Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 15104 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Soetardhio
"ABSTRAK
Perdarahan merupakan salah satu penyulit dan penyebab kematian yang sering dijumpai pada penderita gagal ginjal akut maupun kronik. Angka kematian yang disebabkan karena perdarahan pada penderita gagal ginjal sekitar 10 %.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis gangguan hemostasis pada penderita gagal ginjal terminal sehingga usaha untuk mengatasinya lebih terarah. Selain itu juga untuk mengetahui pengaruh hemodialisis terhadap gangguan hemostasis tersebut.
Penelitian dilakukan terhadap 30 penderita gagal ginjal terminal yang dirawat di Bagian Penyakit Dalam Subdivisi Ginjal dan Hipertensi FKUI-RSCM Jakarta, yang terdiri dari 21 pria dan 9 wanita, berusia antara 33 sampai 62 tahun. Kelompok kontrol terdiri atas 30 orang sehat yang tidak termasuk kriteria tolakan.
Pemeriksaan yang dilakukan pada penelitian ini ialah masa perdarahan, hitung trombosit, masa protrombin plasma, masa tromboplastin parsial teraktivasi, masa trombin, EDP, PF3 dan agregasi trombosit terhadap ADP 10uH, 5uM dan luM. Pengambilan bahan penelitian untuk penderita ialah sesaat sebelum dilakukan hemodialisis dan segera sesudah hemodialisis, untuk kontrol, pengambilan bahan penelitian segera setelah memenuhi kriteria.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan yang bermakna antara kelompok GGX sebelum HD dengan kelompok kontrol dijumpai pada masa perdarahan, hitung trombosit faktor trombosit 3, MT dan FDP, sedangkan MP, MTPT dan agregasi trombosit tidak berbeda bermakna. Karena rata-rata hitung trombosit pada kelompok GGK masih dalam batas normal, maka disimpulkan penyebab masa perdarahan yang memanjang adalah gangguan fungsi trombosit yaitu aktivitas faktor trombosit 3, MT yang memanjang mungkin disebabkan fungsi atau kadar fibrinogen yang menurun atau mungkin karena adanya inhibitor.
Dari penelitian ini ternyata efek HD tidak terlihat pada masa perdarahan maupun hitung trombosit, sedangkan terhadap tes koagulasi dan faktor trombosit 3 efek HD adalah memperburuk, mungkin ini karena efek heparin.
Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai gangguan hemostasis pada gagal ginjal terminal, untuk mengetahui penyebab MT memanjang, perlu diperiksa fibrinogen baik kadar, fungsi maupun adanya inhibitor. FDP dilanjutkan dengan D. diner. Faktor von Willebrand dan adhesi trombosit untuk mengetahui fungsi trombosit.
Efek heparin sebaiknya dinetralkan dengan menambah protamin sebelum pengambilan sample sesudah HD.
"
1991
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simamora, Sontang
"Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan masalah kesehatan di Indonesia. GGT (Gagal Ginjal Terminal) merupakan bentuk lanjut dari GGK GGT ditetapkan berdasarkan bersihan kreatinin dibawah 5 mL/menit. Salah satu gejala pada GGT adalah terjadinya osteodistrofi renal yang dihubungkan dengan masalah penurunan kadar Ca dan peningkatan kadar fosfat darah. Sehubungan dengan hal ini GGK pada umumnya diberikan terapi kalsitriol, diet rendah fosfat dan pengikat fosfat. GGT memerlukan terapi pengganti, seperti dialisis.
Pengaturan homeostasis Ca dan fosfat darah dilakukan oleh hormon kalsitriol dan hormon paratiroid. Pada pasien GGK homeostasis tersebut terganggu oleh karena berkurangnya sintesis kalsitriol dan timbulnya retensi fosfat. Penurunan kadar kalsitriol menyebabkan penurunan absorbsi Ca dari usus. Retensi fosfat menimbulkan peningkatan kadar fosfat yang akan mengikat Ca. Kedua hal diatas menyebabkan terjadinya penurunan kadar Ca darah. Pada penderita GGT kerusakan masa gnjal menyebabkan penurunan kadar kalsitriol sehingga tetjadi gangguan homeostasis Ca darah terutama kadar ion Ca. Hal iru menyebabkan terjadinya peningkatan kadar hormon paratiroid. Pada penelitian ini akan dibuktikan bahwa pemberian kalsitriol secara oral dapat menurunkan kadar hormon paratiroid (PTH) dan menormalkan kadar ion Ca darah.
Dilakukan studi experimental pada pasien GGT yang mengikuti dialisis. Pasien yang diteliti adalah pasien yang tidal( mendapat pengobatan kalsitriol, tapi mengikuti diit rendah fosfat. Pasien GGT dengan hiperparatiroid sekunder diberikan kalsitriol 0,25 ug oral, tiap hari selama 2 minggu. Pada akhir pemberian kalsitriol diperiksa ulang kadar PTH, Ca, fosfat dan alkali fosfatase.
Hasil dan Kesimpulan: Setelah perlakuan terdapat penurunan kadar PTH secara bermakna p<0,015 dari 397 menjadi 149 pg/mL. Peningkatan kadar ion Ca secara bermakna p<0,020, dari 1,08 menjadi 1,16 mMoVL yang dihitung berdasarkan rumus. Penurunan fosfat bermakna dengan p<0,024, dari 4,18 mg/di, menjadi 3,65 mgldL serta penurunan alkali fosfatase bermakna dengan p<0,002, dari 250 menjadi 173 UIL."
2001
T8250
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harahap, Alida Roswita
"Penyakit ginjal dengan berbagai manifestasinya memerlukan berbagai pemeriksaan penunjang untuk melengkapi data penderita. Pada umumnya pemeriksaan penunjang ini digunakan sebagai alat bantu diagnostik, untuk melihat hasil penanggulangan/pengobatan penderita, dan untuk mengikuti perjalanan penyakit. Salah satu pemeriksaan penunjang untuk membedakan kelainan ginjal glomeruler dan tubular adalah analisa protein urin menggunakan tehnik sodium dodecyl sulfate polyacrylamid gel electrophoresis (SDS-PAGE). Dengan pemeriksaan ini dapat dibedakan pola ekskresi protein pada kelainan ginjal glomeruler, tubuler, atau campuran keduanya. β-N-acetylglucosaminidase (β-NAG) adalah enzim yang dibentuk oleh lisosom sel tubulus proksimal dan dilepaskan ke dalam urin. Karena itu dianggap lebih spesifik untuk menentukan adanya kelainan tubulus dibandingkan dengan tes lainnya seperti β2-mikroglobulin.
Pada penelitian ini kami mencari hubungan antara pola ekskresi protein dan aktivitas β-NAG dalam urin penderita dengan berbagai kelainan ginjal. Hasil menunjukkan adanya peningkatan β-NAG pada kasus-kasus dengan pola ekskresi protein tubuler dan campuran. Dua kasus (4,17%) dengan pola glomeruler memberikan hasil aktivitas β-NAG yang meningkat; kasus ini adalah sindroma nefrotik dan hipertensi. Pada sindroma nefrotik dengan proteinuria glomeruler non-selektif memang pernah dilaporkan adanya peningkatan β-NAG yang diduga berasal dari serum. Peningkatan β-NAG pads kasus hipertensi pada penelitian ini, tidak diketahui mekanismenya.

