Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 82213 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Kiki Abdurachim Nazir
"Latar Belakang. Bedah pintas koroner merupakan salah satu pengobatan dari PJK Rehabilitasi Kardiovaskular selalu dilakukan pada pasien pasca bedah pintas koroner untuk memulihkan penderita pada kesehatan yang optimal dan meningkatkan kualitas hidup. Mengukur kualitas hidup dengan menggunakan kuesioner. Salah satu kuesioner yang banyak dipakai adalah SF-36. Di Indonesia belum ada penelitian kualitas hidup pasien pasca bedah koroner yang melakukan rehabilitasi fase III.
Metodologi. Penelitian dilakukan dengan disain potong lintang di divisi rehabilitasi PJNHK terhadap pasien pasca bedah pintas koroner yang melakukan rehabilitasi fase III tahun 2004 -2005 diambil secara consecutive sampling. Kuesioner SF-36 diberikan secara langsung atau melalui pos sµrat. Sebelumnya dilakukan uji kesahihan dan keandalan dari kuesioner SF-36 bahasa Indonesia.
Hasil. Didapatkan 112 pasien, 34 rehabilitasi di rumah sakit dan 78 pasien rehabilitasi di rumah. Karakteristik kedua kelompok sama. Uji kesahihan memakai r product moment dari Pearson setiap butir pertanyaan kuesioner SF-36 bahasa Indonesia r = 0,53-0.83 > 0,51 (r tabel) dan Cronbach a 0,855. Skor SF-36 tidak berbeda bermakna baik antara kedua kelompok ( rehabiltasi di rumah sakit vs di rumah) maupun dengan kelompok kontrol (sehat).
Kesimpulan. Kualitas hidup pasien yang melakukan rehabiltiasi fase III baik di rumah sakit maupun di rumah sama baiknya dan kuesioner SF-36 terjemahan bahasa Indonesia sahih dan andal untuk menilai kualitas hidup di Indonesia.

Background. Coronary artery bypass graft surgery (CABG) is one of the management for coronary artery disease. Cardiovascular rehabilitation usually conducted for recovery and improved quality of life. Questionnaire was used to evaluate quality of life. One of the quality of life instrument most commonly used is Questionnaire SF-36. So far there isn't any study to evaluate quality of life in patients post CABG who wishes to follow rehab program phase III in Indonesia.
Methodology. This is a cross sectional study conducted in Cardiovascular Rehabilitation Division in NCCHK to patients post CABG in phase III rehab program during 2004-2005. Subject was taken in consecutive sampling manner. Questionnaire SF-36 was handed directly or via mail. Validity and reliability test was done for the questionnaire form in Indonesia language.
Result. There were 112 patients, 34 patients did rehab program in hospital and 78 were home-based. The characteristics between two groups were similar. Validity test using r product moment from Pearson to every questions in SF-36 showed r = 0,53-0.83 > 0,51 (r table) and Cronbach a= 0,855. SF-36 scoring was not significantly different among two group (in hospital rehab vs home-based rehab) and also control group (healthy).
