Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 19 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Raisha Bani Pramadhani
"ABSTRAK
Puisi Baeksu-ui Tanshik (Keluhan Si Tangan Putih) adalah salah satu karya representatif dari Kim Ki- Jin, seorang penulis Korea yang sepanjang masa kepenulisannya telah mengeluarkan banyak karya realisme sosialis. Pada periode aktifnya kegiatan KAPF, karya sastra yang diterbitkan memiliki tujuan khusus, yaitu untuk berpihak kepada kelas pekerja dan buruh dan bersifat melawan kekuasaan yang menekan kelas pekerja dan buruh, yang kemudian disebut dengan pro-munhak atau sastra proletar. Sastra proletar pada umumnya menggunakan karakteristik realisme sosialis untuk menyampaikan maksud para penyair. Penulisan ini bertujuan untuk mencari unsur realisme sosialis pada puisi
Baeksu-ui Tanshik dan membuktikan bahwa puisi tersebut merupakan puisi realisme sosialis. Karakteristik realisme sosialis dianalisis melalui pendekatan sosiologi sastra, melalui unsur pembentuk puisi yaitu kiasan dan pilihan kata. Metode yang digunakan adalah metode deskriptifanalitis, dengan pendekatan intrinsik dan ekstrinsik. Hasil riset menunjukkan bahwa puisi ini memiliki
ciri yaitu karya memiliki tokoh marxis, karya memiliki formula dan struktur, karya tidak mengandung arti yang ambigu, dan karya memiliki akhiran atau pesan yang membangun. Meski di dalam puisi ini tidak ada ciri pencantuman seseorang atau sesuatu yang dianggap rival dari sosialisme dan pemasukkan unsur politik dalam bahasa yang retoris, dapat disimpulkan bahwa puisi ini merupakan puisi realisme sosialis.

ABSTRACT
Baeksu-ui Tanshik (White Hands Sigh) is one of the representative works of Kim Ki-Jin, a Korean writer who have produced many works of socialist realism. In the period of active KAPF activities, published literary works had a special purpose, to side with the working class and are against the power that suppresses the working class, which is then called pro-munhak or proletarian literature. Proletarian literature generally uses the characteristics of socialist realism to convey the intent of poets. This research aims to look for elements of socialist realism in Baeksu-Tanshik s poetry and prove that the poem is poetry of socialist realism. The characteristics of socialist realism are analyzed through the sociological approach of literature, through the forming elements of poetry, namely figures of speech and choice of words. The method used is descriptive-analytical method, with intrinsic and extrinsic approaches. The results of the research show that this poem has the characteristic that says that the poem has a Marxist character, the poem has a formula and structure, the poem does not contain ambiguous meanings, and the poem has a constructive message or suffix. Although in this poem there is no characteristic of someone or something that is considered a rival of socialism and the inclusion of political elements in rhetorical language, it can be concluded that this poem is a poem of socialist realism."
Fakultas Ilmu Pengatahuan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Elisa Louisiane
"ABSTRAK
Perkembangan serta transformasi ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Korea memunculkan figur sosial baru di tengah-tengah masyarakat Korea, yakni kidult. Kidult adalah orang dewasa yang memiliki selera dan menyukai hiburan yang ditujukan untuk anak-anak. Perilaku konsumtif yang terus meningkat di tengah masyarakat modern menjadikan kidult bukan hanya sekadar tren konsumsi, melainkan gaya hidup konsumtif di masyarakat Korea. Gaya hidup konsumtif terhadap mainan kidult, terutama keorikto inhyeong
telah menjadikan kidult sebagai fenomena budaya di tengah-tengah masyarakat Korea. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk membahas penyebab munculnya perilaku konsumtif terkait keorito inhyeong yang menjadi pemicu munculnya fenomena kidult di Korea Selatan. Dengan menggunakan metode deskriptifanalitik, penulis memfokuskan analisis pada studi perilaku konsumtif terhadap keorikto inhyeong di Korea Selatan. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa fenomena kidult di Korea yang didasari oleh perilaku konsumtif menggambarkan keadaan masyarakat Korea yang sedang mencari makna hidup dan identitas diri di tengah kesulitan dan beban hidup yang dialaminya. Kidult mencari penghiburan atau pelarian dari tekanan, tuntutan, dan stres dengan mengkonsumsi permainan yang memunculkan perasaan nostalgia ke masa kanak-kanak.

