Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 114 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Maheka Karmanie Putri
"Setiap tahun, jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kotamadya Jakarta Timur cenderung meningkat. Kondisi lingkungan merupakan faktor terjadinya kasus DBD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kasus, sebaran kasus dan pengaruh iklim (curah hujan, kelembaban udara, suhu udara), kepadatan penduduk, dan (Angka Bebas Jentik) ABJ terhadap kasus DBD di tiap kecamatan Kotamadya Jakarta Timur tahun 2005-2007. Penelitian ini dilakukan di Kotamadya Jakarta Timur dengan unit analisis berupa kecamatan per tahun. Penelitian ini menggunakan data sekunder dan studi korelasi ekologi dengan pendekatan spasial. Variabel independen berupa curah hujan, suhu udara, kelembaban udara, tingkat kepadatan penduduk dan ABJ. Variabel dependennya berupa kasus DBD Kotamadya Jakarta Timur. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis spasial dan uji statistik. Analisis spasial menggunakan metode overlay antara kasus DBD, tingkat kepadatan penduduk dan ABJ. Analisis statistik menggunakan uji chi square (X2) untuk tingkat kepadatan penduduk dan ABJ dengan IR kasus DBD. Analisis statistik antara faktor iklim dan kasus DBD menggunakan uji korelasi. Pola pesebaran kasus berada di daerah utara Jakarta Timur, hal ini menunjukan bahwa kasus DBD tinggi cenderung berda di sekitar daerah yang berkepadatan penduduk tinggi. Kasus DBD mengalami puncak di sekitar bulan April-Juni selama 3 tahun.
Hasil penelitian secara spasial menunjukan bahwa tingkat kepadatan penduduk mengalami perubahan setiap tahun. Hasil analisis spasial tingkat kepadatan penduduk dengan kasus DBD menunjukan bahwa tidak ada asosiasi antara peningkatan tingkat kepadatan penduduk dengan kenaikan jumlah kasus DBD di setiap kecamatan selama tahun 2005-2007. Angka Bebas Jentik di setiap tahunnya mengalami peningkatan. Namun, ABJ terlihat tidak berasosiasi dengan kasus DBD per kecamatan. Hasil penelitian secara statistik menunjukan bahwa tingkat kepadatan penduduk dan ABJ berhubungan dengan kasus DBD. Kemudian, secara statistik ditemukan bahwa kelembaban berkorelasi dengan kasus DBD, sedangkan curah hujan, suhu udara, dan ABJ tidak. Hasil skoring tingkat kerawanan didapatkan kecamatan Jatinegara menjadi kecamatan yang dalam 3 tahun berturut-turut menjadi daerah yang memiliki tingkat kerawanan amat tinggi. Daerah Jatinegara memiliki tingkat kerawanan yang amat tinggi di tahun 2005- 2007, sehingga prioritas intervensi penanggulangan dan pencegahan dapat dilakukan di daerah tersebut."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Eliha Mahsuna
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2010
S26523
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Punjung Wicaksono
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2010
S26524
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Noralisa
"Kejadian DBD di Desa Suka Damai pada Tahun 2008 sebesar 33 kasus, tahun 2009 sebesar 6 kasus dirawat inap. Bertujuan untuk mengetahui perilaku masyarakat dalam PSN DBD dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi sasaran adalah Kepala Keluarga (KK) di Desa Suka Damai. Sampel penelitian sejumlah 110 KK dari dari RW yang terpilih secara multistage random. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Uji statistik data dilakukan dengan menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji Chisquare. Tidak ada hubungan bermakna antara pendidikan p=0,078, sedangkan ada hubungan bermakna antara pengetahuan tentang DBD (p=0,001), pengetahuan tentang PSN DBD (p=0,00), maupun sikap terhadap PSN (p=0,00) dengan perilaku masyarakat dalam PSN DBD.Saran bagi masyarakat agar lebih memperhatikan kegiatan 3M dan pelaksanaan PSN DBD secara mandiri dan teratur sesuai standar.

