Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 142291 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jafar Ahmad
"Penelitian ini bertujuan untuk memahanai dan menjelaskan kebijakan ekonomi Malaysia, khususnya kebijakan industri pada pemerintahan Mahatir bin Mohamad dalam periode 1983-1990 dalam bidang otomotif. Tujuan lain dalam penelitian ini adalah mengetahui dan menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan Mahatir, sebagai Perdana Menteri Malaysia, dalam menjalankan tujuan industrialisasi.
Kebijakan industri yang dijalankan oleh Mahatir pada tahun sebagaimana tersebut di atas, tidaklah berdiri sendiri dan semata-mata hasil rancangan yang hanya dibangun oleh Mahatir sendiri. Kebijakan ekonomi yang dijalankan Mahatir, khususnya dalam bidang industri memiliki hubungan dengan dinanlika sosial yang hadir sebelum Mahatir berkuasa, seperti kerusuhan etnis yang menjadi fakta sosial yang mendorong munculnya kebijakan yang disebut dengan the New Economic Policy. Kebijakan the New Economic Policy telah memberi konstribnusi cukup besar dalam langkah kebijakan-kebijakan Malaysia setelahnya. Kebijakan industri yang dijalankan oleh Mahatir didukung oleh kehadiran modal Jepang malalui kebijakan yang dikeluarkan Mahatir, yaitu Look East Policy. Modal Jepang menjadi sangat penting bagi Malaysia, terutama awal-awal pemerintahan Mahatir karena Jepang pada saat yang sama menjadi kekuatan ekonomi terbesar di kawasan Asia yang memiliki pengaruh besar. Malaysia juga membutuhkan modal/ dana dalam usaha membangun perekonomian di Malaysia. Modal Jepang digunakan oleh Malaysia sebagai alat untuk mencapai tujuan domestik Malaysia Sendiri.
Adapun tujuan domestik Malaysia adalah mengurangi kemiskinan dan menata struktur sosial yang ada di Malaysia. Guna mendukung langkah ini, pemerintah di bawah kepemimpinan Mahatir mendirikan satu badan khusus yang menangani sektor industri berat, yaitu IJICOM. Untuk mendukung HICGM dalam menjalankan usahanya, Mahatir mengeluarkan kebijakan Look East Policy yang salah satu targetnya adalah mendatangkan modal dari Jepang.
Penelitian ini mengeunakan teori "Kebijakan Industri" untuk melihat bagaimana kebijakan industri dijalankan di Malaysia. pada masa pemerintahan Mahatir. Adapun jenis penelitian ini adalah deskriptif analitis, yaitu pemaparan data-data yang ada dalam proses industrialisasi Malaysia serta menganalisa agar hasilnya bisa dipahami.
Dalam bab II, penulis menjelaskan tentang dinamika sosial politik yang muncul serta kaitannya dengan kebijakan industri di Malaysia.
Pada bab III, penulis menjelaskan tentang modal Jepang, yang meliputi penjelasan secara umum modal Jepang di kawasan Asia Tenggara, kemudian masuknya modal Jepang ke Malaysia serta penjelasan modal Jepang serta kaitannya dengan kebijakan industri Malaysia.
Pada bab IV, penulis menjelaskan kebijakan industri dalam bidang otomotif yang dijalankan di Malaysia pada tahun 1983 sampai 1990 dengan kasus khusus perusahaan Otomobil Nasional (Proton).
Akhirnya pada bab V, setelah melalui analisa atas data yang telah dikumpulkan dalam bab-bab sebelumya, penulis berkesimpulan bahwa, kebijakan industri yang dijalankan di Malaysia pada masa Pemerintahan Mahatir memperlihatkan campur tangan negara yang tinggi dalam bidang industri bisa memberi hasil yang, paling tidak mendekati taget yang telah ditetapkan dalam the New Economic Policy."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
T14434
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Edward Munir
Depok: Universitas Indonesia, 1996
S8344
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahja Hazico
"Penelitian ini menguji beberapa falrtor yang diduga mernpengaruhi s?t|'ulmlr modal perusahaan yaitu tangibility, growth opportunities, dampak tangibility terhadap hubungan antara growth opportunities dan leverage, economic deveiopment, inflation, dummy variabel negara untuk mencari perbedaan ptilaku sn-uktur modal di emerging market (3 negara yaitu Indonesia, Singapurzg dan Malaysia) dan dummy variabel jenis penlsahaan untuk mencari pcrbedaan pdlaku stmlctur modal pemsahaan penginapan dan pcnisahaan perangkat lunak yang tidak terakomodasi pada lima variabel. Basis teoritis dan empitis penelitian ini mengacu pada penelitian Dalbor dan Upneja?s (2004), Tang dan Jang (2007), serta Ceng dan Shiu (2007).
