Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nur Izzuddin
"Jakarta yang telah didukung oleh teknologi big data. Peran teknologi big data bagi perkembangan smart city sangat penting karena dapat menjadi dasar untuk menyusun perencanaan dan menentukan kebijakan pemerintah daerah. Pada tesis ini dibahas mengenai analisis implementasi teknologi big data di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan menggunakan metode gap analysis pada data-data hasil in-depth interview dan data pendukung lainnya.
Berdasarkan hasil gap analysis diketahui bahwa implementasi teknologi big data di Jakarta Smart City masih memerlukan perbaikan dan pengembangan karena masih adanya kesenjangan pada elemen-elemen penelitian yaitu data, infrastruktur, pengelolaan, sumber daya manusia dan manfaat. Pada penelitian ini selanjutnya dirumuskan usulan perbaikan terhadap kesenjangan yang ditemukan dan menyusun urutan prioritas perbaikan dengan menggunakan metode capability, accessibility, readiness dan leverage (CARL).

The Jakarta Smart City Unit is a work unit of the Jakarta Provincial Government in Indonesia with the main duty and function of implementing smart city, one of its efforts using big data technology. The role of big data technology in the development of smart city is very important, because it can be the basis of the steps in determining the policies of the local government. This study discusses and analyses the implementation of big data technology in the Provincial Government of Jakarta by using gap analysis tool based on in-depth interview data and other supporting data.
Based on the results of the gap analysis, it is known that the use of big data technology in Jakarta Smart City still needs improvement and development because there are still gaps in the research elements, namely data, infrastructure, governance, human resources and benefit. In this study the proposed improvements to the gaps that were found and formulated the priority order of improvement using the method of Capability, Accessibility, Readiness, and Leverage CARL.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
T51700
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Astuti
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan ASN Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistk dalam mengimplementasikan Jakarta Smart City. Jakarta Smart City mulai diimplementasikan pada tahun 2014 untuk mempermudah kinerja aparat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam merespon keluhan warganya. Pada perkembangannya, implementasi Jakarta Smart City masih menemui sejumlah masalah yang berasal dari sisi pengelolaan Jakarta Smart City dan sisi sumber daya manusia pengelola Jakarta Smart City. Pengukuran terhadap ASN Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistk menjadi perlu dilakukan untuk melihat melihat kondisi kesiapan mereka dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Penelitian ini menggunakan teori e-readiness dari Supriyanto dan Mustofa (2016) yang memiliki enam dimensi kesipan yaitu kesiapan organisasi, kesiapan tata kelola dan kepemimpinan, kesiapan pengguna, kesiapan kompetensi, kesiapan TIK, dan kesiapan hukum untuk menganalisis kesiapan ASN Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistk. Penelitian ini menggunakan pendekatan post-positivist dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa ASN Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistk dinyatakan siap pada lima dimensi dan belum siap pada satu dimensi. Lima dimensi yang dinyatakan siap adalah dimensi kesiapan organisasi, kesiapan tata kelola dan kepemimpinan, kesiapan pengguna, kesiapan kompetensi, dan kesiapan TIK. Satu dimensi yang dinyatakan belum siap adalah dimensi kesiapan hukum.