ABSTRACT
Kidult is the emerged of the new social figure in the midst of Korean society that was based on economy, social, cultural development and transformation. The word kidult refers to a grown-up who embraces entertainment that is made for children. Consumptive behavior that continues to increase is not just a consumption trend, but has become a lifestyle amongst the people in this modern society. Consumptive lifestyle towards childern s toys, especially keorikto inhyeong makes kidult is a cultural phenomenon in the midst of Korean Society. Therefore, the author is interested in discussing the causes of consumptive behavior towards keorikto inhyeong which triggered the emergence of kidult phenomenon in South Korea. Using descriptive-analytic methods, the author focuses its analysis on consumptive behavior study on
keorikto inhyeong in South Korea. The result of this paper shows that the kidult phenomenon in Korea was based on consumptive behavior that illustrates the condition of Korean society who is looking for selfidentity and life-meaning in the midst of the difficulties and burdens of life. Kidult seeks comfort and escape from pressure, demands, also stress by consuming games that reminds them of their childhood memories."
Fakultas Ilmu Pengatahuan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Munnazakiyatul Hayati
"ABSTRAK
Karya ilmiah ini menjelaskan amanat tentang patriotisme dalam drama Mr. Sunshine. Isu patriotisme di Korea sudah ada pada zaman Joseon. Oleh karena itu penulis akan meneliti drama Mr. Sunshine untuk melihat pesan patriotisme yang ada dalam drama tersebut. Untuk penelitian ini penggunaan drama dibatasi pada episode 1, episode 7, episode 8, episode 9, episode 17, episode 18, episode 22, dan episode 24 dari 24 episode yang ada. Rumusan masalah dari penelitian ini yaitu bagaimana penyampaian isu tentang patriotisme yang terdapat dalam drama Mr.Sunshine. kemudian penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif. Langkah-langkah penelitiannya yaitu pertama menonton drama Mr. Sunshine berulang-ulang, kemudian mempelajari dan mendalami teori patriotisme, dilanjutkan dengan mencari adegan-adegan dalam drama Mr. Sunshine yang terdapat isu tentang patriotisme untuk selanjutnya dianalisis penyampaian isu patriotisme seperti apa yang terdapat pada drama tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai patriotisme yang ada di dalam drama ini terdapat nilai cinta tanah air dan benci hal yang berbau asing, nilai berkorban sepenuhnya demi mempertahankan Joseon saat perang, nilai kerasionalan dalam patriotisme disertai dengan adanya misi dalam melawan musuh, nilai yang mendahulukan kepentingan membantu sesama warga negara, nilai patriotisme kreatif, dan nilai membantu sesama warga negara.

ABSTRACT
This research explains some message about patriotism in a drama entitled Mr. Sunshine. The issue of patriotism in Korea dates back to the Joseon period. The author will examine the drama to see some message of patriotism in the drama. The use of the drama is limited to episode 1, 7, 8, 9, 17, 18, 22, and 24 of the 24 episodes. The problem statement of this research is how the issue of patriotism is conveyed within the drama. This research s method is descriptive qualitative methods. The steps are, first, watching drama Mr. Sunshine repeatedly, then studied and explored the theory of patriotism, followed by searching for scenes in drama, where there is an issue about patriotism, then analyze the issue of patriotism as stated in the drama. The results indicate that the values of patriotism in this drama are the value of the love of the homeland and hate foreign things, the value of sacrificing fully to maintain Joseon during war, the rational value in patriotism accompanied by a mission to fight the enemy, the value of prioritizing the interests of helping fellow citizens, the value of creative patriotism, and the value of helping fellow citizens.
"
Fakultas Ilmu Pengatahuan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Lidya Evitauli
"ABSTRAK
Modernisasi di Korea Selatan yang pesat dapat dikatakan dimulai pada masa pemerintahan Park Chung-hee. Sebagai komitmen untuk membangun bangsa Korea Selatan dari keterpurukan berbagai aspek pada masa itu, Park Chung-hee membentuk komite revolusi militer yang dikenal Supreme Council of National Reconstruction. Berdasarkan komite tersebut dilaksakanlah gerakan rekonstruksi nasional dengan menyusun dan mensahkan beberapa kebijakan untuk mengatur kehidupan masyarakat Korea Selatan. Gansobok adalah salah satu kebijakan yang diberlakukan seiring dengan gerakan rekonstruksi nasional tahun 1961. Dengan menjadikan Gansobok sebagai objek penelitian, dalam tulisan ini penulis mencoba menganalisis tentang bagaimana kondisi yang melataribelakangi dikeluarkannya kebijakan Gansobok di tahun 1961. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sejarah. Dari analisis yang telah dilakukan dapat dijelakan bahwa kebijakan Gansobok muncul pada saat Korea Selatan mengalami kondisi kurangnya produksi bahan pakaian. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa kebijakan untuk mendukung pelaksanaan modernisasi di Korea Selatan periode 1961 dilaksanakan dengan menyelaraskan kondisi bangsa saat itu. Adapun Gansobok muncul sebagai kebijakan yang disusun untuk mendorong masyarakat Korea Selatan menjadi lebih modern dan maju.

