Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 167566 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Melody Febriana Andardewi
"Latar Belakang: Pruritus menjadi salah satu gejala yang dialami oleh pasien dengan penyakit ginjal kronik (PGK). Pruritus yang berasosiasi dengan PGK mayoritas terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisis (HD) dan dapat terjadi pada resipien transplantasi ginjal (RTG). Gejala pruritus yang tidak ditangani dengan baik dapat memberikan dampak terhadap kualitas hidup. Belum terdapat penelitian yang membandingkan proporsi derajat keparahan pruritus, kualitas hidup, dan korelasi berbagai faktor biokimia antara pasien HD dengan RTG di Indonesia. Tujuan: Membandingkan derajat keparahan pruritus, kualitas hidup, serta korelasi kadar hs-CRP, kalsium, fosfat, dan e-GFR antara pasien PGK yang menjalani HD dengan RTG. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang. Setiap SP dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan laboratorium. Skala gatal 5 dimensi (5-D) digunakan untuk evaluasi derajat keparahan pruritus dan Indeks Kualitas Hidup Dermatologi (IKHD) digunakan dalam menilai kualitas hidup. Analisis statistik yang sesuai dilakukan untuk membuktikan hipotesis penelitian dengan nilai kemaknaan yang digunakan adalah p <0,05. Hasil: Dari 30 SP di masing-masing kelompok, proporsi pruritus derajat sedang-berat sebesar 76,7% pada kelompok HD sedangkan pada kelompok RTG sebanyak 83,3% mengalami pruritus derajat ringan (RR = 4,6; IK 95% = 2,02–10,5; p <0,001). Median skor IKHD pada kelompok HD adalah sebesar 5 (3–6) sedangkan pada kelompok RTG sebesar 3 (2–4) (p <0,001). Terdapat korelasi positif yang bermakna antara hs-CRP dengan skor skala gatal 5-D pada kelompok HD (r = 0,443; p <0,05). Terdapat korelasi negatif yang bermakna antara e-GFR dengan skor skala gatal 5-D pada RTG (r = -0,424; p <0,05). Tidak terdapat korelasi yang bermakna secara statistik antara kadar kalsium dan fosfat dengan skor skala gatal 5-D pada kedua kelompok. Kesimpulan: Pasien HD lebih banyak mengalami pruritus derajat sedang-berat dibandingkan pada RTG. Pruritus pada kelompok HD berdampak ringan hingga sedang terhadap kualitas hidup sedangkan pada kelompok RTG pruritus berpengaruh ringan terhadap kualitas hidup. Pada pasien HD, semakin tinggi kadar hs-CRP maka semakin meningkat skor skala gatal 5-D. Pada pasien RTG, semakin menurun nilai e-GFR maka semakin meningkat skor skala gatal 5-D.

Background: Pruritus is one of the symptoms experienced by patients with chronic kidney disease (CKD). Most patients with chronic kidney disease-associated pruritus (CKD-aP) occur in dialysis patients and could also happen in kidney transplant (KT) recipients. Inappropriate management of pruritus could impact the quality of life (QoL). No studies have compared the severity of pruritus, QoL, and the correlation of various biochemical factors between hemodialysis (HD) and KT recipients in Indonesia. Objective: To compare the severity of pruritus, QoL, and the correlation of hs-CRP, calcium, phosphate, and e-GFR levels between HD and KT recipients. Methods: This is a cross-sectional analytic observational study. Medical history, physical examination, and laboratory examination were conducted on each subject. The 5-dimensional (5-D) itch scale was used to evaluate the severity of pruritus. Dermatology Life Quality Index (DLQI) was used to assess the QoL. Appropriate statistical analysis was conducted to prove the research hypothesis with a significance value of p <0.05. Results: Out of 30 subjects in each group, the proportion of moderate to severe pruritus was 76.7% in the HD group. In the KT group, 83.3% experienced mild pruritus (RR = 4.6; CI 95% = 2.02– 10.5; p <0.001). The median DLQI score in the HD group was 5 (3–6), while in the KT group was 3 (2–4) (p <0.001). There was a significant positive correlation between hs-CRP and the 5-D itch scale in the HD group (r = 0.443; p <0.05). The KT group had a significant negative correlation between e-GFR and the 5-D itch scale (r = -0.424; p <0.05). Both groups had no statistically significant correlation between calcium and phosphate levels and the 5-D itch scale. Conclusion: Moderate-to-severe pruritus was more common in HD patients than in KT recipients. Pruritus in HD patients had a mild to moderate effect on QoL, whereas pruritus in KT recipients had a mild impact on QoL. A higher level of hs-CRP in HD patients results in a higher 5-D itch scale. In KT recipients, the lower the e-GFR value, the higher the 5-D itch scale."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Darmawan
