Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Cerry Puspa Sari
"Latar Belakang: Bahan pemanis yang biasa digunakan oleh masyarakat Indonesia adalah gula sukrosa. Namun belakangan ini madu juga mulai dikenal dan dijadikan sebagai bahan pemanis. Kandungan karbohidrat yang tinggi di dalam kedua bahan pemanis ini dianggap dapat mempengaruhi proses karies gigi. Dengan mengidentifikasi kualitas saliva, dapat diketahui pengaruh kedua bahan pemanis ini terhadap karies gigi.
Tujuan: Membandingkan perubahan nilai viskositas, pH, dan kapasitas dapar saliva setelah konsumsi air madu dan air gula sukrosa.
Metode: Tiga puluh orang subyek yang berusia 20-22 tahun mengkonsumsi air madu dan air gula sukrosa pada hari yang berbeda, masingmasing sebanyak 150 ml. Subyek menunggu selama 10 menit sebelum dilakukan uji viskositas, pH, dan kapasitas dapar saliva.
Hasil Penelitian: Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dengan tingkat kemaknaan p = 0,05. Setelah mengkonsumsi air madu dan air gula sukrosa, terjadi penurunan nilai viskositas, pH, dan kapasitas dapar saliva. Tetapi tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada perbandingan nilai uji viskositas, pH, dan kapasitas dapar saliva antara setelah mengkonsumsi air madu dan setelah mengkonsumsi air gula sukrosa.
Kesimpulan: Pada penelitian ini didapatkan adanya penurunan yang bermakna pada nilai viskositas, pH, dan kapasitas dapar saliva setelah mengkonsumsi air madu dan air gula sukrosa. Namun, pada perbandingan nilai viskositas, pH, dan kapasitas dapar saliva setelah mengkonsumsi air madu dan setelah mengkonsumsi air gula sukrosa, tidak terdapat perbedaan bermakna di antara keduanya.

Background: Usually, the Indonesians use sugar as their main sweetener. But nowadays, honey also begins to be recognized and used as a sweetener too. Because of their high carbohydrate content, people assume that both of these sweeteners can influence the tooth caries process. By identifying the quality of saliva, we can get the information about the effects of these sweeteners in tooth caries process.
Objective: To compare the changes of viscosity, pH, and buffering capacity of saliva after consuming water containing honey and water containing sugar.
Method: Thirty subjects aged 20-22 years old consumed 150 ml of water containing honey and water containing sugar in different day. Subjects waited until 10 minutes before the researcher run the test of viscosity, pH, and buffering capacity of saliva.
Results: The data was analyzed using Wilcoxon test with 0,05 as the level of significance. In this research, the result showed that the value of viscosity, pH, and buffering capacity of saliva decreased after consuming water containing honey and water containing sugar. But, there were no significant differences in viscosity, pH, and buffering capacity of saliva between consumption of water containing honey and water containing sugar.
Conclusion: The value of viscosity, pH, and buffering capacity of saliva decreased significantly after consuming water containing honey and water containing sugar. However, the comparison between the values of viscosity, pH, and buffering capacity after consuming water containing honey and water containing sugar were not significant."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ika Puspa Sari
"ABSTRAK
Kriptosporidiosis adalah penyakit parasitik yang disebabkan oleh
Cryptosporidium sp~ parasit kokstdia intraseluler pada manusia dan hewan dan
merupakan agen yang menyebabkan enterokolitis. Cryptasporidium sp. dapat
menyebabkan penyakit gastrointestinal pada manusia, terutama anak-anak dan
penderita imunodefisieosi. Angka kejadian infuksi umumnya lebih tinggi pada
anak-anak dibandingkan orang dewasa skala klinis kriptosporidiosis sangat luas
mulai dari asimtomatik sampai diare persisten. Selain menyebabkan diare, infeksi
ini juga dapat menyebabkan malnutrisi Selama ini metode pulasan modifikasi
laban asarn mcrupeksn nilai baku emas bagi pemeriksaan Cryptosparidium sp.