ABSTRACT
The study aims to determine the readiness of the Civil Service Organization of the Communication, Informatics, and Statistics Office in implementing the Jakarta Smart City. Jakarta Smart City was implemented in 2014 to facilitate the performance of the DKI Jakarta Provincial Government officials in responding to the complaints from citizens. But, the implementation of Jakarta Smart City still faces several problems from the management side and the human resources side of managing the Jakarta Smart City. Measurements need to be done to see the condition of their readiness to carry out their duties and functions. This study uses the e-readiness theory from Supriyanto and Mustofa (2016) which has six dimensions of readiness, namely organizational readiness, governance and leadership readiness, user readiness, competency readiness, ICT readiness, and legal readiness to analyze the readiness of ASN Communication, Informatics, and Statistics. This study uses a post-positivist approach with data collection through in-depth interviews and literature studies. The results showed that ASN for the Communication, Informatics, and Statistics Office was declared ready in five dimensions and not ready in one dimension. The five dimensions that are declared ready are the dimensions of organizational readiness, governance and leadership readiness, user readiness, competency readiness, and ICT readiness. One dimension that is declared not ready is the dimension of legal readiness.
"
Depok: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizky Indrayanto
"Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah membentuk Jakarta Smart City (JSC) pada tahun 2014 sebagai unit pengelola yang bertanggung jawab dalam mewujudkan tata kelola perkotaan berbasis teknologi dan data. JSC tidak hanya berperan sebagai pelaksana teknologi, tetapi juga sebagai pusat inovasi dan penghubung antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun ekosistem kota pintar 4.0 yang kolaboratif dan partisipatif. Di tengah peran strategis tersebut, pengelolaan pengetahuan menjadi elemen krusial bagi efektivitas dan keberlanjutan JSC dalam merespons permasalahan kota secara dinamis. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri telah menetapkan Peraturan Gubernur Nomor 164 Tahun 2017 tentang Manajemen Pengetahuan sebagai landasan normatif bagi SKPD, termasuk JSC, untuk melaksanakan pengelolaan pengetahuan secara sistematis. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan dokumentasi, tingginya tingkat perputaran tenaga kerja kontrak, serta siklus kerja yang tidak terprediksi dan dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses manajemen pengetahuan di Jakarta Smart City dengan menggunakan kerangka konseptual Model SECI (Socialization, Externalization, Combination, Internalization) yang dikembangkan oleh Nonaka dan Takeuchi (1995). Pendekatan penelitian yang digunakan adalah post-positivist dengan metode kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap sembilan narasumber, serta didukung oleh studi literatur dan dokumen pendukung lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan pengetahuan di Jakarta Smart City telah berlangsung dalam empat tahapan Model SECI. Pertukaran pengetahuan tacit dilakukan melalui interaksi lintas tim dan mitra eksternal, sementara dokumentasi formal menjadi sarana transformasi pengetahuan ke bentuk eksplisit. Pengetahuan eksplisit kemudian diintegrasikan dengan dukungan teknologi dan diinternalisasi melalui pelatihan, evaluasi, serta praktik kerja adaptif. Proses ini membentuk spiral pengetahuan yang mendorong inovasi digital, pengambilan keputusan berbasis data, dan peningkatan respons organisasi terhadap kebutuhan masyarakat. Kolaborasi eksternal turut memperkuat ekosistem pembelajaran dan kapasitas adaptif JSC sebagai institusi kota pintar.

In 2014, the Provincial Government of DKI Jakarta established Jakarta Smart City (JSC) as a management unit responsible for implementing technology- and data-based urban governance. JSC not only functions as a technology executor but also as an innovation hub and a connector between the government and the public in building a collaborative and participatory Smart City 4.0 ecosystem. Amid this strategic role, knowledge management has become a crucial element for JSC’s effectiveness and sustainability in responding to urban problems dynamically. The Provincial Government of DKI Jakarta has also enacted Governor Regulation Number 164 of 2017 on Knowledge Management as a normative basis for Regional Apparatus Work Units (SKPD), including JSC, to implement knowledge management systematically. However, implementation in practice still faces various challenges, such as documentation limitations, high turnover of contract-based employees, and unpredictable and dynamic work cycles. This study aims to analyze the knowledge management process in Jakarta Smart City using the conceptual framework of the SECI Model (Socialization, Externalization, Combination, Internalization) developed by Nonaka and Takeuchi (1995). The research approach employed is post-positivist using qualitative methods. Data were collected through in-depth interviews with nine informants, supported by literature reviews and other relevant documents. The results of the study show that knowledge management in Jakarta Smart City has taken place in four stages of the SECI Model. The exchange of tacit knowledge is carried out through cross-team interactions and external partners, while formal documentation is a means of transforming knowledge into explicit forms. Explicit knowledge is then integrated with technological support and internalized through training, evaluation, and adaptive work practices. This process forms a knowledge spiral that drives digital innovation, data-based decision making, and increased organizational responsiveness to community needs. External collaboration also strengthens the learning ecosystem and adaptive capacity of JSC as a smart city institution."
Depok: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library