"Latar Belakang: Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan suatu kondisi progresif dan salah satu kontributor mortalitas dan morbiditas di seluruh dunia. Gangguan sistem saraf otonom (SSO) adalah salah satu mekanisme kemunculan komorbiditas pada PGK seperti frailty. Frailty adalah sindrom penurunan kapasitas fungsional multisistem dalam menghadapi stressor, dan adanya kondisi ini menjadi faktor yang memperburuk prognosis pasien tersebut. Pengukuran Heart Rate Variability (HRV) menggambarkan fungsi SSO dan merupakan pemeriksaan potensial yang dapat menjadi penanda frailty pada PGK secara efektif dan objektif. Tujuan: Mengetahui hubungan antara pemeriksaan HRV dengan frailty pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis kronik.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik potong lintang dengan merekrut pasien PGK yang menjalani hemodialisis kronik di RSUPN dr.Cipto Mangunkusumo pada bulan November - Desember 2024. Pengukuran HRV dilakukan 5 menit pre-HD dengan sadapan dada Polar-H10. Frailty dinilai lewat pengisian kuesioner Frailty Index 40 Item. Karakteristik pasien dan faktor perancu didapatkan dari hasil pemeriksaan serum, hasil kuesioner depresi, cemas, dan gangguan tidur, dan rekam medis. Hasil penelitian dianalisis secara statistik secara bivariat dan multivariat.
Hasil: Dari 114 subjek PGK yang diteliti, didapatkan bahwa 28.1% mengalami frail, dengan rerata SDNN 20,51ms ± 11,52, RMSSD 19,23 ms ± 11,96, dan LF/HF ratio 2,27 ± 1,69. Setelah pengkategorian dan analisis bivariat terhadap status frailty, didapatkan bahwa SDNN < 23 ms, RMSSD < 17 ms, riwayat hipertensi dan indeks massa tubuh merupakan variabel dengan tren signifikan. Setelah penyesuaian dengan analisis multivariat, didapatkan bahwa hanya SDNN < 23 ms yang memiliki hubungan signifikan dengan status frail. Simpulan: Pada pasien dengan kondisi PGK yang menjalani hemodialiasis kronik, pengukuran SDNN sebagai parameter HRV memiliki kaitan erat dan independen dengan keberadaan kondisi frail.

Background: Chronic kidney disease (CKD) is a progressive condition and a contributor to mortality and morbidity worldwide. Mechanistically, CKD is underlined by various physiological disorders that interact with each other, one is the autonomic nervous system (CNS) disorders that can be the underlying mechanism for several CKD comorbidities such as frailty. Frailty is a syndrome of decreased multisystem functional capacity and reduced ability to cope with stressors. The presence of frailty in CKD patients, especially in advanced CKD patients undergoing hemodialysis (HD), is a factor that worsens the prognosis of these patients. Heart Rate Variability (HRV) measurement, which illustrates SSO function, is a potential examination that can effectively and objectively show the frailty in CKD patients. Objective: To identify the relationship between HRV assessment and frailty in CKD patients undergoing routine HD.
Methods: This study was a cross-sectional, observational study that recruited CKD patients undergoing HD at Cipto Mangunkusumo National Referral Hospital from September to October 2024. HRV measurements were taken 5 minutes pre-HD with Polar-H10 chest leads. Frailty was assessed by completing the 40-item Frailty Index questionnaire. Patient characteristics and confounding factors were obtained from blood serum examination results, results of depression, anxiety, and sleep disorder questionnaires, and medical records. Bivariate and multivariate analysis were performed on the results.