Namun sensitivitas tekrrik ini rendah dan sangat bergantung pada ketrampilan
serta pengalaman tenaga mikroskopis dalaM melihat Cryptosparidium sp. Deteksi ookista Cryptosporidlum dengan antibodi monoklonal terhadap dinding ookista
Cryptosparidium (CmAbs) merupakan metoda yang sensitif dan spesifik untuk
mendeteksi ookista dari apusan tinja dibandingkan metode pewarnaan
konvensional Penelitian ini, menggunakan teknik imunofluoresen dengan
an!ibodi monoklonal yang telal1 dilabel oleh FITC untuk deteksi kriptosporidiosis
pada batita. Hasilnya akan dlbandingkan dengan PCR dalam hal sensitivitas dan
spesifisitas. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain cross
sectional menggunakan uji diagnostik. Hasil uji skrining dan tingkat agreement
dihitung. Dari 239 sampel tinja yang diperiksa, didapatkan freknensi
kriptosporidiosis pada anak batita sebanyak 24,3%. Kriptosporidiosis umum
tetiadi pada populasi anak-anak di bawah tiga tahun. Dibandingkan dangan
metode konvensional yaitu pewamaan modifikasi tahan asam dan auramin fenoJ,
deteksi kriptosporidiosis dengan pemeriksaan imunofluoresen langsung lebih
sensitif dllll lebih spesifik (p=O,OOO). Dibandingkan dengan PCR, pemeriksaan
lmunofluoresen langsung memiliki sensitivitas 86,2% dan spesifisitas 98,9%.
Sehingga dapat digunakan sebagai altemalif untuk deteksi ooldsta
Cryptosporidium sp. pada sampel tinja terutama untuk studi epidemiologi atau
skrining Penilaian terhadap adanya faktor resiko jenis kelamin, status gizi dan
diare teenyata didapatkan hasil tidak bermakna

Abstract
Cryptosporidiosis is a parasitic disease caused by CryptospOridium sp,
coccidian parasite intracellular in human and animaL Cryptosporidium sp can
cause gastrointestinal diseases in human, particularly in children and
immununodeficiency individuals. Generally. the incidence higher among children
!han the adults. The clinical manifestations are wide, ranging from asymptomatic
to persistent diarrhea and malnutrition in children. Modified acid fast staining
method has been a gold standard to detect Cryptosporidlum sp, however, this
technique has low sensitivity and depends mulct on the experience and skill of the
technician. Detection of Cryptosporidium sp oocyst using monoclonal antibody
to Cryptosporldium sp wall (CmAbs) is a more sensitive and specific method to
determine an oocyst from stooL The objective of this study is to determine
cryptosporidiosis proportion between toddlers by FITC monoclonal antibody
technique. The result will be compared to PCR on its sensitivity and specificity to
cryptosporidiosis diagnosis. This research is qualitative interpretation with cross
sectional design study which using diagnostic test The result of the screening test
and lhe levels of agreement were quantified. Of 239 fecal samples examined,
there were 24,3% positive oocyst Cryptosporidium sp, Cryptosporidiosis is
common in children under three years old population. Comparing to conventional
methods, MTA and Af, cryptosporidiosis detection using direct
immunofluorescent test is more sensitive and specific (p=O,OOO), Comparing to
PCR technique~ direct immunofluorescent test has sensitivity 86~2% and
specificity 98,9%. Statistically, direct immunofluorescent test can can be used as
an alternative method to detect CJYP!osporidium sp. compared to PCR (p--o,06S),
in particular for epidemiological study or population screening. Evaluation on risk
factors such as sex. malnutrition and diarrhea symptom appear that there is no
significant differences."
2009
T32821
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Monica Puspa Sari
"ABSTRAK
Latar belakang : Infeksi cacing usus merupakan jenis infeksi parasit yang sering
dijumpai didunia. Untuk mengevaluasi pengobatan, diperlukan teknik pemeriksaan
yang lebih akurat dan sensitif dibandingkan dengan Kato-Katz yang merupakan
teknik standar yang ada saat ini.
Tujuan : Untuk membandingkan sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan Kato-
Katz dengan Mini FLOTAC dalam mendeteksi infeksi cacing usus dengan densitas
rendah.
Desain : Penelitian ini merupakan uji diagnostik dan dilakukan pada anak sekolah
yang bermukim di daerah endemik penyakit cacingan.