Conclusion. There were no difference of quality of life in patients who had done rehabilitation program phase III in hospital and home-based and questionnaire SF-36 form in Indonesia language valid and reliable.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18148
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simon Salim
"Latar Belakang : Implantasi pacu jantung permanen telah menjadi prosedur umum saat ini. Tujuan tindakan pemasangan pacu jantung permanen tidak lagi hanya sebatas morbiditas dan mortalitas, tetapi juga kualitas hidup. Dalam menilai kualitas hidup dibutuhkan kuesioner yang dapat merubah sesuatu yang kualitatif menjadi data kuantitatif. Kuesioner kualitas hidup yang ada saat ini belum ada yang berbahasa Indonesia. Untuk dapat digunakan dalam menilai kualitas hidup di Indonesia perlu adaptasi bahasa dan budaya. Selain itu, kuesioner terjemahan tersebut harus memiliki validitas dan reliabilitas yang baik. Metode : Studi ini adalah studi cross sectional yang terbagi dalam 2 tahap. Tahap awal berupa adaptasi bahasa dan budaya untuk dapat menghasilkan kuesioner SF-36 dan Aquarel berbahasa Indonesia. Tahap akhir berupa uji validitas dan reliabilitas kuesioner SF-36 dan Kuesioner Aquarel. Subjek berjumlah 30 orang pada tahap awal, dan 20 orang pada tahap akhir. Subjek merupakan pasien dengan pacu jantung permanen, yang kemudian akan dilakukan Tes Jalan 6 Menit (6MWT) dan pemeriksaan NT pro-BNP. Validitas SF-36 dinilai berdasarkan nilai korelasi Kuesioner dengan pemeriksaan penunjang, dan validitas Aquarel dinilai berdasarkan nilai korelasi kuesioner Aquarel dengan Kuesioner SF-36, dan korelasi kuesioner dengan pemeriksaan penunjang. Reliabilitas kuesioner dinilai berdasarkan konsistensi internal dan repeatabilitas. Hasil : Kuesioner SF-36 berbahasa Indonesia memiliki korelasi positif antara 6MWT dengan domain PF (Physical Functioning) (r= 0,363; p=0,001), dan memiliki korelasi negatif antara NT Pro-BNP dengan domain GH (General Health) (r= 0,269; p = 0,020) dan MH (Mental Health) (r= -0,271; p = 0,019). Kuesioner Aquarel berbahasa Indonesia memiliki korelasi positif antara 6MWT dengan domain dyspneu (r=0,228; p=0,048), dan memiliki korelasi negatif antara NT proBNP dengan Domain Chest Discomfort (r = -0.231; p = 0.043) dan Dyspneu (r = 0.268; p = 0.020). Kedua kuesioner SF-36 berbahasa Indonesia (Cronbach α = 0.789) dan Aquarel berbahasa Indonesia (Cronbach α = 0.728) memiliki reliabilitas dan repeatabilitas yang baik. Kesimpulan : Pada proses adaptasi bahasa dan budaya tidak terdapat modifikasi yang berarti pada kedua kuesioner dan dapat diterima baik oleh pasien. Kuesioner SF-36 berbahasa Indonesia dan Kuesioner Aquarel berbahasa Indonesia bersifat valid dan reliable.

acemaker implantation has became common procedure in the last decades. The goal of our therapy was no longer about morbidity and mortality, but quality of life. In assessing the quality of life, we need a questionnaire that can change qualitative value to quantitative value. There is no quality of life questionnaires in Bahasa Indonesia, therefore we need language and cultural adaptation before we can use it in Indonesia. Moreover the translation questionnaire must has good validity and good reliability. We choose SF-36 as generic health related quality of life (HRQoL), as it is the most popular HRQoL questionnaire. Specifically for pacemaker patients, we choose Aquarel Questionnaire. Methods : This cross sectional study was divided into 2 steps. The first step was language and cultural adaptation to create SF-36 and Aquarel questionnaire in Bahasa Indonesia. The final step was validation and reliability test of the translated questionnaire. The subjects were 30 people for the first step , and 20 people for the final step. All the subject were patient with permanent pacemaker. We also conduct two diagnostic tests (6 Minutes Walk Test (6MWT) and NT pro-BNP). SF-36 validity was assessed by its correlation with diagnostic tests, and Aquarel validity was assessed by its correlation with SF-36 and with The diagnostic tests. Both questionnaire reliability assessed by its Internal consistency and repeatability. Results : Our indonesian version of SF-36 shows positive correlation between 6MWT and PF (Physical Functioning) ( r = 0.363 ; p = 0.001) and negative correlation between NT Pro-BNP value with GH (General Health) (r = -0.269; p = 0.020) and MH (Mental Health) (r = -0.271; p = 0.019). Our Indonesian version of Aquarel shows positive correlation between 6MWT with Dyspneu domain ( r = 0.228 ; p = 0.048 ) and shows negative correlation between NT Pro-BNP with Chest Discomfort (r = -0.231; p = 0.043) and Dyspneu (r = -0.268; p = 0.020). Both the Indonesian SF-36 (Cronbach ? = 0.789) and the Indonesian Aquarel (Cronbach ? = 0.728) shows good reliability and repeatability. Conclusions : We succed doing language and cultural adaptation of SF-36 and Aquarel questionnaire. Both Indonesian version questionnaire are valid and reliable .