Protein Pattern And Β-Nag Activity In The Urine From Patients With Several Different Kidney AbnormalitiesKidney disease and its manifestation require different kind of laboratory tests to complete the data of the patients. In general, these tests are used as a diagnostic aid, and also in monitoring the therapy and the progress of the disease. It is important to differentiate between glomerular and tubular disorders. Sodium dodecyl sulfate polyacrylanude gel electrophoresis (SDS-PAGE) is one of the techniques that can be used to differentiate these abnormalities by looking at the protein excretion pattern in the urine. For renal tubular disorder, the determination of β-N-acetylglucosaminidase (β-NAG) is a useful test to detect the alteration of the tubular apparatus. This test is more specific than the others, such as β2-microglobulin, because β-NAG is produced by the lysosomes of the cells of proximal tubules.
The aims of our study is to find a correlation between urine protein excretion pattern and β-NAG activity, and the abnormalities of the kidney. We found that β-NAG activity was increased in patients with tubular and mixed type pattern of proteinuria. The increased activity of this enzyme was also seen in 2 patients (4.7%) with glomerular pattern; one with nephrotic syndrome and the other with hypertension. In nephrotic syndrome with non-selective proteinuria, it is conceivable that some of the urine β-NAG was plasma origin. In hypertension, the mechanisme of the increasing of β-NAG activity in the urine is still unknown."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1994
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Endang Susalit
Jakarta: UI-Press, 1998
PGB 0231
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Aulia Jihan Miranda
"ABSTRAK
Cedera ginjal akut (acute kidney injury/AKI) merupakan salah satu penyakit ginjal dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada manusia. Salah satu kondisi yang tergolong dalam AKI adalah ischaemia-reperfusion injury (IRI), ditandai dengan terjadinya iskemia dan diikuti dengan reperfusi. Penetapan hewan model IRI diperlukan sebagai suatu metodologi untuk mensimulasikan perubahan patofisiologi yang terjadi dan mengamati tercapainya kondisi klinis IRI yang paling representatif. Penelitian ini membahas metode bedah bilateral renal-pedicle clamping untuk menginduksi terjadinya iskemia pada hewan model IRI dengan galur tikus Sprague-Dawley. Sebanyak 24 ekor hewan uji dikelompokkan menjadi dua berdasarkan waktu reperfusinya terlebih dahulu, yaitu 24 jam dan 14 hari. Kedua kelompok tersebut masing-masing dibagi kembali menjadi empat kelompok (n=3). Kelompok normal tidak diberi perlakuan bilateral renal-pedicle clamping, namun kelompok I, II, dan III diberi perlakuan tersebut dengan durasi clamping 15, 30, dan 45 menit secara berurutan. Selanjutnya, dilakukan analisis terhadap perubahan parameter struktural ginjal dengan pengamatan histopatologi menggunakan pewarnaan PAS (periodic acid-Schiff). Parameter yang dinilai adalah tingkat keparahan cedera tubular yang terjadi. Hewan uji dari kelompok I, II, dan III menunjukkan membaiknya kondisi cedera pada waktu reperfusi 14 hari dari kondisinya pada waktu reperfusi 24 jam, dengan kelompok II yang menunjukkan perbedaan paling signifikan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa durasi clamping selama 30 menit menyebabkan tercapainya kondisi klinis IRI yang paling representatif dan menunjukkan pemulihan kondisi cedera yang paling signifikan dalam jangka waktu reperfusi 14 hari pada hewan model IRI.