Pacla pcnclitian ini pembahasan dan analisis difokuskan kepada faktor-faktor pencntu yang dapat mempcngamhi hulang industri penglnapan dan industli perangkar lunak di Indonesia, Singapore, dan Malaysia pads kumn waktu tiga tahun, yaitu periode pengamatan 2004 sampai dengan 2006. Katana data yang merupakan gabungan dari dam cross section dan data time series malta model penelitian yang digunakan adalah model panel data yang diestlmasi dengan OLS`, fxed eject dan random eject. Data-data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data sekunder, untuk dimasukkan pada sampel akhir maka kritcria yang hams dipenuhi adalah meliputi perusahaan penginapan dan perangkat lunak di Indonesia, Singapore, dan Malaysia yang tersedia di OSIRIS (biro Van Djiek) dan memiliki laporan keuangan yang tclah diaudit untuk Indusui-industri penginapan dan perangkat lunak yang tezscdia di OSIRIS (biro Van Djiek) dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2006.
Hasil penclitian menemukan bahwa Growth opportunities berhubungan ncgatif dengan pcnggunaan hutang Dampak tangibility tcfhadap hubungan antara growth opportunities dan leverage menunjukkan hubungan positif, Penemuan pada pcnelitian ini secan keselumhan mendukung dugaan bahwa dengan adanya aktiva tetap yang besar pada pemsahaan dapat mempengaruhi hubungan antara long term debt dan growth opportunity. Falctor maluo ekonomi berupa economic development dalam penelitian ini menunjukkan hubungan negatif terhadap penggunatan hutang. Faktor makro ekonomi bcrupa inflation dalam pcnclitian ini menunjukkan huhungan negatif terhadap penggunaan hutang. Selanjutnya penelitian ini juga menemukan hasil ini yang menunjukkan bahwa LDR perusahaan di negam Malaysia lcbih tinggi dari LDR perusahaan di negara Lainnya. Dan LDR pcrusahaan di negam Singapura lebih tinggi dari LDR penlsahaan di negara Lainnya. Pemsahaan penginapan lebih banyak menggunakan hutang dalam struktur modalnya dibandingkan pemsahaan perangkat lunak. Pencliti bdharap penemuan dalam penelitian mengenai perusahaan penginapan ini dapat mcmberilmn infommasi yang berguna bagi kalangan manajerial dan kreditur mengenai prilaku dalam penggunaan hutang didalam perusahaan.

This stun) validate several factor which Ls estimated could explain how leverage determinant tangtbilityg growth opportunities, impact of tangibility in correlation between growth opportunities and leverage, economic development, inflation, dummy country variable to observe the diferent capital structure behavior in emerging market (Indonesia, Singapore, and Malaysia) and dummy industry variable to observe the dwrent lodging firms and software firms capital structure behavior which tid not accommodated by five variable influence firms capital structure. Basis theory and empirical for this stuay adoptedfrom Dalbor dan Upneja's (2004), Tang dan .lang (2007), and Ceng dan Shiu (2007).
In this stuafv the tmabrst and the observation, focused to the determinant factors that ejected lodging and software firms leverage in Indonesia, Malaysia, and Singapore during three years periods 2004 up to 2006. This study estimated the data penel with ordinary least square, fixed efecb and random ejct method. Whereas, the datas for this research using secondary data, sangole criteria for this research should be loaglng and software firrns in Indonesia, Singapore and Malaysia which available tn OSIRIS (biro Van Wick) and has consolidated and audited financial report between 2004 up to 2006.