"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T55664
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hendri Budi
"Asma adalah penyakit kronik yang mempengaruhi fisik, emosi dan sosial. Pasien asma dapat terganggu kualitas hidupnya akibat keluhan-keluhan yang dirasakan, oleh karena itu tujuan utama penatalaksanaan asma adalah meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup agar pasien asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Salah satu penatalaksanaan yang tepat ialah dengan melakukan senam asma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas senam asma dengan kualitas hidup pasien asma di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain penelitian crossectional. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 73 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposif sampling.
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kualitas hidup pasien asma (p=0,362), tidak ada perbedaan nilai kualitas hidup dengan usia (p=0.764), tidak ada hubungan yang bermakna antara riwayat asma dalam keluarga dengan kualitas hidup pasien asma (p=0,658), tidak ada hubungan yang bermakna antara pengobatan dengan kualitas hidup pasien asma (p=0,577) dan ada hubungan yang bermakna antara kualitas senam asma dengan kualitas hidup pasien asma (p=0,022).
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan perawat dapat merencanakan senam asma sebagai salah satu intervensi keperawatan pada program manajemen asma di rumah sakit dengan memperhatikan aspek keteraturan senam dan pelaksanaan sosialisasi dalam senam asma tersebut serta melaksanakan perannya sebagai edukator, motivator dan patien manager dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien asma. Kepada penelitian selanjutnya perlu diteliti faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien asma.

Asthma is a chronic disease that influence physical, emotional and social function of the patient. The Quality of life would be influenced by the symptoms occured. Therefore, the purpose of asthma care is to maintain and improve the quality of life of the asthmatic patient in order to improve patients’s ability in performing their activity daily living by performing asthma physical exercise as one of modality therapy. This study aimed to examine relationship between quality of the asthma physical exercise with quality of life in patients with asthma at RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. A crossectional design was used in this study. The total sample of 73 asthmatic patient were selected by purposive sampling method.
The result showed that there was no relationship between sex with quality of life (p=0,362), there was no relationship between age and quality of life (p=0.764), there was no relationship between asthma in the family with patient’s quality of life (p=0,658), and there was relationship between quality of asthma physical exercise with quality of life (p=0,022).
This study recommended the nurses to develop asthma physical exercise planning as a nursing intervention on asthma management at hospital and make emphasize on regularity of the asthma physical exercise and building social relationship. In addition, the nurses should do their role as educator, motivator and patient manager in taking care the patients. It is also recommended to further study to explore deeply about influencing factors of the quality of life of asthmatic patient.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2008
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Cut Rika Maharani
"ABSTRAK