Results: Of the 114 CKD subjects studied, 28.1% were found to be frail, with a mean SDNN of 20.51 ± 11.52, RMSSD of 19.23 ± 11.96, and LF/HF ratio of 2.27 ± 1.69. After categorization and bivariate analysis of frailty status, it was found that SDNN < 23 ms, RMSSD < 17 ms, history of hypertension, and body mass index were variables with significant trends statistically. After adjustment by multivariate analysis, it was found that only SDNN < 23 ms had a significant and independent association with frailty status.
Conclusion: In patients with CKD undergoing routine hemodialysis, HRV measurements, especially SDNN parameters assessing sympathetic innervation function, are strongly associated with frailty, regardless of the presence of other confounding factors.
"
Jakartaa: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2025
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nurhidayat Mohammad
"Pendahuluan. Lebih dari 40% pasien yang menjalani hemodialisis (HD) di Indonesia merupakan pasien geriatri. Hingga saat ini masih sedikit penelitian yang secara khusus mengevaluasi kualitas hidup pasien HD berusia lanjut serta faktor-faktor yang berhubungan dengan penurunan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien geriatri yang menjalani HD serta hubungan komorbiditas, status fungsional, frailty, sarkopenia, status nutrisi, depresi, kadar hemoglobin, lama (vintage) HD, akses vaskular, dan adekuasi HD dengan kualitas hidup.
Metode. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data primer. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode consecutive sampling. Penelitian dilaksanakan di Unit HD RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), RSUP Persahabatan (RSP), dan RSUP Fatmawati (RSF). Kriteria inklusi adalah pasien berusia 60 tahun ke atas yang menjalani hemodialisis. Kualitas hidup diukur menggunakan instrumen EQ-5D-5L. Data riwayat penyakit dan hasil pemeriksaan laboratorium diperoleh dari rekam medis rumah sakit. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Mann-Whitney untuk variabel komorbiditas, sarkopenia, depresi, kadar hemoglobin, akses vaskular, dan adekuasi HD; uji Kruskal-Wallis untuk variabel frailty, status fungsional, dan status nutrisi; serta uji korelasi Spearman untuk variabel lama HD. Analisis multivariat menggunakan regresi linier untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan penurunan kualitas hidup.
Hasil. Sebanyak 124 subjek (rerata usia 67 tahun) diikutsertakan dalam studi ini. Median skor indeks EQ-5D-5L tercatat sebesar 0,76, sementara median skor VAS adalah 70. Sebanyak 75% subjek tidak mengalami kesulitan dalam perawatan diri maupun aktivitas sehari-hari. Status fungsional (p < 0,0001) dan depresi (p < 0,002) merupakan faktor yang berhubungan signifikan dengan kualitas hidup pasien geriatri yang menjalani hemodialisis, dengan nilai adjusted R² sebesar 0,642.
Simpulan. Pasien geriatri yang menjalani HD di RSCM, RSP, dan RSF memiliki rerata skor indeks EQ-5D-5L 0,76 (dari 1,000). Status fungsional dan depresi terbukti berperan penting dalam menentukan kualitas hidup mereka.

Introduction. More than 40% of patients undergoing hemodialysis (HD) in Indonesia are geriatric patients. There is still limited research specifically evaluating the quality of life of elderly HD patients and the factors associated with this decline. This study aims to describe the quality of life of geriatric patients undergoing HD and to examine the associations between comorbidities, functional status, frailty, sarcopenia, nutritional status, depression, hemoglobin levels, HD vintage, vascular access, and HD adequacy with quality of life.
Methods: This study employed a cross-sectional design with primary data. Sampling was conducted using the consecutive sampling method. The study was carried out in the hemodialysis units of Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital (RSCM), Persahabatan National General Hospital (RSP), and Fatmawati National General Hospital (RSF). The inclusion criteria were patients aged 60 years or older undergoing hemodialysis. Quality of life was measured using the EQ-5D-5L instrument. Data on medical history and laboratory results were obtained from hospital medical records. Bivariate analysis was performed using the Mann-Whitney test for variables such as comorbidities, sarcopenia, depression, hemoglobin levels, vascular access, and HD adequacy; the Kruskal-Wallis test for variables such as frailty, functional status, and nutritional status; and Spearman correlation for the duration of HD. Multivariate analysis was conducted using linear regression to identify factors associated with a decline in quality of life.