ABSTRACT
Acute kidney injury (AKI) is a kidney disease with high levels of morbidity and mortality in humans. One condition that is classified as AKI is ischaemia-reperfusion injury (IRI), characterized by the occurrence of ischaemia and followed by reperfusion. Establishment of IRI animal models is needed as a methodology to simulate pathophysiological changes that occur and observe the achievement of IRI's most representative clinical conditions. This study discusses bilateral renal-pedicle clamping surgical method to induce ischaemia in IRI model animals with the Sprague-Dawley mouse strain. A total of 24 animals were grouped into two based on their reperfusion time, 24 hours and 14 days. The two groups are each subdivided into four groups (n=3). Normal groups were not treated with bilateral renal-pedicle clamping but group I, II, and III were given the treatment with clamping duration of 15, 30, and 45 minutes respectively. Then, analysis of renal structural parameters changes was performed with histopathological observation using PAS (periodic acid-Schiff) staining. Parameter to be assessed is the severity of tubular injury. Animals from group I, II, and III showed an improvement in injury condition at the reperfusion time of 14 days from their condition at reperfusion time of 24 hours, with group II showing the most significant difference. It can be concluded that the clamping duration of 30 minutes leads to the achievement of the most representative clinical IRI conditions and shows the most significant recovery of injury conditions within the 14-day reperfusion period in IRI animal models."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kezia Alicia Theresia
"Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan kondisi dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG). Penurunan LFG mengaktivasi Sistem-Renin-Angiotensin-Aldosteron (RAAS) dan menyebabkan penumpukan toksin uremik yang meningkatkan stres oksidatif. Irbesartan adalah obat yang berperan dalam inhibisi RAAS dan diduga memiliki peranan dalam menurunkan stres oksidatif.
Tujuan: Mengetahui efek antioksidan Irbesartan dan pengaruhnya terhadap stres oksidatif jantung dan serum tikus model PGK metode 5/6 nefrektomi melalui pengukuran kadar malondialdehid.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan jaringan jantung dan serum tikus tersimpan. Sampel terdiri atas 3 kelompok, yaitu
sham (S, jantung dan serum: n=4), nefrektomi 5/6 (N, jantung: n=4; serum: n=3) dan nefrektomi 5/6 dengan pemberian Irbesartan 20 mg/kgBB/hari selama 4 minggu (N+I, jantung dan serum: n=4). Kemudian dilakukan pengukuran kadar malondialdehid melalui uji Thiobarbituric Acid Reactive Substance Assay (TBARS) pada jaringan tersimpan. Analisis statistik dilakukan dengan SPSS v25.0 menggunakan uji One-Way ANOVA.
Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik (p>0,05) antara ketiga kelompok pada pemeriksaan kadar malondialdehid jantung dan serum tikus (jantung: p=0,060; serum: p=0,162).
Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna pada kadar malondialdehid jantung dan serum tikus model PGK metode 5/6 nefrektomi dengan dan tanpa pemberian Irbesartan.