Metode : Pemeriksaan status infeksi terhadap anak sekolah dasar dilakukan pada
bulan Maret 2013 di Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.
Sampel tinja diperiksa menggunakan metode Kato-Katz dan Mini FLOTAC sebelum
dan sesudah pemberian obat albendazol 400 mg dosis tunggal pada hari ke 7,14,dan
21. Software CAT MAKER dan uji MC Nemar digunakan untuk mengetahui
sensitivitas, NPV (negative predictive value), PPV (positive predictive value) dan
Cohen’s kappa statistik digunakan untuk menilai agreement antara kedua teknik
pemeriksaan.
Hasil : Dari 209 subyek penelitian, terjaring 197 subyek yang bersedia ikut serta.
Sebelum pengobatan, sensitivitas dan NPV (negative predictive value) Kato-Katz
dan Mini FLOTAC masing – masing 94%, 96% dan 81%, 88% terhadap infeksi A.
lumbricoides. Terhadap T. trichiura, sensitivitas dan NPV (negative predictive value)
Kato-Katz masing – masing 88%, 92% dibandingkan Mini FLOTAC 100%. Nilai
kappa agreement antara teknik Kato-Katz dan Mini FLOTAC adalah 0.773 untuk
diagnosis infeksi A. lumbricoides dan 0.895 untuk infeksi T. trichiura. Terhadap
Ascaris, 19.79% tergolong infeksi ringan dengan Kato-Katz. Sedangkan 25.88%
tergolong infeksi ringan dengan Mini FLOTAC. Terhadap Trichuris, 34.51%
tergolong infeksi ringan dengan Kato-Katz dan 42.13% tergolong infeksi ringan
dengan Mini FLOTAC. Setelah diberikan pengobatan, Kato-Katz lebih sensitif
dibandingkan Mini FLOTAC dalam mendeteksi infeksi A. lumbricoides, terutama
pada hari 7 dan 14 dan sebaliknya Mini FLOTAC lebih sensitif terhadap infeksi T.
trichiura.
Kesimpulan : Teknik Mini FLOTAC dapat dipakai sebagai alternatif teknik Kato-
Katz dalam deteksi infeksi cacing usus dan lebih sensitif mendeteksi T. trichiura
dibanding Kato-Katz.

ABSTRACT
Background : Soil Transmitted Helminth (STH) infection is a type of parasitic
infection that is often encountered in the world. Examination techniques that are
more accurate and sensitive than the Kato-Katz as the standard technique, are
required to monitor anthelminthic treatment.
Objective : To compare the sensitivity and specificity between Kato-Katz
examination and Mini FLOTAC in detecting helminth infection.
Study Design : This study is a diagnostic test and was performed in school children
living in an area endemic for STH.
Methods : Examination of the infection status of primary school children was
conducted in March 2013 in the village Kalibaru, Cilincing subdistrict, North
Jakarta. Stool samples were examined using Kato-Katz and Mini FLOTAC methods
before and 7,14, and 21 days administration single dose of albendazole 400 mg.
Software CAT MAKER and MC Nemar Test were used to determine the sensitivity,
specificity, NPV (negative predictive value), PPV (positive predictive value) and
Cohen’s kappa statistics were used to test the agreement between the two
examination techniques.
Results : Of the 209 study subjects, 197 subjects were willing to participate. Before
treatment, sensitivity and NPV against A.lumbricoides infection were 94%, 96%,
respectively for Kato-Katz and 81%, 88%, respectively for Mini FLOTAC. For T.
trichiura, sensitivity and NPV of Kato-Katz were 88%, 92%, respectively,while for
Mini FLOTAC both values were 100%. Kappa value of agreement between Kato-
Katz and Mini FLOTAC techniques was 0.773 for the diagnosis of A. lumbricoides
infection and 0.895 for T. trichiura. For Ascaris, 19.79% versus 25.88% of infected
children have light infection by Kato-Katz and Mini FLOTAC, respectively. For
Trichuris, 34.51% versus 42.13% of infected children have light infection with Kato-
Katz and Mini FLOTAC, respectively. After the treatment was given, Kato-Katz
was more sensitive than Mini FLOTAC to detect A. lumbricoides infection,
especially at day 7 and day 14. On the contrary, Mini FLOTAC more sensitive to
detect T. trichiura infection.