The incidence of DHF in the Village of Peace Like in the Year 2008 from 33 cases in 2009 of 6 cases treated at the hospital. Aims to determine people's behavior in the PSN DBD and the factors that influence it. Using cross-sectional approach. The target population is the Head of the Family (KK) in the village of Suka Damai. The research sample a number of 110 households randomly selected from a multistage RW. Data were collected using a questionnaire. Data statistical tests performed using univariate analysis and bivariate analysis to test Chisquare. There was no significant relationship between education p=0.078, whereas no significant relationship between knowledge of dengue fever (p=0.001), knowledge about the PSN DBD (p = 0.001), as well as attitudes toward the PSN (p = 0.001) with the behavior of people in PSN DBD.Saran for the community to pay more attention to the activities and the implementation of PSN DBD 3M independently and regularly in accordance with the standards."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2011
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Sugirilyati
"Penyakit Demam Berdarah Dengue (DED) merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia yang cenderung semakin luas penyebarannya, sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk, serta sering menimbulkan KLB dan kematian.
Pemerintah telah mengembangkan program untuk mengatasinya melalui Penatalaksanaan Kasus dan Pemberantasan nyamuk penyebar penyakit DBD.Program pemberantasan vektor intensif merupakan upaya dalam memperkecil wilayah ter-Jangkit DBD. yaitu dalam bentuk kegiatan; a. Fogging Massal, b. Abatisasi Selektif. c_ Pemberantasan Sarang Nyamuk.
Kodya Dati II Bogor dengan kondisi lingkungan yang sangat mendukung perkembangan vektor serta lokasi yang bertetangga dengan DKI Jakarta yang mempunyai insiden DBD tertinggi di Indonesia, sedangkan mobilitas penduduk ke DKI Jakarta sangat tinggi, memerlukan kecermatan dan ketepatan program untuk dapat menekan Insiden DBD.
Studi ini bermaksud mengetahui; 1. Kecenderungan masalah penvakit DBD. 2. Perkembangan kegiatan pemantauan vektor, 3. Masalah dalam pelaksanaan program P2.DBD. 4. Dampak program P2 DBD di Kodva Dati II Bogor.
Hasil studi ini diharapkan dapat memberi masukan dan dasar pertimbangan pemerintah untuk merencanakan metode terbaik guna meningkatkan efektivitas program P2.DBD. khususnya upaya pengendalian vektor Intensif DBD.
Pendekatan yang dipergunakan ialah observasional. dengan masa pengamatan selama empat tahun, yaitu seiak dilaksanakannya program Pemberantasan Vektor Intensif tahun 1991 sampai tahun 1994.
Analisa yang dipergunakan adalah menghitung Cumulatif Incidence Difference dart Incidence Rate (IR) DBD serta House Index (HI) Jentik vektor DBD sebelum dan sesudah perlakuan. Hubungan Curah Hujan dan Jumlah Hari Hujan terhadap kasus DBD dan HI Jentik vektor DBD, serta hubungan HI jentik vektor DBD dengan IR DBD dengan cara melihat korelasinya.
Karena keterbatasan sumber daya Kodya Dati II Bogor tidak melakukan tindakan lengkap kepada seluruh daerah endemic, tetapi memilih daerah perlakuan berdasarkan tingginya insiden. Dengan demikian Kodva Dati II Bogor masuk dalam kategori cakupan program tidak adekuat.
Dari tahun 1991 - 1993 setiap tahun dua Kelurahan mendapat perlakuan lengkap (FM + AS + PSN). tiga Kelurahan mendapatkan perlakuan (FM + PSN). dan 17 Kelurahan lainnva hanya melaksanakan PSN dengan pengawasan melalui kegiatan Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB). Tahun 1994 tiga Kelurahan mendapat perlakuan lengkap, satu Kelurahan mendapat perlakuan (FM + PSN) sedangkan lB Kelurahan lainnva melaksana kan PSN saja.