This stuay concluded that Growth opportunities have correlation with firms leverage. Impact of tangibility in correlation between growth opportunities and leverage show positif correlation This finding overall support the expetation that high level of fixed asset could influence the correlation between long-term debt and growth opportunity. Economic development as a makro economic _factors in this stucba show negatgf correlation to the long-term debt. Inflation as a makro economic factor also show negatif relation with the long-term debt. Furthermore, this stuafv also found the result that show firms LDR in Malaysia higher than firms LDR in the others country And firms LDR in Singapore higher than firms LDR in the others country Lodging inns have higher level of long- term debt in their capital structure than sqflwmefirrns. Author hope the findings on this stuay about lodging firms can give useful infomation about use of debt behavior for firms manager and debt holders.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2008
T32112
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Mulatsih
"Perubahan kebijakan industri otomotif ini menimbulkan niat penulis untuk mengetahui mengapa kebijakan industri otomotif itu berubah-ubah selama 23 tahun dari tahun 1976 sampai dengan 1999. Dari hasil peneltian dengan menggunakan wawancara kepada pihak-pihak terkait dengan kebijakan ini, menunjukkan bahwa dalam kebijakan itu terjadi kesenjangan (gap) antara kebijakan dan pelaksanaannya, sehingga tujuan kebijakan itu tidak tercapai. Dengan kerangka hirarkhi kebijakan dalam membahas penelitian ini, tampak bahwa kesenjangan itu terjadi karena kebijakan itu tidak konsisten dan tidak konvergen. Sikap yang menyatakan kebijakan itu tidak konsisten dan tidak konvergen diberikan dari interaksi pihak-pihak terkait yaitu industri komponen lokal, asosiasi vendor Astra, dan PT Toyota-Astra Motor sebagai industri perakit dan sebagai kasus dalam penelitian ini. Sikap para stakeholder ini sebagai bentuk pola interaksi ini dilandasi oleh persepsi, aspirasi dan deskripsi mereka terhadap kebijakan industri itu.
Dampak yang dapat dilihat dari kebijakan kandungan lokal ini terutama pada lambannya perkembangan produksi kendaraan bermotor roda empat dalam menggunakan komponen dalam negeri (kandungan lokal). Sebagai kasus dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa PT TAM sebagai salah satu industri perakit (industri patungan) tingkat pencapaian kandungan lokal relatif rendah jika dihubungkan dengan waktu. Walaupun kendaraan niaga Toyota Kijang telah mencapai KL sebesar 49 %, tetapi belum mencapai tujuan kebijakan untuk menumbuhkan industri penunjang (komponen). Karena pemenuhan kebutuhan komponen industri perakit dalam hal ini PT TAM bersifat eksklusif, masih, ,terkait dengan prinsipal. Sehingga tidak begitu mudah bagi perusahaan komponen lokal menembus perusahaan perakit."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2001
T4370
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwiwahjuni W.
"ABSTRAK
Salah satu kebijakan perusahaan yang sangat penting adalah manajemen struktur
modal, yaitu menentukan komposisi pemakaian hutang (debt) dan modal sendirl (equity).
Mengapa demikian, karena struktur modal merupakan faktor komponen yang menentukan
seberapa besar perusahaan dinilai oleh pasar. Itu sebabnya, teori struktur modal selalu
menekankan sejauh mana pengaruh perubahan struktur modal terhadap nilai perusahaan
(value of the firm). Dan struktur modal yang dipilih adalah yang dapat memberikan nilai
perusahaan yang maksimal. Karena bagaimanapun juga, tujuan perusahaan adalah
mengoptimalkan kesejahteraan para pemegang saham, dan kondisi itu akan tercapai jika
nilai dari saham perusahaan itu maksimal.
Pendekatan teori yang paling senang digunakan untuk melihat optimalisasi struktur
modal adalah konsep yang diajukan oleh dua ilmuwan Modigliani-Miller. Dan untuk
memperkuat analisa dilengkapi dengan teori Agency Cost oleh Jensen & Meckling, serta
teori Altman?s Model untuk melihat probabilita terjadinya kebangkrutan.
