Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Herliady Eka Firmansyah
"Peningkatan tarap hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat dalam rangka menuju manusia Indonesia yang seutuhnya merupakan tujuan utama pembangunan. Dalam konteks ini peranan perbankan menjadi sangat vital, dalam arti perbankan menjadi salah satu sumber pembiayaan yang akan mengalirkan dana bagi kegiatan ekonomi, sehingga bank yang sehat akan memperkuat kegiatan ekonomi suatu bangsa. Sebaliknya, kegiatan ekonomi yang tidak sehat, lesu atau rapuh juga akan sangat mempengaruhi tingkat kesehatan dunia perbankan. Usaha pokok dari kegiatan perbankan ialah memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang. Dibidang perkreditan, hukum harus mampu memelihara dan memperlancar proses hubungan yang terjadi antara warga masyarakat di satu pihak dengan bank di lain pihak. Permasalahan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan perjanjian kredit dan syarat-syarat yang diajukan kepada masyarakat serta untuk mengetahui faktor-faktor penghambat dalam pemberian kredit kepada masyarakat dari BPR PRIMA KREDIT SEJAHTERA. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pendekatan secara yuridis empiris.
Metode ini dilakukan untuk mendapatkan kebenaran dalam pembahasan permasalahan yang ada serta untuk melihat penerapan suatu aturan hukum dalam masyarakat. Analisis dilakukan secara deskriptif yang akan menggambarkan, memaparkan dan mengungkapkan bagaimana sesungguhnya pelaksanaan perjanjian kredit di BPR PRIMA KREDIT SEJAHTERA. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa pemberian kredit di BPR PRIMA KREDIT SEJAHTERA terdapat hubungan hukum antara bank dan nasabah debitur yang dituangkan dalam perjanjian kredit bank, yang dalam praktek berbentuk suatu perjanjian standar atau perjanjian baku. Suku bunga kredit di BPR PRIMA KREDIT SEJAHTERA yang lebih tinggi di bandingkan bank umum, karena pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di dominasi oleh deposito yang menyebabkan dana BPR PRIMA KREDIT SEJAHTERA menjadi lebih mahal. Hal-hal tersebut menjadi faktor yang menghambat pelaksanaan pemberian kredit kepada masyarakat selain soal inovasi produk dan masalah teknologi yang kurang menjadi perhatian. Upaya BPR PRIMA KREDIT SEJAHTERA dalam menyelesaikan kredit bermasalah yaitu dengan melakukan upaya-upaya seperti : penagihan kredit, penjadwalan kembali (rescheduling), persyaratan kembali (reconditioning), penataan kembali (restructuring) dan alternatif terakhir yaitu menjual agunan kredit.

The improvement of living standard and entirety of the social welfare toward a better Indonesian people is the main purpose of development. In this case the role of banking is very important, banking became one of the finance source that would provide funds to the economic system, therefore the healthy bank would strengthen economic system of a nation. On the other side, the unhealthy bank, weak, or even fragile will give influences to the health of banking industry as well. The fundamental business of banking activities is to provide credit and services in payment traffic and circulation of money in the society. In the field of credit, law should be able to maintain and expedite the relation process between society at one side bank at the other side. In the implementation of the grant over the credit, definitely lender (bank/creditor) determine the terms for the borrower (customer/debitor). The problems of this research are to recognize the implementation of credit agreement and to recognize the terms proposed to society for acknowledging the inhibiting factors in granting the credit to the society from BPR PRIMA KREDIT SEJAHTERA. The research used juridical empirical approach / the research is conducted by approaching the juridical empirical. The use of this method is to obtain the fact in discussion on existing problems and to see the application of the regulation in the society.
This research uses descriptive method because the data are analyzed by describing, explaining, and revealing what is exactly the credit agreements implementation in BPR PRIMA KREDIT SEJAHTERA. It can be concluded from this research that granting over credit in BPR KREDIT SEJAHTERA, the law relations between bank and customer poured forth on bank credit agreement, which in practice is in form of a standard agreement. Credit interest rate in BPR KREDIT SEJAHTERA is higher than general bank, because the growth of Dana Pihak Ketiga (DPK) ?Third Party Funds - dominated by deposit which cause BPR KREDIT SEJAHTERA fund become more expensive. This could be the inhibiting factors for the implementation of granting over non-performing credit to the society besides product innovation and technology problem which get less attention. To resolve non-performing credit, BPR KREDIT SEJAHTERA is making efforts such as: credit billing, rescheduling, re-conditioning, re-structuring and the last alternative."
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2011
T28712
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dadan Eka Firmansyah
"Kedepan kebutuhan bahan bakar minyak semakin meningkat akan tetapi ketersediaan bahan bakar minyak semakin menipis. Selain masalah ketersediaan bahan bakar yang semakin menipis, bahan bakar yang akan digunakan juga harus memperhatikan kualitas lingkungan dalam hal ini adalah pengurangan emisi gas buang. Untuk itulah perlu dicari bahan bakar minyak yang terbarukan dan juga ramah lingkungan. Salah satu solusinya adalah bahan bakar biodiesel dari minyak sawit dan minyak jagung yang dihasilkan dari tumbuhan melalui proses transesterifikasi. Biodiesel yang telah dibuat perlu diuji unttuk mengetahui apakah bisa menggantikan solar. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian prestasi mesin serta gas buang. Dalam pengujian prestasi mesin, biodiesel jagung dan sawit dicampur dengan solar dengan komposisi 10% biodiesel 90% solar (B10), komposisi 20% biodiesel 80% sollar (B20), komposiisii 30% biosiesel 70% solar (B30). dari hasil pengujian prestasi mesin biosiesel jagung dan sawit memiliki nilai efisiiensi thermal dan opasitas yang lebih baik dari solar. Campuran biosiesel yang paling baik adalah B30 Jagung dan B30 sawit untuk efisiensi thermal dan B30 Jagung dan B20 Sawit untuk opasitas.