TUJUAN: Mengetahui perubahan skor kualitas hidup pasien POP pasca tatalaksana pembedahan vagina dengan menggunakan kuesioner PFDI-20 dan PFIQ-7 Di RSCMdan RSFLATAR BELAKANG: Prolaps organ panggul menjadi perhatian utama dalam masalah kesehatan wanita pada semua umur yang sering dihubungkan dengan penurunan kualitas hidup dan menyebabkan gangguan pada kandung kemih, saluran cerna dan disfungsi seksual. Terapinya ialah konservatif dan pembedahan dengan tujuan terapi menghilangkan keluhan untuk mengembalikan kualitas hidup pasiennya sehingga pasien dapat melakukan aktifitas. Tujuan penelitian ini untuk melihat perubahan skor kualitas hidup pasien POP pasca tatalaksana pembedahan vagina dengan menggunakan kuesioner PFDI-20 dan PFIQ-7 Di RSCMdan RSF.DESAIN DAN METODE: Desain studi kohort prospektif, dilakukan di RSCM dan RSF periode Juli 2015 hingga Oktober 2016. Subjek dilakukan follow-up penilaian kualitas hidup sebelum dan sesudah terapi bulan ketiga dengan menggunakan kuesioner PFDI-20 dan PFIQ-7 versi Indonesia. Data disajikan secara analisis deskriptif.HASIL: Pada penelitian ini didapatkan 25 sampel penelitian dan tidak ada yang di drop out. Hasil penelitian menunjukkan pasien yang diterapi dengan pembedahan vagina juga terdapat pengurangan skoring kualitas hidup yang bermakna dengan nilai

ABSTRACT
OBJECTIVE To determine changes in the quality of life in POP patients after underwent vaginal surgery using PFDI 20 and PFIQ 7 questionnaires at RSCM And RSF.BACKGROUND Pelvic organ prolapse is a major concern in women 39 s health issues at all ages and often associated with reduced quality of life and can cause bladder, gastrointestinal and sexual dysfunction. The treatments are conservative and surgical therapy aiming to eliminate complaints to improve the quality of life of the patient. Therefore, the patients can perform their daily activities. The aim of this study is to evaluate changes in the quality of life scores in POP patients after vaginal surgery using PFDI 20 and PFIQ 7 questionnaires at RSUPN dr.Cipto Mangunkusumo And RSF.DESIGN AND METHODS prospective cohort study, carried out in RSCM and RSF period July 2015 to October 2016. Subject to do follow up assessment of the quality of life before and after the third month of therapy using questionnaires PFDI 20 and PFIQ 7 version of Indonesia. Data presented descriptive analysis.RESULTS In this study, 25 samples were obtained and none dropped out. The results showed significant score reduction in the quality of life in patients treated with vaginal surgery with p "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T58649
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yani Sofiani
"ABSTRAK
Diabetes Mellitus merupakan suatu sindroma klinis kelainan metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia yang berlangsung lama. Salah satu komplikasi jangka panjang yang dapat terjadi adalah neuropati dimana pada tahap lanjut dapat dilakukan tindakan amputasi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran analisis hubungan karakteristik dan budaya pasien Diabetes Mellitus ( DM ) yang mengalami amputasi kaki dengan kualitas hidup. Pada penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan croossectiona. Jumlah responden 76 pasien di wilayah DKI Jakarta. Variabel independen dalam penelitian ini adalah karakteristik pasien DM yang mengalami amputasi kaki (usia, tingkat pendidikan, jenis kelamin, lama menderita DM, lama mengalami amputasi, jenis amputasi dan komplikasi lain yang diderita pasien) dan faktor budaya (rasa optimis dalam mengendalikan gula darah dan suku bangsa), sedangkan variabel dependen adalah kualitas hidup. Analisis bivariat menggunakan ANOVA dan Chi Square dengan alfa (< 0.05) menunjukkan ada hubungan tingkat pendidikan dengan kualitas hidup (p value 0.019) dan ada hubungan jenis amputasi dengan kualitas hidup (p value 0.0005). Pada analisis regresi logistic ganda didapatkan 2 variabel yang berpengaruh terhadap kualitas hidup yaitu tingkat pendidikan dan jenis amputasi. Pasien DM yang mengalami amputasi kaki yang berpendidikan tinggi memiliki kualitas hidup 23 kali lebih baik dibandingkan pasien DM yang mengalami amputasi kaki yang berpendidikan rendah setelah dikontrol variabel jenis kelamin, jenis amputasi, rasa optimis dan komplikasi dan pasien DM yang mengalami amputasi kaki dibawah mata kaki memiliki kualitas hidup 602 kali lebih baik dibandingkan pasien DM yang mengalami amputasi kaki diatas mata kaki setelah dikontrol variabel jenis kelamin, tingkat pendidikan, rasa optimis dan komplikasi. Saran pada penelitian ini adalah perawat perlu senantiasa melakukan deteksi dini terhadap kondisi kaki pasien DM dan selalu memotivasi pasien agar selalu melakukan perawatan kaki dengan rutin.