Dari hasil studi ini terlihat kesan dari tahun 1991-1994 setiap tahunnya pemberantasan vektor intensif tidak berhubungan bermakna secara statistik dengan IR DBD tetapi berhubungan bermakna secara statistik dengan HI Jentik Vektor DBD. Secara konsisten PSN menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik dengan HI jentik vektor DBD sebaliknya FM + AS + PSN selalu tidak berhubungan bermakna secara statistik. FM + PSN sate kali (tahun 1993) menunjukkan hubungan yang tidak bermakna secara statistik. Curah Hujan dan Jumlah Hari Hujan tidak ada hubungan linier yang bermakna dengan kasus DBD tetapi berhubungan linier bermakna dengan HI jentik vektor DBD. Antara HI jentik vektor DBD dengan Insiden DBD tidak terlihat adanya hubungan linier yang bermakna.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa program pemberantasan vektor Intensif mempunyai peranan dalam upaya pencegahan DBD melalui pemberantasan jentik vektor. Namun seberapa besar peranan dalam menurunkan insiden DBD perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menyertakan. variabel Fogging Focus dan Penatalaksanaan Penderita. dalam kawasan yang lebih luas. Selain itu perlu diteliti kegiatan mana diantara Fogging Massal, Abatisasi Selektif atau PSN yang paling besar kontribusinya dalam pemberantasan vektor Intensif. Upaya untuk menggerakkan masyarakat agar terlibat secara lebih aktif dalam pemberantasan penyakit DBD perlu lebih dioperasionalkan. Namun pemberantasan vektor dengan insektisida masih belum dapat ditinggalkan.

Dengue Haemorhagic Fever is one of the health problem in Indonesia. This disease has increased as rapidly as population density and mobilization. It also often causes an outbreak and high case fatality rate.
Additional note:Example: acceptance note from the faculty.DateCreated*:Example: publishing date, writing date. Format YYYY-MM-DDSourceURL:Internet address from where this document is taken.From where this document was taken:Example: Third Meeting of IndonesiaDLN.LanguageSelect language*:The Indonesian Government has developed a program to deal with ?Casses management and eradication of the vector causes Dengue Haemorhagic Fever (DHF)". Intensive vector eradication programme is an effort to decrease the number of areas infected by Dengue Haemorhagik Fever (DHF). Including in this program are : a. Massal Fogging, b.Selective Abatisation (SA). c. Mosquito's nests Eradication (MNE).
Kodya Dati II Bogor is one of the places that has a big problem in DHF. The environment condition in this area are supporting for vectors to spread rapidly: as well as the location is near by DKI Jakarta, which has the highest incidence of DHF in Indonesia_ Moreover Bogor' s population's mobility is very high, so that we need a punctual and accurate programme to decrease the incidence of DHF.
The purposes of this study are : 1. to measure the inclination of DHF. 2. to monitor vector of DHF by using unfolding activity . 3. to anticipate some problems in DHF eradication programme. 4. to know the impact of DHF Vector Eradication programme especially in Kodya Dati II Bogor.
The result of this study will give a positive input and basic consideration to the government in planning the best method for increasing DHF Eradication programme effectivity. Especially the effort of DHF Vector Eradication programme.
The approach of this study is observational study, which is started in 1991, the time when the intensive vector eradication programme is applied.
In analyzed the study we counted the cumulative Incidence Difference. Incidence Rate (IR) and House Index (HI) of the DHF vector's larva. We looked also the connection between rain pours and the number of rainy days to HI of the DHF vector's larva and IR of DHF. as well as the relationship between HI of the DHF vector's larva to IR of DHF by their correlation. Because of resource limitation. Kodya Dati II Bogor could not run the complete treatment to all of the endemic areas. But they only chose the area that has the highest incidence rate.