PT.X adalah suatu perusahaan manufacturing di bidang industri pembuatan rantai
sepeda motor. Merupakan salah satu anak perusahaan dari suatu group industri otomotif
yang terkemuka di Indonesia. Berdiri tahun 1988, dan hingga tahun 1996 perusahaan ini
memiliki kinerja yang cukup baik dan sangat stabil. Tentu saja kondisi ini didukung oleh iklim
bisnis dan iklim usaha di masa itu. Kemudahan dalam mendapatkan external financing dan
dunia perbankan pada waktu itu juga menjadi salah satu kondisi yang dimanfaatkan dengan
baik oleh, PT.X untuk mendukung kegiatan operasionalnya, seperti juga halnya kebanyakan
perusahaan-perusahaan yang lain di Indonesia. Apalagi dengan berkembangnya
konglomerasi di Indonesia, membawa PT.X menjadi perusahaan industri rantai sepeda
motor yang terbesar di Indonesia dengan share market mencapal +1- 80% pada tahun 1996
Namun sangat disayangkan, masih tingginya kandungan bahan baku impor yang
dipakai oleh PT.X dan adanya pinjaman jangka panjang dalam US$, tidak urung membuat
PT.X cukup merasakan pahitnya dampak krisis moneter yang melanda negeri ini. Meskipun
sejak tahun 1999 industri kendaraan bermotor roda dua sudah mulal membaik dan
diperkirakan akan terus mengalami peningkatan sekitar 30% per-tahunnya, namun nilai
tukar rupiah terhadap mata uang asing masih tidak stabil. Untuk itu, sehubungan adanya
outstanding debt dalam US$, PT.X dihadapkan pada dua pilihan : pertama, meminta
rescheduling jatuh tempo pembayaran atau kedua, menyeiesaikan pinjaman dengan
mencari tambahan dana melalui peningkatan modal.
Karya akhir ini akan mencoba menganalisa kedua alternatif tersebut melalui analisa
struktur modal seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Rekomendasi alternatif yang akan
diberikan kepada manajemen PT.X tentu saja yang dapat memberíkan nilai perusahaan
yang maksimal. Tetapi di samping itu pula, manajemen struktur modal tidak dapat
dipisahkan dari komponen-komponen manajemen keuangan yang lain. Karena di dalam
suatu perusahaan satu sama lain biasanya saling terkait. Selain juga untuk membantu
analisa secara lebih mendalam. Untuk itulah, dalam tulisan ¡ni juga akan dibahas beberapa
kebijakan keuangan perusahaan yang lain, seperti manajemen kas dan modal kerja,
manajemen investasi dan kebijakan dividen. Sebelumnya, akan dilihat pula kinerja
keuangan PT.X selama sepuluh tahun terakhir (tahun 1990 ? 1999) dengan menggunakan
rasio-rasio sebagai alat analisa.
Secara umum, kinerja keuangan PT.X selama sepuluh tahun analisa dapat
dikelompokkan dalam tiga periode, Periode tahun 1990-1996 menunjukkan kondisi yang
relatif stabil dan terkendali. Memasuki periode tahun 1997-1998 mulai terjadi penyimpangan
dari rata-rata rasio penode sebelumnya karena adanya Imbas krisis ekonomi. Periode tahun
1999, rasio keuangan menunjukkan perusahaan mulai mengalami recovery.
Analisa manajemen kas dan modal kerja menunjukkan PT. X melakukan pengelolaan
dengan menggunakan strategi pendanaan yang berubah-ubah dari periode ke periode,
menyesuaikan dengan iklim bisnis dan usaha yang ada pada saat itu. Fleksibilitas seperti ini
rasanya memang diperlukan untuk industri otomotif yang relatif cyclical agar perusahaan
bisa survive. PT.X cukup intensif melakukan investasi pada sektor real asset, khususnya
pada mesin-mesin produksi dan peralatannya, dalam rangka memenuhi target kapasitas
produksinya. Pada tahun 1998, selain untuk peralatan dan perabotan kantor, kegiatan
investasi lain nyaris tidak ada sama sekali, karena adanya ketentuan larangan investasi dan
kreditur. Sedangkan untuk kebijakan dividen, PT.X menerapkan sistim residual decision of
dividen, dimana pembayaran dividen baru dilakukan jika tidak ada peluang investasi yang
menjanjikan.
