Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nur Oktavia Hidayati Nur Oktavia Hidayati, aythor
"Isu gender dan masalah psikososial merupakan salah satu isu penting dalam Lapas. Tahun 1999, kira-kira 285.000 tahanan dan narapidana yang berada dalam lapas mengalami gangguan jiwa. Di Amerika Serikat sendiri tercatat 73% narapidana yang mengalami gangguan jiwa adalah perempuan. Harga diri rendah merupakan salah satu masalah yang banyak dikeluhkan oleh narapidana perempuan yang ada di Lapas Bogor, sehingga perlu sekali suatu terapi seperti EFT yang berguna untuk meningkatkan harga diri mereka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Emotional Freedom Technique (EFT) terhadap peningkatan harga diri narapidana perempuan. Desain penelitian adalah one group pre test ? post test (before and after). Teknik penarikan sampel penelitian adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 32 responden. Analisis data univariat dengan menganalisis variabel-variabel secara deskriptif dengan menghitung distribusi frekuensi dan proporsi, mean, median, standar deviasi, minimal ? maksimal, 95%CI. Analisis bivariat menggunakan dependent sample t-test dan rank-spearman test. Hasil penelitian menunjukkan rata?rata umur responden 28,03 tahun, rata ? rata lama masa hukuman adalah 2,72 tahun, pendidikan paling banyak berada pada tingkat SMA, dan responden paling banyak berstatus kawin. Rata-rata harga diri sebelum EFT adalah 21,16 dan rata-rata harga diri sesudah EFT adalah 24,72. Ada perbedaan yang signifikan antara harga diri sebelum dan sesudah EFT (p-value=0,000), ada hubungan yang signifikan antara umur dan harga diri setelah diberikan EFT (pvalue=0,000), tidak ada hubungan antara pendidikan, status perkawinan dan lama masa hukuman dengan harga diri setelah diberikan EFT. Dari hasil tersebut perlu adanya pelatihan-pelatihan dan seminar tentang EFT bagi tenaga kesehatan khususnya keperawatan dalam upaya meningkatkan pelayanan keperawatan bagi komunitas terbatas seperti narapidana yang ada di Lapas.

The most important issues that exposed in the prison is gender and psychosocial problems. Approximately, 285,000 inmates experienced mental disorder in 1999. In the United States, 73% of women inmates have experienced mental disorders. Low self esteem which is one of the problems that complained by many women inmates in the Lapas Bogor, so it is necessary to give useful therapy like EFT to improve their self esteems. The goal of this research to determine the influence of Emotional Freedom Technique (EFT) for self-improvement of women inmates. The design research is one group pre test - post- test (before and after). The type of sampling research is purposive sampling, which the number of samples are 32 respondents. Univariat data analysis analyzes variables descriptively with calculating the
frequency distribution and proportion, mean, median, deviation standart, minimal ? maximal, 95%CI. Bivariat analysis uses dependent sample t-test and rank-spearman test. The Results of this research shows the average age of respondents are 28.03 years old, the average of sentences are 2.72 years, the most education is on high school level, and most respondents are married. The average value of self esteems before the EFT are 21.16 and the average value of self esteem after the EFT are 24.72. There are significant differences in the self esteem level before and after EFT (p-value = 0.000), there is significant relation between age and self esteem after EFT (p-value = 0.000), there are no relation between education, marital status and duration sentences period with self esteem after given by EFT. This result encourages necessary training and seminars about EFT for health worker especially nurse in effort to improve nursing services in the limited community such as inmates in prison."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
"This study was conducted to find out wheher multicultural awareness and self - concept are correlated with the student critical reading achievement. One hundred and twenty three undergraduate students consisting of 23 males and 100 females of English Study Program Faculty of Teacher Training and Education were involved in this study..."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Indri Apsari
"Beberapa tahun terakhir ini fenomena indigo di Indonesia mulai banyak diangkat oleh media masa dan mengundang berbagai pandangan positif maupun negatif. Anak indigo memiliki karakteristik kemampuan yang berbeda dengan anak seusianya, yaitu pengalaman ESP (Extra Sensory Perception), spiritualitas tinggi, dan rasional. Adanya kesadaran bahwa terdapat perbedaan karakteristik akan mempengaruhi konsep diri individu indigo.