Background: Chronic kidney disease (CKD) is a condition that triggers a decrease in glomerular filtration rate. The reduction can activate Renin-Angiotensin-Aldosterone System (RAAS) and leads to an accumulation of oxidative stress. Irbesartan is a drug that functions to inhibit RAAS and is thought to have an effect on lowering the oxidative stress.
Objectives: To understand irbesartan’s antioxidant effects and its impact on oxidative stress in cardiac tissues and serum on rat models of 5/6 nephrectomy-induced CKD through the measurement of malondialdehyde levels.
Methods: This study is an experimental study utilizing stored heart and serum. The samples consists of three groups, which are Sham (S, heart and serum: n=4), 5/6 nephrectomy (N, heart: n=4; serum: n=3), and 5/6 nephrectomy administered with Irbesartan 20 mg/kgW/day for 4 weeks (N+I, heart and serum: n=4). Statistical analyses were done using SPSS v25.0 and examined using One-Way ANOVA.
Results: There were no significant results between the three groups based on the levels of heart and serum malondialdehyde (heart: p=0.060; serum: p=0.162).
Conclusion: There were no significant differences in the levels of heart and serum malondialdehyde on rat models of 5/6 nephrectomy-induced CKD with the administration of Irbesartan compared and without the administration of Irbesartan.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nafissa Amanda Safinati Yani
"

Latar belakang: Riset Kesehatan Dasar 2018 menemukan bahwa 38/10.000 penduduk Indonesia berusia >15 tahun menderita penyakit ginjal kronis (PGK). Morbiditas dan mortalitas utama pada penderita PGK disebabkan karena sindrom kardiorenal tipe 4. Toksin urea pada penderita PGK dapat menyebabkan inflamasi sistemis serta perburukkan stres oksidatif, mengakibatkan disfungsi endotel dan aterosklerosis yang bisa berujung pada penyakit kardiovaskuler. Sejumlah studi menemukan bahwa simvastatin memiliki efek antiinflamasi dan antioksidan yang ditunjukkan dengan penurunan malondialdehid (MDA), penanda tidak langsung inflamasi dan stres oksidatif.  

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian simvastatin dan pengaruhnya terhadap stres oksidatif pada tikus model PGK melalui pengamatan kadar MDA di jantung dan serum.

Metode: Tikus Sprague-Dawley (n=12) dibagi secara acak menjadi 3 kelompok: kelompok sham (S), model PGK melalui metode 5/6 nefrektomi (N), dan model PGK dengan pemberian simvastatin 10 mg/kgBB selama 4 minggu (NS). Pengukuran kadar MDA jantung dan serum dilakukan melalui Thiobarbituric Acid Reactive Substance Assay. Data selanjutnya diolah melalui uji One-Way Anova.

Hasil: Ditemukan rerata kadar MDA jantung sebagai berikut: S=1,3708 nmol/mg protein; NS=1,2574 nmol/mg protein; dan N=0,4129 nmol/mg protein. Ditemukan rerata kadar MDA serum sebagai berikut: NS=1,5924 nmol/ml; N=1,2667 nmol/ml; dan S=1,2171 nmol/ml. Temuan pada penelitian ini bertentangan dengan teori yang sudah ada. Meski demikian, perbedaan kadar MDA antarkelompok pada penelitian ini tidak bermakna secara statistik (p>0,05).  

Simpulan: Tidak terdapat perbedaan kadar MDA yang bermakna secara statistik baik pada kelompok S, kelompok N, dan kelompok NS.


Introduction: Riset Kesehatan Dasar 2018 found that 38/10.000 Indonesian population aged >15 years were suffering from Chronic Kidney Disease (CKD). CKD patients’ morbidity and mortality are majorly caused by type 4 cardiorenal syndrome. Urea toxin in CKD patients can cause systemic inflammation and oxidative stress, causing endothelial dysfunction and atherosclerosis that can lead to cardiovascular diseases. Several studies found that simvastatin had antiinflammatory and antioxidant effects, shown by the reduction of malondyaldehyde (MDA), an indirect inflammatory and oxidative stress marker.