ABSTRACT
The rapid modernization in South Korea can be said to have begun during Park Chung-hee s reign. As a commitment to build the South Korean from the deterioration of various aspects at that time, Park Chung-hee formed a military revolution committee known as the Supreme Council of National Reconstruction. According to the committee, the national reconstruction movement was carried out by drafting and ratifying several policies to regulate the lives of the South Korea people. Gansobok is one of the policies implemented in line with the national reconstruction movement in 1961. By making Gansobok the object of research, in this paper the author tries to analyze how the conditions behind the issuance of the Gansobok policy in 1961. This study uses qualitative methods with a historical approach. From the analysis that has been done, it can be explained that the Gansobok policy emerged when South Korea experienced a lack of production of clothing materials. In conclusion the policy to support the implementation of modernization in South Korea for the period of 1961 was carried out by harmonizing the conditions of the nation at that time. As for Gansobok, it emerged as a policy designed to encourage South Koreans to become more modern and advanced."
Fakultas Ilmu Pengatahuan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Febrina Widya Putri
"ABSTRAK
Generasi Sampo merupakan salah satu istilah yang muncul pada awal 2010an untuk menggambarkan keadaan masyarakat usia dewasa muda dalam periode tersebut. Istilah ini menunjukkan adanya masyarakat yang menyerah untuk memiliki kekasih, menikah, dan memiliki anak yang disebabkan oleh satu dan lain hal. Padahal, ketiganya merupakan hal yang dipikirkan dan dilakukan oleh manusia sejak dahulu. Pandangan mereka mulai berubah karena adanya berbagai masalah yang dihadapi, tingginya standar hidup, dan gaya hidup masyarakat modern di Korea Selatan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui asal mula Generasi Sampo dan memaknainya dikaitkan dengan gaya hidup masyarakat Korea Selatan modern. Karya tulis ini disusun dengan metode deskriptif analisis untuk menjelaskan munculnya Generasi Sampo sebagai sebuah fenomena sosial di Korea Selatan. Setelah dilakukan analisis, ditemukan bahwa fenomena ini terjadi karena adanya impitan ekonomi dan gaya hidup masyarakat modern Korea Selatan.

ABSTRACT
Sampo Generation is a term that appeared in early 2010s to depict young adults at that time. This term shows that there are some people who give up on having a romantic partner, be married, and having children because of some circumstances even though this practice had been done since long time ago. Their views about it had been change because of problems they faced, high standard of living, and lifestyle that the modern society take. This research was conducted to find out the origin of Sampo Generation and to comprehend it after associating this phenomenon with the lifestyle of South Korean modern society. This paper is written based on descriptive analysis method to explain how Sampo Generation emerged as a social phenomenon in South Korea. After a thorough analysis, the authors discovered that this phenomenon happened because of economical stress and lifestyles that the South Korean modern society faced."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Binar Candra Auni
"ABSTRAK
Tulisan ini membahas K-pop sebagai budaya populer Korea Selatan. K-pop telah menjadi salah satu produk budaya populer yang dinikmati banyak orang di seluruh dunia. Munculnya K-pop sebagai musik populer perlu dikaji dari perkembangan budaya yang dipengaruhi oleh perubahan sosial, politik, dan ekonomi di Korea Selatan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis K-pop dikaitkan dengan perjalanan perkembangan budaya di Korea Selatan. Penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan diakronis dalam penelitian. Dari hasil analisis, ditemukan bahwa munculnya K-pop dipengaruhi oleh budaya asing, yaitu budaya populer Amerika yang masuk pada tahun 1950-an. Budaya populer Amerika tersebar di Korea Selatan melalui konser pop di markas militer Amerika Serikat 8th Army, hiburan di klub, dan saluran komunikasi American Forces Korean Network. Perkembangan ekonomi dan teknologi, kebijakan terkait budaya, dan globalisasi pun menjadi faktor penting yang membentuk K-pop saat ini. Hingga kini, pengaruh budaya populer Amerika pada K-pop dapat dilihat melalui judul maupun lirik lagu yang mengandung unsur Bahasa Inggris.