Conclusion : Mini FLOTAC can be an alternative for Kato-Katz in detecting
helminth infection. Mini FLOTAC was more sensitive to detect T. trichiura
compared Kato-Katz."
2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kenanga Puspa Sari
"[ ABSTRAK
Kawaii dan karakter merupakan salah satu budaya populer Jepang yang banyak digandrungi dalam berbagai cara, gaya, dan bentuk. Perusahaan Sanrio melihat peluang ini dan menciptakan karakter-karakter kartun yang ditambahkan dengan kesan kawaii. Karakter terkenal seperti Hello Kitty sebagai pemicu keberhasilan Sanrio yang akhirnya menjadikan perusahaan ini sebagai perusahaan yang memproduksi banyak karakter-karakter kawaii lainnya dan mengubah kawaii menjadi komoditas dan merek dagang yang sangat populer di seluruh Jepang dan dunia. Produksi karakter kawaii dengan jumlah yang besar, cakupan pemasaran yang luas, penggunaan media massa, dan tingginya minat masyarakat terhadap keunikan karakter Sanrio menjadikan Sanrio sebagai salah satu perusahaan raksasa Jepang dalam industri karakter serta menjadikan karakter kawaii sebagai salah satu bagian dari banyaknya budaya populer di Jepang .
ABSTRACT Kawaii and characters is one of the most popular culture in Japan which so much beguiled in many ways, styles and forms. Sanrio company see this opportunity and created cartoon characters with adding kawaii image Famous character such as Hello Kitty was prompt in Sanrio's success that in the end made this company as a company that produced many other kawaii characters and changed kawaii into commodity and trade mark that really popular in Japan and all over the world. The production of this kawaii characters in big scale, large scope of marketing, utilization of mass media, and the great interest of society towards the uniqueness of Sanrio's characters made Sanrio as the one of giant company in Japan in character industry and also making kawai character as a part of many popular culture in Japan., Kawaii and characters is one of the most popular culture in Japan which so much beguiled in many ways, styles and forms. Sanrio company see this opportunity and created cartoon characters with adding kawaii image Famous character such as Hello Kitty was prompt in Sanrio's success that in the end made this company as a company that produced many other kawaii characters and changed kawaii into commodity and trade mark that really popular in Japan and all over the world. The production of this kawaii characters in big scale, large scope of marketing, utilization of mass media, and the great interest of society towards the uniqueness of Sanrio's characters made Sanrio as the one of giant company in Japan in character industry and also making kawai character as a part of many popular culture in Japan.]"
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2015
MK-PDF
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Ika Puspa Sari
"ABSTRAK
Amebiasis merupakan penyakit yang umum yang banyak ditemukan di negara berkembang. Namun hanya sedikit yang bermanifestasi klinis menjadi kolitis amuba. Komplikasi yang paling sering dijumpai adalah abses hati amuba. Abses hati selain disebabkan oleh amuba dapat disebabkan oleh bakteri yang dikenal sebagai abses hati piogenik. Untuk dapat menegakkan penyebab abses hati yang disebabkan oleh amuba maka selain anamnesis dan pemeriksaan fisik, dibutuhkan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan serologi antigen dan antibodi Entamoeba histolytica. Namun pada praktek klinis, jarang sekali pemeriksaan serologi ini dilakukan. Oleh karena itu penelitian ini mencoba untuk melihat profil pasien dengan dugaan abses hati amuba yang sampelnya dikirimkan ke laboratorium parasitologi FKUI untuk pemeriksaan antibodi E. histolytica serta menilai hubungan antara gejala klinis/tanda tersebut dengan hasil serologi. Sampel diambil dari data pasien RSCM yang sampelnya dikirimkan ke laboratorium parasitologi FKUI dengan dugaan abses hati berupa keluhan utama, pemeriksaan fisik dan hasil laboratorium dan hasil serologinya diambil dari hasil pemeriksaan ELISA antibodi Entamoeba histolytica. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien yang positif serologi antibodi E. histolytica adalah pasien dari kelompok umur 26-45 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan manifestasi klinis yang ditemukan pada pasien tersebut dari yang terbanyak adalah hepatomegali, klinis abses hati, nyeri perut, abdominal discomfort, berat badan turun, diare, muntah, efusi pleura dan mual. Yang memiliki hubungan signifikan dengan hasil serologi positif antibodi E. histolytica hanya hepatomegali. Dari data laboratorium ditemukan sebagian besar pasien memiliki hasil laboratorium normal. Namun ada beberapa pasien yang mengalami penurunan hemoglobin dan hematokrit, leukositosis, peningkatan laju endap darah serta peningkatan fungsi hati SGOT dan SGPT.