Tujuan penelitian ini adalah memperoleh gambaran perkembangan konsep diri remaja akhir indigo dan faktorfaktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara dan observasi pada remaja akhir indigo yang berusia 18-22 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja indigo merasa berbeda dari teman sebayanya sejak kecil. Mereka merasa memiliki kelebihan dan cenderung merasa superior sehingga tidak suka diatur dan seringkali mendapatkan pandangan negatif dari lingkungan sosial. Adanya pandangan negatif ini menyebabkan mereka merasa ingin normal dan menolak kemampuan dirinya. Meskipun demikian, mereka tetap mendapatkan positive regard dari lingkungan sosial dan orangtua sehingga mereka dapat kembali menerima dirinya. Perkembangan konsep diri mereka dipengaruhi oleh orang tua, lingkungan sosial dan pengalaman memasuki lingkungan baru. Remaja indigo juga memandang indigo sebagai sebuah label dan merasa karakteristik indigo telah menjadi bagian dari diri mereka sejak kecil.

Nowadays the indigo phenomenon is getting popular in Indonesia's mass media and there are negative and positive opinions about this topic. The indigo children have different characteristics of ability among another children in their age, such as ESP (Extra Sensory Perception) experience, high spirituality, and rational. Awareness of this different characteristics will affect their self concept.
The purpose of this study is to get description of the development of self concept in late adolescents indigo and factors that affect it. Qualitative method is used by doing some interviews and observations on 18-22 years old late adolescents.
Result on this study describes that adolescents indigo feel different among another children in their age. They feel that they have higher ability and feeling of superiority that makes them disobey rules and get negative judgements from their social environment. This negative judgements make them want to become a normal person and deny their ability. However, they still get positive regard from their parents and social environment that make them finally accept themselves. The development of their self concept is affected by parents, social environment and experience in the new environment. Indigo adolescents see the term indigo as a label and they feel indigo characteristics already a part of themselves since their childhood."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2009
155.2 IND g
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Andreas Setiawan
"Kampus adalah tempat belajar yang mendidik para mahasiswanya menjadi seorang yang pintar dan berguna. Tetapi banyak diantara mereka yang terlibat dalam sex bebas. Bahkan ada diantara mereka yang terlibat dalam prostitusi. Mereka membawa nama mahasiswa untuk menaikkan ?nilai jual? mereka. Peneliti ingin melihat bagaimanakah konsep diri seorang 'ayam kampus' karena konsep diri seseorang akan menentukan perilakunya.
Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam untuk mencari tahu bagaimana perasaan yang dialami oleh subjek. Karaktersitik Subjek yang diambil oleh peneliti adalah seseorang yang berada dalam usia remaja (18-22 tahun), aktif dan terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas yang ada di Indonesia, dan melakukan prostitusi.
Hasil yang didapat oleh peneliti adalah ketiga subjek memiliki konsep diri yang negatif. Selain itu, peneliti juga melihat salah satu alasan ketiga subjek ini menjadi 'ayam kampus' disebabkan karena mereka melakukan hubungan seksual dengan pacarnya dan ia ditinggalkan.

University is a place that enables its students to pursue a higher level of education in order to be more educated. Nonetheless, it is very unfortunate that many of college students are involved in the free sex. Moreover, some of them are even engaged in the prostitution. They use the label of 'college student' to increase their value in the market. Therefore, the researcher would like to asses how the description of self-concept in college student prostitutes is, because inevitably, this self-concept would eventually influence their social behaviors.
The methodology utilized in this case is a one-on-one interview, in which the researcher shall investigate the emotions or feelings embedded in the subjects. The samples' criteria for this research are those who are in the range of 18 to 22 years old, listed as active students in one of universities in Indonesia, and engaged in the practice of prostitution.