From 1991-1993, there were two of the villages that have completed all three treatments which are (MF + SA + NNE). and other three villages only use MF + MNE treatments. However there were 17 villages only use EMN treatment , with temporer monitoring larva inspection. In 1994. only one villages that have completed treatments. Three Villages got MF + MNE treatment. and other 18 villages have EMN treatment only.
From the study we got some results ,that the intensive vector eradication program is not significantly related to the IR of DHF. but there is significant relationship between intensive vector eradication and HI of the vector's larva DHF. Consistently. MNE showed a significant relation-ship to the HI of the DHF Vector's larva. MF + SA + MNE have an insignificant relationship, also in 1993. MF + ,EMN showed an insignificant relationship.
Rainpours and the number of rainy days do not have a significant linear relation to the IR of DHF. but they have a significant linear relation to the HI of DHF vector's larva. There is no significant relation between HI of the DHF Vector's larva. and DHF incidence Rate.
Therefore, we can conclude that Intensive Vector Eradicating Programme is apart of the effort to prevent DHF. However. we need further research. in order to know how useful this program in decreasing DHF incidence by enclosing Fogging Focus variable and patient management in more width area. It is also important to examine which method has a bigger contribution in Intensive Vector Eradication Program me. Whether Massal Fogging, SA or NME. An effort to mobilize the community to join actively in eradicating DHF can also be done. However vector eradication using insecticide still can not be abandoned vet.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ratu Tri Yulia Herawati
"The cases of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in Indonesia tends to increase and widespread around. Those conditions has tight relation to the high mobility of the populations parallel to the betterment of transportations, and the wide-spread of virus and the mosquitoes vector. To lower and depress the incidence rate of DHF, so many efforts done through the involvement of the health centers, sub centers, first and second level of health services, central government, and intersectoral collaboration. All of the activities should be supported by the sufficient Health Information Systems (HIS), especially reporting, while the report should fulfill the quality of report conditions.
The quality of report in Kotif Depok is not so good. This study tend to know the relations of knowledge, attitude, and practice of health personnel to the quality of report of the DHF which held in Kotif Depok for the year of 1993, by developing cross-sectional design and statistically analyzed with the Spearman's rank statistic.
From the study we could infer that there's relations between knowledge and quality of report of the personnels with rs =0.8667 and p=0.005; attitude and quality of report with rs =0.70Q0 and p=0.005; and work-load and practice to make DHF report, with rs =0.8156 and O.Ol
We suggested that there's need (badly needed) to improve the knowledge of the health centers personnels in the reporting of DHF through the regular training, and improved the attitude of the personnel by kin supervision and motivation, and the job descriptions.

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia cenderung menyebar dan meningkat jumlah penderitanya. Keadaan ini, erat kaitannya dengan meningkatnya mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi, dan tersebar luasnya virus dengue serta nyamuk penularnya diberbagai wilayah. Untuk menurunkan insidens DBD berbagai upaya telah dilakukan dengan melibatkan Puskesmas, Puskesmas pembantu, Dinas Kesehatan daerah tingkat I dan daerah tingkat II, pusat, instansi lain yang terkait serta peran serta masyarakat. Semua kegiatan ini harus ditunjang oleh sistem informasi kesehatan yaitu mengenai pelaporan, dimana laporan tersebut harus memenuhi syarat-syarat kualitas laporan.
Kualitas laporan di wilayah Kotip Depok masih kurang baik. Pada penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara pengetahuan, sikap, dan praktek petugas pelaporan, dengan kualitas laporan penyakit DBD yang dilakukan di wilayah Kotip Depok tahun 1993 dengan menggunakan rancangan cross sectional serta analisis statistiknya menggunakan koefisien korelasi rank Spearman.