In the future the demand of oil fuel will increase but the supply will decrease. Beside that problem, the oil fuel that we use shoulldn?t destroyed the environment in this case is exhaust gas. One of the solution are biodiesel of corn oil and palm oil which produce by transesterification process. Biodiesel that we made have to be tested to compare with Automotive Diesel Oil (ADO). There are two kind of tested, engine perform test and opacity test. In this process we blended the biosiesel from oil corn and pllm oil, the percentage of blending are 10% (10% biosiesel and 90% ADO), 20% (20% biosiesel and 80% ADO), and 30% (30% biosiesel and 70% ADO). Biiodiiesell productted by battch procesor BDP-10FG-BV and alcohol spirtus ethanol and catalyst NaOH.there are three step/phase in producing biodiesel.First mixing trigeliceride , spirtus and NaOH. Then the second step is separating biodiesel from glycerol and the last step is wahing biodiesel with water.procesor BDP-10FG-BV suittable for small scale production with good quality because it has fiber glass and temperature controller, the weakness is tthe process need alot of time. The result from it are the biosiesel of corn oil and palm oil have better thermal effciency and opacity than diesel fuel. The best blending are B30 Jagung and B30 Sawit for thermal efficiency and B30 Jagung and B20 Sawit for opacity."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
S37957
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eka Firmansyah
"Hal mendasar dari penelitian integrasi teknologi dan literatur kinerja bisnis bahwa integrasi teknologi merupakan pendorong kinerja organisasi. Namun, hal itu dapat dikaitkan dengan kinerja yang lebih tinggi jika disertai dengan perubahan organisasi. Makalah ini berfokus pada mediasi kemampuan absorpsi organisasi dan analisis dampaknya pada hubungan antara integrasi teknologi, perbaikan rutinitas organisasi dan kinerja organisasi di perusahaan perbankan. Kemampuan absorpsi organisasi mengukur kemampuan organisasi untuk menyelesaikan proses pembelajaran. Dimana upaya belajar biasanya terkait dengan integrasi, karena merupakan teknologi yang kompleks.
Untuk mengatasi kompleksitas integrasi teknologi, dalam implementasi biasanya ditambah dan disertai dengan upaya integrasi yang berkesinambungan dari data dan aplikasi. Dalam studi ini, akan dibahas mengenai mengeksplorasi pengaruh dari integrasi teknologi pada kinerja bisnis baik melalui kemampuan absorpsi, dan perbaikan rutinitas organisasi. Penelitian ini berhipotesis bahwa kemampuan absorpsi memiliki peran mediasi antara integrasi teknologi, perbaikan rutinitas dan kinerja organisasi.
Model penelitian yang diusulkan diuji dengan data yang disurvei dari cabang-cabang salah satu Bank di Indonesia, di mana bisnis pembiayaan perumahan merupakan bisnis terbesar mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya serap organisasi memiliki efek mediasi dengan variabel perbaikan rutinitas tidak signifikan mempengaruhi kinerja.

It fundamentally of the research literature technology integration and business performance that technology integration is driving organizational performance. However, it could be attributed with higher performance when accompanied by organizational change. This paper focuses on mediation absorptive capacity the organization and analysis of its impact on the relationship between technology integration, improvement of organizational routines and organizational performance in corporate banking. The ability of the organization to measure the absorption ability of the organization to complete the learning process. Where the learning effort usually associated with integration, as it is a complex technology.
To address the complexity of technology integration, and in implementing usually added with the continuous efforts of integration of data and applications. This study, will be discussed on exploring the influence of technology integration on business performance through both absorptive capacity, and improvement of organizational routines. This study hypothesized that the absorptive capacity has a mediating role between the integration of technology, improvement of organizational routines and organizational performance.
The proposed research model is tested with survey data from one of the branches of the Bank in Indonesia, where the business of housing finance is their biggest business. The results showed that organizational absorptive capacity has mediating effects with routine repairs variables did not significantly affect performance.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2014
T39186
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library