ABSTRACT
Amebiasis is a common disease that is found in many developing countries. Yet few have clinically manifested as amoebic colitis. The most common complication is an amoebic liver abscess. A liver abscess other than caused by amoeba can be caused by a bacterium known as a pyogenic liver abscess. To be able to determine the cause of liver abscess caused by amoeba, beside anamnesis and physical examination, laboratory examination such as serological antigen and antibody of Entamoeba histolytica is needed. However, in clinical practice, this serology test is hardly performed. Therefore, this study attempted to look at the profile of the patient with suspected liver abscess whose sample was sent to the parasitology laboratory FMUI for E. histolytica antibody examination and assess the association between the clinical signs with serology results. Samples data were taken from Cipto Mangunkusumo hospital patient whose samples were sent to parasitology laboratory FMUI with suspected liver abscess in the form of main complaint, physical examination and laboratory result. Additionally, serology result was taken from antibody of Entamoeba histolytica ELISA examination. The results showed that most of the positive serologically patients of E. histolytica antibodies were patients at the 26 45 age group and from male group. While the clinical manifestations found in these patients subsequently are hepatomegaly, clinical liver abscess, abdominal discomfort, weight loss, diarrhea, vomiting, pleural effusion and nausea. It is only hepatomegaly that has a significant association with serologic positive results for E. histolytica antibodies. From the laboratory data, most patients have normal laboratory results. However, there were some patients who experienced decreased of hemoglobin and hematocrit, leukocytosis, increased blood sedimentation rate and increased liver function of AST and ALT."
2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Mega Puspa Sari
"Human Immunodeficiency Virus HIV merupakan tantangan terbesar dalam pengendalian tuberkulosis. Di Indonesia diperkirakan sekitar 3 pasien TB dengan status HIV positif. Sebaliknya TB merupakan tantangan bagi pengendalian Acquired Immunodeficiency Deficiency Syndrome AIDS karena merupakan infeksi oportunistik terbanyak terdapat 49 pada ODHA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepatuhan minum obat antiretroviral terhadap ketahanan hidup pasien TB-HIV di RSUD Koja Tahun 2013 ndash; 2017. Desain studi yang digunakan adalah desain kohort retrospekstif. Jumlah sampel pada studi ini adalah 111 pasien TB-HIV yang diambil secara keseluruhan. Dari studi ini, diketahui pada kelompok yang patuh minum obat antiretroviral ARV mengalami event /meninggal 31 , sebanyak 79,7 pasien masih hidup dan pasien yang lost follow up sebanyak 34,8.
Hasil analisis multivariabel dengan regresi cox time dependent menunjukkan bahwa hazard ratio HR kematian menurut kepatuhan minum ARV berbeda-beda sesuai waktu. Dalam 1 tahun pengamatan, pasien yang tidak patuh minum ARV memiliki hazard 2,85 kali lebih cepat mengalami kematian daripada yang patuh minum ARV. Kemudian pasien yang tidak patuh minum ARV selama 4 tahun pengamatan 2013-2017 memiliki hazard terjadinya kematian sebesar 11,49 kali. Terdapat interaksi kepatuhan minum ARV dengan infeksi oportunistik. Pada pasien yang tidak patuh minum ARV dengan infeksi oportunistik lebih dari 2, efeknya lebih rendah 0,4 kali dibandingkan dengan pasien yang patuh minum ARV memiliki infeksi oportunistik kurang dari 2. Dianjurkan kepada pasien untuk melakukan pemeriksaan CD4 secara rutin 6 bulan sekali dan tidak lupa meminum obat secara teratur guna mencapai ketahanan hidup dan kualitas hidup yang lebih baik.