Hasil simulasi dan pendekatan kuantitatif nilai perusahaan menunjukkan, keputusan
pendanaan untuk proyeksi keuangan lima tahun ke depan (tahun 2000-2004), yang akan
memberikan nilai perusahaan yang maksimal adalah jika kebutuhan pendanaan dilakukan
melalui peningkatan equity dan bukan melalui debt. Meskipun alternatif ini tidaklah mudah
untuk diaplikasikan pada kenyataannya3, narnun hasil analisa ini diharapkan akan
memberikan masukan bagi manajemen PT.X untuk bisa Iebih aktif dalam menarik rnínat
investor untuk meníngkatkan modal perusahaan dan tidak hanya bergantung kepada
kreditur melalui hutang. .
"
2001
T1541
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Daisy Oktavia
"Industri otomotif Indonesia tidak lepas dari pengaruh perubahan yang ditimbulkan oleh semakin diterimanya prinsip perdagangan bebas di hampir seluruh negara di dunia. Dengan demikian, industri otomotif Indonesia harus mampu melakukan perubahan dan penyesuaian dalam merebut peluang pasar. Kemudian pada perkembangannya, potret persaingan produk otomotif di Indonesia tak lebih dari pergulatan sejumlah pabrikan yang memang dari tahun ke tahun tidak dapat dipungkiri selalu mendominasi pasar, seperti PT. Toyota Astra Motor, PT. Krama Yudha Tiga Berlian (Mitsubishi), PT. Indomobil Niaga Internasional (Suzuki), dan PT. Pantja Motor (Isuzu). Menyebut nama Toyota sebagai Produsen Kendaraan Bemiotor di Indonesia tentulah tidak dapat dipisahkan dengan salah satu kendaraan produksinya yang merajai pasar dan hati masyarakat-KIJANG-. Secara teoritik, keberhasilan suatu perusahaan otomotif, tidak terkecuali PT. Toyota-Astra Motor (TAM), dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satu diantaranya adalah strategi promosi dan pemasaran yang diterapkan.
Dalam penelitian ini penulis mempergunakan metode deskriptif, dengan pendekatan kualitatif. Metode wawancara digunakan untuk mengumpulkan data primer. Nara sumber berasal dari pihak internal PT. Toyota Astra Motor (Public Relation, Staf Marketing, dan Staf Promosi PT. Toyota Astra Motor), sedangkan nara sumber eksternal merupakan konsumen produk Toyota yang diambil secara acak atau random yang berdomisili di wilayah Jabotabek. Dokumen internal dan eksternal digunakan dalam rangka pengumpulan data sekunder.
Bagi PT. TAM kepuasan pelanggan atau konsumen adalah segalanya, dan mutlak harus selalu ditingkatkan. Tekad yang selalu dipegang teguh ini selaras dengan komitmen PT. TAM bahwa setelah membeli produk Toyota tidak berarti 'putus hubungan' namun tetap akan terus-menerus disempurnakan. Sejalan dengan itu langkah-langkah strategi promosi dan pemasaran yang dilakukan oleh PT. TAM senantiasa diprioritaskan pada kepuasan dan kenyaman konsumen. Pembentukan image seperti di atas selalu menjadi sasaran utama PT. TAM agar dapat harming di tengah maraknya kompetisi industri otomotif nasional.
PT. TAM menerapkan strategi promosi yang berdasarkan pada potential market sesuai dengan jenis produk yang dihasiikan oleh PT. TAM. Secara umum program promosi yang dilakukan oleh PT. TAM dibagi dalam 3 periode dalam satu tahun, yaitu : Program Promosi pada awal tahun (early year), Program Promosi pada pertengahan tahun (mid year), Program Promosi pada akhir tahun (year end). Sementara program pemasaran PT. TAM diarahkan pada pasar potensial bagi produk otomotifnya.
Hasil penelitian tesis ini menunjukkan bahwa secara umum program strategi promosi dan pemasaran PT. TAM telah berjalan dengan sistematis dan terarah sehingga dapat menghasilkan prospek penjualan secara maksimal, walaupun masih ada langkah-langkah yang mungkin dapat dioptimalkan agar hal di atas dapat digali secara lebih optimal lagi.