Results. A total of 124 subjects (mean age 67 years) were included in this study. The median EQ-5D-5L index score was 0.76 (IQR 0.63–1.00), while the median VAS score was 70. The majority of subjects (75%) reported no difficulties in self-care or daily activities. Functional status (p < 0.0001) and depression (p < 0.002) were significantly associated with the quality of life in geriatric patients undergoing hemodialysis, with an adjusted R² value of 0.642.
Conclusions. Geriatric patients undergoing HD at RSCM, RSP, and RSF had a median EQ-5D-5L index score of 0.76 (out of 1.000. Functional status and depression have been proven to play a significant role in determining their quality of life.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2025
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Reny Deswita
"ABSTRAK

Abstrak Latar belakang: Insomnia umum ditemukan pada pasien gagal ginjal terminal yang menjalani hemodialisis. Insomnia berdampak negatif pada aspek fisiologis, fisik, psikologis dan sosial, bahkan menjadi ancaman kematian bagi pasien. Faktor biologis, psikologis dan gaya hidup serta dialisis diduga menjadi penyebab insomnia pada populasi ini. Metode: Menggunakan rancangan penelitian Cross Sectional, sampel 105 responden, melalui consecutive sampling technique. Insomnia dievaluasi dengan menggunakan The Minimal Insomnia Symptom Scale (MISS). Hasil: Insomnia dialami oleh 54 responden (51,4%), insomnia berhubungan signifikan dengan kram otot (p value=0,047), nyeri, (p value=0,034), stress (p value=0,005), sleep hygiene (p value = 0,018), dan strategi koping (p value = 0,015). Strategi koping merupakan faktor yang dominan berhubungan dengan insomnia (p value= 0,015; OR: 2,9), kesemua faktor tersebut 97% berpeluang mempengaruhi insomnia. Rekomendasi: diperlukannya penelitian lanjutan mengenai intervensi yang dapat meningkatkan strategi koping untuk menurunkan angka insomnia pada pasien gagal ginjal terminal yang menjalani hemodialsis. Kata kunci: hemodialisis, gagal ginjal terminal, insomnia, strategi koping.


ABSTRACT


Abstract Background: Insomnia is commonly occur in end stage kidney disease patients who undergoing hemodialysis. Insomnia has negative impacts on physiological, physical, social, psychological aspects and furthermore, cause death threats in those patients. There are various factors are related to insomnia in this population, which are biological, psychological and lifestyle, dialysis. Method:This study used a Cross Sectional design, recruited 105 patients, selected by consecutive sampling technique. Insomnia was evaluated by using The Minimal Insomnia Symptom Scale (MISS). Results: Insomnia was experienced by 54 respondents (51.4%) and had significant associated with muscle cramps (p value=0.047), pain (p value=0.034), stress (p value=0.005), sleep hygiene (p value=0.018), and coping strategies (p value=0.015). Coping strategies was the dominant factor associated with insomnia (p value= 0,015; OR: 2.9), all these factors have 97% the chance to determine insomnia. Recommendation: further research needs to focus on interventions which may improve coping strategies to reduce insomnia incidence in end stage kidney diseases patients who undergoing hemodialsis. Keyword:hemodialysis, end stage kidney disease, insomnia, coping strategy

"
2019
T52123
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syifa Fauziatun Nikmah
"Gagal ginjal kronik merupakan penyakit terminal yang progresif dan ireversibel. Fungsi ginjal meliputi regulasi cairan, detoksifikasi serta produksi hormon. Pasien dengan GGK harus menjalani hemodialisis rutin sebagai terapi penggantian ginjal sementara. Pasien yang sedang menjalani hemodialisis seringkali mengalami masalah overload cairan, dimana harus melakukan pembatasan cairan untuk menghindari kelebihan cairan. Masalah overload cairan dapat menimbulkan masalah kesehatan lainnya bahkan dapat berujung dengan kematian. Oleh karena itu, dibutuhkan program pembatasan cairan yang efektif dan efisien melalui upaya pemantauan intake output cairan untuk mencegah komplikasi. Penulisan karya ilmiah ini menggunakan metode studi kasus dengan tujuan menggambarkan metode pemantauan intake output cairan pasien GGK dengan menggunakan fluid intake output chart. Pemantauan tersebut terbukti efektif untuk menangani overload cairan pada klien, dibuktikan dengan berkurangnya manifestasi overload cairan pada klien.