Objective: This research aims to determine the effects of simvastatin administration on oxidative stress in CKD rat model by measuring cardiac and serum MDA levels.

Method: Sprague-Dawley rats (n=12) were randomly divided into 3 groups: sham (S), CKD model by 5/6 nephrectomy (N), and CKD model with 10 mg/kgBB simvastatin administration for 4 weeks (NS). Cardiac and serum MDA levels were measured using Thiobarbituric Acid Reactive Substance Assay. Data collected were analyzed using One-Way Anova test.

Results: The average cardiac MDA levels found were as followed: S=1.3708 nmol/mg protein; NS=1.2754 nmol/mg protein; and N=0.4129 nmol/mg protein. The average serum MDA levels found were as followed: NS=1.5924 nmol/ml; N=1.2667 nmol/ml; and S=1.2171 nmol/ml. These findings contradict existing theories. However, the differences among treatments and MDA levels are not statistically significant (p>0.05).

Conclusion: There isn’t statistically significant difference among the MDA levels in the S, the N, and the NS group

"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yolanda Putri Luciana
"

Latar belakang:Penyebab utama kematian pasien penyakit ginjal kronis (PGK) adalah penyakit kardiovaskular. Stres oksidatif merupakan mediator dalam patogenesis sindrom kardiorenal. Terapi kombinasi penghambat reseptor angiotensin dan statin dapat dipertimbangkan dalam manajemen pasien PGK karena pendekatannya berbeda dalam menekan stres oksidatif.

Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek irbesartan dan simvastatin terhadap penurunan stres oksidatif melalui pengamatan kadar malondialdehid (MDA) jantung dan serum tikus PGK.

Metode:Penelitian ini menggunakan jantung dan serum tersimpan dari tikus jantan galur Sprague-Dawley yang telah diberikan perlakuan pada penelitian sebelumnya. Terdapat 3 kelompok yakni kontrol normal (sham; n=4), nefrektomi 5/6 (Nx; n=4), dan nefrektomi 5/6 + terapi irbesartan 20mg/kgBB/hari dan simvastatin 10mg/kgBB/hari selama 4 minggu (Nx + Ir-Si; n=4). Kadar MDA sampel jantung dan serum tersimpan diukur dengan metode TBARS. Data dianalisis dengan SPSS menggunakan uji One-Way Anova. Nilai p ≤0.05 dianggap bermakna secara statistik.

Hasil:Pemberian irbesartan 20mg/kgBB/hari dan simvastatin 10mg/kgBB/hari selama 4 minggu menyebabkan kadar MDA yang cenderung meningkat namun tidak bermakna pada organ jantung (p=0,069) dan serum (p=0,091) tikus PGK.

Simpulan:Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok tikus PGK yang diberi terapi kombinasi irbesartan dan simvastatin dengan kelompok tikus PGK tanpa terapi terhadap hasil rerata kadar MDA jantung dan serum tikus.


Background:Cardiovascular disease is the main cause of mortality in chronic kidney disease(CKD). Oxidative stress is one of the mediators in cardiorenal syndrome. Combined angiotensin-receptor blockers and statins can be considered in CKDmanagement. 

Purpose:This study aims to determine the effect of irbesartan-simvastatin on reducing oxidative stress by observing malondialdehyde (MDA)levels in the heart and serum of CKD rats model.

Methods:This study uses stored heart tissue and serum from male Sprague-Dawley rats, those had been given treatment in previous study. There are 3 groups which are normal control (sham; n=4), untreated 5/6 nephrectomy (Nx; n=4), and 5/6 nephrectomy + irbesartan 20mg/kgBW/day and simvastatin 10mg/kgBW/day (Nx + Ir-Si; n=4).MDAlevels were measured using TBARS methods. Data were analyzed with SPSSusing One-Way Anova test. p value ≤0.05 is considered statistically significant.

Results:Combined therapy of irbesartan 20mg/kgBW/day and simvastatin 10mg/kgBW/day for 4 weeks caused a tendency in malondialdehyde levels to increase but not statistically significant in heart (p=0.069) and serum (p=0.091)of CKD rats model.

Conclusion:There were no significant differences between group of CKD rats with combined therapy of irbesartan-simvastatin and group of CKD rats without therapy on the MDA levels in heart and serum.

"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Brundage, Dorothy J.
St. Louis: Mosby, 1980
616.61 BRU n
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>