PT. Toyota Astra Motor dalam menjalankan kebijakan strategi promosi dan pemasaran produk otomotifnya, sebaiknya selalu melakukan pendekatan dengan konsep-konsep promosi dan pemasaran. Faktor pengalaman hendaknya menjadi faktor komplementer yang saling mendukung. Sementara itu, para staf PT. TAM yang menangani riset dan survei bagi kebijakan-kebijakan strategi promosi dan pemasaran sebaiknya terus-menerus dibekali dengan pengetahuan akan konsep-konsep dan teori-teori promosi dan pemasaran beserta paduannya. Selain itu, juga perlunya pengkajian secara lebih mendalam terhadap konsep-konsep dan teori-teori strategi promosi dan pemasaran, agar para praktisi promosi dan pemasaran semakin kaya wawasannya mengenai aspek-aspek strategi promosi dan pemasaran, khususnya dalam proses penggalian unsur-unsur yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
xii + 117 + lampiran-lampiran
Bahan bacaan 25 buku, 11 artikel dan lain-lain"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
T13743
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Yunianti
"Permasalahan pokok yang akan ditelaah dalam penelitian ini adalah melihat bagaimana implikasi kebijakan pemerintah terhadap industri tepung terigu di Indonesia dengan membandingkan struktur, perilaku dan kinerja industri tepung terigu sebelum dan sesudah deregulasi (sisi pengadaan), serta untuk melihat faktor-faklor yang cukup mempengaruhi permintaan tepung terigu tersebut sebagai bahan untuk manganalisa prospek industri tepung terigu
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran pengaruh kebijakan pemerintah terhadap struktur, perilaku dan kinerja industri tepung terigu, serta menganalisa kebijakan pemerintah pada industri penghasil barang antara (industri tepung terigu) terhadap industri penggunanya (dalam hai ini industri mie instan)"
Depok: Universitas Indonesia, 2001
T10380
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rene Julius Kurnia
"ABSTRAK
Pada dasarnya terdapat dua macam faktor yang dapat mempengaruhi kinerja dan pasar
modal yaitu faktor ekonomi dan faktor politik. Walaupun tidak memiliki hubungan secara
Iangsung, faktor politik juga mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam menentukan
kinerja dan pasar modal.
Penelitian yang dilakukan kali ini berbentuk event study, dimana peristiwa yang dipilih
adalah peristiwa pencabutan fasilitas mobnas oleh pemerintah pada tanggal 15 Januari 1998
dimana segala hak ekslusif yang dimiliki PT. Timor Putra Nasional dalam hal pembebasan
pajak bea cukai. Strategi umum yang digunakan dalam event study adalah mengihitung
abnormal return yang dihasilkan selama periode peristiwa, dan abnormal return yang
dihasilkan akan diuji apakah memang memiliki pengaruh yang cukup signifikan.
Periode penelitian yang digunakan terdiri dari 2 periode waktu, yaitu periode estimasi
dan periode peristiwa. Periode estimasi adalah periode selama 261 hari bursa sebelum periode
peristiwa. Sedangkan untuk periode peristiwa adalah mulai tanggal 1 Januari 1998 sampai
dengan tanggal 29 Januari 1998 (21 hari bursa). Periode peristiwa terdiri dari 10 hari bursa
sebelum peristiwa (pre event) yaitu mulai tanggal 1 Januari 1998 sampai dengan 14 Januari
1998, dan 10 hari bursa setelah peristiwa (post event) yaitu dan tanggal 16 Januari 1998
sampai dengan tanggal 29 Januari 1998. Pemilihan sampel yang dilakukan oleh peneliti adalah
melihat saham-saham yang tergabung dalam industri otomotif dan komponennya yang terdiri
dari 11 saham yang diperdagangkan pada saat itu.
Untuk penelitian tahap awal dilakukan pencarian bentuk stasioner masing-masing
saham, kemudian dari hasil ini dilakukan penelitian dengan mencari model regresi masing
masing saham dengan menggunakan 2 permodelan yaitu dengan menggunakan model ARIMA
dan model ARCH/GARCH. Hasil akhir yang didapat dari permodelan tersebut menghasilkan
4 saham model regresi yang signifikan (dapat memenuhi a=5%) yaitu saham ADMG. saham
GJTL, saham LPIN dan saham SMSM.