ABSTRACT
Diabetes Mellitus (DM) is a clinical syndrome of metabolism disorder, which is signed by a prolonged hyperglycemic. DM could lead to a chronicle complication called neuropathy, whereas in a further phase, amputation will be the last action need to be taken. This research was conducted to get analytical pictures of relation between characteristics and culture of patient with diabetic foot amputation with their quality of life. With correlation descriptive design, this research involving 76 respondents of patient in DKI Jakarta. Independent variables in this research are characteristics of patient with diabetic foot amputation(age, education level, gender, how long have they been living with DM, how long have they been living with foot amputation, type of amputation, and other complication that the patients have) and factor of culture (optimisms in controlling glucose level in blood and race). The independents variable was the quality of life. Bivariat analysis using ANOVA and Chi Square with alpha (<0.05) had showed that there ware a correlation between level of education and the quality of life (p value 0.019) and a correlation between type of amputation and the quality of life (p value 0.0005). Logistics regression analysis showed that two dominant factor to the quality of life there are type amputation and education level. Patient with diabetic foot amputation with higher education level have quality of life 23 times better than the patient with diabetic foot amputation with a lower education level after controlled with variable of gender, type of amputation, optimism and complication. Patient with DM that had amputation below their ankle have 602 times better quality of life than they who had amputation over their ankle after controlled with variable of gender, type of amputation, optimism and complication. Hopefully, this research will inspire nurses for advice the patient to a routine treatment for their foot and early detection complication."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2008
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ika Ainur Rofi Ah
"ABSTRAK
Nama : Ika Ainur Rofi rsquo;ahProgram Studi : Magister Ilmu KeperawatanJudul : Hubungan antara Indeks Respon Gejala Acute Coronary Syndrome ACS dan Persepsi Penyakit Selama Dirawatdengan Kualitas Hidup Pasca Rawat Infark MiokardPembimbing : Prof. Dra Elly Nurachmah, S.Kp, M.App.Sc, D.N.Sc, RNSri Yona, S.Kp, MN., Ph.D Penyakit jantung koroner merupakan masalah kardiovaskuler utama yang menyebabkan angka perawatan rumah sakit dan kematian di dunia. Infark miokard merupakan penyakit jantung koroner yang terjadi secara spontan akibat trombosis koroner, kerusakan arteri koroner, erosi plak aterosklerosis, ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara indeks respon gejala ACS dan persepsi penyakit selama dirawat dengan kualiats hidup pasca rawat infark miokard. Penelitian ini menggunakan desain non eksperimental jenis cross sectional analitik dengan jumlah sampel 101 orang yang dilakukan di RSI Sakinah Mojokerto. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas hidup dengan indeks respon gejala ACS dan persepsi penyakit, usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, kecemasan, depresi, dan dukungan sosial p value=0,001; ?

ABSTRACT
Name Ika Ainur Rofi rsquo ahStudy Program Faculty of Nursing Indonesian UniversityTitle Relationship between Response Index Symptom of Acute Coronary Syndrome ACS and Illness Perception during Treatment with Quality of Life after Care of Myocardial InfarctionCounsellor Prof. Dra Elly Nurachmah, S.Kp, M.App.Sc, D.N.Sc, RNSri Yona, S.Kp, MN., Ph.D Coronary heart disease is a major cardiovascular problem that causes hospitalization and mortality rates in the world. Myocardial infarction is a spontaneous coronary heart disease caused by coronary thrombosis, coronary artery damage, atherosclerotic plaque erosion, oxygen supply and demand imbalance. The purpose was to determine the relationship between response index symptom of ACS and illness perception with quality of life after care of myocardial infarction. This research used a non experimental design cross sectional analytic type with a sample of 101 people conducted at Sakinah Hospital in Mojokerto. The results showed a significant relationship between quality of life with response index symptom of ACS, illness perception, marital status, education level, anxiety, depression, and social support p value 0,001 "
Depok: 2018
T49486
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ikalius
"Penyebab tersering terjadinya PPOK adalah karena kebiasan merokok, polusi udara, defisiensi antitripsin alfa-1 dan faktor genetik. Penyakit ini akan terus berlanjut secara progresif lambat. Obat-obatan seperti bronkodilator tidak banyak membantu kecepatan penurunan faal paru, faktor lain yang memperberat seperti seringnya eksaserbasi, kebiasan merokok dan faktor lingkungan.
Penderita PPOK cenderung menghindari aktiviti fisik sehingga penderita mengurangi aktiviti sehari-hari menyebabkan imobilisasi, hubungan penderita dengan lingkungan dan sosial menurun sehingga kualiti hidup menurun dan kapasiti fungsional juga menurun. Kualiti hidup adalah kemampuan individu untuk berfungsi dalam berbagai peran yang diinginkan dalam masyarakat serta merasa puas dengan peran tersebut sedangkan kapasiti fungsional adalah hal-hal yang berhubungan dengan aktiviti sehari-hari seperti merawat diri, makan, berpakaian dan kegiatan rumah tangga.