Dari hasil penelitian ini didapatkan adanya hubungan antara pengetahuan petugas dengan kualitas laporan penyakit DBD (r5 = 0.8667, p = 0.005); ada hubungan antara sikap petu gas dengan kualitas laporan penyakit DBD (r5 = 0.7000, p = 0.05) serta ada hubungan antara beban kerja petugas dengan praktek dalam pelaporan penyakit DBD (rs = 0.8156, p = 0.02 - 0.01). Kesimpulan : Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap petugas dengan kualitas laporan penyakit DBD serta ada hubungan yang bermakna antara beban kerja petugas dengan praktek dalam pelaporan penyakit DBD.
Saran : Perlu adanya peningkatan pengetahuan petugas Puskesmas dalam hal pelaporan penyakit DBD melalui pelatihan dan perlu peningkatan sikap petugas melalui supervisi dan motivasi serta ada pembagian kerja yang merata pada petugas Puskesmas."
Depok: Universitas Indonesia, 1994
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurlila
"ABSTRAK
Demam berdarah adalah suatu penyakit menular yang ditandai dengan demam mendadak, perdarahan baik di kulit maupun bagian tubuh lainnya serta dapat menimbulkan shock dan kematian. Penyebab penyakit ini adalah virus Denggi (Dengue) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang tersebar luas di seluruh Indonesia. Penanggulangan nyamuk Aedes aegypti sebagi vektor utama demam berdarah dapat dilakukan dengan tiga metode yaitu sanitasi lingkungan yang bertujuan untuk mengurangi habitat jentik, penanggulangan nyamuk dengan adultisida dan penanggulangan jentik dengan larvisida. Satu-satunya larvisida yang digunakan untuk pengendalian vektor demam berdarah di Indonesia adalah temephos. Larvisida tersebut mulai digunakan pada tahun 1976 dan sejak tahun 1980 dipakai secara masal untuk program penaggulangan vektor demam berdarah. Dalam penelitian ini telah dilakukan pengujian untuk membandingkan status kerentanan populasi jentik Aedes aegypti terhadap temephos dari tiga kelurahan di Jakarta, yaitu kelurahan Johar Baru, kelurahan Cempaka Putih Timur, dan kelurahan Kampung Rawa. Penentuan status kerentanan dilakukan dengan cara menentukan LC-50 dan LC-90 temephos terhadap jentik Aedes aegypti dari tiga kelurahan tersebut. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan kerentanan populasi jentik Aedes aegypti dari tiga kelurahan tersebut terhadap temephos dan populasi jentik Aedes aegypti dari tiga kelurahan tersebut masih rentan tehadap temephos."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 1987
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harisnal
"ABSTRAK
Infeksi virus dengue masih merupakan masalah kesehatan di
Indonesia saat ini termasuk di Kota Banjarmasin dengan angka kematian yang
tinggi, Tahun 2011 dilaporkan CFR 8,3% dimana sebagian besar pasien DBD ini
dirawat di RSUD ULIN dan RSUD Ansari Saleh Banjarmasin, sementara
penegakkan diagnosis sering sulit, apalagi dalam menilai apakah pada akhirnya
akan terjadi shock (Dengue Shock syndrome) atau tidak. Peningkatan hematokrit,
penurunan angka trombosit, leukosit dan serta perilaku pasien sebelum dirawat
(lamanya sakit, rujukan) biasanya terjadi sebelum demam turun dan sebelum
terjadinya shock. Hal ini merupakan diagnostik yang penting dan prognosis yang
berharga dalam mendeteksi Dengue Shock Syndrome. Sehingga dengan
mengetahui faktor resiko ini dapat mencegah/ mengurangi kematian
Metode: Penelitian bersifat observasional dengan disain kasus kontrol. Kasus
adalah penderita yang didiagnosis DSS berdasarkan diagnosis dokter yang
merawat. Sedangkan kontrol adalah penderita yang didiagnosis sebagai tersangka
DBD oleh dokter yang merawat. Data penelitian diperoleh dari data rekam medis
dan formulir Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KD-RS) yang dirawat di RSUD
ULIN dan RSUD Ansari Saleh dalam periode bulan April 2010 sampai Maret
2012. Rancangan analisis ditujukan untuk memperoleh nilai Odds Ratio (OR)
dilanjutkan dengan multivariat analisis untuk mengetahui faktor risiko yang dapat
mendeteksi DSS sejak dini.