Dari hasil masing-masing permodelan regresi tersebut dilakukan forecast sehingga dari
hasil forecast tersebut didapat saham proyeksi. Selisih saham proyeksi dari saham aktual
dinamakan abnormal return.
Penelitian dilanjutkan dengan melakukan pengolahan data secara matematis terhadap
hasil masing-masing hasil forecast dan kedua permodelan tersebut, dimana kita mencari
bentuk Cummulative Abnormal Return dan Standardized Abnormal Return, dari hasil CAR
masing-masing saham diplot ke dalam gambar untuk mengetahui pergerakan CAR masing
masing saham tersebut selama periode event.
Hasil dari plot kedua permodelan tersebut diketahui bahwa rata-rata saham tersebut
mengalami kebocoran informasi sebelum tanggal event, dimana CAR tertihat bergerak ke sisi
negatif yang berarti reaksi pasar negatif terhadap kebijakan pencabutan mobnas oleh
pemerintah.
Untuk analisa individu masing-masing saham diketahui saham ADMG mulai
melakukan pergerakan pada tn, dimana pergerakan CAR saham ini berbentuk seperti anak
tangga yang mengalami pergerakan ke sisi negatif yang lebih besar.
Saham GJTL mengalami pergerakan CAR pada t9 dirnana saham ini bereaksi negatif
terhadap kebijakan pencabutan fasilitas mobnas baik sebelum maupun sesudahnya.
Untuk saham LPIN megalami pergerakan negatif pada t9 hingga pada 1 hari sebelum
tanggal event, dimana pada t0 saham mengalami kenaikan hingga CAR mencapai positif.
tetapi pada t+4 mengalami penurunan yang besar sehingga CAR mencapai titik negatif
kembali.
Saharn SMSM memiliki kecenderungan berada di sisi negatif baik sebelum
pengumuman maupun setelah pengumuman dimana tampak saham ini mengalami beberapa
kali rebound walaupun pada akhir periode even tampak tidak dapat mencapai titik ekuilibrium
kembali.
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap kedua hasil permodelan tersebut dapat diketahui dengan mempergunakan perhitungan equality of Mean dari masing-masing permodelan, didapat bahwa probabilitas yang dihasilkan diatas 5% yang berarti menerima hipotesis nol (H0) mengenai adanya kualitas data yang dimiliki antara permodelan ARIMA dengan permodelan ARCH/GARCH adalah sama.
"
2002
T3545
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Akmal Rangga Putra Warganegara
"Penelitian ini bertujuan melihat kemampuan bertahan perusahaan pada industri pengolahan kakao Indonesia pada periode 2002-2006, yang merupakan periode dimana kebijakan PPN diterapkan terhadap komoditas kakao. Kebijakan ini diduga merupakan penyebab dari banyaknya perusahaan pengolahan kakao mati, padahal Indonesia merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia. Selain itu penelitian ini juga melihat faktor lain yang mempengaruhi probabilita perusahaan bertahan. Penelitian ini menggunakan Survival Model, penulis menggunakan analisa jangka waktu pendek dan panjang dalam kurun waktu 2002-2006 untuk melihat konsistensi model dalam periode waktu yang berbeda. Penelitian ini secara umum sejalan dengan temuan Evans (1987), dan mendukung hipotesa bahwa PPN berpengaruh terhadap banyaknya perusahaan pengolahan kakao yang mati.

The focus of this study is to observe firm survival in Indonesian cocoa processing industry in 2002-2006, which is the period when tax policy imposed to cocoa commodities. It is hypothesized that the policy lead to the extinct of the cocoa?s processing firm while the fact Indonesia is the 3rd biggest cocoa producing country of the world. Moreover this research is also focusing on the other factors that have impacts on the probability of firm?s survival. This research is using a survival model, the author is using short run period and long run period in 2002-2006 to support model consistency in different time period. Generally, the research agrees Evans (1987) findings and supports the hypothesis that tax policy has impacts on the extinction of numerous cocoa processing firms."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2009
6726
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Aloysius Gunadi Brata
Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 1999
330.959 8 ALO m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>