Chronic Kidney Disease is a progressive and irreversible terminal disease. Kidney function includes fluid management, detoxification and hormone production. Patients with Chronic Kidney Disease should replace hemodialysis as a temporary kidney replacement therapy. Patients who are trying to solve the problem of excess fluid, which must do fluids to avoid excess fluid. The problem of excess fluid can cause health problems. Therefore, an effective and efficient fluid program is needed to overcome the problem, which is issued through an fluid intake output monitoring. This scientific study was a case study method with the aim of evaluating the intake method for patients with CKD by using a fluid intake output chart. This monitoring has proven to be effective in dealing with excess fluid in the client, evidenced by the reduction in manifestations of excess fluid in the client."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Adi Wijaya
"Latar belakang Depresi sering timbul pada pasien sakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis, namun masih sedikit perhatian praktisi kesehatan terhadap depresi. Depresi dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien sakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Kualitas hidup yang rendah akan meningkatkan angka rawat inap dan mortalitas pada pasien sakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis Tujuan Mengetahui gambaran kualitas hidup pasien sakit ginjal yang menjalani hemodialisis kronik dan mengalami depresi dan mengetahui gambaran karakteristik sosio-demografik pasien sakit ginjal yang menjalani hemodialisis kronik dan mengalami depresi. Metode Penelitian deskriptif studi potong lintang pada pasien sakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSCM Jakarta dan RS PGI Cikini Jakarta yang memenuhi kriteria inklusi. Pada Subyek yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan uji sating :dengan menggunakan kuesioner BDI. Subyek digolongkan menjadi 2 golongan yaitu depresi dan tidak depresi, kemudian dilakukan penilaian kualitas hidupnya dan dibandingkan. Dilakukan juga uji Kai-Kuadrat dan tiji korelasi Spearman untuk mengetahui hubungan antara depresi dengan kualitas hidup. Hasil Subyek penelitian terdiri dari 27 laki-laki (44.3%) dan 34 wanita (55.7%). Usia rata-rata 44.4 ± 11.2 tahun. Nilai rerata Iamanya pasien menjalani hemodialisis 27.6 bulan (SB 17.9). Skor rerata kualitas hidup untuk komponen kesehatan fisik sebesar 52.7 (SB 18.8 ; IK 95% 48.0 - 57.4), komponen kesehatan mental sebesar 55.2 (SB 18.2; IK 95% 50.6 --59.8) dan tingkat kesehatan secara umum 57.5 (SB 18.4; IK 95% 52.8 -- 62.1). angka prevalensi depresi pada pasien sakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis sebesar 31.1% dengan skor BDI rerata 20.6. Kualitas hidup pasien depresi mengalami penurunan dibandingkan dengan pasien tanpa depresi. Depresi berpengaruh secara bermakna terhadap kualitas hidup pasien PGK yang menjalani hemodialisis. Semakin tinggi derajat depresi pasien makin buruk kualitas hidupnya. Penghasilan merupakan faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap depresi (OR 6,90 ; p = 0,008) diikuti oleh tingkat pendidikan (OR 5,87 ; p = 0,016). Kesimpulan Prevalensi depresi pada pasien sakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis sebesar 31.1%. Sebagian besar komponen kualitas hidup pasien yang mengalami depresi lebih rendah dibandingkan dengan pasien sakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis tanpa mengalami depresi

