pressure so that they do not cause academic burnout."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anyta Pinasthika
"Mahasiswa kedokteran melalui berbagai penyesuaian pada tahun pertama pendidikan, sehingga dapat menimbulkan stres. Mekanisme coping merupakan usaha mengatasi stres dan penggunaannya dapat dipengaruhi jenis kelamin serta asal daerah seseorang. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional dengan sampel konsekutif dari mahasiswa tahun pertama program studi pendidikan dokter FKUI. Penelitian ini menggunakan kuesioner COPE Inventory yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan divalidasi lebih lanjut. Dari studi awal yang telah dilakukan, terjemahan kuesioner cukup reliabel skor Cronbach alpha 0.774. Sampel penelitian ini berjumlah 165 responden response rate 73 dengan skor Cronbach alpha kuesioner 0.848.
Hasil penelitian menunjukkan skor mekanisme coping tertinggi dan terendah di sampel ialah masing-masing "religious coping"dan "substance use". Hubungan asal daerah dengan mekanisme coping tidak dapat disimpulkan, karena jumlah sampel yang tidak sebanding di kedua kelompok asal daerah. Terdapat perbedaan bermakna mekanisme coping antar jenis kelamin, yaitu pada "focusing on and venting of emotions"p=0.004, "religious coping"p=0.001, "use of emotional social support"p=0.004 dan "substance use" p=0.024. "Focusing on and venting of emotions", "use of emotional social support"dan "religious coping" lebih tinggi pada perempuan, sedangkan "substance use" lebih tinggi pada laki-laki. Sebagai kesimpulan, terdapat hubungan antara jenis kelamin dan mekanisme coping, sedangkan hubungan asal daerah dan mekanisme coping tidak dapat disimpulkan.

Medical students go through various adjustments in first year of undergraduate medical education and this often leads to stress. Coping mechanism is a way to reduce stress and its use can be influenced by gender and place of origin of the person. This study is a cross sectional study with consecutive sampling of first year undergraduate medical students in Universitas Indonesia. A translated and validated COPE Inventory Questionnaire was administered in pilot study and the modified questionnaire is reliable Cronbach alpha score 0.774. 165 respondents response rate 73 filled the questionnaire with Cronbach alpha score 0.848.
Result shows overall highest and lowest coping mechanism score of respondents were "religious coping" and "substance use" respectively. Place of origin differences could not be concluded, as the sample was not comparable between two groups. There are significant gender differences in coping mechanisms "focusing on and venting of emotions" p 0.004, "religious coping" p 0.001, "use of emotional social support" p 0.004 and "substance use" p 0.024. "Focusing on and venting of emotions", "use of emotional social support" and "religious coping" score higher in females and "substance use" score higher at males. To conclude, gender shows to have significant differences in coping mechanism, while place of origin could not be concluded."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Theresia Maharini
"Dari berbagai kehilangan yang djumpai di usia lanjut, salah satunya yang terberat adalah kehilangan pasangan melalui kematian. Secara umum, kematian pasangan mendatangkan tekanan yang amat berat bagi individu yang mengalaminya terbukti dari dijumpainya peristiwa ini pada peringkat pertama dari skala penyesuaian diri atas sejumlah peristiwa dalam kehidupan, yang disusun oleh Hoimes & Rahe (1967). lndividu yang ditinggal mati pasangannya dapat dikatakan mengalami bereavement, yaitu situasi dimana individu kehilangan orang yang dicintainya melalui kematian.
Berbagai Iiteratur yang ada menunjukkan bahwa wanita lebih mampu bertahan dalam menghadapi kehidupan sendiri setelah ditinggal mati pasangan, dibandingkan dengan pria. Pada pria umumnya ataupun pria Ianjut usia khususnya, dijumpai masalah-masalah yang berkisar dari kehilangan peran sebagai pasangan, masalah rumah tangga, dan perubahan jaringan sosial. Mengingat penyesuaian terhadap kematian pasangan merupakan salah satu tugas perkembangan yang harus dihadapi pada masa usia Ianjut (Turner & Helms, 1995), maka individu yang ditinggal mati pasangan harus melakukan upaya untuk menghadapi tuntutan ataupun kesulitan yang kemudian timbul dari peristiwa ini. Secara umum, upaya yang dilakukan individu untuk menghadapi tuntutan yang mendatangkan tekanan disebut coping (Lazarus, 1976).