Salah satu program yang dapat meningkatkan kualiti hidup dan kapasiti fungsional adalah program rehabilitasi paru. Tujuan rehabilitasi paru meningkatkan dan mempertahankan tingkat kemampuan tertinggi seseorang untuk hidup mandiri dan berguna bagi masyarakat. Rehabilitasi paru yang diberikan adalah fisioterapi dada dan latihan memakai ergometer sepeda. Fisioterapi dada yang diberikan adalah Pemberian sinar infra merah daerah dada dan punggung masing-masing 7,5 menit, pernapasan diafragma dilanjutkan pernapasan pursed lip, latihan elevasi otot-otot bahu, sendi leher,dan sendi lengan atas, vibrasi dilakukan saat ekspirasi 5x napas dalam dan latihan batuk. Kemudian dilanjutkan latihan dengan ergometer sepeda. Latihan dilakukan 3 kali seminggu 10 menit minggu pertama dan kedua kemudian dinaikkan 5 menit setiap minggu,minggu ke enam sampai ke delapan 30 menit.
Tujuan utama penelitian ini adalah membuktikan peranan rehabilitasi paru penderita PPOK, metode prospective study membandingkan kelompok perlakuan (mendapat rehabilitasi paru) dan kontrol (tidak mendapat rehabilitasi paru). Pengambilan sampel menggunakan cara quota sampling. Penelitian ini dilakukan terhadap 43 penderita PPOK stabil rawat jalan di RSUD Dr Moewardi Surakarta yang dibagi 2 kelompok, terdiri 21 kelompok perlakuan dan 22 kelompok kontrol. Penilaian kualiti hidup menggunakan St George's respiratory Questionnare (SGRQ) dan kapasiti fungsional dinilai dengan uji jalan 6 menit dilakukan penilaian sebelum rehabilitasi paru dan setelah 8 minggu.
Hasil penelitian didapatkan pada kelompok perlakuan (n=21; 15 laki-laki, rerata umur 61,9±8,7 tahun) dibandingkan kontrol (n=22;18 laki-laki, rerata umur 59,9±8,3 tahun). Terjadi penurunan SGRQ antara perlakuan (-21,8%) dan kontrol (0,9%) setelah dilakukan uji beda secara statistik berbeda bermakna p< 0,005. Nilai SGRQ menurun menunjukkan kuali hidup meningkat. Peningkatan jarak pada uji jalan 6 menit kelompok perlakuan ( 55±26,6 meter), kelompok kontrol (3,4 ± 15,2 meter). Uji beda antara kelompok perlakuan dan kontrol secara uji statistik berbeda bermakna p<0,005. Reningkatan jarak pada uji jalan 6 menit berarti kapasiti fungsional meningkat.
Kesimpulan, penderila PPOK setelah diberi rehabilitasi paru selama 8 minggu dapat meningkatkan kualiti hidup dan kapasiti fungsional.

Study objective : to assess the benefit of Pulmonary Rehabilitation to the COPD patients
Setting : COPD Patients at the Medical Rehabilitation Unit DR Moewardi Surakarta Hospital
Methods : Prospective study, comparing treatment group and control group who underwent 8 weeks administration of pulmonary rehabilitation programs. The patients in the treatment groups received chest physiotherapy and ergo-cycle exercise 3 times a week within 8 weeks.
Measurement : The quality of life was assessed by SGRQ, functional capacity was assessed by six minutes walking test (SMWT)
Results : Total SGRQ patient in the treatment group (n=21, 15 male; mean age 61,9± 8,7 yrs) compare with control group (n=22, 18 male; mean age 59,9 ± 8,3 yrs) had statistically significant decreased (-21,8 ± 9,1% ; 0,9± 2,7% respectively, p<0,005).There are statistically significant improving of six minute walking test (SMWT) in treatment group compare to control group (55±26,6 m ; 3,4 ±15,2m respectively, p<0,005).
Conclusions: The pulmonary rehabilitation programs 3 times a week within 8 weeks improve the quality of life and functional capacity of COPD patients."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T58479
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ani Aryant
"Hemodialisis dapat menimbulkan efek samping pada sistem tubuh, salah satunya adalah kelemahan otot yang berpengaruh pada aktivitas sehari-hari. Aktivitas fisik akan mempengaruhi kualitas hidup pasien hemodialisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dan kualitas hidup pasien hemodialisis. Desain penelitian menggunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional menggunakan sampel pasien menjalani hemodialisis rutin sebanyak 104 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kualitas hidup (p value = 0,659). Walaupun demikian aktivitas fisik mempunyai peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisis. Sehingga hasil ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi perawat yaitu pentingnya mengkaji aktivitas fisikdan kualitas hidup pasien hemodialisis sebagai bagian dari intervensi keperawatan.