ABSTRACT
This paper study about K-pop as popular culture in South Korea. K-pop has become a product of popular culture consumed by people around the world. The emerge of K-pop as popular music need to be investigated from the perspective of social, political, and economic changes in South Korea. This paper means to analyze K-pop in correlation with the cultural development in South Korea. Researcher uses the descriptive qualitative method and diachronic approach in the analysis process. The finding shows that K-pop is influenced by foreign culture, which is American popular culture that gain entrée in 1950s. The American popular culture disseminated in South Korea through pop concerts in the US 8th Army military base, performances in US nightclubs, and a US radio station, American Forces Korean Network. The technology and economy, cultural policy, and globalization become the important factors that shaped K-pop today. Until this day, the influence of American popular culture in K-pop reflected through the use of English in song titles and lyrics."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Mega Eka Putri
"ABSTRAK
Jurnal ini membahas tanda-tanda verbal yang merepresentasikan harapan-harapan akan kemerdekaan melalui analisis puisi-puisi karya Yun Dongju dalam film biografi berjudul Dongju: The Portrait of a Poet. Puisi-puisinya ditulis pada masa penjajahan Jepang di Korea Selatan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa film biografi ini menggambarkan perjuangan Korea selama periode kolonialisasi Jepang. Sebagai seorang penyair yang hebat, karyakarya Yun Dongju sangat dihargai dan telah dipelajari oleh para peneliti sastra. Akan tetapi, penelitian yang berfokus pada representasi harapan akan kemerdekaan dalam puisi Dongju belum pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian ini menggunakan lima belas puisi yang muncul dalam film berjudul Dongju: The Portrait of a Poet. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana harapan masyarakat Korea akan kemerdekaan direpresentasikan melalui tanda-tanda verbal pada puisi-puisi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dengan pendekatan semiotik. Hasil dari penelitian ini adalah penemuan tanda-tanda verbal yang merepresentasikan kemerdekaan melalui kata benda hayati dan non hayati. Kata benda hayati yang lingkupnya dibatasi seputar manusia muncul dengan frekuensi yang cukup banyak dan melambangkan harapan-harapan baru dan semangat kemerdekaan. Kata benda non hayati juga menyimbolkan keinginan akan masa depan yang cerah dan sarat akan harapan kemerdekaan.

ABSTRACT
This research discusses verbal signs that represent hopes for independence through the analysis of poems by Yun Dongju in biographical movie titled Dongju: The Portrait of a Poet. His poems were written during colonial period of Japan in South Korea. Thus, this biographical film portrayed the struggle of Korean during the colonial period. As a great poet, Dongju s literary works have been highly appreciated and studied among scholars yet the one focus on representation of hope in Dongju s poem has not been conducted. This research used fifteen poems that appeared in the biographical film Dongju: The Portrait of a Poet. The purpose of this research is to find out how the Korean community s expectation of independence is represented through verbal signs on the poems. The method used in this research is descriptive analysis method with semiotic approach. The result of this research is the discovery of verbal signs that represent freedom through biological and non-biological nouns. The biological nouns associated with human"
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Devina Salma Izzati
"ABSTRAK
Humanisme merupakan salah satu aliran atau paham dalam ilmu filsafat yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia, serta menjadikan manusia sebagai tolak ukur dari segenap penilaian, kejadian dan gejala di atas muka bumi ini. Humanisme menyorot seluruh aspek kemanusiaan dalam seorang individu, baik dari segi interaksinya dengan individu lain, maupun interaksinya dengan dirinya sendiri. Sesuai dengan hal tersebut, tema humanisme dalam cerita pendek Neowa Namanui Sigan (Time for You and Me Alone) karya Hwang Sun-won dapat dilihat melalui narasi atau dialog yang terjadi di antara satu tokoh dengan tokoh lainnya, serta yang dilakukan satu tokoh pada dirinya sendiri. Hasil analisis menunjukkan bahwa, cerita pendek ini menampilkan unsur humanisme dengan menyorot tindakan-tindakan yang diambil seorang individu ketika telah berada di ambang kematian; apakah individu tersebut masih dapat mempertahankan hati nuraninya, atau malah, sifat egois demi bertahan hidup akan mulai muncul ke permukaan. Dalam Berdasarkan riset yang telah dilakukan, dalam Neowa Namanui Sigan, juga dapat ditemukan unsur humanisme yang menampilkan manusia dengan karakternya yang bermacam-macam, dinamis dan kadang terkesan kontradiktif.