Human Immunodeficiency Virus HIV is the biggest challenge in tuberculosis control. In Indonesia, approximately 3 of TB patients with HIV status are positive. Conversely, TB is a challenge for the control of Acquired Immunodeficiency Deficiency Syndrome AIDS because it is the most opportunistic infection there is 49 in people living with HIV. This study aims to determine the effect of antiretroviral drug adherence to the survival of HIV TB patients in Koja Hospital Year 2013 2015. The study design used is retrospective cohort design. The number of samples in this study were 111 whole TB HIV patients taken as a whole. From this study, it was found that in the ARV group experienced event dying 31 , 79.7 of patients were still alive and the patients lost follow up 34.8.
The result of multivariable analysis with cox time dependent regression showed that hazard ratio HR mortality according to ARV adherence was different according to time. Within 1 year of observation, patients who did not adhere to taking antiretroviral drugs had a hazard of 2.85 times faster mortality than those who were obedient to taking ARVs. Then patients who did not adhere to taking antiretrovirals for 4 years of observation 2013 2017 had a death hazard of 11.49 times. There is an interaction of antiretroviral adherence with opportunistic infections. In patients who did not adhere to taking antiretroviral drugs with more than 2 opportunistic infections, the effect was 0.4 times lower than those who were adherent on taking ARVs had less than 2 opportunistic infections. It is advisable to patients to have routine CD4 checks every 6 months and not forget taking medication regularly to achieve better survival and quality of life.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2018
T51026
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Puspa Sari
"Latar Belakang: Formaldehida memiliki efek iritan dan karsinogenik. Keganasan yang sering disebut sebagai akibat pajanan zat ini adalah karsinoma nasofaring, namun berbagai penelitian menunjukkan zat ini juga dapat menyebabkan kelainan leukosit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pajanan formaldehida dengan perubahan leukosit pada pekerja yang menggunakan dan tidak menggunakan formaldehida dalam proses kerjanya.
Metode penelitian: Penelitian dengan desain potong lintang komparatif dilakukan pada 108 responden laki-laki sehat yang bekerja di dipping dan weaving unit selama minimal satu tahun. Data dikumpulkan dari wawancara, kuisioner, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium (jumlah leukosit, hitung jenis dan morfologi darah tepi). Kriteria eksklusi penelitian ini adalah pekerja dengan riwayat keganasan, kemoterapi/radioterapi, dan infeksi. Pengukuran formaldehida lingkungan dilakukan dengan metode NIOSH 3500 dan NIOSH 2541. Pengukuran jumlah leukosit dan hitung jenis leukosit dilakukan dengan menggunakan Hematology Analyzer ABX PENTRA 6, sementara pemeriksaan morfologi darah tepi dilakukan dengan pemeriksaan sediaan apus darah tepi.
Hasil: Walaupun pajanan formaldehida lingkungan di dipping unit menunjukkan nilai < 0,032 ppm, kelompok dipping unit memiliki risiko 4,74 kali lebih tinggi untuk mengalami gangguan morfologi leukosit dibandingkan responden kelompok weaving unit. Tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara unit kerja dengan jumlah dan hitung jenis leukosit. Hasil serupa ditemukan pada variabel faktor perancu seperti usia, indeks massa tubuh, masa kerja, kebiasaan merokok, dan penggunaan alat pelindung diri.
Kesimpulan: Pajanan kronis formaldehida dosis rendah dapat menyebabkan kelainan morfologi leukosit yang dapat menjadi penanda gangguan leukosit yang lebih serius.

Background: Formaldehyde is an irritant and carcinogenic agent. Nasopharynx carcinoma is the most frequent cancer caused by formaldehyde exposure, but many studies showed that formaldehyde exposure can lead to leukocyte disorders. The aim of this study was to find the relationship between formaldehyde exposure with leukocyte changes among workers who worked with formaldehyde compared to workers who did not work with formaldehyde.
Methods: A comparative cross sectional study was conducted, involving 108 male respondents who worked in dipping and weaving unit for a minimal of one year. Data collected by interview, questionnaire, physical and laboratory examination (leukocyte count, differential count, morphology). Exclusion criteria for this study were respondents with malignancy, chemotherapy/radiotherapy, and infection. Environmental formaldehyde was measured using NIOSH 3500 and NIOSH 2541 methods. Leukocyte count and differential leukocyte count was analyzed using Hematology Analyzer ABX PENTRA 6, while leukocyte morphology was conducted by peripheral blood smear.