Secara garis besar Lazarus & Folkman (1984) membagi coping menjadi 2 dimensi yaitu coping yang mengarah pada masalah, dan coping yang mengarah pada emosi. Untuk setiap dimensi, coping dapat terjadi pada taraf kognitif, perilaku, maupun secara bersamaan. Lebih lanjut Mikulincer & Florian (1996) mengembangkan klasirikasi respon coping khusus pada situasi bereavement, dengan diferensiasi pada coping yang mengarah pada emosi yang telah dikemukakan oieh Lazarus & Folkman, yaitu meliputi strategi berfokus pada masalah, reappraisal atau penilaian ulang, reorganisasi, dan penghindaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana lanjut usia pria rnengatasi kesulitan yang timbul akibat kematian pasangan. Dengan menggunakan metode studi kasus, dilakukan wawancara terhadap empat Ianjut usia pria yang ditinggal mati istri dalam kurun waktu maksimal dua tahun, sesuai perkiraan Iamanya individu pulih dari bereavement menurut Cook & Dworkin (1992).
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa jenis coping disesuaikan dengan karakteristik masalah. Untuk masalah-masalah praktis (separti masalah rumah tangga, pendamping dalam menghadiri acara sosial), coping perilaku yang mengarah pada masalah banyak dijumpai. Sedangkan untuk masalah-masalah emosi (rasa sedih), subyek banyak menggunakan upaya kognitif untuk meredakannya. Coping yang menonjol dari para subyek dalam menghadapi emosi yang menekan adalah berpaling pada keyakinan religius. Strategi berfokus pada masalah dengan melakukan tindakan tertentu juga efektif meredakan emosi yang menekan. Strategi reappraisai atau penilaian ulang banyak dijumpai dalam bentuk pengarahan atensi secara selektif terhadap informasi positif seputar peristiwa kematian istri. Keempat subyek sudah menunjukkan upaya reorganisasi dengan berbagai pengalaman positif maupun negatif selama menjalani masa kehilangan. Adapun faktor yang berperan dalam membantu mengatasi kesulitan pada masa bereavement dapat dibedakan menjadi faktor dari dalam diri subyek dan dari Iuar. Faktor dari dalam berupa iman, karakteristik kepribadian, dan pengalaman terlibat dalam tugas kerumahtanggaan, sedangkan faktor dari Iuar meliputi dukungan sosial serta masih adanya kesibukan rutin untuk dijalani. Dari hasil penelitian ini, disarankan untuk mengembangkan pusat penanganan masalah bagi para Ianjut usia yang mengalami kehilangan pasangan. Penelitian lanjutan dapat diarahkan untuk mengetahui perbedaan pengaruh dukungan sosial yang diperoleh lanjut usia berdasarkan sumber dukungan (dari pihak keluarga ataukah teman-teman), maupun bentuk-bentuk dukungan sosial yang diperiukan Ianjut usia sesuai dalam tahapan waktu tertentu selama menjalani masa kehilangan pasangan."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1997
S2618
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Penelitian ini mencoba lebih lanjut meneliti fenomena pengaruh buruk stres terhadap kemampuan pasangan melakukan coping dengan membedakan sumber stres dan menggunakan analisa diadik. Penelitian ini menguji pengaruh stres internal dan stres eksternal terhadap coping diadik negatif pasangan. Data dikumpulkan dari 203 pasangan, metode statistik dilakukan mengikuti Actor-Partner Interdependece Model (APIM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres eksternal tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap coping diadik negatif, tapi stres eksternal akan mempengaruhi stres internal yang kemudian akan mempengaruhi coping diadik negatif. Stres internal mempunyai orientasi pasangan, oleh karena itu stres internal suami bukan hanya mempengaruhi coping suami, tetapi juga istri. "
JPSU 1:1 (2012)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>