Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dias Rifanza Salim
"Toleransi adalah sikap yang sepatutnya diambil dalam hubungan antarmanusia yang sarat perbedaan untuk mencapai keharmonisan dan perdamaian. Meskipun begitu, sikap tersebut memang tidak semudah mengucapkannya. Toleransi adalah kemampuan yang harus dipelajari, bukan sifat naluriah manusia, yang cenderung terdorong untuk intoleran terhadap perbedaan yang dianggapnya sebagai ancaman. Intoleransi memang banyak terjadi di mana saja dalam hubungan antarbudaya dan antarmanusia. Anak-anak dan remaja tidak lepas dari masalah tersebut. Intoleransi dapat terjadi atas alasan apa pun, termasuk perbedaan kelas ekonomi, milieu dan orientasi seksual. Contoh kasus untuk ketiga masalah tersebut muncul dalam dua cerita karya Karen-Susan Fessel, "Und Wenn Schon!" dan "Steingesicht". Kedua karya tersebut masing-masing bercerita tentang seorang anak laki-laki dan perempuan yang merasa sengsara karena intoleransi yang mereka terima dari lingkungannya, yang sebaliknya membuat mereka sendiri jadi intoleran.

Toleration is a stance that should be taken in human relations that is filled with diversity in order to achieve peace and harmony. Even so, the said stance is easier said than done, since the human nature is typically intolerant to differences that are considered as threats. Therefore, toleration is a learned ability beyond human instincts. Intoleration happens anywhere in human relations during childhood and adulthood. Intoleration could happen for any reason, such as differences in economic classes, milieus and sexual orientations. Exemplary cases of the aforementioned problems can be found in two stories by author Karen-Susan Fessel, "Und Wenn Schon!" and "Steingesicht". Those two stories are about a boy and a girl respectively who felt miserable because of the intolerance in their surroundings, which in turn made them intolerant as well."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2008
S14982
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dias Rifanza Salim
"Terjemahan beranotasi adalah penelitian yang berupa teks terjemahan yang
disertai anotasi sebagai pertanggungjawaban atas padanan yang dipilih.
Penerjemahan TSu dikerjakan dengan berpedoman pada ideologi pelokalan,
metode komunikatif, dan pendekatan dokumenter-filologis. Skoposnya adalah
menghasilkan buku ajar yang dapat berfungsi dengan baik. Masalah penerjemahan
yang diungkapkan dalam karya ini mencakup masalah penerjemahan istilah
budaya, istilah umum, metafora, dan pengalihan struktur kalimat. Dalam mencari
padanan beragam istilah dan nama diri, pendalaman pengetahuan ensiklopedis dan
penggunaan beragam alat kerja perlu digiatkan untuk menemukan padanan yang
mudah dimengerti dan diingat oleh pembaca.

An annotated translation is a type of research which consists of a translation that
is supported by annotations of the translator’s commentary on the chosen
equivalents. The translation of this ST was guided by the localization ideology,
the communicative method, and the documentary-philological approach. The
translation problems encountered in this work includes the problems of translating
cultural and common terms, metaphors, and syntax. In finding equivalents of
various terms and proper names, enrichment of encyclopedic knowledge and
utilization of different work tools are encouraged in order to discover equivalents
that are both easily understood and remembered by the readers.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
T36732
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library