Results: Eventhough the environmental formaldehyde level at dipping unit was < 0,032 ppm, dipping unit respondent group has a 4,74 times higher risk to get leukocyte morphology abnormality than worker from weaving unit’s. There were no significant relationship between working unit and leukocyte count and differential count. The same results were found with confounding factor variables such as age, body mass index, working duration, smoking, and personal protective equipment variabels.
Conclusion: This study showed chronic low exposure of formaldehyde can cause leukocyte morphology abnormality which in turn can lead to more serious leukocytes disorder.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ria Nur Puspa Sari
"Glioblastoma (GBM) merupakan kanker otak agresif dengan kebutuhan mendesak akan target terapi baru. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran gen ELOVL6 dalam metabolisme lipid dan perkembangan sel U-87 MG sebagai model GBM. Pendekatan yang digunakan analah analisis Differentially Expressed Genes (DEG) dan pathway KEGG yang dilanjutkan dengan knockout gen ELOVL6 menggunakan teknologi CRISPR-Cas9 yang dikonfirmasi dengan metode PCR, Cleavage Assay, dan sequencing. Selanjutnya, pemahaman terkait metabolisme lipid dilakuan dengan analisis komposisi asam lemak menggunakan kromatografi gas-spektrometri massa (GC-MS), sementara pertumbuhan sel dinilai menggunakan pengamatan mikroskop fluoresens. Analisis komposisi asam lemak dilakukan dengan metode statistik Two-Way ANOVA. Hasil analisis DEG menunjukkan bahwa gen ELOVL6 serta gen-gen hilir yang terpengaruh berhubungan dengan elongasi asam lemak. Hasil penelitian in vitro menunjukkan knockout gen ELOVL6 menyebabkan penurunan signifikan pada asam lemak palmitat (C16:0) dan stearat (C18:0). Selain itu, knockout ELOVL6 secara signifikan menghambat pertumbuhan sel U-87 MG. Analisis mekanistik mengungkap bahwa gangguan fungsi ELOVL6 memengaruhi jalur metabolik yang berperan dalam elongasi palmitat menjadi stearat yang penting untuk dinamika lipid membran, pembentukan lipid sebagai cell messengers hingga aktivator enzim. Penelitian ini mengindikasikan bahwa ELOVL6 merupakan regulator kunci metabolisme lipid dan pertumbuhan sel GBM, sehingga berpotensi menjadi target molekuler untuk terapi GBM. Studi lebih lanjut diperlukan untuk memvalidasi temuan ini pada model in vivo.

Glioblastoma (Glioblastoma multiforme, GBM) is an aggressive brain cancer with an urgent need for new therapeutic targets. This study aims to understand the role of the ELOVL6 gene in lipid metabolism and the development of U-87 MG cells as a GBM model. The approach used is Differentially Expressed Genes (DEG) study and KEGG pathway analysis, followed by ELOVL6 gene knockout using CRISPR-Cas9 technology, validated through PCR, Cleavage Assay, and sequencing. Furthermore, lipid metabolism understanding is performed by analyzing fatty acid composition using gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS), while cell growth is assessed through fluorescence microscopy observations. Fatty acid composition analysis is conducted using Two-Way ANOVA. DEG analysis results show that the ELOVL6 gene and its downstream affected genes are involved in fatty acid elongation. In vitro findings indicate that ELOVL6 gene knockout leads to a significant decrease in palmitic acid (C16:0) and stearic acid (C18:0), disrupting lipid homeostasis. Additionally, ELOVL6 knockout significantly inhibits the growth of U-87 MG cells. Mechanistic analysis reveals that ELOVL6 dysfunction affects metabolic pathways involved in the elongation of palmitate into stearate, which is essential for membrane lipid dynamics, lipid formation as cell messengers, and enzyme activation. This study suggests that ELOVL6 is a key regulator of lipid metabolism and glioblastoma cell growth, making it a potential molecular target for GBM therapy. Further studies are needed to validate these findings in in vivo models."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library