Hasil Penelitian: Variabel yang signifikan secara statistik dan di masukkan ke
dalam prediksi model akhir adalah Jenis Kelamin perempuan (OR=3,250 95%
CI=1,178-8,970), hematokrit ≥25,97% (OR=7,86 95% CI=2,748-22,500) ,
leukosit ≤ 4764,47 (OR=3,826 95% CI=1,375-10,647), lama sakit ≥4 hari
(OR=3,146 95% CI=1,179-8,397) dan rujukan dari puskesmas (OR=4,543 95%
CI=1,700-12,139).Variabel yang paling dominan yang berhubungan dengan
kejadian Dengue shock syndrome adalah hematokrit. Dari hasil tersebut
disarankan agar tenaga kesehatan dan akademisi perlu meningkatkan standar
pelayanan penyakit yang lebih efektif dan efesien yang berisiko terjadinya
Dengue Shock Syndrome.

ABSTRACT
DHF is still a health problem in Indonesia is currently included in
Banjarmasin city with a high mortality rate in 2011 was reported CFR 8.3% where
the majority of dengue patients are treated at the Ulin Hospital and Ansari Saleh
Hospital Banjarmasin, while the diagnosis is often difficult, especially in
assessing whether it will eventually happen shock (dengue shock syndrome) or
not. This is an important diagnostic and prognostic value in the detection of
Dengue Shock Syndrome. So that by knowing these risk factors can prevent /
reduce mortality.
Methods: The study is an observational with case-control design. Cases are those
who hospitalized and diagnosed as suspect Dengue haemorrhagic fever by
clinicans using WHO criteria.Controls are those who hospitalized and diagnosed
as suspect Dengue Haemorrhagic fever by the clinicans. Data were collected from
medical records and (KD-RS) are treated in Ulin Hospital and Ansari Saleh
Hospital in the period from April 2010 until March 2012. Analysis design is done
to obtain Odds Ratio (OR) and followed by using multivariate logistic regression
to determine risk factors that can detect early DSS.
Consclusion: The significant variables in statistic manner and put into the final
model predictions are increasing Female sex (OR=3,250 95% CI=1,178-8,970),
haematocryt ≥25,97% (OR=7,86 95% CI=2,748-22,500) leukopenia ≤4764,47
(OR=3,826 95% CI=1,375-10,647), lengh of hospital ≥4 days (OR=3,146 95%
CI=1,179-8,397) and referrals from Health centers (OR=4,543 95% CI=1,700-
12,139). From these results it is suggested that health professionals and academics
need to improve service standards diseases more effectively and efficiently at risk
of Dengue Shock Syndrome."
2012
T30786
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Aprinianis R. I. Bay
"Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit endemis di wilayah Kota Tangerang Selatan. Angka insiden rate (IR) DBD per 100.000 penduduk pada tahun 2010 sebesar 111,04 sedangkan standar nasional adalah 55 per 100.000 penduduk.Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian DBD, mutlak dibutuhkan peran serta masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Juru pemantau jentik (jumantik) merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam penanggulangan DBD. Jumantik yang aktif diharapkan akan mempengaruhi penurunan angka kesakitan dan kematian akibat kasus DBD. Capaian jumlah RW di Kota Tangerang Selatan pada tahun 2011, baru mencapai 27.3% dan terdapat variasi capaian diantara 25 puskesmas yang ada di wilayah ini (3%-87%). Dari 12 puskesmas lama yang ada, cakupan tertinggi adalah puskesmas jurang manggu (87%) dan cakupan terendah adalah puskesmas pondok aren (7%). Adanya kondisi spesifik di setiap wilayah puskesmas yang mempengaruhi keadaan tersebut akan ditelusuri dalam penelitian ini.