The results are evident that the three subjects have a negative self-concept. Furthermore, the researcher also see a similarity among these three subjects, that one of the reasons behind their involvements in becoming college student prostitutes is due to the fact that they were left behind by their boyfriends with whom they had done sexual intercourse previously.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2008
155.2 SET g
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Citra Hati Leometa
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang penerimaan diri pada dewasa muda penderita SLE. Penelitian ini difokuskan pada bagaimana penerimaan diri dewasa muda penderita SLE, faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan dirinya dan kondisi emosionalnya selama proses penerimaan diri tersebut.
Subjek penelitian ini terdiri dari tiga orang dewasa muda penderita SLE, berusia 26-28 tahun. Terdiri dari dua orang wanita dan satu orang pria. Mereka sudah dinyatakan positif menderita SLE selama lebih dari satu tahun. Berdasarkan analisis penelitian menjelaskan bahwa pada umumnya mereka menerima diri mereka sebagai penderita SLE. Namun penerimaan diri mereka akan menurun jika penyakitnya menimbulkan hambatan-hamnbatan aktifitas keseharian mereka dan menghambat tugas-tugasnya sebagai dewasa muda. Terdapat beberaa faktor-faktor penerimaan diri yang mempengaruhi derajat penerimaan diri mereka terhadap penyakitmya. Faktor penerimaan diri yang mempengaruhi derajat penerimaan diri ketiga sujek adalah identifikasi dengan orang yang memiliki penyesuaian diri baik. Sedangkan faktor penerimaan diri yang menghambat derajat penerimaan diri mereka terhadap penyakitnya adalah adanya stres emosional akibat penyakitnya. Faktor penerimaan diri yang mempengaruhi derajat penerimaan diri ketiga subjek adalah identifikasi dengan orang yang memiliki penyesuaian diri bauk. Sedangkan faktor penerimaan diri yang menghambat derajat penerimaan diri mereka terhadap penyakitnya adalah adanya stress emosional akibat penyakitnya"
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2007
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Rosa Rina
"Penulisan ini memfokuskan pada peran pola asuh orangtua dalam upaya meningkatkan ketahanan pribadi sebagai pilar ketahanan Nasional. Berbagai fenomena kegagalan sekarang ini antara lain disebabkan pembinaan keluarga (orangtua) yang gagal. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif dan komparatif.
Operasional penelitian menggunakan survey melalui angket dan diperdalam dengan wawancara serta studi kepustakaan. Angket diberikan kepada siswa kelas 2 yang beijumlah 184 orang siswa. Siswa di pilih secara cluster sampling dengan menetapkan 5 kelas dari 8 kelas serta memperhatikan karakteristik siswa yang terdiri atas pekeijaan orang tua, dan suku bangsa.
Dari analisis dapat disimpulkan bahwa 1) Pola asuh orangtua dapat mempengaruhi ketahanan pribadi siswa dengan skor 54% dari skor yang diharapkan; 2) Konsep diri terhadap ketahanan pribadi siswa dengan skor 45% 3) Pola asuh autoritatif terhadap ketahanan pribadi 51%, pola asuh otoriter 39% dan pola asuh permisif 21%; 3) Perbandingan dengan pola asuh tertentu dapat meningkatkan ketahanan pribadi seseorang, yang berarti bahwa pemilihan penggunaan pola asuh tertentu secara umum berdampak positif terhadap ketahanan pribadi. Hal yang perlu diperhatikan sekarang ini adanya perubahan social, ekonomi dan budaya dewasa ini dewasa ini memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi keluarga. Kondisi demikian ini menyebabkan komunikasi diantara anggota keluarga kurang intens. Ambisi karir dan materi yang tidak terkendali telah mengganggu hubungan interpersonal dalam keluarga. Oleh karena itu dibutuhkan solusi untuk menyikapi perubahan sosial sehingga seorang anak tetap mendapatkan pengasuhan yang memadai ketika nantinya mereka teijun ke masyarakat dapat memiliki ketahanan pribadi yang mantap dan tangguh.