Hemodialysis may have side effect of muscle weakness that affects on daily activities of hemodialysis patients. Physical activity influences the quality of life of hemodialysis patients. This study aims to explore the relationship between physical activity and quality of life in hemodialysis patients. Design research used descriptive correlation with cross sectional approach, recruited 104 samples of hemodialysis patients. The result showed that there was no relationship between physical activity and quality of life (p value = 0,659). It has been realized that physical activity has important contribution for quality of life of hemodialysis patients. Therefore, nurses should perform assessment related to physical activity and quality of life in hemodialysis patients as a part of intervention to the patients."
Depok: Universitas Indonesia, 2015
S59653
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anggi Pratiwi
"Latar belakang: Gangguan saluran berkemih bawah gangguan berkemih meningkat seiring dengan bertambahnya usia oleh karena berbagai faktor. Dengan meningkatnya usia harapan hidup, populasi kelompok wanita menopause juga meningkat dan kualitas hidup terkait aktivitas fisik mereka sehari-hari dapat terganggu oleh karena gangguan berkemih. Tujuan: Untuk mengetahui prevalensi gangguan berkemih pada wanita menopause yang berkunjung ke poliklinik Departemen Ilmu Kesehatan Mata RSCM dan untuk melihat hubungan antara gangguan berkemih dengan kualitas hidup wanita menopause yang berkunjung ke poliklinik Departemen Ilmu Kesehatan Mata RSCM dengan menggunakan kuesioner Bristol Female Lower Urinary Tract Symptoms BF LUTS Questionnaire dan International Consultation on Incontinence Modular Questionnaire Female Lower Urinary Tract Symptoms ICIQ-LUTSQol . Metode: Studi potong lintang dilakukan pada wanita menopause pasien yang berkunjung ke Poliklinik Departemen Ilmu Kesehatan Mata Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada bulan November-Desember 2017. Pasien yang setuju untuk berpartisipasi dalam studi ini ditanyakan beberapa pertanyaan sesuai dengan kuesioner Bristol Female Lower Urinary Tract Symptoms BF LUTS Quesionnaire dan kuesioner International Consultation on Incontinence Modular Questionnaire Female Lower Urinary Tract Symptoms ICIQ-LUTSQol . Hasil: Terdapat 259 pasien yang berpartisipasi pada studi ini, usia median 59 45-70 tahun. Dari 259 pasien didapatkan 36 pasien 13.6 tidak memiliki gangguan berkemih, 199 pasien 76.8 memiliki gangguan berkemih ringan dan 24 pasien 9.3 memiliki gangguan berkemih sedang. Prevalensi gangguan berkemih pada wanita menopause yang berkunjung ke poliklinik Departemen Ilmu Kesehatan Mata RSCM adalah 86.1 . Semakin berat gangguan berkemih skor BF LUTS yang semakin tinggi maka semakin buruk pula kualitas hidup wanita menopause semakin tinggi skor ICIQ LUTS Qol . Kesimpulan: Prevalensi gangguan berkemih pada wanita menopause yang berkunjung ke poliklinik Departemen Ilmu Kesehatan Mata RSCM adalah 86.1 . Semakin berat gangguan berkemih skor BF LUTS yang semakin tinggi maka semakin buruk pula kualitas hidup wanita menopause semakin tinggi skor ICIQ LUTS Qol .