Desain penelitian ini adalah cross sectional dimana terdapat 10 (sepuluh) variabel independent yang akan dilihat hubungannya dengan kinerja jumantik. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja puskesmas jurang manggu dan puskesmas pondok aren selama 2 (dua) bulan terhitung maret s/d april 2012 dengan populasi adalah kader di kedua wilayah kerja puskesmas, sedangkan sampelnya adalah total populasi jumantik di kedua wilayah puskesmas yang berjumlah 65 (enam puluh lima) orang.
Penelitian ini mendapatkan 5 (lima) variabel yang secara signifikan berhubungan dengan kinerja jumantik di wilayah kerja puskesmas jurang manggu dan puskesmas pondok aren yaitu variabel pengetahuan dengan nilai OR=7.137 (95% CI:1.398-36.439), sumber daya nilai OR=24.195 (95% CI: 2.045-286.310), imbalan nilai OR: 0.005 (95% CI:0.000-0.124), kepemimpinan nilai OR=23.556 (95% CI: 3.171-175.003) dan variabel puskesmas nilai OR =7.068 (95% CI: 1.422-35.131). Untuk variabel imbalan,bermakna protektif dimana imbalan yang semakin baik kinerjanya semakin buruk sedangkan variabel puskesmas yang juga diikutkan dalam analisis hanya digunakan sebagai kontrol terhadap variabel lain dalam penelitian ini dan ternyata juga berhubungan dengan kinerja jumantik.

Dengue hemorrhagic fever (DHF) is an endemic disease in South Tangerang City. Incidence rate (IR) of DHF per 100,000 population in 2010 amounted to 111.04, while the national standard is 55 per 100,000 population. To reduce morbidity and mortality of DHF, community participation is absolutely necessary to conduct mosquito eradication nest (PSN). Jumantik is one form of community participation in dengue prevention. Active jumantik expected to affect the decrease in morbidity and mortality due to dengue cases. Achievement of the number of RW inspected in South Tangerang City in 2011, reached 27.3% and there is variation in the performance among the 25 sub health centers in this region (3% -87%). Of the old 12 sub health centers, the highest coverage gap is jurang manggu sub health center (87%) and the lowest coverage is area of pondok aren sub health center (7%). The existence of specific conditions in each region that affect the state of health centers will be explored in this study.
The design is a cross sectional study in which there are 10 (ten) independent variables that will be related with jumantik performance. Research carried out in the working area of jurang manggu and pondok aren sub health center for 2 (two) months from the March to april 2012. The population was cadres in both of these sub health centre are, while the samples was total population of jumantik in both regions, amounting to 65 health centers (six twenty-five).
The research was a 5 (five) significantly variables related to performance in the jumantik work area of jurang manggu and pondok aren. The first variable is knowledge variable, with a value of OR = 7.137 (95% CI :1.398-36 .439); resource, value of OR = 24 195 ( 95% CI: 2045-286310); salary, value of OR: 0.005 (95% CI :0.000-0 .124), the leadership, value of OR = 23 5.56 (95% CI: 3171-175003) and puskesmas, values of OR = 7.068 (95% CI: 1422-35131). For sallary variable, which is significantly protective benefits of better performance is getting worse while the puskesmas variable is also included in the analysis is only used as a control for other variables in this study and was also associated with the performance of jumantik."
Depok: Universitas Indonesia, 2012
T31213
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
"Buku ini berisi mengenai petunjuk pemberantasan sarang nyamuk DBD di sekolah melalui program UKS."
Jakarta: Tim Pembina UKS Pusat, 1996
614.432 3 PET
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>