ABSTRACT
Humanism is one of the courses or concepts in philosophy which upholds the values and dignity of humans and makes humans as a benchmark to measure all kinds of judgments, events and symptoms that are happening on this earth. Humanism highlights all aspects of humanity in an individual, both in terms of their interactions with other individuals, as well as their interactions with their very own selves. In accordance with this, the theme or aspect of humanism in Hwang Sun-won's short story Neowa Namanui Sigan (Time for You and Me Alone) can be seen through the narration or dialogue that occurs both between a character and other characters, as well as between a character and his own self. The very results of the analysis conducted that, this short story displays the element of humanism by highlighting the actions taken by an individual when he is on the verge of death; whether the corresponding individual can still maintain his conscience, or instead, selfishness for survival will begin to surface within himself. Based on the research that has been done, it can be concluded that in Neowa Namanui Sigan can also be found elements of humanism which display human beings with their various, dynamic and sometimes contradictive characters."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Adhitya Riefka Sandra Dipta Devi
"ABSTRAK
Pendidikan memiliki peranan yang amat penting guna meningkatkan sumber daya manusia yang ada. Pendidikan mempunyai sejarah yang panjang untuk masyarakat Korea. Pendidikan pada awalnya hanya dapat dinikmati oleh kaum terpelajar atau bangsawan (yangban), namun kini tidak lagi demikian. Seiring berjalannya waktu masyarakat Korea mulai menyadari akan pentingnya pendidikan. Hingga saat ini, Korea Selatan adalah salah satu negara yang sangat mementingkan pendidikan masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana sejarah panjang pendidikan mempengaruhi pandangan masyarakat Korea akan pendidikan hingga saat ini. Pandangan masyarakat Korea akan pendidikan menimbulkan fenomena baru yang ada dalam masyarakat Korea yang bernama Inseouldae. Fenomena Inseouldae (university in Seoul) muncul akibat kerasnya persaingan dalam dunia pendidikan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode close reading. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa keinginan orang tua agar anaknya mendapat status yang tepat di masyarakatlah yang menjadi latar belakang muculnya fenomena tersebut.

ABSTRACT
Education has a significant role to improve existing human resources. Education have a long history for Korean people. In the first place, education can only be enjoyed by the noblemen (yangban), but now it is now inclusive. As time goes by, Korean people started to acknowledge the significance of education. Until now, South Korea has become one country that has a big concern on education. This research aims to find how education history in Korea impacts Korean people perspective towards education. That new perspective creates a new phenomenon that is called Inseouldae. Inseouldae (university in Seoul) arises because of high competition in education sphere. This research is a qualitative descriptive research using close reading method. The result shows that Korean parents ambition for their children to grant a decent status among the society have big impact on Korean education."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Ficita Verdiana
"ABSTRAK
Beberapa tahun terakhir budaya popular Korea (hallyu) berkembang dengan sangat pesat di Indonesia. Segala aspek yang dibawa hallyu cukup bisa diterima di Indonesia, seperti musik, film, busana, makanan, hingga wisata. Hal ini terlihat dari jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea Selatan. Hal ini tidak luput dari peran media massa yang mempromosikan citra kebudayaan Korea Selatan dalam bentuk tulisan atau artikelnya. Dengan adanya promosi mediamassa, wisatawan dapat dengan mudahmemperkirakanlokasi tujuan wisata yang akan dikunjungi. Tujuan dari penulisan jurnal ini adalah untuk menganalisis citra kebudayaan Korea mempengaruhi kunjungan turis Indonesia ke Korea dalam media massa Indonesia dan untuk mengetahui peran institusi wisata Korea dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Korea. Metode yang digunakan adalah metode penelitan kualitatif, dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber buku, jurnal, dan internet. Hasil temuan dari penelitian ini adalah secara tidak langsung media massa memiliki peran sebagai agen promosi wisata dalam peningkatan jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea Selatan dan usahapromosi institusi wisata Korea Selatan dalam mendukung peningkatan jumlah wisatawan ke Korea.

ABSTRACT
In the past few years, the developing of hallyu in Indonesia are raising rapidly. The aspects that hallyu brought are quite acceptable in Indonesia, such as music, film, fashion, food, and tourism. We can see it from the graphic about tourists from Indonesia that visited South Korea are increased a lot. This could be a role of media that showed South Korea cultural imagery in the form of writings. With the presence of media, tourists can easily imagine the tourist location that is described in the articles. The purpose of writing this journal is to see how the cultural image of Korea affects Indonesian tourist to visit Korea that shown in Indonesian media and to find out the role of the Korean tourist institutions to help the increasing visits of tourists to Korea. Method used in the writing of this paper is the qualitative with collecting the data from books, journals, and internet. The findings of this study indicate that the media has a role as an agent for the promotion of tourism to increase the visits of tourist from Indonesia to South Korea and there is some work done by Korean tourism institution to supports it."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>