Background: Lower urinary tract symptoms increase with age due to several factors. With the increase of life expectancy, the number of menopausal women also increase and their quality of life may be affected by lower urinary tract symptoms.Objective: To know the prevalence of lower urinary tract symptoms among menopausal women who visited Cipto Mangunkusumo Nationa Hospital rsquo;s Clinis Facility. To see the relationship between lower urinary tract symptoms and menopausal women whom visit Ciptomangunkusumo Hospital Policlinic using Bristol Female Lower Urinary Tract Symptoms BF LUTS Quesionnaire and International Consultation on Incontinence Modular Questionnaire Female Lower Urinary Tract Symptoms ICIQ-LUTSQol . Method: Cross-sectional study was conducted among menopausal women who visited Policlinic of the Ophtalmology Department of Cipto Mangunkusumo National Hospital from November ndash; December 2017. Patients who agreed to participate were asked several questions from both questionnaire Bristol Female Lower Urinary Tract Symptoms BF LUTS Questionnaire and International Consultation on Incontinence Modular Questionnaire Female Lower Urinary Tract Symptoms ICIQ-LUTSQol . Results: A total 259 patients were included in this study, median age was 59 45-70 years. Of the 259 patients, 36 patients 13.6 patient had no lower urinary tract symptoms, 199 patients 76.8 had mild lower urinary tract symptoms and 24 patients 9.3 had moderate lower urinary tract symptoms. Prevalence of lower urinary tract symptoms of menopausal women who visited is 86.1 . The more the lower urinary tract symptoms higher score of BF LUTS , the worse the quality of life ICIQ LUTS qol score . Conclusion: The prevalence of lower urinary tract symptoms in menopaussl women who visited Cipto Mangunkusumo National Hospital rsquo;s Clinic Facility was 86,1 . There is associations between quality of life and lower urinary tract symptoms on the three group p"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T57775
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Luthfi Azra Aulia
"Kualitas hidup adalah suatu payung yang melingkupi variasi konsep fungsional, status kesehatan, persepsi, kondisi kehidupan, gaya hidup, dan kebahagiaan. Indikator dalam mengukur kualitas hidup terbagi menjadi dua, yakni indikator subjektif dan indikator objektif. Indikator subjektif berkaitan langsung dengan berbagai pengalaman yang seseorang alami dalam hidupnya. Di sisi lain, indikator objektif dikaitkan dengan wujud kepemilikan berbagai material atau faktor eksternal yang mempengaruhi berbagai pengalaman seseorang dalam menjalani kehidupannya. Pada penelitian ini, indikator objektif dipilih sebagai alat ukur kualitas hidup yang mencakup karakteristik sosial, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan. Data yang digunakan dalam penelitian terdiri dari dua jenis data, yakni data numerik dan kategorik. Data yang digunakan merupakan data sekunder berisikan indikator objektif kualitas hidup di 82 negara pada tahun 2020. Adapun metode yang digunakan adalah algoritma K-prototypes dan Two Step Cluster (TSC) yang merupakan bagian dari metode pengelompokan nonhierarki dan hierarki serta dapat menangani data bertipe campuran (numerik dan kategorik). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa algoritma K-prototypes merupakan metode yang memberikan hasil lebih baik dalam mengelompokkan data penelitian dibandingkan algoritma TSC dengan nilai koefisien Silhouette sebesar 0,577, yang bermakna bahwa kelompok yang terbentuk telah memiliki struktur yang baik. Kelompok optimal yang terbentuk adalah sebanyak 2 kelompok yang disusun oleh 40 negara pada Kelompok 1 dan 42 negara pada Kelompok 2. Kelompok 2 cenderung memiliki profil kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan Kelompok 1.

Quality of life is a phrase that covers a variety of functional concepts, health status, perception, living conditions, lifestyle, and happiness. Indicators in measuring quality of life are divided into two, namely subjective indicators and objective indicators. Subjective indicators are measured based on various experiences that people went through in life. On the other hand, objective indicators are measured based on various materials or external factors that affect a person's experiences in everyday life. In this study, objective indicators were chosen as quality measurement tools based on social, economic, health, and environmental characteristics. The data used in the study consisted of two types of data, namely numerical and categorical data. The data is secondary data containing objective indicators of quality of life in 82 countries in 2020. The method used in this research is the K-prototypes and Two Step Cluster (TSC) algorithm which is part of the non-hierarchical and hierarchical grouping method and can handle mixed-type data. The results of this study indicate that the K-prototypes algorithm is a method that gives better results than the TSC algorithm with a silhouette coefficient value of 0.577, which means that the formed group already has a good structure. The optimal groups formed are 2 groups composed of 40 countries in Group 1 and 42 countries in Group 2. Group 2 tends to have a better quality of life profile than Group 1."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>