Background Depression is frequently found in patients with chronic kidney disease (CKD) on hemodialysis (HD) treatment. Depression may influence quality of life. Low quality of life could increase rate of hospitalization and mortality in patients with CKD on HD treatment. Objective To describe quality of life in patients with CKD on HD treatment and have depression. To investigate sociodemographie characteristic of patients with CKD on HD treatment and having depression. Methods A descriptive study was conducted in patients with CKD on HD treatment in I-ID unit of RSCM and Renal unit in RS PG1 Cikini who fulfilled inclusion criteria. Subject who had fulfilled inclusion criteria was screened for depression by using SDI questionnaire. Subjects with BDI score > 10 was interviewed to confirm diagnosis of depression based on DSM-IV. Subjects were categorized into 2 groups. One group consisted of subjects who had depression and the others who had no depression. Further, we evaluated the quality of life of both groups and did the comparison between them, Results The result showed that the prevalence of depression in patients with CKD on l-ID treatment was 31.1%. In details, severe depression was found 8.2%; moderate depression 9.8% and mild depression was 13.9% among patients with CKD on HD treatment with mean BDI score was 20.6. After we have done Mann-Whitney Rank test, the' study showed decreased quality of life in patients with CKD on HD treatment who had depression compared those who had no depression. Depression can influence the quality of life significantly. More higher depression level more lower quality of life the patients. After bivariat analysis from several risk factors such as gender, age, marital status, education level, occupation, income, funding source of HD treatment, we found that income was the most significant factor which influenced depression (OR 6.90; p=0.O8) on patients followed by education level (OR 5.87; p-0.016). Conclusion The prevalence of depression among patients with CKD on HD treatment was 31.1%. Most of the quality of life components in patients with CKD on HD treatment who had depression were low compare those who had no depression."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T21408
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sofiana Nurchayati
"ABSTRAK
Pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) memerlukan hemodialisis akibat mengalami gangguan fungsi endokrin, metabolic, cairan elektrolit serta asam basa. Tindakan hemodialisis tersebut dapat berdampak terhadap kualitas hidup responden. Berbagai faktor yang diduga berhubungan dengan kualitas hidup pada responden hemodialisis diantaranya faktor demografi, lama menjalani hemodialisis, kadar hemoglobin, tekanan darah, adekuasi hemodialisis dan akses vaskuler.
Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi dan menjelaskan faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup pada responden yang menjalani hemodialisis.Desain penelitian cross sectional deskriptif korelasi dengan jumlah sampel 95 orang yang menjalani hemodialisis di RSI Fatimah Cilacap dan RSUD Banyumas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang berkualitas hidup baik (52.6%) dengan rata-rata usia 44.82±11.57 tahun. Tidak ditemukan hubungan antara kualitas hidup dengan faktor demografi, kadar hemoglobin, akses vaskuler, dan adekuasi hemodialisis. Kualitas hidup memiliki hubungan dengan tekanan darah (hipertensi) dengan p value 0.02 ; OR: 4.5 , dan lama waktu menjalani hemodialisis (≥11 bulan) dengan p value 0.035; OR:2.6. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tekanan darah dan lama menjalani hemodialisis merupakan faktor independen yang berhubungan dengan kualitas hidup. Pada penelitian selanjutnya diharapkan meneliti tentang adekuasi nutrisi, kontrol Calcium & Phospat. Diperlukan konseling tentang nutrisi, farmakologi dan exercise untuk responden hemodialisis.

ABSTRACT
Patients with Chronic Kidney Disease (CKD) requiring hemodialysis due to malfunctioning endocrine, metabolic, electrolyte and acid-base fluids. Hemodialysis may have an impact on respondents quality of life. Various factors are thought to relate to quality of life in hemodialysis respondents include demographic factors, duration undergoing hemodialysis, hemoglobin, blood pressure, adequacy hemodialysis and vascular access.