This research focuses on the role of the parent’s nurture pattern in the effort to improve the individual resilience to support national resilience. Nowadays, many failure phenomenons are caused by the error of family construction. This is a qualitative research with the explanation level of descriptive and comparative.
The research methodology employed is the survey method by using questionnaire and interview also literature references. Questionnaires are distributed to 184 second level students, The students are selected by cluster sampling from five of eight classes with the priority of each student characteristic of parent occupation, ethnic group.
From the analysis is concluded that 1) the parents nurture pattern can influence the student individual resilience in 54% score from the expected score, 2) Self concept towards student individual resilience is 45% 3) The authoritative nurture pattern towards individual resilience is 51%, the authoritarian nurture pattern is 39% and the permissive nurture pattern is 21%; 4) The comparison with a certain nurture pattern can improve the individual resilience. Generally, it means the selection of using of a certain nurture pattern has a positive influence towards individual resilience. Nowadays, some aspects to be concemed and might be disadvantages for family such as social alteration, economic and culture. Those can cause the communication process between the family members becomes ineffective. The out of control of ambition for career and wealth can damage the interpersonal relationship within family. Therefore, a solution to cope the social alteration is needed in order to a student can have an adequate nurture for a strong individual resilience when they start to socialize with others.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2009
T26853
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Kuny Fitriyah Tyas Sakanti
"ABSTRAK
Kanker merupakan salah satu penyakit penyebab morbiditas dan mortalitas di dunia. Kondisi kanker pada anak dapat mempengaruhi konsep diri pada anak. Alat ukur konsep diri salah satunya adalah Piers-Harris 2, tetapi kuesioner ini belum pernah digunakan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi validitas dan reliabilitas instrumen Piers-Harris Childrens Self-Concept Scale, Second Edition (Piers-Harris 2) versi Bahasa Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada 32 anak kanker usia sekolah dan remaja berusia 7-18 tahun di rumah singgah dan sekitar Jakarta. Desain penelitian adalah cross sectional dengan teknik sampling consecutive sampling. Instrumen Piers-Harris 2 diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Uji validitas, reliabilitas, skala validitas Piers-Harris 2 diuji menggunakan uji korelasi Pearson di SPSS 20. Hasil: korelasi intraskala per domain 0,55-0,74, sedangkan pada korelasi intraskala antar domain -0,01 -0,706. Nilai cronbachs alpha 0,810. 21 pernyataan memiliki r hitung > r tabel. Rata-rata konsep diri 45,19% atau bernilai positif. Instrumen Piers-Harris 2 versi Bahasa Indonesia terbukti reliabel dan valid untuk mengukur konsep diri. Pada penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan uji reliabilitas tes-retes.

ABSTRACT
Cancer is one of the causes of morbidity and mortality in the world. Conditions of cancer in children can affect self-concept in children. Self-concept measuring instrument one of them is Piers-Harris 2, but this questionnaire has not been used in Indonesia. The aim of this study was to analyze validity and reliability of an Indonesian version of the Piers-Harris Childrens Self-Concept Scale, Second Edition (Piers-Harris 2). The research method used is cross sectional with consecutive sampling technique to 32 respondents in children age 7-18 years old in shelter house and aroud Jakarta. Piers-Harris 2 questionnaire was translated into Indonesian. The validity, reliability, validity scale Piers-Harris 2, and were tested with Pearson test in SPSS 20. Inter-scale correlation per domain 0,55-0,74, while on inter-scale correlation between domain -0,01 -0,706. Cronbachs alpha 0,810. 21 item was valid. The mean total Piers-Harris 2 score was 45,19%. The Indonesia version of Piers-Harris 2 suggested that is a valid and reliable instrument for measuring self-concept in children ages 7-18 years old. For the next research it is desirable to conduct test re-test reliability."
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library