The aim is to identify and explain factors related to quality of life in respondents who underwent hemodialisis.Desain cross sectional descriptive correlation study with a sample of 95 people who underwent hemodialysis in RSI Fatimah Cilacap and Banyumas Hospital. Results showed that respondents who live good quality (52.6%) with an average age of 44.82 years ± 11:57. No relationship was found between quality of life by demographic factors, levels of hemoglobin, vascular access and hemodialysis adequacy. Quality of life has a relationship with blood pressure (hypertension) with p value 0:02; OR: 4.5, and the length of time undergoing hemodialysis (≥11 months) with a p value of 0035; OR: 2.6. This study concluded that blood pressure and duration of hemodialysis undergo an independent factor associated with quality of life. In further studies are expected to examine the adequacy of nutrition, calcium and phosphate control. Required counseling about nutrition, pharmacology and exercise for the respondent hemodialysis.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2011
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Fransiska
"Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada pasien yang menjalani hemodialisis. Stratifikasi risiko kejadian kardiovaskular pada pasien hemodialisis (HD) dibutuhkan untuk dapat memengidentifikasi pasien yang membutuhkan tatalaksana yang lebih intensif yang dapat diaplikasikan pada seluruh tipe layanan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model prediksi kejadian Major Adverse Cardiovascular Events (MACE) satu tahun pertama pada pasien penyakit ginjal tahap akhir yang menjalani hemodialisis kronik. Penelitian dilakukan dengan desain studi kohort prospektif terhadap 310 pasien yang melakukan hemodialisis kronik pertama pada dua rumah sakit di Jakarta. Didapatkan hasil sebanyak 81 (26,1%) dari 310 subjek mengalami MACE satu tahun pertama menjalani HD dengan kejadian terbanyak (43,21%) pada 3 bulan pertama. Terdapat empat variabel yang menjadi faktor prediktor terjadinya MACE pada satu tahun pertama menjalani HD yaitu riwayat kejadian kardiovaskular sebelumnya, diabetes melitus, rasio monosit limfosit   ≥ 0,35, dan kadar LDL ≥ 100 mg/dL. Sistem skor pada penelitian ini mendapatkan nilai total skor 6, dengan skor ≥ 4 menunjukkan risiko tinggi terjadinya MACE pada 1 tahun pertama menjalani hemodialisis kronik. Nilai diskriminasi AUC adalah 0,682 (IK 95% 0,605-0,757)  dengan kemampuan kalibrasi yang baik (p>0,05). Sensitivitas sistem skor ini adalah 55,26% dengan spesifitas 76,78%.

Cardiovascular disease is a major cause of morbidity and mortality among patients on hemodialysis. The development of a simple prediction model to assess cardiovascular risk is necessary in order to make clinical decisions for hemodialysis patients which is applicable in different type of clinical settings. This study golas is to develop a simple prediction model for first year Major Adverse Cardiovascular Events (MACE) in chronic kidney disease patients initiating hemodialysis. We retrospectively enrolled 310 chronic kidney disease patients who underwent their first hemodialysis at two hospitals in Jakarta. We longitudinally assessed the association between several potential candidate predictors and composite cardiovascular events in the first year after hemodialysis. In this study, 81 of 310 subjects (26,1%) developed MACE with 43,21% occurred in the first 3 months of hemodialysis. Four variables included in the final model were history of cardiovascular events, diabetes mellitus,  monocyte/lymphocyte ratio greater than 0,35,  and LDL level more than 100 mg/dL. Total score in this model is 6, with score 4 and above considered high risk. The AUROC for MACE 1 year of initiation hemodialysis was 0,682 (95% CI, 0,605-0,757) with good calibration (p > 0,05). Sensitivity and specificity for this model were 55,26% and 76,78%."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Relayanti
"Pruritus merupakan salah satu masalah yang dialami pasien hemodialisis, adekuasi hemodialisis yaitu dosis kecukupan dialisis yang dilakukan yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien hemodialisis. Pada pasien diabetes melitus seringkali terjadi neuropati yang dapat menyebabkan pruritus dan xerosis yang dapat memperparah intensitas pruritus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara adekuasi hemodialisis dengan tingkat keparahan pruritus pada pasien yang menjalani hemodialsis kronik. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional, dengan partisipan sebanyak 133 orang pasien yang menjalani hemodialsis kronik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Perhitungan adekuasi menggunakan fitur Kt/V pada mesin hemodialisis dan kuesioner skala gatal 5 dimensi (5DIS) untuk menilai tingkat keparahan pruritus. Prevalensi pruritus sebanyak 45.1% dan paling banyak mengalami derajat ringan (22.6%), responden yang mencapai adekuasi hemodialisis sebanyak 70.7%. Berdasarkan uji statistik Kendall’s Tau didapatkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara adekuasi hemodialisis dengan tingkat keparahan pruritus (nilai koefisien korelasi kedua variabel yaitu 0.516). Kesimpulan penelitian ini yaitu pencapaian hemodialisis yang adekuat dapat mengurangi tingkat keparahan pruritus pada pasien hemodialisis

Pruritus is one of the problems experienced by hemodialysis patients, and the adequacy of hemodialysis, which refers to the sufficient dose of dialysis performed, can affect the quality of life of hemodialysis patients. In patients with diabetes mellitus, neuropathy often occurs, leading to pruritus and xerosis, which can exacerbate the intensity of pruritus. The aim of this study is to determine the relationship between hemodialysis adequacy and the severity level of pruritus in patients undergoing chronic hemodialysis. This study used an observational analytical method with a cross-sectional research design, involving 133 participants who were chronic hemodialysis patients at Cipto Mangunkusumo Hospital. Adequacy calculations were performed using the Kt/V feature on hemodialysis machines and the 5-D itch scale questionnaire (5DIS) to assess the severity level of pruritus. The prevalence of pruritus was 45.1%, with the majority experiencing mild degrees (22.6%), 70.7% among respondents who achieved hemodialysis adequacy. Based on the Kendall's Tau statistical test, it was found that there is a strong relationship between the adequacy of hemodialysis and the severity of pruritus (the correlation coefficient of the two variables is 0.516). The conclusion of this study is that achieving adequate hemodialysis can reduce the severity of pruritus in hemodialysis patients."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tatu Meri Marwiyyatul Hasna
"ABSTRAK
Gangguan mineral tulang GMT merupakan salah satu komplikasi pada penyakitginjal kronik PGK . GMT-PGK menyebabkan gangguan sistemik padametabolisme mineral yang mengakibatkanabnormalitaskadar mineral, kelainanturn overtulang dan kalsifikasi pembuluh darah. Pada pasien PGK yang menjalanidialisis rutin GMT dapat meningkatkan angka mortalitas sebesar 20 . Penelitianini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguanmineral tulang pada pasien yang menjalani hemodialisis rutin. Desain penelitian iniadalahcross sectional, menggunakan 72 responden pasien hemodialisis rutin diRSUPN. DR. Cipto Mangunkusumo Jakarta, dipilih dengan menggunakan TeknikConcecutive sampling. Data mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengangangguan mineral tulang ini diperoleh melalui wawancara dan data rekam medikpasiendalam tiga bulan terakhir. Analisis yang digunakan adalahuji chi-square,hasil uji statistik menyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara faktor usia,jenis kelamin, status nutrisi: obesitas, lama menjalani hemodialysis dan kepatuhanpenggunaan pengikat posfatdengan GMT p0,05 . Penelitian inimerekomendasikan kepada praktisi kesehatan untuk membuat suatu protokoluntukdeteksi dini terjadinya resiko GMTpada pasien PGKyang menjalani hemodialisisberdasarkan faktor-faktor tersebut.

ABSTRACT
Mineral and bone disorder MBD is complications which may occur in chronickidney disease CKD . CKD MBD is characterized by systemic disorder of mineralmetabolism which leads to abnormality of blood mineral level, alterationof boneturnover, and calcification blood vessels that may result in an increased morbidityand mortality. MBD may increase mortality rate of CKD patients undergoingregular hemodialysis up to 20 . This study aimed to identify factors affectingmineral andbone disorder among patients undergoing regular hemodialysis. Thestudy design wascross sectionalwith total sample of 72 patients undergoingregular hemodialysis in RSUPN. DR. Cipto Mangunkusumo selected by consecutivesampling. Data regarding factors affecting mineral and bone disorder wereobtained through interview and medical record of the past three months. The datawere analyzed by chi square test. The result suggested that there was a significantcorrelation between age, sex, nutritional status obesity, time since firsthemodialysis and adherence to phosphate binder regimen and MBD p0.05 . Developing a protocol for early detection of complications dueto bone and mineral disorder is recommended for patient with CKD undergoingregular Hemodialysis."
2017
S67990
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>